FF: Ghost Rider (Part 22) END

Ghost Rider

Author : Oh Mi Ja

Genre : Horror. Mystery, Comedy, Friendship

cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : Kim Myungsoo (Infinite), Kim Jongdae

Akhirnyaa Endd huehehe… jujur aja FF ini cukup sulit karena ChanBaek feel-nya agak memudar jadi harus banyak-banyak nonton ChanBaek moment dulu. Maaf kalau akhirnya ngga memuaskan atau bad. Adanya prolog masih author pikir-pikir, tergantung permintaah *halah. Mohon sabar nunggu FF yang lain yaa, pasti diselesein…

Happy reading^^


Hakim mengetuk palunya tiga kali setelah memutuskan jika Kris akan dibebaskan sedangkan Myungsoo akan dijatuhi hukuman selama beberapa tahun. Yixing langsung berdiri dan berlari kedepan, menghampiri kakak kandungnya. Beberapa polisi langsung mengamankan Myungsoo karena pria itu seketika mengamuk dan tidak terima atas putusan itu.

Ditengah-tengah huru-hara yang sedang terjadi, Yixing berlutut didepan Kris dengan wajah yang sudah basah. Dia tersenyum haru, menatap kakaknya yang juga tersenyum kearahnya. Dia mengangguk pelan, lega dan bahagia.

“Aku bebas, Yixing…”

Suaranya terdengar serak dan samar. Namun Yixing masih mampu mendengarnya.

Tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk mengekspresikan kebahagiaannya sekarang. Dia hanya mengangguk, tanpa suara. Seakan pita suaranya tidak bekerja dengan baik dan rongga paru-parunya seakan dipenuhi dengan kebahagiaan yang seketika membuatnya kehilangan suara.

Yixing memeluk tubuh Kris erat-erat sebagai luapan kebahagiaan itu. Menangis sejadi-jadinya di pundak seseorang yang sangat ia sayangi. Dia berjanji, mulai saat ini, kakaknya tidak akan mengeluarkan air mata lagi. Dia berjanji mulai saat ini, dia akan menjaga kakaknya dengan baik.

Pengorbanan yang telah dia lakukan beberapa tahun lalu akan dia tebus dengan cara apapun. Asal kakaknya bahagia. Dia tidak akan menderita lagi. Itu adalah janjinya.

Kris balas memeluk Yixing erat sambil menghusap-husap kepalanya, “kau tau aku sangat menyayangimu, kan?”

Yixing mengangguk dan semakin mengetatkan pelukannya pada Kris.

Di dunia ini, jika dia ditakdirkan untuk menjadi yatim piatu. Dia tetap bersyukur karena dia masih memiliki Kris di sampingnya. Dia adalah seseorang yang telah berjuang lebih dari kedua orang tuanya. Satu-satunya orang yang akan dia percaya dan akan dia ikuti.

Di dunia ini, jika dia ditakdirkan untuk menjadi yatim piatu. Dia tidak akan menyesal. Dia sudah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya lewat Kris.

Kris… dia lebih dari sekedar apapun…

***___***

Ponsel Chanyeol terus saja mengeluarkan dering sejak satu jam lalu namun Chanyeol juga terus bersikap seperti tidak mendengar apapun. Dia terus memandangi Baekhyun dalam diam, yang sedang tertidur lelap di depannya.

Ditempatnya, Kyungsoo menatap Chanyeol dengan pikiran-pikiran aneh yang mulai merasuki dirinya. Dia harus pergi ke Jepang minggu depan, namun sudah dua hari ini dia tidak terlihat pergi latihan.

Ponselnya terus berdering dan yang dia ketahui, Chanyeol hanya memilikinya, Yixing dan Kris sebagai sahabatnya. Juga Baekhyun dan Jongdae. Di Seoul, tidak ada yang dikenalnya dengan baik dan dia tau bagaimana pribadi Chanyeol yang memang kurang pandai untuk bergaul dengan orang lain. Jika ada seseorang yang menghubunginya, itu artinya panggilan itu sangat penting.

“Kenapa kau tidak menjawab teleponmu?”tanya Kyungsoo akhirnya buka suara, ia menatap Chanyeol sarat ingin tau.

“Oh, mungkin Yixing.”jawab Chanyeol seadanya.

“Jika Yixing yang menghubungimu, kenapa kau tidak menjawabnya? Mungkin ada hubungannya dengan persidangan.”

Mata Chanyeol melebar, dia sempat terkejut untuk beberapa saat namun buru-buru dia bersikap normal seperti biasa. Sayangnya, mata bulat Kyungsoo berhasil melihat hal itu.

“Bukan. Bukan Yixing.” Chanyeol menggeleng sambil menatap ke layar ponselnya, kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku.

“Kenapa kau tidak mengangkatnya, Chanyeol?”tanya Kyungsoo sekali lagi.

Chanyeol tersenyum menatap Kyungsoo, “Kyungsoo, ini tidak penting.”

“Itu pasti mereka, kan?” balas Kyungsoo cepat. “Kenapa kau tidak pergi latihan,Chanyeol?”

Chanyeol membeku ditempatnya seketika saat Kyungsoo berhasil menebak segalanya. Ia memejamkan kedua matanya erat-erat. Rahangnya mengatup keras dan kedua tangannya mengepal disamping tubuh.

Apa hal itu perlu ditanyakan lagi? Apa dia sengaja bertanya tentang itu disaat dia sudah ingin melepaskannya? Apa ini tidak terlalu menyakitkan?

“Chanyeol…”panggil Kyungsoo lagi.

“Aku sudah melepaskannya, Kyungsoo…”lirih Chanyeol menunduk dalam. “Aku sudah melepaskannya…”

Kyungsoo dan Jongdae sama-sama terkejut, “Apa?”

“Aku sudah memutuskannya. Ini adalah kesalahanku, membuat keadaan Baekhyun semakin memburuk. Aku ingin menjaganya seperti dia menjagaku dulu. Aku ingin dia sembuh dan mengingatku, mengingat kalian.”

Kyungsoo mengulurkan kedua tangannya, mencekal kedua pundak Chanyeol dan memaksa pria tinggi itu untuk menghadapnya. “Chanyeol, tapi ini adalah mimpimu!”

“Apa semua itu penting dibandingkan keadaan Baekhyun sekarang, Kyungsoo?” ia tersenyum kecut menatap Kyungsoo. “Sama seperti dirimu yang berusaha keras untuk melindungiku dulu. Kau melakukan hal seperti ini.”

“Chanyeol, dengar!” Kyungsoo bersikap seolah-olah tidak mendengar apapun. “Kau memiliki mimpi ini selama bertahun-tahun lalu. Kau terus berusaha untuk menggapainya. Kau tidak bisa mengorbankannya begitu saja? Apa kau pikir semua ini hanya lelucon?!”

Chanyeol mendesah panjang, “Kyungsoo…”

“Chanyeol! Aku tetap tidak akan membiarkanmu melepaskan mimpimu jadi—“

“Kalian siapa?” Huru-hara yang sempat terjadi di ruangan itu membuat Baekhyun terbangun dari tidurnya. Tidak ada yang menyadari jika dia sudah duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dan menatap satu-persatu dari mereka dengan ekspresi bingung. Dia seperti seekor anak anjing yang baru saja keluar dari dalam kardus dan menjadi bingung dengan dunia barunya.

Jongdae menarik punggungnya dari tembok setelah dari tadi hanya diam menatapi pertengkaran mulut dua sahabat itu. Dia menghampiri Baekhyun dan duduk di sisi ranjang.

“Kau sudah bangun? Mau makan sesuatu?”

Ekspresi Baekhyun masih terlihat bingung saat ia menoleh kearah Jongdae, “kau siapa?” dia mengeluarkan pertanyaan yang sama,

“Kau harus selalu ingat untuk membaca buku ini setelah kau bangun.” Jongdae tersenyum sambil memberikan dua buku catatan pada Baekhyun. Satu miliknya dan satu lagi yang dibuat oleh Chanyeol.

Kening Baekhyun berkerut sesaat, menerima dua buku itu dan bergegas membuka catatan miliknya. Namun, Chanyeol tiba-tiba meraih dua buku itu dengan senyuman saat mata Baekhyun berpaling kearahnya.

“Kau adalah Byun Baekhyun. Kau penderita Amnesia Anterograde.”serunya. “Umurmu 23 tahun dan kau mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan lulus. Kau mahasiswa fakultas seni tapi tidak begitu tertarik pada bidang seni. Rumahmu berada di Hongdae dengan sebuah halaman kecil dan seekor anjing peliharaanmu. Kamarmu memiliki balkon, yang menjadi tempat favoritmu untuk melihat bintang.”

Baekyun nyaris melongo ditempatnya, “Ha?”balasnya kehilangan kata-katanya.

Chanyeol tersenyum lalu melanjutkan hipotesanya tentang hidup Baekhyun lagi, “Kau memiliki banyak koleksi komik Naruto di lemari buku yang terletak disamping meja belajarmu. Kamarmu tidak pernah rapi dengan banyak baju-baju kotor dan bantal yang tergeletak di lantai. Terkadang, kau tertidur saat sedang belajar namun akhir-akhir ini sangat rajin ke Universitas agar cepat lulus. Sahabatmu bernama Kim Jongdae…”

Saat Chanyeol mengucapkan kalimat terakhirnya, Jongdae langsung menoleh kearah Cahnyeol dengan mata melebar. Chanyeol tidak mengacuhkan itu, tatapannya terus jatuh pada wajah Baekhyun.

“Latihlah ingatanmu dengan terus membaca buku-buku ini. Juga, tulis kejadian apapun yang kau alami agar kau tidak kebingungan. Dokter bilang, semuanya akan membaik jika kau terus latihan.” Chanyeol tersenyum lagi, tangannya terulur dan memberikan dua buku tadi pada Baekhyun kembali.

“Yang ku ingat… hanya Park Chanyeol…”desahnya tanpa mengetahui jika ucapannya mampu memberikan efek menyakitkan bagi Jongdae. “Siapa Park Chanyeol?”tanyanya, menatap Chanyeol lurus.

“Dia… hanya seseorang…” Chanyeol tersenyum dibalik tatapannya yang meneduh. “…seseorang yang menyebabkanmu menjadi seperti ini.”

Mata Baekhyun membulat lebar, “benarkah?!”

“Cukup, Chanyeol.” Kyungsoo mencekal bahu Chanyeol, tidak tahan lagi dengan semua hal yang dikatakannya hari ini. Dia terlihat tidak baik. Kacau. Dan tidak terkendali atas ucapannya. Kemudian, setelah Chanyeol tidak mengucapkan apapun lagi dalam tunduknya, Kyungsoo mengalihkan tatapannya pada Baekhyun dan tersenyum tulus.

Bukan. Ini bukan salah Chanyeol. Ini adalah kesalahannya yang menjadi gegabah karena ketakutannya. Ini adalah kesalahannya yang tiba-tiba dan tanpa sadar ia limpahkan pada Chanyeol.

Saat berbulan-bulan lalu ia menjadi satu-satunya orang yang paling berjuang untuk melindungi Chanyeol, kini, dia menjadi satu-satunya orang yang menyebabkan Chanyeol begitu terpuruk.

Rasa bersalah ini kian timbul, semakin lama semakin membesar. Pada Chanyeol, pada Baekhyun, juga Jongdae. Semuanya merasa tersakiti atas ulahnya yang dia sendiri tidak pernah menyangka jika akhirnya akan seperti ini.

Hanya… dia berharap Tuhan mau memberikan sebuah jalan keluar untuk memecahkan beberapa masalah sekaligus. Tentang mimpi Chanyeol, juga rasa bersalahnya yang mengakibatkan dia terus terikat pada diri Baekhyun.

Tiba-tiba, ponsel Chanyeol bordering. Dengan helaan napas panjang, Chanyeol meraihnya dari dalam saku celana. Buru-buru ia tekan tombol answer saat ia membaca nama Yixing yang tertera di layarnya.

“Yixing, bagaimana?” dia langsung ke inti permasalahan. Mengingat dia tidak bisa menemani Yixing pergi ke persidangan pagi tadi. “Kau dimana? Semuanya baik-baik saja, kan?”

“Chanyeol…” suara Yixing terdengar putus-putus disebrang panggilan. “Aku… ada di taman rumah sakit…” sekali lagi dia menelan tangisnya. “…bersama Kris…”

Detik itu juga, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Saat kesadarannya tiba-tiba mnghilang dan pergi entah kemana, Chanyeol beranjak dari duduknya, lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan ruangan.

Jongdae, Kyungsoo, dan Baekhyun sama-sama terkejut. Terutama Kyungsoo setelah ia mendengar nama Yixing di sebut.

“Jongdae, aku titip Baekhyun!”

Kyungsoo mengejar langkah Chanyeol. Perasaannya mengatakan telah terjadi sesuatu dengan Yixing. Dia harap, ini bukan hal yang buruk. Dia harap, pria itu tidak menangis.

Chanyeol terus berlari mengelilingi dari satu taman ke taman lainnya. Hingga ia tiba di sebuah taman rumah sakit yang paling besar dan terletak diantara bangunan gedung. Seseorang yang tengah duduk diatas kursi roda itu dia lihat pertama kali setelah ia sampai di tempat ini. Senyumannya tidak berubah, masih tetap lebar dan memperlihatkan gusinya seperti dulu. Wajah tampannya juga tidak menghilang, hanya pipinya yang terlihat lebih tirus.

Langkah-langkah panjang Chanyeol yang semula tergesa kini melemah seiring dengan matanya yang kembali memanas. Emosinya kian memuncak dan menggurak hebat di dalam dadanya. Saat pengorbanan seorang sahabat dirasakannya dan dia tidak bosa berbuat apapun untuk menolongnya.

Kris berada dalam penyesalannya namun Chanyeol jauh merasakannya lebih dalam dari itu. Dia menghampiri Kris dengan tatapan teduh, tertatih-tatih sambil mengulurkan tangan dan menjangkau pinggiran kursi roda Kris. Ia berjongkok tepat di depan pria itu, mendongak dan memuaskan diri untuk menatap wajahnya yang selama beberapa hari ini tidak pernah di lihatnya lagi.

Banyak kata yang telah ia rangkai saat pada akhirnya Kris bebas dan mereka bisa bertemu lagi. Namun, saat kenyatannya terjadi, tidak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutnya. Ia telan semuanya bulat-bulat dan menggantikannya dengan air mata. Air mata penyesalan namun lega.

Keduanya… untuk sekian lama persahabatan mereka, kini tidak ada yang mengeluarkan suara saat mereka kembali di pertemukan. Hanya suara isakan Chanyeol yang perlahan-lahan terdengar ke permukaan. Dia menangis. Sesenggukan. Saat semuanya, ia harap sudah berakhir. Agar tidak ada lagi masalah yang akan menimpa sahabatnya itu. Ini sudah cukup. Bahkan berlebihan.

“Terima… kasih…” Terputus-putus, Chanyeol merasakan tenggorokannya amat pilu saat mengatakannya. “Kris… terima…” Tidak ada yang terdengar lagi setelah itu. Ucapannya terputus karena tangisnya terlalu deras hingga membuat pita suaranya tidak bekerja dengan baik.

Di tempat dimana dia berada sekarang, dia hanya bersyukur karena dia memiliki Kris. Seorang sahabat, seorang kakak laki-laki, seorang saudara, dan seorang pelindung. Pada semua waktu yang telah mereka habiskan, dalam suka maupun duka, pandangannya tidak pernah berubah. Kris adalah pemimpin. Yang sejatinya selalu menjadi tameng untuk adiknya dan sahabat-sahabatnya.

Baginya… Kris selalu seperti itu…

***___***

Chanyeol membuka pintu ruangan Baekhyun setelah dia mengantar Kris dan Yixing pulang agar mereka berdua bisa beristirahat. Sementara waktu, Kyungsoo akan berada di rumah mereka siang ini untuk memasak sesuatu.

“Kenapa kau menangis?”

Chanyeol mendongak, mencari sumber suara dan melihat Baekhyun sedang menatapnya bingung. Detik itu juga, matanya membulat lebar, “Kau bicara padaku?” dia menunjuk dirinya sendiri. Baekhyun mengangguk. “Kau mengenalku?”

“Park Chanyeol… iya kan?”

“B-bagaimana bisa?” Chanyeol tergagap. Bukankah seharusnya Baekhyun tidak mengingatnya, dia baru saja bangun dari tidurnya.

Baekhyun tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya, dia menunjuk Jongdae yang sedang duduk di kursi yang ada disampingnya. “Jongdae memberitahuku. Aku juga sudah membaca buku catatanmu.”

Kebahagiaan Chanyeol seketika memudar. Ternyata dari Jongdae.

“Jangan khawatir. Dia masih mengingat namamu saat dia terbangun tadi.”sahut Jongdae, matanya tidak terlepas dari buku yang dibacanya.

“Oh,” Chanyeol hanya bergumam pendek. Yah, Baekhyun hanya mengingat namanya dan tidak mengingatnya sama sekali. Pria bertubuh tinggi itu berjalan menuju sofa panjang, dan menjatuhkan diri disana,

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau menangis?”tanya Baekhyun lagi,

“Aku tidak menangis.” Sambil merebahkan tubuhnya, Chanyeol memejamkan matanya dengan desahan napas panjang.

“Matamu terlihat sembab.”

“Aku hanya kurang tidur.”

“Oh, kalau begitu istirahatlah…”

Tidak ada sahutan lagi dari Chanyeol, dia telah tenggelam dalam tidurnya. Lebih tepatnya pada kekecawaan yang tengah ia rasakan sekarang. Dia sudah mengetahui jika penyakit Baekhyun bertambah parah sekarang, bagaimana bisa dia mengharapkan pria itu sembuh dengan cepat? Rasanya mustahil.

Jongdae melirik dari sudut matanya kearah Chanyeol. Dia tau pria itu tidak sedang baik-baik saja. Entah apa yang sedang dia pikirkan dan rasakan sekarang. Tapi, bukankah ini adalah janjinya sendiri? Dia berjanji untuk menjaga Baekhyun dan dia harus menepatinya.

“Jongdae, bisakah kau mengupaskan ini untukku?” Baekhyun menyodorkan sebuah apel kearah Jongdae.

“Oh, oke.” Jongdae menutup bukunya lantas mengupaskan apel itu untuk Baekhyun.

***___***

Langkah-langkahnya terseret lemah melewati sebuah trotoar. Penampilannya terlihat kusut dengan rambut acak-acakan dan baju yang compang-camping. Dia bilang, dia hanya akan membeli segelas kopi sebentar, tapi tanpa disadarinya dia telah berjalan jauh dari rumah sakit.

Pikirannya berkecamuk hebat membuatnya mengalami sakit kepala yang tidak tertahankan. Namun, sekuat tenaga ia menguatkan kakinya untuk bertahan. Sedih itu masih ada namun dia memaksakan diri untuk bahagia.

Yah, dia bahagia. Kris sudah bebas dan kini dia bisa bersama dengan Baekhyun. Dia harus bahagia.

Saat kakinya membawanya menuju sebuah zebra cross, ia harus berhenti sesaat karena lampu hijau untuk kendaraan telah menyala. Berada dalam keramaian, juga beberapa pasang mata yang sedang menatapnya, Chanyeol sama sekali tidak merasakan ha litu. Jiwanya seakan dipaksa untuk pergi dan dia berada di luar kesadarannya. Dia berjalan seperti melayang, mempercayakan pada kakinya untuk menuntunnya.

Suara dari layar datar yang tergantung di sebuah gedung tinggi, satu-satunya alasan yang mampu membuatnya menoleh. Saat seorang pembawa acara wanita memberitakan bahwa seseorang dari Korea akan mewakili pertandingan Internasional Formula 1 dan akan pergi ke Jepang akhir minggu ini.

Sebuah wajah terpampang disana, bersambut dengan liputan-liputan tentang dirinya. Chanyeol menatap itu dengan selaput bening yang terbit di matanya. Dia tersenyum lirih. Sesaat setelah lampu lalu lintas berganti, Chanyeol meninggalkan semuanya. Dalam tangis yang seketika ia telan dan dalam keterpaksaan hatinya iuntuk bahagia.

Besok akan menjadi hari penentuan baginya. Seluruh warga Korea akan mengetahuinya. Dia akan mundur. Yah, dia akan menyerahkan surat pengunduran dirinya besok.

***___***

“Dimana Chanyeol? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?”tanya Baekhyun pada Kyungsoo dan Jongdae yang sedang menjaganya.

“Dia bilang dia ingin membeli kopi. Kenapa? Ingin sesuatu?”balas Kyungsoo, meninggalkan game di ponselnya dan menghampiri Baekhyun.

Baekhyun menggeleng, “Tidak. Aku hanya bertanya.”

Tiba-tiba, pintu ruangan Baekhyun terbuka. Seseorang datang sambil mendorong seseorang lagi yang sedang duduk diatas sebuah kursi roda. Baekhyun termenung sesaat menatap kedua orang itu kemudian mengetahui jika mereka adalah Yixing dan Kris. Yah, dia sudah membaca bukunya dan masih mengingatnnya.

Yixing tersenyum lebar, “bagaimana keadaanmu, Baekhyun?”

Walaupun Baekhyun mengetahuinya, namun eksoresinya tetap terlihat bingung, “Aku… baik-baik saja.”

Kris mengarahkan kursi rodanya sendiri mendekati ranjang Baekhyun. Menatap pria itu dengan senyuman tulus, “Hai, lama tidak bertemu.”

Baekhyun tertegun menatap seorang pria yang memiliki wajah blasteran itu. Menelusuri dari matanya jika dia benar-benar sahabat sejati Chanyeol. Dicatatannya, dia menuliskan jika Kris adalah orang paling bijaksana, dan pemberani yang pernah ia kenal. Kris adalah sahabat Chanyeol yang pada akhirnya mengakui kesalahannya karena rasa penyesalan. Yah, dia seperti perwujudan dari malaikat.

“Kris…” kata itu keluar dari mulut Baekhyun yang sebenarnya tidak bisa bergerak. Suaranya terdengar sangat pelan dan sedikit serak. “Kau…”

Kris mengangguk, “Aku sudah bebas. Tadi siang.”

“Kris…” Baekhyun kembali berseru, bola matanya mengarah ke bawah. Enggan menatapnya. “Aku memang tidak bisa mengingatnya dengan pasti. Hanya saja, terima kasih…”

“Kenapa kau berterima kasih?”

“Karena kau telah bertahan dalam rasa sakitmu sendiri selama bertahun-tahun. Terima kasih karena kau telah melindungi Chanyeol.”

“Tentu saja aku akan melindunginya, dia adalah temanku.”balas Kris yakin.

“Sudahlah. Ini sudah jam sepuluh. Kita harus memberikan waktu istirahat untuk Baekhyun.” Yixing mengakhiri pertemuan itu dan mulai merapikan selimut Baekhyun seperti yang sering ia lakukan. “Kau harus tidur sekarang karena kau tidak boleh lelah. Aku takut jika kau kelelahan, itu akan berpengaruh terhadap reaksi panikmu. Kau sudah minum obat, kan?”

Baekhyun mengangguk, “Yah, Jongdae dan Kyungsoo memberiku obat setiap saat.” Ia tertawa lirih.

“Bagus.” Yixing mengulurkan kedua tangannya dan memegang lengan Baekhyun, menidurkannya. “Tidurlah.” Lalu ia menatap yang lain. “Kalian bisa ke ruanganku sebentar. Ayo minum kopi.”

Jongdae menarik punggungnya dari dinding dan menatap Baekhyun khawatir, “Aku akan ke ruangan Yixing sebentar. Tidak apa?”

“Tentu saja. Aku akan pergi tidur.”

Jongdae, Kyungsoo, Kris dan Yixing meninggalkan ruangan Baekhyun dan menuju ruangan Yixing untuk sekedar mengobrol. Tidak hanya sekedar sebenarnya, namun Kyungsoo memang memiliki sesuatu yang harus dia bicarakan dengan teman-temannya. Yah, ini penting. Tentang Chanyeol.

Sesaat setelah pintu di tutup. Keheningan seketika mendominasi ruangan serba putih itu. Seluruhnya diam, seperti merasakan hal yang sama dalam hati. Enggan mengucapkan namun harus diselesaikan.

“Sebenarnya…” Kyungsoo membuka suara lebih dulu. Menatap teman-temannya satu-persatu sebelum akhirnya ia menghela napas panjang. “…ini tentang Chanyeol.”lirihnya pelan. “Ada sesuatu yang harus aku katakan pada kalian.”

Tetap hening. Mereka semua menunggu lanjutan ucapan Kyungsoo.

“Chanyeol…” ia menundukkan kepalanya sedikit. “Dia tidak akan jadi pembalap lagi. Dia menyerah…”

Dan berikutnya, mereka semua membulatkan mata mereka bersamaan. Dimana Yixing yang semula berdiri di dekat jendela menjadi menarik dirinya agar lebih dekat dengan Kyungsoo. Ekspresinya sama. Terkejut bukan main.

“Apa yang kau katakan, Kyungsoo?” Yixing menatap Kyungsoo lekat-lekat.

“Chanyeol memutuskan untuk berhenti. Sudah beberapa hari ini dia tidak pergi latihan dan tidak menjawab panggilan telepon dari pihak team-nya. Dia melarikan diri.”

“Tapi kenapa?! Bukankah itu adalah hal yang diinginkannya?! Kenapa dia menyerah?!”tanya Kris bertubi-tubi. “Apa yang sedang dia lakukan sebenarnya?!”

“Baekhyun.”suara Kyungsoo terdengar serak. “Dia melakukan ini karena Baekhyun.”lanjutnya lagi. “Saat seseorang berada dalam penyesalannya yang hebat, dia akan terpuruk dan melakukan apapun untuk mengembalikan semuanya. Chanyeol ingin menebus semuanya dengan cara menjaga Baekhyun dengan baik. Karena hanya dia yang diingatnya. Dia tidak ingin pergi meninggalkannya.”

“Aku bisa menjaganya!” Yixing mengguncang bahu Kyungsoo. “Aku bisa menjaga Baekhyun dengan baik! Tidak bisakah dia percaya padaku dan hanya pergi untuk meraih mimpinya?!”

Kyungsoo mengangkat wajahnya pelan, kemudian menggeleng, “Aku sudah mencoba untuk membujuknya namun dia tetap keras kepala.”serunya. “Dia tetap tidak ingin pergi.”

Bersamaan dengan itu, di luar ruangan, Baekhyun menutup pintu ruangan Yixing perlahan dengan tangis tertahan yang mulai meluap keluar. Jadi, Chanyeol akan mengorbankan mimpinya untuk dirinya? Jadi, Chanyeol akan meninggalkan semuanya di belakang, dan melupakannya dengan mudah?

Berjalan menuju ranjangnya, Baekhyun menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut. Jika saja dia tidak memiliki penyakit ini, jika saja dia tidak kehilangan ingatannya dan membebani Chanyeol. Semuanya tidak akan seperti ini. Dia tidak akan menjadi beban untuk Chanyeol.

Mungkin ini adalah akhirnya saat Baekhyun harus bertahan diatas kakinya sendiri, berjuang seorang diri saat kepanikannya kembali kambuh dan kekosongan itu mendominasi hatinya. Dia sangat tau bagaimana rasa takutnya saat dia merasa tidak mengenal siapapun dan hanya mengingat nama Chanyeol. Semuanya terlihat menakutkan dan dia tidak memiliki pegangan selain Chanyeol.

Dulu, Chanyeol selalu bergantung padanya dalam segala hal namun kini kebalikannya. Dia adalah satu-satunya orang yang begitu bergantung pada Chanyeol. Kenapa hanya dia? Dia memiliki Jongdae. Kenapa bukan Jongdae?

Saat tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Baekhyun, dia hanya membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Saat disadarinya dia tidak memiliki impian apapun ke depannya, tentang apa yang akan terjadi pada dirinya di beberapa tahun mendatang, dia pikir ini tidak adil jika Chanyeol melepaskan mimpinya. Dia telah memiliki itu sejak lama dan berusaha untuk mewujudkannya.

Perlahan, tangannya terulur dan dia meraih buku catatannya juga catatan yang dibuat oleh Chanyeol. Jika Chanyeol bisa mengorbankan mimpinya demi dirinya, mungkin dia juga bisa melakukan hal kecil untuk menebusnya.

Saat dibacanya catatan yang dibuat oleh Chanyeol sekali lagi. Dia baru menyadari – atau mungkin catatan itu ada sejak dulu tanpa disadarinya – di halaman terakhir buku itu, Chanyeol menuliskan beberapa catatan.

Saat kau membaca buku ini di halaman terakhir, mungkin kau akan melupakan ini di keesokan harinya. Jika kau mengetahui aku bekerja keras untuk membuat buku ini dan tidak tidur semalaman, aku berharap kau bisa mengingat hal-hal yang terjadi kemarin.

Ini aku. Aku adalah hantu. Aku ada di dunia maya. Di hidupmu yang nyata, kau memiliki Jongdae. Selalu memilikinya. Saat takdir memutuskan untuk memindahkanku di dunia nyata dan sekali lagi bertemu denganmu, aku pikir itu adalah keajaiban. Dan mungkin kita memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat.

Saat ikatan persahabatan tidak normal itu menjadi normal. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir jika persahabatan normal itu cukup sulit untuk dijalani. Tapi, seluruhnya, aku bisa melewati hal itu karena kau tidak pernah berubah. Selalu menjadi semangatku.

Aku sengaja menyelesaikan ceritaku pada pertengahan halaman dan menulis catatan ini di halaman terakhir karena berharap kau bisa menemukannya. Aku senang kau tidak pernah melupakanku, itu adil, karena saat aku membuka mata, aku juga tidak melupakanmu.

Bukankah ini seperti dejavu? Dulu kau membantuku untuk meraih tujuanku. Sekarang kau juga membantuku untuk meraih tujuanku yang baru. Ini bukan tentang impian melainkan persahabatan. Jika kau mempercayainya, keinginanku akan mimpi itu tidak sebanding dengan ikatan persahabatan kita. Anggap saja ini adalah imbalan karena kau tidak pernah melupakanku.

Saat kau menemukan catatan ini, tolong jangan ungkit ini ketika bertemu denganku. Segeralah tidur dan lupakan semuanya pada keesokan harinya. Aku tidak akan lelah memberitahumu tentang siapa kau, aku dan mereka.

Tentang siapa Byung Baekhyun dan Park Chanyeol itu.

Baekhyun, ayo mulai segalanya dari awal. Aku akan membantumu.

Baekhyun membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangan bersamaan buku catatannya yang melunglai jatuh ke pangkuannya. Apa maksudnya semua ini? Chanyeol… mimpinya… apa dia akan benar-benar mengorbankannya?

Setelah rasa sakit yang ia alami akibat depresi karena tidak mampu mengingat apapun, ini adalah rasa sakit susulan yang ia rasakan malam itu. Kenapa? Kenapa dia harus berkorban atas mimpinya yang telah lama ia inginkan?

Saat menyadari jika dia adalah sosok yang penting bagi Chanyeol bahkan mengalahkan impiannya sendiri, hati Baekhyun justru terasa semakin sakit begitu mengingatnya. Semua ini tidak adil bagi seseorang yang telah menderita sekian lama dalam hidupnya. Semua ini benar-benar tidak adil jika untuk kesekian kalinya, dia merasakan rasa sakit lagi akibat kehilangan kesempatan.

Awal yang ia inginkan dan senyuman yang perlahan bisa diingat oleh Baekhyun ketika pria tinggi itu mengatakan hal-hal yang berbau balap, dia bisa merasakan jika jiwanya memang ada disana. Dia tidak boleh menyerah.

Baekhyun menghusap air matanya dengan lengan baju, mencoba menghentikan air matanya yang terus-menerus jatuh membasahi pipinya. Tidak ada gunanya untuk menghentikan semua itu, ataupun menghusapnya hingga kering. Air matanya telah menyatu dengan hatinya yang terasa pilu akibat semua ini.

Kenapa baru hari ini? Kenapa tidak sejak dulu ia menemukan catatan itu dan menghentikan Chanyeol? Kenapa baru malam ini?

Baekhyun menepis selimutnya lalu berlari meninggalkan ruangannya dan menuju ruangan Yixing lagi. Dia tidak menyadari jika sejak tadi, jarum infus sudah terlepas dari lengannya meninggalkan jejak darah di selimut putihnya dan bercak darah kering di sekitar lengannya.

Baekhyun pergi kesana tanpa alas kaki, seperti mati rasa dengan hawa dingin yang bisa dirasakan mampu menggigit tubuh.

Begitu ia membuka pintu ruangan, Kris, Yixing, Kyungsoo dan Jongdae masih disana dengan mata terbelalak lebar melihat sosok Baekhyun dengan wajah sembabnya.

“Dimana Chanyeol?”lirihnya memandang semua orang.

Yixing pikir, Baekhyun mengalami histeria lagi sehingga ia langsung menghampirinya dan mencekal kedua lengannya.

“Baekhyun, kau panik lagi? Tenang… Chanyeol akan segera datang. Tenanglah.” Ia menghusap-husap lengan Baekhyun, tangan kanannya diam-diam memberikan isyarat pada Jongdae untuk mengambilkan suntikan obat penenang yang ada di atas mejanya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku, Yixing?” Baekhyun menatap Yixing dalam-dalam, sorot pedih menyapu seluruh matanya membuat Yixing seketika terenyak. Tidak. Dia tidak mengalami histeria.

“Baekhyun…”

“Kenapa kau tidak memberitahuku jika Chanyeol ingin melepaskan impiannya demi aku?”

Mata Yixing sontak membulat, “Apa yang kau katakan? Chanyeol hanya pergi untuk membeli kopi sebentar.”

“Jangan membohongiku lagi. Kau sudah banyak melakukannya karena kau adalah seorang dokter dan aku adalah pasien.”balas Baekhyun tetap menuntut. “Tolong anggap aku adalah sahabatmu sekarang. Tolong katakan yang sebenarnya.”

“Baekhyun, kau tau kondisimu tidak memungkinkan untuk mendengar hal seperti ini, kan?” Jongdae ikut membujuk, “Biar ku antar kau ke kamar.”

“Apa aku harus memohon agar kalian mau mengatakannya?” suara Baekhyun semakin bergetar. “Tolong berhenti memikirkanku dan membiarkan sahabat kalian yang lain. Apa kalian meremehkanku? Aku juga bisa sembuh tanpa Chanyeol. Aku akan berusaha menjalani berbagai terapi. Aku berjanji.” Ia mengangguk mantap, air matanya semakin menetes deras. “Aku mohon. Jangan fokuskan semua hal padaku lagi. Hal itu membuatku semakin merasa jika aku tidak berguna dan merepotkan. Tolong perlakukan aku seperti dulu. Bisakah?”

Kris mendorong roda kusinya mendekati Baekhyun yang sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menatap pria mungil itu dengan senyuman lirih sarat rasa terharu dan terima kasih.

Ia mengulurkan tangannya, menggenggam salah satu lengan Baekhyun.

“Asalkan kau berjanji, kau bisa sembuh. Ayo lakukan ini bersama-sama.”

Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap Kris sambil menangis.

“Tidak ada yang bisa ku katakan padamu selain ucapan terima kasih. Aku tidak menemukan kata-kata yang tepat selain kata itu. Terima kasih, Baekhyun. Benar-benar terima kasih.”

***___***

Ada banyak orang-orang yang berkorban. Dan kali ini giliran Yixing yang akan melakukannya. Dia mengubah pikirannya yang semula ingin melanjutkan studi sebagai dokter spesialis penyakit dalam menjadi seorang psikiater. Daripada menyembuhkan orang-orang sakit lainnya, dia pikir dia ingin menyembuhkan Baekhyun terlebih dahulu.

Kemampuannya yang hanya sekedar menjadi psikolog, dia pikir tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit mental Baekhyun. Lagipula, semua bidang yang akan ia jalani adalah hal yang baik. Kris juga mendukung keputusannya itu.

Pagi itu, angin berhembus lumayan kencang. Menerbangkan daun-daun kering dan ranting pohon yang berserakan di taman rumah sakit. Sejak semalam, Baekhyun bersikeras untuk tidak tidur dan menunggu Chanyeol hingga dia pulang.

Tanpa mengenakan alas kaki dan hanya piyama rumah sakit yang membalut tubuhnya. Yixing pikir dia adalah pria yang sangat kuat. Tidak ada gunanya untuk melarangnya karena dia akan terus duduk disana menunggu Chanyeol.

Sejak semalam juga, dia hanya berdiri dari balik jendela ruangannya memperhatikan Baekhyun. Tak lama, Jongdae yang mungkin merasa putus asa dengan kekeras kepalaan Baekhyun datang sambil melepaskan alas kakinya dan memberikannya untuk Baekhyun.

Entah apa yang mereka bicarakan namun sepertinya Baekhyun mengucapkan terima kasih setelah itu.

Menarik dirinya ke belakang, Yixing menutup tirai jendelanya saat mengetahui seseorang datang. Yah, akhirnya dia datang, dengan mata membulat lebar dan keterperangahan yang hebat.

***___***

Chanyeol menemukan Baekhyun sedang duduk seorang diri di taman rumah sakit di pagi yang bahkan matahari belum muncul sepenuhnya. Ia terkejut, mendapati wajah pucat sahabatnya itu dan tanpa infus.

“Apa yang kau lakukan disini, Baekhyun?!”

Ia langsung menghampiri pria mungil itu, mengguncang tubuhnya lantas menarik lengannya untuk bangkit. Baekhyun menahannya sambil menggeleng.

“Aku menunggumu disini.”

“Menungguku? Untuk apa? Aku sudah kembali jadi ayo kita masuk. Kau bahkan tidak memakai jaket.”

“Chanyeol…” panggil Baekhyun membuat Chanyeol menoleh sekali lagi. “Kenapa kau baru kembali? Kau bilang kau hanya membeli segelas kopi.”

“Astaga!” Chanyeol sontak terkejut, ia menjatuhkan diri disamping sahabatnya itu dan menatapnya lekat-lekat. “Kenapa kau masih mengingatnya?! Kau belum tidur?!”

“Chanyeol, sama seperti dirimu yang tidak tidur semalaman karena membuatkan buku catatan untukku. Aku pikir aku bisa melakukan hal yang sama.”

“Baekhyun, apa yang sedang kau lakukan, hah?!” Chanyeol berubah panik namun Baekhyun hanya tersenyum tenang.

“Aku sudah melakukan hal yang berat, bisakah kau mengabulkan keinginanku?”

“Baekhyun, aku sedang tidak ingin bercanda! Dimana yang lain? Kenapa membiarkanmu?”

“Bisakah?” ulang Baekhyun lagi seperti tidak mendengar ucapan Chanyeol.

Chanyeol langsung terdiam begitu ia menatap mata teduh Baekhyun yang sudah terlihat lelah namun masih memaksakan diri untuk bertahan. Ketulusan terpancar di mata mungilnya membuat Chanyeol tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mendengarkannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin kau pergi.”lirih Baekhyun namun dengan jelas didengar oleh Chanyeol. “Pergilah.”

Chanyeol menelan ludah, “Kau ingin aku pergi?”

Baekhyun tersenyum, “Buktikan padaku jika kau bisa menggapai impianmu dan aku akan membuktikan jika aku juga bisa sembuh dengan usahaku sendiri.”

“Aku tidak bisa pergi.” Chanyeol menggeleng. “Kau hanya mengingatku.”

“Aku akan berusaha untuk mengingat Jongdae juga. Tidak hanya kau.”

“Aku tetap tidak ingin pergi.”

“Aku sudah melakukan hal yang berat, aku ingin kau mengabulkan permintaanku.”

“Kita tidak pernah menyepakati tentang ini.”balas Chanyeol cepat disusul dengan gelengan. “Aku tidak akan pergi, kau dengar?!”tandasnya.

“Aku sengaja tidak tidur agar aku bisa mengingat semuanya. Jika aku tertidur dan bangun, aku akan berubah menjadi seseorang yang tidak berperasaan lagi. Aku akan terus memintamu untuk berada disampingku dan menceritakan hal-hal yang telah aku lupakan. Aku tidak ingin menjadi seperti itu. Dalam kesadaranku yang sekarang, aku tidak ingin menjadi egois.”

“Aku sudah memutuskannya, Baekhyun. Aku tidak akan pergi.”

Baekhyun tersenyum kecut, “Tolong bantu aku untuk membuktikan jika aku bukan pria ceroboh yang tidak bisa melakukan apapun, Chanyeol. Walaupun nantinya aku sembuh dan bisa mengingat segalanya, hidupku tidak akan tenang jika aku tidak menyuruhmu untuk pergi saat ini. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari.”

“Baekhyun, aku—“

“Chanyeol…” potong Baekhyun cepat. “Cepat katakan iya karena aku sudah mengantuk.” Ia memohon menatap Chanyeol dengan matanya yang semakin meneduh. “Pergilah sebelum aku bangun dari tidurku. Jangan pernah menoleh bahkan kembali walaupun aku berteriak memanggil namamu sekalipun. Jangan pernah menghubungiku atau menanyakan kabarku. Pergilah…”

Chanyeol mulai merasakan wajahnya memanas, “Apa kau membenciku?”

“Tidak.” Baekhyun menggeleng. “Justru sebaliknya.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa hidup dengan tenang disana?”

“Cobalah untuk tidak memikirkan keadaanku. Pikirkan seakan-akan kau tidak memiliki apapun untuk dikhawatirkan. Itu akan lebih baik jika kau memenangkan pertandingannya.”

“Baekhyun…” suara Chanyeol bergetar hebat.

“Ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi.”

Baekhyun berbalik, meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri terpaku ditempatnya tanpa memberikan kesempatan untuk mengatakan apapun lagi. Sebaiknya begini, dia tidak ingin mendengar apapun lagi.

Berjalan dengan cepat menuju ruangannnya sendiri, Baekhyun menyembunyikan tangisan hebatnya dan tidak menoleh lagi. Begitu juga Chanyeol, yang hanya terdiam membisu di tempatnya. Yang bisa ia lakukan, hanya memandangi punggung Baekhyun hingga menghilang.

Yang pernah ia dengar dari janji yang diucapkan oleh Tuhan, Dia akan mengganti semua air mata, kerja keras dan pengorbanan dengan kebahagiaan yang berlimpah. Ia harap nantinya dia akan mendapatkannya.

***___***

Taman rumah sakit itu terlihat sunyi. Hanya suara daun-daun kering yang bertabrakan dengan ranting sesekali mengusik kesunyian tempat itu.

Dua hari berlalu tanpa histeria apapun juga kabar dari Chanyeol yang tiba-tiba pergi. Tidak ada yang mengetahui apa yang sudah terjadi karena Baekhyun langsung tertidur setelah itu, juga ponsel Chanyeol yang tidak pernah aktif lagi.

Tidak khawatir, Yixing tau apa yang telah Baekhyun perbuat untuk Chanyeol juga usaha-usahanya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dia masih kehilangan kemampuan mengingat memori jangka pendeknya, namun dia tidak lagi merasakan panik seperti dulu.

Sejak hari itu, dia juga rajin menulis buku catatannya dan membacanya lagi jika dia melupakannya. Tanpa sadar, semangatnya untuk sembuh ia lakukan.

Seminggu berlalu, Yixing memperbolehkan Baekhyun untuk pulang dan melakukan rawat jalan. Dia pergi ke universitas untuk menyelesaikan pelajarannya. Juga rajin mengunjunginya seminggu sekali pada hari libur.

Hari berlalu, tanpa kehadiran Chanyeol ditengah-tengah mereka juga kabarnya. Dia menghilang dan tidak pernah muncul di televisi. Hari juga berlalu, tanpa mengetahui isi hati Baekhyun yang sebenarnya. Apa dia masih mengingat sosok itu atau tidak. Dalam keterdiamannya, dia menyimpan semuanya sendiri.

Tidak ada yang mengetahuinya, saat ia berbalik waktu itu. Ia menangis sambil berujar kecil yang tidak pernah terdengar oleh Chanyeol.

Pergilah… Selesaikan semuanya… Setelah itu kembali… Aku akan menunggumu…”

Bersamaan waktu yang terus berjalan, Amnesia Anterograde itu menyapu dan menguburnya semakin dalam….

END

53 thoughts on “FF: Ghost Rider (Part 22) END

  1. hvirus berkata:

    authornim ini bener-bener sedih T.T
    Persahabatan emang sederhana tapi sebenernya tidak sesederhana itu. Aaaaaa, author jjang! T.T

  2. Llrz berkata:

    Astaga, ini friendship banget.. maaf authornim karena review di chapter terakhir. Hehe.. daebak banget pokoknya ff ini ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s