FF: The Wolf and not The Beauty (part 25)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Aku tidak tau apakah ini keputusan yang benar atau tidak. Tapi aku ingin mengakhirinya segera mungkin, juga melepaskan Sehun dari ikatan ini.”

“Apa maksudmu?” Kai menatap punggung Sehun dengan sorot tak mengerti.

“Aku mundur.”seru Sehun dingin. “Kyungsoo sudah bukan tuanku lagi.”

“Sehun! Apa yang kau katakan?!”bentak Kris, ia tidak terima dengan perkataan Sehun barusan. Kris menghampiri pria itu lantas mencekal kedua bahunya dan memaksanya untuk menghadapnya. “Apa yang kau katakan, hah?! Kau gila!”

“Aku mundur.” Tanpa ragu ia menatap sepasang mata Kris. “Aku bukan lagi keturunan terakhir Rouler.”

“Kau melakukan ini karena Luhan?! Hanya karena dia?!” Kai berteriak, sama seperti Kris yang tidak percaya dengan apa yang sedang dipikirkan adik sepupunya itu.

“Apa kau pikir dia tidak ada artinya?”desis Sehun, ia mengalihkan pandangannya pada Kai dengan sorot membara. Tangannya menepis cekalan Kris. Sama halnya dengan lawan yang sedang ditatapnya, pria berkulit putih itu juga sedang mengendap sesuatu yang kapan saja bia meledak. “APA KAU PIKIR DIA TIDAK BERARTI?!”bentaknya balas berteriak keras. Untuk seketika, matanya berubah merah.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan, hah?! Ini adalah takdirmu untuk menjadi keturunan terakhir. Kau harus melindungi Kyungsoo!”bentaknya. “Keegoisanmu bisa menghancurkan kita semua, Sehun!”

Sehun tertawa mendengus, “Egois? Bukankah kau yang egois?”balasnya tetap dengan nada dingin. “Kau pasti bahagia karena kau telah mendapatkan pengganti D.O. Kau juga merasa tenang karea tanggung jawab ini berlimpah padaku. Kau telah mendapatkan semuanya sedangkan aku, selama ini aku seperti boneka yang kalian kendalikan. Kalian memintaku agar aku bertahan dan aku melakukannya, aku menjalani hari-hari beratku sebagai keturunan terakhir. Kalian memaksaku untuk menjadi yang terkuat. Dan aku tetap melakukannya.” Ia menunduk. Langkahnya terhuyung mundur, dalam tunduknya ia menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

“Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya setiap hari harus minum morfin untuk meredam hasrat pemburuku. Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana tersiksanya aku karena aku tidak bisa makan makananku yang sebenarnya. Kalian tau aku sudah cukup menderita. Lalu kenapa kalian masih melakukan hal ini? Kalian tau bagaimana aku dengan Luhan, kalian tau betapa berartinya dia untukku. Kenapa kalian masih memisahkan kami?”

Berdiri diatas kakinya yang mati rasa dan terasa mulai goyah. Dengan seluruh kekuatan, sebisa mungkin ia bertahan. Sebisa mungkin ia meredam rasa lelah akibat semua masalah. Tubuhnya lelah, hatinya lelah, pikirannya juga lelah.

Sebisa mungkin menelan seluruh air matanya yang perlahan menguap ke permukaan, dia benar-benar tidak terlihat seperti Sehun yang dulu.

“Atas segalanya yang telah aku lakukan, apa semua itu belum cukup? Kalian ingin menyakitiku sampai mana? Sampai aku benar-benar mati?”serunya dengan suara bergetar.

Kai melunak, ditatapnya adik sepupunya itu dengan keterdiaman tanpa suara. Tidak ada yang bisa dia katakan. Saat pemaparan isi hati yang akhirnya terdengar, ada perasaan menyesal yang perlahan mereka rasakan untuk seorang anak yang sebenarnya tidak mengetahui apa-apa. Yang dia inginkan hanyalah seorang sahabat, tidak lebih.

“Sehun…” Kris mengulurkan tangannya, menyentuh pundak Sehun. Lebih dari Kai, dia adalah orang yang paling mengerti Sehun selama ini. “Kami memiliki alasan kenapa kami melakukannya. Luhan juga sahabatku tapi aku ingin melindungimu. Aku takut kau akan diberi hukuman oleh seluruh warga jika mereka mengetahui kau masih berhubungan dengan Luhan. Aku takut itu terjadi.”

Sehun mendongakkan wajahnya, menatap Kris. “Bisakah kalian melepaskan aku? Bisakah kalian tidak mengikatku lagi? Bisakah aku bukan menjadi keturunan terakhir? Aku mohon.” Dan pada akhirnya, saat kekuatannya tidak ada lagi, air mata itu trjun bebas melalui pipi pucat pria itu tanpa memikirkan harga diri lagi.

Hanya ingin dimengerti jika selama ini beban hidupnya benar-benar berat. Hanya ingin mereka tau jika dia juga membutuhkan soerang teman. Dia hanya seorang anak kecil yang dipaksa untuk menjadi monster oleh takdir hidupnya. Sekarang, dia ingin melepaskan semua itu.

Kris merengkuh tubuh itu dalam dekapannya. Untuk pertama kali setelah sekian lama ia melakukan hal ini lagi. Saat pada akhirnya makhluk yang selalu terlihat kuat itu menyerah atas seluruh rasa sakitnya. Ia menangis, seperti seorang anak kecil yang mereka kenal dulu.

Tangisnya tersedu-sedu dan terdengar pilu. Jika ada yang menyesal karena hal ini, orang itu adalah Kris. Jika pada awalnya dia menganggap Sehun sebagai tuan yang harus dipatuhi, kini dia adalah seorang adik yang ingin dijaganya.

Amarah, keegoisan dan kekerasan yang pernah ia luapkan sebelumnya, kini membuat Kris mengerti jika dia memang punya alasan untuk melakukannya. Jika bagi Kai, D.O adalah segalanya. Maka bagi Sehun, Luhan juga begitu.

Sahabat tetaplah sahabat. Terkadang, walau ramuyan penghilang ingatan sekalipun, tidak akan mampu mengubur kenangan dan sekarang, inilah saatnya kenyataan mulai terbongkar.

Begitupun bagi seseorang yang selama ini merasa seperti pecundang untuk adik kesayangannya, Kai menemukan keberanian entah darimana untuk memutuskan sesuatu. Tiba-tiba saja. Jika ini dianggap sebagai sebuah pengorbanan, anggaplah begitu untuk membalas rasa sakit serta saat-saat berat yang telah Sehun habiskan selama ini. Jika memang harus melawan takdir, serta hukum-hukum yang berlaku dalam klan mereka, biarlah. Tidak ada yang berarti selain persaudaraan.

Ini untuk Sehun.

***___***

Kris berjaga di dekat ruangan Luhan begitu Sehun mengatakan jika dia sedang sakit dan dirawat disana. Ia mengalah sejenak dan memberikan waktu untuk Sehun agar ia bisa beristirahat di kamarnya.

Dia sudah jauh lebih tenang daripada tadi. Matanya kembali pada warna kecoklatan dan kuku-kukunya tidak lagi keluar tajam. Disampingnya, Kai terus duduk dengan mata yang tertancap lurus pada pria itu. Tahun demi tahun berlalu, namun wajah polosnya saat dia tidur tidak pernah berubah. Dia tetap terlihat seperti seorang adik yang dulunya selalu merengek ketika menginginkan sesuatu.

Kai mengulurkan tangannya, menghusap rambut Sehun lembut. “Apa aku harus melakukannya, Sehun?”gumamnya. “Tapi, aku bukan seorang pemberani sepertimu.”

“Kai…”

Tiba-tiba Kyungsoo membuka pintu kamar Sehun dan berjalan mendekati Kai. Kai tidak menoleh, punggungnya tetap membungkuk, setia menemani Sehun disampingnya.

“Kai…”panggil Kyungsoo lagi disertai dengan tepukan di pundak Kai. Pria itu kemudian menjatuhkan diri disampingnya. “Kau tidak apa-apa?”

Kai hanya menggeleng tanpa suara.

“Maafkan aku, Kai…”lirihnya membuat Kai menoleh. “Ini semua karena aku. Jika aku tidak memintamu untuk mencari ibuku, semua ini pasti tidak akan terjadi. Sehun tidak akan marah dan dia–”

“Ini adalah hal yang aku harapkan.”potong Kia datar. “Jauh di lubuk hatiku, aku ingin Sehun segera mengetahuinya.” Pandangannya berpaling pada sosok yang sedang memejamkan mata itu. “Dia berhak mengetahui kenyataan. Aku sudah lelah dengan kebohongan yang semakin lama akan semakin menyakitinya. Mereka berdua tidak bersalah dan memang tidak ada yang bersalah disini. Hanya takdir. Nyatanya mereka ditakdirkan untuk menjadi yang berlawanan. Luhan juga sahabatku, Kyungsoo dan aku tidak mungkin membiarkannya terluka.”

“Tapi—“

“Aku tidak tau apakah ini keputusan yang benar atau tidak. Tapi aku ingin mengakhirinya segera mungkin, juga melepaskan Sehun dari ikatan ini.”

Kening Kyungsoo seketika berkerut, “Apa maksudmu?”

“Aku memang tidak berpengalaman sepertinya. Bahkan tidak jaug lebih kuat. Tapi, mungkin takdir akan berkata lain jika aku juga merubah diriku.”

“Kai, apa maksudmu?!”seru Kyungsoo mulai mengerti maksud perkataan Kai.

Kai menoleh, mata teduhnya menatap Kyungsoo bersama senyuman lembut di bibirnya, “Saat itu terjadi, aku harap kalian baik-baik saja. Aku harap, ibumu kembali.”

***____***

“Jadi benar kau sudah menemukan cara untuk membuat zmiana?”seru Baekhyun nyaris histeris begitu Suho memberitahunya sesuatu, membuat Tao dan Chanyeol yang berdiri tak jauh jadi mendekat.

“Kau serius, Suho?!”timpal Tao sama tak percayanya .

“Walaupun aku masih ragu, tapi ayo mencobanya. Kita tidak akan tau jika kita tidak melakukannya.”balas Suho menatap satu-persatu teman-temannya.

“Tapi ngomong-ngomong kenapa Kyungsoo belum keluar juga? Kita perlu berdiskusi tentang hal ini. Apa Kai dan Kris sudah mengetahuinya?”

Suho menghela napas panjang sambil menggeleng pelan, “Aku rasa mereka sedang sibuk sekarang. Biarkan mereka dulu. Kyungsoo bilang dia ingin melihat situasinya.”

“Bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?Jadi ternyata Luhan–”

“Jangan pernah menyinggung Luhan di depan Sehun saat dia bangun.” Suho memotong rengekan Baekhyun. “Luhan adalah hal yang paling sensitif untuknya. Jangan membuatnya marah hingga hasrat membangkitkan hasrat pemburunya.”

“Benar juga. Apalagi Kyungsoo sedang bersama kita.” Chanyeol mengangguk.

“Aku tidak pernah menyangka jika anak selucu itu bisa menjadi begitu menyeramkan saat dia marah. Aku benar-benar tidak menyangka.”decak Tao geleng-geleng kepala.

“Yah, siapa yang menyangka jika anak semanis Sehun ternyata adalah makhluk werewolf bahkan pemimpin klannya. Akupun tidak pernah membayangkan hal ini.”sahut Baekhyun, ia menghela napas panjang sambil membuang punggungnya ke sofa.

“Kalian sudah makan?” Tiba-tiba Kai keluar dari kamar Sehun bersama Kyungsoo dibelakangnya.

Semua orang yang berada diluar ruangan seketika berdiri begitu mendengar suara Kai. Juga Chanyeol yang langsung menghampiri teman sebangku sekaligus sahabatnya itu. Tatapan waspada serta sorot ingin tau semua orang mendarat pada wajah sendu pria berkulit gelap itu. Terdiam selama beberapa detik. Akhirnya Kai tersenyum pada pria menjulang yang berdiri didepannya.

“Maaf, aku belum sempat untuk berbelanja di supermarket. Kalian pasti lapar, kan? Aku bahkan tidak ingat terakhir kali kalian makan.”

Tidak ada sahutan apapun dari Chanyeol maupun yang lainnya. Mereka tetap memandang pria itu dengan tatapan iba. Terlihat sangat jelas diwajahnya bagaimana keletihan itu.

Sebagai seorang sahabat yang paling mengerti dirinya selama bertahun-tahun, Chanyeol mengulurkan tangannya, menggapai belakang kepala Kai dan mendorongnya ke pundaknya. Tidak perlu diberitahu karena suara hati itu lebih terdengar lantang daripada suara lisan.

Bukankah persahabatan itu lebih memerlukan arti daripada penjelasan?

Kai tidak menggerakkan kepalanya dari pundak Chanyeol, ia memejamkan matanya kuat-kuat disana. Untuk sesaat, ia menemukan sebuah kenyamanan. Saat dia benar-benar membutuhkan sebuah pegangan, Chanyeol tanpa ragu memberikan pundaknya untuk sekedar menjadi sandaran.

Karena persahabatan terjadi saat mereka memilih diam sebagai pilihan yang tepat. Mereka tidak berbicara serta tiak mengganggu dengan mengatakan hal-hal yang akan mereka lakukan. Persahabatan adalah sebuah diam namun memiliki arti diantara mereka. Tidak perlu bicara karena suara dalam diam telah memberitahu mereka apa yang seharusnya mereka lakukan.

***___***

Keheningan itu mendominasi saat seseorang keluar dari kamarnya. Tubuh menjulangnya seketika menjadi pusat perhatian saat itu juga. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan bertanya bagaimana keadaannya setelah tidur lelapnya.

Walaupun wujudnya kini tidak lagi menyeramkan seperti tadi. Orang-orang itu lebih memilih diam daripada mengeluarkan suara, bahkan menciptakan gerakan yang akan mengalihkan perhatiannya.

“Sehun.” Hingga akhirnya suara Kai membuyarkan keheningan itu. “Mau kemana kau?”

“Rumah sakit.”jawabnya singkat, tanpa menoleh, begitu saja meninggalkan tempat itu.

“Kai, apa dia ingin bertemu Luhan?”tanya Chanyeol setengah berbisik.

Kai mengangguk, “Dia pasti melakukan itu.”

“Kai, aku ingin mengatakan hal ini sejak tadi. Aku sudah tidak perduli apa ini adalah saat yang tepat atau bukan, tapi aku dan Suho telah menemukan cara untuk membuat zmiana. Jika kami berhasil, mungkin kami bisa mengubah Sehun menjadi jarski seperti kalian.”jelas Kyungsoo. Ia membuat mata Kai melebar seketika.

“Kau serius?!”

“Dari buku yang aku temukan itu. Bukan Bahasa Inggris melainkan Bahasa Polandia. Kami menterjemahkan kata-katanya dan menemukan cara yang mungkin dilakukan oleh pastor Solomon dulu. Bahan utamannya adalah Aconite Wolfsbane.”

Kening Kai berkerut, “Apa?”

“Itu adalah sebuah jenis tumbuhan yang biasanya hidup di daerah lembab. Jika aku tidak salah, tumbuhan itu tumbuh di pegunungan TaeBaek. Disana berdaerah lembab, di kaki pegunungan mungkin banyak tumbuhan-tumbuhan ini.”jelas Suho.

“Pegunungan TaeBaek?” Kai mengulang lagi.

“Tempat itu berada di dekat taman nasional kota Sokcho. Besok pagi, aku akan kesana bersama Chanyeol.”

“Aku akan menemani kalian.”seru Kai.

Suho menggeleng, “Kau tidak bisa ikut bersama kami, Kai.”

“Tapi aku harus bersama kalian untuk melindungi kalian. Bagaimana jika anak buah Leo tiba-tiba menyerang?”

Suho tetap menggeleng, “Ini justru berbahaya untukmu, Kai.”ucapnya tenang. “Aconite Wolfsbane adalah tumbuhan yang paling dibenci oleh werewolf. Tumbuhan itu bisa membunuhmu.”

Kai sontak terkejut. “Apa?”

“Tumbuhan itu sama seperti sinar matahari yang mematikan werewolf pemburu. Walaupun kau sudah berubah menjadi jarski, sebaiknya jangan dekat-dekat dengan tumbuhan itu. Efeknya tetap sama untukmu.”

“Tunggu,” Kai berdeham, meloloskan tenggorokannya yang semula terasa cekat. “Kau bilang kau sudah menemukan cara untuk membuat zmiana, kan? Lalu kenapa kau justru mencari tumbuhan yang bisa membunuh kaumku? Kau ingin menyelamatkan kami atau membunuh kami?”

“Aconite Wolfsbane berfungsi sebagai pembunuh hasrat pemburumu. Karena itu, saat meminumnya kau akan merasakan rasa sakit yang teramat hebat. Namun, kita tidak hanya memerlukan tumbuhan itu untuk membuatnya. Bahan utama lainnya adalah darah keturunan terakhir Solomon.”

“Darah?!” Kai memekik hebat. “Maksudmu, darah Kyungsoo?!”

Suho mengangguk, “Jika kau ingin berubah menjadi werewolf, kau membutuhkan morfin dan darah dari seorang werewolf. Namun jika kau ingin berubah dari pemburu menjadi seorang jarski, kau membutuhkan darah keturunan terakhir Solomon.”

“Astaga, jadi selama ini pastor Solomon mengorbankan darahnya sendiri untuk mengubah kami?”

“Mungkin.”

Kai nyaris saja kehilangan kata-katanya. Ia bahkan tidak menemukan kata-kata yang paling tepat untuk membalasnya. Jadi… selama ini mereka meminum darah pastor Solomon? Begitu?

“Perbedaannya, kau tetap tidak bisa hidup abadi karena darah yang kau minum telah bercampur dengan tumbuhan itu. Kau masih bisa hidup abadi jika kau meminum darah itu secara murni.”

Tenggorokannya terasa seperti tercekat dan pita suaranya seperti tidak dapat berfungsi dengan baik. Mulutnya ternganga lebar bercampur rasa terperangah hebat. Apa dia adalah perwujudan dari Tuhan? Kenapa dia begitu baik?

Beberapa detik berselang dalam keheningan, tiba-tiba mata Kai membulat lebar saat dia menyadari sesuatu.

“Apa ini berarti kita akan menggunakan darah Kyungsoo juga?” ia menatap Suho sorot menuntut.

Merenungkannya sejenak, akhirnya Suho mengangguk pelan, “dia adalah keturunan terakhir Solomon.”

“Tidak!”bentak Kai cepat. “Kita tidak akan mengorbankannya!”

“Kai, aku bisa melakukannya. Sungguh. Kita hanya membutuhkan darahku sedikit.” Kyungsoo mencoba membujuknya.

“Tidak! Aku bilang tidak!”

Semua orang menatap Kai yang seketika berdiri dari duduknya, takut-takut, Baekhyun membantu berbicara, “Tapi itu jalan satu-satunya untuk membuat zmiana, Kai.”

“Aku berjanji untuk menemukan ibumu. Aku tidak berjanji untuk melibatkan kalian lebih jauh dalam masalah ini! Aku tidak akan mengorbankan, Kyungsoo. Juga kalian, mengerti?!”

“Kita sudah berjalan sejauh ini. Tidak ada jalan untuk kembali.”sahut Chanyeol, ikut berdiri, ia menepuk pundak Chanyeol. “Sudah ku katakan jika aku akan bertarung bersamamu.”

“Bertarung apa?! Chanyeol, apa kau pikir semua ini hanyalah lelucon? Kalian adalah manusia!”

“Kalau begitu ubah kami!” suara Chanyeol ikut meninggi. Membuat Kai seketika membungkam mulutnya rapat-rapat. “Aku tidak akan kembali apalagi mundur jika kau bertarung. Ini bukan hal yang berbeda, masih sama seperti dulu. Jika kau dalam bahaya, itu artinya aku juga akan melibatkan diriku sendiri.”

“Chanyeol—“

“Aku tidak akan berubah pikiran, oke?!”tandas Chanyeol tak terbantahkan. “Walaupun terpaksa mengorbankan Kyungsoo, itu adalah satu-satunya jalan untuk kita. Jika kau ingin mengalahkan Leo, maka kau harus mencari pasukan.”

Tao mengangguk, ikut menimpali, “Chanyeol benar, Kai. Tidak ada pilihan lain. Berhenti memikirkan kami karena walaupun kau memohon sekalipun, kami tidak akan mundur.”

“Hmm… aku bukan seseorang yang kuat. Tapi kau tau aku selalu bisa menjadi ace. Anggap saja ini di lapangan basket, setiap kali kau melihat kesempatan, kau melempar bolanya padaku dan percaya aku bisa mencetak skor. Tidak hanya di tim, disini kau juga leader kami.” Baekhyun tersenyum tulus memandang Kai .

Tiga suara terkumpul. Tanpa sadar menggerakkan bola matanya kearah Suho dan Kyungsoo, mereka ikut tersenyum padanya. Seperti sebuah penyokong yang dengan sangat yakin bisa membantunya kapan saja.

Jika ini yang dinamakan sahabat, ia tetap berharap tidak akan ada yang terluka. Dia berharap dia bisa kembali ke lapangan basket seperti dulu. Tetap seperti ini. Sebagai sebuah tim.

“Suho, jika aku gagal melindungi mereka, bunuh aku dengan tumbuhan itu.”

***___***

Dari duduknya di taman rumah sakit, tepat menghadap kearah bingkai jendela yang mencetak wajah seseorang di dalamnya, Kris berseru pelan tanpa menoleh, “Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Terus menatapnya dari sini?”

Ikut menatap pria yang sedang berada di dalam, Sehun berseru, “Aku harus menjaganya.”

“Itu bukanlah alasan untuk kau meninggalkan posisimu sebagai keturunan terakhir.”

“Jika kau tidak membohongiku, aku tidak akan melakukannya.”balasnya cepat, tanpa berpikir.

“Aku sudah menjelaskannya padamu. Ini permintaan ayahmu karena dia ingin melindungiku.”

“Ayahku tidak berada disini sekarang. Itu bukanlah alasan yang bisa aku terima.”

“Kau tau benar tentang hukum-hukum didalam klan kita. Jika kau melepaskan posisimu, maka tanggung jawab itu akan berpindah pada Kai.”

Untuk sejenak Sehun terdiam, merenungkan sesuatu. “Kita harus berdiskusi.”

Kris tertawa mendengus mendengar hal itu, “Ini adalah pertama kalinya kau mengajak kami berdiskusi. Apa Luhan benar-benar memberikan efek yang kuat untukmu?”

“Walaupun aku tidak bisa mengingat semuanya, aku bisa merasakan itu.” Sehun mengangguk. “Namun Kai juga saudaraku.”

“Berdiskusilah dengan kami saat kepalamu sudah dingin. Aku tidak ingin kau menghancurkan barang-barang lagi.”

Sehun menundukkan kepalanya, samar-samar terdengar helaan napas panjangnya, “Berada di dekatnya dan di dekat Kyungsoo membuatku tidak bisa mengendalikan hasrat pemburuku.”

Kris mengangguk, “Aku mengerti itu. Kau memang berbeda.”serunya menepuk kepala Sehun. “Lalu kapan kau ingin berdiskusi?”

“Sekarang.”ucapnya. “Kumpulkan mereka sekarang. Ditempat ini.”

“Disini? Kau yakin?”

“Lalu dimana? Aku tidak bisa meninggalkan Luhan sendirian.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan memanggil mereka kemari sekarang.”

Detik itu juga, Kris langsung bergerak cepat meninggalkan tempat itu. Seperti biasa melewati atap-atap rumah dan kembali menuju hotel Sehun.

Ditempatnya, kembali merasakan kegundahan hebat, sebagai seorang pemimpin, Sehun tetap harus mengambil keputusan. Melebarkan kedua tangannya diatas sandaran kursi kayu, ia memejamkan matanya erat-erat. Jika dia tidak bisa memilih antara Kai dan Luhan. Hanya ada satu jalan yang bisa ia lakukan…. mengorbankan dirinya sendiri.

***___***

Mereka telah berada di kantin rumah sakit setengah jam setelah kepergian Kris. Sehun muncul terakhir kali dengan ekspresi yang tidak berubah sejak terakhir mereka melihat pria itu. Dingin.

“Kau yakin kita bisa berdiskusi disini? Kau tidak bisa memantau Luhan dari sini.”seru Baekhyun.

“Dia memiliki insting jika ada pemburu disini.” Kris menjawab karena Sehun hanya diam.

“Aku memiliki berita baik karena Kyungsoo dan Suho sudah menemukan cara untuk membuat zmiana.” Kai berhasil membuat Kris dan Sehun terkejut.

“Sungguh?!”

“Mereka belum mencobanya tapi mereka yakin itu adalah hal yang pernah dilakukan oleh pastor Solomon dulu.”

“Jadi kami akan membantumu menyerang Leo.”sahut Chanyeol.

“Kau tau ini bukan lapangan basket. Ini bukan tempatmu bertanding.”sengit Sehun tajam.

Chanyeol mengangguk mantap, “Aku tau benar hal itu. Tapi aku juga yakin Kyungsoo akan membuat obat penawar untukku. Tidak masalah jika aku menjadi pemburu sepertimu.”

“Rencananya, kami akan berubah menjadi pemburu saaat menyerang Leo agar sama kuat seperti mereka.”kata Baekhyun.

Sehun tertawa mendengus, “Kau pikir itu mudah?” ia melirik Baekhyun dibalik sudut matanya. “Kau pikir menahan hasratmu untuk tidak memakan daging manusia itu adalah hal mudah?”

“Kami bisa menahannya.” Baekhyun merasa yakin dengan dirinya sendiri.

“Jangan membuatku tertawa. Kau lihat sendiri bagaimana aku saat aku tidak bisa mengendalikan hasratku.”

Baekhyun seketika terdiam.

“Kita tidak akan makan daging manusia tapi kita bisa menggigit lawan dan menjadi lebih kuat sepertimu. Itu adalah hal yang sama.” Tao menimpali.

“Apa yang kau tau tentang pemburu? Kau tidak hanya akan menggigit, jika kau tidak bisa mengausai dirimu sendiri, kau mungkin akan memakan mereka juga.” Sehun tersenyum meremehkan Tao. “Lebih baik memakan manusia daripada bangkai seperti mereka, kan? Kau pasti merasa jijik.”

Dan lagi-lagi Tao terdiam.

“Jika kalian bersikeras untuk membantu maka kalian tetap akan menjadi jarski.”tandas Sehun tegas. “Tidak ada yang berubah menjadi pemburu.”

“Tapi—“

“Itu adalah keputusanku.” Sehun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang berusaha menyela. “Dan yang harus kalian tau. Walaupun kalian menjadi jarski, kalian tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Saat aku menggigit kalian dan mengubah kalian, kalian akan menjadi makhluk werewolf. Walaupun kalian meminum obat penghilang ingatan sekalipun, kalian tetap tidak akan bisa menjadi manusia lagi.”jelas Sehun membuat Baekhyun, Tao dan Chanyeol seketika membelalakkan mata mereka. “Jangan mengambil keputusan seenaknya. Pikirkan lagi hal itu.”

“Astaga, aku tidak berpikir seperti itu tadi.” Kai menepuk keningnya. “Kalau begitu, kalian jangan berubah.” Ia menatap teman-temannya menyesal.

“Lalu bagaimana dengan Luhan?”

Lagi-lagi, Kris membuat Sehun merenung, “Tidak ada yang akan kita lakukan padanya. Biarkan dia menganggap dirinya sebagai manusia.”

“Tapi lama-kelamaan, dia akan menyadari kenapa dia tidak bisa menjadi tua.”

“Jangan rusak rencanaku seperti yang kau lakukan pada Kai.”desis Sehun dengan gigi yang gemertak. “Biarkan dia seperti dia yang sekarang.”

Perintahnya membuat Kris tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti.

“Sehun.”panggil Kai, Sehun menoleh padanya. “Jika kau ingin mundur, maka mundurlah.”

Kening Sehun berkerut, “apa maksudmu?”

Kai menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakannya, “Aku siap menjadi keturunan terakhir.”

TBC

54 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 25)

  1. Rahma fadilah berkata:

    kasian sehun beban ny berat .
    Suho emg jenius bgt .

    Sbnrny dsini g ada yg salah ,mereka hny ingn melindungi org yg mereka sayangi .Gk ada yg bisa d salahkan .Yg salah itu Leo .hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s