Dorm (Chapter 16) End

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 11)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Nama Minseok aku ubah jadi Xiumin. Cerita asli dari otak author sendiri. Cast                              cuma nyewa sebentar nanti juga dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT!                           Comment dan saran ditunggu~

*****

Lee Joo Won—nama ayah Xiumin—menaruh gelas teh di atas meja tepat di depan Xiumin, dan yang satunya lagi untuknya. Baki itu ia taruh di pinggir meja. Tidak ada percakapan sama sekali kecuali penawaran minuman. Asap-asap mengepul dari teh yang menjadi pengisi kekosongan ruangan ini. Xiumin mengedarkan sekeliling rumah ini. Xiumin pikir kehidupan ayahnya akan sangat menyedihkan tanpa ibu. Nyatanya, tidak ada debu sedikit pun di rumah ini. semua tertata rapi dan banyak sekali tanaman hijau. Banyak buku-buku yang tersusun rapi di rak. Dapur yang nyaman dan bersih, juga tempat penyimpanan bahan makanan yang sangat unik, disebuah peti mirip peti harta karun namun agak dingin. Hanya saja, penampilan ayahnya yang semerawut membuat dirinya tampak menyedihkan dibanding dengan tempat bernaungnya.

“Apa ini tidak aneh?” Xiumin tiba-tiba berkata.

“Apa?”

“Penampilan ayah tidak sebanding dengan rumah ini. Apa ada yang mengira ayah pengemis?” Ucapan ‘tak berdosa’ itu membuat beliau tertawa.

“Ayah tidak akan menderita tanpa ibumu. Ayah juga bekerja untuk hidup.” Ayahnya menyeringai.

Sementara itu, suara berisik datang dari luar. Sebelumnya Luhan sudah menelpon teman-temannya yang lain untuk datang tanpa sepengetahuan Xiumin. Suara berisik yang ditimbulkan Chanyeol dan Sehun membuat ayah Xiumin melongok menuju pintu rumahnya yang tertutup. Mengetahui ayahnya akan pergi, Xiumin buru-buru berdalih agar fokus ayahnya kembali ke ruangan ini saja.

“Sepertinya itu kucing liar. Di sini kan banyak kucing liar. Biarkan saja, yah.”

Ayahnya kembali duduk di kursi, tapi rasa penasaran masih bergelayut di otak ayahnya.

“Bagaimana ayah mencari pekerjaan?”

“Menjual berita-berita dari internet kepada orang-orang desa.” Ayahnya mulai menunjukan senyum bangganya.

“Caranya mudah. Tempat ini sangat terisolasi dari teknologi. Bahkan berita yang sudah hilang satu bulan dari perkotaan, mereka baru mengetahuinya. Jadi, ayah membuat sebuah selebaran seukuran kertas koran kemudian dititipkan ke semua kedai. Awalnya gratis, kemudian berbayar. Itulah bisnis.” Dengan gaya elegan ayahnya mengangkat gelas teh dan menyeruputnya.

“Itulah kenapa aku tidak pernah mendapatkan nama ayah. Penyamaran, eh?”

“Tentu saja. Tidak mungkin memakai nama asli. Tidak terkenal nantinya.”

“Dan tidak terdeteksi juga, kan?” Ucapan Xiumin tepat sasaran dan hampir membuat ayahnya tersedak teh. “Aku benar.”

“Maksudmu apa?”

“Karena ayah malu dengan ibu jadinya ayah menyembunyikan nama asli ayah dengan nama samaran dengan tujuan agar ayah tidak ditemukan siapa-siapa. Tapi, siapa yang menyangka kalau ayah masih mencintai ibu? Nama samaran ayah hanya plesetan nama ibu. Sangat kentara ayah masih mencintai ibu.”

Sementara itu, orang-orang diluar yang menonton melalui celah jendela merasa takjub dengan perkataan Xiumin yang sangat berani.

“Aku pikir akan ada perang dingin diantara mereka. Bukannya mereka sudah lama berpisah?” Jongdae menanggapi, tapi malah dipukul oleh Luhan.

“Kau terlalu banyak menonton, Tuan Jongdae. Xiumin sudah dewasa dalam menanggapi hal ini, apalagi dengan drama-drama haru yang menyedihkan, itu tidak akan pernah terjadi padanya.” Cibir Luhan.

“Itulah kenapa Xiumin hyung mendapat hak khusus di asrama. Dia memang pantas mendapatkannya. Akan lebih baik kalau dia masuk ke pengurusan OSIS dan menduduki posisi Penasihat.”

Ucapan Suho barusan membuatnya mendapatkan pelototan dari teman-temannya. Akibatnya Suho jadi salah tingkah dan berpura-pura mendapat panggilan dari ponselnya.

“Oh? Yeoboseyo? Eomma?” Suho berbicara cepat di ponselnya sambil pergi menjauh dari segerombol teman-temannya.

“Dia tidak berubah sama sekali. Padahal dia tahu kalau Xiumin hyung tidak suka berkuasa.” Baekhyun menggeleng heran. Luhan dan Jongdae mengangguk setuju.

Percakapan ayah-anak itu sampai berlangsung malam hari. Sebelumnya Luhan sudah mengirimi pesan kepadanya kalau dia dan teman-teman yang lain kembali ke rumah, tepat dua jam yang lalu. Xiumin merasa senang bisa berada di dekat ayahnya lagi. menonton bersama ditemani susu coklat panas buatan ayahnya sambil berbincang-bincang tentang apapun.

Ayahnya banyak bertanya tentang sekolahnya dan juga rencana universitasnya. Ayah Xiumin juga bertanya tentang Mi Soo noona dan Minhee. Ayahnya sangat terkejut ketika ia tahu kalau Mi Soo noona sudah menikah dengan pria kaya di Seoul sana dan tentang Minhee yang sekarang tinggal dengan adik sahabatnya. Banyak hal yang telah dilewatkan olehnya.

“Ayah menyesal.” Perubahan ekspresinya mengawali semua kesedihan ayahnya.

“Syukurlah kalau ayah mengerti.” Xiumin berkata tanpa ragu, membuat ayahnya sontak menoleh. “Ini seperti ayah telah melewatkan pajak selama 15 tahun dan ayah dituntut untuk membayarnya segera atau ayah mati. Ayah tidak akan tahu siapa yang akan pergi terlebih dahulu dan menjadi penyesalan nantinya.”

Ayahnya menjadi seribu bahasa. Tidak ada yang bisa ditolak lagi dari setiap kata Xiumin. Entah apa itu, pria itu seakan-akan merindukan masa lalu yang selama ini tidak pernah ia rasakan lagi.Yang menjadi sebuah kenangan indah yang terlupakan. Ini kesempatan bagus untuknya mengulang kembali. Tapi, yang menjadi masalah…

…akankah ia diterima kembali?

Dalam keterdiaman panjang itu, mengundang Xiumin untuk membangkitkan duduknya dan meletakan gelas biru ke meja. Ayahnya mengikuti arah gerak Xiumin yang sedang bersiap-siap kembali ke villa.

“Ayah harus memikirkannya. Ada waktu enam hari delapan jam lagi untuk ayah berpikir. Ayah bisa kembali ke kedai daging itu lagi jika ayah berubah pikiran dan ingin mengulang itu semua. Aku pulang. Selamat malam.” Xiumin mengambil jaketnya, berjalan menuju pintu dan sesaat terdengar bunyi debam pintu, menandakan Xiumin sudah meninggalkan rumah ayahnya.

Lee Joo Won, tetap pada tempatnya, tanpa perubahan apapun, kecuali otaknya yang sedang bekerja keras di dalam sana. Sel-sel otaknya sedang bertengkar tentang pendapatnya untuk mendapatkan yang terbaik bagi tuannya.

“Kim Soo Min….”

******

Enam hari sudah terlewati dengan sesuatu yang menyenangkan. Xiumin yang notabene suka dengan laut dan matahari terbenam, sangat menikmati akan liburan singkatnya. Tiga makhluk troll jika sudah dipantai tidak ada waktu bagi mereka untuk berjemur atau mencari tempat teduh di bawah pohon layaknya Sehun dan Luhan. Mereka senang mengerjai satu sama lain dengan melemparkan segenggam pasir putih dan melemparkan ke Baekhyun yang mereka anggap sangat lemah dalam bergerak. Kyungsoo dan Suho lebih senang membicarakan hal-hal santai di kursi-kursi lipat sambil memakan cemilan yang sudah dimasakan dari koki pribadi. Dan baru kali ini ada yang mau mendengarkan Suho berbicara! Kyungsoo memang jjang!

Xiumin lebih senang dengan dunianya sendiri, seperti memotret pemandangan laut dengan CLR atau menendang-nendang ombak yang datang kepadanya. Isi kamera itu hanya air laut, pulau kecil di seberang laut, dan ombak-ombak di bawah kakinya.

“Yeorobeun! Dagingnya sudah matang!”

Seketika yang dipanggil langsung bangkit dan mengerubungi meja makan. Suho menaruh semua daging potong yang sudah matang ke atas piring sterofoam sampai tumpukan tinggi. Dagingnya langsung habis setengah begitu piringnya diletakan ke tengah-tengah meja. Kyungsoo dengan sabar memasakan semua daging ke atas pemanggangan sambil menahan rasa laparnya. Setelah piring ketiga diberikan, Suho dan Kyungsoo mulai mengambil satu persatu daging yang sudah matang dari atas pemanggangan. Suho menoleh ke teman-temannya, dan terkejut mendapati tinggal Xiumin dan Luhan yang masih di bangkunya.

“YA! BERESKAN INI DULU! YA!” teriak Suho marah dan mendesis kesal karena tidak ada yang mau mendengarkannya (lagi). matanya beralih ke Xiumin dan Luhan yang berlagak tidak tahu.

“Kalian yang—“

“Rasanya aku akan kesana mengambil gambar.” Xiumin tiba-tiba berdiri sebelum Suho sempat menyelesaikan kalimatnya. Diikuti dengan Luhan yang juga berdiri secepat mungkin.

“Aku akan membantumu mencari spot yang bagus. Bagaimana kalau di tebing itu?” Luhan berpura-pura sibuk dengan ucapannya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah tebing kecil yang tak jauh dari tempat mereka.

Merasa tidak diperhatikan lagi, membuat Suho harus menepuk dahinya dan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Kyungsoo hanya menoleh untuk memahami situasi kemudian beralih lagi ke daging panggangnya.

“Menurutmu aku kurang apa, Kyungsoo? Tidak satupun yang mau mendengarkanku. Mereka pergi begitu saja sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku,” adu Suho sedih. Kyungsoo tiba-tiba memberikan satu daging ke depan Suho. Pria itu tentu saja bingung apa yang dilakukan Kyungsoo.

“Makanlah. Kita yang akan membereskannya. Kau selalu melupakan diriku yang akan membantumu,” ucap Kyungsoo datar, namun membuat Suho tersenyum senang. Dia tahu Kyungsoo masih peduli padanya walaupun suaranya tidak pernah menunjukan yang sebenarnya.

“Gomawo,” balas Suho lirih kemudian mengambil satu potong daging dan membungkusnya dengan selada. Menyuapkan makanan itu ke Kyungsoo yang menyambutnya tanpa penolakan.

*****

Xiumin sedang asyik memotret Luhan yang sedang berlagak bak model di depan kamera. Memamerkan setiap gerakan ‘sok cool’ sambil menatap lensa Xiumin dengan tatapan dingin. Xiumin seolah-olah ikut terhanyut akan pekerjaan barunya sebagai fotografer. Kakinya dengan semangat melangkah kesana kemari mencari spot bagus dan memotret Luhan.

Menyadari kebodohan yang ia timbulkan, Luhan melambai-lambaikan tangannya dengan maksud menyembunyikan wajahnya kemudian tertawa geli. Luhan mendekati Xiumin yang sekarang cemberut.

“Kenapa berhenti? Aku belum puas.” Xiumin mulai merengek.

“Model perlu istirahat. Aku lelah.”

Luhan pun duduk di atas pasir tebing sambil melipatkan kedua kakinya. Mendengar pukulan telak dari Luhan, Xiumin tidak tahu harus berkata apa lagi dan memilih duduk bersama Luhan di sampingnya.

“Oke. Oke. Aku mengerti. Aku beralih ke fotografer alam saja.” Xiumin mengarahkan lensanya ke bentangan laut yang mulai berubah orange. Kemudian terlintas rencana di otak Xiumin. Luhan tidak akan suka ini karena ia tidak suka yang tiba-tiba.

Xiumin mengarahkan lensanya ke Luhan yang sedang menoleh ke arah lain. Dia sudah bersiap-siap menekan tombol capture di kameranya begitu Luhan menoleh padanya.

“Luhan!” panggil Xiumin dan menekan tombol itu ketika wajah Luhan benar-benar tertangkap di lensanya. Wajah bingung Luhan yang sangat menggemaskan.

“YA!” pekik Luhan marah lalu memukul lengan Xiumin sekuat tenaga. “Apa yang kau lakukan, huh?!”

“It’s my lucky day~ Aku dapat yang aku inginkan.” Minseok menunjukan hasil jepretannya ke Luhan. Sontak matanya membulat kaget.

“Kau tidak mau menghapusnya?” Suara Luhan mulai horor ditelinga Minseok, seperti ia akan membunuh pria berpipi bulat itu sebentar lagi.

“Tidak. Aku akan menyimpannya, mencetaknya, dan memajangnya bersamaan dengan foto yang lainnya.” Minseok malah membanggakan rencana yang dianggap Luhan sangat konyol. Minseok kembali melanjutkan begitu melihat Luhan mendesah pasrah. Ia tersenyum sedih saat mengatakannya.

“Karena ini akan menjadi foto terakhir darimu, Lu.”

Luhan menoleh ke Minseok yang sekarang menatapnya sendu dengan senyum sedih di bibirnya.

“Tidak salah aku menyimpannya.”

Luhan terdiam sejenak. Matanya mengikuti arah Minseok yang sedang menggores-gores di atas pasir. Dia berkata lagi. “Kau boleh memilikinya.”

“Aku tidak tahu kapan kau akan pergi. Yang pasti, aku sangat sedih mengingat kau tidak akan ada di sampingku lagi.” Minseok menoleh ke Luhan. “Kau tahu? Lima tahun pertemanan kita, sangat berarti bagiku. Kau sudah aku anggap saudaraku sendiri. Walau aku pernah berpikir kau tidak cocok denganku karena suatu masalah. Tapi, kita tetap seperti ini sampai sekarang.”

Luhan sama sekali tidak membalas perkataan Minseok, karena memang itu adanya. Memori lama kembali terulang dari mulai Luhan bertemu Minseok di kelas dua SMP yang pada saat itu Minseok masih sangat gemuk dan dia menjadi teman satu bangkunya. Luhan memberinya motivasi untuk menjadi kurus sepertinya dengan mengurangi makannya dan melakukan olahraga berat. Sampai pada memori mereka di sekolah asrama yang untungnya mereka satu kamar bersama dengan teman-teman baru yang begitu berisik tapi menyenangkan.

Mengenang itu membuat Luhan tersenyum di dalam hati. Andai itu bisa diulang lagi. dia ingin membuat banyak kenangan yang lebih manis lagi.

“Kau tidak akan melupakanku, kan?”

Luhan menoleh ke Minseok yang tersenyum kepadanya. Dia menunggu jawaban pria Cina itu sambil menahan sedih yang terkumpul di pelupuk matanya. Oh, Minseok…. bertahanlah…

“Tentu saja tidak. Kau tetap sahabatku. YA! Aku hanya pergi ke Cina. Aku bisa kembali lagi jika aku rindu negara ini, dan kau.” Luhan tersenyum manis.

Mereka berdua bertatap dan tersenyum satu sama lain dengan background matahari terbenam. Dan sebagai kenangan terakhir, mereka membuat suatu selca dengan matahari terbenam. Walau gelap, namun kebahagiaan mereka tidak segelap cahaya matahari yang mulai hilang dari dunia dan digantikan oleh sang bulan.

Xie xie, Xiao Lu….

******

Besok Minseok dan teman-temannya akan kembali ke Seoul. Maka dari itu malam ini Minseok bergegas ke kedai daging yang sudah ia janjikan dengan ayahnya. Ia duduk di suatu meja di dekat jendela. Matanya terus mencari-cari sosok ayahnya di kerumunan orang-orang diluar. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah lewat dua jam dia disana. Beberapa kali juga seorang ahjumma yang sama menawarinya daging atau makanan yang lainnya, namun Minseok tetap berkata, “aku akan memesannya nanti.”

Tangannya mengangkat ponselnya, mengetikan pesan teks dan mengirimnya ke ayahnya. Ia kembali mengedarkan seluruh penglihatannya ke arah luar kedai. Berharap mendapatkan sosok ayahnya yang berjalan mendekati kedai. Namun nihil. Sudah lewat tiga puluh menit dari ketentuan yang ia kirim.

Dan akhirnya Minseok harus pergi dari kedai itu dengan kekecewaan dan rasa sedih yang dalam. Selama tiga jam ia disana dan tidak ada tanda-tanda ayahnya datang. Sekali lagi ia menoleh ke kanan dan kekiri, yang malah menambah kekecewaannya.

Dengan kepala menunduk, ia berjalan meninggalkan kedai daging menuju villa. Dengan ketidak-hadiran ayahnya menunjukan ayahnya tidak mau kembali. Ia menghargai keputusan itu dan beramsumsi kalau ayahnya memang benar-benar bahagia dengan kesendiriannya. Sekuat tenaga Minseok menahan tangisnya yang sudah terbendung di ujung pelupuk. Penantian selama bertahun-tahun membuatnya kuat dan tidak cengeng pada apapun. Apapun…

Tanpa diketahui Minseok, sejak dua jam yang lalu ayah Minseok sudah berada di sekitar kedai daging. Entah kenapa ayah Minseok tidak mau masuk ke dalam dan memilih menyembunyikan dirinya di balik pohon tinggi yang cukup membuatnya tertutup. Alasannya cukup rumit untuk dijelaskan kenapa beliau tidak mau bertemu dengan Minseok. Mungkin kehidupannya sekarang sudah cukup untuk dirinya. Iya… mungkin itu.

Dan dengan berat hati, Lee Joo Won membalikan badannya, meninggalkan tempat persembunyiannya menuju rumah hangatnya tanpa membawa penyesalan di dalam dirinya.

******

Chanyeol dan Sehun membantu memasukan barang-barang mereka ke dalam bagasi van. Pagi ini mereka sudah harus mengosongkan villa dan pergi ke Seoul kembali. Mereka harus mengurus hal-hal untuk kepentingan universitas mereka nantinya. Minseok dengan berat hati meninggalkan kota ayahnya. Entah kapan lagi ia bisa kesini.

“Ayahmu benar-benar tidak akan datang?” tanya Luhan cemas. Minseok melirik ponselnya yang penuh dengan percakapan seorang diri kepada ayahnya. Tidak ada satupun pesannya yang dibalas.

“Iya. Aku harus melepaskannya. Mungkin ia sudah bahagia sendirian di rumah itu tanpa kami semua.” Tampak keputus-asaan di setiap ucapan Minseok. Luhan menepuk pundak Minseok dengan pelan berkali-kali.

“Tak apa. Mungkin ada alasan lain yang tidak harus kamu ketahui tentang keputusan ayahmu itu. Ayo, kita pergi.” Luhan mengendikan dagunya ke arah van sebelum ia pergi meninggalkan Minseok.

Mungkin Luhan benar. Tidak selamanya ia harus tahu apapun. Ia harus pergi dengan tangan kosong. Yah, setidaknya ia sudah bertemu dengan ayahnya itu dan berbagi cerita.

Setibanya di Seoul, Minseok dikejutkan dengan pesan Jin Ae yang mengajaknya bertemu di lapangan basket dekat Sungai Han sore hari nanti. Begitu sore tiba Minseok langsung pergi ke Sungai Han dengan sepedanya. Setelah mendapatkan tempat duduk di dekat lapangan basket, dia memarkirkan sepedanya di dekat bangkunya. Selagi menunggu, Minseok sedang berusaha mencari topik yang akan dibicarakannya kepada Jin Ae nanti. Tak beberapa lama Jin Ae pun datang.

“Anyyeong!” Jin Ae melambaikan tangannya sambil berjalan mendekati Minseok. Melihat senyum Jin Ae membuat Minseok lupa yang akan ia katakan.

“Kau sudah menunggu lama?” tanyanya setelah ia duduk di samping Minseok.

“Tidak. Aku baru saja datang.”

“Bagaimana liburanmu?”

“Menyenangkan. Aku bisa melihat matahari terbenam sesuka hatiku. Aku suka laut. Desiran pantai bisa membuatku tenang.”

“Aku juga suka. Memotret laut adalah kesukaanku.”

“Wah! Kita sama! Aku juga suka memotret laut, ya walaupun menurut teman-temanku sangat membosankan. Kau mau melihat hasilnya?”

“Boleh.”

Minseok menyodorkan ponselnya dan membiarkan Jin Ae melihat hasil jepretannya.

“Kau memang hebat memotret. Lautnya juga indah. Aku ingin kesini.”

“Benarkah? Aku akan mengajakmu kalau nanti aku kesana lagi.”

Jin Ae kembali melihat foto-foto itu dengan takjub. Seketika ekspresi Jin Ae berubah begitu foto itu habis. Matanya menerawang ke bawah kakinya tanpa maksud. Hatinya bergejolak untuk mengatakan sesuatu kepada Minseok. Suaranya yang terkesan datar saat memanggil Minseok membuat pria itu bingung.

“Minseok oppa.”

“Hmm?” dehem Minseok sebagai jawabannya.

“Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku sudah bertunangan.”

Seketika dunia Minseok menjadi gelap. Pernyataan Jin Ae yang begitu tiba-tiba membuat Minseok bingung. Mulutnya terkunci rapat tanpa diperintah. Apa ia harus menjawab?

“Bukan berarti kita harus putus hubungan. Aku tidak mengharapkan itu saat aku memberitahunya. Walaupun kita baru saja mengenal satu sama lain, tapi aku merasa nyaman didekatmu. Kau seperti kakakku yang selalu menjagaku dan perhatianmu begitu membuatku senang. Tapi, kenyataan tidak bisa berubah. Aku menahan ini karena aku tidak mau kita berjauhan. Kau mengerti maksudku, kan?” Jin Ae menoleh ke Minseok dengan tatapan cemas sekaligus sedih.

“Aku mengerti. Terima kasih sudah memberitahunya kepadaku. Dengan begitu aku tidak harus berharap lebih darimu, kan?” Minseok memaksakan senyum di bibirnya, walaupun ia ingin menangis sekarang.

Minseok tiba-tiba bangkit dari kursi setelah lama berdiam diri. Dia menatap Jin Ae yang juga menatapnya.

“Aku harus pergi. Kau tahu? Aku akan mendaftar di salah satu universitas dan mencoba peruntunganku di bidang seni. Jadi, banyak yang harus aku persiapkan. Aku duluan…”

Minseok melambaikan tangannya ke Jin Ae yang membalas lambaiannya dengan canggung. Dia tahu hubungannya menjadi canggung karena pernyataan ini. Mata Jin Ae menatap punggung Minseok yang semakin menjauh dari pandangannya dengan tatapan sendu dan sedih. Ia rasa ini keputusan yang tepat.

Kenyataan selalu berbuah pahit, kan?

Disembunyikan akan tambah pahit akhirnya.

Begitulah Jin Ae berpikir.

“Semoga kau mendapatkan yang lebih baik, oppa.”

*****

Tiga minggu kemudian…

Teman-teman Luhan menemani pria Cina itu ke bandara. Siang ini dia akan berangkat menuju tanah kelahirannya dan melanjutkan sekolahnya disana. Penerbangannya tiga puluh menit lagi. Luhan memeluk satu persatu teman-temannya yang membalas pelukannya dengan sangat erat sambil mengucapkan harapan dan doa untuk Luhan di Cina. Luhan tidak bisa bernapas begitu Chanyeol dan Chen memeluknya bersamaan saat Luhan memeluk Baekhyun. Para troll itu tidak pernah membuat Luhan senang, bahkan di hari terakhir mereka bertemu.

Tiba saat di depan Minseok, Luhan langsung memeluk Minseok dengan erat.

“Kau harus sehat disana. Sering-sering kabari ke Korea. Aku akan selalu menunggu beritamu disini. Aku akan sangat merindukanmu, Lu.” Minseok menepuk-nepuk punggung Luhan.

“Aku juga akan sangat merindukanmu. Gomawo untuk lima tahun ini. Aku tidak akan melupakannya.”

Luhan melepaskan pelukannya. Matanya menatap bergantian teman-temannya yang sedang berusaha menahan sedih dengan senyuman palsu di bibir mereka.

“Aku sudah dipanggil. Jaga diri kalian disini. Aku akan menghubungi kalian setelah aku sampai di Cina.”

“Janji?” tuntut Sehun parau—dia menangis satu jam sebelum kepergian Luhan.

“Janji.” Luhan mengangguk dan tersenyum lebar kepada mereka semua.

Dia melambaikan tangannya sebelum dia berbalik. Teman-temannya membalas lambaiannya tanpa henti sampai Luhan benar-benar sudah jauh.

Di dalam mobil Suho, Minseok menerawang jauh ke luar sambil memutar kembali bayangan Luhan di otaknya. Dia membuka ponselnya, membuka galeri dan memilih foto terakhirnya di pantai. Terlihat kebahagiaan disana, membuat Minseok tersenyum kecut dan menangis. kehilangan untuk ketiga kalinya membuat air matanya tidak bisa dibendung lagi. untuk yang ini ia relakan air matanya keluar.

Beberapa kata yang ia ingat saat mengambil foto itu bersama Luhan….

Walau gelap, namun kebahagiaan mereka tidak segelap cahaya matahari yang mulai hilang dari dunia dan digantikan oleh sang bulan.

Xie xie, Xiao Lu….

Semoga kau bahagia disana…

END

*****

Author’s Note:

Dorm selesai! Jujur aja saat bikin chapter terakhir ini, aku ngebayangin Luhan yang berpisah dengan member-member lainnya dan pergi ke Cina. Dan kata-kata ‘semoga kau bahagia disana’ bener-bener doa untuk Luhan yang di Cina sekarang😥 aku belum bisa terima Luhan yang out dari EXO. Bener-bener disayangkan😥 pokoknya ini chap bener-bener sulit..

Terima kasih untuk kesetiaan kalian yang udah baca fanfic Dorm ini sampai chapter terakhir. Terima kasih untuk kalian yang udah komentar. Sorry yang requestnya nggak bisa aku penuhin. Dan juga komentar yang nggak bisa aku balas. Gomawo.. Jeongmal gomawo^^

9 thoughts on “Dorm (Chapter 16) End

  1. yuntil berkata:

    author… wajib bikin sequel nih…
    hiks itu xiumin malang bgt…
    dan jga maaf baru comment di sini…
    krna bcanya juga ngebut…
    satu hari langsung selesai…
    jeongmal mianhaeyo

  2. Yoon Chan Sik berkata:

    Minseok sama Jinae berasa brother-zoned banget duh duh /peluk Minseok oppa/
    SEDIH NGELIHAT LUHAN DISINI HUAAAAA, tapi tetep suka ngeliat friendship minseok-luhan disini lovelove
    Author-nim, sebenernya saya udah baca FF ini dari chap 1 loh haha tapi baru kesampean comment untuk chapt ini
    Good luck author-nim, tetep berkarya😄

  3. Iys berkata:

    Wwwaaaaaahhhhhhh……. daebak bgt ff nya!! . oh iya thor, kenapa di identitas ff judulnya chap 11? kan udah chap 15 kan? . wuah… sedih bgt baca kisahnya xiumin, gak kebayang kalau ada orang yg nasibnya kayak xiumin yg harus kehilangan banyak orang yg di sayanginya…uuuhhhh makin cinta deh sama bias ku ini🙂 ya udah xiamun sama aku aja kan jin ae udah ada yg punya🙂 . Aku gk kpikiran wktu bca ff ini luhan udah keluar dri exo gara2 saking terhanyutnya sama kebersamaan dia sama xiumin😥 . nice thor!!! keep writing!!! fighting!!!!!:)😉

  4. Kai's fan berkata:

    kasian Xiumin😥 . endingnya bener bener sedih thor. sequel dong.. ceritanya Luhan ketemuan lagi sm Xiumin

    KEEP WRITING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s