Between Us (Chapter 2)

Title                 : Between Us (Chapter 2)

Author             : Xiao Lu

Cast                 : Xi Luhan, Kim Jongin, Oh Sehun, and other.

Genre               : Brothership, school life, romance

Rating              : General

Length              : 3 chapter

Akhirnya author bisa meneruskan ffnya dari kegiatan sekolah yang padat. Happy reading, ditunggu coment dan sarannya^^

*****

“Mwo? Kenapa kau bertanya hal aneh seperti itu kepadaku Luhan-shi?” Yoora sangat bingung dengan semua pertanyaan Luhan.

“Kau ingin tau kenapa?” tanya Luhan. Tiba-tiba Luhan menatap Yoora lekat dan mendekatkan wajahnya ke wajah putih Yoora.

Luhan menggapai pipi Yoora dan membelainya dengan lembut. Ketika wajah mereka semakin mendekat hingga Yoora dapat merasakan nafas Luhan yang memburu. Tapi Yoora tetap diam dan menatap Luhan dengan sorot mata bingung. Dengan cepat Luhan menempelkan bibirnya ke bibir lembut Yoora. Tangannya menyusuri lekuk wajah Yoora yang halus. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Setelah sadar yang dilakukan Luhan, Yoora melepas bibir Luhan dengan lembut.

“Luhan-shi.” Yoora menatap Luhan yang masih terpejam.

“Mianhe Yoora-shi. Aku mencintaimu.” Setelah beberapa detik Luhan baru menjawab.

“Kau harus mengikuti latihan bola hari ini. Temui aku di taman sepulang sekolah besok.” Yoora meninggalkan Luhan yang masih belum bergerak.

^___^

Luhan berjalan menuju lapangan sepak bola dengan wajah lesu. Dia takut jika Yoora akan marah padanya. Dia takut jika Jongin mengetahui apa yang dia lakukan kepada yeoja chingunya. Saat berada di seberang lain lapangan, Luhan bertemu dengan Jongin. Luhan tidak berani menatap Jongin.

“Luhan-shi, kenapa kau terlihat sedih seperti itu? Ada masalah?” tanya Jongin tiba-tiba yang membuat Luhan kaget.

“Ah aniyo gwenchana, nde.” Luhan menjawab dengan cepat.

“Arraseo, ayo kita ke lapangan.” Dengan membawa selembar kertas, Jongin berjalan ke tengah lapangan memanggil Xiumin dan yang lainnya.

“Xiumin-ah, kita umumkan hasil perundingan kita minggu lalu.” Hasil penilaian dan tes seleksi tim inti sepak bola SMU Yonsei akan dimumkan. Jantung Luhan berdebar.

“Ye Jongin-ah. Aku yang akan membacakannya.” Xiumin merebut kertas yang berada di tangan Jongin.

“Arraseo.” Ucap Jongin.

Xiumin membacakan nama-nama yang lolos tim satu persatu. Sorak girang namja yang lolos tim langsung terdengar. Sepuluh nama namja telah disebutkan dan sampai sekarang nama Luhan belum disebut. Luhan mulai was-was dan saat Xiumin menyebutkan nama terakhir, Luhan terlonjak. Jung Luhan. Nama terakhir yang disebut Xiumin membuat Luhan berteriak, akhirnya satu jalan terbuka lebar untuknya.

“Mulai hari ini yang masuk tim inti dan yang menjadi cadangannya akan mengikuti latihan yang serius. Teknik permainan yang kita pakai akan dijelaskan oleh kapten Jongin.” Xiumin mempersilakan Jongin meneruskan.

“Untuk melawan SMU Seoul kali ini, kita akan menggunakan pola permainan seperti saat bertanding kemarin hanya susunan pemainnya kita ubah. Untuk barisan pertahanan Minhyuk, Minho, Nichkhun, dan Taecyon. Untuk barisan tengah Xiumin, Lay, Woohyun, dan Wooyoung. Sedangkan barisan depan Luhan dan aku. Kalian paham?” Jongin menjelaskan.

Jongin menjelaskan dan mempraktikan langsung pola dan cara yang akan mereka gunakan untuk melawan SMU Seoul. Luhan tersenyum penuh kemenangan. Saat semua sedang memperhatikan Jongin menjelaskan, Luhan mengendap-endap pergi ke balik pepohonan di tepi lapangan dan menelepon seseorang yang langsung menjawab panggilan.

“Wae Luhan-ah?” terdengar seorang namja menyahut di seberang telepon.

“Aku berhasil. Akan aku jelaskan besok.” Luhan menjawab dan langsung menutup telepon. Dia mengendap-endap kembali ke lapangan.

Latihan hari itu ditutup oleh pertandingan kecil. Semua anggota tim pulang ke rumah masing-masing. Terkecuali Luhan, Xiumin, Jongin, dan Lay yang masih berada di bangku pemain di pinggir lapangan.

“Kita akan menang lagi kali ini.” Lay tersenyum lebar.

“Semoga saja. Kita semua akan bekerja sama demi kehormatan sekolah kita.” Ujar Luhan.

“Ya, kita harus kompak karena kita sahabat.” Ucap Jongin yang langsung membuat Xiumin dan Lay memeluk Jongin. Luhan diam di tempat bingung harus berbuat apa.

“Aku tidak sabar menjadi partner Luhan untuk pertandingan kali ini.”ucap Jongin sambil berjalan meninggalkan lapangan dengan Xiumin dan Lay disisinya. Luhan berjalan pelan di belakang mereka tersenyum.

^___^

Pelajaran berakhir. Luhan langsung melesat keluar kelas. Jongin bingung dan berteriak memanggilnya. Namun, telinga luhan seakan tuli dan tidak menghiraukan panggilan-panggilan sahabatnya. Luhan berlari menerobos kerumunan siswa di koridor dan melesat menuju taman belakang sekolah. Terlihat Yoora sudah menunggunya di kursi taman bawah pohon.

“Yoora-shi!” Luhan memanggil Yoora.

Yoora hanya tersenyum padanya dan dia mempersilakan Luhan untuk duduk di sebelahnya.

“Luhan-shi sebenarnya aku masih bingung bagaimana hal itu bisa terjadi.” Yoora tertunduk.

“Aku juga tidak tau kenapa bisa melakukan hal itu. Mianhe.” Luhan hanya menatap lurus ke depan.

“Keundae bagaimana aku harus menyampaikan hal ini kepada Jongin?” mata Yoora sudah berkaca-kaca.

“Mwo?! Apa kau bercanda? Kau akan menyampaikan hal ini padanya? Kau ingin dihukum gantung hah?!” Luhan menatap Yoora sarat kebingungan.

“Tapi aku tidak bisa menyembunyikan hal padanya. Aku tidak sanggup jika melihat matanya.” Yoora meneteskan air matanya.

Luhan terdiam dan memandang wajah Yoora. Yoora menangis karena kesalahannya. Luhan menyesal tapi dia tidak tau apa yang akan dia lakukan. Luhan hanya bisa menatap gadis itu, gadis milik sahabatnya dan juga seseorang yang dicintainya. Tangannya menggapai tubuh itu perlahan dan merengkuhnya. Yoora menyembunyikan tangisnya di dada Luhan.

^___^

Sebuah handphone berdering dan memunculkan sebuah pesan. Pemilik handphone langsung membuka isi pesan itu dan terkejut melihatnya.

“Jongin-shi, kurasa kita harus mengakhiri hubungan ini. Mianhe, kita putus.”

Pesan yang sangat singkat yang langsung membuat penerimanya tercengang dan tidak bernapas beberapa detik.

Hancur, sedih, marah, kecewa, bingung. Namja itu masih memegang handphonenya dan berharap pesan itu hanya bayangan. Tapi pesan itu tetap ada di sana dan tidak menghilang. Jongin tidak bisa berbuat apa-apa dia rasa bumi sudah berhenti berputar dan jantungnya berhenti berdetak. Apa yang sebenarnya terjadi?

Jongin berlari menembus hujan. Berlari untuk mencari kejelasan. Hubungan yang telah dia rajut bersama seseorang yang sangat dia cintai tiba-tiba lenyap tanpa alasan. Jongin berhenti berlari di depan sebuah rumah berpilar.

“Yoora-shi. Wae? Wae geurae?” Jongin berteriak. “Katakan bahwa semua ini hanya gurauan. Katakan semua ini mimpi. Berikan aku alasan kenapa kau tiba-tiba memutuskan hubungan ini. Yoora-shi apa yang sebenarnya terjadi?” tangis meledak di bawah guyuran hujan.

Seorang yeoja menangis di balik jendela. Dia tidak sanggup melihat namja yang selama ini mencintainya dengan tulus. Keterpaksaan yang membuat semua ini terjadi.

“Mianhe Jongin-shi.” ucap yeoja itu Lirih.

^___^

Jongin berjalan gontai menuju kelas. Matanya bengkak karena menangis, wajahnya pucat karena hujan semalam. Hatinya remuk. Saat tiba di kelas dia terduduk lesu dan menatap meja. Air matanya menetes tapi dia mengusapnya lagi. Lay masuk kelas dengan pandangan bingung ke arah Jongin.

“Jongin-ah? Wae geurae? Kau sangat mengerikan.” Lay menatap wajah Jongin yang sangat kusut. Jongin diam. Beberapa saat kemudian Xiumin masuk kelas dan menunjukkan reaksi yang sama dengan Lay.

” Lay-ah? Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa wajahnya seperti itu?”

“YA! Aku tidak tau, saat masuk kelas tadi dia sudah seperti ini.” Lay menjelaskan.

“Jongin-ah, apa yang terjadi? Ceritakan pada kami.” ucap Xiumin.

Jongin hanya terdiam. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada kedua sahabatnya. Dia sebenarnya tidak mau menyembunyikannya tapi dia bingung bagaimana menjelaskan dan dia sebenarnya tidak memiliki apapun untuk dijelaskan karena dia sendiri juga masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas menghiraukan kedua sahabatnya.

Luhan berjalan menuju kelas. Saat berada di kelas Luhan bingung ketika melihat kedua sahabatnya diam.

“Wae? Ada apa dengan kalian berdua?” ucap Luhan.

“Apa kau tau apa yang terjadi dengan Jongin?” tanya Lay.

“Aniyo. Wae?”

“Dia sedang aneh sekali hari ini. Dia tidak mau bicara sama sekali.” Xiumin menjelaskan.

“Mungkin ada masalah pribadi, jadi jangan memaksa dia untuk menjelaskan. Biarkan saja dia tenang.” ucap Luhan.

“Ah mungkin saja. Biarkan dia sendiri dulu.” Lay mengerti.

Luhan menuju bangkunya lalu berpikir ada apa yang terjadi dengan Jongin. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Apa mungkin Yoora nekat melakukannya? Apa benar Yoora yang menjadi masalah Jongin? Tiba-tiba handphone Luhan bergetar dan menampilkan sebuah pesan singkat.

“Luhan-shi, temui aku pulang sekolah di taman belakang.”

Luhan hanya memandang pesan itu. Sepanjang pelajaran dia hanya memikirkan dirinya, Yoora, dan Jongin. Setelah bel pulang berbunyi Luhan langsung berlari menuju taman belakang. Luhan menghiraukan panggilan Xiumin yang mengajaknya berlatih hari ini.

“Luhan-shi, kau datang?” Yoora menyambut kedatangan Luhan.

“Yoora-shi, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” ucap Luhan serius.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apa yang kau katakan pada Jongin?”

“Wae?”

“Kau tau hari ini Jongin tidak mau bicara apapun. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Luhan-shi, apa kau sudah lupa apa yang kau lakukan kemarin?”

“Keundae, apa kau setega itu mengatakannya pada Jongin?”

“Aniyo, aku tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Keundae, aku memutuskan hubunganku dengannya.” Yoora menunduk.

“Mwo?! Apa kau sudah gila?” Luhan kaget bukan main.

“Gila?! Aku akan gila jika menyembunyikan ini padanya. Kau tau bagaimana tersiksanya aku semalam, hah?!”

“Mianhe Yoora-shi. Aku menyesal telah melakukannya padamu, aku hanya ingin kau tau bukan cuma Jongin yang menyukai dan mencintaimu.”

“Aniyo, semua ini sudah terjadi. Sekarang kita hanya bisa menjalani semua resiko yang sudah kita lakukan.”

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana? Apanya?”

“Hubungan kita. Aku sangat bingung memikirkan ini.”

“Yah bagaimanapun kau sudah menyentuh bibir ku. Dan aku tak akan melepaskanmu dengan mudah Luhan-shi.”

“Jadi?”

“Kau akan menjadi namja chinguku mulai dari sekarang.”

“Mwo? Jinjayo?”

“Aiiish, sudah lah aku ingin pulang.” Yoora berjalan meninggalkan Luhan.

“Ya!! Park Yoora! Tunggu aku.” Luhan mengejarnya.

“Ya!! Palli!”

“Kajja aku antar kau pulang.”

Luhan dan Yoora pulang. Mereka tidak sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Dia bingung dengan apa yang sudah dilihatnya.

^___^

H-2 pertandingan antara SMU Yonsei dan SMU Seoul. Walaupun sudah H-2, Jongin belum pulih dari cedera hatinya. Dia berubah menjadi seorang yang pendiam. Setelah latihan dia langsung pulang tanpa berdikusi seperti biasa. Melihat hal tersebut, Luhan hanya bisa diam. Teman-teman yang lain hanya bisa menepuk pundaknya mencoba menghibur.

“Jongin-ah, sudah H-2 tapi kau tetap saja seperti ini. Dimana semangatmu? Dimana Jongin yang seperti biasa? Apa kau sudah kehilangan jiwamu?” Luhan menghampiri Jongin di parkiran sepeda.

“Aku memang kehilangan jiwaku.” Jongin akhirnya mau berbicara.

“Jiwamu yang mana? Ceritakan pada ku, kau masih menganggap aku sahabatmu kan?”

“Ya kau memang sahabatku hanya saja aku bingung apa yang akan aku katakan padamu tentang masalahku.”

“Mwo? Dengan masalahmu saja kau bingung? Apa yang membuat kau bingung hah?”

“Aku bingung mengapa tiba-tiba menjadi seperti ini.”

“Ya!! Apanya yang seperti ini?”

“Hah sudahlah. Aku hanya putus dengan Park Yoora, tapi aku tidak tau apa alasannya kenapa dia memutuskanku.”

“Mwo?! Kau putus dengannya?! Sejak kapan kalian bertengkar?”

“Nah itu yang sebenarnya yang membuat aku bingung. Aku juga tidak tau apa alasannya.”

“Pasti ada kesalahpahaman.”

“Mollayo, sekarang aku akan pulang. Annyeong!”

Jongin berlalu. Luhan hanya bisa menatap punggung namja yang sedang rapuh itu. Luhan bersyukur bahwa Jongin tidak mengetahui bahwa dirinya ikut terlibat. Luhan tersenyum. Semua rencananya berhasil.

Luhan yang sejak pertama latihan sepak bola sudah membuat Jongin dan sahabatnya tertarik. Dia masuk ke tim inti SMU Yonsei. Kemampuan Luhan bermain bola memang tidak diragukan lagi. Dia sudah berada di tingkat nasional dan mendapat ranking di tingkat dunia dan yang pasti Jongin tidak mengetahuinya.

Luhan bersekolah di SMU Yonsei hanya ingin menjatuhkan kapten tim sepak bola SMU Yonsei. Dia menjadi mata-mata SMU Seoul, dan Luhan beruntung dia bisa mendapatkan hati Jongin secepat itu. Luhan juga berhasil mendapat informasi tentang tim yang akan bertanding dengan timnya di SMU Seoul.

Park Yoora mantan kekasih Jongin adalah yeoja yang sangat diidam-idamkan Luhan. Jadi dalam kesempatan ini Luhan ingin mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pada H-1 pertandingan Luhan berniat tidak mengikuti latihan karena dia harus kembali ke Seoul.

“Yoora-shi temui aku sepulang sekolah di parkiran. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.” pesan singkat yang dikirim Luhan saat bel istirahat berdering.

“Luhan, kajja kita ke kantin.” ajak Jongin.

“Ah, kajja.” Luhan merangkul pundak Jongin. Dua orang namja yang paling populer di sekolah itu berjalan beriringan. Dua namja yang sebenarnya sangat dekat tetapi harus terpisahkan dengan suatu kebohongan.

“Luhan, kau tau dimana Lay dan Xiumin?” tanya Jongin saat mereka duduk di bangku kantin.

“Mereka ke gudang membereskan bola. Aku dengar ada yang mengobrak-abrik gudang.”

“Mwo? Siapa yang melakukannya?”

“Molla, mungkin penjaga sekolah yang sedang mencari barang.”

“Ah mungkin saja. Aku lapar dan mau memesan sesuatu. Aku akan memesankan makanan kesukaanmu.” Jongin beranjak. Dalam hati Luhan kaget mendengarnya. Bagaimana bisa dia menghianati sahabat yang sangat mengerti dirinya? Luhan ragu apa dia bisa melakukannya kepada Jongin. Tapi semua itu harus dilakukan demi karir sepak bolanya.

^___^

Semua di lapangan bingung. Mereka tidak akan bisa berlatih tanpa Luhan. Luhan adalah pemain yang sangat diandalkan SMU Yonsei. Jongin berusaha menghubungi Luhan tetapi hanya nada sibuk yang terdengar.

“Semuanya ayo berlatih tanpa Luhan. Mungkin dia sedang ada urusan jadi dia telat hadir.” seru Jongin kepada teman-temannya.

“Tapi besok pertandingannya. Apa dia lupa?” ucap Xiumin.

“Ya Xiumin! Dia tidak mungkin lupa dengan pertandingan besar ini. Seperti yang aku bilang tadi mungkin dia ada urusan yang sangat penting.” Jongin mencoba menenangkan.

“Terserah apa katamu.” Xiumin akan meninggalkan Jongin tapi Lay berlari ke arah mereka.

“Jongin-ah, ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Lay duduk di samping Jongin.

“Ada apa?” tanya Jongin.

“Xiumin-ah duduk.” Lay menyuruh Xiumin duduk dan Xiumin menurut.

“Palliwa, wae geurae?” Jongin penasaran.

“Apa benar kau sudah putus dengan Yoora?” pertanyaan yang mampu membuat remuk dada Jongin.

“Mwo?!!! Apa benar begitu? Katakan pada kami!” seru Xiumin kaget.

“Hah aku sebenarnya juga masih bingung. Tetapi Yoora memutuskanku tanpa alasan.” Jongin menunduk.

“Oh jadi selama ini kau menjadi pendiam gara-gara hal ini?” tanya Xiumin.

“Ya begitulah.”

“Kim Jongin, kau masih menganggap kami sahabatmu kan?”

“Kau, Lay dan Luhan adalah sahabatku. Kalian adalah sahabatku.” jawab Jongin.

“Jika kau menganggap kami sahabatmu, kenapa kau tidak menceritakannya kepada kami?”

“Karena aku masih bingung apa yang harus aku katakan pada kalian. Aku juga masih bingung dengan hal ini.”

“Chankamanyo, dimana Luhan?” tanya Lay tiba-tiba.

“Mollayo, kata Jongin dia sedang ada urusan.” Xiumin menjawab.

“Mm, sebenarnya kemarin aku melihat Luhan pulang bersama seorang yeoja.” ucap Lay membuat yang lain memandangnya butuh penjelasan. Lay meneruskan ucapannya.

“Aku tidak tau aku salah lihat atau tidak, tapi dia pulang bersama Yoora.” Xiumin kaget.

“Mwo?!!!! Yoora?! Park Yoora?! Ya!! Ada apa antara Luhan dan Yoora?” seru Xiumin. Jongin terdiam dan mencoba berpikir jernih walaupun ada rasa penasaran dan curiga.

“Aku melihat Yoora naik ke mobil Luhan dan mereka meninggalkan sekolah.” Lay meneruskan.

“Begini. Mungkin saja mereka tidak sengaja bertemu dan Luhan mengajak Yoora pulang bersama karena rumah mereka searah.” Jongin mencoba mencairkan suasana.

“Tapi itu mungkin saja, Xiumin, kau terlalu berlebihan.” ucap Lay polos.

“Ya!! Aku hanya berasumsi yang mungkin tidak terjadi antara Luhan dan Yoora.” jelas Xiumin.

“Jangan menuduh orang sembarangan dulu. Sebaiknya kita latihan saja.” ucap Jongin. Dia berlari ke lapangan dengan perasaan yang kacau. Dia masih bertanya-tanya bagaimana Luhan bisa mengantar Yoora pulang, tapi dia berusaha berpikir positif.

Latihan selesai tanpa dihadiri Luhan. Luhan tidak kunjung datang. Akhirnya Jongin memutuskan mengirimkan pesan ke handphone Luhan.

“Ya! Kenapa kau tidak berangkat latihan hari ini? Kau tidak lupa besok kan?” setelah mengirim pesan, tanpa beransur lama Luhan sudah membalas pesan Jongin.

“Aniyo. See you in the match tomorrow.” melihat balasan Luhan, Jongin terlihat sedikit kaget namun dia hiraukan dan memutuskan untuk segera pulang.

Di sebuah cafe sepasang namja dan yeoja sedang mengobrol dan masih mengenakan seragam sekolah mereka.

“Yoora-shi, ada yang ingin aku katakan padamu.” ucap Luhan.

“Apa?”

“Kau harus tau satu hal besar.”

“Apa itu? Rahasia?”

“Awalnya itu sebuah rahasia, tapi mungkin besok akan terbongkar. Aku akan mengatakan padamu sekarang.”

“Wae? Apa itu hal serius?” Yoora memandang Luhan penasaran.

“Yoora-shi, sebenarnya aku bersekolah di SMU Seoul.”

“Mwo?!! Apa kau bercanda?”

“Aniyo, jika kau tidak percaya lihat ini.” Luhan menunjukan kartu pelajarnya yang dia ambil dari dompetnya. Yoora terkejut melihatnya.

“Ya! Apa kau membohongi kami selama ini? Tapi apa yang kau lakukan di SMU Yonsei?” Yoora mulai marah.

“Aku hanya ingin menjatuhkan kapten sepak bola sekolahmu. Dan awalnya aku hanya ingin tau pola permainan apa saja yang biasa di pakai tim Yonsei jika bertanding dan aku kira itu akan sulit tapi ternyata sangat mudah. Hahaha.”

“Mwo?! Jadi kau hanya ingin menjatuhkan Jongin dan tim sekolah kami? Apa kau tidak sadar kalau Jongin sudah menganggap kau sahabatnya? Apa kau tidak menganggapnya sahabat? Kalian sangat dekat selama ini, tapi apa yang kau lakukan? Jongin sudah percaya padamu, tapi kau menusuknya seperti ini. Ini tidak adil Luhan-shi!” Yoora hendak pergi meninggalkan Luhan, tapi Luhan menghentikannya.

“Yoora-shi apa kau tidak diajari untuk akting di sekolah ini? Oh jelas tidak ada di sekolah yang yah sederhana seperti itu. Park Yoora, jika kau pergi aku akan memutuskanmu.” ancam Luhan.

“Aiish, kau membuatku gila Luhan-shi. Tapi kenapa kau melakukan semua ini?”

“Ingat, sekarang kau adalah yeojachinguku. Aku mengakuinya padamu karena aku tidak ingin membohongimu. Aku melakukan ini semua demi karirku di tingkat internasional nanti. Kau akan ku bawa ke Seoul setelah pertandingan besok. Dan aku akan melamarmu setelah lulus nanti.”

“Ya!! Apa kau dilatih untuk hidup seenaknya? Kau akan membawaku ke Seoul? Apa kau sudah gila hah?!’

“Aku akan gila jika aku meninggalkanmu di sini.”

“Tapi bagaimana dengan pertandingan besok? Apa kau akan datang?”

“Pasti aku akan datang dengan kau di sampingku.” Luhan tersenyum.

“Mwo?! Aku?!” Yoora terkejut.

“Ya, kau akan di sana sebagai kekasihku.”

“Apa kau tidak mengerti perasaan Jongin? Pasti dia sangat sedih jika dia mengetahuinya.”

“Kau ikuti saja aku dan jangan katakan apapun. Okey Yoora-shi.”

“Terserah apa katamu.”

“Akan aku jemput jam 2.”

“Arraseo, aku akan menunggumu.”

^___^

Pukul 2.30 waktu KS. Ke 15 namja telah bersiap di lapangan. Mereka menanti lawan mereka. SMU Seoul. Sekolah yang telah menjadi musuh bebuyutan tim sepak bola SMU Yonsei. Jongin sang kapten menekan-nekan tombol ponselnya, mencoba menghubungi nomor ponsel Luhan.

“Apa dia tidak bisa dihubungi?” tanya Xiumin.

“Aiish, mollayo! Nomornya susah sekali dihubungi. SMU Seoul mungkin sebentar lagi akan tiba.” jawab Jongin.

“Lebih baik kau melakukan pemanasan. Mungkin dia akan segera datang.” Xiumin menenangkan Jongin.

Jongin meletakan ponselnya di tas dan berlari ke lapangan untuk melakukan pemanasan. Semua anggota tim SMU Yonsei melakukan pemanasan. Di tengah pemanasan mereka, tiba-tiba muncul sebuah mobil yang diiringi bus ukuran sedang menuju parkiran lapangan.

Satu per satu namja dari bus turun. Putih, tinggi, dan tampan. Semua namja yang berada di lapangan langsung menoleh dan terkejut karena pemain SMU Seoul berbeda. Mungkin hanya beberapa yang pernah dilihat Jongin.

Akhirnya semua namja dari SMU Seoul turun dari bus yang mereka kendarai. Hanya empat namja yang dikenali Jongin. Sehun, Tao, Chanyeol, dan Kris. Yang Jongin tau mereka adalah para keturunan dari pengusaha paling sukses di Korea Selatan namun Jongin bingung. Bukannya di berita ada lima orang pengusaha, namun keturunan yang hadir hanya empat. Mereka menganggap merekalah yang berkuasa di Korea Selatan karena mereka adalah orang terkaya di Korea Selatan. Dan SMU Yonsei adalah salah satu sekolah yang dibangun para pengusaha itu.

Jongin terpaku pada keempat namja itu. Namun yang membuat semua siswa dari SMU Yonsei terkejut adalah ketika sepasang namja dan yeoja yang turun dari mobil mewah di samping bus. Yoora yeoja yang terkenal menjadi yeojachingu Jongin turun dari mobil Luhan yang mereka tau adalah sahabat Jongin dan mereka bergandengan tangan. Semua terkejut termasuk Lay dan Xiumin. Jongin yang hanya terpaku di tempatnya masih tidak mengerti hingga Luhan mengeluarkan suara.

TBC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s