Going Crazy (Chapter 1/5)

jungriyoungreq

Title                 : Going Crazy (Chapter 1/5)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Kim Jongin & OC

Support Cast   : Oh Sehun & Jung Soojung

Genre              : Romance, Friendship, Brothership

Rating             : PG-13

Length             : Pentalogy (5 Chapters)

Disclaimer       : Member EXO & F(x) milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt.

Summary         : “Hari ini aku harus menemui gadis itu. Arrgghh, aku sungguh membenci pertunangan bodoh ini!”

Big thanks to AmmL17 buat poster kerennya! J

.

.

.

Langit cerah menghias hangatnya kota Seoul siang ini. Musim panas telah tiba, dan itu artinya libur panjang akan segera di mulai. Yeah, libur panjang yang selalu dinanti-nantikan oleh para siswa. Bahkan tak jarang mereka telah mempersiapkan kegiatan-kegiatan menyenangkan jauh sebelum hari libur itu tiba.

Di antara segudang kebahagiaan liburan musim panas,mungkin hanya ada satu orang di dunia ini yang tidak merasakannya. Dia Kim Jongin, siswa kelas dua sekolah menengah atas itu adalah satu-satunya orang yang tidak menginginkan liburan musim panas. Boleh dibilang, jika ia bisa melewati liburan musim panas, dia akan menekan tombol ‘skip’ agar tak menemui musim dimana sinar matahari bersinar dengan sempurna di negaranya.

Pada libur musim panas ini, Jongin tepat berusia delapan belas tahun –atau tujuh belas untuk perhitungan umur internasional-. Dan pada saat itu, ia sudah memiliki kartu identitas resmi di negaranya. Ia sudah bisa mengajukan surat ijin mengemudi agar lebih leluasa mengendarai Audi merah yang diberikan orang tuanya sebagai kado ulang tahunnya. Singkatnya, Jongin sudah dewasa. Jongin bebas menentukan hidupnya tanpa harus dikendalikan oleh orang tua layaknya anak kecil. Yeah, itu adalah sekian banyak kebahagiaan Jongin pada liburan musim panas. Namun, ia sama sekali tak merasakan bahagia. Bahkan bisa dibilang, liburan musim panas ini adalah pintu gerbang menuju neraka baginya. Kim Jongin, sebenarnya kau kenapa?

.

Flashback

“Yang benar saja, Ayah? Aku tidak bisa melakukannya!”

“Ini permintaan dari kakekmu, Jongin. Tolong, lakukanlah sebagai penghormatan terakhirmu kepadanya.”

“Tidak. Aku tidak mau. Ibu, tolong katakan pada Ayah aku tidak bisa melakukannya. “ Jongin berbalik pada Nyonya Kim yang duduk di seberang. Merengek pada satu-satunya wanita yang paling mengerti dirinya.

Nyonya Kim mendesah, mengelus lembut puncak kepala Jongin. “Ayolah Jongin. Sekali ini saja kami meminta. Kami tak pernah meminta apapun padamu kan?” dan detik itu juga mata Jongin melebar.

“Jongin…” panggil Nyonya Kim lagi.

“….”

“Jongin, sayang. Kau sudah dewasa. Kau tahu ini adalah permintaan terakhir kakek. Apa kau benar-benar tak ingin mengabulkannya?” Nyonya Kim terisak di sela ucapannya. Dan Jongin tahu ia kalah. Ia tak akan pernah bisa menolak permintaan ibunya jika sudah begini.

Jongin menghembuskan nafas berat. Mengacak rambutnya kasar di kursinya. Tubuhnya melemas. Ia tak punya pilihan lain. Ia harus mau melakukan permintaan konyol kakeknya itu.

“Setidaknya biarkan aku bertemu gadis itu dulu.” putusnya. Kedua orang tua Jongin sontak mendongak. Menatap penuh syukur pada satu-satunya keturunan mereka.

“Baiklah-baiklah. Ayah akan mengatur pertemuan kalian. Ayah yakin kau akan menyukainya. Dia gadis baik. Parasnya cantik. Kau pasti bisa menerimanya sebagai istrimu kelak.” Tuan Kim menjabarkan dengan semangat.

Lagi-lagi Jongin mendesah. “Aku tak menjamin, Ayah.”

Flashback End

.

Yeah, perjodohan. Hal terkonyol yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Dimana seorang gadis dan pemuda tak di kenal akan dipertemukan. Lalu mereka harus menikah. Tinggal dalam satu atap dengan ikatan pernikahan tanpa cinta. Dan sialnya ia tak hanya harus mendengar lelucon itu. Tapi ia juga harus menjalankannya. Oh, mimpi buruk macam apa ini?

“Aaaarrrgggghhhh…..”

“YAK! kenapa kau berteriak di kamarku, hah?” Sehun menggerutu kesal pada lelaki berkulit gelap di sebelahnya. Ia melempar selimut yang menutup sebagian tubuhnya. Kemudian duduk bersila di atas kasur sambil menatap sahabatnya.

“Aku bisa gila. Aku akan gila. Arrrgggghh….sebentar lagi aku gila, Sehuuun!”

Alis Sehun bertaut ketika melihat Jongin meracau sambil menjambak-jambak rambutnya.

“Sepertinya kau memang sudah gila.”

“Aiish, benar-benar. Apa kau tak bisa memberikan komentar lain untuk menenangkanku?”

“Untuk apa? Dan sebenarnya kau ini kenapa sih?”

Jongin menatap Sehun sengit. “Tentu saja aku memikirkan perjodohan itu, bodoh!”

“Ah, perjodohan itu. Kapan kau akan bertemu dengan gadismu?” tanya Sehun tenang.

“Jangan sebut dia gadisku! Gadisku hanya Soojung.”

“Oh iya, ngomong-ngomong tentang Soojung. Kapan kau akan memutuskannya? Sebentar lagi kau akan bertunangan. Jangan rakus kawan.” Sehun menyeringai. Lelaki berkulit pucat itu tahu, Jongin sangat mencintai Soojung, kapten cheers yang merangkap sebagai gadis paling populer di sekolah mereka. Berani bertaruh, Jongin akan benar-benar gila jika ia harus memutuskan Soojung. Jongin yang malang.

“Hari ini aku harus menemui gadis itu. Arrgghh, aku sungguh membenci pertunangan bodoh ini!”

“Appaaa??? kau akan bertemu gadis itu dan saat ini kau malah bermalas-malasan di kamarku? Yak, Kim Jongin kau benar-benar! Ayo cepat bersihkan dirimu!!” Sehun beranjak, menarik tubuh Jongin dan menendangnya ke dalam kamar mandi. “Cepat mandi! Aku akan menyiapkan pakaianmu!” teriaknya keras. Berharap sahabatnya mendengar dari dalam.

*____*

“Ini apaaa??? ini terlalu formal, Sehun!” bergidik, Jongin melempar satu set tuxedo yang telah Sehun siapkan. Ia mendelik. Menatap sengit pada Sehun yang tengah duduk di ujung ranjang.

“Kau akan bertemu calon mertua, bodoh! Berpakaian sopan adalah pilihan terbaik.”

“Tapi bukan berarti aku harus memakai tuxedo. Aku hanya akan bertemu mereka, makan siang lalu pulang. Ini hanya acara keluarga, Hun. Bukan pernikahan!!!” balasnya frustasi.

“Terserah lah! Cari pakaianmu sendiri!”

Jongin mempuotkan bibir, membuka lemari pakaian Sehun –yang belakangan banyak berisi bajunya- itu untuk mencari pakaian yang tepat. Pakaian yang menurut Jongin pantas untuk dikenakan pada pertemuan keluarga yang akan dihadiri oleh keluarga Park, keluarga calon istrinya.

Kemeja merah marun dengan dua kancing paling atas sengaja dibuka, memamerkan kaos hitam yang ada di dalamnya, dipadukan dengan jeans hitam sudah cukup membuat Jongin puas. Ia menggulung lengan kemejanya hingga tiga per empat, menambah kesan keren dan maskulin pada dirinya. Jongin berbalik menghampiri Sehun. Berkacak pinggang lalu menyeringai.

“Bagaimana?” tanya Jongin.

“Yah, setidaknya kau terlihat lebih baik daripada hari-harimu biasanya.” Sehun mengangguk yang disusul dengan cibiran lelaki berkulit tan itu.

Jongin kemudian berjalan menghampiri meja, menyambar kunci mobilnya. “Aku harus berangkat sekarang. Ayah akan membunuhku jika terlambat.”

“Oke, selamat bertemu calon istrimu, Kim Jongin. Semoga dia lebih cantik dari Soojung.”

“Ck! Jangan harap! Tak ada yang lebih cantik dari Soojung ku!”

*____*

Mobilitas kota Seoul memang tak pernah sepi. Terbukti, Jongin harus bersabar mengendarai mobil dengan kecepatan tak lebih dari 60 km/jam karena padatnya arus lalu lintas. Terlebih ini adalah waktu makan siang. Waktu dimana para penghuni gedung-gedung tinggi itu keluar dari tempatnya untuk mengisi perut mereka.

Jongin meniup-niup poni yang menutupi jidatnya. Berusaha menghilangkan kebosanan yang mulai menyergap. Sesekali matanya melirik pada jam digital yang terdapat di deretan dashboard mobil. Terlambat. Jongin tahu ia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang telah disepakati untuk acara keluarga ini. Namun Jongin tak ambil pusing. Toh ia sendiri tidak begitu berniat pada perjodohan konyol keluarganya dengan keluarga Park. Ia sudah mempunyai gadis pilihannya sendiri. Dan bertunangan dengan putri keluarga Park hanya akan dilakukan semata-mata untuk mengabulkan permintaan kakeknya. Tak lebih.

Tepat pukul satu siang, mobil Audi merah itu terparkir sempurna di halaman restoran mewah yang biasa ia datangi bersama ayah ibunya. Jongin membanting pintu mobil dengan kesal. Perjuangan menuju tempat ini sungguh bukan main. Dan ia masih harus ekstra sabar. Karena penderitaan yang sesungguhnya baru akan ia temui nanti. Yah, nanti setelah ia menginjakan kaki di dalam restoran itu dan bertemu calon istrinya. Membayangkan saja sudah membuatnya ingin mengubur diri dalam-dalam. Ugh…

“Jongin…” sebuah suara wanita menarik perhatian Jongin tepat setelah membuka pintu resto. Matanya menelusur, ia melihat ibunya melambai di meja paling ujung bersama beberapa orang lain. Oh bagus! mereka menyiapkan seakan-akan ini pertemuan yang sangat penting.

“Lalu lintas sangat padat. Maaf jika kalian menunggu lama.” Ucapnya sopan sambil menunduk.

Orang tua Jongin hanya mengangguk. Lalu menyuruh anak semata wayangnya itu duduk.

“Ibu sudah bilang jika waktu makan siang itu lalu lintas pasti padat. Kau tak berusaha datang lebih awal, eoh?” tanya nyonya Kim sedikit kesal.

“Iya ibu, tapi tadi Sehun mengajakku mengerjakan tugas. Maafkan aku.”

“Sudahlah, toh sekarang Jongin sudah datang. Jangan menyalahkannya.” tuan Kim menginterupsi.

Mereka sama sekali tak curiga dengan kebohongan kecil yang keluar dari mulut Jongin. Oh, jika saja Sehun tahu. Jongin pasti sudah meringis digigit pemuda albino itu!

Di tengah perdebatan kecil orang tuanya, Jongin menatap orang-orang asing yang berada satu meja degannya. Ia memperhatikan intens. Mengamati satu persatu anggota keluarga Park.

Satu

Dua

Tiga

Empat

Empat orang duduk membentuk setengah lingkaran di depannya. Tuan dan Nyonya Park serta kedua anak mereka. Laki-laki dan perempuan. Matanya berhenti pada si anak perempuan yang duduk disamping ayah dan saudara laki-lakinya. Inikah gadis yang akan bertunangan dengannya? Ck! kenapa selalu menunduk?

“Berhenti memandang noona-ku seakan-akan kau ingin menelannya bulat-bulat hyungnim.” Jongin tersentak ketika anak laki-laki keluarga Park bersuara. Tak hanya Jongin, seluruh kedua anggota keluarga itu juga. Nyonya Park mendelik.

“Jaga bicaramu, Jimin!”

“Tapi hyung itu sangat tidak sopan.” gerutu anak yang dipanggil Jimin.

“Ah sampai lupa. Ini putra kami, kalian pasti sudah melihatnya lewat foto-foto beberapa hari yang lalu. Jongin perkenalkan dirimu.”

“Selamat siang. Saya Kim Jongin. Senang bertemu kalian.” ucapnya takzim.

Nyonya dan tuan Park tersenyum hangat. “Jongin sangat tampan. Dia tumbuh dengan baik. Bukankah dia seumuran dengan Jieun kami?”

“Ya, dia sudah menginjak delapan belas tahun sekarang.” jawab Tuan Kim.

“Lihat, Jieun. Dia calon suamimu.”

Gadis itu mengangkat wajahnya sedikit demi sedikit. Terlihat menahan malu untuk bertatap muka dengan Jongin. Jongin terpaku, memandang lurus wajah itu tepat pada dua bola matanya. Basah. Jongin dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Raut mukanya sendu. Ia menebak jika gadis yang dipanggil Jieun itu juga sama tak menginginkan perjodohan ini seperti Jongin.

“Park Jieun.” kata gadis itu setelah beberapa detik. Jongin mengangguk. Tersenyum tipis sebagai tanda sopan santun.

“Dan aku Park Jimin!” timpal adiknya tanpa dosa. Sungguh, Jongin ingin sekali mencekik anak bertubuh mungil itu. Sama sekali tak punya tata krama.

Kecanggungan di antara dua keluarga itu berangsur mencair seiring berjalannya waktu. Acara makan siang yang mati-matian Jongin hindari nyatanya dapat ia nikmati dengan baik. Kecuali untuk pertemuannya dengan anak bungsu keluarga Park. Sejak awal Jongin telah menetapkan bahwa ia membenci lelaki bernama Park Jimin tersebut.

*____*

“Kau yakin tak mau ku antar?” sekali lagi Jongin menanyakan hal itu pada Jieun, namun untuk kesekian kali pula Jieun menolak.

“Tidak, Jongin. Aku bisa pulang sendiri.”

“Baiklah, tapi ijinkan aku menemanimu sampai kau mendapat taksi.”

“Mm.” Jieun mengangguk.

Sebenarnya, mereka sudah banyak mengobrol satu sama lain sejak keluarga mereka memutuskan untuk meninggalkan Jongin dan Jieun berdua setelah makan siang. Dari mulai masa kecil, hobby, dan beberapa hal-hal sepele lainnya telah habis dibahas. Mereka terlalu menikmati pembicaraan dan tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul empat. Jika saja Jongin tak mengingat bahwa hari ini ada jadwal latihan basket bersama teman-teman satu timnya, ia pasti masih melanjutkan acara ini hingga waktu makan malam, mungkin.

Yah, tak seperti yang ia duga. Jieun adalah gadis yang menyenangkan. Ia ramah, dan selalu mendengarkan dengan baik cerita-cerita Jongin. Mereka bahkan tak segan untuk tertawa terbahak-bahak ketika ada topik lucu yang dibahas. Benar-benar berbeda dengan ekspektasinya selama ini.

Jongin melirik sekilas arloji yang membelit lengan kirinya. Belum terlambat. Setidaknya ia masih punya waktu dua puluh menit kedepan untuk menunggui gadis yang akan bertunangan dengannya itu.

“Sepertinya kau sedang terburu-buru?” Jieun bersuara.

“Siapa bilang?”

“Kau berkali-kali mengecek waktu.”

“Mm..aku memang ada janji bersama teman-teman klub basket. Tapi masih beberapa menit lagi.”

“Klub basket atau….??”

Jongin mengangkat alis, “atau?”

“Atau kekasihmu?” lanjut Jieun mengerling.

Jongin tersenyum mendengus. “Haruskah kita membahasnya?”

“Kenapa tidak?” sahutnya cepat. Jongin baru saja membuka mulut ketika ponselnya berdering. Membatalkan niat untuk berbicara kembali dengan Jieun.

*____*

“Dimana sahabatmu, Sehun?” Seorang gadis menghampiri Sehun yang sedang mengikat tali sepatu. Sehun mendongak. “Belum datang.”

“Aku tahu dia belum datang. Tapi dia dimana?”

“Mana ku tahu? aku sudah menelponnya. Jangan khawatir seperti itu.”

Gadis itu kemudian menyandarkan kepala pada punggung kursi. Melemaskan otot-ototnya yang telah lelah akibat latihan cheers bersama timnya.

“Soojung.” panggil Sehun.

“Mmm?”

“Apa kau benar-benar mencintai Jongin?”

Gadis yang dipanggil Soojung itu lantas menoleh. Merasa heran dengan pertanyaan Sehun. “Kau meragukan perasaanku pada Jongin? Ck! Tidak lucu, Oh Sehun!” balasnya ketus.

Sehun hanya tersenyum kecut. Di matanya, Soojung masih tetap sahabat kecilnya yang polos. Wajah dan kelakuan galaknya hanyalah sebuah kedok untuk menutupi kelemahannya. Sehun tahu persis, image ‘gadis cantik dan jutek’ yang melekat pada diri Soojung sangat berkebalikan dengan sifat aslinya. Dia menyayangi Soojung, tentu saja. Bahkan ia hanya merelakan Soojung berkencan dengan sahabat terbaiknya, Kim Jongin. Dan betapa perasaan bersalah itu menancap di hatinya ketika sebuah kenyataan tentang perjodohan itu terlontar dari mulut Jongin. Jika saja ia tahu, jika saja Jongin mengatakannya lebih awal, pasti ia sudah melarang Soojungnya jatuh cinta dengan anak berkulit gelap itu. Sial!

“Hun!!!”

“Ya?” Sehun tersentak.

“Ish!! kau tak mendengarkanku? dasar alien!” cibir Soojung kesal.

“Sorry. Kau bilang apa tadi?”

“Ayo kita berlibur! musim panas tak boleh dilewatkan begitu saja!”

“Soojung, kau tahu pertandingan musim panas akan segera dimulai. Kita tak punya waktu untuk berlibur.”

Soojung mengerucutkan bibir mendengar penolakan tak langsung dari Sehun. “Hanya satu dua hari. Toh pertandingan baru dimulai bulan depan. Kemampuan bermain basket kalian sudah tak diragukan lagi. Tim cheers juga telah mencapai titik maksimal. Lalu kenapa kita tak bisa menikmati liburan? huh?” tuntutnya kemudian.

Sehun tersenyum mendengus. “Aku tahu kau akan memaksa. Bagaimana aku bisa menolak rengekanmu, Jung Soojung!”

Soojung tertawa lebar mendengar gerutuan Sehun. Dia tahu, Sehun tak akan tega menolaknya. Bersahabat sejak kecil membuat Soojung hafal titik lemah lelaki berkulit pucat itu. Dan ia sangat menyukai ketika Sehun kalah berdebat dengannya. Seperti sekarang ini.

“Oh Sehun kau yang terbaik!”

*____*

“Liburan?” Jongin mengerutkan alis ketika Soojung mengatakannya. Yah, gadisnya baru saja mengajaknya merayakan musim panas. Tentu saja ini aneh mengingat Soojung lebih suka berlatih cheers, dance dan olah vokal pada liburan seperti ini.

“Sejak kapan kau menyukai jalan-jalan untuk mengisi liburan?”

“Sejak kau jarang mengajakku berlatih dance!” balas Soojung cepat. Jongin tertawa rendah setelahnya. Merasa sedikit tersindir oleh ucapan sang kekasih.

“Maaf sayang. Aku terlalu sibuk dengan tim basketku.”

“Aku tidak akan memaafkanmu sampai kau mau berlibur denganku.” Soojung mengerucutkan bibir.

“Apa aku menolak? Tentu saja aku mau. Sudah lama kita tak menghabiskan waktu berdua.” jawab Jongin sambil tersenyum.

“Dan apa aku pernah bilang jika kita akan liburan berdua? Aku juga mengajak Sehun.”

“Heh??? kenapa kau mengajak anak setan juga?” Jongin bertanya bingung.

Plaaakk

“Yak! Kenapa memukulku, Jung Soojung!”

“Sekali lagi kau memanggilnya anak setan, habis kau, Kim Jongin!”

“Ck! selalu saja membelanya. Sebenarnya pacarmu itu aku atau Sehun, huh?” gerutu Jongin kesal. Yah, dia memang selalu kalah dibanding Sehun dimata Soojung. Dan itu menyebalkan.

“Diamlah, aku tak ingin bertengkar denganmu. Jadi, kapan kita berangkat?”

“Bukankah kau yang mengajak? aku ikut saja. Terserah padamu.”

“Baiklah, sepertinya akhir pekan adalah waktu terbaik.”

Jongin mengangguk atas keputusan sepihak Soojung itu.

 

*____*

 

Jongin memutuskan untuk pulang lebih awal selesai berlatih basket. Setelah mengantar Soojung, ia langsung memutar balik mobilnya menuju kawasan Apgujeong, dimana rumahnya berada. Tubuhnya lelah, tulang-tulangnya serasa ingin lepas dari persendian. Jongin berencana menghabiskan waktu untuk tidur. Yah, setidaknya untuk beberapa jam ke depan, atau hingga pagi menjelang. Itupun jika Sehun tak datang ke rumah dan mengganggunya nanti.

“Kau pulang?” Sang ibu menyapa ketika ia membuka pintu rumah. Jongin tersenyum simpul. Lalu melangkah menuju anak tangga.

“Jongin.” panggilan lain mengurungkan niatnya menaiki tangga. Ia berbalik dan mendapati sang ayah menutup koran.

“Ya?”

“Ambil ini.” ucapnya sambil menyodorkan sesuatu. Jongin berjalan mendekat. Meraih sebuah kunci yang baru saja diberikan ayahnya.

“Ini…untuk apa?”

“Kunci villa kita di Jeju. Pergilah berlibur. Ajak Jieun bersamamu.” intruksi Tuan Kim.

Jongin hanya mendesah mendengar ucapan ayahnya.

“Tidak bisa, Yah. Aku sudah berjanji pada Sehun untuk liburan bersamanya.”

“Kalau begitu ajak Jieun bersama kalian. Tak ada salahnya mengenalkan pada Sehun. Bukankah dia sahabat terdekatmu?”

“Ayah…”

“Tak ada penolakan, Kim Jongin!”

.

.

.

TBC

4 thoughts on “Going Crazy (Chapter 1/5)

  1. Clarissa Tiara berkata:

    Hallo eoonnn HP ayem Udh bAck kikikiki, ceritanyaaa seruu eoon , Cuman kurang bikin greget….. 😦 , tapi…..
    SAYA SUKA SAYA SUKA INI FANFICTION MAK , tadi juga kata luhan oppa yg sedang galau katanya epep eon ini kerenn Cuman kurang bikin org esmosi sajah wkakakak , but….. Ini ff good …( baca ff goodnya pake nada mastin good eaa ) #abaikan sajah , pokoknyaaaa semuaaa niceeeee eoonn ( kayak Udh master aja gue ini -_- ) #abaikan lagi , Anddd ditunggu kelanjutannyaaaa , keep writing yah salam kecup dari sehunnie baby (?) :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s