Precious Metals (Chapter 6 : Blood and Water)

prec

Title                 : Precious Metals (Chapter 6 : Blood and Water)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 : EXO OT12

Genre              : Action, Brothership, Thriller, Adventure

Rating             : PG-13

Length             : Chaptered

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt.

Summary         : Jika Lay mengatakan bahwa darah lebih kental daripada air, bagaimana cara Kris menyangkalnya?

Chapter 1 , Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5

.

-Precious Metals-

(Blood and Water)

.

Dentuman musik menggema di seluruh sudut bangunan sebuah kastil yang berada sepuluh kilo meter dari kota Paris. Baekhyun merebahkan diri pada kursi panjang yang ada. Berusaha memejamkan mata yang sedari tadi gatal melihat ‘mainan’ yang terpampang di depannya. Ia menguap bosan. Sudah dua belas jam sejak Kris pergi meninggalkannya. Namun pemimpinnya itu tak kunjung kembali. Dan keberadaannya di sini semakin terasa sia-sia karena ia tak memiliki apapun untuk setidaknya mengisi waktu senggangnya.

Sekali lagi matanya terbuka. Melirik pada layar besar dan segala peralatan teknologi yang ada di depannya. Ia mendesah. Ingin sekali mengutak atiknya namun masih bimbang. Takut Kris memarahinya.

“Huh, apa yang harus aku lakukan? Aku bisa gila.”

“Arrrgghhhhh!!!!!!”

“Apa Prancis membuat otakmu tak berfungsi, Baekhyun?” Monolog Baekhyun terhenti ketika ia mendengar suara seseorang. Ia langsung bangkit. Menunduk pada orang yang sedang berkacak pinggang di ambang pintu. Sejak kapan Kris di situ? Aish, memalukan saja!

“Ah, aku pikir kau belum kembali, Bos.” ucapnya kikuk.

“Kau yang terlalu sibuk menggerutu sehingga tak memperhatikan sekitarmu.” balas Kris. Baekhyun meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Kita akan kedatangan tamu, Baek. Kau tidak ingin membersihkan diri?” sambung Kris lagi.

“Haruskah?”

“Mm, lebih baik begitu. Tamu kita spesial kali ini.”

Baekhyun menyeringai. “Apakah dia seorang wanita?”

Plaaakk

Tangan Kris sukses mendarat di kepala anak buahnya. “Bersihkan juga otak mesum-mu itu Byun Baekhyun!”

“Hmmpt, baiklah-baiklah.”

.

-Precious Metals-

.

Tiga puluh menit berlalu. Baekhyun telah selesai membersihkan diri. Ia kembali ke dalam ruang dimana ia ‘terpenjara’ beberapa waktu yang lalu. Betapa bola matanya tak ingin keluar ketika ia mendapati seseorang di dalam sana.

“Astaga!” pekiknya tertahan. Lalu ia menghentikan langkah. Beridiri di balik pintu untuk mengintipnya.

“Aku tahu kau licik, Kris. Tapi asal kau tahu. Bagaimanapun darah selalu lebih kental daripada air!” samar-samar Baekhyun dapat mendengar percakapan mereka.

Kris tertawa renyah. “Apa kau sedang membicarakan anak buahku?”

“Brengsek! Jangan berpura-pura bodoh.”

“Tenang, Yixing. Kau tak perlu ikut campur. Dia bagian dari Draconisius. Dia adalah tanggung jawabku.”

“Kau berkata seolah-olah dia milikmu. Berhentilah, Kris. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Takdir tak bisa dilawan.”

“Aku tak melawan takdir. Jika kau tak tahu, aku sedang menikmati takdir. Bukankah semua indah jika dinikmati?”

Lay mendengus. “Sudah kukatakan dia bukan milikmu! Dia mungkin tak memiliki ingatan apapun tentang asal-usulnya. Tapi jangan lupa. Suatu saat ingatan kakaknya akan pulih. Bersiaplah untuk kehilangannya, Kris Wu!” ucapnya berapi-api.

“Peduli apa aku dengan kakaknya? Dan asal kau tahu. Aku sudah menantikan saat-saat itu. Saat-saat untuk membuka lebar matamu, betapa kekuatan air lebih besar daripada darah yang selalu kau agungkan selama ini!”

Baekhyun hanya bisa menebak-nebak apa yang mereka bicarakan? Darah? Air? Kakak? siapa sebenarnya yang mereka maksud? Tak ingin berlama-lama, Baekhyun memutuskan untuk memasuki ruangan itu.

“Kau selesai?” tanya Kris ramah. Baekhyun mengangguk hormat.

“Duduklah. Kau pasti mengenal siapa tamu kita ini.”

Baekhyun tersenyum kikuk. Lalu memposisikan diri di sebelah Kris. Berhadapan langsung dengan ‘tamu istimewa’ yang Kris katakan tadi.

Lay bangkit berdiri. Meninggalkan ruangan setelah mengucapkan kata terakhirnya. “Silahkan bersenang-senang dengannya hingga tiba waktunya kau akan kehilangannya!”

.

-Precious Metals-

.

Sehun menghembuskan nafas berat untuk yang ke sekian kali. Bosan, ia benar-benar merasa lelah duduk bersandar selama hampir dua jam. Hingar-bingar musik disco ia abaikan. Seluruh makanan dan wine yang telah dipesan masih tersaji utuh di mejanya. Sama sekali belum tersentuh.

Berkali-kali ia mengecek layar handphone. Masih gelap. Tak ada balasan dari pesan yang berkali-kali ia kirim pada temannya, Tao. Dalam hati ia merutuki lelaki berkulit gelap itu. Dasar tak bisa di andalkan!

Sehun melihat makanan di depannya sangat menggiurkan. Ditambah minuman-minuman yang sanggup membuatnya melayang. Oh, sungguh anak itu ingin sekali menyentuhnya. Tapi sebenarnya kenapa? Apa yang menyebabkan seorang Oh Sehun gelisah di depan makanan yang telah ia pesan itu?

Yah, sudah pasti karena uang! Sehun mengakui jika kali ini dia ceroboh. Dompet hitam berisi ratusan ribu won miliknya tertinggal di dalam Manor. Dan kesialannya bertambah karena ia saat ini berada dalam bar terbesar di kota Seoul. Tentu tingkat keamaannya sangat tinggi. Sehun tak dapat melarikan diri tanpa membayar tagihan makanan yang tidak murah itu.

Sehun mencoba tenang. Memikirkan bagaimana cara ia lolos dari situasi ini. Hanya ada dua kemungkinan. Mendekati gadis berdompet tebal, atau melawan petugas keamanan. Ia mengacak rambut frustasi karena keduanya benar-benar terasa sulit di lakukan. Andai saja lidahnya semanis Baekhyun, tentu ia lebih memilih mendekati gadis-gadis seksi yang memiliki banyak uang di dalam tasnya. Resikonya lebih kecil, dan kemungkinan berhasilnya sangat tinggi. Tapi kembali lagi pada awal, andai saja dia Baekhyun! Oh, nyatanya dia hanyalah seorang Sehun yang antipati terhadap spesies bernama wanita.

Mau tidak mau ia memilih opsi kedua. Matanya mulai menelusur tiap pintu gedung tersebut. Setidaknya, ada enam orang berjaga di kanan kirinya. Sekali lagi ia menyesal. Andai saja ia Tao. Dengan teknik berkelahinya yang sangat baik, pasti ia dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Yah, andai, andai dan andai. Sehun terlalu banyak berandai sekarang.

Sehun menjambak rambut gemas. Untuk pertama kali, ia menyesali keahliannya dalam bidang senjata. Ck! benar-benar tak berguna pada saat seperti ini.

Khawatir otaknya semakin bergeser, Sehun memutuskan beranjak. Memantapkan hatinya untuk melawan orang-orang berpakaian hitam itu. Sehun terpaksa mendesah ketika jaraknya dengan pintuk keluar semakin pendek. Dia salah. Perhitungannya atas jumlah penjaga di sana salah total. Nyatanya, di bagian luar, ia masih bisa melihat deretan lelaki berbadan kekar yang mengawasi tempat itu. Sial!

“Hei, Tuan. Anda mau kemana? Anda harus menyelesaikan tagihan sebelum keluar tempat ini.” Suara pelayan perempuan membuyarkan taktik-taktik yang sedang ia susun di otaknya. Sehun menoleh, tersenyum ke arah pelayan itu.

“Ah, maaf. Aku lupa, nona.”

Setelah itu, ia kembali berbalik dan berlari sekuat tenaga. Menerobos pintu yang dijaga dengan ketat. Penjaga-penjaga itu tak tinggal diam. Memegangi jaket hitam yang Sehun kenakan. Dengan cekatan, ia melepas jaketnya dan kembali berlari, meloloskan diri dari penjaga-penjaga itu.

Sehun merasa nafasnya kian tercekat. Namun orang-orang itu tak berhenti mengejarnya. Alhasil, ia harus terus memacu kakinya agar tak tertangkap. Yah, karena melawan mereka hanya akan sia-sia. Itu tindakan bodoh yang tak pernah Kris ajarkan.

Setidaknya, Sehun telah berlari sekitar satu kilo meter jauhnya. Mengingat kini ia telah sampai pada jembatan Banpo. Sebuah jembatan yang memancarkan air berwarna warni yang menjadi tempat favorite untuk menghabiskan waktu malam. Tapi jangan ditanya apakah kali ini banyak orang yang menontonnya dikejar-kejar penjaga bar atau tidak. Karena ini tengah malam. Yah, tengah malam dan Sehun harus berlarian seperti orang gila. Untung saja tak ada orang. Oh koreksi, ada satu orang duduk di atas jembatan sambil mengamatinya. Namun ia tak punya waktu untuk mengurusi orang tersebut. Mungkin orang itu menertawakannya? Ugh, siapa peduli?!

Tak terasa, kakinya melangkah semakin jauh. Baru sebentar pikirannya teralihkan oleh orang diatas jembatan itu, ia tak menyadari bahwa dirinya menuju tempat yang salah.

“Shit!” umpatnya ketika mendapati jalan buntu.

Ia menoleh ke belakang. Penjaga bar masih mengejarnya walau jarak mereka cukup jauh. Sehun menimbang apa yang harus dilakukan. Tak butuh waktu lama, ia melompat. Yah, tentu saja melompat masuk dalam sungai lebih baik daripada melawan mereka.

BYUUURRR!!!!!

“Hmtpgmphhh..”

Dingin air sungai menjalar ke seluruh tubuhnya. Sehun meraba-raba sekitar. Ia merasa sedikit harapan ketika tangannya menyentuh dinding sungai.

“Ah, aku tak akan mati. Aku tak akan mati hari ini.” soraknya dalam hati sambil terus merangkak naik. Ia sedikit tersentak ketika tangannya ditarik oleh seseorang.

“Sial, penjaga itukah?” runtuknya lagi.

Ia menengadah. Dan demi cakar naga! Sehun merasa jantungnya hendak melompat dari tempatnya ketika ia mengenali orang itu.

Sehun hanya menerima bantuannya tanpa berkata apapun. Ia menggigil dan tak sempat berfikir mengapa salah seorang pemimpin Monocerus itu datang padanya. Tubuhnya benar-benar terasa kaku. Kebas hingga ia tak bisa merasakan apapun. Sehun menekuk kakinya. Memeluk lutut agar tak bertambah membeku. Sesekali matanya melirik pada Luhan –orang yang menyelamatkannya- yang berada di samping.

“Pakai ini. Tubuhmu basah.” Luhan menyodorkan hoodie yang baru saja ia lepaskan. Sehun mendongak, menatap lurus pada wajah itu.

“Apa Luhan tak mengenaliku?” batinnya heran.

Namun keheranannya hanya berlangsung sebentar karena ia melihat Luhan tersenyum. Dengan perasaan aneh tak percaya, ia menerimanya.

“Terimakasih.” ucap Sehun kemudian.

Sehun semakin yakin bahwa Luhan benar-benar tak mengenalinya setelah ia berbincang sedikit banyak dengannya. Luhan pintar berakting. Itu adalah asumsi pertama Oh Sehun pada sang pemimpin kubu kuda bercula. Ia benar-benar terlihat seperti orang baik. Memperlakukan Sehun layaknya orang normal biasa.

“Kau cukup punya harga diri ternyata. Boleh ku tahu namamu?” Luhan bertanya ramah. Namun Sehun hanya mampu berkedip tanpa menjawab. Beberapa detik ia memikirkan sesuatu hingga akhirnya . “Young Dal. Namaku Kim Young Dal.”

“Jika kau butuh pekerjaan, datanglah padaku. Sepertinya pekerjaan menantang adalah yang paling cocok untukmu.” tawarnya kemudian. Sekuat tenaga Sehun tidak menunjukan ekspresi apapun di wajahnya. Namun dalam hati ia tertawa. Benar-benar terbahak mendengar tawaran bodoh Luhan.

“Akan ku pikirkan. Tuan?”

“Luhan. Panggil aku Luhan.”

“Baiklah Luhan hyung.” Sehun melihat perubahan ekspresi wajah Luhan ketika ia memanggilnya hyung. Sehun terkikik. “Apa kau keberatan kupanggil hyung?”

Luhan buru-buru menggeleng. “Tidak. Hanya saja aku tak terbiasa dipanggil seperti itu.”

“Ah, kau anak tunggal rupanya.”

Luhan mengangkat bahu. “Mungkin.”

.

-Precious Metals-

.

Sepeninggal Jongin, Taemin terus berdiam di apartemennya. Merenungi apa yang baru saja terjadi. Ia merasa bersalah, tentu saja. Persahabatannya dengan Jongin sungguh merupakan sesuatu yang sangat berharga. Ia tak mungkin tega ‘menjualnya’ pada Suho. Namun di sisi lain, Jonginnya bukanlah Jongin yang ia kenal dulu. Jonginnya telah berubah. Ia bukan lagi Kim Jongin yang akan selalu membentak anak-anak yang mengganggu Taemin di sekolah, ia bukan lagi Jogin yang akan menggandengnya ketika Taemin terluka karena sering dibully teman-temannya. Ia bukan lagi Kim Jongin. Ia adalah Kai. Seorang buronan yang harus ia tangkap dan jebloskan ke dalam bui. Mereka berada dalam sisi bersebrangan. Dan salah satu harus tercebur jika hendak menghampiri yang lainnya.

“Hhh…” Taemin mendesah untuk yang kesekian kali. Tangannya sibuk membolak-balik berkas laporan yang ia terima beberapa waktu lalu dari Suho. Taemin mendengus. Pasti saat ini kepala kepolisian muda itu sedang terbingung-bingung. Heran dengan kinerjanya yang tak seperti biasa. Tapi bisa apa? Taemin sendiri tak yakin ia mampu menangkap Kai. Lebih tepatnya, ia tak yakin melukai orang yang pernah melindunginya.

dreett..dreett..dreett…

Taemin menoleh ketika ponselnya berketar. ‘Kim Suho’. Ia dapat membaca dengan jelas walau matanya sedikit demi sedikit mulai mengabur. Dengan perasaan malas, ia mengangkatnya.

“Hallo.” ucap Taemin.

“Tuan Lee. Apa kau punya waktu? Aku perlu bicara denganmu.”

Kening Taemin mengerut. “Jika itu tentang Kim Kai, maaf Mr.Kim. Aku belum bisa memenuhi permintaanmu. Maafkan aku. Aku sedang berusaha.”

“Aku tahu, tapi ini benar-benar mendesak. Hanya sebentar.” Suho kembali bersuara. Kali ini dengan nada sedikit memohon.

“Baiklah. Temui aku di apartemen. Aku tak akan mengambil resiko menemuimu di dalam kantor.”

Klikk

Taemin memutus sambungan dengan desahan panjang. Kali ini apa lagi? Apa polisi muda itu tak mengetahui jika dirinya sudah terlalu pusing? Aish, sial!

.

-Precious Metals-

.

Bertengkar dengan Do Kyungsoo memang menyebalkan. Pemikiran rasional dengan logika tinggi yang dimiliki lelaki bertubuh pendek itu membuat Suho sulit untuk berkilah. Namun, bertengkar dengan Park Chanyeol lebih dari sekedar menyebalkan. Dengan pemikiran konyol yang terkadang bisa membuatnya hampir terjungkal, Suho harus ekstra sabar menghadapinya. Itu adalah posisi dimana dirinya seperti menghadapi petaka. Seperti saat ini.

“Jadi bagaimana Ketua Kim? Aku dan D.O adalah kaki tanganmu. Kami staff-mu. Bagaimana bisa kau akan meninggalkan kami dalam penyelidikan ini?” Chanyeol kembali bersuara.

“Aku tak meninggalkan kalian, Chanyeol. Aku menugasi D.O berjaga di kantor. Dan aku menugasimu mengawasi sistem jaringan. Apa itu belum cukup?”

“Oh, bagaimana mungkin? Aku juga ingin tahu perkembangannya, Suho. Aku juga polisi!” balas Chanyeol berapi-api.

“Tapi kau bisa mengawasinya dari sini, Park Chanyeol! Kau bisa duduk sambil mendengarkan perkembangan yang akan aku laporkan nanti. Sungguh, aku akan memberi tahu kalian!” Suho tak kalah meninggi.

“Tidak, tidak. Kyungsoo, katakan sesuatu. Kenapa kau diam saja, huh?”

“Suho benar, Yeol. Kita tidak bisa meninggalkan markas. Kita memiliki pekerjaan masing-masing.”

Mata Chanyeol melebar. “Bagaimana bisa kau menjadi polisi jika kau tak peka seperti ini? Kau bahkan tak mau tahu. Do Kyungsoo kau benar-benar.”

“Yak! Jangan mengataiku seperti itu! Aku hanya menjalankan tugas. Aku tak ingin membantah perintah. Suho pasti sudah memikirkannya.”

“Ya. Aku memikirkannya matang-matang.” sambar Suho cepat.

Chanyeol hanya bisa mendengus tak percaya. “Kalian sekongkol. Kalian pasti hanya ingin menyingkirkanku. Oh, bagaimana nasib karierku. Ya Tuhan.”

Keduanya memutar bola mata. Gemas dengan tingkah laku si abnormal kepolisian itu. “Baiklah, apa maumu?” Suho akhirnya mengalah. Membuat Chanyeol berbinar. “Aku mau ikut denganmu.”

“Cepat bergegas. Tapi jika kau membuat masalah, kujamin kariermu benar-benar habis sampai disini Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangguk senang. Bergegas memberesi seluruh isi mejanya.

“Tunggu apa lagi, D.O? Cepat bersiap juga.” ucap Suho.

“Aku? Aku ikut juga?” D.O menyahut bingung.

“Tentu saja! Mana mungkin aku membiarkannya berkeliaran sementara aku bertugas. Ugh, aku pasti sudah gila.”

.

-Precious Metals-

.

Chanyeol kembali merutuk ketika Suho meninggalkannya berdua dengan D.O di dalam mobil.

“Apa-apaan ini? Jika akhirnya harus mendekam disini lebih baik aku di kantor!” gerutunya.

“Sudah ku duga.” sahut D.O.

“Apanya?”

“Sudah kuduga kau idiot, Park Chanyeol! Aku kan sudah bilang, kita hanya perlu menunggu kabar dari Suho. Andai saja otakmu bekerja, pasti sekarang kita bisa bernafas lega di dalam kantor. Ugh, ini pengap sekali!” D.O ikut menggerutu. Membuka jendela mobil untuk mendapat udara segar.

“Yak! berhenti mengomeliku. Kau juga sama saja.”

“Aku? Jangan samakan aku dengan otak absurdmu itu.”

“Sampai kapan kau akan mengataiku absurd, gila, dan idiot, D.O? Kau tahu, aku juga punya perasaan. Jabatan kita sama, tidakkah itu berlebihan jika kau terus membully-ku?”

“Dramatis sekali.” D.O memotong pendek. Malas menanggapi Chanyeol yang semakin menggila. Dan demi Tuhan dia sendiri juga nyaris gila malam ini.

Beberapa jam kemudian Suho kembali. Membuka kasar pintu mobil dan membantingnya hingga tertutup kembali. Wajahnya memerah, nafasnya terengah dengan rahang terkatup rapat. Baik D.O maupun Chanyeol tahu sesuatu buruk telah terjadi.

Mereka berdua beradu tatap, seolah menyalurkan pikiran mengenai apa yang harus dilakukan.

“Kita tidak bisa mengandalkan Lee Taemin lagi.” akhirnya Suho sendiri yang buka suara. Kedua anak buahnya hanya mengerutkan kening.

“Kenapa bisa begitu?”

Suho membuang nafas keras. “Sudahlah. Ayo kita kembali.”

.

-Precious Metals-

.

Bayangan percakapan dengan Lee Taemin masih terngiang di otaknya. Suho mendengus kesal. Menendang apapun yang ada di ruang tengah apartemennya untuk menyalurkan kemarahannya.

“Sial!” ia mengumpat lagi. Meninggalkan image seorang kepala kepolisian yang tenang berwibawa.

Sungguh, kali ini Suho benar-benar kesal. Dugaan-dugaan yang selama ini bermunculan di otaknya ternyata benar. Kim Kai bukan orang biasa. Dia adalah seorang anggota mafia kelas kakap Monocerus. Dan betapa ia menyesal telah melibatkan Lee Taemin. Ah, tidak. Sebenarnya jika dipikir lagi, ia beruntung meminta bantuan Lee Taemin. Hingga ia bisa masuk apartemen detektif swasta itu dan menemukan foto Taemin. Yah, tentu saja bersama Kim Kai.

Suho sempat terperangah sebelum menuntut kejelasan pada detektif itu. Tidak mudah, karena sepertinya Taemin melindungi Kai. Yah, sekarang semuanya masuk akal. Mengapa kinerja Taemin tidak kompeten, mengapa lelaki itu mengulur-ulur waktu. Itu semua semata-mata untuk melindungi Kai dan menjauhkannya dari Suho sendiri. Sialan!

Suho menarik kursi, menghempaskan tubuh lelahnya. Tangannya bergerak untuk membuka laptop. Melihat kembali data-data tentang riwayat pergerakan Monocerus.

Organisasi Monocerus.

Penguasa jaringan pasar gelap Korea Selatan.

Terbentuk sejak 20 tahun yang lalu tepat setelah pecahnya hubungan Zhang Yixing dengan Kris Wu, pimpinan organisasi mafia Draconisius.

Data anggota terlacak :

Yixing (Picture)

Chen (picture)

Luhan (Picture)

Tunggu—

Suho menghentikan scrolling mouse-nya ketika melihat wajah salah seorang anggota Monocerus. Ia termangu. Sepertinya wajah itu tak asing. Bahkan sangat familiar.

“Arrgghh!!!!” Suho menjambak rambut dengan frustasi ketika menyadari kelalaiannya yang lain. Bodoh! Wajah itu, wajah itu adalah wajah seorang gadis yang menjamin kebebasan Kim Kai. Ia menggeleng tak percaya ketika mengetahui fakta bahwa dia seorang pria.

“Luhan?” gumam Suho dengan kepala masih berdenyut.

“Tapi kenapa cantik sekali!”

.

-Precious Metals-

.

Tao tak bisa berhenti tertawa ketika melihat keadaan Sehun. Celana jeans basah, hoodie sedikit kependekan, serta menenteng kaos basah dan kumal. Semua itu sudah cukup membuat image keren dalam diri Oh Sehun luntur seketika.

Lelaki berkulit pucat itu terlihat semakin pucat. Tetap mempertahankan posisi tidurnya setelah mengganti pakaian basahnya. Ia memejamkan mata. Tak berniat menanggapi cercaan teman satu organisasinya. Yang ia rasakan saat ini adalah pening tak terkira. Demam. Yah, sepertinya ia terserang demam karena aksi akrobatiknya yang telah menarik perhatian Luhan. Mengingat wajah ‘tak tahu apa-apa’ seorang pemimpin Monocerus itu mau tak mau membuatnya menyunggingkan senyum. Ia menyeringai lebih tepatnya.

“Dasar bodoh!” gumamnya tanpa sadar. Seketika ia mengaduh ketika Tao melemparkan bantal tepat pada wajahnya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” bentak Sehun tak terima.

“Kau diam saja, tahu-tahu mengataiku bodoh. Kau kira aku tak dengar? Telingaku masih berfungsi, Oh Sehun!”

“Cih, siapa yang mengataimu.” cibir Sehun. Ia mengambil posisi duduk di atas ranjang empuknya. “Kau tahu milik siapa hoodie yang ku pakai ini?” sambungnya.

Tao hanya menggeleng tak mengerti. Apa maksudnya? Sehun mau pamer?

“Milik Luhan.”

Seketika mata Tao melebar selebar lebarnya. “Bohong.”

“Sungguh. Aku tak berbohong.”

“Jika itu memang Luhan pasti dia lebih memilih membunuhmu alih-alih meminjamkanmu hoodie. Bodoh! Kau kira aku mudah dibohongi?”

Sehun menyeringai kembali. Sudah pasti tak akan ada yang percaya perkataannya. Bahkan ia sendiri masih tak percaya jika ia ‘berkenalan’ dengan Luhan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sehun merogoh kantung hoodie itu. Menarik sebuah kertas kecil berbentuk persegi. Ia kemudian memencet tombol di handphone-nya sesuai dengan nomor yang tertera pada kertas itu.

“Hallo?” terdengar suara seseorang mengangkat panggilannya. Tao mendelik, mendengar suara itu lewat speaker tak membuatnya lupa pada si pemilik suara. Ia menatap Sehun tak percaya.

“Tidak mungkin!” ucap Tao tanpa suara. Ia masih beradu pandang dengan rekannya itu. Di lain pihak, Sehun hanya menyeringai penuh kemenangan atas keterkejutan Huang Zitao.

.

.

.

-TBC-

25 thoughts on “Precious Metals (Chapter 6 : Blood and Water)

  1. Clarissa Tiara berkata:

    Wawwwwww , nambah wah aja yg bagian suhu ngomongin luhan itu kikikiki “tapi kenapa dia cantik sekali ” hahahahahah lanjutinn eoonn seruu chanyeol ya ngakak….ayem hahaha , keep writing eon kecup salam dari kamjonginniee hihi😀

  2. kyunghyun11 berkata:

    Yaaakk!! Makin seru, wahh hahaha aku sampe ngakak thor pas bagian Suho yang baru tau kalau Luhan itu cowok “tapi kenapa cantik sekali!” Wkwkwk.😀
    Aku suka sama bagian waktu D.O sama Chanyeol debat. Hohoho😀 bikin ngakak.

    Aaak pokoknya seru! Next thor, ditunggu ya kalau bisa jangan lama2 ^^ keep writing!!! !🙂

  3. junia angel.58 berkata:

    ksian jga ea Luhan brsa di tipu gtu sma Sehun😦 …tpi knpa Luhan ga ngenalin itu Sehun sih???
    bang suho bru tau ea klu Luhan itu cantik wkwkw kmna aja bang hahaha
    lnjut thor di tunggu next chapnya

  4. littlecheonsasss berkata:

    pecahnya hubungan Zhang Yixing dan Kris Wu? apa jangan jangan… mereka yang sebenarnya bersaudara? pertama, aku ngiranya HunHan, tapi, karena kata kata itu aku jadi bingung… karena, waktu Lay datang mereka ngomongin tentang anak buah…

    ARGHH!!! ya udah,NEXT! Biar gak penasaran lagI…. :3😀

  5. Vi Hun-Han berkata:

    Ngakak pas baca bagian suho oppa tentang luhan oppa..!!
    Epep ini makin seru dan penasaran ..
    Daebakk epep .. Next thor

  6. Oh nazma berkata:

    Keren.. Lanjut dong .ini udh lama . Tp kok blum d lnjut. Lnjut dong … Aku penasaran . Kyaknya luhan n sehun adik-kakak ya.. Tp kris ngilangin ingatan kduanya? Iya kayanya gitu.. Hehe asal nebak. LANJUT YA ..

  7. desi mulya berkata:

    author ini ff kapan dilanjutnya ???? truss itu sehun sama luhan sebenernya adik kaka kan ????
    cpt dilanjut dong … :):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s