Between Us (Chapter 3)

Title                 : Between Us (Chapter 3)

Author             : Xiao Lu

Cast                 : Xi Luhan, Kim Jongin, Oh Sehun, and other.

Genre               : Brothership, school life, romance

Rating              : General

Length              : 3 chapter

Akhirnya sudah chapter terakhir. Karena author sebentar lagi ada ulangan, jadi akhirnya author selesaikan ffnya. Setelah ulangan author akan membuat cerita yang lebih menarik. Happy reading and enjoy !! Still waiting for coment ^^

*****

“Hay semua teman-temanku dari SMU Yonsei! Apa kabar kalian?” Luhan tersenyum licik.

Semua terdiam menunggu penjelasan dari Luhan.

“Ah kalian pasti terkejut. O iya, aku kenalkan mereka teman-temanku dari SMU Seoul dan yeoja di sampingku ini adalah kekasihku Yoora dari Sekolah kalian.” ucap Luhan. Semua siswa SMU Yonsei melongo tidak percaya, sedangkan namja dari SMU Seoul tersenyum.

“Apa maksudmu?” tanya Xiumin geram. Namja bernama Sehun yang merupakan ketua sekaligus kapten sepak bola SMU Seoul mengeluarkan suaranya.

“Hay teman-teman lamaku. Kalian pasti terkejut kan? Kalian juga pasti hanya mengenalnya sebagai Luhan sahabat Kim Jongin kapten sepak bola sekolah kalian. Hahaha.” seru Sehun.

“Ya! Apa yang sebenarnya akan kau katakan?!” ucap Lay tak sabar. Jongin terdiam.

“Apa kalian tidak menyadari bagaimana teknik permainan bola Luhan? Apa kalian tidak mengetahui bahwa dia pemain terbaik internasional? Apa seterpencil itukah rumah kalian sehingga kalian tidak mengetahuinya?” ucapan Sehun membuat kesal seluruh siswa Yonsei. Tao dengan angkuh menggantikan posisi Sehun.

“Jangan menghina Yonsei seperti itu, haraboji-haraboji kita sudah lelah membangun sekolah untuk mereka. Apa kalian tidak merasa kasihan? Jika tidak ada haraboji kita, mungkin mereka akan bekerja sebagai kuli di perusahaan kita. Hahaha,” ucapan Tao akhirnya membuat Jongin kesal.

“Mwo?! Apa kalian belum puas menghina kami? Aku sangat mengetahui tentang haraboji kalian dan kami sangat mengucapkan terima kasih untuk itu. Jika kalian ingin menghina kami, tunjukan itu di lapangan! Dan bukankah pengusaha paling sukses di Korea ada lima? Kenapa kalian hanya berempat? Apa dia sedang terkena cacar air? Hah?!” ucap Jongin.

“Kris-shi, sebagai yang tertua tolong jelaskan pada mereka.” Sehun menyuruh Kris untuk menjelaskan.

“Ye Sehun-ah. Apa kalian tidak memiliki televisi atau koran? Akhir-akhir ini sedang diberitakan keturunan pendiri sekolah-sekolah menghilang dari publik. Apa kalian hanya tau Luhan hanya sebatas Luhan? Aigo, Luhan sebenarnya adalah Xi Luhan keturunan dari pengusaha terbesar di Korea Selatan ini.” penjelasan Kris membuat seluruh siswa Yonsei bungkam, antara takut dan kesal.

“Mwo?! Jadi Luhan adalah keturunan dari pengusaha sombong seperti kalian? Tapi apa yang dia lakukan di sini?” Tanya Jongin.

“Apa kau tidak tau? Anak baru yang hanya beberapa minggu menyesuaikan diri lalu masuk dalam tim inti sepak bola kalian?” Sehun berbicara lagi.

“Jadi dia adalah mata-mata SMU Seoul?” ucap Lay yang langsung membuat Jongin menoleh kepadanya.

“Yah begitulah. Untuk mengetahui teknik latihan dan pola yang akan kalian pakai, kami mengirimnya ke sini untuk menjadi mata-mata kalian.” ucap Sehun.

“Luhan, apa itu benar?” seru Jongin kepada Luhan. Luhan yang semula menunduk sekarang menyeringai.

“Ya apa yang harus aku katakan lagi jika kau sudah tau semuanya. Mianhe, Jongin-shi.” jawab Luhan.

“Jadi kau hanya mata-mata? Aku kira kau adalah sahabatku. Aku kira kau adalah partnerku. Tapi ternyata aku salah.” mata Jongin mulai berkaca-kaca karena dia merasa dihianati.

“Dan memang kau salah. Dan satu lagi kesalahanmu, kau mudah percaya dengan orang yang baru kau kenal. Ubah lah sifatmu sebelum kau terjatuh lagi.” Luhan lalu bungkam.

“Dan kau Yoora-shi, jadi kau pergi dari ku karena dia? Kau lebih memilih dia yang seperti itu dari pada aku yang sudah bersamamu hampir satu tahun yang lalu?” Jongin meneteskan air mata.

“Kau Xi Luhan. Kau telah menghianati kepercayaan kami!” seru Lay.

“Ah, terima kasih untuk kepercayaan kalian selama ini. Dari pada kita berdebat seperti ini, lebih baik kita buktikan saja di lapangan.” seru Tao.

Perdebatan pun selesai dan semua pergi ke sisi lapangan untuk mengganti pakaian mereka. Penonton dari Yonsei masih terdiam, namun para yeoja diam-diam mengagumi para pemain dari Seoul terutama Luhan dan Sehun yang memiliki kharisma melebihi yang lain.

“Luhan-shi, apa kau baik-baik saja?” tanya Yoora yang duduk di sebelah Luhan.

“Gwenchana, gomawo Yoora-shi kau mau melakukan hal tadi di depan Jongin.”

“Jeongmal? Aniyo, aku memang masih sangat menyayangi Jongin tapi aku adalah yeojachingumu.”

“Tapi aku tau kau melakukan hal itu dengan terpaksa.”

“Kau juga. Aku tau kau hanya terpaksa melakukan hal tadi pada Jongin.”

“Mwo?! Aniyo, aku memang membencinya.”

“Ah sudahlah, aku tau kamu berbohong. Fighting Luhan-shi.” seru Yoora meninggalkan Luhan.

Luhan masih tidak mengetahui ucapan Yoora. Dan sebenarnya dia juga tidak yakin jika dia membenci Jongin.

Semua pemain bersiap di lapangan. Mereka menunggu peluit wasit ditiup. Semua pemain mulai tegang. Mereka takut jika mereka kalah. Sekolah yang kalah pasti akan menanggung malu yang sangat berat. Jongin berusaha untuk tenang dan fokusnya tidak terbagi. Namun berbeda dengan Luhan, Luhan masih memikirkan tentang perasaannya. Dia memikirkan Jongin. Seseorang yang selalu ada disaat dia membutuhkan seorang teman, Luhan menyesal telah menghianati Jongin tapi dia melakukan ini demi karir sepak bolanya.

Peluit wasitpun berbunyi. Pertandingan berlangsung sengit karena sudah didasari dengan rasa dendam dan amarah. SMU Seoul nampak tenang karena mereka telah mengetahui semua teknik permainan yang digunakan SMU Yonsei. Berulang kali serangan dari Jongin berhasil dipatahkan oleh lini belakang SMU Seoul. Lini belakang Seoul sangat sulit ditembus Jongin. Kolaborasi dari Sehun dan Luhan di lini depan membuat frustasi pertahanan SMU Yonsei. Pertahanan SMU Yonsei serasa di obrak-abrik oleh serangan yang dibuat Sehun dan Luhan yang akhirnya dapat membobol gawang SMU Yonsei dan merubah kedudukan menjadi 1-0 untuk SMU Seoul. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama selesai.

“Pertahanan mereka sangat kuat, kita tidak bisa melakukan serangan sama sekali.” keluh Lay.

“Iya benar. Kau lihat Tao dan Kris tadi kan? Aigo, badannya tinggi sekali.” ucap salah satu anggota tim lain.

“Dan ku akui permainan mereka sangat bagus. Apa lagi kerja sama antara Sehun dan Luhan.” kata Xiumin.

“Ya! Kenapa kau malah memuji mereka?” seru Lay kesal.

“Apa yang dikatakan Xiumin itu benar.” tiba-tiba Jongin muncul sambil membawa botol minumnya.

“Terserah kalian saja.” Lay mengerucutkan bibirnya.

“Ayo teman-teman kita tidak boleh kalah dari sekolah mereka. Kita harus tetap fokus pada pertandingan dan jangan pernah berpikir untuk kalah. Mengerti?!” seru Jongin.

“Mengerti!!!” semua menyahuti Jongin dengan semangat karena mereka tidak ingin sekolah mereka dipermalukan lagi.

Di sisi lain para pemain Seoul sedang bersorak merayakan gol pertama mereka yang dicetak oleh Luhan.

“Kalian sangat hebat!” seru Chanyeol kepada Sehun dan Luhan.

“Haha tentu saja. Dibabak kedua nanti kalian semua akan terkejut.” sahut Sehun membuat penasaran yang lain.

“Apa yang akan kalian lakukan lagi?” ucap Chanyeol penasaran.

“Kalian berdua selalu membuat kami bingung. Berikan intruksi sekarang saja Sehunie.” ucap Kris.

“Begini…….” Sehun menjelaskan kejutan apa yang akan SMU Seoul lakukan untuk kembali mempermalukan SMU Yonsei.

“Baiklah kapten!” seru semua anggota tim Seoul.

“Tunggu! Dimana Luhan?” seru Tao membuat semua pemain baru menyadari jika Luhan tidak ada di ruang pemain.

Luhan berjalan ragu menyusuri lorong. Sekarang dirinya hanya berjarak 3 meter dari ruang pemain SMU Yonsei. Otaknya menginginkan dia untuk berbalik namun hati kecilnya menyuruhnya untuk segera melangkahkan kaki ke ruangan itu. Namun otaknya lebih mendominasi, tapi saat berbalik sebuah tepukan mendarat dipunggungnya. Saat Luhan berbalik ternyata itu Xiumin.

“Sedang apa kau di sini?” Xiumin curiga.

“Mm… Itu… sebenarnya aku ingin bertemu dengan Jongin.” ucap Luhan ragu.

“Apa kau belum puas sudah membohongi kami?! Apa yang ingin kau katakan lagi dengan Jongin?! Ingin mempermalukan kami lagi?!” Xiumin tidak dapat lagi menahan emosinya.

“Ti-tidak. Bu-bukan itu maksudku. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Luhan menundukan kepalanya.

“Apa yang perlu dijelaskan lagi, hah?!”

“Xiumin-shi, jeongmal mianhe. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya berniat melakukan ini kepada kalian, sungguh.”

“Tapi kau lihat sendiri apa yang kau lakukan, kau membuat Jongin kehilangan semangat hidupnya. Kau menghianatinya Luhan, dan kau tau Jongin sangat membenci hal itu.”

“Aku tau Jongin sangat membencinya. Tapi aku punya alasan untuk melakukan ini.” Mata Luhan berkaca-kaca. Xiumin melihat ketulusan diwajah Luhan.

“Kau ikut aku sekarang.” Xiumin menarik lengan Luhan lalu berjalan menuju sebuah ruangan kosong yang jauh dari ruang ganti masing-masing tim.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” Luhan bingung.

“Apa kau mau tim ku mengetahui kau ada di sana? Mereka bisa menghajarmu.”

“Gomawo Xiumin-shi.”

“Cheonma. Cepat katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya.”

“Mm sebenarnya…” Luhan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Luhan rasakan. Xiumin mengerti dengan keadaan Luhan dan dia merasa Luhan tidak sepenuhnya salah. Dan disetiap masalah pasti ada sebab dan jalan keluarnya.

Pertandingan babak kedua pun dimulai. Luhan sudah sedikit tenang karena dia tidak menyimpan masalah ini sendirian. SMU Yonsei melakukan serangan bertubi-tubi pada lini pertahanan tim Seoul. Akhirnya dengan sundulan Jongin tim Yonsei berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Sehun menyeringai, ini saatnya yang dia tunggu-tunggu. Permainan mengejutkan ditunjukan oleh tim Seoul. Mereka memporak-porandakan permainan tim Yonsei. Operan apik dan akurat ditunjukan para pemain Seoul. Hingga akhirnya Sehun merobek gawang Yonsei dan membuat kedudukan menjadi 2-1.

Tidak hanya itu. Atas intruksi yang diberikan Sehun, Tao dan Chanyeol yang merupakan pemain belakang Seoul menyerang maju diikuti Kris dan Luhan dibelakang mereka melakukan tendangan yang berulang kali membuat kewalahan penjaga gawang tim Yonsei. Tim Yonsei terkejut melihat penyerangan itu dan tidak dapat melakukan penyerangan kembali. Akhirnya pertandingan selesai dengan skor 5-1 untuk SMU Seoul. Dan hal itu membuat Sehun dan kawan-kawannya merasa di atas angin.

“Bagaimana? Kalian terkejut?” Ucap Sehun.

“Hahaha dan semua sudah membuktikan siapa yang lebih unggul.” Sambung Tao.

“Kalian sekolah miskin seharusnya tidak usah banyak berharap.” ucap Chanyeol kemudian.

“Jangan pernah bilang sekolah kami itu miskin!” Lay geram.

“Itu adalah kenyataan. Dan kau Jongin apa yang bisa kau perbuat untuk tim mu? Kalian tidak bisa melakukan apa-apa kan?” Perkataan Sehun barusan membuat Lay emosi.

“Ya! Kalian tidak bermain fair. Kalian curang karena mengetahui teknik yang akan tim kami gunakan. Dan untuk mengetahui itu kalian mengirim penghianat ini ke sekolah kami!” Seru Lay marah.

“Sudahlah Lay. Terima saja kekalahan kalian!” Ucap Chanyeol.

“Benar kata Chanyeol. Kita harus mengakui jika mereka lebih baik dari kita.” Jongin membuka mulutnya. “Sehun, sekolah kalian memang lebih unggul dalam semua hal.”

“Tentu saja, dibanding dengan kalian kami memang lebih unggul dalam semua hal. Kaya? Jelas, perusahaan kami dimana-mana. Pintar? Tentu, karena pendidikan kami terjamin kualitasnya. Sedangkan kalian? Untuk makan saja susah.” Perkataan Sehun kembali menyulut emosi tim Yonsei. Mereka ingin marah tapi mereka tau itu percuma.

“Sudahlah Sehunie, sebaiknya kita kembali ke Seoul. Aku akan mengurus surat-surat kepindahan Yoora dan aku dari Yonsei.” Ucap Luhan bermaksud untuk meredakan emosi namun ternyata dugaan Luhan salah, perkataannya justru membuat Jongin yang semula biasa saja sekarang menjadi marah.

“Mwo?! Yoora? Pindah?! Apa kau bercanda?!” Jongin mencengkeram lengan Luhan.

“Wae? Dia yeoja chinguku sekarang, jadi dia akan ikut denganku ke Seoul.”

“Ya! Aku sudah menerima kau menjadi namja chingu Yoora tapi aku tidak akan menerima jika Yoora pindah dari Yonsei!”

“Siapa yang bisa kupercaya untuk menjaga Yoora-ku disini, hah?! Chagi kajja.” Luhan menarik lengan Yoora keluar dari lapangan diikuti tim Seoul yang lain karena mereka harus kembali ke Seoul sebelum larut malam.

“Sudahlah Jonginie. Kajja kita pulang.” seru Xiumin sambil menyeret Jongin untuk pulang.

^__^

Beberapa hari berlalu. Beberapa hari juga Jongin hanya termenung. Sejak keputusan Yoora untuk pindah, Ia sering bolos pelajaran untuk hanya sekedar merenenung di bawah pohon maple tempat yang sering dikunjunginya dengan Park Yoora di sekolah. Dia sangat merindukan saat bahagianya bersama Park Yoora, yeoja yang sangat dicintainya.

“Yoorayah, bogoshipo.” linangan air mata membentuk sungai kecil di pipi mulus Jongin.

Di sisi lain Park Yoora sedang menghadapi sebuah kenyataan. Ternyata dia adalah adik kandung Chanyeol. Dia tinggal bersama ibunya karena orang tua Yoora dan Chanyeol memutuskan untuk berpisah. Sedangkan Chanyeol selama ini tinggal bersama ayahnya. Yoora tidak menyangka bahwa selama ini dia memiliki seorang kakak. Kakak yang selalu mencarinya namun tidak pernah berhasil dan akhirnya Chanyeol menyerah.

“Jadi selama ini kau adalah oppaku?” lirih Yoora.

“Iya Yoora. Kau adalah adik yang selama ini aku cari-cari. Aki mencarimu hingga ke China karena harmoni berasal dari China, namun kau belum kutemukan. Tapi akhirnya Luhan menemukanmu. Aku sangat merindukanmu Yoora.” Chanyeol memeluk Yoora. Kerinduannya pada adik satu-satunya kini memudar. Akhirnya setelah 15th mereka dipertemukan kembali.

“China? Benarkah kau mencariku hingga sejauh itu? Tapi bagaimana dengan oemma? Aku tidak bisa meninggalkannya di Yonsei seorang diri.” Yoora teringat pada oemmanya.

“Tenang saja, aku sudah menyuruh appa untuk membawa oemma ke Seoul dan tinggal bersama kita di sini.”

“Ah gomawo oppa. Saranghae.” Yoora memeluk Chanyeol karena kerinduannya dan keinginannya selama ini untuk memiliki seorang kakak yang bisa melindungi dirinya dan oemmanya tercapai.

“Nado saranghae, Yoorayah.” Chanyeol pun balas memeluk Yoora.

“Keundae oppa, dimana Luhan?”

“Ah Luhan sedang pulang sebentar. Sebentar lagi dia pasti menjemputmu untuk makan malam.”

“Ye tadi dia sudah mengatakannya padaku.”

“Bagaimana? Bukankah Luhan sangat baik padamu.”

“Dia sangat sangat baik padaku, dan aku rasa dia tulus. Tapi aku sangat merindukan Jongin.”

“Jongin? Kau masih mencintai Jongin?”

“Sedikit, tapi jika aku masih mencintai Jongin apa oppa mengijinkanku bersamanya?”

“Tentu saja tidak, karena kau pasti akan tinggal di Yonsei.”

“Hehehe, aku tidak akan meninggalkan oppa lagi.”

“Gomawo, aku harap kau mengerti.”

“Aku sangat mengerti oppa.” Yoora tidak ingin melepaskan pelukannya pada Chanyeol. Dia tidak ingin kehilangan kakaknya lagi. Dia rela tidak kembali ke Yonsei demi kakaknya. Demi keluarganya.

Tiba-tiba Luhan menghampiri Yoora dan Chanyeol. Dia sudah mengambil keputusan.

“Chanyeol, Yoorayah, mianhe. Keundae aku harus menyelesaikan urusanku di Yonsei.” ucap Luhan. Yoora dan Chanyeol terlihat kaget mendengar keputusan Luhan, namun Yoora mengerti apa maksud Luhan.

“Pergilah, aku tau kau memang harus menyelesaikannya.” Yoora menepuk pundak Luhan memberikan semangat.

“Kau mengijinkanku ke sana?”

“Tentu saja.” Yoora tersenyum.

“Chanyeol, otte?” Luhan menunduk.

“Aku tau, pergilah. Apa Sehun sudah mengetahui hal ini?”

“Aku sudah menemuinya dan…” Luhan belum menyelesaikan kalimatnya, namun suara lain tiba-tiba terdengar dan semuanya sangat terkejut.

“Dan dia sudah bukan bagian dari kita.” suara itu berasal dari Sehun.

“Mwo?! Ya! Sehunie apa kau bercanda, hah?!” Chanyeol terkejut bukan main.

“Dia yang memutuskannya. Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Dia lebih memilih sahabatnya di sekolah kumuh itu.”

“Sehun oppa, kau sangat keterlaluan! Apa kau tidak tau apa itu persahabatan?! Jadi selama ini kau menganggap Tao oppa, Kris oppa, Chanyeol oppa, Luhan oppa sebagai apa? Budak?!” Yoora kesal.

“Ya! Kau siapa? Berani-beraninya kau membentak kepadaku?! Apa kau tidak diajarkan sopan santun di Yonsei, hah?!” seru Sehun.

“Dia adalah adikku, Sehunie.”

“Mwo?! Dia Park Yoora yang selama ini kau cari-cari? Dia? Berasal dari sekolah kotor itu?”

“Ya, aku memang berasal dari sekolah kotor itu. Kenapa? Apa kau akan mengeluarkan Chanyeol oppa dari perkumpulan ini?” Yoora mendengus kesal.

“A-ani. Sudahlah. Kau Xi Luhan, pergilah ke Yonsei dan jangan pernah kembali lagi.” Sehun meninggalkan Chanyeol, Yoora, dan Luhan.

“Mianhe Yoorayah.” Luhan menangis.

“Apa kau tidak akan kembali lagi?” Yoora menatap Luhan lekat.

“Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku sangat menyesal melakukan ini pada Jongin. Aku hanya ingin menjelaskan dan meminta maaf padanya. Dia adalah sahabatku sama seperti kalian Chanyeol, Kris, Tao, Sehun. Aku pasti akan sangat merindukanmu Yoorayah.”

“Apa kau bodoh, Xi Luhan?” sebuah suara berat terdengar. Ternyata Kris dan Tao datang.

“Kau tidak usah dengarkan perkataan Sehun. Dia tidak benar-benar mengatakannya.” Tao tersenyum.

“Maksud kalian?” Luhan bingung.

“Dia tidak mungkin mau kehilanganmu. Kau tau kan sejak kecil Sehun sangat dekat padamu. Bahkan hanya kau yang mengerti Sehun. Pergilah, aku tau kau sangat menyayangi sahabatmu.” ucap Kris bijak.

“Sehunie, mianhe. Katakan padanya aku akan kembali, dan katakan padanya jika aku sangat menyayanginya sebagai adikku. Yoorayah, aku akan kembali. Chanyeol jaga Yoora untukku.” seru Luhan.

“Sebelum kau memintanya aku pasti akan melakukannya.” Chanyeol tersenyum.

“Aku menunggumu, chagi. Chu~” kecupan singkat yang akan sangat Luhan rindukan.

“Aku pasti kembali.” Luhan tersenyum lalu akhirnya pergi.

^__^

“Ya! Kim Jongin! Apa kau akan seperti ini selamanya?” seru Lay yang sudah bosan dengan sikap Jongin.

“Apa urusanmu?” Jongin ketus.

“Tentu itu urusanku. Apa kau lupa jika aku adalah sahabatmu?”

“Aku sudah tidak percaya lagi dengan apa itu sahabat.”

“Ya! Apa kau tidak mempercayaiku? Aku sudah bersamamu sejak sekolah dasar.”

“Apa aku tidak berhak? Siapa tau saja kau agen FBI yang menyamar.”

“Apa wajahku cocok untuk menjadi seorang mata-mata?”

“Tidak sama sekali. Hahaha.” Jongin tertawa.

“Ya! Apa wajahku sebodoh itu?!” seru Lay kesal.

“Sangat bodoh, hahaha.” Jongin kembali tertawa. Lay kesal karena Jongin mengatainya bodoh, namun di sisi lain Lay senang karena bisa melihat Jongin tertawa seperti dulu.

“Tapi apa kau tidak merindukannya?”

“Merindukan? Siapa? Yoora? Tentu saja aku merindukannya.”

“Bukan Yoora, tapi Luhan.”

“Ya! Jangan menyebutkan nama itu lagi di depanku!”

“Mianhe, keundae aku sangat merindukan wajah polosnya.”

Memang sangat sulit memungkiri bahwa Jongin tidak merindukan Luhan. Jongin sangat merindukan sahabat yang selama ini mengisi hari-harinya. Wajah polos namun sifatnya yang dewasa sangat ia rindukan. Walaupun dia sudah menghianati Jongin, namun dia masih memiliki tempat untuk Luhan di hatinya. Persahabatan itu tidak akan pernah hilang.

Seorang namja berdiri di depan gerbang sekolah, dia menunggu seseorang. Sebuah mobil berhenti di depannya. Pemilik mobil itu turun dan menghampiri namja tersebut.

“Xiumin-shi, long time no see.” ucap pemilik mobil.

“Sombong sekali, kau hanya berasal dari Seoul bukan luar negeri.” kata namja tersebut yang ternyata Xiumin.

“Haha mianhe. Aku sangat merindukan sekolah ini.”

“Apa kau sudah membuang seragam sekolah ini?” Xiumin melihat pemilik mobil dari ujung kepala hingga ujung kaki. Celana jeans hitam berpadu dengan kemeja bermotif kotak-kotak berwarna merah hitam yang tidak dikancingkan memperlihatkan tshirt putih serta kaca mata yang bertengger di hidungnya.

“Tidak, aku masih menyimpannya. Karena aku terburu-buru jadi aku lupa membawanya.”

“Pabo. Tapi kau terlihat sangat keren. Maukah kau mengajariku agar terlihat keren dan cool seperti itu?”

“Tentu saja.”

“Gomawo. Kajja kita masuk ke dalam.”

“Apa Jongin mau bertemu denganku?” Luhan terlihat ragu.

“Tentu saja, dia sangat merindukanmu.”

Semua murid menatap Luhan dengan tatapan kagum. Ini pertama kalinya mereka melihat Luhan tanpa mengenakan seragam sekolah. Terutama para yeoja yang nampaknya sudah tidak peduli dengan apa yang sudah dilakukan Luhan kepada sekolah mereka. Kharisma Luhan yang kuat dapat menutupi kesalahan yang pernah ia buat sebelumnya.

Luhan dan Xiumin berjalan menuju taman belakang sekolah. Di sana sudah terlihat dua orang namja yang sangat mereka kenal. Lay dan Jongin. Luhan tampak ragu namun dia harus melakukannya demi persahabatannya dengan Jongin.

“Jongin, ada yang mau bertemu denganmu.” Ucap Xiumin tiba-tiba.

“Nugu?” Jongin terkejut saat dia berbalik dia menemukan orang itu. Orang yang sudah menghianatinya. Orang yang sudah menghancurkan kepercayaannya. “Mau apa kau datang ke sini?”

“Jonginie, sebenarnya aku ingin menjelaskan semuanya padamu.” Luhan tidak yakin ini akan berhasil.

“Apa yang ingin kau jelaskan? Kau ingin menjelaskan bahwa sekolahmu ingin mempermalukan kami lagi?!” Lay tidak menyukai kehadiran Luhan.

“Bu-bukan itu. Aku melakukan semuanya bukan tanpa alasan Jongin.” Luhan menatap Jongin yang masih tidak bergeming.

“Alasan apa lagi? Kau pasti mendapat perintah dari si bodoh Sehun itu kan?” seru Lay.

“Jangan pernah kau mengatai adikku dengan sebutan bodoh seperti itu!”

“Bahkan kau masih membelanya.”

“Karena dia adikku!” Luhan tidak terima jika adik kesayangannya dijelek-jelekan.

“Cukup Lay. Biarkan dia menjelaskan.” Jongin akhirnya bergeming.

“Pertama kali aku datang ke sini aku memang berniat memata-matai kalian. Tapi setelah mengenal kalian aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku senang bisa menjadi bagian dari kalian. Aku tidak berniat menghianati kalian. Aku melakukannya karena terpaksa.”

“Terpaksa? Apa aku bisa mempercayainya? Tapi sepertinya keterpaksaanmu berhasil, Luhan-shi.” Jongin menekan ucapannya.

“Kali ini aku tidak berbohong. Aku merindukanmu Jonginie. Aku ingin menjadi bagian dari kalian lagi. Mianhe.” Luhan meneteskan air matanya.

“Kau akan menjadi mata-mata kami lagi, hah?!”

“A-ani, kali ini aku tulus Kim Jongin. Jeongmal mianhe.”

“Sudahlah kembalilah kau ke Seoul. Aku sudah tidak menginginkan penghianat sepertimu.” Jongin berlalu. Dia ingin pergi dan menangis. Dia tidak tega melihat Luhan meneteskan air matanya, namun hatinya sudah terlanjur sakit untuk menerimanya.

“Ya! Jongin! Apa kau tau dia sudah keluar dari tim dan menghapus ranking nasionalnya demi menemuimu?!” Akhirnya Xiumin berbicara karena dia sudah jengah melihat Jongin yang seperti anak kecil. Jongin berbalik.

“Mwo? Menghapus ranking nasional? Apa kau sudah gila?!” Jongin terkejut.

“Dia rela meninggalkan cita-citanya demi kau Jongin. Bahkan dia sudah keluar dari perkumpulannya, semuanya demi kau.” Xiumin menambahkan.

“B-bagaimana kau tau?”

“Dia sudah menceritakan semua padaku. Dia memilih menghianatimu demi ranking nasionalnya, dia sangat ingin membuktikan kepada semuanya bahwa dia bukan hanya pemain sepak bola biasa. Tapi saat dia sudah mendapatkannya, dia memilih meninggalkannya karena dia ingin menjadi sahabatmu.”

“Mwo? Apa itu benar?”

“Mianhe Jongin. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu tapi aku takut kau tidak akan mendengarkannya karena kau membenciku.” Luhan menunduk.

“Sebenarnya aku sudah memaafkanmu. Dan aku merindukanmu.” Semuanya terkejut mendengar pernyataan Jongin.

“Jinjayo?!” seru mereka bersamaan.

“Yah, kau tetap sahabatku Xi Luhan.” Semua tersenyum, terutama Luhan dia sangat bahagia.

“Gomawo Jonginie.” Luhan memeluk Jongin.

“Cheonma hyung.” Semua terkejut. “Wae? Dia memang lebih tua dari kita, sebenarnya dia seorang sunbae.”

“MWO?!!!”

“Sebenarnya aku satu tahun diatas kalian.” Ucap Luhan.

“Aigo, bahkan wajahmu lebih muda dari Lay.” Seru Xiumin.

“Ya! Apa wajahku terlihat tua?!” Lay tidak terima.

“Ani, tapi wajahmu seperti haraboji Jongin.” Xiumin kembali membuat Lay kesal.

“Mwo?! Ya!!!”

“Sudahlah kajja kita ke kantin, aku ingin berkumpul lagi seperti dulu dengan kalian.” Jongin menyeret tangan Luhan menuju kantin.

Mulai saat itu mereka kembali bersahabat. Bahkan Luhan memutuskan untuk kembali ke SMU Yonsei, meninggalkan cita-citanya demi sahabat-sahabatnya. Dengan adanya Luhan tim sepak bola Yonsei tak terkalahkan lagi, bahkan mereka sering mendapat medali emas untuk olimpiade sepak bola. Kerja sama lini depan antara Jongin dan Luhan sangat memporak-porandakan pertahanan tim lawan. Luhan menunjukan kepada SMU Yonsei bahwa dia bukan seperti yang selama ini mereka pikirkan.

Suatu hari keempat flower boys SMU Yonsei berkumpul di bawah pohon maple seperti biasa.

“Aku sangat bahagia kita bisa memenangkan pertandingan kemarin.” Seru Jongin merangkul semua sahabatnya.

“Nado. Kita harus bersiap untuk olimpiade selanjutnya. Aku dengar hadiahnya sangat banyak, bahkan ada yang mengatakan hadiahnya berlibur ke pulau Jeju.” Ucap Lay.

“Jinjayo? Aku sangat ingin ke sana. Diantara kita yang pernah ke pulau Jeju hanya Luhan, hahaha.” Sahut Xiumin.

“Dia kan kaya raya tidak seperti kita.” Ucap Jongin.

“Ya! Yang kaya adalah orang tuaku bukan aku.” Seru Luhan.

“Apa kau tidak merindukan Seoul?” tiba-tiba suara yang sangat dirindukan Luhan membuat Luhan berbalik seketika.

“Sehunie!!” Luhan berlari menghampiri Sehun.

“Apa kau tidak merindukanku, hyung?”

“Neomu bogoshipo Sehunie.” Luhan memeluk Sehun.

“Apa sahabatmu membuat kau melupakan kami?” Suara bass Chanyeol juga terdengar.

“Chanyeol, Kris, Tao, Yoora. Bagaimana kalian bisa ada di sini?” Luhan terkejut melihat sahabat dan yeoja chingunya dari Seoul datang.

“Karena kami sangat merindukanmu. Terutama dia.” Ucap Tao sambil menunjuk Yoora.

“Ya! Tao oppa, bisakah kau diam?” pelotot Yoora.

“Haha, kalian selalu saja bertengkar. Kau tau Luhan, sejak kau tidak ada Tao selalu menggoda Yoora.” Ucap Kris yang langsung mendapat death glare dari Tao.

“Mwo?! Ya!! Jangan pernah kau menyentuh yeoja chinguku. Chankam, kalian harus bertemu Jongin. Terutama kau Sehunie, minta maaflah padanya.”

Luhan, Sehun, Chanyeol, Kris, Tao, dan Yoora menghampiri Jongin dan dua sahabatnya. Jongin sedikit canggung bertemu dengan Yoora. Melihat keadaan itu Luhan membuka pembicaraan.

“Jonginie, Lay, Xiumin, perkenalkan mereka sahabat-sahabatku dari Seoul.” Luhan memperkenalkan mereka.

“Mianhe soal pertandingan waktu itu.” Sehun mengulurkan tangannya pada jongin.

“Lupakan, itu sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu Sehun-shi.” Jongin membalas uluran tangan Sehun. Melihat itu mereka semua tersenyum.

“Yoorayah, apa kau sudah melupakan kami?” seru Lay.

“Aniyo oppa. Aku sangat merindukan kalian.” Yoora memeluk Lay.

“Dia sangat merindukanmu.” Xiumin menunjuk Jongin.

“Ah ada yang belum ku jelaskan padamu.” Ucap Luhan tiba-tiba membuat semua memandang Luhan. Luhan melanjutkan perkataannya. “Jongin, Lay, Xiumin, sebenarnya Park Yoora adalah adik Chanyeol.

“Mwo?!!!” seru Jongin, Lay, dan Xiumin bersamaan.

“Saat pertama melihatnya dia seperti seseorang yang pernah aku kenal, dia seperti Chanyeol. Saat dia tertawa dia sangat mirip Chanyeol. Hingga saat aku mengetahui bahwa marganya Park aku langsung yakin jika dia adalah adik Chanyeol, maka dari itu aku membawanya ke Seoul.” Luhan menjelaskan.

“Tapi kenapa dia bisa ada di Yonsei?” tanya Jongin.

“15th yang lalu orang tua kami berpisah, ibuku membawa Yoora ke sini. Selama ini aku selalu mencarinya, bahkan aku mencarinya hingga ke China.” Jelas Chanyeol.

“Mwo? China?” Xiumin terkejut.

“Harmoni kami berasal dari China. Sebenarnya semua keturunan pengusaha terbesar itu memiliki darah campuran. Kris adalah keturunan Korea-Kanada, Aku, Yoora, Luhan, dan Tao keturunan Korea-China, sedangkan Sehun dia keturunan Korea-Inggris.” Chanyeol menjelaskan semuanya.

“Aku tau mengapa wajah kalian sangat tampan dan keren.” Xiumin mendengus.

“Hahaha, kalian juga tampan hanya saja kalian menutupinya.” Seru Kris.

“Ya! Apa kau memuji kami, hah?!” Lay mengerucutkan bibirnya.

“Sudahlah, lalu kapan kalian akan kembali ke Seoul?” tanya Jongin.

“Kami akan kembali jika Luhan dan kalian ikut kami ke Seoul, kami sudah menyediakan beasiswa kepada kau, Lay, dan Xiumin.” Ucap Sehun yang langsung membuat terkejut semuanya kecuali sahabatnya dari Seoul.

“Jinjayo?! Apa kau bercanda?” seru Lay.

“Kami tidak bercanda, bahkan kami sudah mengurusnya.” Ucap Kris.

“Tapi kami tidak bisa meninggalkan sekolah ini.” Ucap Jongin.

“Wae? Kau bisa menjadi pemain nasional Jongin.” Luhan meyakinkan Jongin.

“Tapi di sini adalah tempat tinggal kami. Kami tidak bisa meninggalkan Yonsei.” Ucap Xiumin.

“Baiklah jika itu mau kalian, maka kami yang akan pindah ke sini.” Keputusan Sehun membuat semuanya membuka matanya lebar-lebar.

“Mwo? Tapi bagaimana dengan ranking kita Sehun? Kita tidak bisa meninggalkan Seoul begitu saja.” Seru Tao.

“Wae? Salah satu sahabat kita juga meninggalkannya demi sahabatnya, kita juga begitu.” Sahut Sehun.

“Jadi kalian akan menyiakan ranking kalian? Apa orang kaya selalu berbuat seenaknya?” ucap Xiumin.

“Tidak, kita tidak akan menyiakan ranking kami. Kita bisa melakukan ujian itu di sini bahkan Kau, Jongin dan Lay akan ikut.” Chanyeol mendapat tatapan bingung dari semuanya.

“Sehunie, kau paham maksudku kan?” Sehun tampak berpikir sejenak lalu dia tersenyum.

“Aku mengerti, kita bisa melakukan ujian itu di sini.” Seru Sehun senang.

“Ujian? Ujian apa?” Jongin penasaran.

“Ujian ranking nasional dan dunia untuk pemain sepak bola. Jika kau akan menaikan rankingmu kau harus mengikuti ujian. Kalian bertiga juga akan ikut, kalian juga harus menunjukan kalau kalian memiliki kemampuan.” Jelas Kris membuat Jongin mengangguk mengerti.

“Baiklah sudah kuputuskan, kita semua akan pindah ke Yonsei. Aku akan menyuruh haraboji untuk membangun kembali sekolah ini seperti layaknya sekolah lain.” seru Sehun.

“Nado, kami juga akan memberitahu haraboji. Akhirnya semua sahabatku berkumpul di sini.” seru Luhan senang.

“Apa kau tidak menganggapku ada?” tanya Yoora.

“Mianhe Yoorayah. Keundae, Jongin mianhe. Aku menyukai Yoora bukan agar kau kehilangan orang yang kau sayangi, tapi aku benar-benar tulus mencintainya.” Luhan menatap Jongin.

“Jongin oppa nado mianhe. Aku tidak bermaksud menghianatimu. Pada awalnya aku memang terpaksa menerimanya tapi aku rasa sekarang aku juga mencintainya. Oppa, jeongmal mianhe.” lirih Yoora.

“Gwenchana, aku mengerti. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, tapi maukah kau menjadi dongsaengku Park Yoora?” tanya Jongin.

“Ya! Bagaimana dia menjadi adikmu? Dia adalah adikku! Aiish.” seru Chanyeol tidak terima adiknya direbut Jongin.

“Chanyeol oppa, tentu saja kau adalah oppa yang sangat aku sayangi. Apa salah jika aku memiliki oppa lagi?”

“Tapi nanti kau akan melupakanku.” ucap Chanyeol dengan tampang sedih.

“Oppa kau adalah kakak kandungku, tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Pabo.”

“Ya! Park Yoora! Berani sekali kau mengataiku pabo.”

“Kau memang pabo Chanyeolah.” seru Kris membuat yang lain tertawa.

Sejak saat itu mereka semua bersahabat kecuali Luhan dan Yoora yang menjadi sepasang kekasih. Mereka tidak mungkin bisa terpisah lagi.

Berawal dari sebuah kebencian dan dendam. Kini kedelapan namja yang menjadi flower boys SMU Yonsei dan seluruh sekolah di Seoul bersatu dan bersahabat. Saling merangkul, tertawa, menangis bersama. Persahabatan yang sangat erat dan kuat, badaipun tidak akan pernah membuat persahabatan mereka goyah.

Sejak munculnya kedelapan namja tampan dan keren dari SMU Yonsei, membuat SMU Yonsei menjadi terkenal. Permainan bola tim Yonsei pun semakin tangguh dengan kedatangan 5 pemain ranking 5 besar nasional itu. Kini tim Yonsei sudah sukar di kalahkan bahkan mereka sudah bermain di tingkat internasional mewakili Korea Selatan. Kini mereka semua menduduki 8 besar pemain sepak bola dunia.

Karena persahabatan mereka menjadi erat, karena sahabat mereka menjadi kuat.

END

5 thoughts on “Between Us (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s