Maps

maps

Nama : @ramons04
Judul Cerita : Maps
Tag (tokoh) : Oh Sehun, Jang Nara (OC)
Genre : Friendship
Rating : G – General Audience
Length : One Shot
Catatan Author : Hai! Terima kasih atas semuanya^^ Aku benar-benar minta maaf atas writer’s block yang aku alami sehingga semua ceritaku terhambat huhu T_T)/ Kali ini Sehun dan Nara sudah lulus sekolah yeay! Seperti biasa, ini beta reader kok, silahkan koreksi tulisanku. Terima kasih!

***

Jika aku mengikuti peta yang pernah kita buat dengan kenangan, apa aku bisa menemukanmu?

***

“So I’m following the map that leads to you , The map that leads to you. Ain’t nothing I can do. The map that leads to you, Following, following, following to youuuuuu”.

Sehun merebahkan tubuhnya di samping Nara yang sejak tadi tidak bisa berhenti menyanyikan lagu milik band Maroon 5 itu. Entah sejak kapan ia merasa sudah jarang mendengar kaki kecil-nya bernyanyi entah lagu apapun itu. Mungkin dulu ia akan lebih sering mendengar Nara menyanyikan lagu-lagu mereka –EXO, tapi sejak mereka lulus sekolah dan jadwalnya semakin padat di tambah Nara yang sekarang juga sedang kuliah membuatnya jarang bertemu dengan teman sebangkunya itu.

Teman sebangku? Masih bisa kah Sehun menyebutnya teman sebangku?

“ I was there for you, In your darkest times, I was there for you, In your darkest nights,”

Nara terus menyanyikan bait per bait dari lagu itu membuat Sehun semakin tertarik untuk melihat apa yang sedang di lakukan gadis itu. Sehun membalik badannya menghadap Nara yang sedang sibuk menyelesaikan tugasnya. Ini konsekuensi yang harus ia terima karena teman mainnya sekarang sedang banyak tugas.

“Nara ayo main keluar.” ujar Sehun sambil memainkan pensil yang tergeletak dekat dengan jarinya.

“Tugasku belum selesai.” Jawab Nara tanpa menoleh pada Sehun sedikitpun.

“Sebentar saja ayolah~” pinta Sehun lagi pada Nara sambil sedikit mengguncang tubuh Nara yang ia rasa sepertinya semakin gemuk ._.)/

Tidak ada jawaban apapun yang terdengar dari mulut kaki kecilnya, ia tetap fokus pada tugas menggambarnya.

Astaga apa kuliah akan menyita waktu untuk bermain? Kalau begitu tidak seru!

Haaaa~

Kini Sehun beranjak dari tempatnya semula menuju tempat tidur Nara yang terlihat nyaman. Ia merebahkan tubuhnya di sana dan memeluk boneka rilakumma yang ada di dekat bantal tidur. Bisa ia rasakan dari boneka yang sekarang berada dalam pelukannya aroma tubuh Nara.

Mata sipit Sehun melayang menatap langit-langit kamar Nara yang berwarna biru muda. Begitu menyenangkan bisa mendapatkan waktu luangnya lagi sehingga ia bisa keluar dan bermain bersama kaki kecil-nya, setidaknya itulah yang awalnya Sehun pikirkan ketika ia mendapatkan pengumuman dari Suho kalau hari ini mereka sedang libur. Namun ketika ia mendatangi rumah Nara yang ia dapati adalah keadaan Nara yang benar-benar kusut. Rambut yang diikat asal dengan pakaian santai khas rumah serta wajah lelahnya.

“Maaf Hun, aku sedang banyak tugas.” Sambutan yang kurang menarik untuk kunjungan teman lama –begitu yang Sehun pikirkan saat itu.

Sehun meneruskan kegiatannya tiduran di tempat tidur Nara sambil tetap memeluk boneka pemberian Chanyeol pada Nara itu dan memperhatikan kamar Nara. Kamar yang dulu sering ia datangi bahkan saat dini hari untuk sekedar istirahat sebelum kembali ke dormnya. Ruangan yang di dominasi dengan warna biru dan putih itu selalu membuatnya bahagia saat berada di sana. Ia masih ingat bagaimana seringnya ia mengganggu Nara bahkan di hari tidur siang gadis itu, mengacak-acak lemari pakaiannya hanya untuk mencari pakaian yang pantas untuk pesta perpisahan, mengotori kamar itu dan sibuk saling melempar karena berkelahi, tertidur di karpet karena lelah bercanda dan bergadang sampai malam hanya untuk tugas bahasa dan matematika.

Semua kenangan itu berputar begitu saja di kepala Sehun. Ia seperti ingin kembali ke masa sekolahnya dulu dan bermain sepuas hatinya dengan teman sebangkunya itu. Menghabiskan waktu mereka di kedai bubble tea kesukaan mereka, makan ramen sampai kenyang, menonton film horror sampai Nara menangis dan marah padanya, merayakan ulang tahun persahabatan mereka, berfoto bersama dan banyak hal yang ingin Sehun lakukan bersama Nara.

Sehun memperhatikan sudut kamar gadis itu di mana ia mendapati banyak foto yang terpajang di sana. Ia masih ingat dulu mereka berdua yang menempelnya di sana saat Nara berhasil membeli sebuah polaroid dari hasil tabungannya sendiri.

Hari itu adalah hari Sabtu yang tenang karena mereka sudah selesai sekolah, mereka berdua berjanji bertemu di sekolah untuk selanjutnya pergi membeli polaroid untuk Nara. Sepulang dari berbelanja, seperti biasa mereka segera menuju kedai bubble tea dan melakukan test foto pertama untuk polaroid itu.

Bzzz

“Ah! Sehun kau ini seharusnya lebih ekspresif lagi! Masa hanya berpose seperti ini sih?!” Nara langsung protes begitu melihat hasil foto pertamanya dengan Sehun. Maknae EXO itu hanya menggunakan gaya andalannya –V sign dengan senyum sok kerennya (setidaknya begitu menurut Nara) padahal ia sendiri sudah tersenyum sebahagia mungkin.

Sehun hanya menggerakkan bahunya tidak peduli mendengar protes Nara. Yang ada di otaknya sekarang hanya minuman dingin rasa cokelat dengan butiran pearl yang begitu melegakan tenggorokannya itu.

Dengusan sebal Nara terdengar melihat sahabatnya itu hanya menggedikkan bahunya seakan tidak peduli dengan protes yang baru saja ia layangkan.

Artis macam apa yang hanya bisa pose dengan dua jari begitu huh T-T)/ Kalau hanya begitu seharusnya aku sudah jadi artis terkenal sejak dulu ish.

Tidak ada yang membuka percakapan siang hari itu. Nara masih dengan rasa sebalnya dengan Sehun dan Sehun masih dengan rasa bahagianya dengan bubble teanya. Sebenarnya sejak tadi Sehun menyadari kalau teman perempuannya itu sedang kesal padanya, namun melihatnya mendengus kesal seperti sapi membuatnya senang sendiri.

Kaki panjangnya sengaja ia luruskan sehingga terkesan seperti menendang kaki Nara, membuat gadis itu mendongak sengit kearahnya yang dia balas dengan cengiran khas seorang Oh Se Hun. Hal itu terus ia lakukan berulang-ulang sampai akhirnya Nara menginjak kakinya dan berakhir dengan tawa mereka berdua.

“Ayo kita ambil foto lagi! Kali ini kau harus mengeluarkan pose terbaikmu.” Titah Nara lagi sambil mempersiapkan polaroidnya. Tanpa gadis itu sadari Sehun memindahkan kursinya ke sebelah Nara dan bersiap untuk berpose.

Bzzz!

Selembar foto tercetak dan terlihatlah Sehun menyandarkan kepalanya di bahu Nara sambil tersenyum sedangkan gadis itu menampilkan wajah bahagianya.

Pose seperti sepasang kekasih Hun?

“Yak! Gaya apalagi ini Oh Sehun astaga T-T)/” Nara kembali mengomel setelah melihat hasil foto kedua mereka.

“Kau bilang aku suruh berpose, aku sudah pose.”

“Lakukan yang biasa saja. Jangan aneh-aneh! Aku belum mau dibunuh fans-fansmu.”

Tanpa berniat membalas ocehan Nara, Sehun mengambil polaroidnya dan mulai bersiap untuk foto lagi.

“Nara!”

Bzzzz! Bzzz! Bzzz!

Total sepuluh foto untuk hari pertama mereka menggunakan polaroid itu. Setelah perdebatan panjang tentang pose dan sebagai macamnya, akhirnya mereka memutuskan untuk berpose sebagai diri-mereka-sendiri. Dan terciptalah tiga foto dengan wajah bahagia, tiga foto dengan wajah aneh dan dua foto yang sejak tadi menjadi perhatian Sehun. Foto di mana dia merangkul Nara dan satu foto lagi Nara memeluk pundaknya dari belakang.

Mengingat memori itu sebuah senyum terukir di wajah putih pucat Sehun. Ia kembali memperhatikan Nara yang masih asik dengan tugasnya. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah foto-foto itu terpajang.

“ I was there for you, In your darkest times, I was there for you, In your darkest nights,”

Nara masih asik dengan nyanyian Maps-nya hanya menoleh sesaat ketika ia melihat Sehun berjalan ke arah tempat ia memajang semua foto-fotonya.

“Hei kaki kecil,” Tangan Sehun terangkat melepas satu foto dari sana. Foto ia di peluk Nara dari belakang membuatnya selalu ingat ia punya Nara untuk tempatnya kembali menjadi seorang Oh Sehun anak remaja biasa.

“Apa?”

“Foto yang ini untukku.” Pinta Sehun tanpa memperhatikan Nara yang sedang asik dengan tugasnya yang tampaknya sebentar lagi akan selesai. Sebagai jawaban ia hanya menoleh dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia kembali melanjutkan tugasnya sedangkan Sehun memasukkan foto itu ke dalam tas yang ia bawa, kemudian ia duduk di hadapan Nara.

Sehun mengambil satu headset yang tak terpasang dan memasangnya ke telinganya, ikut mendengarkan lagu yang sejak tadi dinyanyikan teman sebangkunya itu. Ia meletakan tangannya di meja tempat Nara mengerjakan tugas dan merebahkan kepalanya di atas tangannya itu.

“Apa sudah mau selesai?” tanyanya sambil memperhatikan sebuah gambar yang sedang kaki kecil-nya beri warna.

“Sedikit lagi.”jawab Nara tanpa menoleh ke arah Sehun, lagi.

Sehun kemudian mengambil ponsel Nara dan memutar ulang lagi lagu itu hingga terulang dari awal. Ia ingin liat reaksi kaki kecil-nya saat ia mengulang lagunya dan yang ia dapatkan hanya sebuah tatapan lelah.

“I miss the taste of a sweeter life, I miss the conversation, I’m searching for a song tonight, I’m changing all of the stations,” terdengar suara Sehun mulai menyanyikan bait pertama dari lagu itu.

“I like to think that we had it all, We drew a map to a better place, But on that road I took a fall , Oh baby why did you run away?” Sehun melanjutkan nyanyiannya pada baik kedua lagu itu tanpa memalingkan tatapannya dari Nara yang sejak tadi tidak menoleh ke arahnya.

“But I wonder where were you? When I was at my worst down on my knees, And you said you had my back. So I wonder where were you? When all the roads you took came back to me,” terdengar suara Nara menimpali nyanyian Sehun pada bait setelahnya.

“So I’m following the map that leads to you, The map that leads to you,” Sehun menatap Nara dengan senyumnya yang mulai muncul karena Nara menimpali nyanyiannya,

“Ain’t nothing I can do, The map that leads to you,” Kaki kecil-nya menyahuti nyanyiannya dan mulai meletakan alat gambarnya,

“Following, following, following to you,” “Following, following, following to you,” Mereka sama-sama tersenyum lucu karena secara bersamaan mereka menyanyikan bagian itu,

“The map that leads to you, Ain’t nothing I can do,” Sehun sengaja terdiam untuk mendengarkan suara Nara lagi dan, “The map that leads to you. Following, following, following.”

“Hahaha! Sepertinya kita bisa jadi rekan duet Nara! Hihi!” Mata bulan sabitnya muncul ketika Sehun tertawa lepas di akhir nyanyian mereka.

“Hahai! Ya sepertinya aku akan segera audisi di agensimu haha!” suara tawa Nara ikut terdengar bersatu dengan suara Sehun.

Untuk sesaat mereka sama-sama larut dalam tawa hingga masing-masing kembali diam dan menormalkan deru nafas mereka yang lelah karena tertawa.

Sedikit kesal karena ia kemudian mendapati lagi Nara kembali berkutat dengan alat gambar –dan tugasnya mengacuhkannya lagi namun kemudian ia sedikit tersenyum senang saat tangan Nara dengan cekatan merapihkan semua alat gambar dan semua benda yang berserakan di atas mejanya.

“Jadi,” sambil merapikan ikatan rambutnya yang berantakan Nara menatap Sehun yang tengah menampilkan senyum senangnya, “Kita mau pergi kemana hantu?” Senyum Nara tersemat di wajahnya membuat wajah yang selalu Sehun ejek saat sekolah itu berubah lucu dan menarik –untuk di ejek tentunya.

Sehun menggeleng sebagai jawabannya, “Tidak ada, di sini saja.”

“Yakin? Tidak mau ke bubble tea?” tanya Nara sedikit ragu dengan jawaban Sehun. Tumben anak ini tidak keranjingan bubbel tea seperti biasanya.

Dan lagi, Sehun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

“Lagipula aku tahu kau itu belum mandi, aku tidak mau jalan dengan anak belum mandi.” ujar Sehun enteng sambil menggedikkan bahunya tanda ia tidak peduli.

“Lalu mau bermain tatap-menatap seperti sekarang? Kau akan kalah. Mataku seperti mata D.O.”

Sehun mengambil ponsel Nara dan memasangkan headset lagi ke telinganya juga telinga teman sebangkunya itu, kemudian ia memutar lagi lagu yang sama -Maps.

“Kau tidak akan menyuruhku mengikuti peta untuk menemukanmu kan?” tanya Sehun sambil menatap Nara dalam.

“Seharusnya aku bertanya hal itu padamu.” jawab Nara sambil melipat tangannya di meja dan membalas tatapan sahabat sekolahnya itu.

“Aku? Kenapa aku?” Sehun menunjuk dirinya sendiri tanda ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Nara.

“Ya. Kau. Sekarang kau bahkan lebih susah di gapai dari sebuah bulan. Menyentuh saja sulit.”jawab Nara santai.

“Kenapa?”

“Kalau mau ke bulan aku bisa pakai pesawat luar angkasa, tapi untuk menyentuh sebuah bintang aku harus pergi ke mana? Sama sepertimu. Kau itu bintang.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Nara tentang dirinya. Selama ini ia selalu berusaha menjadi seorang Oh Sehun anak remaja 20 tahunan tanpa embel-embel bintang di belakangnya saat bersama Nara, tapi mungkin memang dasarnya aura bintangnya kuat jadi teman sebangku itu masih merasa ia adalah seorang bintang.

Aku keren juga ternyata hihi^^

“Jadi kenapa kau malah senyum-senyum sendiri seperti itu?! T-T)/” Nara jadi kesal sendiri melihat Sehun yang hanya senyum-senyum sendiri seperti sedang membayangkan yang aneh-aneh tanpa membalas penjelasannya barusan.

Jangan bilang anak ini bangga aku sebut bintang. Astaga Tuhan, hambamu ini salah bicara -__-)9

“Tidak. Aku hanya sedikit kaget kau masih merasakan aura bintangku hihi^^”

Tuh kan aku salah bicara T-T)9

Nara mendengus kesal mendengar pemikiran Sehun tentang penjelasannya. Merasakan aura apanya?! Bagaiman ia tidak merasakan auranya kalau hanya untuk bermain bersama Sehun ia harus rela diikuti banyak orang yang notabennya adalah fansnya Sehun?! Belum lagi karena tubuhnya kecil ia jadi suka kehilangan Sehun karena terhalang fans-fansnya.

Aura bintang?! Yang benar saja Oh Se Hun -_-)9

“Hei, aku tidak akan membiarkanmu mengikuti peta untuk menemuiku. Aku yang akan selalu menemui sahabatku. Jadi jangan sembunyikan dirimu, tunjukkan di mana kau berada. Temani aku kalau aku sedang dalam kebahagiaan dan hibur aku jika sedang sedih. Biarkan aku mengikuti peta untuk mencarimu, karena kau adalah sahabatku.” Senyum manis tersemat di wajah Sehun saat ia selesai mengatakan kalimat yang menyentuh bagi Nara itu. Jika ia tidak ingat akan Chanyeol yang ia sukai dan menyukainya (fans yang beruntung T-T)9 –semua karena menurut Chanyeol Nara itu lucu dan ia suka) ia pasti akan jatuh cinta dengan kata-kata itu.

Sahabat? Bahkan sampai sekarang ia belum berani menyatakan jika Sehun adalah sahabatnya pada orang-orang. Ia takut jika Sehun akan terus bersinar dan ia hanya menjadi manusia kecil yang terlupakan. Daripada menyakitkan, ia lebih suka menyimpan perasaan menjadi-sahabat-Sehun dalam hati kecilnya.

“Jadi kau akan menyembunyikan petamu atau tidak?”tanya Sehun sambil menatap Nara. Dapat ia lihat senyum haru terpaut di wajahnya.

“Aku juga tidak akan membuatmu mencariku dari peta Sehun. Kau sahabat dan kakak bagiku. Katakan kapanpun kau membutuhkanku, aku akan ada untukmu bahkan di saat terburukmu sekalipun jangan tutupi apapun dariku. Aku tidak akan membiarkan mu sendiri mencariku, aku ada untukmu. Sama seperti kau menganggapku sahabatmu, aku juga seperti itu.” Sebuah senyum manis tersemat di wajah Nara dan sebuah mata bulan sabit terbentuk di wajah Sehun. Mereka sama-sama tersenyum mendengar jawaban masing-masing.

“Maafkan aku jarang menghubungimu. Jadwalku padat dan jarang ada waktu luang.” Sehun memulai duluan permintaan maafnya pada Nara.

“Hei, maafkan aku juga. Maaf tugasku banyak jadi jarang bisa menemanimu bermain di waktu luangmu yang jarang hehe.” Nara menyematkan senyum giginya pada Sehun sebagai permintaan maafnya dan mengulurkan kelingkingnya sebagai tanda pemintaan maafnya, tak lama jari itu di sambut oleh kelingking Sehun yang melingkar di sana.

“Kau masih simpan polaroidmu?” Tanya Sehun saat jari mereka masih bertautan.

“Masih, kenapa?”

“Ayo foto! Kita harus abadikan saat-saat jarang seperti ini!” Sahut Sehun semangat yang menular pada Nara hingga ia langsung bergegas mengambil polaroidnya.

Bzzz!

Satu foto untuk hari itu, Sehun dan Nara yang saling melempar tawa dengan jari kelingking mereka yang saling bertautan tanda persahabatan mereka.

“Kau mau memberikan caption apa untuk ini Hun?”tanya Nara sambil memperhatikan Sehun yang sedang menuliskan caption untuk foto mereka.

Maps leads me to you.

“Baguskan?” Sehun tampak terlihat bangga dengan captionnya.

“Ugh, terlalu cheesy!” Nara mengambil foto itu yang memajangnya bersama deretan foto lainnya di tembok.

“Hei, itu romantis.” Elak Sehun sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur Nara dan mengambil lagi boneka rilakumma yang tergeletak di sana.

“Masa bodo. Chanyeol lebih romantis darimu.”protes Nara tidak terima dengan pernyataan Sehun. Ia masih sibuk dengan kegiatannya memajang foto tanpa sadar Sehun sudah menampilkan senyum liciknya.

“Chanyeol hyung? Haa, apa yang sudah kalian lakukan hmm?” Goda Sehun tanpa peduli tatapan ngeri dari Nara.

“Apa kalian berciuman? Berpelukan? Saling menghangatkan? Hihi!” “Yak! Oh Se Hun jangan mesum!”

Dan hari itu berakhir dengan kegiatan yang paling Sehun sukai, saling melempar benda dan bantal serta membuat kamar itu berantakan.

So I’m following the map that leads to you, my bestie.

4 thoughts on “Maps

  1. sansanzz berkata:

    akkkk kangen banget sama merekaa :”D
    serasa ikut flashback waktu sehun inget masa sma nya dia sama nara huhu
    aku sukaa kata katanya ituu yaampun lah sampe baper baca ffnya kak😄 tp akhirnya juga mereka ttp sahabat ya..
    aku gabisa kasi koreksi ffnya kak aku cuma reader biasa😄 tp aku enjoy sama ff nya kok😀
    ttp sukaaa! ditunggu bgt series lanjutannya lagi yaaa kak😀
    oh iya kak ada wp pribadi?

    • ramon berkata:

      haa~ makasih ya hihi^^
      ada kok wp pribadi, ramonahaha.wordpress.com
      silahkan berkunjung, kasih masukan juga gpp. Sebenernya semua cerita exo yang ada di wp pribadiku udah aku posting semua di wp ini juga.

  2. Park Hye Raa berkata:

    Waahh…. ff sehun-nara dah keluar lgi yah??? baru buka wordpress koreadansaya setelah sekian lama langsung baca ff ini deh. bahasanya bagus, cocok buat genre friendship🙂 . dialognya agak dibanyakin dong… biar lebih ngefeel gitu, tapi gak papa sih terserah author😛 lain kali bikin ff sehun nara lagi dong.
    KEEP WRITING!!! FIGHTING!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s