We Are Friend CHAPT 3

 

Tittle: We Are Friend

Author: BPI

Length: part

Genre: Friendship

Main cast: All member EXO

== Minseok-Luhan-Yifan-Yixing-Jongdae-Tao ==

== Xiumin-Luhan-Kris-Lay-Chen-Tao ==

Flash Back On

Keenam pria dengan tinggi berbeda tersebut membersihkan beberapa noda darah di pakaian mereka. salah seorang dari mereka bahkan tak segan-segan membuka bajunya dan melemparkannya ke dalam tong yang di bakar di tengah-tengah mereka. Tanpa mereka ketahui satu dari mereka terdiam begitu saja setelah apa yang mereka lakukan. Ia jatuh terduduk , matanya menerawang entah kemana, menampilkan wajah lugu yang selalu ia tampilkan tersebut.

“Chen? Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan yang di lontarkan Xiumin mampu membuat ke 3 pria lainnya yang sedang membersihkan diri menengok ke arah pria yang masih saja terdiam.

“Chen segera ganti bajumu, kalau tidak polisi akan menemukan kita” Teriak Tao kesal, ia menatap Chen yang masih saja tak bergerak walaupun Xiumin dan Lay kini telah menyadarkannya.

“Lu..Luhan.. Ge.. Ge.. Lu.. Hiks… TIDAK.. DIA.. TIDAK”

Xiumin dan Lay segera memeluk tubuh Chen, menghentikan tangannya yang mencoba melukai dirinya sendiri. ia bahkan berteriak bagaikan orang gila. Membuat Kris dan Tao menatapnya terkejut.

“Chen tenangkan dirimu” pinta Xiumin lembut, tetap memeluk tubuh Chen yang masih gemeteran.

Kris dan Tao memperhatikan sekitar, Tao meminta Kris untuk menghubungi seseorang agar menjemput mereka. sebelum polisi datang, membuat mereka semakin sulit.

“Chen diamlah!” Akhirnya Kris berteriak kesal ke arah pria yang masih menangis meraung ketakutan itu. Lay dan Tao menahan tubuh Kris untuk tidak menyakiti pria yang terlihat sangat ketakutan itu.

“Kau monster ge!”

“Kau membunuh Luhan ge!”

“Kau membiarkannya sendiri disana!”

“Kauhmmptt-“

Xiumin segera menutup mulut Chen, sebelum Kris lepas kendali dari pegangan Lay dan Tao yang sudah menahannya. Mata Kris mendadak redup. Ia berteriak dan menendang apapun yang ada di hadapannya.

“Bisakah kau menutup mulutmu? “ Bentak Tao melirik ke arah Chen yang masih menangis

Lay hanya terdiam di tengah-tengah kejadian itu, ia menjambak rambutnya sendiri dan berteriak histeris setelahnya. Keadaan tambah kacau saat suara sirine polisi terdengar. Hanya Tao yang menatap mereka, hanya Tao yang mempertanyakan apa yang harus mereka lakukan saat ini. tapi mereka semua hanya diam. Pasrah dengan apa yang akan menimpa pada mereka nanti.

== Minseok-Luhan-Yifan-Yixing-Jongdae-Tao ==

== Xiumin-Luhan-Kris-Lay-Chen-Tao ==

Mereka terbebas dengan cepatnya. Dengan jaminan yang di berikan oleh Cheo yaitu kakak perempuan Yifan mereka hanya berada di jeruji besi selama 48 jam lamanya. Tao segera memeluk Cheo yang malah mendorongnya kuat dan langsung memberi tamparan kuat ke pipi mulus Kris yang menatap terperangah.

“Apa kau gila? Kau membuat suatu pertarungan dan meninggalkan beberapa korban begitu saja?” Teriak Cheo memenuhi ruangan polisi.

Seorang polisi datang untuk menenangkan wanita cantik yang berteriak di tempat tersebut. membuat Cheo harus meredam amarahnya dan segera pergi begitu saja tanpa ingin mendengar penjelasan dari siapapun di hadapannya.

=- Xiumin-Kim Minseok ==

Pria berwajah bulat itu tersenyum getir mendekati pria lainnya yang tertidur dengan beberapa selang dan jarum yang menusuk tubuhnya. Dengan penuh keraguan ia mendekati Luhan yang akhirnya di tinggal sendiri, sejak tadi ia telah menunggu walaupun hanya diam di bangku taman memperhatikan beberapa bodyguard yang selalu berada di samping pria lemah itu.

Keluarga Xi mungkin harus menelan ludah pahitnya setelah gugatan nya ke Sekolah Tingkat Pertama Beijing di tolak karena anak-anak yang terlibat dalam tawuran ini masih sangat di bawah umur. Dengan penuh tekat mereka bahkan menuntut keluarga Wu yang merupakan keluarga terpandang di China. Walaupun begitu, semuanya hanya sia-sia. Mereka semua di butakan oleh kekayaan dan kehormatan. Yang menang adalah yang memiliki harta.

“Luhan?”

Bisik Xiumin mendekati sahabat terdekatnya itu secara perlahan. Ia menengok sebentar ke arah pintu, takut bila bodyguard itu kembali, dan menengok kembali ke wajah Luhan yang penuh dengan luka lebam.

“Mianhae”

Ucap Xiumin tulus. Ya dia bukan orang China, ia orang Korea. dan berkat kejadian ini ia harus kembali ke Korea dan mendapatkan hukuman yang menurutnya setimpal dengan apa yang ia lakukan terhadap sahabatnya ini.

“Maafkan aku meninggalkanmu saat itu. Saat itu…” Xiumin menghentikan ocehannya dan membuang wajahnya, ia menangis dengan tangan menutupi wajahnya. Wajah bulatnya ia biarkan menunduk menatap lantai.

“Aku bukan sahabat yang baik seperti yang kau katakan. Aku meninggalkanmu dengan penuh luka, dan membiarkanmu menjadi umpan kita. Aku tak tahu apa jadinya bila kau tak menyuruh kami pergi dan meninggalkanmu sendirian di sana. Maafkan aku.. hiks.. aku..”

“Aku harus pergi. Orang tuaku mengirimku ke sekolah asrama di Korea. maafkan aku bila saat kau membuka matamu aku tak ada. Maafkan aku…”

Xiumin mengambil sebuah kamera yang ada di dalam ranselnya. Dan segera mengambil gambar di mana dirinya dan Luhan yang tertidur di ranjang. Dengan cepat hasilnya keluar. Dan membuat Xiumin tersenyum kecut. Lalu menyelipkan poto itu di bawah bantal tidur Luhan.

“Bila kau bangun, aku mohon kau melihat ini. kau harus tau, sahabat mu ini selalu berada di sampingmu, walaupun saat itu aku pergi”

“Sedang apa kau di sini?”

Xiumin menoleh dan terkejut melihat seorang dengan pakaian rapih mendekatinya. Ia berdiri kikuk dan menggaruk lehernya yang tak gatal.

“Kau Kim Minseok?”

“Nde”

“Pergi sekarang juga”

Xiumin menghela nafas panjang dan membungkuk ke pria berkaca mata hitam itu. Ia bersyukur bahwa ia tidak di seret keluar seperti yang di lakukannya terhadap Lay dan Tao kemarin. Ia menengok sebentar ke arah Luhan yang masih saja memejamkan matanya, dan menutup pintu ruang perawatan itu dengan pelan.

== Wu Yifan – Kris ==

“Begitu mudahnya kalian menyuruhku melupakan ini semua. Kalian harus lihat bagaimana kondisi Luhan saat ini? Ia koma. Beberapa tulang rusuk nya patah, dan satu lagi. Dokter memfonisnya tidak akan bisa berjalan lagi. Apakah kalian mengerti? Cita-cita Luhan adalah menjadi pemain bola? Dan apa jadinya itu semua saat kakinya tak berfungsi?”

Yifan hanya bisa terdiam di balik pintu kamarnya. Mendengar begitu banyak teriakan Papa Mama Luhan mengenai perlakuannya. Sungguh ia tak ada keinginan untuk meninggalkan Luhan saat itu. Ia memang egois, tapi bukan ia saja. Semua nya juga begitu bukan saat kau di hadapkan hidup dan mati. Kau pasti akan memilih untuk hidup. Bukan mati sia-sia di tangan para preman sekolah itu.

“Tenanglah Xi Luxian, aku sudah mendatangkan berbagai dokter hebat untuk anakmu. Dia pasti akan bisa berjalan lagi”

“Aku hanya ingin anakmu dan para murid lainnya mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang Luhan dapatkan saat ini”

“Aku sudah mengeluarkan mereka semua. 2 Orang Korea sudah ku pulangkan ke negara mereka dan Yifan, akan ku kirim dia ke Kanada”

Yifan langsung menegang. Kanada. Ia akan tinggal di Kanada, berarti ia akan di jauhkan kembali dengan kedua orang tuanya. Ia berdiri dan langsung membuka pintu kamarnya paksa, dengan langkah panjang mendekati orang tuanya di ruang tamu dengan orang tua Luhan yang masih saja memperdebatkan masalah ini.

“Kau akan mengirimku lagi ke penjara itu?” Tanya Yifan lemah, membuat papa nya menatapnya kesal.

“Kau harus di didik lebih baik Yifan. Kembali ke kamar mu”

“Aku tidak mau”

“YIFAN KEMBALI-”

“AKU TAK MAU. KALIAN MAU MEMBUANGKU LAGI HUH? KALIAN TAHU KENAPA AKU SEPERTI INI, INI KARENA KALIAN, KALIAN TAK PERNAH MEMANDANGKU SEKALI SAJA, KALIAN HANYA SIBUK DENGAN PEKERJAAN BODOH KALIAN”

Dan suara tamparan keras berhasil membuat Yifan terdiam, begitu pula beberapa orang di sana. Tak ada penyesalan sama sekali di mata tua kepala keluarga Wu itu. Ia malah menatap tajam para bodyguard nya dan menyuruh mereka menyeret Yifan yang berteriak bagaikan orang gila di kamarnya.

== Tao ==

Air mata itu jatuh berulang kali, entah keberapa kalinya hari ini pria bertampang seram itu menjatuhkan air matanya. Anggap saja dia cengeng. Tapi ini benar-benar membuatnya gila. Semuanya hancur, Luhan koma, Yifan ke Kanada, Xiumin dan Chen kembali ke Korea dan dia. Dia kini hanya sendirian, menatap langit langit kamar yang entah sudah berapa bulan ini ia tinggali.

“Aku merindukan kalian, aku ingin bermain basket dengan Yifan ge, aku ingin berlatih dance dengan Yixing ge, aku ingin bermain bola dengan Luhan ge dan Xiumin ge, aku ingin di ajari lagi bernyanyi dengan Chen ge” Ucapnya dengan bibir gemetar

Sebenarnya tempat ini tak terlalu buruk. Tapi prilaku orang-orang inilah yang membuatnya buruk. Sepertinya keluarga Huang benar-benar mengasingkan dia ke pedalam Qingdao di sini tidak ada club bahkan tempat tempat bermain lainnya. Hanya laut dan pantai yang selalu menjadi tempat tujuan pria ahli wushu ini.

== Zhang Yixing – Lay ==

“Korea?”

Lay mengangguk mantap saat papa dan mamanya mempertanyakan sekolah menengah atas yang akan dia pilih. Ia sudah memilih SMA yang tepat untuk dia bersekolah, bukan karena di Korea dia bisa bertemu dengan kedua sahabat nya lagi, melainkan ini pun permintaan Cheo untuk Lay bisa memperhatikan Yifan, yang juga akan bersekolah di sana nantinya.

“Aku tak setuju Lay, ini yayasan keluarga Wu, dan kau ingin kembali bergaul dengan monster itu”

“Pa, itu adalah sekolah seni yang paling bagus di Korea” Bela Lay, memasang wajah innocentnya pada kedua orang tuanya yang menolak mentah mentah keinginannya.

“Lay, di sini banyak sekolah seni, seterah kau masuk sekolah mana, aku akan mendaftarkannya” Kini Lay tak bisa berkata apa-apa, ia tak bisa menolak wajah mamanya yang sudah mulai berair karenannya.

Walaupun begitu, Lay tetap terbang ke Korea, dan yang paling pertama ia temui adalah…

“Xiumin”

Pria berwajah bulat itu terdiam menatap namja berlesung pipi melambai kan tangannya. Bagaikan terkena serangan jantung, Xiumin terdiam kaku di tempatnya sampai pria berlesung pipi itu memeluknya erat.

== Kim Jongdae – Chen ==

“Jongdae baik-baik saja, ia bisa masuk SMA normal nantinya”

Senyum merekah keluar begitu saja saat mendengar dokter psikolog itu berbicara pada wanita kurus di hadapannya. Wanita kurus itu membungkuk berterimakasih lalu menjabat tangan dokter cantik itu erat. Akhirnya setelah setahun tinggal dan bersekolah di sekolah luar biasa. Anaknya Jongdae bisa bersekolah di sekolah normal.

“Eomma?”

“Ya sayang”

Jongdae menerawang ke arah jendela, melihat jalanan yang sudah lama sekali ia tak lihat. Satu tahun di sebuah sekolah asrama membuatnya seperti alien yang baru turun ke bumi.

“Dimana aku bersekolah nantinya”

“SMA Yonsei”

Mata Jongdae membulat menatap eommanya yang tersenyum. Yongsei? Ia pernah mendengar nama itu, tapi tak mungkin ada kaitannya dengan orang-orang yang membuatnya seperti ini. Bulir-bulir keringat keluar begitu saja dari dahinya. Membuat wanita kurus yang ia panggil eomma itu mengeluarkan tissue dan menghapusnya.

“kau kan suka sekali musik, sekolah Yonsei itu terkenal dengan seninya kau pasti suka”

Dan hari itu adalah saat paling menakutkan bagi Jongdae. Setelah melihat 2 orang yang sangat ia kenali sedang mengospeknya. Dan lagi 2 orang yang satu angkatan dengannya. Ia tahu kalau 4 orang itu mengenalnya, tapi Jongdae harus berpura-pura kalau ia tak mengenal 4 orang itu.

Flash Back Off

===================== Class 2C==================

Kelas itu begitu sepi setelah bunyi bel pulang berbunyi, tapi masih ada satu pria yang masih duduk di bangku nya. Ia menghela nafas berulang kali, merutuki kebodohannya telah termakan emosi Tao kemarin. Ia sudah menjawab tantangan Tao, pria kucing menyebalkan itu, dan kini ia harus meminta Luhan untuk membantunya.

Tapi bagaimana ia bisa meminta bantuan sahabat barunya itu. Luhan baru saja operasi, dan ia tak tahu kemampuan Luhan dalam dance, dan satu lagi, kenapa Tao memintanya bersama Luhan. Pasti pria licik macam Tao sudah memikirkan ini matang-matang, dan bodohnya ia termakan permainan pria itu.

“Jongin?”

Jongin menengok ke arah suara di mana Suho mendekatinya dengan banyak buku di tangannya. Ia dengan susah payah membetulkan kaca mata nya dengan satu tangan yang memegang buku.

“Kau tak pulang?” Tanyanya lagi kini sedang menaruh buku itu di loker kelas yang berada paling belakang.

“Apakah sekolah masih ramai?” Tanya Jongin, menghampiri Suho untuk membantunya.

“Masih ada beberapa siswa bermain di lapangan, dan…”

Jongin menatap Suho yang kini menatapnya takut.

“Wae?”

“Ani, aku hanya takut kau menganggapku sebagai mata-mata kalian, sungguh aku sudah tak lagi menjadi salah satu dari mereka”

Melihat raut wajah serius Suho, Jongin mengangguk mengerti membuat senyum angel itu keluar begitu saja.

“Terimakasih Jongin”

“Maafkan Baekhyun, dia memang begitu. Aku yakin cepat atau lambat ia bisa menerimamu sebagai sahabat”

Jongin lalu pergi begitu saja setelah menepuk pundak Suho, memberi semangat ke pria yang berlari mengejarnya kini.

“Kai”

Jongin mengerutkan keningnya, melihat Suho memanggilnya dengan nama panggungnya. Pria yang lebih pendek darinya itu tersenyum bersahabat.

“Tao dan Sehun sudah mulai berlatih di ruang dance, bagaiman kau dan Luhan?” Tanya Suho, wajahnya menampilkan wajah khawatir. Dan Jongin pun menampakkan wajah khawatirnya mendengar mereka berlatih.

“Aku belum membicarakannya dengan Luhan, aku rasa mungkin…”

“Aku saja yang akan berbicara dengan Luhan, hari ini ia ada jadwal belajar dengan ku, bagaimana?”

“Tapi Suho-”

“Tenanglah, aku berada di pihakmu sekarang, aku pergi dulu ne”

Jongin hanya geleng-geleng kepala melihat Suho sudah berlari dan menghilang di koridor. Sepertinya ia harus memberitahu Baekhyun kalau pria itu bukan memata matai mereka, tapi memata matai Tao.

Keesokan harinya…..

Luhan menyeret Jongin ke ruang dance setelah bel istirahat pertama berbunyi. Dengan tatapan heran para siswa kelas 2C Luhan tetap saja tersenyum, membuat Tao dan Yifan yang melihatnya jengkel.

“Aku benar-benar ingin menghabisinya” Ucap Tao saat punggung Luhan menghilang dari kelasnya.

“Sebenernya apa masalahmu Tao?”

Mata kucing itu langsung melihat kearah Chanyeol yang melihatnya ingin tahu.

“Dia tak memberontak dengan kita, dia juga tak pernah berteriak ataupun mencari masalah dengan kita, tapi kenapa kau dan Yifan selalu mempersulit dia”

Tao segera berdiri, menaruh tangannya di kantung celana dan mendekati Chanyeol yang duduk di sebelahnya.

“Karena dia telah membuatku hidup tanpa kesenangan selama setahun, kau pasti bisa merasakannya bila kau tinggal di pedesaan bahkan sinyal handphone mu tak ada” Ucap Tao tepat di telinga Chanyeol, membuat pria bermata bulat itu merinding seketika.

“Ku kira dia akan menciumku”

Sehun yang duduk di depannya hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Chanyeol.

Setibanya di ruang dance Luhan melepaskan cengkramannya lalu berteriak memanggil Lay dengan sebutan Yixing. Membuat Jongin menatapnya kaget.

“Yixing, kau dimana?”

“Untuk apa kita kemari?” Tanya Jongin dengan suara dingin, membuat Luhan menatapnya sedikit terkejut.

“Aku dengar dari Suho kalau kau di tantang Tao beattle bukan, dan aku adalah pasangannya”

“Dan apa hubungannya dengan Lay?”

Jongin tak tahu, tapi rasanya ia ingin sekali berteriak kesal ke arah wajah lugu Luhan yang menatapnya dengan polos. Kenapa harus Lay, sepupu Yifan dan Tao. Mana mungkin ia ada di pihaknya. Mungkin benar yang di katakan Baekhyun, kalau Suho atau bahkan Luhan hanya jebakan yang di buat Yifan untuknya.

“Jongin kau mau kemana hey”

Jongin keluar begitu saja. Kenapa harus Lay. Ya ia tahu pria berlesung pipi itu tidak berada di samping kiri kana depan belakang Yifan. Tapi tetap saja.

“Aww”

Jongin berhenti menatap pria mungil yang baru saja ia tabrak. Untung saja pria itu tidak terjungkal karenanya.

“Mianhamnida Minseok sunbae, aku tak sengaja”

“Kau ini” Omel Minseok tapi matanya berhenti melihat sosok Luhan yang berlari ke arahnya.

“Jongin, kenapa kau tiba-tiba pergi?” Tanya Luhan tapi Jongin malah memalingkan wajahnya,

“Kenapa harus Lay?”

“Karena Lay ketua club dance, pasti dia bisa membantu kita”

“Membantu? Ia salah satu dari mereka Luhan, Lay itu sepupu Yifan dan Tao”

“Begitu pula dengan aku”

Mata Jongin terbelalak kaget, Minseok yang berada di tengah-tengah mereka hanya terdiam menatap pertengkaran mulut kedua sahabat ini.

“Aku adalah kakak sepupu dari Lay, Tao dan Yifan. Aku yang paling tertua dari mereka”

Jongin mengacak-acak rambutnya kesal, lalu pergi begitu saja tanpa mendengar ucapan Luhan sedikitpun. Ia benar-benar tak habis fikir, jadi selama ini Luhan salah satu dari mereka. Dia harus memberikan makan siang gratis untuk Baekhyun setelah ini.

“Hei Jongin kau mau kemana?”

“Luhan kau bodoh?”

Pertanyaan Minseok membuat Luhan menatap sahabatnya itu terperangah, ia membulatkan mata lucu di hadapan Minseok.

“Ikut aku”

Setelah nya Minseok menyeret Luhan yang diam saja, saat ketua osis itu menyeretnya hingga ke ruangan poto miliknya.

Ke esokan harinya

Luhan memandang punggung jongin yang baru saja tiba di sekolah, ini adalah hari dimana ia akan melakukan beattle dengan Tao dan Sehun. Ia ingin sekali membantu akan tetapi mendengar ucapan Minseok kemarin mengenai permasalahan Kai dan Tao memang cukup rumit. Pantas saja pria tan itu sangat kesal saat tahu siapa dirinya.

Saat langkahnya memasuki ruang kelas. Semua mata menatapnya. membuat pria asli china itu memandangi tubuhnya sendiri. Sepertinya tidak ada yang salah dengan seragamnya. Ia menggunakan seragam yang mirip dengan para siswa lainnya. Ia duduk di bangkunya dan….

Lengket

Ia lalu berdiri dan

Krettt

Hanya sebagian dari mereka yang tertawa melihat kejadian itu. Dan para gadis hanya terdiam. Mereka sebenarnya ingin sekali membantu pria ini tapi karena ketakutannya mereka lebih baik diam di bandingkan harus melawan Tao dan Yifan.

“Ada apa ini?” Tanya Baekhyun yang baru saja datang bersama Kyungsoo yang sibuk dengan bukunya di belakang Baekhyun. Pria manis itu membuat para teman sekelasnya terdiam sesaat

“Bahkan sepupunya sendiri di perlakukan sama saja . Kasihan sekali dirimu” cemooh Baekhyun yang kini berdiri di depan Luhan yang sibuk dengan celananya. Ia hanya diam tak mendengarkan ucapan Baekhyun yang kini di seret Kyungsoo untuk duduk di tempatnya.

Sepertinya sudah terjadi kesalah pahaman di sini. Mengenai identitas aslinya yang merupakan sepupunya Yifan, membuat yang lain malah menjauhinya, ia memandangi Baekhyun yang acuh menatapnya, begitu pula Kyungsoo. Padahal saat kemarin mereka cukup baik dengannya.

Semua nya terdiam saat Jongdae memberikan sesuatu pada Luhan yang ingin beranjak dari kursinya. Mata rusa itu membulat sempurna saat melihat tangan Jongdae memberikan sesuatu di sebuah kantung berwarna putih.

“Ini untukmu” Cicit Jongdae langsung pergi begiru saja dari hadapan Luhan, tanpa mendengar ucapan Luhan.

Luhan terperangah. Sebuah senyuman keluar begitu saja. Ia mengangguk mengatakan terimakasih dengan suara yang begitu kencang lalu pergi untuk mengganti celananya.

“Apa yang dia lakukan?” para murid berbisik saat melihat jongdae menjatuhksn tas nya di bangkunya di samping baekhyun yang menuntut perbuatanya

“Membantu teman” Jelas Jongdae, tanpa menghiraukan mata kecil Baekhyun membulat karenanya.

“Apa?”

“Luhan dan kau?…ohh aku tau sekarang. Ternyata kau pun salah satu dari mereka” tuduh Baekhyun yang membuat Jongdae menegang. Pundaknya menegak begitu saja saat Baekhyun menuduhnya salah satu dari bagian dari pertemanan Yifan. Ya itu benar, tapi itu dulu.

Salah satu dari mereka?

Menjadi monster?

Tidak. Jongdae tidak seperti mereka.

“Aku sudah curiga sejak awal sejak kau dan Luhan sebenarnya sudah saling kenal kan sebelum ia pindah kemari. Dan kau sangat dekat dengan Minseok sunbae. Dan kenapa Minseok tidak pernah memberi hukuman kepada para pengikut Yifan karena ia juga sengkolkol dengan Yifan”

Brakk

Tubuh Baekhyun terhempas membuat para teman sekelas nya , kelas 2A melotot kaget. Seorang Kim Jongdae, murid ceria ini, mendorong seorang siswa hingga terjungkal. Melihat sahabatnya terjatuh tak layak, Kyungsoo membantunya.

“Jongdae apa yang kau lakukan?” Tanya Kyungsoo menatap mata jongdae yang muIai gelisah. Mata dengan iris hitam itu bergerak gerak ke sana kemarin.

Baekhyun berdiri, mencoba untuk menyerang Jongdae. Tapi tubuhnya di berhentikan oleh teman sekelasnya dan Kyungsoo yang masih memegang lengan Baekhyun.

“Tidak… aku….”

Suara bel berbunyi membuat yang lain segera duduk di bangku masing-masing begitu pula dengan Baekhyun yang di bantu Kyungsoo. Melihat jongdae yang tetap dengan posisinya. Membuat kyungsoo mendekatinya.

“Hei Jongdae sudahlah bel sudah berbunyi” ucap Kyungsoo mencoba nenenangkan pria yang masih saja diam itu. Melihat sikap Jongdae, Baekhyun berdiri, ingin mencoba menenangkan pria itu.

Dengan segera jongdae menghempaskan tangan kyungsoo di pundaknya dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Baekhyun yang berteriak memanggilnya.

“Biarkanlah ia sendiri, setelah ini kita harus berbicara dengannya” Kyungsoo menahan tubuh Baekhyun yang hendak mengikuti pria itu.

Jongdae berlari

Entah ia berlari kemana, yang penting ia ingin sendiri. Tidak. Ia tidak gila. Ia tak ingin masuk kembali ke sekolah rehabilitas yang sudah 1 tahun lebih ia tinggalkan. Tubuhnya berhenti saat dirinya menabrak seseorang yang baru saja keluar dari ruang pakaian. Melihat pria yang menjulang tinggi itu membuat Jongdae makin ketakutan, ia gemetar, tubuhnya meringkuk di bawah sana. Membuat pria tinggi itu menatapnya.

“Chen”

Yifan, dengan tangan gemetar memegang pundak pria yang masih saja asik dengan posisinya di lantai.

“Chen, apa-”

“PERGI”

Dengan sekali hentakan tangan Yifan sudah terjatuh dari pundak Chen, pria yang lebih kecil itu membuat Yifan terperangah. Mereka memang sahabat, itu dulu, dulu sebelum pria yang lebih muda darinya itu menjadi aneh seperti ini.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau ketakutan? Beritahu aku Chen” Ucap Yifan, mencoba lembut. Ada sesuatu yang menusuk hatinya, begitu sakit melihat pria yang selama ini di kenal ceria itu terlihat menyedihkan dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

“KAU! GARA GARA KAU… AKU.. AKU BUKAN MOSTER.. KRIS.. KAU YANG-”

Bugh

Yifan melotot melihat Chen terjatuh di depannya, bukan, bukan dia yang memukul pria menyedihkan itu, melainkan Tao bersama Sehun dan Chanyeol yang membulatkan mata melihat Jongdae tersungkur di hadapan mereka.

“Sekali lagi kau berbicara seperti itu akan ku habisi kau” Ancaman Tao membuat Yifan mendorongnya ke dinding, membuat pria berwajah kucing itu terperangah begitu pula yang lain.

Yifan menerkam Tao. Apakah ini april mop? Atau mereka sedang bercanda. Tentu saja tidak, bisa di lihat dari tatapan tajam Yifan dan Tao yang sarat akan kebencian.

Kelas 2C memang sedang mengikuti pelajaran olah raga, dan mereka baru saja mengganti pakaian. Mendengar suara riuh di depan membuat Jongin dengan terburu menggunakan sepatunya.

“Arrgghhh”

Suara teriakan Jongin membuat yang lain menengok ke arahnya, meninggalkan Yifan dan Tao yang kini sedang di pisahkan oleh Chanyeol. Dan Jongdae yang di bantu oleh siswa yang lain. Sehun segera membuka kasar pintu ruang ganti dan menemukan Jongin terduduk dengan sepatu putih yang kini sudah kemerahan di telapak kakinya.

“Apa yang terjadi?” Sehun mendekati pria yang kesakitan itu dan segera membuka sepatu itu.

Mata Sehun dan Jongin membulat sempurna saat sebuah paku berukuran cukup besar terjatuh begitu saja dengan beberapa tetes darah di dalamnya. Sehun menggertakkan giginya. Dengan segera berdiri, tanpa di beritahu dia sudah tahu siapa pelakunya.

“Yak Sehun kau mau kemana.. Yak ahhkk.. Hei …”

Sehun menghentikan langkahnya dan menatap Jongin susah payah berdiri, pria tan itu menggapai loker loker yang ada di sampingnya. Ia meminta Sehun untuk membawanya. Dengan malas ia pun mengalungkan lengan pria itu di pundaknya. Dan membawanya ke UKS.

======UKS=====

Luhan segera membuka pintu UKS dengan kasar, ia mendapati Jongin yang terkulai dengan Baekhyun dan Kyungsoo di sampingnya. Mereka bertiga menatap Luhan, tapi pria bermata rusa itu tak menghiraukan. Dengan membuka tirai yang memisahkan ranjang Jongdae dan Jongin, Luhan menatap sahabatnya itu yang hanya diam. Di sampingnya Yifan dan Minseok sudah berada di sampingnya.

“Dimana Tao?”

“Cheo memanggilnya” Jawab Yifan seadanya, menatap punggung Jongdae . Jongdae tidak ingin melihat ke tiga namja yang masih setia berada di sini untuk menemaninya.

“Aku tak tahu ia akan melakukan ini” Ucap Yifan dengan nada pelan.

“Jangan sok suci kau Yifan”

Kyungsoo segera menyikut lengan Baekhyun yang langsung menjawab suara berat Yifan di balik tirai. Yifan berdiri, dan membuka tirai yang memisahkan mereka. Menatap Baekhyun dengan mata lelah, membuat pria yang ingin bersungut itu terdiam seketika.

“Maaf soal ini, aku tak tahu Tao akan melakukannya padamu” Yifan pergi begitu saja saat mengatakan itu pada Jongin yang juga terperangah mendengarnya, ia tak tahu. Emosinya meluap saat ini. Yang harus ia lakukan adalah pulang dan meredam nya, sebelum ia menghancurkan siswa siswa di sekolah ini.

Saat pintu UKS terbuka Chanyeol dan Sehun langsung menghampiri Yifan yang tertunduk menatap lantai. Chanyeol yang tahu dengan sikap Yifan segera memberikannya minuman kaleng dingin yang baru saja ia beli.

“Tao akan di skors oleh Cheo, ia juga sudah pulang tadi. Dia masih sangat muda, emosi nya belum bisa terkendali” Ucap Chanyeol, mengikuti Yifan yang diam saja.

“Apa kau baik-baik saja?”

Kini Chanyeol mendahului Yifan. Berdiri tepat di pria tinggi itu. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, apakah ia harus ke psikiater seperti Chen waktu dulu. Ini memang sifatnya, emosional itu sifatnya. Bagaimana bisa ia menghilangkan semua ini.

“Yifan”

Kali ini Sehun yang berada di sampingnya.

“Kau ingin ku pukul?”

Mata Sehun dan Chanyeol membulat sempurna. Mata tajam Yifan terlihat kelam dari biasanya.

“Pergilah! Jangan ikuti aku”

“Yak Yifan ada apa dengan mu?” Teriak Chanyeol ingin mengikuti pria tinggi yang pergi ke arah parkiran sekolah itu.

=== Huang house ===

“Kau melakukannya lagi? Memukul siswa kembali? Huang ZiTao Mama menempatkanmu bersama Yifan kembali bukan untuk membuat onar seperti ini lagi. Kau memukul siswa lagi setelah 3 bulan yang lalu kau membuat 3 siswa ke rumah sakit. Kau fikir Mama Papa menyekolahkanmu di sekolah wushu untuk bertengkar, heii Tao.. Kau mau kemana hei..”

Tao menutup kasar pintu ruang kerja Mama nya. Ya itu hanya video call yang di kirimkan Mamanya setelah mendengar kabar dari Cheo atas prilakunya. Dan itu semua tidak berefek untuk seorang Huang ZiTao.

Kenapa semua yang ia lakukan selalu salah?

Apakah mereka tak tahu seorang Huang ZiTao hanya butuh perhatian, kasih sayang, hanya itu. Ia sungguh kesal saat Yifan malah memojokkannya saat dirinya membantu pria tinggi itu. Ia selalu menjadi orang nomor satu yang menyetujui apa yang Yifan rencanakan. Dan ini semua berubah semenjak kedatangan Luhan.

Luhan yang membuat dirinya menderita selama setahun. Ia lalu menggeram dan menghancurkan meja belajarnya. Membuat seseorang yang tertidur di kasurnya bangung seketika.

“Sedang apa kau disini?” Ucap Tao dingin, tak menghiraukan Lay yang meregang tubuhnya lalu bersandar pada punggung ranjang Tao yang super besar

“Kau lupa aku yang membawamu kemari. Lama sekali berbicara dengan Mamamu, ohh iyaa baby ZiTao sangat merindukan Mama” Ledek Lay dengan kerlingan mata membuat Tao berdiri dan menarik kerah baju seragam yang masih melekat di tubuh Lay.

“Kau ingin memukulku?” Tanya Lay menantang pria yang malah merubah raut wajahnya. Raut wajah yang menyeramkan itu berubah menjadi sendu.

Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik air mata itu jatuh kepipinya. Ia segera mengehempaskan tubuh Lay ke kasurnya kembali. Dan mengadahkan kepalanya ke langit-langit kamarnya, mencoba menahan air mata yang hendak keluar.

Lay lalu beranjak dari kasurnya, dan memeluk tubuh ringkih yang hanya sesenggukan saat tangan Lay mencoba untuk menenangkannya. Lay mengerti keadaan Tao. Tao memang memiliki sifat yang keras dia hanya ingin perhatian orang tertuju padanya dan inilah yang ia lakukan. Jauh dari semua yang dia lakukan, Tao memiliki hati yang lembut.

TBC

4 thoughts on “We Are Friend CHAPT 3

  1. salsa berkata:

    Huaa bikin nngis, sumpeh. Jujur aku bngung sm luhan yg trnyta spupunya kris tao sm lay. Pdhl orng tua nya luhan tdinya nuntut kluarganya kris. Next^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s