Drop

2014-10-27_20.24.27[1]

|| Tittle : Drop || Author : Maudyhan(@356Dy) || Length : Oneshoot || Genre : Sad, Hurt, Romance (?) || Main cast : Luhan– Han Haneul (OC)|| Desclaimer : made by me! ||

Note : Maaf bila ada typo, tulisan yang bercetak miring itu adalah flashback. Satu lagi, makasih yang udah mau baca ff aneh ini. Dan comment juseyo~ ^^

***

“Jika suatu saat nanti aku tidak mengingatmu jadilah orang yang kucintai untuk kedua kalinya”

-Luhan-

Saat ini Luhan tengah berdiri di kerumunan orang-orang yang mengelilinginya.Ia menunggu seseorang agar menolong gadis yang tengah berlutut di depannya juga membawa gadis ini pergi menjauh darinya. Ia bosan jika hampir setiap kali bertemu dengan gadis ini selalu meminta sesuatu yang ia tidak pahami. Seharusnya kepada ayahnya lah gadis itu meminta, tapidefinisinya dia adalah anak dari seorang yang ia panggil ‘ayah’ yang otomatis melalui dirinya lah gadis ini memilih cara untuk menyampaikan permintaannya pada ayah Luhan. Sebenarnya Luhan masih tidak mengerti kenapa gadis ini masih tetap berteguh diri untuk meminta bantuan padanya. Yang bahkan ia tak merasa malu ketika berlutut dihadapannya.

“Sudah kukatakan kan, jangan meminta sesuatu yang bukan urusanku. Apa kau masih tak mengerti? Atau kau tuli ?”

Menunduk.Itulah yang gadis ini masih lakukan sejak sepuluh menit lalu masih tak berani mengangkat kepalanya. Dia benar-benar harus menahan rasa malunya demi sang ayah. Setidaknya ia harus kuat menahan malu agar ayahnya dibebaskan dari balik jeruji besi. Karena ia yakin ayahnya tidak bersalah, ayahnya adalah orang baik.

Beberapa detik gadis ini diam lalu menarik nafas sambil menggigit bibirnya menghilangkan rasa gugup pada dirinya.

“Tapi kumohon tolong aku sekali ini saja.Aku sudah berusaha tapi harapan satu-satunya hanya kau”

“Aku?Kenapa harus aku? Yaampun apa kau tidak malu melakukan hal seperti ini? Apa ka

“Ayahmu hanya salah paham pada ayahku.Ayahku tidak bersalah. Dia seharusnya tidak di penjara !”

Luhan mengerutkan halisnya bingung sekaligus terkejut.Gadis itu membentaknya dan langsung berdiri dari posisi berlututnya.Tak da yang berani bersuara lagi ketika gadis ini berteriak.Setelah itu Luhan mulai berbicara kembali.Sikapnya kembali normal setelahnya.

“Aku tidak mengerti Haneul. Sungguh! Apa maksudnya ayahku salah paham pada ayahmu? Dan tak bisakah kau tidak membicarakan ini disekolah? Kau tahu keadaannya sekarang seperti apa kan?”

Sikap Haneul kini mulai melunak lalu iamelihat ke sekelilingnya. Lalu ia sadar tidak seharusnya ia membicarakan hal pribadi disaat keadaan seperti ini. Sebelumnya ia tak menyadari jika sikapnya seperti ini.

“Aku akan menceritakan apa masalahnya padamu nanti.Aku hanya meminta bantuanmu sekali aja, aku berjanji akan membalasnya dengan apapun yang aku bisa. Kumohon..”

Haneul dan Luhan saling menatap diam mencoba mengerti dari ekspresi masing-masing.

Saat Luhan menatap Haneulia melihat mata yang menyiratkan sebuah kesedihan dan rasa lelah. Lalu sekarang ia sadar jika Haneul benar-benar membutuhkan bantuannya. Soal seperti apa bantuan yang ia kerjakan nanti itu adalah urusan yang kedua, yang terpenting ia berniat untuk menolongnya.

Ketika Haneul menatap Luhan ia berpikir tak ada harapan lagi untuknya. Ia tidak bisa menolong ayahnya. Itu sebabnya ia kembali menunduk pasrah dan mulai lelah dengan semuanya.

“Baiklah, ceritakan masalahnya padaku nanti. Aku mungkin akan mencoba menolongmu. Sekarang kembalilah ke kelas, jangan pernah mempermalukan dirimu sendiri lagi”

Lalu Luhan berbalik ketika Haneul mengangkat kepalnya terkejut dengan keputusan yang ia berikan.

“Terimakasih”

Luhan berhenti sejenak lalu berjalan kembali. Setelah itu semua kerumunan murid kembali pada tempatnya masing-masing. Sebagian masih menatap Haneul aneh.Tapi semuanya kembali seperti yang seharusnya.Tenang.

Ditempatnya Haneul tersenyum, bersyukur setidaknya masih ada orang yang peduli padanya.Ia berharap ayahnya bisa bebas. Dan kembali pada keluarganya lagi.Semoga saja.

Dulu hidup Haneul tak seburuk ini, ia cukup bahagia hanya bersama keluarganya. Saat ayahnya masih bersamanya ia tidak perlu kerja paruh waktu yang membuat jam belajarnya terkuras. Hanya demi untuk makan saja saat ini ia perlu banting tulang dengan bekerja paruh waktu di toko makanan cepat saji.Kepergiaan Ibunya ketika tahu ayahnya adalah sebagai seorang terdakwa membuatnya pergi membawa kakaknya secara tiba-tiba meninggalkan dirinya bersama sang ayah. Saat itu Haneul masih ingat ketika tiga tahun lalu kakaknya menyuruhnya untuk bersembunyi di lemari dan tidak di ijinkan keluar sebelum dia kembali. Haneul terus menunggunya hingga pada akhirnya ia menyerah untuk terus bersembunyi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika ia keluaria melihat ayahnya tiba-tiba di bawa oleh dua orang berseragam sama dan kedua tangan ayahnya telah terkunci oleh dua besi yang yang saling menyatu. Dan malam itu juga Haneul sadar jika ia telah kehilangan keluarganya. Ibu dan kakaknya pergi tanpa alasan yang jelas, lalu ia berpikir jika Ibu dan kakaknya adalah orang yang telah mengkhianati dirinya dan ayahnya. Tapi bagaimanapun keriduan sebagai seorang anak dan sebagai seorang adik adalah hal yang tidak bisa Haneul benci dari dulu.Dia merindukan kasih sayang dari ibu dan kakaknya.

-o-

“Sekarang ceritakan”

Haneul menatap lurus pada orang yang tengah berdiri dihadapannya sekarang.Sedikit membuang nafas sebelum memulai bicara.

“Ayahku, dia tidak bersalah..”

Luhan mengangkat alisnya tinggi.Masih bingung.

“Lalu?”

“Kau tahu kan ayahmu dan ayahku itu dulu adalah teman dekat.Yang karena kesalahpahaman ayahmu membuat ayahku dipenjara.”

Luhan mulai bosan dengan cerita Haneul yang terlalu bertele-tele tidak langsung ke intinya.

“Iya Iya aku tahu, bisa kau langsung ke intinya saja?Sampai kapan kita harus berdiri dia atas balkon sekolah sedangkan cuaca sedang dingin?Kau ingin kita mati beku disini?”

Haneul terus bertanya dalam hati terbuat dari apa mulut Luhan ini sehingga begitu cerewet.

“Baiklah, tentang kematian kakak perempuanmu.Ayahku tidak ada sangkut pautnya dengan itu.Hanya saja semua bukti itu terlalu dekat dengan ayahku sehingga membuat ayahmu salah paham. Sekarang bagaimana bisa ayahku membunuh Vict unnie jika saat itu ia sedang bersama ayahmu? Apakah itu masuk di akal?”

Belum ada respon apapun dari ekspresi Luhan sekarang.Lalu Haneul kembali berbicara.

“Aku tidak mengerti maksud ayahmu membuat ayahku dipenjara. Aku tidak ingin berpikiran buruk, sungguh! Bagaimanapun juga ayahmu sudah terlalu baik pada keluargaku, tapi aku tidak percaya jika ayahmu akan seperti ini. Aku selalu mencoba meminta ayahmu untuk menjelaskan apa sebenarnya salah ayahku, tapi itu sia-sia. Jadi bisakah kau membantuku memberi penjelasan dan meyakinkan ayahmu jika ayahku tidak bersalah?”

Setelah itu Luhan mulai mengerti apa yang dibicarakan, dan berhubungan tentang kematian kakaknya ia tahu jika ia terlalu acuh pada masalah yang terjadi tiga tahun lalu. Saat itu ia terlalu larut dalam kesedihan hingga tidak tahu jika kakaknya adalah tewas dibunuh dan pada saat sehari sebelum kematian kakaknya ia memang sedang berada di china bersama ibunya. Yang ia tahu hanya kakaknya meninggal karena kecelakaan bukan dibunuh. Ayahnya sendiri yang memberitahunya.

“Kakaku..dia meninggal karena dibunuh?”

“Kau tidak tahu?”Ia diam sebagai jawaban ya. Dan Haneul mulai curiga, jika semua ini mungkin sudah direncanakan.

-o-

 

Ayah aku hanya ingin tahu tentang kematian Vict noona, sesuatu apa yang ayah sembunyikan dariku selama tiga tahun ini? Aku punya hak untuk tahu

“Kau tidak berhak tahu”

“Kenapa?”

“..karena, kau tak sedarah dengannya. Kau hanya seoranganak yang aku ambil dari panti asuhan”

“Ayah..” Luhan tercekat kaget dengan apa yang ayahnya lontarkan. Dia sama sekali tidak pernah menyangka jika dia adalah seorang anak angkat. Ibunya, dan kakaknya sendiripun tidak pernah memberitahunya. Tapi saat umurnya enam belas tahun ia ingat kakaknya pernah mengatakan sesuatu yang saat itu ia masih belum mengerti.

“Jika di masa depan nanti sesuatu terjadi, kau tetap adalah adikku”

Dan sekarang ia mengerti apa yang dimaksud kakak nya dulu.

“Kau sudah sembilan belas tahun Luhan, seharusnya kau sudah mulai dewasa.Dan sewajarnya kau tahu ini, jadi berhentilah bermain-main.Sekarang kembali ke kamarmu dan belajar!”

Luhan hanya bisa menurut, karena ia tahu bagaimana jika ayahnya marah. Tapi langkahnya terhenti ketika akan membuka pintu.

“Han ajusshi, apakah ayah yakin jika dia adalah orangnya?”

Ayahnya terdiam tak menjawab tapi dia mencoba setenang mungkin dan menjawab pertanyaan anaknya.

“Apa yang kau bicarakan?”

Luhan menyeringai membelakangi ayahnya. Cara bicara ayahnya ia anggap sebagai jawaban jika ayahnya memang menyembunyikan sesuatu. Setelah itu ia berlalu pergi dari ruang kerja ayahnya tanpa pamit dan sedikit membanting pintu. Baru kali ini Luhan tak sopan pada ayahnya.

 

-o-

Haneul terduduk di kursi taman menunggu seseorang yang akan ia temui sejak dua jam lalu. Ia tahu ini sangat keterlaluan membuat seorang wanita menunggu selama dua jam adalah bukan sesuatu yang baik menurutnya. Tapi bagaimanapun jugaia harus tetap sabar untuk ayahnya. Lalu tiba-tiba Luhan duduk disampingnya dengan nafas yang tak beraturan.Untuk beberapa menit Haneul diam membiarkan Luhan bernafas dengan stabil dulu sambil menatapnya dengan aneh.

“Kenapa? Kau tahu kan jika membiarkan wanita menunggu itu tidak baik”

“Aku kabur”

“Kauapa?!”

“Aku ikut menginap di rumahmu ya. Ayahku akan membunuhku jika dia tahu aku kabur”

“Hey!kenapa kau seenaknya saja? Kau kira rumahku adalah sauna apa? “

Luhan memperpendek jarak dengannya.Yang membuat Haneul sedikit bergeser duduk.

“Kau bilang jika aku membantumu kau akan membalasnya dengan apapun”

Seketika Haneul ingat kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya. Dia memang akan memberinya apapun tapi tak akan menyangka jika Luhan akan memintanya ini. Lain kali Haneul akan lebih berhati-hati dalam berkata.

“Itu tapi

“Ayolah…aku tidak akan berbuat macam-macam. Juga ada hal yang ku inging beritahu”

Untuk beberapa detik keheningan menyelimuti mereka.Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing hingga salah satu dari mereka mengakhiri keheningan.

“Baiklah, kau boleh menginap dirumahku.Tapi itu hanya untuk sementara, dan jangan melakukan hal yang macam-macam.Kau mengerti?”Luhan mengangkat dua jari tangan membentuk huruf V sambil mengangguk.

“Ayo pulang kerumahmu dan makan ! Saat aku pergi aku belum sempat mengisi perutku”

“Yaampun kau begitu menyusahkan”

“Hehehe”

-o-

“Aku bukan anak kandung. Ayah bilang aku di adopsi dari panti asuhan”

Hanya suara dentingan sumpit dan sendok milik Luhan yang masih terdengar sejak ia melontarkan kalimat itu, dengan santainya ia memakan makanannya. Haneul masih merasa terkejut dengan apa yang Luhan katakan, bagaimana bisa ia menceritakan hal yang seharusnya menjadi rahasia keluarganya. Haneul mungkin akan berpikir, memangnya siapa dia hingga Luhan mau menceritakan hal itu. Dia dan Luhan bukanlah teman dekat, mereka hanya tahu nama satu sama lain tidak lebih. Baik Haneul dan Luhan sebenarnya bukan tipe orang yang suka begaul, bukan berarti mereka terlalu dingin terhadap semua orang.Tapi ketakutan ditinggalkan oleh orang yang mereka sayangi lah penyebab mereka seperti itu.

“Aku sudah selasai makan, kalau begitu aku tidur duluan”

“Kenapa kau menceritakannya padaku?”Untuk sesaat Luhan terdiam memikirkan kata yang tepat.

“Karena aku tidak punya teman yang benar-benar mengerti…aku”

-o-

Pagi ini, tepatnya minggu pagi Haneul sudah sibuk menjemur pakaian di halaman belakang rumahnya. Hal yang biasa Haneul kerjakan saat akhir pekan dan saat sore baru ia akan memulai kerja paruh waktunya. Terkadang ia sering menyempatkan diri datang mengunjungi ayahnya. Setelah tiga tahun sendirian semuanya menjadi berubah, ialebih dewasa dan mandiri. Dan sekarang Haneul mulai bernostalgia kembali ke masa lalu saat kakaknya dan ibunya masih bersamanya.

“Haneul-ah!coba tangkap aku!”

“Oppa!larinya jangan cepat-cepat!”

“Baiklah sekarang giliran oppa saja yang mengejar”

Haneul kecil lalu berbalik dan berlari kearah ibunya yang sedang menjemur pakaiannya.

“Kenapa Haneul lari-larian?”

“Ibu tolong aku!Kibum oppa mengejarku, aku harus sembunyi dimana ya?”

“Ah dimana ya? Bagaimana jika

“Waa Kibum oppa datang aku harus lari bu! Sampai jumpa ibu”

Ibu Haneul hanya tertawa pelan melihat tingkah Haneul. Lalu ia kembali pada aktivitas sebelumnya sambil terus mengawasi kedua anaknya bermain.

“Sedang apa?”

Haneul tersadar dari lamunannya saat suara Luhan terdengar.Ia melihat bagaimana rupa Luhan sekarang, rambut yang berantakan, kaos yang melorot sebelah dan mata yang sedikit berkantung. Yeah itu persis ciri-ciri orang setelah bangun tidur.Haneul tersenyum simpul.

“Menjemur, tidurmu nyenyak?”Luhan mengangguk.

Haneul selsai dengan aktivitasnya menjemur lalu masuk ke dapur sedangkan Luhan mengikuti di belakang.Ia membuka kulkas melihat isinya yang hampir kosong, dan sekarang ia ingat jika ia lupa berbelanja kemarin.

“Aku akan keluar sebentar untuk belanja bahan makanan, kau mau ikut?”

“Kau mengajakku agar ada orang yang bisa membawakan belanjaanmu kan?” Haneul berbalik mengahadap Luhan dengan tatapan sinis.

“Kau pikir siapa yang menyuruhku bertemu dan menunggu hingga dua jam sampai-sampai aku lupa belanja?”

“Ya baiklah aku salah, aku minta maaf..” anehnya Haneul malah tertawa dan berbalik pergi ke kamarnya.

“Kenapa tertawa? Dasar aneh” Luhan juga ikut pergi meninggalkan dapur menuju kamar mandi dan berhenti di depan kaca terdiam sesaat setelah melihat bagaimana rupanya sekarang.

“Ishh menyebalkan! Ternyata ini yang membuatnya tertawa”

-o-

“Jadi bagaimana?Kau sudah cerita pada ayahmu?”Tanya Haneul di sela-sela aktivitasnya memilih lobak lalu menaruhnya di kereta belanjaan yang luhan dorong sejak tadi.Luhan masih mendorong kereta belanjaan sambil mengingat kejadian pembicaraan dengan ayahnya beberapa waktu lalu.

“Sepertinya ayah menyembunyikan sesuatu. Tapi aku belum tahu itu apa” Haneul memperlambat gerakannya lalu berbalik mennghadap Luhan.

“Benarkah?Lalu harus bagaimana?”

“Aku akan berusaha, karena bagaimanapun juga ini ada hubungannya dengan kematian kakakku. Dan aku juga akan membantumu, jadi tenanglah” Luhan mencoba menyemangati walaupun ia tidak yakin bisa.

“Lalu kenapa kau kabur?Kau tahu kan itu tidak akan menyelesaikan masalah?”Lalu mereka kembali berjalan menuju kassa pembayaran.

“Aku tahu, tapi aku butuh teman untuk itu” Haneul tertawa pelan lalu berjalan mendahuluinya. Entah kenapa hari ini ia merasa senang dan ingin terus tertawa ketika meliahat wajah Luhan. Mungkin Luhan akan berpikir jika dia gila karena terus tertawa

“Kenapa tertawa terus sih?Memangnya aku badut ditertawakan?” Wajah muram Luhan semakin membuat Haneul ingin tertawa lebih keras, tapi ia mengerti kedaan dan lebih memilih menahan tawanya.

-o-

Seorang pria paruh baya keluar dari pintu sel yang telah terbuka berjalan menyusuri lorong ditemani dua orang berbaju sama disisi kiri dan kanan, juga tak lupa sepasang besi yang telah terikat di kedua pergelangan tangannya. Lalu ia berbelok masuk ke ruangan disisi kanan lorong, disana ia bisa melihat seorang pria yang sebaya dengan dirinya hanya bedanya pria itu memakai pakaian yang rapi juga berjas sedangkan ia hanya memakai pakaian tahanan yang lusuh dan kotor. Perbedaan yang begitu menonjol antara dua orang yang dulu dekat.Kini mereka sudah duduk saling berhadapan, keheningan menyelimuti untuk beberapa saat setelah seorang dari mereka memulai pembicaraan.

“Han Jaesung, apa kabar?” seseorang yang ia panggil Jaesung itu menatap aneh pada orang yang menanyainya.

“Ada maksud apa kau menemuiku?” Pertanyaan yang to the point ia lontarkan untuk pria yang ada hadapannya.

“Hanya bertemu kawan lama”

Jaesung tahu itu bukan jawabannya, ia yakin seratus persen jika apa yang dikatannya tak tulus. Jadi ia hanya berekspresi datar tanpa merespon. Ketika pria dihadapannya itu tahu jika kata-kata tak tulusnya tak berguna.Ia mulai bersikap seperti biasa.

“Baiklah, aku hanya akan memberitahu sesuatu padamu.”

“Katakan”

“Anakmu mulai memanfaatkan anakku”

Barulah kali ini ekspresi Jeasung berubah menjadi sedikit terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Meminta anakku untuk menyuruhku agar membebaskanmu”

“Darimana kau tahu itu?”

“Aku punya banyak anak buah, kau tahu kan seperti apa aku jika ada orang yang menentang? Sekalipun itu adalah anakku sendiri aku tak peduli”

“Kim Jungshik, jangan macam-macam padanya. Sekalipun aku harus dipenjara untuk seumur hidup itu tak masalah, tapi jangan sentuh anakku.Dan jangan jadikan Luhan sama seperti kakaknya dulu.”

“Hahaha, aku tak perduli dengan itu. Kedua anak itu sangat menyusahkan jadi untuk apa aku kasihani? Tapi, mungkin untuk kali ini aku bisa memberi kesempatan..”Jungshik membungkukan sedikit badannya kedepan memperdekat jarak dengan Jaesung.Tatapan dinginnya masih melekat di wajahnya.

“Buatlah anakmu menjauh dari anakku”

Mereka tak menyadari ada orang lain di balik pembicaraan serius mereka, orang yang sedang mereka bicarakan lah yang mendengar pembicaraan mereka.

Dibalik tembok yang memisahkan antara ruang yang di tempati ayah mereka, Luhan dan Haneul mematung di tempat menatap lantai.Lalu mereka saling menatap memberikan ekspresi terkejut mereka sendiri. Haneul hampir meneteskan air matanya ketika Luhan menatapnya sedangkan Luhan sendiri terkejut ketika ia tahu ayahnya lah yang membuat kakaknya pergi meninggalkannya. Perasaan benci,sakit, dan iba yang Luhan rasakan. Orang yang sangat Luhan hargai selama sembilan belas tahun inibisa melakukan hal seperti itu, ia masih belum mempercaiyanya tapi ketika ia melihat kesedihan di mata Haneul ia berjanji tak akan ada orang lagi yang menjadi korban.

-o-

 

Setelah ia mendengar semuanya, ia mulai merenungkan banyak hal dengan dirinya yang terdiam kaku memeluk lutut menatap kosong rumput hijau di halaman rumahnya. Seseorang di belakangnya melihat sendu, ia juga merasakan sakit yang dirasakan. Ia ikut terduduk di sampingnya lalu menatap langit sedikit menghembuskan nafas sebelum berbicara.

“Setidaknya kita sama”

Haneul menatapnya, tatapannya masih sama ketika ia menatap rumput-rumput tadi. Sendu.

“Aku juga tertekan dengan ini semua, dibalik itu aku baru sadar jika aku terlalu bodoh karena terlambat mengetahui. Kukira tak akan sesulit ini, ayahku..apa yang sebenarnya yang dia inginkan?!”

Haneul baru pertama kali nya melihat Luhan sefrustasi ini, ia tahu dirinya dan Luhan sama-sama punya masalah yang rumit. Wajar jika mereka merasa lelah dan frustasi dengan ini semua. Dan hari ini adalah puncaknya semua masalah terjadi, dimana mereka harus saling mendukung satu sama lain.

Tangan Haneul terulur mengusap punggung Luhan yang bergetar, membuatnya sedikit tenang.Usapan terhenti ketika Luhan menatapnya.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, bisakah kau juga membantuku?”

Haneul masih dengan tatapan yang sebelumnya.Sehingga Luhan melanjutkan untuk berbicara.

“Tetaplah berada disisiku”

Untuk beberapa saat keheningan melanda mereka tetapi berakhir ketika Haneul yang berbicara.

“Baiklah, kita hadapi bersama”

Kali ini mereka saling menyalurkan semangat dengan berjanji akan tetap bersama. Dan saat itu jugamereka memliki perasaan yang sama, ada perasaan lebih dari teman yang mereka rasakan. Detakkan jantung yang tak beraturan dan perut yang terasa geli, itu dapat diartikan jika mereka saling menyukai.Hanya saja mereka belum menyadari hal itu.

 

-o-

“Terimakasih”

Luhan menggangguk dan berlalu pergi membawa barang yang baru sajaia bayar. Ketika ia membuka pintu toko diluar sedang hujan deras, dalam hati ia meruntuk pelan menyesal tak membawa payung tadi. Ia harus terpaksa menunggu hujan reda, tapi seseorang dirumah membutuhkan obat yang ia pegang sekarang. Ia menatap plastik yang dingenggamnya dengan wajah tak senang. Masih ingat ketika betapa panasnya suhu tubuh Haneul saat ia memeriksanya beberapa saat lalu. Lalu terlintas dipikirannya untuk menelfon Haneul.Tak lama suara pelan dan lembut Haneul terdengar.

Hallo..

“Diluar sedang hujan, mungkin obatnya agak terlambat kuantar.Apa tak masalah?”

Hmm..tak apa. Pulanglah tanpa basah sedikitpun”

“Iya, aku megerti..”

Ketika Luhan akan menutupnya ia kembali menempatkan ponselnya ketelinga, sesuatu yang lupa ia sampaikan sejak tadi.

“Haneul-ah, Jaga dirimu baik-baik sebelum aku pulang”

“Baiklah,aku tahu. Kau juga”

Luhan mengetikkan beberapa kata setelahnya lalu mengirimkannya pada seseorang, setelah itu ia baru sadar jika hujan sudah mulai reda. Lalu ia bergegas pergi untuk pulang. Ia begitu terburu-buru untuk cepat kembali memberi Haneul obat, hingga tak menyadari ada mobil yang melaju kencang kearahnya.

Dan seketika semuanya terasa gelap untuk Luhan.

Ia merasakan sakit luar biasa di kepalanya.

Hanya suara teriakan orang panik yang bisa ia dengar.

Dan setelah itu semuanya benar-benar gelap, tak ada suara-suara teriakan lagi setelahnya.

-o-

‘Tok Tok tok’

Haneul mengalihkan pandangannya dari tv kearah pintu rumahnya, ia pikir Luhan telah pulang lalu ia beranjak dari sofa menuju pintu. Dengan sedikit tenaga ia berjalan dengan sangat lambat, mencoba menahan rasa pening di kepalanya. Lalu ia membukakan pintu itu perlahan dan melihat seseorang yang ia sebelumnya ia pikir Luhan.

“Oppa..”

Orang itu tersenyum lembut.

Haneul langsung memeluknya erat, mengalirkan rasa rindu yang iapendam selama tiga tahun ini. Sedangkan ia hanya membalas pelukan Haneul sambil mengelus lembut rambutnya.

“Maafkan aku, apakah kau masih benci padaku?”

Dalam pelukannya Haneul hanya menggeleng dan menangis.Setelah merasa cukup untuk saling mengalirkan rindu, Haneul mengangkat wajahnya dan menghapus jejak air matanya.Wajahnya kembali serius dan merasa ada sesuatu yang kurang ketika kakaknya kembali.

“Dimana ibu?”

Ia tak berani menatap Haneul, ia memalingkan wajahnya memikirkan kata yang tepat untuk hal ini.

“Kibum oppa..”

“Ibumu, dia terkena kanker parah jadi dia–“

“Tidak mungkin!”

Haneul berteriak histeris setelah tahu bagaimana ibunya sekarang.

“Haneul-ah, tenangkan dirimu! Aku tahu ini sangat membuatmu terkejut, tapi dengarkan aku dulu!ibu sudah tenang disana. Ibu merasa lelah dengan semuanya, sudah saatnya ia tak merasakan beban berat lagi. Ketika kami pergi meninggalkan kau dan ayah, itu bukan karena ayah adalah seorang terdakwa atau ibu tidak sayang padamu Haneul. Tapi ayah sendiri menyuruhku membawa ibu pergi karena ia tahu sesuatu buruk akan terjadi pada ibu..”

Haneul tiba-tiba terdiam, lalu menatap Kibum dengan matanya yang sembab.

“Apakah Kim Jungshik?”

Kibum terkejut ketika Haneul menyebutkan nama itu.

“Aku tanya, apakah orang itu adalah Kim Jungshik? Dia orang yag membuat ibu dan ayah seperti ini?”

Dan akhirnya Kibum mengangguk lemah.Ia tahu semuanya. Tentang kematian Victoria, ayahnya yang di penjara, dan ibunya yang terus dikejar-kejar selama tiga tahun bagaikan buronan.Itu semua karena ayah Luhan, lebih tepatnya ayah angkat Luhan. Tapi ia tak pernah bisa mengungkapkan semuanya, karena ia tahu resikonya seperti apa yang akan berdampak pada ayah,ibu dan adiknya saat itu. Jadi ia menunggu waktu yang tepat untuk itu, dan ia pikir inilah waktunya.

“Luhan, aku harus bertemu dengannya. Ia harus tahu ini..ya dia harus tahu ini”

Haneul beranjak pergi dan berlari meninggalkan kakaknya yang terus memanggilnya untuk kembali.Ia trus berlari dan berlari bahkan ketika kakaknya mengejarnya. Hingga tak perduli benda besar itu akan jatuh tiba-tiba karena hujan lebat yang sebelumnya terjadi. Benda itu benar-benar menimpa Haneul dan langsung membuatnya terbaring dijalan dengan darah yang mengalir di kepalanya.

Kibum sangat terkejut ketika papan reklame itu jatuh mengenai Haneul, ia langsung menghampirinya ketika ia melihat Haneul sudah tak sadarkan diri.

“Haneul-ah! Tidak, kumohon bangun! Haneul-ah!”

Dan pada malam itu dua kejadian tragis terjadi, menimpa dua orang yang saling terikat janji untuk selalu bersama mengahadapi apapun yang terjadi. Dan cerita sedih mereka akan berakhir sampai disini.

-o-

Seorang gadis berusia dua puluh tiga tahunan terduduk di kursi ayunan, mengayunkan tubuhnya pelan sambil menatap kosong rumput yang ada di bawah kakinya.Ia menunggu seseorang yang belum datang selama hampir dua jam. Dan ia mulai kesal karena menunggu begitu lama, lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku blazernya dan menelpon seseorang.

“Oppa!Kau pikir waktu dua jam itu adalah waktu yang sebentar? Kau dimana? Biar aku kesana sekarang”

Dan dia benar-benar datang ke tempat yang kakaknya bilang tadi.Tapi ia tak menyangka jika penjara adalah tempat yang ayah dan kakaknya kunjungi.

“Yaampun, untuk apa dia datang ke tempat seperti ini? Menyeramkan sekali, tapi aku merasa tidak asing dengan tempat ini..aduh!”

Ia tak menyadari jika pintu di depannya terbuka hingga membentur badannya. Seseorang yang membuka pintu itu terkejut dan membantunya bangun.

“Aku minta maaf!Aku sungguh tidak tahu jika ada orang yang lewat, apa kau baik-baik saja?”

“Ah iya, tidak apa-apa.Lagipula aku tidak lihat-lihat saat berjalan.”

“Sepertinya kita berdua salah,”

Keduanya hanya tertawa, dan mulai merasakan hal yang tak asing saat mereka seperti ini.

“Jika boleh aku tahu, siapa namamu?”

“Haneul, Han Haneul. Kau?”

“Aku Luhan, Kim Luhan. Dan aku kesini karena ingin menjenguk ayahku jika kau ingin tahu.”

Haneul mengangkat alisnya tinggi lalu tertawa.

“Haha, baiklah aku juga kesini karena menemui kakaku.Dia bilang dia sedang menjenguk seseorang juga disini.”

“Oh benarkah?”

Haneul mengangguk lucu sambil tersenyum.

Dan pada akhirnya mereka kembali di pertemukan di suasana yang benar-benar berbeda.Mereka tidak tahu jika takdir memangmempermainkan mereka, tapi pada akhirnya semua berakhir dengan senyuman bahagia, meskipun kenangan yang dulu mereka miliki telah hilang.

To :Putri Jutek Haneul ><

19-7-2009

Haneul-ah, aku ingin kau baik-baik saja disana.Jaga dirimu baik-baik untukku ya.Dan aku ingin kau tahu jika sebenarnya aku menyukaimu.Satu lagi, jika suatu saat nanti aku tidak mengingatmu jadilah orang yangkucintaI untuk kedua kalinya.

Haneul-ah saranghae~ ^^

Terkirim

***

Thanks For Reading

Comment Down

^^

2 thoughts on “Drop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s