Dorm (Chapter 11)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 11)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

****

“Ya, Ketua OSIS! Kau pelit! Bahkan satu nomor pun aku tidak boleh liat!” rengek Sehun kesal kemudian melempar Suho dengan botol mineral. Untungnya, Suho sedang cepat tanggap jadi dia bisa mengelak dengan mudah.

“Percuma kau meminta pada Suho. Telinganya mendadak tuli saat ujian.” Baekhyun nimbrung kedalam pembicaraan yang langsung dianggukan oleh Sehun dan Chanyeol.

“Salah siapa tidak belajar tadi malam?” sindir Suho jadi kesal.

“Hanya unsur cerpen yang aku lupa. Kau tidak mau memberiku pancingan! Coba kalau kau bilang sedikit saja, pasti aku akan ingat.” Sehun tetap mengelak, kemudian melempar Suho lagi dengan kacang polong. Namun, Suho tidak sempat mengelak dan akhirnya mengenai kacamatanya.

“YA! STOP!” pekik Suho marah sambil melepas kacamatanya dengan kasar kemudian melap lensanya dengan sapu tangannya.

“Luhan hyung~ Aku dimarahi Suho jelek hueee,” rengek Sehun kepada Luhan.

Sayangnya, saat itu Luhan sedang asyik bercanda dengan Minseok jadi dia tidak dengar apa yang direngekkan Sehun. Dia menoleh saat Luhan merasa ia dipanggil oleh Sehun. Pasangan BaekYeol beserta Jongdae seketika meledakan tawanya sambil menunjuk-nunjuk muka Sehun yang makin tertekuk karena hyung tercintanya tidak menghiraukannya lagi.

“Hyung jahat!” pekik Sehun tepat di depan muka Luhan. Pria itu langsung terkejut melihat reaksi Sehun yang tiba-tiba begitu padanya.

“Wae, Hunnie?” tanya Luhan khawatir, karena Sehun mulai merengek lagi tanpa sebab dan ini karena dirinya.

“Sudahlah, Lu. Berikan dia choco bubble tea sebagai suapnya. Dia tidak akan lama seperti itu. Kau kan hyung tercintanya. Tidak berbicara sedetik denganmu, dia sudah menangis.” Xiumin mencibir Sehun lalu ikut terkikik bersama Jongdae.

“Geurae? Kau ingin choco bubble tea, hum? Aku akan membelikannya untukmu,” tawar Luhan.

“Tiga,” pinta Sehun.

“Hah?! Kau mau kembung?” protes Luhan.

“Yang dua lagi mau aku berikan pada Kai dan Tao,” jawab Sehun dengan mata berbinar-binar.

Luhan mendengus malas, kemudian beranjak pergi sambil berkata, “tunggu disini.”

Sehun melonjak-lonjak senang saat Luhan sudah pergi ke salah satu stand di kantin yang menyediakan bubble tea. Terlihat dari BaekYeol yang merasa cemburu bisa diperhatikan lebih oleh Luhan. Namun, anehnya Jongdae malah menatap Minseok penuh harap.

“Wae?” tanya Minseok ketus.

“Ish. Tidak asik.” Jongdae mendengus kesal kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya. Minseok memutar kedua bola matanya saat melihat Jongdae yang mulai kekanak-kanakan seperti biasanya.

Tiba-tiba ponsel Minseok bergetar di dalam saku celananya. Tangannya sigap mengambil benda itu dari dalam kemudian menyalakannya. Ada satu pesan dari Mi Soo noona. Ia menekan kunci ponselnya kemudian membuka pesan.

‘Ya. Bisa kau berikan alamat rumah Luhan? Aku ingin kesana melihat keadaan Minhee.’

Minseok mengetikan alamat rumah Luhan dan mengirimnya. Lima menit berlalu datanglah balasan dari Mi Soo noona.

‘Gomawo. Bagaimana sekolahmu? Apa kau bisa mengikuti ujian akhirnya?’

‘Biasa. Tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu mudah. Aku harap bisa selesai dengan lancar nantinya. Aku tak sabar liburan ini.’

‘Wae? Kau mau kemana, huh? Kau selalu menyembunyikan apapun dariku.’

‘Hanya pergi liburan ke suatu pulau bersama teman-teman. Ya! Aku tidak begitu! Kau yang selalu menutupi masalah pribadimu.’

‘Arra arra. Kita sama-sama tertutup jadi jangan dipermasalahkan lagi. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Annyeong!’

Minseok menghela napas lesu kemudian menutup case ponselnya dan meletakannya di atas meja. Tangannya menumpu pipinya sambil membaca sebuah buku materi untuk ujian besok. Masih ada dua hari lagi untuk melewati semua ujian ini. Duh, otaknya mulai pening menerima semua pelajaran ini. Apalagi besok matematika. Terlalu banyak rumus yang harus ia hapal. Duh!

“Ya. Pergilah beli cemilan yang kau suka dengan uang ini. Aku mulai lapar.” Minseok menyerahkan beberapa lembar uang kepada Jongdae.

“Apapun?” tanya Jongdae meyakinkan dirinya sendiri.

“Iya, ppali.” Minseok mengibas-ngibaskan tangannya dengan malas kemudian menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya. Jongdae langsung bangkit dari kursinya sambil menarik tangan Chanyeol untuk menemaninya membeli cemilan (Chanyeol tidak akan menolak bila soal makanan).

“Kau sakit, hyung?” tanya Sehun setelah menyedot bubble teanya.

“Ani.”

“Jangan terlalu memaksakan dirimu bila kau capek. Santai saja, hyung,” saran Sehun sambil memperagakan bagaimana kegiatan santai itu.

“Kau terlalu santai, Sehun. Aku tidak mau,” tolak Minseok tanpa menggerakan kepalanya dan tetap pada posisinya.

“Kalau begitu ajarkan aku rumus yang satu ini. Aku tidak mengerti sama sekali.” Sehun memaksa Minseok untuk bangun dengan cara menggoyang-goyangkan lengan Minseok sekuat tenaganya sampai pria itu terganggu dan akhirnya mengangkat kepalanya. Sehun memberikan bukunya pada Minseok sembari memindahkan dirinya sampai ke sebelah Minseok.

“Jadi ini dikali dulu dengan angka ini, kemudian tambahkan dengan hasil yang kedua. Setelah didapat baru dibagi tiga.” (Nggak tau ini rumus apa. Cuma buat-buat aja. Jadi jangan pusing nyariin rumusnya-_-).

Jongdae dan Chanyeol akhirnya kembali dengan tangan penuh dengan makanan yang mereka sukai. Mereka meletakan semuanya di tengah-tengah meja. Beberapa dari mereka langsung mengambil makanan secara acak tanpa tahu mereka suka atau tidak, karena mereka sedang fokus untuk belajar.

Beberapa menit kemudian datang Yixing, Kai, Tao, Kyungsoo dan Kris. Beberapa dari mereka adalah teman-temannya Sehun (kecuali Kyungsoo yang akrab dengan semuanya). Jadi, hanya Sehun yang lebih berinteraksi dengan kelima orang itu. Kegiatan belajar itu akhirnya selesai sampai pada waktunya sekolah akan dikunci. Terlalu serius belajar membuat mereka lupa waktu. Tapi, entahlah pelajaran ini ada yang masuk ke otak atau tidak (Minseok mengkhawatirkan pada maknae yang kerjanya hanya main dan bercanda).

Sesampainya di dorm, Minseok langsung merebahkan dirinya diatas sofa yang diikuti dengan Chanyeol yang mengambil remote tv.

“Ada yang mau kopi?” tanya Suho dari dapur.

“Bisa aku minta susu?” pinta Chanyeol beralih ke dapur.

“Aku juga susu.” Baekhyun menimpali sembari memakai kaosnya lalu duduk di karpet.

“Aku kopi.” Luhan menimpali.

“Aku juga kopi.” Akhirnya Minseok bersuara.

Tanpa suara lagi, Suho langsung mengambil gelas-gelas dari dalam laci atas dan mulai membuat minuman untuk para penghuni dormnya. Di lain tempat, Minseok mulai tidak bersuara dan memejamkan matanya, membuat Luhan berpikir kalau Minseok tidur.

“Kau tidur?”

“Ani.”

Luhan mengangguk sebelum ia kembali memusatkan perhatiannya ke acara tv. Keheningan selalu pecah akibat suara Chanyeol dan Baekhyun yang menggelegar. Beberapa kali Minseok mencoba tidur, namun gagal disetiap waktu. Hidupnya tidak akan tenang kalau dua makhluk itu tidak bisa mengurangi volume suaranya yang menyeramkan. Dengan terpaksa Minseok membangunkan badannya dan membuat dirinya terduduk dengan kaki melipat.

Suho datang membawa nampan yang diatasnya ada gelas-gelas minuman yang mengeluarkan asap panas.

“Hati-hati panas. Aku tidak mau mengobati lidah kalian yang terbakar, oke?” ancam Suho. Baekhyun tidak jadi meminum susunya dan meniuop-niup pelan sampai dirasa panasnya sudah menghilang.

Minseok mengambil gelasnya lalu pergi melangkah menuju kamarnya dengan gelas itu. Luhan mengikuti arah jalan Minseok. Ia juga ikut berdiri lalu masuk ke dalam kamar Minseok.

“Belajar lagi?” Luhan menaikan salah satu alisnya saat melihat Minseok mulai menyalakan lampu belajarnya.

“Ini yang bisa aku lakukan saat ujian. Berusaha sebelum bersenang-senang. Lagipula, matematika tidak terlalu berat. Bagaimana dengan kau? Tidak ada pemikiran untuk belajar lagi?”

“Aku akan mengulangnya nanti setelah menghabiskan ini.”

“Kau tahu? Aku memberikan alamat rumahmu pada Mi Soo noona.”

Luhan tiba-tiba menyipratkan kopinya. Minseok langsung menoleh ke arahnya dengan terkejut sekaligus jijik.

“Kau kenapa tidak bilang padaku?! Gawat!” Luhan langsung mengambil ponselnya, menekan salah satu nomor untuk ditelpon.

“Wae? Apa dirumahmu dipasang ranjau setiap jalan, huh?” tanya Minseok sembari menaikan sebelah alisnya.

“Bukan! Penjagaan rumahku sangat ketat karena hanya ada anak-anak dirumah. Kalau kau bilang padaku sejak awal, aku bisa menelpon kepala bodyguard untuk Mi Soo noona. Aku tidak yakin dia bisa masuk dengan mudah tanpa persetujuanku. Halo?”

“Apa?! Jadi, Mi Soo noona masih ada diluar?!”

****

Paginya…

“Morning, hyung. Kau mau kopi?” Suho melirik Minseok yang mendatangi dapur.

“Kemana yang lain?” tanya Minseok setelah duduk di kursinya sambil menunggu Suho membuatkannya kopi.

“Kau tidak lihat? Mereka sedang nonton tv.”

“Benarkah? Aku tidak dengar.”

Suho mendecak setelah meletakan gelas kopi Minseok di atas meja. Minseok langsung mengambil gelas itu dan mendekatkannya ke bibirnya. Baru akan meminumnya, Suho berbicara lagi padanya.

“Kau begadang lagi?” tanya Suho sambil memiringkan kepalanya.

“Tidak. wae?” Minseok terkejut. Sepertinya ada yang salah dengan wajahnya sampai Suho menyangkanya begadang tadi malam.

“Matamu hitam. Di sekitar bawah mata dan diatasnya. Tapi sepertinya itu bukan kantung mata.” Suho menunjuk-nunjuk bagian bawah matanya sendiri. Minseok sontak memegang daerah yang ditunjuk Suho tadi.

“YA! Apa ini?!” pekik Minseok terkejut saat melihat jarinya menjadi hitam. “BAEKHYUN!! KAU!”

Tanpa disadari Minseok, pelakunya sudah mengendap-ngendap pergi bersama Chanyeol dan Jongdae yang ikut-ikutan (dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi karena BaekYeol adalah temannya jadi dia ngikut aja apa yang mereka lakukan).

Di lain tempat…

“Ya. Kita ngapain sih mengendap-ngendap tadi? Kau melakukan apa lagi, Baek? Yeol?” tanya Jongdae.

“Bukan aku! Aku tidak tahu apa yang terjadi!” Spontan Chanyeol membantah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Hmm.. aku hanya melakukan eksperimen eyeliner pada hyung.” Baekhyun berucap tanpa dosa.

“YA!”

****

Ujian pun dimulai. Suasana sekolah sangat sepi. Kali ini suasananya berbeda. Karena pengawasnya berbeda dengan hari pertama. Ada empat guru yang berjaga di depan kelas, belakang, luar dan di samping kanan depan. Mungkin mereka menemukan kecurangan di kelas lain jadi para aparat sekolah memperketat penjagaan sampai sedemikian rupa.

Ini adalah surga bagi Luhan, Minseok dan Suho. Tapi neraka untuk Sehun!

Soalnya ada empat puluh. Namun yang bisa dikerjakan Sehun hanya dua puluh tiga soal dan sisanya memusingkan. Mau bertanya tapi tertangkap terus. Chanyeol yang berada di sebelahnya seakan-akan kupingnya sama tulinya dengan Suho yang berada di depannya. Sekuat apapun Sehun memanggil, tetap saja tidak ada pergerakan dari Chanyeol.

Memnag tidak biasanya Chanyeol akan tenang saat ujian. Tanpa direncana pun Chanyeol dan Sehun akan bekerja sama mencari jawaban dari mana saja. Tidak jarang mereka mendapat nilai tuntas di pelajaran yang mereka benci.

Sehun langsung memukul kepala Chanyeol saat ujian berakhir. Chanyeol mengerang keras dan membalas perbuatan Sehun sekuat tenaga. Sehun lagi-lagi membalasnya, dan Chanyeol juga membalasnya, begitu seterusnya sampai Luhan berdiri di tengah-tengah mereka dengan tangan direntangkan. Kedua bocah itu termundur dua langkah dengan tangan terkepal di udara.

“Jelaskan padaku apa yang kalian lakukan.” Luhan membuka mulutnya dengan suara datar.

“Dia yang mulai!” Chanyeol berteriak marah sambil menunjuk Sehun di seberangnya.

“Kau yang memulainya!” Sehun tidak mau kalah dan berusaha maju selangkah, namun Luhan langsung menengahi mereka lagi.

“Aku akan menunggu kalian berbicara. Ayo. Siapa yang mau duluan?” Luhan menyilangkan tangannya di dadanya, seakan sedang menunggu dari mereka untuk berbicara. Sehun dan Chanyeol sama-sama melirik Luhan sekilas sebelum mereka menatap satu sama lain.

“Kau yang seharusnya menjelaskan, Hun. Aku tidak tahu kenapa kau memukulku.” Chanyeol berkata lirih.

“Itu karena kau. Aku tidak akan memukul kalau kau tidak memulai.” Sehun tetap tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Luhan tetap santai di tempatnya, di tengah-tengah mereka.

“Tapi, kau perlu memberitahuku apa yang aku perbuat kepadamu biar aku bisa memperbaikinya.” Chanyeol mendesak Sehun untuk berbicara jujur satu sama lain, tapi Sehun hanya memolotinya.

Keduanya terdiam, begitu juga dengan Luhan yang tidak mau memancing pembicaraan ini. Luhan akhirnya menghembuskan napas keras-keras lalu menatap mereka bergantian.

“Aku tidak tahu apa yang kalian ributkan. Aku harap diantara kalian ada yang minta maaf dan memaafkan. Tapi, menurutku ini adalah salahmu, Yeol. Bukan karena aku membela Sehun. Dari apa yang aku dengar sejak tadi ini adalah salahmu, Yeol. Akan lebih baik kau yang meminta maaf.” Luhan berkata kepada Chanyeol dengan fokus penuh dan pengharapan.

Chanyeol tampak ragu. Walaupun kata maaf bukan masalah untuknya, tapi dia tidak yakin apa yang sebenarnya ia perbuat. Pada akhirnya Chanyeol meminta maaf juga kepada Sehun. Sehun menganggukkan kepalanya dan memaafkan Chanyeol. Di tengah-tengah suasana haru itu, Minseok datang dari belakang mereka bertiga dan memanggil Luhan. Minseok berjalan ke arah Luhan dan berhenti tepat tiga langkah darinya.

“Suho ingin kita kerumahnya malam ini,” kata Minseok.

“Memangnya kita diperbolehkan keluar asrama? Bukannya hari jum’at saja?” tanya Chanyeol terbelalak.

Minseok mengangkat bahunya lalu berkata. “Itu yang aku pertanyakan juga. Tapi, lebih baik kalau kita keluar asrama, kan? Kita bebas melakukan apapun dirumahnya. Bahkan jaringan Wi-Fi disana tidak pernah dimatikan.”

“Benarkah? Bukankah itu bagus, Yeol?” Sehun menyikut perut Chanyeol pelan.

“Tentu saja! Ayo kita kesana, hyung!” Chanyeol mendadak semangat.

“Oke, aku tunggu kalian di parkiran jam lima nanti. Ayo, Luhan.” Minseok mengibaskan tangannya kepada Luhan lalu berjalan duluan, sementara Luhan melambaikan selamat tinggal kepada dua bocah itu dengan wajah senang, kemudian mengejar Minseok.

“Apa kau merasa ada hubungan khusus di antara mereka, Yeol?” Sehun menoleh ke Chanyeol dengan wajah curiga.

“Memangnya kenapa?” tanya Yeol.

“Kenapa hanya kepada Minseok hyung Luhan hyung bisa bahagia begitu? Apa kau menyadari itu, Yeol?”

“Aku menyadarinya. Menurutku itu wajar karena mereka punya umur yang tidak berbeda jauh dan mereka sudah mengenal satu sama lain cukup lama. Lagian tidak salah juga Luhan hyung dekat dengan Minseok hyung. Dia kan orangnya baik, pengertian juga.” Chanyeol menaruh tangannya di pundak Sehun sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. “Sudah tidak usah dipikirkan. Ayo kita ke asrama dan ganti seragam. Sebentar lagi jam lima.”

Sehun mengangguk setuju. Seketika dugaan aneh tentang hubungan Minseok dan Luhan menghilang begitu saja. Chanyeol mulai menceritakan hal-hal konyol yang membuat Sehun terpingkal-pingkal. Dan tepat jam lima mereka berdua datang ke parkiran. Disana sudah ada Luhan dan Minseok di depan mobil Minseok. Mereka pergi ke rumah Suho dan tiba disana satu jam setelahnya.

*****

Author note: Sorry lama updatenya. Karena kurikulum 2013 ini banyak banget tugas dari sekolah, terus dua minggu yang lalu baru aja selesai ujian tengah semester. Nggak sempat bikin lanjutan fanfic ini. maaf banget yaL setelahnya pasti aku usahain lanjutannya sampai selesai. Makasih yang udah setia nunggu^^ dan makasih komentarnya.

One thought on “Dorm (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s