Dorm (Chapter 13)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 11)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Nama Minseok aku ubah jadi Xiumin. Cerita asli dari otak author sendiri. Cast                              cuma nyewa sebentar nanti juga dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT!                           Comment dan saran ditunggu~

*****

Xiumin bangun saat semua orang sudah pergi ke rumah masing-masing. Ada tiga kertas sticky note di pintu Xiumin ketika ia membuka pintu. Satu dari Chanyeol yang pergi bersama Baekhyun kerumah orang tua Chanyeol; Suho pergi ke ke rapat OSIS tentang perencanaan perpisahan; Kyungsoo pergi bersama Jongin entah kemana, hanya bilang pergi bersama Jongin. Luhan masih ada di asrama. Dia sedang menonton acara pagi yang membosankan. Dia langsung menoleh begitu mendengar suara pintu kamar Xiumin berderit. Luhan mengibaskan telapak tangannya sambil memamerkan senyum cerah di pagi harinya. Tanpa berpikir Xiumin segera menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Apa?” tanya Xiumin penasaran.

“Ayo kita berbelanja.” Luhan menjawab dengan nada antusiasme yang semangat.

“Yuk! Tunggu ya! Aku mandi dulu!” Xiumin langsung berlari menuju kamarnya, mengambil handuk menuju kamar mandi.

Luhan mematikan televisinya kemudian menuju kamarnya. Luhan yang sudah mandi dari pagi mengambil sweater hitam di atas kasur lalu memakainya. Dia keluar lagi dan menunggu Xiumin selesai membenah diri.

Akhirnya mereka sampai di suatu pusat perbelanjaan yang sangat besar di daerah Cheondamdong. Sebenarnya maksud berbelanja itu bukan menghabiskan uang, tapi waktu. Luhan memang sudah berencana untuk mengajak pergi Xiumin. Awalnya dia ragu karena Xiumin baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi pria itu langsung setuju begitu Luhan menawarkannya.

Tidak banyak yang mereka beli. Hanya makanan di tangan mereka saja yang sejak tadi menarik perhatian mereka. Yang lainnya, mata mereka lah yang ‘berbelanja’. Luhan tak henti-hentinya mengomentari benda apapun dari balik kaca toko. Xiumin juga ikutan mengomentari yang diakhiri dengan tawa mereka berdua.

Luhan sangat menikmati permen loli ditangannya sembari melihat-lihat kaos yang terpajang di manekin toko, sementara Xiumin mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Ada ribuan orang yang berbeda-beda. Ada sepasang kekasih yang sedang berbicara mesra sambil berjalan, seorang wanita bermata sipit yang sejak tadi menjadi perhatiannya (menurutnya cantik), ada pelayan toko yang menggoyang-goyangkan bel tangannya sambil menawarkan barang dagangannya, ada seorang pengamen jalanan yang sedang bernyanyi dengan gitar akustiknya (nyanyiannya membuat kepalanya bergoyang senang), dan banyak lagi.

Namun, dari sekian orang yang ia temui, hanya satu hal yang membuatnya terenyuh. Seorang ayah yang sedang bercanda dengan anak lelakinya di dalam dekapannya. Anak itu terkikik begitu ayahnya mencubit pipi bulatnya. Xiumin tersenyum melihat kemesraan ayah-anak itu. Anak kecil itu meliriknya, memamerkan matanya yang bulat (terkejut). Xiumin melambaikan tangannya kepada anak itu, yang langsung mendapat senyum lebar darinya lalu menyembunyikan wajahnya di balik bahu ayahnya.

“Kau melambai pada siapa?” tanya Luhan begitu melihat Xiumin mengangkat tangannya dan melambai.

“Anak itu,” jawab Xiumin kemudian menunjuknya dengan telunjuk. Luhan melongok dari balik punggung Xiumin.

“Mirip denganmu,” canda Luhan sambil menepuk bahu Xiumin.

Orang yang ditepuk sedikit terdiam sambil mengamati bocah kecil itu yang sekarang ayahnya juga menatapnya dan membungkukkan sedikit kepalanya, tanda ramah kepada orang lain. Xiumin membalas bungkukan kepalanya sambil tersenyum kikuk. Selintas di pikirannya kalau bocah itu memang mirip dirinya. Adegan itu memang mirip seperti dia dulu dengan ayahnya yang suka memeluknya kapan saja, bahkan Xiumin bisa saja tertidur di pelukan ayahnya. Beliau memang sangat memanjakan Xiumin, apapun yang diminta Xiumin pasti dibelikan dan dituruti. Tapi, Xiumin tidak berubah menjadi manja, berkebalikan dengan teman-temannya yang lain yang menjadi manja karena selalu dimanjakan.

Pikirannya buyar saat Luhan menarik lengannya. Pria itu menoleh kepadanya sambil menunjuk suatu stand yang menjual makanan (lagi). Luhan menarik lengannya, namun Xiumin menarik kembali tangannya sehingga membuat Luhan termundur dan menoleh.

“Kita baru saja makan, Lu. Aku kenyang.” Rengek Xiumin sambil memegang perutnya.

“Aku belum! Makanan itu membuatku lapar.” Luhan kembali menarik lengan Xiumin, dan sekali lagi Xiumin menarik lengannya lagi.

“Nanti saja. Kita makan di cafe setelah ini dan aku traktir apapun. Itu nggak enak, Lu!” Xiumin semakin merengek kepada Luhan.

“Tapi, aku belum pernah makan yang itu. Biarkan aku membelinya!” Luhan melepaskan pegangan tangannya di lengan Xiumin sebelum dia melengang pergi ke stand makanan itu. Xiumin mendengus lemas lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Selagi menunggu Luhan berbelanja makanan, Xiumin menyalakan jaringan WiFi di ponselnya. Ia membuka game yang memakai jaringan internet. Berkat WiFi yang ia pakai gamenya bisa cepat di akses tanpa menunggu lama seperti di asrama.

Tiba-tiba lengannya tersenggol seseorang yang lewat di belakangnya, yang hampir membuat ponselnya lepas dari tangan. Seorang perempuan berbalik kemudian membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan kata maaf. Xiumin jadi sedikit gugup karena perempuan itu terus-terusan mengucapkan kata maaf, dan akhirnya berhenti setelah Xiumin mengatakan ‘tidak apa-apa’.

Gadis berseragam itu melengang pergi setelah tersenyum pada Xiumin, dan menghilang di antara kerumunan orang-orang. Xiumin terus mengikuti kemana dia pergi sampai Xiumin benar-benar tidak mendapatkannya. Bahkan dia tidak tahu kalau Luhan sudah berada di sampingnya, mengikuti arah pandangan temannya itu dengan kotak kertas di makanannya yang penuh sambal pedas yang kental. Jenis makanan berbentuk keriting berwarna kuning seperti mie namun lebih terlihat seperti lasagna atau pasta.

“Kau lihat siapa?” tanya Luhan lalu memasukan sepotong kecil makanan itu ke dalam mulutnya.

“Seorang gadis.”

“Gadis? Yang mana? Aku tidak melihatnya.” Luhan berjinjit dan melongokkan kepalanya ke arah kerumunan orang-orang.

“Dia sudah pergi. Gadis yang memakai seragam putih dengan apron hijau lumut dan rambutnya terikat satu di belakang.” Xiumin mulai mendeskripsikan fisik gadis itu. matanya kosong menatap jalanan sementara otaknya sibuk menjelajah memori saat dirinya bersama ‘gadis lima menit’ itu.

“Uuu, kau suka dengannya, huh? Cinta pertamamu?” goda Luhan sambil tersenyum mesum padanya.

“YA! Wajah apa itu?” Xiumin memukulnya. “Bukan cinta pertamaku. Mi Soo noona adalah cinta pertamaku. Dan Minhee adalah ciuman pertamaku. Mereka berdua sangat berkesan untukku. Jadi, dia tidak ada apa-apanya dengan Mi Soo noona dan Minhee.”

“Intinya kau belum punya cinta maupun ciuman pertama. Kau ini senang sekali menggunakan kata-kata sulit.” Luhan mencibirnya.

Setelah pertengkeran itu, akhirnya mereka berdua meneruskan perjalanan. Luhan pun membelanjakan uanganya dengan membeli beberapa barang dan aksesoris untuk dirinya, seperti topi, sepatu, jaket, dan sepatu kets baru. Minseok yang sangat menyukai buku juga membelanjakan uang bulanannya untuk membeli buku-buku keluaran baru di sebuah toko buku. Akhirnya mereka ada juga yang bisa ditenteng di tangan. Kalau dihitung dari jumlah pengeluaran, Luhan lah yang banyak menghabiskan uangnya walaupun kuantitasnya lebih unggul Minseok.

Mereka pun beristirahat (lagi) di sebuah restoran fast food makanan Barat. Mereka mengambil tempat duduk agak terpencil di restoran itu. Beberapa saat kemudian seorang pelayan datang menuju meja mereka dan memberikan buku menu. Banyak makanan yang sangat menggiurkan. Ingin rasanya dipesan semua, pikir Minseok.

“Apa kita harus membeli masing-masing satu? Kelihatannya semua enak-enak.”

“Pesan saja dulu apa yang akan kita makan. Nanti kita pikirkan. Aku juga berpikir akan membelinya untuk para bocah di asrama.” Luhan terkekeh.

“Oke. Kalau begitu, saya pesan Corn Pasta dan Cola.” Minseok melirik si pelayan. Dia terkejut saat melihat si pelayan yang ternyata orang yang menabraknya tadi. gadis itu berpaling ke Luhan yang masih berpikir tentang pesanannya.

“Anda, Tuan?” tanyanya ramah.

“Hmm.. Sama dengannya saja.” Luhan menutup bukunya kemudian mengembalikan menu itu pada pelayannya.

“Kami menyediakan minuman untuk para pelanggan yang diberikan secara gratis,” tawarnya.

“Oke, yang itu juga berikan.”

“Baik.”

Pelayan itu berbalik kemudian melengang pergi. Xiumin tampak terdiam di tempatnya tanpa bergerak sama sekali. Matanya terus bergerak melihat gadis berseragam itu sibuk kesana-kemari mengambil pesanan pelanggannya. Tanpa disadari, Luhan sejak tadi mengajaknya berbicara. Sadar temannya tidak merespon, Luhan melirikkan matanya ke Xiumin yang fokusnya tidak berada padanya. Luhan langsung menepuk punggung tangan Xiumin yang berada di atas meja sekuat tenaga sampai sang pemilik tersadar.

“Apa yang kau bilang tadi?” Xiumin tergagap.

“Heol. Kau lagi-lagi tidak mendengarkanku.” Luhan mendengus lemah sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya sudah masuk ke saku jaketnya, yang berarti Luhan sudah mulai bosan dan jangan pernah mengganggunya.

Beberapa menit kemudian seorang pelayan lain datang membawa pesanannya dan Luhan. Xiumin tampak bingung. Kenapa bukan pelayan tadi yang mengantarnya?

Saat pelayan itu akan pergi, Xiumin memanggilnya dan pelayan itu berbalik dengan sopannya.

“Ehm… siapa nama pelayan disana?” Xiumin menjulurkan telunjuknya yang langsung diikuti oleh pelayan itu dan juga Luhan yang penasaran.

“Oh, dia Nam Jin Ae. Dia baru saja bekerja disini beberapa hari yang lalu. Ada apa, Tuan?”

Xiumin mengangguk-angguk sambil berusaha mengingat nama gadis yang bernama Nam Jin Ae itu. lalu Xiumin meminta pelayan itu untuk kembali bekerja. Sementara itu, Luhan tampak penasaran dengan lagak Xiumin yang menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Dipikir-pikir, keterdiam Xiumin setelah mendengar nama gadis itu seperti berkaitan dengan ceritanya yang katanya ia bertabrakan dengan seorang gadis berseragam. Apa gadis itu maksudnya?

“Namanya cantik, ya?” gumam Luhan sambil tersenyum manis. Xiumin seketika menatap Luhan dengan penuh tanda tanya.

“Apa maksudmu?” Xiumin memiringkan sebelah alisnya.

“Kau mau bilang itu, kan? Namanya memang cantik kok. Cuma aku belum lihat seperti apa gadis tadi,” ungkap Luhan sambil tersenyum.

“Jadi kau penasaran dengannya?” tanya Xiumin datar.

“Oh, bukan begitu! Tidak! Aku lebih tertarik dengan gadis Cina. Ya, walaupun gadis disini banyak yang imut.” Luhan tertawa. Xiumin mendengus mendengar ucapan konyol temannya itu.

“Ayolah, kau harus berbicara dengannya. Keluarlah dari zona amanmu itu.” Luhan memukul lengan Xiumin, sementara dirinya mencerna apa yang dikatakan Luhan. Benar. Dia harus keluar dari zona itu.

*****

Xiumin melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah lebih dari lima jam ia disini, duduk di bangku taman tak jauh dari cafe tempatnya bersama Luhan. Pria yang menemaninya tadi sudah pulang ke asrama lima jam yang lalu. Pria itu menyarankan dirinya untuk menemui Nam Jin Ae itu ketika cafenya tutup.

‘Cobalah berkenalan lalu bicara padanya. Keluarkan pesonamu, setelah itu minta nomor ponselnya. Untukmu itu tidak sulit sama sekali. Kapan lagi kau bisa berpacaran dengan gadis secantik Nam Jin Ae itu. Tunggu dia. Sekarang waktunya yang tepat.’

“Cih. Bocah itu memang pandai menghasut orang,” gumam Xiumin sambil berdecih, memikirkan bagaimana konyol dirinya yang bisa termakan omongan Luhan.

Sudah lewat dua puluh menit dan rasanya Xiumin ingin menyerah. Tapi, kenapa harus sekarang? Kenapa harus disaat dia sudah berada di ujung penantiannya? Bukannya ia terlalu konyol pulang sekarang setelah melalui lima jam di tempat yang sama? Tanpa membawa apa-apa? Tidak! dia tidak bisa begitu! Dia harus disini sampai Nam Jin Ae keluar.

Dua puluh menit lagi terlewati dan sebentar lagi jam sembilan malam. Sebenarnya jam berapa cafe itu tutup? Kenapa masih menyala lampunya? Bukannya sudah waktunya para pekerja berbenah? Kenapa banyak sekali pertanyaan di kepalanya?

Tiba-tiba ponselnya berdering di saku jaketnya. Tangannya langsung merogoh saku dan mengeluarkan ponsel putihnya dari sana. Tertera nama Luhan disana.

‘Kau sudah mendapatkannya?’

Setelah membacanya Xiumin langsung menghubungi Luhan dan terjawab di deringan pertama.

“Ya. Cafenya saja belum tutup. Kau tahu jam berapa mereka tutup?” Xiumin tampak ngotot saat berbicara.

“Molla. Memangnya aku traveler. Bukannya kau yang harus tahu itu?”

Xiumin mengacak rambutnya. “Arra. Apa aku harus pergi sekarang?”

“Tanpa mendapatkan nomornya? Ya! Apa gunanya lima jam itu, huh?!” Luhan protes.

“Ya! Apa kau pernah mengalami ini, huh? Tidak ada sejarahnya seorang Kim Min Seok menunggu seseorang selama ini.”

“Kau baru saja membuatnya.”

“Membuat apa?”

“Sejarahnya, bodoh. Kau yang melakukannya dan sekarang kau membuatnya.”

Seperti di tembak tepat di hati, Xiumin tersadar apa yang telah dikatakannya. “Ya! Kau mengacaukan moodku.”

“Apa salahku? Kau yang memancingnya. Lagipula kenapa kau mau mengikuti saranku? Bukannya kau bisa menemuinya besok? Woah, aku tidak tahu kau orangnya setia. Lima jam itu tidak mudah, lho. Oe? Terhitung enam jam! Chukkae.”

“Kau bisa tutup mulut?”

“Arraseo, arraseo. Aku akan menutupnya.”

“Ya! Kau benar-benar menutupnya?”

Tak ada jawaban dari Luhan.

“Dasar bodoh.”

Cafe itu mematikan lampunya lalu keluar para pekerja yang diantaranya ada Nam Jin Ae. Xiumin terbelalak kemudian berdiri tegak.

“Dia sudah keluar! Kututup!”

Xiumin memasukan ponselnya ke dalam saku. Lalu berlari menerobos puluhan mobil yang berlalu lalang di depannya. Suara bising dari klakson mereka tidak membuat Xiumin takut. Dia terus menerobos tanpa melihat mobil yang akan menabraknya nanti. Dan untungnya dia bisa menerobos itu semua. Anehnya gadis itu tidak ada lagi di depan cafe. Jalanan yang mulai sepi memudahkan dirinya untuk menemukan Nam Jin Ae yang sudah berjalan menjauhinya menuju halte. Dengan perlahan dia mengikuti gadis itu yang sedang berbicara penuh tawa ke arah teman kerjanya.

‘Manis…’ pikir Xiumin sembari tersenyum kecil.

Xiumin sengaja menjaga jarak dengan gadis itu. Dia tetap menjaga jarak sampai di atas bus. Xiumin mengambil tempat di belakang bus, sementara gadis itu berada di bagian kanan empat bangku dari belakang. Xiumin tetap memperhatikan gadis itu, terpesona dengan wajahnya.

Satu persatu penumpang turun dari bus, dan meninggalkan beberapa penumpang termasuk dirinya dan Nam Jin Ae itu. Temannya sudah turun dari dua pemberhentian tadi. inilah saatnya Xiumin beraksi. Tapi apa yang harus dia lakukan? Dia mulai berbicara sendiri, seperti cara menyapa atau memulai pembicaraan.

“Annyeong..” gumamnya dengan suara imut. “Uh, aneh. Ehem. Annyeong..” kini dengan suara cool. Setelah itu dia sadar dirinya menjadi bodoh… dan gugup.

Xiumin memberanikan dirinya mendekati gadis itu dan berdiri disana.

“Ehm, annyeong,” sapanya canggung. Gadis itu seketika menoleh, buru-buru melepaskan sebelah headsetnya.

“Oh, annyeong,” balasnya sambil tersenyum ramah.

“Boleh aku duduk disini?”

“Silahkan.”

Xiumin langsung duduk disitu, menyamankan posisinya yang sangat canggung itu. Tidak ada percakapan setelah itu. Xiumin terlalu sibuk menata hatinya yang terlalu gugup.

“Ehm..” Gadis itu menoleh karena mendengar Xiumin akan memulai pembicaraan. “Kau turun dimana?”

“Satu pemberhentian lagi. Anda sendiri?” tanyanya. Tanpa sadar dia sudah membulatkan matanya yang membuat gadis itu semakin imut.

“Sepertinya kita searah. Aku juga turun disana.”

‘Sebenarnya tidak.’ Xiumin mengutuk dirinya sendiri yang sudah kelewat nekat.

“Aku Kim Min Seok. Tapi aku lebih suka dipanggil Xiumin. Namamu siapa?” Xiumin mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis padanya (biasanya dipakai untuk memikat hati para gadis di sekolahnya).

Ragu-ragu dia mengulurkan tangannya dan menyambut tangan itu dengan canggung. Xiumin langsung mengeratkan jabatan itu. tampak dari wajahnya kalau Nam Jin Ae itu terkejut.

“Aku Nam Jin Ae. Temanku suka memanggilku Jin Ae.”

Kemudian jabatan itu terlepas. Terjadi kecanggungan di antara mereka berdua. Entah kenapa tidak ada yang mau memulai.

“Kau bersekolah dimana?” Mereka bertanya bebarengan.

“Kau tinggal dimana?” Lagi-lagi mereka bebarengan. Seketika mereka tertawa, menyadari betapa lucunya mereka.

“Kau dulu yang bicara,” ucap Jin Ae.

“Kalau ada yang penting kau dulu saja,” balas Xiumin.

“Baiklah. Jadi, kau mau tahu apa?”

“Apapun yang harus aku tahu,” jawab Xiumin dengan seringaian coolnya.

Jin Ae mulai membicarakan tentang dirinya, mulai dari dimana dia tinggal, dimana dia sekolah, berapa adik yang ia punya, dengan siapa ia tinggal, kenapa ia bekerja, dan lain-lain. Di percakapan inilah Xiumin bisa menarik kesimpulan kalau Jin Ae sangat terbuka, ramah juga jujur. Terdapat kepastian di wajahnya yang tidak bisa dielakkan lagi. Tidak ada keraguan dari kata-katanya. Benar-benar menambah kepastian Xiumin akan gadis ini.

Bus pun berhenti di tempat tujuan mereka. Jin Ae menyempatkan diri memberi salam kepada supir dengan ramah. Xiumin reflek melakukan hal yang sama, dengan membungkukan badannya dan tersenyum ramah. Jin Ae melambaikan tangannya sebelum mereka benar-benar berpisah. Dan Xiumin mengingat sesuatu yang ia lupakan.

“Jin Ae!” panggilnya, membuat Jin Ae menoleh. Xiumin berjalan mendekatinya, menyisakan setengah meter jaraknya dari Jin Ae.

“Boleh aku tahu nomormu?” tanya Xiumin. Dalam hatinya, dia berusaha setengah mati menahan gugup.

“Oh? Oke. Sebentar.” Jin Ae membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan ponsel dari sana. “Ini.”

Xiumin mengambil ponsel itu dan mulai mengetikan nomornya kemudian menelpon nomornya sendiri ke ponselnya. Beberapa saat kemudian ponselnya berdering dan itu tandanya nomor Jin Ae sudah masuk ke riwayat panggilannya.

“Gomawo.” Xiumin mengembalikan ponsel itu dengan ucapan terima kasih yang sangat manis. Jin Ae menahan gugupnya saat itu. Entah mungkin pipinya memerah karena itu.

“Aku akan menghubungimu nanti bila aku sudah sampai dirumah.”

“Arraseo. Aku duluan.” Jin Ae mundur selangkah kemudian pergi sambil melambaikan tangannya sekali. Xiumin membalasnya dengan melambaikan tangannya juga.

Tiba-tiba mobil sport hitam berhenti tepat di ujung jalan, tempatnya berdiri sekarang. Kaca mobil terbuka, memunculkan Luhan, Chanyeol, dan Suho di dalam.

“Ya! Kau tahu darimana aku disini?” tanya Xiumin takjub.

“Kau lahir tahun berapa, hyung? Ponsel bisa melacak seseorang. Masuklah!” jawab Chanyeol terkekeh.

Xiumin lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Luhan. Mobil itu melaju cepat meninggalkan tempat dimana dijadikan tempat momentum untuk Xiumin dan Jin Ae. Sebagai tempat awal kedekatan mereka. Perjalanan itu dipenuhi oleh pertanyaan licik Chanyeol dan Suho yang penasaran. Luhan hanya tersenyum menahan tawa.

“Nugu? Yeojachingu?” Chanyeol mengedikan sebelah matanya genit.

“Ya! Belum sampai disitu.”

“Berarti akan sampai kesana.” Suho menimpali. Xiumin tidak menjawabnya, membuat para penanya berasumsi kalau tebakan mereka benar.

“YA! YA! YA! HYUNG AKAN PUNYA PACAR!” teriak Chanyeol girang, yang disambut tawa Suho dan Luhan.

“YA! Diamlah!”

Begitulah seterusnya sampai mereka tiba di asrama, dan Xiumin langsung mengirimi pesan singkat kepada Jin Ae. Tanpa diketahui, sang penerima pesan sudah menunggu pesan itu sampai ia melewatkan tidur malamnya yang rutin. Entah apa, tapi dia tetap menunggunya dan kegirangan begitu pesan itu sampai.

‘Cinta kah?’ Pikirnya.

Entahlah. Berharap saja itu benar…

*****

Makasih yang udah baca sekaligus kasih komentar. Pas mau berakhir baru munculin peran ceweknya. Sengaja^^ biar tambah penasaran yang bacanya😛 Makasih sekali lagi yang udah baca!!!😄

2 thoughts on “Dorm (Chapter 13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s