A letter

poster a letter

Tittle : A letter || made by Cicil || Rated PG-13 || I don’t own the cast, I just own the story || Staring by Xi Luhan and Lee Jieun || romance, fluff || <900 words

Already posted in 2deer.wordpress.com

{Maybe I’m not just loving you. Maybe, I love you.}

Xi Luhan telah mengucapkan lebih dari seribu kali kepada Jieun kalau, “Aku menyukaimu, Jieun.” Tapi yang ia dapatkan hanya senyum malu dan cibiran tawa, bukan balasan seperti aku menyukaimu juga, Luhan. bukan.

Siang itu mereka pergi bersama, seperti kencan. Tapi bukan ke taman kota atau Lotte World atau Namsan Tower seperti kebanakan pasangan lainnya. Keduanya merajut langkah mendekati sebuah gedung perpustakaan di ujung kota. Itu tidak jadi masalah untuk Luhan asal ia tetap melihat Jieun.

Ia duduk di salah satu bangku dan Jieun tepat di sebelahnya sedang membuka halaman pertama dari buku kimia untuk mencari rumus dan menyalinnya ke catatan. Luhan sibuk memperhatikan wajah gadis itu dari matanya yang indah dengan iris secoklat es krim kesukaannya, lalu beralih ke hidung yang mancungnya tampak sempurna, kemudian sampai di bibir, membayangkan kapan ia bisa menyentuh bibir pink kemerahan itu dan melumatnya halus.

Sementara…

Jieun tidak nyaman menyadari Luhan memandangnya terus-terus seperti tidak ada objek lain yang lebih baik untuk dilihat. Tangan kirinya terulur mengusap lengan kanan sembari matanya yang pura-pura sibuk pada paragraf pertama dari halaman entah keberapa yang sudah ia balik, lantaran irisnya tidak memandang tiap huruf yang ada melainkan berusaha melirik Luhan.

Tidak, tidak, ini seharusnya tidak terjadi di perpustakaan. Karena perpustakaan untuk membaca, Luhan! kau tahu itu, bukan? Jieun jadi tidak bisa konsentrasi dengan gelutan rumus bercabang ibarat benang kusut. Mereka tidak berisik tapi malah mencuri delikan ibu penjaga, maka sedetik setelahnya suara batuk yang disengaja merayapi dinding telinga keduanya.

Ehem, ehem!

Jieun tersentak dari acara curi-curi lirikan, ia langsung fokus pada tulisan-tulisan hasil percobaan. Sementara, Luhan memutar bola matanya, ia tertawa geli sendiri—meskipun tanpa suara—sambil menggaruk-garuk leher belakang.

Siang itu diisi dengan saling memainkan mata sampai ibu penjaga datang, sampai sore menjemput dan hujan mengguyur.

Luhan kembali ke depan pintu perpustakaan, di mana ada Jieun menunggunya. Setelah meminjam payung plastik pada satpam di dalam. Ia berdiri sejajar dengan Jieun, menatapnya, menunggu pandangan Jieun bermuara di matanya.

Ketika hal itu terjadi, “Ayo,” Luhan menggenggam telapak tangan mungil itu yang dingin karena hujan membawa suhu rendah pada mereka. Jieun merasakan sensasi hangat melingkupi lengannya bahkan seluruh tubuhnya pun.

Luhan membuka payung pinjamannya dan mengantarkan pulang Jieun sampai di rumahnya dengan selamat sentosa sebelum ia sendiri pulang ke rumah.

Mereka berbaur bersama belasan payung warna-warni lainnya, masih saling menautkan tangan dan menyalurkan kehangatan. Luhan menatap Jieun penuh, berharap kali ini ia berhasil. “Jieun,” panggil Luhan. Jieun berhenti dan mereka berhenti di tengah pejalan kaki yang terburu-buru.

“Aku menyukaimu,” Jieun merasa puluhan kupu-kupu terbang dari perutnya. Aku juga menyukaimu, Luhan. tapi suara balasan itu hanya terdengar oleh Jieun lantaran ia mengucapkannya dalam hati. Entah kenapa tapi rasanya begitu sulit seperti rumus kimia untuk mengucapkan sekedar tiga kata, Aku-juga-menyukaimu.

Jieun beralih tersenyum, mata mereka bersiborok dalam satu garis lurus. Luhan tahu kalau Jieun juga merasakan apa yang ia rasakan. Kendati Jieun hanya belum mengutarakannya lewat bicara. Luhan menepis pandangan mereka malah terdiam sendiri, kembali pada tuntunan langkah mereka yang sempat berhenti. Sementara Jieun menunduk berusaha lindungi surai gelapnya dari buruan air hujan.

~^~

Laki-laki itu mengusapkan handuk kecil pada kepalanya supaya rambut yang baru saja ia cuci dapat segera mongering. Ia duduk di tepi ranjang, sesekali melirik kaca jendela yang menampilkan embun dan suara gemericik dari rentetan tetes hujan. Tidak ada yang dapat memenuhi pikirannya kecuali nama Jieun.

Ya, Jieun.

Hatinya akan meledak juga kalau Jieun masih bersikap ‘tidak peka’ ketika ia menyatakan perasaannya. Menggebu bahkan tadi ketika mereka menautkan tangan untuk menembus guyuran hujan, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat lantaran sensasi hangat menembus pembuluh darahnya dan mulut yang ingin sekali mengutarakan kalau ia menyukai Jieun. Menyukai.

Tek

Satu kenyataan muncul ibarat lampu bolam warna kuning yang berkelebat di atas kepala Luhan. ia tahu kenapa Jieun hanya mengulumkan senyumnya saat kalimat, “Aku menyukaimu, Jieun.” Terlontar, membiarkan rasa tidak puas menggerayapi relung hatinya.

Mungkin kata menyukai tidak dapat mewakilkan seluruh perasaannya. Mungkin kata mencintai lebih tepat supaya mereka bisa melangkah ke hubungan yang lebih serius. Bukan sekedar berteman biasa.

Luhan membiarkan handuk kecil warna birunya bersimpuh di ranjang. Ia tidak peduli lagi kalau rambutnya masih basah atau belum makan malam. tangannya menyalakan lampu belajar, merobek secarik kertas dan mulai menulis surat untuk Jieun.

Luhan menulis surat cinta untuk Jieun.

Supaya gadis itu tidak mengulum senyumnya lagi ketika ia menyatakan perasaanya.

~^~

Pagi datang menjemput, menghantarkan Jieun pada loker sekolahnya yang berwarna abu-abu kelam dengan tempelan pernak-pernik seperti kebanyakan milik perempuan lainnya. Ia membuka kuncinya, ketika perasaan memburu dan udara terasa begitu tipis untuk dihirup.

Ada sebuah lipatan kertas kecil warna biru awan juga nama Luhan tersemat dibagian ujungnya. Jieun membukanya menelusuri tiap huruf dengan teliti hingga jantungnya ingin melorot dan senyumnya sudah keluar lebar-lebar.

Jieun, yang membaca ini kau ‘kan? Jangan sampai aku salah loker—jadi kalau yang membaca bukan bernama Jieun maka buang saja kertasnya.

Aku menyukaimu mungkin bukan kata yang tepat untuk mewakilkan seluruh perasaanku.

Mungkin yang tepat adalah aku mencintaimu

Karena kalau ada yang lebih dalam dari lautan maka itu adalah rasa sukaku. Kalau ada yang lebis luas dari awan di langit maka itu adalah kagumku akan wajahmu. Kalau ada yang lebih tinggi dari langit maka itu adalah usahaku untuk menyatakan perasaan ini.

Aku ulang sekali lagi dan ini pasti. Tidak akan habis atau punya kadarluasa seperti jus stroberi yang sering kau minum. Ini punya masa selamanya dan tidak bisa disentuh oleh waktu.

Aku mencintaimu, Jieun.

 

Jieun mau menangis rasanya membaca tulisan itu. Ia menutup lokernya dan berlari masuk ke dalam kelas—bukan, bukan karena bel sudah bordering tapi karena—ingin segera merobek sebilah kertas dari buku tulisnya dan menyambar pen siapapun yang masuk dalam retinanya.

Aku juga mencintaimu, Luhan.

Lebih dari sekedar mengulum senyum atau puluhan kupu-kupu yang terbang di perutku.

 

Fin

a/n:

ya ampun ini apa-_- aku gatau ini feelnya berasa atau engga karena aku keseringan baca fluff dan kayaknya udah diabetes nih._. kebanyakan menyerap yang manis-manis. Tapi aku malah menyebarkan ideku yang menguar begitu saja dari otak:”)

oke, oke, untuk posternya._. maafkan akuuu /nangis/ aku tahu aku pemalas karena itu terlalu ehmm aku cuman nambahin judul di sana. /lupakan/

last, thankyou for reading and comment are reaalllyyyy welcome^^

One thought on “A letter

  1. Dessy berkata:

    A latter. Mau dapat surat cinta juga dari luhan haha😀 keren kakak author, tapi endingnya gantung. Pngen tau gmna reaksi luhan kalo dpat surat cinta dari ji eun.
    Tpi nggk papa si gantung, pokoknya ini keren kakak author.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s