You Never Give Me a Chance Part 8

YOU NEVER

Nama : @sehuhet
Judul Cerita : You Never Give Me a Chance
Tag : Oh Sehun, Choi Sulli, Kim Jongin, Jung Krystal, and other.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)
Catatan Author : cerita ini murni buatan author sendiri, mohon jangan di copas. Dan author mohon maaf kalau ada yang tidak suka dengan castnya, sesungguhnya cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf juga kalau banyak typo. Ditunggu komennya juga yaa, makasihh 🙂

Happy Reading~

***

Jongin mengecup puncak kepala Sulli. Kini ia bisa menghela nafas lega mengetahui sahabatnya itu memaafkannya. Saat Sulli tidak pulang dan marah padanya, ia benar – benar merasakan dadanya terasa seperti terhimpit sesuatu. Ini bukan pertama kali nya mereka bertengkar, tapi Jongin tidak suka kalau Sulli marah padanya.

Ia terlalu menyayangi Sulli untuk membiarkan gadis itu menjauh. Walaupun Sulli membenci idol, tapi ia ingin menunjukkan kalau apa yang selalu difikirkan Sulli tentang idol semua nya salah. Ia tidak akan mengecewakan Sulli, ia tidak akan membohongi atau meninggalkan gadis itu.

“kau akan kembali ke dorm kan?” tanya Jongin seraya melepaskan pelukannya.

Sulli tersenyum meminta maaf, “ani, aku tetap akan menginap di rumah Luna, toh besok eomma sudah pulang”

“tapi aku akan merasa lebih tenang kalau kau di dorm, aku bisa mengawasimu” ucap Jongin dengan nada merajuk.

Sebelah alis Sulli terangkat, lalu gadis itu tertawa hambar, “bagaimana kau bisa mengawasiku sementara sibuk berlatih dan menggantikan soesangnim?

yak! Apa kau masihh marah?”

ani,” ucap Sulli, lalu tersenyum, “tapi aku akan dorm nanti untuk bertemu Krystal.”

“mau aku antar? Aku bisa menunggu sampai kelas terakhirmu selesai”

“Sehun yang akan mengantarku”

Kedua alis Jongin terangkat. Sejak kapan Sulli mulai akrab dengan Sehun? buukankah setahu nya Sulli sangat membenci nya?

Belakangan ini Sulli memang sering menghabiskan waktu dengan Sehun, tapi ia tahu betul kalau sahabatnya itu tetap pada sikapnya yang dingin selagi menghadapi Sehun. Tapi melihat bagaimana Sulli menolaknya dan memilih pergi dengan Sehun, seperti nya ada sesuatu yang mulai berkembang.

Tanpa sadar Jongin mengulas senyum. Bukankah itu berarti berita baik? apa Sulli mulai membuka hatinya?

“hei, sudah mulai akrab rupa nya” goda Jongin, tangannya terjulur mengacak-acak rambut Sulli.

aniyo!” bantah Sulli, dan kini raut wajahnya, entahlah Jongin tidak bisa mengartikan, gadis itu memang terlihat kesal, tapi kalau matanya tidak salah lihat sepertinya kedua pipi gadis itu bersemu merah. Aahh kyeopta!

           wae? Wae? Bukankah bagus kalau kau memiliki teman selain aku?”

“aku punya Luna!”

“teman laki-laki?”

ya! memangnya aku harus memiliki teman pria? Memilikimu saja sudah cukup sulit” ucap Sulli cemberut.

Jongin tertawa keras lalu menarik Sulli kedalam dekapannya, “aku hanya ingin melihat bagaimana adik ku ini ketika memiliki seorang pacar”

Sulli mendongak, “apa kau mengatakan ini supaya kau sendiri bisa memiliki pacar?” tanyanya curiga.

“aku tidak memiliki waktu untuk berpacaran disaat seperti ini Sulli-ya.

“apa Krystal tidak cukup cantik untukmu?”

Kedua mata Jongin melebar mendengar ucapan Sulli. bagaimana bisa gadis itu berkata seperti itu? ya! kenpa kau tiba-tiba ingin menjodohkanku dengan Krystal? Kami sama sama sedang sibuk, kau tahu itu”

Sulli memajukan bibirnya, “hanya Krystal, gadis yang bisa ku percaya untuk menjadi kekasihmu”

wae? Krystal bahkan tidak bisa memasak, gadis itu juga sangat dingin hingga aku harus berhati-hati kalau bicara dengannya, dia bahkan tidak sefeminin Jiyeon” Jongin menghentikan ucapannya dan menoleh dengan hati-hati. Bodohnya! Kenapa bisa-bisa nya ia menyebut Jiyeon padahal penyebab pertengkaran mereka adalah salah faham tentang hubungannya dengan Jiyeon.

Dan benar saja, saat menoleh, ekspresi menyelidik Sulli lah yang kini sedang menatapnya.

“jadi kau menyukai Jiyeon eunni?

Jongin menggeleng cepat, “aku hanya menyukaimu” ucapnya lalu mengecup pipi Sulli. “ayolah, kita baru saja berbaikan, aku tidak mau kembali merusak suasana hanya karena keceplosan. Jiyeon memang sangat feminine, tapi aku mengatakannya bukan berarti aku menyukainya. Sungguh.”

“aku hanya tidak suka berbagi, untuk saat ini sampai saatnya kau debut nanti, aku hanya ingin memilikimu sendiri” ucap Sulli pelan.

“saat ini dan saat debut nanti, aku tetap milikmu Sulli-ya, aku tidak akan berhenti menjadi oppa mu”

Sulli tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum dan memeluk Jongin erat.

***

“ternyata begini rasa nya sakit hati?” Sehun bergumam pada dirinya sendiri. Melihat pemandangan di hadapannya membuat sesuatu menampik dadanya. Jongin memeluk Sulli dan begitu juga sebaliknya. Ia memang sudah memperkirakan hal ini, ia tahu pasti ada sesuatu diantara mereka berdua, tapi ia tidak tahu kalau melihat secara langsung begini membuat dadanya tiba-tiba sesak.

Tanpa bermaksud mengganggu momen kemesraan Jongin dan Sulli, ia membalik tubuhnya dan kembali mencari kelas selanjutnya. Tadi ia bermaksud untuk melewatkan kelas nya dan tidur di bawa pohon besar di belakang kampus, mengingat tempat itu sangat sepi dari mahasiswa, tapi melihat pemandangan tadi, ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk masuk kelas saja. walaupun kupingnya akan terasa pengang mendengar penejalasan dosen, setidaknya ia bisa berusaha menetralkan detak jantungnya di kelas nanti.

Tangannya sudah memegang gagang pintu kelasnya untuk masuk dan terhenti dengan suara ponselnya yang berdering. Ia melepaskan tangannya dari pintu dan meronggoh saku celananya.

Choi Minho

Sebelah alis Sehun terangkat melihat nama pelatihnya di sana. Ia pun menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya di telinganya.

ne, hyung?

“aku baru saja tiba di Seoul, hari ini aku ingin melihat perkembanganmu, bisakah kau ke tempat latihan?” tanpa ketara, Sehun mendesah. Sejak kapan pelatihnya ini sampai di Seoul? Setaunya, pelatihnya itu masih di Tokyo melaksanakan konsernya.

“umm… aku akan kesana dalam 30 menit”

“baiklah, aku tunggu.” Dan dengan begitu Choi Minho mematikan sambungannya.

Sehun menghela nafas panjang, dan kali ini lebih kentara. Latihannya hari ini pasti akan sampai malam kalau nanti Minho tidak puas dengan perkembangan Sehun. Bukannya tidak percaya diri, tapi mengingat bagaimana kerasnya pelatihnya itu, apapun yang menurut Sehun sudah cukup bagus, belum tentu akan cukup bagus juga untuk Minho.

Dengan langkah berat, ia pun berjalan menuju parkiran tempat motornya berada, beruntung sekali ia tidak membawa mobil karena suasana jalan raya pasti akan padat dan ia terlambat sampai di tempat latihan.

Sebelum menjalankan motornya, Sehun berfikir sejenak apakah ia harus memberitahu Sulli atau tidak. Ia sudah berjanji akan mengatarnya ke dorm, dan mengingat sepertinya ia akan selesai sampai malam, apa seharusnya ia memberitahu Sulli?

Tapi bukankah gadis itu sudah berbaikan dengan Jongin? Jadi sepertinya tidak perlu mengabari karena ia yakin Jongin lah yang akan mengantarnya ke dorm, bahkan membuat Sulli kembali kesana tanpa harus mengatar kembali ke ruma Luna. Sulli pasti kembali ke dorm atas permintaan Jongin.

“sepertinya tidak perlu mengabari Sulli, gadis itu pasti baik-baik saja bersama Jongin” gumam Sehun lalu mulai melajukan motornya.

***

Seperti yang di perkiraannya, ia selesai latihan pada malam hari. Sekarang sudah pukul 7 malam dan setelah beberapa kali mengulang gerakan yang di suruh Minho, barulah Sehun bisa memuaskan pelatihnya itu. Setelah mengistirahatkan tubuhnya beberapa menit, Sehun memeriksa ponselnya. Ada 6 pesan dan 2 panggilan tak terjawab. Kening Sehun menyerngit ketika melihat dua panggilan tak terjawab ternyata dari Sulli. Ia membuka pesan nya dan perasaannya mulai tidak enak melihat 2 pesan dari Sulli. Ia langsung membuka nya dan tercekat.

Kau dimana?

YA! sampai kapan kau membuatku menunggu!

Sehun melihat pesan itu baru sampai belum lama. Melirik jam dinding, ia pun langsung bergegas membereskan barang-barangnya dan melesat ke motor. Fikirannya berkecamuk pada sosok Sulli yang sedang menunggunya. Ya Tuhan! Harusnya ia memberitahu gadis itu dan tidak membiarkannya menunggu sampai malam seperti ini.

Tapi kenapa ia tidak bersama Jongin?

Ah tidak penting! Yang terpenting sekarang ia sampai di kampus dan mengetahui kalau Sulli baik-baik saja.

***

Kedua kaki Sulli tidak bisa berhenti bergetar. Sekarang sudah pukul 7 malam dan Sehun tidak bersamanya. Tadi siang pria itu sudah berjanji akan mengantarnya pergi ke dorm, tapi kenapa sampai malam begini Sehun tidak ada? Sehun bahkan tidak membalas pesannya atau mengangkat telfonnya.

Sungguh menyebalkan! Tidak tahukah pria itu kalau menunggu itu tidak enak? Kalau bukan karena ia sudah berjanji terlebih dahulu dengan Sehun, ia mungkin saja sudah sampai di dorm bersama Jongin.

Sekarang sudah waktunya Jongin dan Krystal latihan, jadi percuma saja kalau ia tetap ke dorm. Tapi mengingat hari sudah cukup malam, tidak mungkin ia pulang sendirian menaiki kendaraan umum. Selain Jongin akan memarahinya, ia juga tidak mau mengambil resiko.

Menghela nafas panjang, Sulli kembali mengeluarkan ponselnya bermaksud untuk menghubungi Sehun. kalau memang sekali lagi Sehun tidak bisa dihubungi, sangat terpaksa ia meminta Luna untuk menjemputnya.

Tunggu dulu. Kenapa tidak sedari tadi ia berfikir untuk meminta Luna menjemputnya? Karena sudah terlanjur tidak bisa ke dorm, bukankah ia bisa langsung pulang saja ke rumah Luna? Ah, bodohnya!

Dan ketika Krystal sudah menemukan nomor Luna di kontaknya, dan ibu jarinya sudah akan menekan tombol hijau, sebuah motor yang sangat di kenalinya tiba-tiba berhenti di hadapannya. Sulli mendongakkan kepalanya dan menemukan Sehun yang sudah berdiri dihadapannya dengan menenteng helm. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari marathon padahal jelas-jelas pria dihadapannya itu menaiki motor.

wae? Kenapa nafasmu tersengal-sengal seperti itu?”

“kenapa kau masih disini?” tanya Sehun tidak mengindahkan pertanyaan Sulli.

Mendengar itu, sebelah alis Sulli terangkat, “maaf ya Oh Sehun-ssi, tapi yang membuat janji akan mengantarku ke dorm itu kau!” tukasnya. Bagaimana bisa pria itu menanyakan hal seperti itu setelah membuatnya menunggu hingga malam begini?

“aku fikir kau akan pergi dengan Jongin. Harusnya kau memberitahu ku kalau Jongin tidak bisa mengantarmu!” Sehun berkata dengan nada sedikit keras, sebelah tangannya terangkat untuk menyisir rambutnya kebelakang.

Melihat kemarahan Sehun membuat emosi Sulli mulai tersulut. Pria ini yang berjanji mengantarnya dan sekarang meninggalkannya tanpa kabar hingga malam begini dan sekarang malah memarahinya seperti ini?! Dia fikir dia siapa?!

“kenapa kau jadi marah padaku? Bukankah kau yang sudah berjanji akan mengantarku? Bagaimana bisa aku pergi dengan orang lain sedangkan sejak awal aku sudah meng iyakan untuk membiarkanmu mengantarku!” Sulli balas membentak. Ia beranjak dari tempatnya berniat pergi meninggalkan Sehun.

Berjam-jam ia menunggu Sehun dan sekarang pria itu justru memarahinya seperti ini. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan fikir Sehun. kalau sejak awal tidak bisa mengantar bukankah harusnya pria itu mengatakannya?

Langkah Sulli terhenti ketika tiba-tiba saja lengannya di tarik, membuat tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang. Setelah menyeimbangkan tubuhnya kembali, Sulli menegakkan tubuhnya menatap Sehun garang.

“apa lagi?! kalau memang tidak mau mengantarku, harusnya sejak awal kau mengatakannya, bukannya malah meninggalkanku tanpa kepastian begini!”

Sehun mendesah dan mengucap pelan, “mianhe..

“aku tidak perlu permintaan maaf mu–”

“tadi aku melihatmu dengan Jongin di taman belakang. Karena tidak ingin mengganggu momen bahagia kalian aku memutuskan untuk kembali ke kelas sampai akhirnya pelatihku yang baru saja kembali dari Jepang menelfonku. Aku berfikir kalau kau akan bersama Jongin, oleh sebab itu aku tidak memberitahumu”

“… mianhe Sulli-ya, jeongmal mianhe, kalau aku tahu kau akan menungguku, sudah dari tadi aku datang menjemputmu”

Sulli menatap Sehun seksama dan menghela nafas panjang. Melihat ketulusan dari kedua mata pria di hadapannya itu, tidak ada yang bisa Sulli lakukan selain mempercayainya. Ia pun menghela nafas panjang seraya berucap, “baiklah, permintaan maaf mu ku terima. Sekarang, bisa kah kau mengantarku ke rumah Luna?”

Sehun diam sejenak, “tidak bisa kah kau ke dorm saja? kau bisa menunggu Krystal sampai gadis itu selesai kuliah”

“aku lelah Sehun-ssi, dan Krystal juga pasti butuh istirahat sehabis latihan”

“Krystal pasti juga ingin memperbaiki hubungannya denganmu,” Sehun bersikeras, “aku janji akan mengantarmu pulang, yah…. Walaupun aku berharap kalau kau akan menginap di dorm”

“bajuku ada di rumah Luna”

“kau bisa menggunakan baju Krystal atau Suzy, bukankah ukuran kalian sama?”

“kenapa kau sangat bersikeras aku tinggal?”

Sehun memanyunkan bibirnya, “jebbal…” pintanya memelas, “aku ingin lebih lama bersama mu..”

Sulli meneguk ludahnya ketika jantungnya tiba-tiba saja hampir meledak. Ini benat-benar tidak seperti biasanya. Jantung nya serasa ingin cobot saking hebatnya detak jantungnya. Ia bersyukur sekarang sudah malam yang ia harapkan Sehun tidak bisa melihat rona merah di wajahnya.

Sial. Ada apa sih dengannya.

“jadi?”

Sulli tersadar dari campur aduk perasaannya mendengar suara Sehun. “ah..uh… baiklah, untuk mala mini aku akan menginap di dorm” ucapnya akhirnya.

Sehun tersenyum lebar, teramat sangat lebar membuat nafas Sulli tiba-tiba berhenti untuk beberapa saat ketika melihatnya. Kenapa ia baru menyadari betapa tampannya Sehun ketika sedang tersenyum lepas seperti ini? oh Ya Tuhan! Ada dengannyanya?! Kenapa bisa-bisanya ia mengatakan Sehun tampan padahal selama ini ia menganggap Sehun sebagai cowo menyebalkan?! ada yang aneh denganku, ini pasti bukan aku yang sebenarnya!

ya! kenapa kau melamun terus. Aku jadi khawatir”

Sulli tersentak ketika merasakan desahan nafas di wajahnya. Kedua matanya melirik dan secara reflek ia memejamkan matanya ketika menyadari jarak wajah mereka bahkan tidak sampai sejengkal. Entah sejak kapan, ia sendiri tidak menyadarinya, kini Sehun sedang memasangkan helm di kepalanya.

Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku masuk rumah sakit karena penyakit jantung!

 

***

“sudah?” Sehun memiringkan kepalanya untuk memastikan Sulli sudah berada di motornya dengan aman. Kepalanya kembali lurus kedepan saat Sulli sudah naik di motornya dan senyumnya otomatis mengembang saat lengan Sulli melingkar di pinggangnya. Dalam hati ia hanya bisa berdoa kalau Sulli tidak menyadari detak jatungnya yang sudah berdetak hebat. Dan detak jantungnya semakin meraung tidak karuan ketika kepala Sulli perlahan bersandar pada pundaknya.

“aku pinjam pundakmu sebentar Sehun-ssi” ucapnya lirih.

Sehun merasakan bulunya meremang ketika desahan nafas Sulli terasa di lehernya. Ya Tuhan. Sulli benar-benar memberi efek pada seluruh tubuhnya.

Tidak ingin terjadi apa-apa pada Sulli, Sehun pun menggenggam kedua lengan Sulli yang melingkar di tubuhnya untuk memastikan kalau gadis itu aman. Dengan satu tangan, Sehun menjalankan motornya dengan kecepatan yang lambat karena karena tidak ingin mengambil resiko.

Selama perjalanan, Sehun memikirkan apa yang terjadi dengannya. Selama ini, ia tidak pernah bereaksi seperti ini ketika dekat dengan seorang gadis. Bahkan, dengan mantan kekasihnya pun Sehun tidak pernah merasakan jantungnya serasa ingin melompat ketika berada di dekatnya. Tapi dengan Sulli, ini berbeda. Dengan lengan gadis itu yang melingkar di tubuhnya, Sehun merasa tidak ingin waktu berlalu begitu cepat. Ia hanya ingin menikmati waktunya bersama dengan Sulli.

Ketika mereka sudah sampai di depan dorm, Sehun menstandarkan motornya dan perlahan turun dari motor tanpa membangunkan Sulli. dengan satu tangan memegang pundak Sulli agar bersandar di dadanya, sebelah tangannya yang lain dengan susah payah melepas helm di kepala Sulli. Tidak peduli dengan helm yang masih ia gunakan di kepalanya, perlahan Sehun menggendong tubuh Sulli dan membawanya ke dalam dorm. Kamar Suzy ada di lantai dua, dan dengan sisa sisa kekuatannya sehabis latihan, Sehun merasa tidak akan sanggup membawa Sulli sampai di kamar Suzy, alhasil ia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai satu dan menidurkan Sulli di kasurnya. Setelah memakaikan selimut pada tubuh Sulli, Sehun pun berjalan keluar dengan menenteng satu bantal guling dan jaket.

Helm nya sudah ia letakan di atas meja dan kini ia berjalan menuju sofa di ruang tengah. Sebenarnya ia bisa saja tidur di kamarnya karena disana pun ada sofa yang bisa ia gunakan untuk tidur. Tapi ia tidak mau membuat Sulli panic keesokan paginya kalau mengetahui mereka berada di dalam satu kamar. Bisa – bisa gadis itu berfikir yang tidak-tidak tentangnya.

Ada sebersit rasa bersalah juga sebenarnya. Ia mengajak Sulli kesini untuk bertemu Krystal dan kini ia tidak sampai hati untuk membangunkan Sulli melihat bagaimana lelahnya gadis itu. Menunggunya selama berjam-jam seorang diri, pasti lah Sulli merasa sangat bosan dan lelah.

Drrt..drrtt..

Getaran hp Sehun menyadarkannya dari segala fikirannya. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan terbelalak melihat nama Choi Minho di layarnya. Ia pun segera menekan tombol hijau tanpa perlu fikir panjang.

ne, hyung” sapanya, lalu cepat-cepat menambahkan, “mianhe, aku tadi sedang terburu-buru dan tidak sempat pamit padamu. Aku ada janji dengan seseorang”

“aku masih memiliki esok hari di Korea, jadi besok pagi jam 10 kau sudah harus ada di tempat latihan. Tidak ada keterlambatan.”

ne.. hyung” ucap Sehun hanya bisa pasrah. Ia tahu benar bagaimana sifat pelatihnya yang selalu serius dengan ucapannya. Biarpun keras, tapi ia tahu kalau itu semua juga demi kebaikan dan kesuksesannya kelak.

“bagus.” suara Minho di sebrang sana terdengar puas. “kau sedang dekat dengan seorang gadis ya?”

Kedua mata Sehun melebar mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Minho. “ya! hyung… kau ini apa-apaan, kenapa bertanya seperti itu?”

“jadi benar?”

aniyo hyung!

“siapa namanya?”

hyung!” Sehun mulai pasrah. Insting pelatihnya ini memang selalu tepat. Mau mengelak pun sepertinya akan sangat percuma. Alhasil, ia hanya bisa menghela nafas panjang tanda menyerah. “namanya Sulli.”

Entah ini hanya perasaan Sehun saja, tapi sepertinya ia mendengar suara nafas tertahan di sebrang sana saat ia menyebutkan nama Sulli. Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja.

ehm.. bisakah kau mengajak temanmu itu ke tempat latihan?”

Sebelah alis Sehun terangkat, tidak biasanya pelatihnya itu memintanya mengajak seorang teman. “aku tidak yakin hyung, ia sangat sulit di bujuk”

“usahakan ajak temanmu itu Sehunie, aku tunggu. Sekarang tidurlah.”

Dan tanpa membiarkan Sehun membalas ucapannya, Minho sudah mematikan sambungannya. Dengan kening yang mengkerut, Sehun hanya bisa menatap bingung layar ponselnya yang sudah gelap tak menampakkan apapun.

Tidak ingin terlalu memusingkannya, sehun pun mengangkat bahunya acuh dan merebahkan tubuhnya di sofa bersiap untuk tidur.

***

Sulli membuka matanya ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Untuk sesaat, ia hanya diam dengan tatapan kosong sebelum akhirnya secara tiba-tiba ia mendudukkan dirinya dan menatap sekeliling. Ia ingat semalam kalau dirinya tertidur saat Sehun mengantarnya, tapi bagaimana ia berada disini? Kamar siapa ini? jelas ini bukan kamar Suzy karena suasana dan dekorasi kamar ini menunjukkan kalau pemiliknya adalah seorang pria.

Mungkinkah…..?

Krieet..

Derit pintu berbunyi membuat Sulli secara otomatis memutar kepalanya. Sehun dengan sebelah tangannya yang mengusap-usap kedua matanya menyapanya didepan pintu.

“sudah bangun?” tanya Sehun dengan suara parau khas bangun tidur. Mendengar itu, entah dengan alasan apa, Sulli sudah merasakan kedua pipinya yang memanas. Buru-buru ia menundukkan kepalanya berharap Sehun tidak melihat rona di wajahnya.

“hmm.. sudah” jawab Sulli pelan, “eng… apa kau yang membawaku kesini?”

“menurutmu siapa lagi yang akan membawamu kesini?”

Sulli mencibir mendengar jawaban Sehun, “kenapa kau tidak membawaku ke kamar Suzy?”

Sehun menyeringai seraya menggaruk belakang kepalanya, “aku kehabisan tenaga sehabis latihan kemarin”

“kenapa tidak membangunkanku saja! aku pasti sangat berat” gerutu Sulli

“aku tidak sampai hati membangunkanmu Sulli-ya, kau kelihatan begitu kelelahan”

“tapi kau juga lelah. Dimana kau tidur?”

“sofa”

Sulli menghela nafas panjang. “lain kali bangunkan aku saja, tubuhmu pasti terasa tidak nyaman karena tidur di sofa”

“tidak masalah, tubuhku baik baik saja” ucap Sehun seraya memutar-mutar tangannya melakukan senam. “nah, lebih baik sekarang kau mandi dan pergi denganku”

Sebelah alis Sulli terangkat, “kemana?”

Sehun terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya berkata, “menemaniku latihan, sungguh ini hanya sebentar dan setelah itu kita bisa jalan-jalan”

Kalau boleh jujur, sebenarnya Sulli malas untuk perbergian. Biarpun hari ini ia libur kuliah, ingin sekali ia hanya dirumah saja mengistirahatkan tubuhnya selagi menunggu eumma nya kembali. Benar, hari ini eumma akan kembali yang berarti ia akan kembali ke rumahnya. Tapi melihat wajah Sehun yang memelas, akhirnya Sulli hanya menganggukkan kepalanya.

jinjja?

“hmm…” gumam Sulli.

Sehun tersenyum lebar, “kalau begitu mandi lah. Kau bisa memakai kamar mandiku dan aku akan ke kamar hyung

Setelah mengatakan itu, Sehun langsung menutup pintunya tanpa membiarkan Sulli menanggapi.

***

“brengsek.” Gumam Sulli secara spontan ketika melihat pria di hadapannya. Tatapannya lurus menatap kedua manic mata pria itu dengan tajam dan penuh kebencian. Seperti janji nya pada Sehun, hari ini ia bersedia untuk mengantar Sehun ke tempat latihan sebelum akhirnya mereka pergi jalan-jalan.

Tapi tidak seperti yang di perkirakannya. Saat dirinya baru terkagum-kagum dengan gedung training Sehun yang begitu besar, semuanya pupus sudah saat melihat pria di hadapannya.

Choi Minho.

Cih. Menyebutkan namanya saja sudah membuatnya muak setengah mati. Ingin rasanya ia berlari sekencang-kencangnya tidak peduli kalau sekarang ia memakai high heels.

“kau tahu Oh Sehun? kau pria paling brengsek yang pernah aku temui. Aku tidak akan pernah semenyesal ini karena telah mengenalmu” ucap Sulli tajam tanpa melepas pandangan dari Minho.

Sehun tersentak kaget mendengar ucapan Sulli. kepanikan mendadak menyelimutinya. “w-wae? Apa yang salah? Apa yang telah aku lakukan?”

Kali ini Sulli menoleh menatap Sehun. tatapannya tidak jauh beda ketika ia menatap Choi Minho tadi. Penuh kebencian dan rasa muak. “jadi kau berkomplot dengan Choi Minho?” tanya Sulli dengan senyum sinis.

Sehun semakin panic melihat tatapan Sulli padanya, ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. “apa? kenapa kau seperti ini Sulli-ya? aku tidak mengerti apa yang kau maksud”

Tangan Sehun terjulur untuk menyentuh lengan Sulli, tapi gagal karena secara otomatis Sulli memundurkan langkahnya. “kenapa kau tega padaku Oh Sehun?”

“Apa yang telah aku lakukan? Aku sendiri tidak mengerti!” Sehun yang mulai kalut menyapukan kedua tangannya pada rambutnya.

“apa kau memang sengaja melakukan ini untuk mempertemukanku dengan Choi Minho?” tanya Sulli tajam.

“ap–”

“ternyata itu benar kau Jinri-ya…” suara Minho memutus ucapan Sehun. Mereka berdua –Sulli dan Sehun- serentak menoleh menatap Minho yang kini berjalan mendekat kearah mereka berdua, tepatnya kearah Sulli. Melihat itu, seiring dengan langkah Minho mendekatinya, Sulli memundurkan langkahnya.

“jangan mendekat!” teriak Sulli. Nafasnya terengah-engah karena menahan emosi.

Sulli bisa melihat jelas tatapan terluka di kedua mata Minho. Tapi siapa peduli? Rasa terluka pria itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang telah ia rasakan.

“Jinri-ya…

“Jangan memanggilku dengan nama itu!”

“tapi namamu adalah Choi Jinri! Jinri ku yang manis dan penurut” lirih Minho.

“aku bukan lagi Jinri mu. Tidak ada lagi Choi Jinri.” Ucap Sulli dingin.

“ada apa ini? apa kalian berdua saling kenal?” Sulli dan Minho menoleh seolah baru menyadari kehadiran Sehun.

“tidak!”

“tentu saja.”

Sulli dan Minho menjawab bersamaan. Tatapan Sulli semakin tajam menatap Minho. Seolah tidak terpengaruh dengan tatapan itu.

Minho menoleh menatap Sehun dan berucap. “tentu saja aku mengenalnya. Choi Jinri, atau kau biasa memanggilnya Sulli, dia adalah adikku.”

***

Iklan

5 thoughts on “You Never Give Me a Chance Part 8

  1. emaesa berkata:

    minho kakak sulli 😮
    inikah alasan sulii bnci seorang idol ?
    gimana critanya tuh sulli benci sama kakaknya sndiri ?
    di tunggu lanjutannya

  2. salsabila berkata:

    ahh sulli sama sehun makin deket aja
    tapi sempet kaget waktu sulli bilang “berengsek”
    tapi tetep aja keren… tapi end ya itu nyebelin (hehehe)
    penasaran banget..

  3. claudya han berkata:

    Sulli sm sehun udah mulai suka nih,dn sepertinya jongin setuju…..dari awal sdh curiga kl minho tu kakakny sulli,tp knp sulli benci sm kakaknya dan dia juga benci sm semua entertainer krn masalah itu?? ditunggu nextnya Authornim…fighting…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s