Dorm (Chapter 12)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 11)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

****

Minseok, Luhan, Sehun, Chanyeol, Baekhyun dan Kyungsoo berkumpul di rumah Suho belajar bersama untuk ujian terakhir, bahasa Inggris. Mereka sama-sama mengerjakan soal dari buku soal dan mendiskusikannya bersama-sama.

“Hyung, ini maksudnya apa?” tanya Sehun sambil menunjuk satu soal di dalam buku kepada Minseok. Orang yang ditanya dengan senang hati menjawabnya dengan penjelasan yang mudah dipahami.

“Hei! Kau mencontek kunci jawabannya lagi, Yeol? Berikan kuncinya padaku!”

Terjadi keributan kecil antara Luhan saat kedapatan Chanyeol lagi-lagi mencontek kunci jawaban untuk menjawab soalnya. Luhan langsung merebut lembaran itu lalu melipatnya dan memasukannya ke dalam saku celana.

“Kau bawa kamus, Baek?” tanya Kyungsoo.

“Tidak.”

“Aku ada beberapa kamus lagi di rak buku paling bawah dekat tv.” Suho menoleh sebentar ke Kyungsoo sembari memberitahu letak kamus itu. Kyungsoo bangkit dari tempatnya menuju rak yang dikatakan Suho.

“Minseok, kau nomor tiga apa jawabannya?” Luhan menoleh ke Minseok yang berada di sebelah kirinya.

“Aku rasa A.” Minseok menempelkan ujung pensilnya ke dagu sambil memicingkan matanya—tanda ia sedang ragu.

“Kau yakin? Sepertinya C yang benar.” Suho menimpali.

“Masa iya?” Minseok membaca kembali soalnya, begitu juga Luhan.

“Jawaban A yang benar.” Luhan berkata.

“Iya, yang A. Kau salah pemahaman, mungkin. Coba baca ulang soalnya.”

Suho kembali menundukan kepalanya ke arah soal dan membacanya berulang-ulang sampai ia benar-benar paham. Diam-diam ia menceklis jawaban A dan mencoret jawaban C.

Selama dua jam mereka berkutat dengan soal bahasa Inggris dan akhirnya mereka selesai belajar. Minseok dan Luhan langsung menaruh kepalanya di atas meja dengan tangan menjadi alas kepalanya. Mereka menatap satu sama lain, bermain-main dengan wajah mereka. Suho mengeluarkan kakinya dari bawah meja, meluruskan kedua kakinya yang keram. Sehun dan Chanyeol malah tertidur di atas karpet bulu sejak lima belas menit yang lalu.

“Sekarang kita ngapain?” tanya Suho menoleh ke arah teman-temannya yang sedang merebahkan dirinya.

“Aku mau makan.” Minseok mengerang manja kepada Suho yang langsung mendapat reaksi gemas dari Luhan.

“Aku juga.” Luhan juga mengerang manja seperti apa yang dilakukan Minseok tadi. mereka pun tertawa.

“Nggak ingat umur.” Kyungsoo mengumpat di belakang mereka dengan suara pelan. Baekhyun yang mendengarnya langsung memukul belakang kepala Kyungsoo, menempelkan telunjuknya di bibir saat Kyungsoo menoleh kepadanya.

“Aku dengar itu!” Minseok dan Luhan tiba-tiba berbicara dengan dinginnya, membuat Kyungsoo terkejut.

Di meja makan, mereka berenam disuguhkan macam-macam makanan mewah dari sang koki. Koki itu sangat ramah dan lucu. Saat Baekhyun berkata tentang masakannya yang akan ia habiskan sampai perutnya meledak, koki itu hanya tertawa sambil melontarkan pujian kepadanya. Pria yang sudah berumur 63 tahun itu sangat mirip dengan ayah Minseok. Sifat keayahannya dan penyayang sangat kental di dalam diri pria itu, yang sama persis dengan ayah Minseok. Ada sedikit rasa sedih saat otaknya kembali memutar memori lama tentang kebersamaannya dengan sang ayah. Untungnya tidak ada yang menyadari perubahan ekspresi Minseok, akan sangat susah membangkit selera makan Baekhyun dan kerakusan Chanyeol sekarang ini. Pasti kalau mereka tahu, tidak ada lagi itu semua dan makanan jadi terasa hambar.

Malamnya, Minseok tidak bisa tidur. Sejak selesai makan malam ia terus berada di balkon kamar Suho sambil memandangi laut hitam. Setelah melihat matahari terbenam, Minseok tidak juga puas melihat desiran pantai yang damai. Nampaknya memang sangat menakutkan, tapi hanya dengan memandangi laut dirinya seperti sedang menceritakan segala kesusahannya pada alam dan suara ombak yang keras sebagai jawabannya.

Minseok mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, membuka galeri dan men-scroll ke bawah di atas puluhan foto. Ibu jarinya menekan salah satu foto yang diinginkannya, memandangnya lekat-lekat setiap wajah di dalamnya. Itu bukan foto dari memorinya langsung, tapi dari memori kakaknya. Foto yang menunjukan dimana ayahnya sedang memeluk Minseok dengan erat dan ada Mi Soo noona yang merangkul mereka berdua, berfoto dengan bahagia. Tertulis di bawah fotonya tanggal 1994/03/26. Tepat disaat hari ulang tahunnya.

Keningnya berkerut saat akan mencoba mengingat masa itu. Namun, ia tidak bisa mengingatnya sedikit pun. Rasa sakit di ubun-ubunnya menyerang kepalanya lagi, membuatnya terhuyung dan tiba-tiba terduduk di lantai balkon. Sakit itu tidak berlangsung lama, tapi sangat membuatnya menderita. Sejenak ia memejamkan mata, menghilangkan pusing yang menyerang kepalanya. Baiklah, tidak ada yang bisa diingatnya dan dia harus menghentikannya sekarang.

Tangannya mencengkeram pagar pembatas, lalu berdiri dengan bantuan cengkeraman tangannya itu. Minseok kembali menatap foto lama itu. Untuk saat ini Minseok hanya bisa mengerti situasi apa yang tercipta di dalam foto itu. Saat ia nanti bertemu dengan ayahnya, ia akan benar-benar memaksanya untuk menjawab semua pertanyaanya tentang apapun mulai dari alasan kepergiannya sampai masalah kepalanya yang ia ketahui penyebabnya adalah ayahnya.

“Minseok?” Suara Luhan tiba-tiba mengejutkannya. Ia langsung menoleh ke arah sosok itu yang sekarang berjalan mendekatinya.

“Kenapa kau kesini?” tanya Minseok sambil memperhatikan jalan Luhan yang sekarang berdiri di sampingnya.

“Aku mencarimu. Kulihat selimutmu masih terlipat, jadi aku pergi mencarimu.” Luhan menoleh dan tersenyum padanya. “Kau tidak tidur? Mataharinya sudah tenggelam sejak tiga jam yang lalu.”

Minseok menggeleng lalu berkata. “Aku tidak bisa tidur. “

Luhan mengangguk. Matanya menangkap tangan Minseok yang terus menggenggam ponsel yang masih menyala. “Apa yang kau lihat?”

“Fotoku dan ayahku bersama Mi Soo noona.” Minseok menjawab sambil menyerahkan ponselnya kepada Luhan.

Luhan melihat foto itu dan tanggal yang tertera. “Saat kau ulang tahun?”

“Aku tidak bisa mengingat apa yang aku lakukan bersama ayahku dan Mi Soo noona di dalam foto itu. Saat aku berusaha mengingatnya, kepalaku serasa hendak pecah.” Minseok merinding mengingat bagaimana sakitnya itu.

“Kau sebaiknya mengecek kepalamu kerumah sakit. Aku takut keadaanmu semakin memburuk.” Luhan menjadi sedih saat mengetahui kesakitan Minseok yang kambuh lagi.

“Aku sudah pernah mengeceknya, Lu. Apa yang harus aku katakan kepada dokter kalau aku tidak tahu penyebabnya?” Minseok tampak depresi saat mengatakannya.

Luhan menjadi simpati akan keadaan Minseok sekarang, kemudian menepuk bahu Minseok berkali-kali secara perlahan. “Kau memang harus menemui ayahmu.”

Di tengah percakapan itu, Suho muncul di tengah-tengah mereka. Dengan piyama khasnya dia memanggil mereka berdua untuk segera masuk kedalam.

Saat di kasur pun Minseok tidak bisa menutup matanya. Luhan yang tidur di samping kanannya sudah tertidur lelap, begitu juga dengan Baekhyun di samping kirinya. Lampu sudah dimatikan. Ruangan sangat gelap sekarang. Namun, Minseok tetap tidak bisa tidur.

Dia tidak sedang memikirkan ayahnya, pelajarannya ataupun beasiswanya. Mendadak kepala Minseok sakit. Lebih sakit dari sebelumnya. Tangannya terkepal kuat di bawah selimutnya. Matanya terpejam rapat sambil mengerang kuat-kuat di dalam hati, berharap sakitnya menghilang. Namun, tidak ada perubahan. Sakit itu makin menjadi. Dia tidak bisa menahannya dan berteriak sekuat tenaga. Beberapa kali sampai membangunkan semua temannya.

“Minseok! Kau kenapa?!” Luhan sangat terkejut saat melihat kening dan leher Minseok yang penuh keringat beserta erangan kesakitan darinya.

“Ada apa ini, hyung?! Kenapa Minseok hyung begini?” tanya Chanyeol panik.

“Aku tidak tahu! YA! Cepat lakukan sesuatu!” perintah Luhan kepada siapa saja yang berada di sekelilingnya. Suho langsung menelpon bawahannya untuk segera memanggil ambulans.

“Minseok, gwenchana? Sakit di bagian mana, hum?” tanya Luhan sambil menggenggam erat tangan Minseok.

Keringat di kening Minseok semakin banyak. Tubuhnya naik turun lalu mengerang kuat-kuat saat Minseok merasa kesakitan. ‘Kepalaku, Luhan…’ ucap Minseok di dalam hati. Dia ingin sekali mengatakan itu tapi mulutnya seakan kelu untuk berbicara. Bahkan untuk membuka mata saja ia tidak mampu. Pandangannya menjadi kabur dan berputar-putar cepat. Rasanya ia seperti akan mati. Tuhan… tolong…

Beberapa tenaga medis datang dengan mendobrak pintu kamar Suho. Dua orang membawa tandu, sementara yang lainnya mengangkat tubuh Minseok ke atas tandu. Dan pada saat itu, semuanya menjadi hitam dan arwahnya seakan pergi entah kenapa, meninggalkan tubuh yang tidak berdaya berada di ambang kebingungan antara mati atau hidup.

*****

Hari itu, Minseok tidak masuk sekolah, juga tidak mengikuti ujian terakhir. Dia tidak sendirian. Ada Luhan dan Kyungsoo bersamanya. Pagi itu Minseok akhirnya membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah tangannya yang diinfus dan ada selang kecil panjang disana. Anehnya rasa sakit di kepalanya tidak terasa lagi. Apa dia dibius?

Ada Kyungsoo, dan Luhan yang sedang tertidur di sofa sambil memeluk boneka besar. Luhan tidak masalah untuknya. Tapi, Kyungsoo? Sejak kapan?

“Anda sudah bangun, Putri Tidur?” Minseok menyapa Luhan dengan suara manis dibuat-buat saat Luhan menggeliat dan membuka matanya. Luhan langsung terbelalak melihat Minseok sudah terduduk di kasurnya dalam keadaan sehat. Luhan berlari menghampiri Minseok lalu mengecek keadaannya.

“Aku tidak apa-apa. Kau lihat? Tanganku masih utuh dan badanku masih cantik tanpa goresan.” Minseok menunjukan kedua tangannya yang masih terpasang di tubuhnya, dan mengelus pipinya yang bersih tanpa noda. Tanpa berpikir dua kali Luhan langsung memukul kepala Minseok sekuat tenaga.

“WAE?!” pekik Minseok kesal dan terkejut kemudian saat Luhan memeluk erat dirinya. Luhan cemberut di bahu Minseok.

“Aku hampir gila saat melihat keadaanmu, bodoh. Kau masih sempatnya bercanda. Jahat.” Didengar dari suaranya, Luhan merajuk. Pukulan Luhan tadi serasa menghilang dari kepalanya. Ia tersenyum sambil membalas pelukan Luhan.

“Aku hanya berusaha untuk membuatmu tenang. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkanku. Terima kasih, Luhan.”

Sementara mereka berdua sedang menenangkan satu sama lain, seorang Kyungsoo sudah bangun dari tidur lelapnya. Selama lima menit dia tetap pada posisinya, memandangi dua kakak tertuanya itu bercengkerama penuh kasih sayang. Sudah jadi pemandangan biasa bagi Kyungsoo, juga bagi teman-teman yang lainnya. Mereka bukan seperti teman, tapi seperti seorang saudara bahkan bisa menjadi sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan.

Entah bagaimana kalau nantinya mereka berdua lulus dari sekolah dan tidak bisa bertemu lagi? Apalagi Luhan pernah bilang akan melanjutkan sekolah di Cina. Itulah kenapa Kyungsoo tidak menganggu mereka selama dua puluh menit dari sekarang.

“HYUNG! KAMI DATANG!” pekikan Chanyeol membuat penghuni kamar terkejut dan serentak menatap tajam Chanyeol. Pria tinggi itu langsung terpaku dengan tangan terangkat sambil memegang kantong besar berisi buah-buahan.

“Minggir! Kau menghalangi jalan, Yeol.” Baekhyun mendorong perut Chanyeol sampai pria itu terkesiap dan kebingungan. Chanyeol lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal setelah dia menutup pintu kamar rumah sakit. Dia sadar perbuatannya memalukan jadinya dia salah tingkah.

“Kau sudah sembuh, hyung?” tanya Suho sambil duduk di pinggi kasur.

“Masih ada sedikit pusing, tapi tak terlalu sakit seperti tadi malam.” Xiumin menjawab dengan senyum sambil mengusap dua kali tengkuknya. “Bagaimana dengan ujiannya?”

“Agak sulit. Mungkin karena aku mengkhawatirkanmu jadinya aku tidak bsia fokus pada soalnya.” Adu Suho kepada Minseok.

“Maafkan aku sudah mengkhawatirkanmu.” Minseok menghela napas menyesal.

“Seberapa banyaknya masalah, pelajarannya tidak akan pernah turun. Tidak seperti Sehun yang selalu begitu.” Chanyeol menimpali sambil menunjuk Sehun. Sehun langsung menendang kaki Chanyeol sekuat tenaga, membuat si empunya mengaduh sangat kencang.

“Setelah pulang sekolah, kami langsung pergi membeli buah-buahan ini dan menjengukmu. Aku benar-benar bersyukur kau sudah sembuh.” Suho kembali menuturkan kata-kata penyejuk untuk Minseok, yang dibalas dengan anggukan dan senyum tulus darinya. Minseok menatap bergantian ke teman-temannya yang diam, dan mendengus kepada mereka semua.

“Apa kalian meminta Suho yang menjadi jubir kalian? Tampaknya hanya Suho yang membuka mulutnya, kecuali Chanyeol yang mengejek Sehun.” Sindir Minseok sambil menaikan sebelah bibirnya. Yang lainnya langsung salah tingkah dan menelan air ludah mereka sendiri.

“Karena Suho sering mengatakan hal yang benar-benar akan kami katakan. Kemampuan berbicaranya cukup membuat kami semua terwakili.” Baekhyun berkata, menghindari kontak mata dengan Minseok yang menatapnya lucu.

“Hahaha… kedatangan kalian saja sudah membuatku senang.” Kata-kata itu lagi-lagi membuat yang lain salah tingkah dan mengangguk kaku.

“A—ah! Apa kau mau jeruk? Aku akan mengupaskannya untukmu, hyung!” Chanyeol langsung mengambil jeruk yang ada di dalam plastik dan mulai mengupasnya tanpa menunggu persetujuan Minseok dulu. Sehun juga ambil bagian mengupas apel merah.

“Aku mau semuanya dikupas,” pinta Minseok sambil tersenyum jahil. Mereka berdua menoleh dengan kaget, kemudian mengangguk setuju.

“Apapun untukmu, hyung!” ucap mereka serentak yang langsung mengundang tawa yang melihatnya.

Ponsel Minseok tiba-tiba bergetar. Minseok langsung mengambilnya dari samping bantalnya. Terdapat nama ibunya di layar ponselnya. Minseok membaca pesan dari ibunya itu dengan ekspresi datar.

Ibu akan pulang nanti malam. Kau bisa pulang kerumah? Ibu sudah meminta izin kepada Kepala Asrama-mu. Bawa Minhee juga.

Minseok menaruh kembali ponselnya setelah menekan tombol powernya agak lama. Ekspresinya berubah ceria saat Chanyeol memberinya candaan aneh yang langsung kena pukul dari Baekhyun.

Dari luar, Minseok memang ceria. Namun, di dalam hati dia sangat sedih kepada ibunya yang tidak tahu kalau dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Sebagai balasannya, dia tidak akan pulang hari ini dan memutuskan untuk menjalani ujiannya di asrama nanti malam.

*****

Minseok langsung pulang begitu dokter memperbolehkannya pulang. Dia juga diberi resep obat peredam nyeri dan harus diminum saat pusingnya meradang kembali. Dia harus kembali bila sakitnya terus berlanjut selama satu minggu kedepan. Akan diberikan pemeriksaan lebih lanjut tentang sakit kepalanya itu.

Luhan dan Minseok buru-buru kembali ke asrama. Mereka berdua sudah membuat janji dengan guru khusus untuk mengawasi mereka ujian susulan. Bila mereka terlambat satu jam dari sekarang, guru itu akan menundanya sampai besok pagi. Yang berarti mereka harus kembali ke sekolah sementara semua orang tidur lelap di kasur mereka.

Ujian selesai, berarti istirahat panjang. Itulah yang diinginkan Minseok sekarang. Walaupun besok masih bisa ujian, tapi keinginannya untuk tidur itu sangat tinggi, mengingat dirinya baru saja sembuh. Minseok akan ujian bersama dengan Luhan dan Kyungsoo di kantin.

Kenapa di kantin?

Karena hanya dikantin lah tempat yang paling sunyi setelah jam malam asrama.

“Sekarang duduk berpencar dan siapkan alat tulisnya.” Seorang guru pria berdiri dengan galaknya di depan mereka bertiga sambil memegang soal dan lembar jawaban yang akan dibagikan sebentar lagi.

Matanya bergerak mengikuti langkah-langkah cepat Minseok dan Kyungsoo yang berpencar. Guru itu segera memberikan soal dan lembar jawaban kepada masing-masing meja. Tangannya bersiap memencet tombol di layar ponselnya yang menunjukan waktu akan mundur setelah ini. Mereka bertiga memandang guru itu dengan tatapan kaku. Guru itu menunjukan waktu yang sudah berjalan satu detik, membuat mereka bertiga kelabakan membuka soal. Masing-masing mereka langsung membaca soal dan secepat mungkin mencari permasalahannya.

Guru itu memandang mereka bertiga secara bergantian dengan tajam, berharap tidak akan ada yang berbuat curang. Guru itu dengan sengaja menyebutkan jumlah waktu yang terlewatkan di ponselnya. Membuat para muridnya gemas dengan soalnya.

Lima belas menit, tiga puluh menit, empat puluh lima menit, satu jam pun terlewati. Minseok mengecek jam tangannya yang menunjukan sisa waktu tinggal lima belas menit lagi. Waktu untuknya mengecek semua jawaban yang ia tulis. Ia melirik Luhan yang termenung menatap soalnya yang tergeletak di atas meja, dan Kyungsoo yang menelungkupkan kepalanya di dalam lipatan tangannya. Mereka benar-benar percaya diri akan jawabannya, pikir Minseok cemas.

“Waktu habis! Kumpulkan soal dan jawaban kalian kepada saya!” Guru itu menepuki tangannya, seperti memberi tanda kalau waktunya sudah habis.

Begitu mendengar tepukan itu, Kyungsoo langsung terbangun dan berdiri, mengambil kertas ujiannya dan soalnya. Sambil berjalan sambil mengecek kolom namanya dan kolom nomor ujiannya yang sudah terisi. Luhan masih sempat bertanya jawaban Minseok pada nomor soal sebelum dikumpulkan ke guru pengawas. Begitu selesai mengumpulkan, Minseok memberikan kertas kecil yang berisi jawabannya kepada Luhan. Rencananya jawaban itu akan dicocokan dengan jawaban Suho. Satu nomor yang sama saja sudah memberinya peluang benar, apalagi kalau ada banyak jawaban yang sama.

“Ah, aku salah,” gumam Luhan kesal. Minseok hanya meliriknya sebelum membuka pintu asramanya.

Suho langsung bangkit dari kursinya begitu melihat Minseok dan Luhan sudah pulang. Minseok meminta kertas jawaban Suho yang langsung diberikan olehnya. Minseok merebut kertas itu dari Luhan, kemudian mengecek satu persatu jawabannya.

“Apa kau yakin jawabannya benar semua?” tanya Luhan ragu.

“Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen tidak diragukan lagi. Percayalah padanya dan pastikan nanti,” jawab Minseok penuh penekanan, berusaha meyakinkan Luhan agar percaya padanya.

Awalnya memang ragu, tapi akhirnya Luhan ikut mencocokan. Jawaban Suho ia buat di samping jawabannya sebagai pembanding nanti. Bila jawaban Suho banyak yang benar daripada dirinya, dia akan mentraktir Suho sampai pria itu kekenyangan. Janji itu sudah tertulis di hatinya yang tidak pernah mengingkari.

Malamnya, Minseok tidak bisa tidur lagi. Dia kembali tenggelam dalam kenangan lainnya. Sekarang buka kenangan akan keluarganya yang semakin tidak peduli terhadapnya. Dia tidak mempermasalahkan ibunya yang tidak pernah lagi bertanya tentang keadaannya anaknya. Tidak bertemu selama berbulan-bulan tidak membuat ibunya khawatir sekaligus cemas dengan kehidupan ketiga anaknya yang sudah berpisah.

Mi Soo noona sudah bersama suaminya di suatu tempat dan hidup bahagia bersama. Minhee sudah tinggal bersama Laoyi, adik Luhan, selama tiga bulan terakhir. Dan Minseok di dalam asrama sekolah bersama kelima temannya yang lain, menghabiskan masa sekolahnya selama tiga tahun. Selama itulah dia tidak pernah berkomunikasi dengan ibunya.

Awalnya dia memang sedih ibunya berubah tabiat. Lambat laun pikiran itu menyingkir dan akhirnya dia terbiasa dengan itu. Baginya ibunya sudah menghilang seperti ayahnya yang sekarang tinggal antah berantah. Hidup dimana ia tidak tahu, makanan apa yang ayahnya makan ia tidak tahu, dengan siapa beliau tinggal dan bicara ia tidak tahu, dan seperti apa bentuk rumah ayahnya sekarang ia juga tidak tahu.

Kenangan lain yang ia maksud adalah tentang kehidupan selanjutnya yang tidak menentu. Ada keinginan besar untuk mengikuti Luhan bersama keluarganya ke Cina. Tapi Minhee tidak mungkin memutuskan sekolahnya yang baru berjalan tiga tahun. Bocah itu pasti kebingungan mencari teman yang satu bahasa dengannya. Ibunya juga pasti tidak akan mengizinkannya belajar di luar negri. Sekaya apapun keluarganya, jauh dari jangkauan ibunya sangat dilarang. Sangat tidak mungkin ibunya harus pulang balik Cina hanya untuk menjenguknya (Ya, kalau masih ada peduli untuk melakukannya).

Melalui hembusan napasnya yang berat, Minseok mengeluarkan segala keberatan hatinya yang melelahkan. Hidupnya yang begitu pilu dan berantakan membuat dirinya menjadi sangat tegar dalam menghadapi apapun. Mulai sejak ayahnya pergi, kata ‘tegar’ itu mulai tertanam di dasar hatinya, yang semakin berkembang di dalam dirinya dan tanpa sadar ia tidak bisa menangis cengeng seperti dulu. Meratapi semua nasibnya dengan tangisan bukanlah gayanya lagi. Toh, tidak akan ada lagi yang akan mengusap kepalanya dan berkata dengan lembut di telinganya agar dirinya berhenti menangis.

Sekarang lah waktunya ia menangis. Menumpahkan semuanya di atas balkon ini yang ditonton langsung oleh sang bulan yang menatap kaku dirinya. Dalam keheningan tanpa suara. Hanya gerakan cepat badannya yang turun naik sambil mengeluarkan air mata langkanya. Dalam hatinya, ia menyebut-nyebut nama seseorang yang ia rindukan.

‘Ayah… Ayah… Ayah…. Ayah…’

Begitu seterusnya sampai ia puas. Dirinya membalik ke arah pintu kamarnya yang gelap. Suho sudah terlelap di balik selimut biru lautnya di atas sana. Minseok menyalakan lampu belajarnya, memutarnya sampai menerangi kasurnya. Tangannya menarik selimut. Badannya bergerak membaring diatasnya lalu menarik selimut sampai atas dagu.

Sebelum tidur, Minseok kembali mengucapkan doa-doa penuh khidmat lalu menutup matanya.

‘Tuhan, semoga keluargaku kembali ke keluarga yang harmonis saat ayahku masih bersama kami. Kembalikan beliau di sisiku, Tuhan. Dan kembalikan ibuku yang dulu, karena aku merindukannya, Tuhan. Amin…’

*****

Author Note: Terima kasih untuk semua readers yang nunggu sangat sabar untuk fanficku ini. sorry kalau ngebingungin dan aneh. Di chapter ini banyak sok bijaknya ya? Cuaca dingin yang mendukung bikin otak lancar untuk sok bijak😀

Please komentarnya dan makasih yang udah baca!^^

4 thoughts on “Dorm (Chapter 12)

  1. Kai's fan berkata:

    kenapa lama-lama jadi sad ceritanya😦 . thor,please banget banyakin part Kyungsoo atau Kai #miankalaumaksa,habisnya aku suka banget sama mereka berdua. tapi seru banget ceritanya

    next jangan lama lama ya

  2. Park Hye Raa berkata:

    Hiks…. minseok sakit apa sih? mendingan cepet2 ktemu ayahnya gih…. biar ada banyak adegan comedy nya. atau luhan gak usah kuliah di china deh… biar sama2 terus…. tapi terserah author sih mau jalan ceritanya gimana.😛
    keep writing!!! fighting!!! post chap slanjutnya jgn lma2 dong….🙂

  3. Park Hye Raa berkata:

    Hiks…. minseok sakit apa sih? mendingan cepet2 ktemu ayahnya gih…. biar ada banyak adegan comedy nya. atau luhan gak usah kuliah di china deh… biar sama2 terus…. tapi terserah author sih mau jalan ceritanya gimana.😛
    keep writing!!! fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s