Dorm (Chapter 15)

  Author             : BaoziNam Judul               : Dorm (Chapter 11) Cast                 : All member EXO Genre              : Friendship, comedy, family Rating             : Teen Length             : Chapter Author’s Note : Nama Minseok aku ubah jadi Xiumin. Cerita asli dari otak author sendiri. Cast                              cuma nyewa sebentar nanti juga dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT!                           Comment dan saran ditunggu~ ***** Sesuai dengan rencana awal setelah ujian, mereka melakukan perjalanan ke daerah dimana ayah Xiumin tinggal dalam pengasingan diri. Suho berjanji akan membantu mencari jejak ayah Xiumin dan Luhan juga akan membantu bersama Chanyeol. Dengan Van pribadi Suho, mereka akhirnya sampai ke sebuah villa milik keluarga Suho yang katanya sudah lama ditinggalkan tapi tetap dirawat. Villa besar yang langsung berhadapan dengan laut ini, katanya diatas namakan untuk Suho dan sebagai hadiah di ulang tahunnya yang kelima. Benar-benar kaya! “Woah! Orang kaya memang beda!” decak Chanyeol terkagum saat dia memasuki kamarnya dengan Baekhyun dan Jongdae. Kamar yang sangat besar dengan fasilitas lengkap. Ada kamar mandi dengan pemandian uap panasnya, TV Flat 40 Inch dan juga komputer dengan sistem Touch dan Bluetooth. “Aku pasti betah disini selama dua minggu.” Baekhyun menimpali, kemudian melompatkan dirinya ke atas kasur yang empuk dan nyaman. Selimutnya sangat dingin membuat Baekhyun menggeliat ingin tidur. “Biarkan tas itu, Dae! Ayo ikut aku ke kamar para hyung.” Chanyeol menggeret tangan Jongdae menuju kamar sebelah. Sementara Baekhyun sudah terlelap di kasurnya dengan gaya tidur cantik. Tak berbeda jauh dengan kamar mereka bertiga, kamar Xiumin, Luhan dan Suho juga sama mewahnya. Para hyung malah sibuk dengan pakaian mereka sementara orang yang baru datang sibuk dengan kekaguman mereka. Chanyeol kembali menyeret Jongdae ke ruang lainnya. Ruangan paling utama dari rumah ini adalah ruang tamunya yang penuh dengan barang elektronik mahal, contohnya Play Station 4 dan empat buah PSP yang tergeletak di atas meja. Jaringan WiFi juga dinyalakan dirumah ini, 24 jam nonstop. Sehun dan Kyungsoo keluar dari kamar yang sama (kebetulan mereka sekamar). “Kau tidak ikut?” tanya Sehun. “Kemana?” tanya Chanyeol balik. “Pantai. Katanya pencarian akan dilakukan sekarang.” “Kata siapa?” “Suho hyung.” “Benarkah? Mau dimulai cari dimana?” “Mana aku tahu. yang penting tujuan kita kesini bukan hanya bersantai, tapi juga mencari ayah Xiumin hyung. Kau tidak tahu?” Chanyeol terdiam sebentar. Sebenarnya dia mau menolak, tapi ia terlanjur mengiyakan rencana ini. Dengan terpaksa Chanyeol meletakan PSP itu di atas meja lalu mengikuti Sehun menuju pintu. Xiumin bersama Luhan dan Suho berjalan mengelilingi kota yang tidak jauh dari villa Suho. Mereka menanyakan kepada semua orang dengan menunjukan foto ayah Xiumin. Foto yang mereka pegang adalah foto yang diambil saat ulang tahun Xiumin yang kelima. Mereka bertiga berharap bisa menemukannya. Sementara teman Xiumin yang lainnya pergi berpencar menanyakan nama dan alamat tempat keberadaan ayah Xiumin tinggal. Di sela-sela pencarian ponsel Xiumin berdering. Dari Jongdae. “Wae?” “Apa tidak ada informasi yang lainnya, hyung?” “Memangnya kenapa?” “Tidak ada yang mengenal pria bernama Park Yo Han. Aku sampai menanyakan ke pejabat yang memerintah disini. Tetap tidak ada yang bernama Park Yo Han. Hyung tidak salah memberi nama kan?” “Aku tidak akan pernah lupa nama ayahku. Ck. Ya! Kembali kesini semuanya.” Xiumin memutuskan sambungan telponnya. Secepat kilat Suho dan Luhan mengerubungi Xiumin yang tampak putus asa. “Apa kata Jongdae?” Suho bertanya langsung. “Dia tidak menemukan ayahku dan semua orang tidak ada yang mengenal Park Yo Han.” “Benarkah?” “Duh, ini jadi begitu sulit.” Luhan jadi patah semangat mendengarnya. “Aku pikir akan selesai dalam satu hari.” Xiumin memelas sedih. “Gwenchana, hyung. Kita bisa mencarinya besok. Ayo kita tunggu anak-anak itu dulu dan bicarakan rencana selanjutnya di villa.” Xiumin pun mengangguk. Beberapa menit kemudian semua temannya kembali berkumpul. Mereka kembali ke villa. Di sana mereka memang membicarakan cara selanjutnya. Suho kembali melacak keberadaan ponsel Xiumin melalui nomor telepon ayahnya. “Hyung, ada kemungkinan ayah hyung berganti nama untuk menghindari pelacakan.” Sehun tiba-tiba berkata dengan serius. “Tidak mungkin. Memangnya dia melakukan kesalahan apa?” bantah Xiumin cepat. “Kupikir melacak nomor ponsel juga tidak ada gunanya. Bisa saja ayah hyung tidak menggunakan ponsel lagi.” Baekhyun malah ikut memanas-manasi. “YA! Kalian niat mau membantuku sih?!” Xiumin menjadi emosi melihat mereka sedang berusaha mematahkan semangat Xiumin. “Benar. Kalian jangan mematahkan semangatnya. Kita coba dulu baru berasumsi.” Luhan langsung menengahi pertengkaran ini. Suasana menjadi hening kembali. Suho tetap tenang di depan laptopnya. Sedangkan yang lainnya mulai melakukan apapun, seperti bermain game dan menonton TV. Mereka tampaknya sudah mulai putus asa dengan pencarian ini. Memang baru hari pertama mereka melakukannya. Tapi, hasil hari ini memang mengecewakan. Tidak ada yang memberi mereka petunjuk sedikit pun. Xiumin juga lama kelamaan merasa kesal. Dia tiba-tiba bangkit dari duduknya, Luhan yang melihatnya menjadi terkesiap dan bertanya-tanya. “Wae?” “Keluar. aku mau keluar. butuh udara segar.” Xiumin kemudian bergegas pergi dengan jaket hitamnya menuju pintu. Belum sempat Luhan bertanya akan kemana suara klik dari pintu sudah muncul yang menandakan Xiumin sudah keluar. Langkah kaki Xiumin sangat lambat. Matanya menatap kaku sepatu kets hitamnya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam kantung jaket. Wajahnya memperlihatkan kesedihan juga angan-angan yang melayang di otaknya menunjukan bahwa keinginannya tak kunjung tercapai. Ia ingin menyerah, tapi begitu ia benar-benar berniat untuk menyerah beribu pertanyaan muncul di otaknya yang memuakkan. Xiumin tidak tahu dia harus apa sekarang. Tidak satupun orang di daerah ini yang mengetahui ayahnya. Berita buruk. Untuk pertama kalinya Xiumin masuk ke dalam kedai daging sapi setelah 15 tahun berlalu. Ia ingat saat itu ia pergi bersama ibu, ayah, dan Mi Soo noona untuk membeli tiga porsi daging sapi sebagai acara perayaan ulang tahun Xiumin yang kelima tahun. Dan sekarang Xiumin datang untuk mengingat masa lalu itu. “Ahjumma! Tolong satu porsi!” “NEE!” Sembari menunggu, Xiumin mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja sambil bersenandung pelan menyanyikan lagu masa kecilnya. Matanya menyusuri setiap pengunjung. Kebanyakan para pria dewasa yang makan berkelompok, juga ada sepasang manusia layaknya kekasih yang saling suap-menyuap. Xiumin tersenyum miring melihat mereka. Entah ada rasa geli melihatnya. Terbesit wajah Nam Jin Ae. “Sial! Aku jadi merindukannya!” rutuk Xiumin dalam hati. Jadi, Xiumin mengirimi pesan untuk Nam Jin Ae. ‘Kau sedang apa?’ Beberapa menit kemudian muncul balasan. ‘Aku sedang melayani pelanggan. Waeyo?’ ‘Ani. Hanya ingin tahu.’ Kemudian pesanan Xiumin datang. Fokusnya jadi tertuju pada makanannya dan lupa membalas pesan Jin Ae. Xiumin mulai menaruh daging-dagingnya ke atas panggangan dan menunggunya matang. Namun, ini membuatnya bosan. Akhirnya ia memesan makanan lain yang langsung siap saji. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengisi perutnya. “Seharusnya aku mengajak Luhan dan Jongdae kesini. Sekarang aku kesepian,” gumam Xiumin setelah menyadari kalau dirinya sendirilah yang makan seorang diri. “Apa aku harus menelpon mereka?” gumamnya lagi sambil menatap layar hitam ponselnya. Jemarinya mengetuk dua kali layarnya. Begitu menyala ia langsung mengetik nomor Luhan dan menelponnya. Setelah deringan pertama, Luhan mengangkat. “Yeoboseyo?” “Ya! Keluarlah bersama Jongdae sekarang.” “Wae? Kenapa sekarang?” “Cepatlah! Aku sekarang di kedai daging dan sedang membakar daging-dagingnya. Setelah aku lihat-lihat, tidak seru kalau makan ini semua sendirian. Kau pasti mau kesini, kan, Lu?” “Hanya dengan Jongdae?” “Tentu saja! aku tidak mau kalau ketahuan Chanyeol dan Baekhyun. Bisa habis dompetku.” “Oke. Dimana kau sekarang?” “Letaknya tak jauh dari villa. Kau dan Jongdae tinggal jalan lurus ke kiri sampai kau menemukan sebuah kedai di samping toko buku yang belum tutup. Aku tunggu setengah jam lagi.” “Ne.” Sambungan itu terputus. Xiumin menaruh ponselnya di pinggir meja. Kemudian ia membalik daging-dagingnya yang sudah matang setengahnya dan memotongnya dengan gunting menjadi bagian-bagian kecil. Lelah menunggu, Xiumin mencoba satu potongan kecil dari pemanggangan yang tampaknya belum sepenuhnya matang. “Akan lebih baik kalau sedikit gosong.” Xiumin menaruh sumpitnya di atas meja, membiarkan daging-dagingnya membakar sendiri. Tiba-tiba Luhan dan Jongdae muncul di pintu kedai. Mereka langsung menghampiri Xiumin yang terkaget-kaget melihat mereka datang sangat cepat. “Woah! Tampaknya aku datang tepat waktu,” gumam Jongdae terkesima. Dia mengangkat tangannya ke arah ahjumma penjaga kedai. “Ahjumma! Tolong sumpitnya dua!” “NEE!” “Ya hyung! Itu sudah matang! Kau tidak mau memakannya?” Jongdae menunjuk-nunjuk ke pemanggangan. “Aku suka yang sedikit gosong.” Xiumin terkekeh. Begitu sumpitnya datang, Jongdae segera mengapit salah satu potongan dagingnya, mencelupkan ke kecap asin dan melahapnya. Ada kegembiraan begitu daging panas itu masuk ke dalam mulutnya. Luhan dan Xiumin tertawa melihat wajah Jongdae yang tidak biasa itu. “Tampaknya ini tidak akan cukup untuk kita bertiga.” Luhan berkomentar dan terkekeh geli melihat Jongdae sudah mulai melahap daging ketiganya. “Kau senang? Apa aku harus membelikanmu satu porsi lagi?” Xiumin berucap. “Geurom! Dua porsi!” jawab Jongdae cepat. “Arraseo. Ahjumma! Dua porsi lagi!” “NEE!” “Ah, tampaknya aku harus kesana.” Xiumin mendorong kursinya ke belakang, lalu berjalan ke arah kasir. Ia terlihat sedang berbicara dengan ahjumma itu. Seperti sedang memesan makanan lagi. “Jongdae-ya, kau mau bir?” tanya Luhan sambil memasukan dagingnya ke dalam mulut. “Aku tidak kuat minum, hyung,” jawab Jongdae tegas, lalu memanggang daging mentah lainnya. “Pesankan yang lain untukku, hyung. Cola juga boleh.” “Geurae. Tunggu sebentar.” Luhan memundurkan kursinya dan bergegas menuju ke kasir. Jongdae tampak sibuk membolak-balikkan dagingnya kemudian mencoba memperbesar api pemanggangan. Jongdae sudah tidak sabar menunggu dagingnya matang. Fokusnya buyar ketika mendengar dering ponsel Xiumin di meja. Ada pesan dari seseorang. Jongdae pun membiarkannya, namun dering keduanya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membukanya. Jongdae mengambil ponsel itu dan mendapati nama ‘Jin Ae’ tertera disana. Juga ada balasan yang tak jadi dikirim untuknya. “Foto?” gumam Jongdae. Ibu jarinya menekan foto itu. “Yeoja?” Xiumin kembali ke tempatnya bersama Luhan dengan membawa tiga kaleng minuman. Xiumin sama sekali tidak sadar ponselnya sudah ada di tangan Jongdae. “Xiumin hyung?” panggil Jongdae. “Wae?” “Ada pesan. Sebuah foto. Tapi, bukan dari Mi Soo noona, atau Min Hee yang sedang belajar memotret dirinya dengan kamera ponsel. Seorang gadis yang tidak pernah kukenal.” “Benarkah? Spam mungkin.” “Bukan. Bahkan kalian berbicara dengan nama kecil.” Xiumin melebarkan matanya terkejut. Ia mendongak ke Jongdae yang memegang ponselnya. Tangannya merebut ponsel itu dari tangan Jongdae secepat kilat. “YA!” “Woah! Pacarmu, hyung?” Jongdae mulai menggoda Xiumin yang salah tingkah. “Ehm.. ehm.. YA! Dagingnya!” “Ah iya! Dagingnya!” Sedetik itu juga Jongdae jadi terfokus pada dagingnya. Diam-diam Xiumin menghela napas lega. Tidak mungkin ia memberi tahu kepada Jongdae tentang gadis itu. Tidak boleh. Dan tidak mungkin. sepertinya tidak ada ruang untuk Xiumin bisa bernapas lega. Nyatanya lima menit setelah Jongdae membalik semua daging, pria itu kembali menatapnya curiga dan bertanya yang ingin dia tahu. “Hyung, siapa dia?” Jongdae kembali bertanya. “Yang mana?” Xiumin pura-pura tidak tahu dengan menaikkan sebelah alisnya. “Ya! Kau tidak asik. Akui sajalah! Pacarmu, kan?” Luhan tiba-tiba menimpali sambil menatap Xiumin. “Kau kenapa ikut-ikutan sih?” Xiumin menatapnya heran. “Wae? Bukankah itu harus dipertanyakan? Kalian pergi bersama sampai kau mengantarnya ke stasiun terakhir padahal itu bukan arah asrama.” Pengakuan Luhan membuat Jongdae semakin antusias bertanya. “Serius? Woah! Daebak!” “Bukan begitu! Tidak seperti itu, Jongdae. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya.” Xiumin berusaha menghapus keyakinan Jongdae yang berpikiran kalau Xiumin memang benar-benar berpacaran sekarang. “Kau tahu, Jongdae? Demi bertemu dengan gadis itu Xiumin sampai menunggunya selesai bekerja dan duduk di taman selama enam jam!” Luhan mulai melebih-lebihkan nada bicaranya yang menurut Xiumin sangat menjengkelkan. “Benarkah? Kau memang sejati, hyung.” Jongdae memberikan dua jempolnya ke Xiumin, tapi Xiumin malah memukul Jongdae tepat di kepala. Dengan itu, Jongdae akhirnya diam dan memilih memakan dagingnya. “Sekali lagi kau berkata yang tidak-tidak tentang kemarin, kau tidak tenang, Lu,” ancam Xiumin dengan tatapan tajamnya. “Benarkah? Aku tidak sabar menantinya~” Luhan malah membalasnya dengan nada imutnya, seolah ancaman Xiumin tidak berefek sama sekali untuknya. Xiumin menepuk dahinya. Dua jam di dalam kedai itu membuat mereka kekenyangan, bahkan perutnya hampir mau meledak saking kenyangnya. Masing-masing dari mereka menenteng plastik hitam berisi daging sapi yang Xiumin beli di kedai tadi, juga minuman kaleng yang sangat banyak. Rasanya tidak adil kalau hanya mereka bertiga yang menikmati daging itu, sementara orang dirumah tidak merasakan daging juga. Atau bisa jadi saat mereka bertiga kembali, orang dirumah sedang menyantap makanan mewah hasil masakan koki pribadi Suho. Segala kemungkinan bisa terjadi berkat Suho. Di perjalanan pulang, Xiumin banyak diam. Perutnya tidak bisa membiarkannya bicara. Sementara Jongdae mengeluh tentang banyaknya daging yang ia makan. Luhan hanya tertawa melihat tingkah Jongdae yang berlebihan. Langkah mereka terhenti begitu Xiumin mendadak berhenti. Fokus Xiumin tertuju pada sosok di depan mereka yang berdiri dua meter dari mereka. Ekspresinya juga tidak berbeda dari Xiumin. Sama-sama terkejut dan tidak percaya. “Wae hyung?” tanya Jongdae bingung. Luhan menunjuk pria setengah baya yang berdiri di sana tanpa berkata apapun. Luhan dan Jongdae berusaha mencerna apa yang sedang terjadi sekarang, dan akhirnya mereka mendapatkan jawaban tentang kejadian ini. Mereka berdua serentak menampakkan wajah terkejut. “Jangan-jangan….” “Appa?” ****** Author’s Note: Akhirnya chapter 14 selesai juga. Tinggal menyelesaikan chapter terakhir. Duh Meet Him And Leave Him masih buntu cerita. Sorry yang nunggu lama.. Makasih yang udah baca dan komentarnya! Aku sangat menghargainya kepedulian kalian!^^ Gomapta!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s