Mianhae

POSTER MIANHAE

Author/Twitter : Dintakai (Twitter :@dintafarras)

Title                       : Mianhae

Cast                       : OC, Do Kyungsoo

Genre                   : Angst

Rating                   : General

Length                  : One Shot

Disclaimer           : Its MINE

Warning! Typo bertebaran

Summary             :

Setidaknya.. beri aku waktu, sebentar saja, ijinkan aku mengatakan maaf padanya, sebentar saja..

Jebal…

***

“Do Kyungsoo..” Teriak seorang yeoja yang berada di sudut lapangan. Namja yang bernama Do Kyungsoo itu hanya menatapnya sebentar lalu membuang muka.

“Yak kemarilah..” Teriak yeoja itu lagi, namun D.O mengabaikannya dan memilih untuk menghentikan permainan basketnya dan kembali kekelas.

“Yak D.O-ya..” Yeoja itu menepuk bahu D.O yang membuat namja itu terpaksa harus berbalik kebelakang. Ia menghembuskan nafas panjang lalu menampakan wajah malasnya.

“Wae?” Tanya D.O sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

“Aku bawakan minum, igeo…” Yeoja itu memberikan sebotol air mineral pada D.O namun hanya ditatap nanar olehnya.

“Shirreo..” D.O berbalik dan meninggalkan yeoja yang tengah berdiri ditengah lapangan itu. Namun baru beberapa langkah, yeoja itu berteriak lagi

“Aku akan menunggumu D.O-ya, sampai kau menerimaku..”

D.O menatap yeoja itu sekilas, lalu kembali meninggalkannya.

***

D.O POV

Aku sudah muak, dikejar yeoja yang tak tahu malu itu. Ia terus saja menghantuiku sejak aku masuk SHS, berarti sudah 2 tahun lamanya. Dan dia masih setia mengejar namja dingin sepertiku. Ribuan kali kukatakan aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Tidak, hatiku sudah tertutup! Dihatiku hanya ada satu yeoja, yeoja cinta pertamaku dan yang lebih dulu meninggalkanku, meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Aku hanya tidak ingin kembali terluka, masa lalu tidak semudah itu untuk kulupakan, dan hatiku tak segampang itu menerima kehadiran yeoja baru. Biarlah, biar sampai yeoja itu lelah. Aku hanya perlu lebih sabar lagi sampai ia benar-benar lelah.

Kuambil photo kecil disakuku. Menatap sendu yeoja berambut panjang disebelahku. Saat itu aku sedang berada disungai Han, tempat dimana aku kencan dengannnya untuk pertama dan terakhir kalinya. Kami sangat bahagia saat itu, hingga yeojachingguku itu mengalami kecelakaan mobil dan seluruh keluarganya tewas seketika. Ia memang sempat koma, namun Tuhan berkata lain untuk membiarkan yeojaku itu disisinya. Meninggalkanku dan hatiku.

Aku menatap kosong kedepan, sembari memutar masa-masa indah bersamanya. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyuman. Senyum yang sudah lama tak pernah kukembangkan. Senyum seorang namja dingin karena trauma akan namanya kehilangan dan ditinggalkan.

“Waah kau tampan sekali..”

Kubuka mataku dan segera mengerjap seketika. Melihat sosok yang kini hanya berjarak 5 centi dihadapanku. Sontak aku mundur dan menghela nafas yang sempat kutahan tadi.

“Kau mengagetkanku..”Kataku dingin padanya, tak lupa wajah sangar kutampakan padanya. Namun ia hanya tersenyum, merasa tak pernah takut pada tatapanku itu. Padahal semua yeoja disini sangat takut dengan tatapan mautku itu, ani.. tatapan kejamku.

“D.O-ya.. kau sangaaaaaaaat tampan, jinjjaro..”

“Berisik. Pergilah!!” Aku menatap tajam padanya, mencoba menghapus senyum dibibirnya itu. Kenapa yeoja ini sangat tahan padaku, kenapa ia sangat ingin memilikiku, kenapa dia selalu membuatku merasa sangat jahat padanya, kenapa..kenapa…

Kurasakan tangan yeoja itu mengambil foto yang ada dihadapanku. Ia memperhatikan dengan dahinya yang berkerut.

“Ini siapa? Yeojachinggumu?” Tanyanya padaku, aku tak menjawab dan segera mengambilnya lagi, namun ia malah berlari menjauh dariku.

“Omo. Dia cantik D.O-ya, apa aku harus seperti dia? Apa kau suka yeoja seperti ini?” Kulihat yeoja itu segera melepas ikatan rambutnya, menggunakan jarinya sebagai sisir, lalu melepas kacamaat minus yang ia pakai. “Yeoja dengan rambut panjang tergerai, dan mata bulat yang indah..” Gumamnya lalu berlari dihadapanku.

“Eottoke? Aku mirip dengannya kan? Rambutku memang tidak sepanjang dia, tapi lihatlah aku memiliki warna kulit dan mata bulat yang sama..” Katanya sambil menjejerkan foto itu di pipinya.

Untuk sekejap, aku merasa wajah yeojachingguku melekat padanya. Memang benar, ada sisi dimana yeoja dihadapanku ini mirip dengannya. Dadaku amat tersayat, merindukan sosok yang sudah lama aku rindukan, merindukan senyumnya, wajahnya, matanya, bibirnya, dan semua.. semuanya. Yeoja dihadapanku ini, kembali mengingatkanku pada siluet yeojachingguku.

Kutengadahkan wajahku untuk menatap langit, supaya mataku yang memanas ini segera mengering. Aku tidak ingin lagi menangis, menangis karena mengingat masa laluku itu.

“Cukup!!! Kau tidak mirip dengannya..” Kataku tajam, dan segera mengambil foto ditangannya.

“Wae? Apa aku kurang cantik?”

Aku yang sedang melenggang pergi itu segera berhenti, lalu menjawab sekadarnya tanpa berbalik padanya.

“Anni.. kau cantik.”

“Lalu?” Tanyanya lagi, namun aku tidak akan pernah menoleh padanya. “Jadi carilah namja lain, berhentilah mengejarku..” Jawabku yang lebih tepatnya perintah.

“Kau sudah mengatakannya ribuan kali, D.O-ya.. tapi maaf aku tidak bisa.” Segera kubalikan tubuhku dan memandang sendu yeoja yang sedang mengikat rambutnya itu.

“D.O-ya tidak bisakah kau sedikit lebih hangat padaku? Kalau memang aku tidak bisa memilikimu, bisakah kita berteman?”

Aku mengepalkan tanganku erat, merasakan kukuku mulai menancap di tanganku karena aku mengepal saking eratnya. Pernyataan gadis itu membuatku menegang seketika.

“Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau. Aku tidak butuh teman…”

“Wae? Kau tidak kesepian?”

Kesepian? Ya aku sangat kesepian, selama dua tahun aku mengubah diriku menjadi manusia yang dingin, merasa paling takut akan pertemuan yang hanya akan membawa perpisahan. Masa lalu karena Eomma Appaku yang bercerai dan tak memperdulikanku sama sekali, berteman dengan seseorang namun hanya dibully, dan menjalin hubungan dengan seorang yeoja namun ditinggalkan. Cukup aku sangat muak dengan hidupku. ARGGG!!!!

“D.O –ya.. wae?” Yeoja itu memegang keningku, lalu segera kutepis kasar tangannya dan pergi meninggalkannya.

***

@class

Bel istirahat berbunyi 5 menit yang lalu, namun sosok D.O masih teremenung di kursi barisan paling belakang, menatap sendu lapangan kosong dari jendela kelasnya.

Seorang yeoja yang tampak tidak asing baginya duduk di hadapannya sambil tersenyum.

DO POV

“Annyeong..”

“Apa kau tidak lelah?”

“Ani..” Yeoja itu lagi-lagi tersenyum.

Aku menatap intens padanya dan mencari kebohongan dimatanya. Eobso! Yeoja itu benar-benar tulus mengatakannya.

“Apa yang membuatmu sangat ingin disisiku?”

“Kau.. sangat menarik untukku, kau adalah namja pertama yang membuat hatiku bergetar dengan tatapanmu, kau adalah namja pertama yang mungkin… membuatku merasakan yang namanya cinta pertama..” Ia terkikik namun aku hanya menampakan wajah datarku. “Aku… ingin menemanimu..” Lanjutnya.

“Kau tahu, kau hanya akan menyesal nanti, aku tidak akan pernah menerima kehadiranmu.”

Yeoja itu berhenti tersenyum dan menatap nanar padaku “Wae?”

“Karena kau melakukan hal yang sia-sia. Kau hanya melelahkan dirimu sendiri, dan kau sangat menggangguku.”

Aku segera berdiri meninggalkannya lalu kudengar ia mengatakan sesiatu yang lirih namun masih bisa kudengar.

“Sedikit saja.. bisakah kau menerimaku, ani.. aku hanya minta sedikit saja, jika ada ruang yang teramat kecil dihatimu, ijinkan aku untuk singgah disana. Bisakah? Bisakah aku menempatinya?”

Aku termenung, ruang kecil bahkan sekecil apapun itu, sudah tak ada lagi. Semua telah membatu dan tak akan pernah runtuh oleh apapun.

“Berhentilah, karena aku adalah namja yang tak memiliki hati, jadi sebelum kau menyesal.. berhentilah mengejarku, carilah namja yang lebih baik dariku, namja yang mencintaimu..”

****

DO POV

Kutatap lagi photo kusut yang ada ditangaku, kembali mengingatkanku pada baris waktu ketika bersamanya. Dan saat itu juga yeoja itu tersenyum dihadapanku.

“Kau, yeoja keras kepala..”

Ia hanya tersenyum dan merebut foto itu lagi, aku akan mengambilnya namun yeoja itu menahan tanganku.

“Yak kembalikan!”

“Aku akan mengembalikan ini, kalau kau mau menganggapku teman..” Ia menunjukan cengirannya yang membuatku muak.

Aku memeluk tubuhnya untuk mengambil foto yang ia sembunyikan dibelakang punggungnya. DEG! Jantungku berdetak sangat kencang ketika kurasakan tangannya malah membalas pelukanku. Segera aku mundur dan menatap bingung padanya.

Ia tersenyum. Senyum yang tak pernah pudar, walau aku terus saja menyakitinya.

Kulihat yeoja itu sedang menuliskan sesuatu di photoku, amarahku meledak-ledak.

“YAKKK! Apa yang kau lakukan?”

“Jadilah temanku…” Katanya sambil mempoutkan mulutnya dan kembali menyembunyikan photo itu dibalik punggungnya.

“Apa yang kau tulis?”

“Kau akan tahu nanti… jadi jawab dulu..”

“Shirreo..”

“Baiklah aku akan menyimpan ini sampai kau menerimaku..”

“Apa kau tidak punya teman? Kau bisa berteman dengan yang lain, kenapa harus denganku?”

“Aku ingin kau berubah DO-ya, dunia bukan hanya untukmu saja, namun untuk bersama, lupakan kenangan yang membuatmu terpuruk, bangkitlah dan cari orang yang baru yang akan mewarnai hari-harimu..”

“Kembalikan…” Bentakku padanya, namun ia hanya tersenyum lalu berlari, segera kukejar dia sampai keluar kelas, menubruk siapapun yang berjalan dikoridor, tak peduli aku harus mengambil fotoku itu. Lancang sekali yeoja itu menyentuhnya, foto itu amat berharga baginya.

Aku berhasil memegang lengannya dan kehilangan keseimbangan, lalu merasa tubuhnya menimpa dadaku, alhasil aku mengerang karena merasa sesuatu yang berat membuatku sesak.

“Bangunlah… kau berat..”

APA YANG KALIAN LAKUKAN?

***

“Kau puas? Karena kau aku tidak bisa ikut ulangan matematika, kau puas?”

“Mianhae..” Katanya parau. Tadi ketika insiden yeoja itu menimpaku, Park Saem mengira kami berbuat yang tidak-tidak sampai akhirnya kami terpaksa dikenai hukuman lari di lapangan sebanyak 5 kali. Dan ini masih putaran pertama namun yeoja itu terus saja terseok-seok dibelakang. Park Saem bilang kami harus melakukannya bersama, namun aku yang kadung kesal itu terus meninggalkannya.

***

Seorang yeoja tampak sedang menggenggam erat dadanya. Ia kehabisan nafas, sesak itu kembali, sesak akut yang ia derita selama ini, ia tahu ia memang dilarang untuk kelelahan, namun karena ulahnya sendiri ia terpaksa dihukum dengan namja yang sudah menjauh itu, hanya punggungnya saja yang tampak. Yeoja itu terduduk di lapangan dan terus mengatur nafas, namun nihil ia semakin merasa sesak sampai akhirnya ia terbaring. Salah satu tangannya yang bebas mencoba meraih sosok yang telah menjauh itu, mencoba memanggil namanya, namun dadanya terlalu sesak..

‘DO-ya..’ Yeoja itu tampak sedang sekarat, namun tak ada yang melihatnya. Walau begitu, senyumnya masih terlukis dibibirnya.

***

Aish! Yeoja itu lambat sekali, aku menoleh kebelakang dan mendapati yeoja itu terbaring di tengah lapangan, jarakku dan dia cukup jauh, namun pandanganku masih jelas melihatnya. Tergeletak?

Aku berlari secepat mungkin menghampirinya, “Yak, irreona, jangan bercanda!”

Tidak ada respon, kuguncangkan badannya yang dingin itu,lalu segera terduduk disampingnya. Meraih tangannya dan memeriksa denyut nadinya, berpindah didadanya lalu mengecek nafasnya.

Aku merasa duniaku menjadi hitam. APAKAH…??

YAK IREEONNA!!!!!

****

@RUMAH SAKIT

DO POV

Aku menautkan kedua tanganku seraya mendoakan sosok yang terbaring lemah di ruang ICU. Memohon semoga yeoja itu bisa sadar dan kembali tersenyum padaku. Senyum yang selalu ia tunjukan padaku, senyum yang selalu terkembang walau aku selalu menyakitinya. Aku memang risih dengannya namun kehadirannya setidaknya telah mengikis hati batuku. Kegigihannya telah meluluhlantakan keegoisanku.

‘Aku mohon ijinkan aku menyatakan maaf padanya, aku mohon Tuhan’ Aku terus berdoa, sampai akhirnya seserorang berjubah putih diikuti oleh 2 orang berbaju hijau keluar dari ICU. Kuhampiri mereka dan bertanya tentang kondisi yeoja itu.

“Dimana walinya?”

“Sedang dalam perjalanan, Dok.. Bagaimana keadaannya?”

Dokter itu menaikan kacamata yang melorot sampai dibatang hidungnya. Lalu menggelengkan kepalanya memberikanku sebuah kode bahwa ia menyesal.

“KAU BIALNG KAU DOKTER!! KENAPA TIDAK BISA MENYELAMATKANNYA EO? JEBALL DOK SELAMATKAN DIA JEBALLL” Bentakku sambil menarik kerah bajunya, namun dokter hanya menunduk

“Maafkan aku tuan, pasokan oksigen di paru-parunya sudah habis saat sampai sini, kami terlambat menyelamatkannya..”

Bruuk! Aku berlutut dihadapan dokter, aku merasa duniaku benar-benar gelap. Aku merasa teramat sangat bersalah pada yeoja itu, andai tadi aku tidak meninggalkannya mungkin ia masih bisa selamat , andai aku tidak mengabaikannya dan memilih untuk berlari bersama, yeoja itu pasti masih bertahan dengan senyumnya, andai saja…

“Kami menemukan ini …”

Kuraih foto kusut dari tangan dokter itu, air mata yang selama ini kutahan kini keluar dengan derasnya, tanpai henti dan tanpa kuseka. Aku membiarkan ini mengalir, menyesali perbuatanku yang membuat orang lain kehilangan nyawa dan meninggalkanku, kembali…

Kubalik foto itu dan menemukan sebuat tulisan tangan yeoja itu..

‘Andai aku yeoja yang dirangkul olehmu DO-ya, Saranghae…’

“Mianhae.. Mianhae..” Hanya itu yang mampu terucap dimulutku. Hujan ikut menemaniku dalam tangis di rumah sakit ini. Orang-orang disekitarku berjalan sangat cepat, aku terus menangis mengingat kesalahnku, kesalahan paling menyakitkan yang pernah kulakukan. Aku membuat yeoja itu mati, Aku harusnya menolongnya, bukan meninggalkannya, aku harusnya menyambutnya bukan mengabaikannya..

Aku harusnya…

‘Mengatakan maaf padanya…’

~Setidaknya.. beri aku waktu, sebentar saja, ijinkan aku mengatakan maaf padanya, sebentar saja..

Jebal…~

END

2 thoughts on “Mianhae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s