S.I.X part 8

six

Tittle     : S.I.X

Author   : BPI

Cast         : Kim Jongin-Kai (EXO)

Jung Ririn (OC)

Oh Sehun (EXO)

Xi Luhan (EXO)

Anh Hara (OC)

Kim Jongdae-Chen (EXO)

Shin Yongri (OC)

And other… (temukan sendiri)

Genre     : Friendship, School, Romance, Comedy (maybe)

Pria berlesung pipi itu hanya memejam kan matanya sambil mengangguk angguk kan kepala mengikuti irama lagu yang di bawakan ke 3 muridnya itu. Lesung pipinya makin terlihat saat ia tersenyum saat ke 3 muridnya menghentikan nyanyian nya dan menunggu nya mengeluarkan komentar.

“Bagus”

Hanya satu kata tapi ke 3 murid itu langsung tersenyum puas mendengarnya. Ternyata belajar menyanyi lebih ringan di bandingkan menari yang menguras tenaga mereka.

“Ini sudah h-1 sebelum putaran seleksi pertama di mulai. Dan aku akan memberikan nilai 75 untuk semua ini”

Wajah ceria itu langsung berubah bingung. 75? Bukankah mereka menghabiskan 3 hari belakangan ini dengan bernyanyi. Dan setelah mendemonstrasikan nya membuat songsaenim yang memiliki aura dingin ini tersenyum. Ini jarang terjadi.

“Kenapa hanya 75 ?” Celetuk Jongin. Pria yang memiliki warna tubuh gelap itu menatap Lay malas

“Karena tak ada yang sempurna Jongin” Ucap Lay berjalan ke arah pintu, hendak keluar dari ruang mengarang lagu yang kini ia ubah menjadi ruang vocal .

“Ghamsahamnida”

Setelah 3 muridnya membungkuk 45 derajat. Lay meninggalkan mereka yang masih tak terima dengan nilai 75 yang di beri Lay.

Lay menatap seorang pria tanpa blezer sekolahnya menatap pintu ruang mengarang lagu. Sehun yang melihat songsaenim di hadapannya membungkuk hormat dan memberi salam.

“Aku tidak mendengar apapun. Aku.. aku hanya menunggu Kai” jelas Sehun saat mata Lay mengintimidasi nya.

Lay tak menghiraukan cengiran bodoh Sehun dan pergi berlalu dengan cool nya meninggalkan wajah kesal Sehun yang merutuki kebodohannya.

Saat melihat siluet Jongin keluar Sehun segera merangkul sahabatnya itu membuat Jongin terkejut.

“Yak apa yang kau lakukan?” Tanya Jongin, mendorong pelan tubuh Sehun yang memelas karenanya.

“Yak aku mau minta maaf karena sikap ibuku kemarin” Ucap Sehun, menatap Jongin bersungguh sungguh.

“Hei seharusnya kau meminta maaf pada Ririn”

Ucapan Luhan membuat Ririn mengangguk setuju, memberikan tampang sombongnya ke arah Sehun yang mendengus.

“Shirreo” Ucapan Sehun membuat Ririn membulatkan matanya, dan memukul pundak tinggi Sehun. Pria pucat itu mengerang kesakitan.

“Aku juga tak butuh maaf dari mu. Wee “ Ririn menjulurkan lidahnya dan berlalu bersama Luhan yang menatap Sehun takut.

“Aigoo kau kuat se tim dengannya?” Tanya Sehun menatap Jongin yang geleng geleng kepala. Sahabatnya ini, yang selalu bertampang dingin terlihat seperti anak gadis hanya keran di pukul oleh wanita.

“Kajja kau harus menraktir ku” Ucap Jongin merangkul pundak Sehun yang lebih tinggi darinya.

“Bubble tea?”

“aku tak mau”

“Mwo?”

“Maaf itu mahal”

“Yak”

Seseorang yang melihat ke akrabannya tersenyum miris. Ia selalu mencoba yang terbaik untuk sahabatnya, tapi Jongdae tak pernah menganggapnya sahabat. Baekhyun lalu menggenggam handphone dan segera pergi dari koridor yang mulai sepi dari anak sekolah

-_-

“YAK”

Ririn terbangun dengan rambut singanya, dan melotot kesal ke arah Sojung yang memegang jam weker yang masih berdering. Sojung tersenyum senang melihat adiknya akhirnya bangun dengan wajah kesal.

“Hei tuan putri kajja” Ucap Sojung langsung menarik tangan adiknya itu ke kamar mandi.

“Yak yak yak apa yang kau lakukan?” Tanya Ririn terkejut saat sang kaka, menghidupkan sower, membuat adiknya mandi dengan baju tidur.

“Ku tunggu satu jam di bawah. Jangan telat” Sojung mengedipkan satu matanya membuat Ririn terbengong melihatnya. Eonni nya yang berambut merah ini terlihat seperti bukan eonnie nya yang ia kenal. Sejak kapan ia peduli dengannya. Dengan senyuman miris, Ririn melanjutkan mandinya.

Sojung menuruni tangga sambil bersenandung ria, membuat yang berada di bawah menengok ke arahnya. Ia tersenyum memberi salam ke 11 orang yang sudah ada di meja makan yang cukup besar itu.

“Kau mau kemana Sojung?” Tanya Jessica saat melihat penampilang sojung yang terlihat rapih.

“Membawa adikku ke butik”

“Butik?” Tanya Jessica meyakinkan. Alisnya berkerut heran mendengar jawaban anaknya.

“Nde, aku tak suka saat adikku di permalukan di depan orang. Eomma, bukankah kau menyuruhku untuk lebih memperhatikannya, aku tak ingin orang salah paham siapa adikku sebenarnya” Ucap Sojung tegas, lalu melirik Sehun dan Hana yang memegang sendoknya kuat.

“A.. Apakah.. Eonnie akan pergi dengan Ririn?” Tanya Yongi pelan, ini pertama kalinya Sojung ikut sarapan dengan mereka.

“Nde, ini H-1 sebelum kalian tampil kan, aku ingin mengapresiasikan hasil kuliah design ku, bagaimana aku keren kan?” Tanya Sojung yang membuat Yongri dan Lami mengangguk.

“Ahh kau sudah siap, kajja”

Sojung langsung menarik lengan Ririn yang tergagap, dirinya baru saja sampai ke lantai bawah, tetapi kakaknya langsung menyeretnya.

“Kalian harus sarapan dulu”

“tidak perlu” Teriak Sojung membalas ucapan Jessica yang hanya menggeleng-geleng kepalanya lalu tersenyum.

Ke 3 orang itu menatap Sojung dengan kening mengerut sedangkan yang di lihat masih memasang wajah manis yang jarang sekali di perlihatkanya. Seorang Krystal bukan lah artis yang suka mengumbar kemanisannya.

“Yak kalian membuatku seperti penculik?” Ucap Sojung, menengok ke kebalakang ke arah Luhan dan Jongin yang masih menatapnya menuntut.

“Noona, kau mau membawa kita kemana?” Cicit Luhan dari kursi penumpang

“Aku akan menjadi stylist kalian untuk besok”

Mata ke 3 orang itu melotot kaget, dan langsung membidik Sojung sebagai pelaku utamanya.

“Yak Krystal kau ini apa-”

“Aku tak menerima penolakan, hei.. Kalian harusnya berterimakasih aku ini Krystal Jung yang terkenal fasionista ingin menjadi stylist kalian, aku ini mahasiswa design di Universistas Koonkuk jangan meremehkan ku” Ucap Sojung panjang lebar membuat semuanya terdiam.

“Tapi eonnie-”

“Aku tak akan minta bayaran, kalian kan yang akan menjadi kelinci percobaan ku. Lagian kalian ingin kalah dari 10 terbesar itu eoh? Mereka akan menggunakan designer terkenal Sooyong dan Taeyon ahjumma, dan lagi Tiffany suka rela memberikan pakaian pakaian mahal untuk mereka, kita tak boleh kalah”

Ririn hanya ternganga kaget melihat begitu semangat eonninya ini dengan kompetisi mereka, ia pun menengok ke belakang. Melihat Kai yang menutup mata dengan kepala tersandar dan Luhan yang mengangkat bahu nya.

-_-

“Ini adalah stok terbaik dari butik kami, di design oleh designer terkenal Kim Taeyon dan Choi Sooyoung”

Mereka semua bertepuk tangan melihat beberapa pakaian yang di gantungkan. Beberapa jepretan kamera menghiasi ruangan butik yang sengaja di jadikan jumpa pers untuk pakaian yang akan di pakai 10 terbesar. Di tempatnya, tampak Sehun terlihat malas menatap eomma nya yang sedang memamerkan pakaian pakaian dari butiknya.

“Apakah anda memberikan cuma-cuma pakaian ini untuk 10 terbesar” Tanya seorang wartawan yang di jawab oleh anggukan oleh Tiffany.

“Tentu, aku adalah sponsor utama mereka, lagi pula untuk calon idola seperti mereka penampilan adalah yang paling utama” Tiffany melemparkan senyuman ke arah 10 orang yang mengangguk dengan senyuman, kecuali Sehun dan Jongdae yang diam saja.

Setelah jumpa pers selesai para wartawan pun melakukan tour untuk melihat lihat butik Tiffany yang memiliki 5 lantai tersebut.

“Aku sangat berterimakasih padamu, ku fikir kami akan menggunakan anggaran SM untuk pakaian mereka” Ucap Jessica menatap Tiffany yang menampilkan eyesmile nya.

“Lagi pula, tak ada rugi nya aku memberikan 9 potong pakaian gratis untuk mereka, mereka memiliki wajah tampan dan cantik. Dan mungkin untuk iklan selanjutnya, aku ingin Kris dan Hana menjadi model nya”

Mendengar ucapan Tiffany, Hana dan Kris segera membungkuk di hadapan wanita cantik itu. Memberikan rasa terimkasih mereka.

“Tak perlu sungkan, kalian bisa memilih pakaian yang kalian suka. Kalian bisa meminta stylist ku untuk memberikan kalian saran” Tiffany lalu meninggalkan mereka setelah ke 9 orang tersebut membungkuk ramah.

“Pergilah, aku harus ke atas sebentar” Ucap Jessica menepuk pundak Jongdae “Jongdae mereka tanggung jawab mu”

Jessica pun melesat ke atas, mengikuti Tiffany yang sedang berbicang bersama wartawan di sana.

Mereka lalu berpencar untuk mencari pakaian yang sesuai dengan penampilan panggung mereka malam ini. Sedangkan Sehun langsung keluar dari butik eommanya itu. Ia berjalan lurus sambil menggunakan topi. Setelah siaran nya dengan 10 terbesar di siarkan di TV banyak sekali fans yang dapat mengenalinya dengan mudah.

Ia berjalan santai sampai melewati beberapa ruko atau toko yang ada di pinggir jalan. Langkah nya berhenti saat melihat 3 orang yang ia kenali berada di dalam sebuah butik dengan kaca jendela panjang. Ia dapat melihat ke 3 orang itu sedang berbincang dengan seorang gadis dengan rambut merah panjang dan kaca mata hitam menghiasi wajah cantiknya.

“Ini butik sahabat ku Vitoria Song”

Ke 3 orang itu berhenti dan saling tatap. Victoria Song. Siapa yang tak kenal dengan penari tradisional terhebat China sekaligus leader dari girl band Fx yang kini merambat bisnis butik. Mereka menelan ludah, lalu mengikuti Sojung yang sudah menaiki tangga terlebih dahulu.

“Apakah ini Victoria Song yang di idolakan Yongri?” Tanya Luhan pada Ririn yang berjalan di sampingnya.

“Ku fikir begitu” Ucap Ririn dengan anggukkan mantap. Mungkin jika Yongri kemari ia akan berteriak histeris melihat idolanya di depan matanya,

“Jangan lupa, dia juga leader Girl Band Fx, Victoria” Ucap Jongin yang berjalan terlebih dahulu.

Setelah mereka sampai lantai 2, mereka dapat melihat berbagai koleksi Victoria yang lumayan banyak, mereka pun menghampiri Sojung yang sudah bergelayut manja di tangan victoria. Sepertinya Sojung sedang membujuk Victoria.

“Eomma aku mohon” Sojung mengatupkan tangannya memohon. Menampilkan wajah imut yang jarang ia perlihatkan di media.

“Yak kalau SM tahu aku membantu mereka bagaimana?” Tanya Victoria lalu menatap televisi yang sedang menyiarkan berita mengenai acara langsung tentang pakaian 10 terbesar. Selain itu, ia menelan ludah dengan susah payah setelah mengetahu siapa yang akan mendesign baju 10 terbesar.

“Ayolah eomma Vic. Aku janji aku yang bertanggung jawab. Mereka harus memakai pakaian seorang design terkenal”

“Aku bukan design terkenal Sojung, aku baru pemula dan kau suruh aku bersaing dengan senior Oh?”

“Sudahlah, kami masih memiliki pakaian layak untuk di pakai nanti malam” Ucap Jongin malas melihat pertengkaran kedua member Fx itu dan langsung pergi meninggalkan Sojung yang berteriak memanggilnya.

“Noona, ku fikir Jongin ada benarnya, kami masih memiliki jas dan sebagainya. Ghamsahamnida sudah memperhatikan kami” Luhan membungkuk ke arah Sojung yang menatapnya dan Victoria yang tersenyum miris, terlihat tak enak dengan mereka.

“Eonnie aku harus mengikuti Tim ku, gumawo” Ririn memeluk Sojung yang hendak meledak marah dan berlari mengikuti Luhan dan Jongin yang sudah keluar dari butik ini.

Ririn berlari dan berhenti tepat di depan pintu dan dia tidak melihat Luhan dan Jongin di jalan. Ia hendak berlari tapi seseorang menahan lengannya, membuatnya menengok dan melotot kesal.

“Yak kau lagi? Lepaskan aku!” Teriak Ririn dan Sehun segera melepaskannya.

Ririn hendak pergi lagi. Tapi kini Sehun memblokir jalannya. Merentangkan tangan layaknya ingin menangkap seekor ayam.

“yak apa yang kau inginkan Oh Sehun?” Tanya Ririn malas menatap wajah Sehun yang hanya sebagian terlihat.

“Bagaimana kau tahu ini aku?” Tanya Sehun, bibirnya mengeluarkan seringai yang membuat Ririn juga menyeringai.

“Sangat mudah, kalau kau memang berbakat jadi idola seharusnya kau tak memakai barang yang sering kau pakai. Apa lagi dengan topi bodohmu itu” Ucap Ririn dengan mudah melewati Sehun yang diam saja.

Barang yang sering ia pakai? Ia mlihat pakaian yang ia gunakan dari jendela butik Victoria. Ia lalu melotot saat mengetahu topi yang ia gunakan dengan nama YEHET di atasnya. Topi ini bahkan menjadi barang terlaris di butik eommanya. Ia lalu melihat situasi sebelum pergi dari sana.

Ririn terengah engah, ia sudah mencari cari di blok myeongdong yang merupakan tempat berbelanja pakaian terbesar di kota ini tapi ia tak mendapatkan Luhan ataupun Jongin. Ia merutuki kebodohannya karena ia meninggalkan handphone di mobil Sojung tadi begitu pula dengan handphone kedua sahabatnya ini.

Matanya menyipit saat melihat Luhan terduduk di kursi taman tak jauh dari tempatnya. Dengan sisa tenaga ia berlari dan duduk di samping Luhan. Dan dengan tak tahu malu mengambil bubble tea yang Luhan pegang.

“Wae?” Tanya Ririn saat mata Luhan menatapnya sedih

“Bubble tea?” Tanya Ririn lagi, ia tersenyum tanpa dosa lalu memberikan kembali bubble tea Luhan yang tadi ia curi.

“Jongin…. mereka menangkap Jongin” Ucap Luhan sambil merintih, ia merasa kakinya kram kembali.

“Jongin di tangkap siapa?” Tanya Ririn memegang bahu Luhan, menyuruhnya menghadap gadis yang kini menatapnya.

“Aku tak tahu, tapi mereka ada banyak. Sama seperti yang aku lihat dulu di depan studio dance” Ucap Luhan menerawang, butiran keringat sudah ada di keningnya.

“Pasti itu orang suruhan Tuan Kim ayahnya Jongin, kau tahu kan Jongin itu siapa? Ia anak pemilik SM. Tapi kenapa mereka menangkap Jongin?” Tanya Ririn, ia menaruh jarinya di dagu mencoba berfikir.

“Tak ada waktu lagi Rin ah~ beberapa jam lagi kita akan melakukan glady resik. Kita harus menemui Jongin”

Ririn heran melihat tingkah Luhan yang ketakutan. Hei bukankah Jongin bertemu appanya itu akan baik-baik saja.

“Yak Xi Luhan, Jongin hanya bertemu dengan appanya kenapa kau ketakutan?” Tanya Ririn menatap Luhan yang kini mencoba berdiri.

“Jongin di paksa ikut mereka, tak mungkin ia akan baik-baik saja . Aku akan mencarinya” Ucap Luhan lalu berjalan dengan pincang. Menatap itu, Ririn segera berdiri dan menghentikan Luhan.

“Luhan” Ririn menahan pundak pria China itu, dan menatapnya .

“Gwnchana?”

“Aku baik-baik saja” Luhan berjalan kembali dan ia berhenti.

“Luhan” Ririn berlari sebelum tubuh Luhan terjatuh di taman. Ia langsung menangkap Tubuh itu. Ia melihat wajah Luhan yang mengeryit menahan sakit dan beberapa peluh yang membasahi wajahnya.

-_-

Gadis itu menggigit gigit jemarinya ketakutan, Luhan pingsan dan ia tak punya uang untuk membayar uang muka rumah sakit. Sudah berapa kali ia meminta keringanan untuk segera mengurus Luhan terlebih dahulu, ia akan pulang dan akan memberikan berapapun untuk Rumah sakit ini. Setelah beberapa lama, akhirnya ia melihat Sojung dengan Victoria menghampirinya. Mereka menggunakan topi dan kaca mata hitam layaknya seorang teroris.

“Bagaimana keadaan Luhan?” Tanya Sojung segera menepuk pundak Ririn yang masih menatap ke dua gadis tinggi itu takut.

“Err.. Dia belum di tangani dokter” Ucap Ririn, wajahnya sangat panik. Melihat Luhan yang masih belum sadarkan diri,

“Aku akan mengurus semuanya, kau tenanglah” Ucap Victoria dan langsung ke tempat pendaftaran di bagian luar.

“Apa yang terjadi?” Tanya Sojung melihat kondisi Luhan dan Ririn yang terlihat khawatir.

“Eonni, boleh pinjam mobilmu?”

Sojung memberikan kunci mobil itu dengan cuma-cuma. Membuat Ririn tersenyum senang dan langsung pergi begitu saja.

“Hei tunggu…” Ucap Sojung berfikir sebentar lalu membelalakan matanya di balik kaca mata “ Yak Jung Ririn , kau belum dapet SIM … Heii”

Sojung berlari ke arah mobil sport merahnya yang sudah melesat jauh. Ia merutuki kebodohannya, ia tahu Ririn dapat mengendarai mobil tapi ia belum melakukan tes untuk mendapatkan surat ijin mengemudi. Kalau eommanya tahu, ia akan mendapatkan hukuman. Ia lalu menghembuskan nafas, dan kembali ke dalam. Menemani Luhan di ruang perawatan.

Ririn segera mengambil handphone nya dan mencari nama kontak seseorang. Ia merutuki kebodohannya, karena mana mungkin ia memiliki nomor handphone seorang Oh Sehun. Ia lalu meraba raba, jok belakang dan menemukan Handphone hitam milik Jongin. Dengan cepat ia dapat menyambungkan ke nomor Sehun.

“yeo-”

“Yak Kim Jongin, aku menelponmu dari tadi, kau dimana? Ayo main . Aku malas se-”

“Yak Oh Sehun ini aku”

Alis Sehun bertaut, tunggu ia kenal dengan suara ini. Ia lalu melihat layar handphone nya, ini benar nomor Jongin.

“Bagaimana handphone Jongin ada padamu?” Tanya Sehun, menuntut.

“Bukan urusanmu-”

“Bukan urusanku, oh nona Jung ini handphone sahabatku. Kalau handphone ini ada di tanganmu, pasti sahabatku itu harus tahu, dan memberitahuku sebelumnya”

Ririn memutar bola mata malas, bagaimana ia bisa berfikir kalau ia harus menghubungi orang ini. Sejak tadi selalu membuatnya sulit.

“Yak Oh Sehun, aku tak ingin lama lama menelepon mu”

“Aku juga” Balas Sehun tak mau kalah

“Beri tahu aku alamat rumah Jongin”

“Mwo?”

Sehun mengerutkan keningnya. Alamat rumah Jongin, ia hanya tau alamat apartement nya bukan rumahnya. Lagian selama bersahabat dengan Jongin, ia tak pernah bermain ke rumah sahabatnya itu. Ia melirik kesekitar dan tak menemukan Jongdae di tempatnya.

“Yak kau dengar aku?” Teriak Ririn kesal, ia masih mengendarai mobilnya dengan lambat.

“Tidak tahu” Ucap Sehun singkat. Dan langsung menutupnya.

Ririn merutuki Sehun yang menyebalkan, lalu ia harus bertanya dengan siapa. Sahabat terdekatnya saja tak tahu. Ia lalu berinisiatif pergi ke gedung SM, mungkin saja dia di sana. Ia harus membawa Jongin, ini yang di inginkan Luhan. Melihat Luhan sampai seperti itu, membuat Ririn harus benar-benar membawa Jongin.

Setibanya di depan gedung SM Ririn segera masuk dan menggaruk rambutnya asal karena pusing. Ia tak tahu harus kemana lagi, ini kedua kalinya untuknya datang ke gedung dengan lantai banyak ini. Dan sekarang sendirian. Ia melihat seorang pria berjas mendekatinya dan membungkuk membuat Ririn membungkuk dan memberikan salam.

“Annyeong Nona , ada yang bisa sayang bantu?” Ucap pria itu ramah.

Ririn tersenyum senang lalu mengangguk.

“Aku ingin bertemu Jongin, apakah ia kemari?” Tanya nya masih dengan senyuman hangat.

Pria itu langsung terdiam dan memandang Ririn dari atas sampai bawah. Membuat gadis berkaca mata itu risih. Melihat kesekitar, mungkin ia dapat melihat Jongin dari sini.

“Tuan Jongin tidak datang kemari”

“Benarkah? Kalau begitu boleh aku meminta alamat rumahnya?”

Pria itu membelalakan matanya sedikit terkejut. Bagaimana gadis di depannya begitu berani meminta alamat rumah seorang Presdir SM. Ia lalu tersenyum manis dan menggeleng kembali.

“Semua yang bersangkutan dengan pegawai SM adalah privacy” Ucap pria itu masih memperlihatkan kesopanannya.

“Tapi aku…” Ririn berhenti sebentar, mana mungkin ia bilang ia anak Jessica, bisa-bisa ia membuat eommanya marah lalu apa yang harus ia katakan.

“Aku teman setim nya untuk tugas akhir di sekolah Kirin, karena hari ini adalah seleksi pertama, aku hanya ingin ia datang sore ini untuk glady resik. Bisa kau sampaikan?” Tanya Ririn memohon ke arah pria yang masih saja berfikir itu.

Setelah mendapatkan kepastian Ririn pun keluar dari gedung SM. Ia melihat ke atas gedung yang memiliki bangunan tinggi itu dengan bintang di atas nya. Ia tersenyum sebentar. Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi ia akan menjadi artis terkenal. Dan ia akan membanggakan eommanya.

Ia menghela nafas sebelum membalikkan badannya, ia lalu mendengar suara gaduh dari dalam dan melihat Jongin dengan beberapa bodyguard di sampingnya. Mata Ririn membulat dan segera berlari ke arahnya.

“Jongin!!”

Pria tan itu menengok dan terdiam di tempatnya, ia melihat Ririn yang melambai dan tersenyum ke arahnya ia berlari membuat mata Jongin terbelalak di buatnya.

“Jongin kau tak lupa malam ini kan?”

Seorang bodyguard menahan tubuh Ririn untuk mendekati Jongin yang jalan lurus tanpa menghiraukannya. Membuat mata Ririn membulat. Ia menggertakkan giginya kesal di acuhkan oleh Jongin. Apakah ia tak tahu kondisi Luhan karena khawatir dengannya.

“Yak Kim Jongin, kau harus datang.. Luhan kembali lagi ke rumah sakit! Pokok nya kau harus datang! Ini adalah awal dari kita berlatih berbulan bulan!! Yak Kim Jongin Bodoh!!”

Ririn berteriak keras di depan gedung SM tanpa menghiraukan orang-orang melihatnya. Melihat mobil sedan hitam melesat meninggalkannya. Bahkan Jongin tak mendengarkan kata-katanya. Ia berjanji bila Jongin nanti datang, ia akan menendang tulang kering pria tan itu sampai-sampai pria itu tak bisa berjalan.

“Siapa gadis itu?”

“Jung Ririn, anak ke dua dari Jessica Jung”

Mata tua itu melebar lalu tersenyum manis, ia lalu beranjak dari dirinya di depan jendela. Ia melihat bagaimana seorang gadis SMA membuat keributan di depan kantornya.

“Jessica belum memperkenalkan anaknya pada kita” Ucap Tuan Kim dengan senyuman khas dan menyeruput teh nya.

-_-

Mata rusa Luhan berbinar melihat Ririn masuk ke dalam ruangan perawatan. Di sampingnya sudah ada Taemin dan Lay yang sedang menemaninya. Ririn menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan menuntut dari mata polos Luhan.

“Jongin.. Aku tak tahu dimana dia” Bohong Ririn membuat wajah Luhan terdiam sesaat. Lalu tersenyum kembali.

“Tenang saja Rin, aku yakin Jongin pasti akan datang nanti malam” Ucap Luhan dengan senyuman mengembang.

“Sebentar lagi glady resik akan di mulai. Jika kau belum kuat untuk itu kita tak akan mengikutinya” Ucap Lay yang membuat Ririn dan Luhan menatapnya terkejut

“Songsaenim, aku baik-baik saja” Ucap Luhan, menatap Lay sungguh-sungguh

“Ge kalau mereka tak mengikuti glady resik, mereka tak bisa tampil malam ini” Ucap Taemin menatap Lay tak percaya

“Dan kalian akan mengorbankan 2 orang sekaligus?” Tanya Lay menatap ke 3 orang yang menatap itu.

Ririn terdiam. Benar saja, kalau mereka memaksakan tampil malam ini. Bukan hanya Luhan yang mereka korbankan, begitu pula dengan Jongin. Bila Jongin tak tampil malam ini, Jongin tak akan bisa melanjutkannya pada seleksi putaran ke dua dan dia akan mengulang semuanya tahun depan.

Suara handphone Taemin membuat tatapan mereka semua tertuju pada songsaenim muda itu. Ia menatap malas layar handphone nya lalu mengangkatnya.

“Nde. Aku di rumah sakit. Luhan masih tak di perbolehkan pulang” Jawab Taemin pada seseorang di seberan sana

“Songsaenim aku-” Luhan berhenti saat tangan Lay mengisyaratkan dirinya diam

“Jongin pun tak kami ketahui keberadaan nya, tim ku hanya tersisa satu orang saja” Taemin menatap Ririn yang menggeleng lemah. Ia tak mungkin tampil tanpa teman-temannya.

“Baiklah hyung, terimakasih”

Taemin mengakhiri pembicaraan nya. Lalu menghela nafas panjang. Menatap ke 3 orang yang menuntutnya.

“Lay ge, maaf kan aku. Karena mereka adalah Tim ku, aku harus mengambil keputusan ini. Luhan akan ku ijinkan kau tampil, aku akan meminta kepada tim peralatan untuk menyiapkan kursi. Dan Jongin, bila ia tak datang saat kita naik ke panggung seleksi. Dia akan di diskualifikasi”

“Apakah tidak ada keringanan, Jongin..”

“Maafkan aku Jung Ririn, ini semua sudah keputusan Heechul sajangnim”

Taemin lalu berjalan keluar, meninggalkan ke 3 orang yang hanya diam dengan keputusan Taemin. Lay menatap Luhan dan Ririn yang terdiam begitu saja. Dia mengerti bagaimana perasaan ke 2 muridnya ini. Dari berlatih menari lalu berubah konsep menjadi menyanyi, itu semua tidak mudah. Dan pada akhirnya mereka harus meninggalkan satu sahabat.

Ririn menjatuhkan dirinya di kursi tunggu ruang perawatan Luhan. Menutup wajahnya dengan telapak tangannya, sedangkan Luhan menatap lemah ke kakinya yang di perban dan di ganjal dengan bantal.

“Kalian tahu apa yang akan membuat kalian gagal?”

Pertanyaan Lay membuat Luhan dan Ririn menatapnya heran.

“Ketidak percayaan”

Lay membalikkan tubuhnya, lalu berjalan keluar menyusul Taemin yang lebih dulu meninggalkan ke 2 muridnya itu.

-_-

Mata murid yang sedang menunggu di backstage menatap ke 4 orang yang baru saja datang itu menatap mereka. Yongri dengan senyuman mengembang berlari menuju Luhan yang duduk di kursi roda di dorong Lay.

“Apa yang terjadi? Kalian tak datang ke glady resik aku sangat khawatir” Ucap Yongri bahkan ia lupa membungkuk memberi salah ke 2 songsaenim yang menatap mereka.

“Kami baik-baik saja” Ucap Luhan menatap sahabat nya dengan senyuman.

“Rin ke ataslah. Wakili tim mu untuk mengambil nomor urut” Perintah Taemin menatap Ririn yang masih saja diam.

Ririn berjalan malas ke atas, dimana dia harus mengambil nomor urut. Dalam hati dia meminta untuk mendapatkan nomor urut terakhir agar masih ada waktu untuk menunggu Jongin datang.

Langkahnya berhenti saat melihat tubuh menjulang Kris yang menyapanya dengan senyuman. Alisnya bertaut, yang ia ketahui bukannya Jongdae ketua dari 10 terbesar.

“Dimana Jongdae?” Tanya Ririn seraya melangkahkan kaki menyamai langkah panjang Kris

“Jongdae? Tadi siang dia ijin untuk pulang kerumah, sampai saat ini belum datang” Jawab Kris dengan senyuman manis, membuat Ririn menatapnya heran.

Satu anggota tim belum datang, padahal 1 jam lagi putaran seleksi pertama akan di mulai, walaupun begitu wajah Kris tetap saja tenang. Tak seperti dirinya yang bahkan tak bersemangat untuk penampilan yang sudah lama di nantikannya ini.

“Jongin tak ada?” Tanya Kris menatap Ririn yang masih saja lesu di sampinya.

“Nde, dia juga pulang kerumahnya dan belum datang”

“Tenanglah, bukankah dia dan Jongdae saudara, mungkin sesuatu terjadi di rumahnya”

Ririn menatap Kris yang tersenyum lalu mengambil nomor urut untuk 10 terbesar, begitu pula Ririn yang hanya lemas melihat nomor urut yang ia dapatkan.

TBC

6 thoughts on “S.I.X part 8

  1. Rini berkata:

    Huaa akhirnya di update juga.
    Kai disini hidupnya rumit juga ya, ksihan dia. Di chapter berikutnya buat moment kaichen ya kak. Masa iya hrus bermusuhan trus. Keep writing kak. Sukses buat fanficnya. Cpat dilanjutya…

  2. kyuRiani18 berkata:

    Akhirnya stelah penantian yg bgtu lama ff ini dirilis jg trims yaa authornim udah ngelanjutin ff ini kirain stop gitu aja..tp kok critanya makin banyak masalah yg muncul apalagi di tim ririn, luhan dan jongin.
    Next chapter di tunggu yaa..keep writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s