Between Us (Chapter 1)

Title                 : Between Us (Chapter 1)

Author             : Xiao Lu

Cast                 : Xi Luhan, Kim Jongin, Oh Sehun, and other.

Genre               : Brothership, school life, romance

Rating              : General

Length              : 3 chapter

Hai semua apa kabar? Ini pertama kalinya aku ngeposting FF. Aku menulis FF ini terinspirasi dari hobi Luhan bermain bola. FF ini hasil dari pemikiranku sendiri loh, tidak ada unsur plagiat sama sekali. Kecuali tokohnya aku pinjem sebentar ya hehe. Happy reading, ditunggu coment dan sarannya ya^^

******

Suara alunan musik rok tidak bisa menembus telinga seorang namja. Namja itu terus terpaku dengan seorang yeoja yang sedang tertawa lepas dengan sahabat-sahabatnya. Yap! Saat ini sedang berlangsung acara ulang tahun SMU Yonsei. Namun namja yang sedang duduk bersandar pada pohon maple tidak memiliki selera dengan acara tersebut.

“Yeoboseoo,,” Namja tersebut dengan cepat mengangkat telepon di ponselnya.

“Jongin-ah, kau ada dimana sekarang?” terdengar suara namja lain diseberang telepon.

“Ah, aku sedang berada di tempat ku duduk saat ini.” Ucap namja yang ternyata bernama Jongin itu.

“Aish, iya tapi sekarang aku tidak tau dimana kau duduk.” Namja lain mulai kesal.

“Pabo!” jawab Jongin.

“Yaa! Apa maksudmu? Kau tidak ingin peduli kalau SMU Seoul menantang kita bertanding sepak bola?!” Namja lain menjawab dengan kesal (lagi).

“Mwo?!!! Kenapa tidak kau katakan dari tadi !!” Jongin kaget bukan main.

“Aku bertanya dimana kamu untuk memberitaukan hal ini bodoh!” Namja lain berdecak kesal.

“Mianhe, sekarang kau dimana?” Jongin berdiri dan mulai mengedarkan mata untuk mencari teman-temannya.

“Aku sedang berada di belakang panggung dengan yang lain. Kemarilah.”

Jongin langsung mematikan telepon dan berlari menerobos kerumunan menuju belakang panggung. Mau apa lagi sekolah sombong itu? Apa mereka belum puas dengan apa yang sudah ditakdirkan?! Aish!!.

^____^

Bel sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing. Membayangkan makanan apa yang sudah dimasakan ibu mereka di rumah. Kecuali seorang namja dan teman-temannya yang sedang sibuk mendiskusikan sesuatu.

“Apa yang akan kita lakukan untuk membalas kekalahan kita?” Seorang namja yang mungkin merupakan ketua dari kumpulan namja-namja memulai perbincangan.

“Sebelumnya kita harus mengetahui bagaimana pola permainan yang akan mereka gunakan.” Namja lain menyahut.

“Iya, setelah tau bagaimana pola permainan mereka kita dapat mengalahkan mereka dengan mudah.” Namja yang sedang memegang sebatang ranting angkat bicara.

“Okey, begini rencana kita……” Ketua dari namja-namja mulai menyusun rencana.

^___^

“Ayo kita harus mulai berlatih. Semangat teman-temaaaaaan!!!!” Jongin menendang bola ke arah gawang.

“Siap bos!!” ke 15 namja lain menyahut.

Tim sepak bola SMU Yonsei berlatih dengan serius. Walaupun pertandingan terakhir mereka berhasil mengalahkan SMU Seoul yang merupakan sekolah terfavorit di Korea Selatan itu. Mereka tidak mau dianggap orang remeh. Walaupun mereka bukan dari kalangan berada mereka harus tetap berusaha dan menyiapkan mental mereka dengan baik.

^___^

Sebuah mobil mentereng yang kalau dilihat dari lampu mobilnya keliatannya mobil mahal parkir di SMU Yonsei. Seorang namja keluar dari mobil dan langsung menjadi pusat perhatian seluruh murid. Wajahnya yang putih, rambutnya hitam, dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya membuat semua yeoja meleleh dan melongo terkagum-kagum.

Ruang kelas 2C langsung gaduh ketika namja yang pagi ini cukup menggemparkan SMU Yonsei masuk kelas. Dia pun memperkenalkan diri.

“Annyeong haseyo, nama saya Luhan, saya pindahan dari luar kota. Semoga kalian menerima saya dengan baik.” Ucap Luhan singkat.

“Ya Luhan, kamu duduk di sebelah Jongin.” Kim songsaenim menunjuk bangku kosong di sebelah Jongin.

“Khamsahamnida songsaenim.” Luhan berjalan menuju bangkunya.

^___^

Bel istirahat berbunyi dan seluruh siswa memenuhi kantin untuk mengisi perut mereka karena pelajaran membuat mereka lapar. Luhan berjalan sambil diiringi tatapan kagum dari siswa siswi yang dilewatinya. Luhan berhenti di bangku kantin paling pojok karena hanya bangku itu yang tersisa.

“Jogiyo, ini bangku kami.” Jongin dan teman-temannya datang menghampiri Luhan. Luhan membaca nametag Jongin sebentar.

“Tapi aku yang duduk di sini dulu. Bisakah kalian mencari bangku yang lain?” Dengan tampang innocent Luhan tetap duduk di bangku yang dianggap siswa lain merupakan bangku keramat karena sejak sekolah di Yonsei Jongin adalah penunggu bangku tersebut dan tidak ada seorang pun yang berani duduk di bangku itu.

“Maaf. Tapi ini bangku kami dan sampai kami lulus ini tetap bangku kami. Jadi silahkan kamu yang mencari bangku lain.” Jongin menjelaskan.

“Tapi aku dulu yang duduk di sini hari ini. Dan bangku ini satu-satunya bangku yang kosong di kantin ini.” Luhan masih bersikeras.

“Aaiiiish !! Tunggu, kamu anak baru di kelas 2C kan?” ucap Lay sahabat Jongin.

“Iya. Dan sepertinya aku juga duduk di sebelahmu.” Luhan menunjuk Jongin.

“Aku tidak peduli. Kamu minggir dari sini !” Jongin membentak Luhan.

“Tapi bisakah aku ikut bergabung dengan kalian? Lihat, semua bangku penuh.” Luhan memohon.

“Aiish, baiklah.” Karena perut sudah lapar Jongin mempersilakan Luhan untuk tetap duduk dibangku Jongin.

Jongin dan teman-temannya makan dengan lahap sambil bersenda gurau. Luhan ikut bergabung bersama kelompok Jongin. Sepertinya Luhan sangat nyambung mengobrol dengan Jongin. Sampai mereka tidak sadar bahwa bel masuk telah berbunyi dan mereka segera kembali ke ruang kelas.

“Lay, hari ini kita latihan. Jam 3 seperti biasa.” Jongin berbisik ke arah Lay yang sedang mendengarkan penjelasan guru.

“Iya aku sudah tau. Aku bosan sekali.” Lay mengeluh kepada Jongin.

“Sebentar lagi pelajaran akan selesai, Lay. Dan kau bisa pulang.” Jongin menghibur Lay.

Bel pulang berbunyi. Jongin dan Lay bertemu teman-temannya dari kelas lain di koridor.

“Hei, nanti latihan bola seperti biasa ya.” ucap Lay saat berjalan keluar sekolah. Luhan yang berjalan dibelakang matanya langsung berbinar dan ingin ikut bergabung.

“Jongin-shi apakah aku boleh mengikuti latihan sepak bola? Dan masuk ke tim sekolah?” ucap Luhan tiba-tiba yang membuat Xiumin, Lay, dan Jongin yang berada di depannya terlonjak kaget.

“Yaa! Kau itu menyebalkan sekali. Jangan pernah membuat kami terkejut lagi, paham?” ancam Xiumin.

“Mianhe, aku tidak sengaja.” Luhan menunduk.

“Tidak apa-apa. Tadi apa yang kau tanyakan?” Tanya Jongin tenang.

“Apa aku bisa masuk tim sepak bola sekolah? Aku suka sepakbola, di tempatku dulu aku bermain sepak bola setiap hari untuk bertanding.” cerita Luhan.

“Apakah kau serius?” Jongin memandang Luhan dari atas sampai ujung kaki. Luhan tidak pantas untuk menjadi olahragawan, tapi dia lebih pantas menjadi model.

“Sangat serius! Apa aku boleh bergabung dengan tim sepak bola sekolah?” tanya Luhan bersemangat.

“Apakah kau bersungguh-sungguh?” ucap Jongin.

“Sangat bersungguh-sungguh.” jawab Luhan.

“Arra, nanti jam 3 datanglah ke lapangan belakang sekolah.” Jongin mengijinkan Luhan bergabung dengan tim sekolah.

“Mwo?!!” ucap Lay dan Xiumin terkejut.

“Jangan sembarangan memasukan orang ke tim.” ucap Xiumin masih dengan nada terkejut.

“Kurasa dia bersungguh-sungguh, kenapa kita tidak memberikan dia kesempatan? Siapa tau dia bisa membantu tim kita.” balas Jongin.

“Keundae, aiish! Jonginie, apa kau serius?” tanya Lay.

“Sudah aku bilang aku serius.” Jongin mulai kesal.

“Tapi Jongin..” Lay hendak berkata tapi Jongin menimpalinya.

“Shikeureo! Aku adalah kapten tim jadi aku berhak mengijinkan siapa pun masuk ke tim ku tidak terkecuali dia. Kajja Luhan kita pulang.” Jongin meninggalkan Lay dan Xiumin yang masih tidak mengerti dengan Luhan yang mengikutinya.

“Mwo?! Kurasa dia sedang aneh.” ucap Lay.

“Yah mungkin obat dia habis. Kajja.” Xiumin dan Lay akhirnya memutuskan untuk pulang.

^___^

Lapangan sudah ramai dengan teriakan para namja yang sedang menggiring bola. Bola berhenti bergulir ketika sebuah mobil sport mewah memasuki lapangan parkir. Dua namja keluar dari mobil dan membuat seisi lapangan tercengang.

“Mwo?! Sejak kapan Jongin berteman dengan anak baru itu?” bisik seseorang di belakang.

“Molla. Keundae, apa yang dilakukan anak baru itu disini?” bisik namja lain.

Jongin dan Luhan berjalan menyebrangi lapangan dengan diikuti pandangan semua namja yang ada di lapangan. Di tengah lapangan Jongin berhenti.

“Semuanya, Luhan adalah anak baru dalam tim kita. Perlakukan dia seperti teman-teman yang lain. Arraseo?” Jongin berkata dengan tegas.

“Arraseo Jonginah.” sahut seisi lapangan.

Mereka mulai berlatih. Mereka kaget melihat kemampuan Luhan dalam bermain bola. Dia lihai dan pandai melindungi bola. Tendangan dan operannya selalu akurat. Sepertinya Jongin nyaman menjadi partnernya.

“Daebak Luhan-shi. Aku tidak menyangka kau sangat hebat bermain bola.” Xiumin menghampiri Luhan setelah selesai berlatih.

“Ah aniyo. Kalian yang lebih hebat, kalian giat berlatih.” ucap Luhan.

“Haha tapi tidak sehebat kau Luhan. Oh ya, aku minta maaf soal tadi siang.” Xiumin menunduk.

“Gwenchana, tidak usah meminta maaf.” Luhan tersenyum.

“Ah gomawo Luhan-shi.” Xiumin balas tersenyum.

“Teman-teman ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.” Jongin berdiri di antara teman-temannya.

“Nde,,” Yang lain menyahut.

“Kalian sudah tau kan ada yang menantang kita? Besok kita berkumpul di sini seperti biasa, tapi khusus untuk membahas masalah ini. Aku harap kalian semua bisa hadir latihan. Mengerti?” ucap Jongin.

“Mengerti!” Yang lain menjawab dan mulai berjalan meninggalkan lapangan.

^___^

“Xiumin-shi, Lay-shi, Jongin-shi, oedikayo?” Luhan berlari menghampiri tiga orang namja.

“Kantin. Kau mau ikut? Kajja.” Lay merangkul pundak Luhan.

“Annyeong haseyo Jongin-shi.” tiba-tiba seorang yeoja menghampiri Jongin dan tersenyum.

“Wae Yoora-shi? Ada masalah?” Jongin memandang yeoja itu lekat.

“Aniyo, gwenchana.” yeoja itu tersenyum. Tanpa disadari Luhan memandang yeoja itu tanpa berkedip.

“Aish, kau membuatku khawatir. Kajja ikut aku ke kantin.” Jongin menggandeng tangan yeoja tersebut. Luhan tersentak lalu mengikuti langkah yang lain di belakang. Dalam hati Luhan masih bertanya-tanya siapa yeoja yang bersama Jongin itu.

Seperti biasa mereka duduk di bagian belakang pojok kantin. Mereka melahap makan siang mereka. Luhan yang sedang tidak fokus menghiraukan makan siangnya.

“Luhan-ah, kenapa kau tidak memakannya?” Xiumin melihat makanan Luhan yang masih utuh. Luhan terkejut.

“Aah aku tidak lapar.” Luhan menjawab dengan gugup.

“Ya! Jika kau tak lapar kenapa kau memesannya? Dasar orang kaya suka menghambur-hamburkan uang.” timpa Xiumin.

“Hahaha mianhe.” Luhan tersenyum dan kembali memandang gadis di sebelah Jongin.

“Jongin-shi, apa nanti sore kau ada waktu?” Yoora membuka percakapan.

“Ani, mian Yoora-shi aku ada latihan hari ini.” Jongin menjawab dengan wajah menyesal.

“Haha aniyo gwenchana. Jangan pasang muka seperti itu, kau jelek sekali.” Yoora tertawa. Dan tanpa disadari yang lain seorang namja tersenyum.

“Aish, kenapa kau menerima ku kalau kau tau aku jelek?” Jongin semakin menekuk wajahnya.

“Ya! Jongin kau seperti haraboji yang sedang menahan kentut. Wajahmu sangat jelek. Hahahaha.” Lay ikut mengejek.

“Ya! Jelekpun aku sudah memiliki yeoja chingu. Jika kalian merasa kalian lebih tampan, kenapa tidak ada yeoja yang tertarik pada kalian? Hahaha.” Jongin tertawa.

Sebenarnya Jongin hanya bercanda. Tidak ada yeoja yang tidak mau dengan tim sepak bola sekolah yang terkenal bertubuh tinggi dan memiliki badan atletis. Terutama Jongin yang memiliki kharisma seorang kapten. Banyak yeoja yang meninginkannya, tapi hatinya telah tertumbuk pada seorang yeoja tercantik dan termanis di sekolahnya.

Park Yoora. Gadis impian yang didambakan semua namja. Cantik, manis, pintar, selalu ceria dan tidak sombong walaupun dia orang terkaya di daerah Yonsei. Kim Jongin adalah seorang namja yang membuat yeoja itu jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.

“Yoora-shi, kajja kuantarkan kau ke kelas. Bel masuk sudah berbunyi.” Jongin berdiri dan mulai meninggalkan meja.

“Ye oppa.” Yoora mengikuti Jongin.

“Ah kalian ke kelas saja, aku menyusul.” Jongin berteriak kepada temannya yang masih duduk di bangku kantin.

“Arra!” Lay, Luhan, Xiumin menyahut.

“Mm, apakah yeoja itu yeoja chingu Jongin?” Luhan mulai berbicara.

“Wae?” Lay menjawab sambil tetap melahap makanannya.

“Aniyo.” ucap Luhan.

“Ya dia memang yeoja chingu Jongin. Dia yang membuat Jongin rela meninggalkan pertandingan demi menemaninya menangis.” Xiumin akhirnya menjawab.

“Mwo? Bukannya Jongin sangat suka dengan sepak bola? Kenapa dia seperti itu?” Luhan penasaran.

“Yah namanya cinta mau bagaimana. Yeoja itu adalah yeoja yang pertama kali membuat Jongin jatuh cinta.” Lay ikut menjawab.

“Jinja? Pertama kali?” Luhan terkejut.

“Aish, kajja kita ke kelas mungkin Seo songsaenim sudah di kelas.” Xiumin berjalan meninggalkan bangku diikuti Luhan dan Lay.

^___^

Pukul 3 semua anggota tim sepak bola sudah berkumpul di lapangan untuk latihan rutin seperti biasa.

“Yaa! Ayo berkumpul!” Jongin berteriak di bawah pohon tepi lapangan memanggil yang lain. Semua berkumpul di bawah pohon.

“Kita akan membahas yang kemarin aku umumkan.” Jongin mulai berbicara. “Dua minggu lagi kita akan menghadapi pertandingan melawan SMU Seoul. Walaupun pertandingan terakhir melawan SMU Seoul kita menang, tapi kita tidak boleh berbangga dan mengurangi latihan. Kita harus tetap berlatih maksimal, jangan anggap enteng lawan. Mengerti?!”

“Mengerti!!” Jawab yang lain.

“Hari ini aku, Xiumin, dan Lay akan menyeleksi siapa dari kalian yang masuk tim inti dan cadangan. Tapi semua masih memiliki kesempatan untuk bermain. Kita bagi menjadi dua tim dan mulai bermain!” Jongin memberikan intruksi permainan dan mulai menilai masing-masing anak dengan dibantu Xiumin dan Lay.

Semua berlatih dengan bersungguh-sungguh tak terkecuali Luhan yang terlihat semangat. Jongin melihat pola permainan tim Luhan dan tersenyum. 1 jam berlalu, Jongin, Xiumin, dan Lay sudah berunding dan memiliki daftar anak yang masuk ke dalam tim.

“Kami sudah memiliki daftar pemain yang masuk ke dalam tim inti. Daftar ini akan disampaikan minggu depan beserta teknik permainan yang akan kita gunakan. Sekarang kalian boleh pulang dan selamat weekend.” Jongin mengakhiri latihan dengan senyum lebar. Tiba-tiba Luhan menghampirinya.

“Jongin-shi? Otte? Apakah aku lolos tim inti?” Luhan bertanya.

“Molla, hahaha.” Jongin tertawa.

“Ya Jongin-shi! Apa ada yang lucu?” Luhan cemberut.

“Ani, kajja kita pulang.” Jongin mengacak rambut Luhan dan pergi meninggalkan lapangan.

Luhan masih penasaran dengan daftar pemain yang masuk tim inti. Dia harus masuk, jika tidak mau gagal.

^___^

Luhan masih penasaran dengan hasil seleksi tim sepak bola. Dia ingin mencari tau diam-diam tapi dia takut rencananya gagal dan membuat Jongin membencinya. Biar bagaimanapun dia harus lolos tim sepak bola SMU Yonsei. Tapi setelah Luhan berpikir, tidak mungkin Luhan gagal. Karena teknik permainannya tidak kalah bagus dengan Jongin. Dia hanya bisa berharap dan menunggu hasil seleksi tim esok hari.

Bel istirahat berdering. Seperti biasa kantin penuh sesak diserbu para siswa. Pelajaran membuat mereka merasa lapar. Kecuali Jongin yang memilih berduaan dengan Yoora di taman sekolah.

“Yoora-shi, benar kau tidak lapar?” sudah berulang kali Jongin menanyakan hal yang sama.

“Ya Jongin-shi! Apa aku harus menjawabnya berulang kali, hah? Apa tidak ada pertanyaan lain? Sudah aku bilang berulang kali aku tidak lapar.” Yoora mendengus kesal.

“Mianhe Yoora-shi, tapi tumben sekali kau tidak makan siang dan mau menemaniku di sini.” Jongin beringsut mendekati Yoora.

“Karena aku rindu padamu. Ah, bagaimana pertandinganmu dengan SMU Seoul itu?” Yoora bertanya.

“Nado bogoshipo. Yah minggu depan aku akan bertanding dengan sekolah sombong itu.” Ucap Jongin.

“Oh, kau harus memenangkan pertandingan dengan SMU Seoul lagi Jongin-shi agar mereka tidak menganggap sekolah kita rendah.” Yoora tersenyum.

“Pasti aku akan memenangkan pertandingan itu. Berilah aku semangat di pinggir lapangan seperti biasa, okey?” Jongin balas tersenyum.

“Arraseo, aku akan di sana untukmu.” Yoora menatap Jongin lekat.

“Yakso?” tanya Jongin.

“Yakso!” seru Yoora.

Tanpa mereka sadari sepasang mata dari balik tembok sedang menatap mereka. Saat wajah Jongin beringsut mendekat ke wajah Yoora dan akan meraih bibirnya, sebuah bola kasti melayang tepat mengenai kepala Jongin. Jongin mengaduh dan menghadap ke arah datangnya bola.

“Ya!!! Siapa yang berani melemparkan bola ini padaku?! Dasar kurangajar!” Jongin berlari menuju balik tembok namun tidak ada siapa-siapa.

“Gwenchana Jongin-shi?” Yoora mengejar Jongin.

“Gwenchana chagi. Awas jika nanti aku mengetahui siapa yang melempar bola sialan ini padaku.” Jongin kesal.

“Sudah biarkan saja, mungkin dia tidak sengaja melemparnya.” Yoora mencoba menenangkan Jongin.

“Hah! Ayo kita ke kelas, sudah hampir bel masuk.” Jongin berjalan dengan kesal meninggalkan taman.

“Aish, paboya!” seru Yoora.

Jongin masih merasa kesal dan penasaran siapa yang berani melempar bola bodoh kepadanya. Dia marah. Karena bola itu kesempatan yang ditunggunya selama berbulan-bulan itu gagal. Dia akan mencari tau siapa pemilik bola itu.

Bel pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan meninggalkan sekolah mereka. Terlihat Yoora sedang berdiri di depan gerbang sekolah menunggu jemputan.

“Yoora-shi?” Luhan menghampiri Yoora.

“Luhan-shi. Kau mau pulang?” Yoora tersenyum.

“Ye, sedang apa kau di sini?” Luhan berdiri di sebelah Yoora.

“Menunggu jemputan tapi lama sekali.” Yoora terlihat sebal.

“Oh, kau tidak pulang bersama Jongin?” tanya Luhan.

“Aniyo, katanya dia mau membeli sepatu sepak bola dulu. Jadinya aku pulang duluan.” Ucap Yoora.

“Ah bagaimana kalau kau ikut dengan ku? Daripada terlalu lama menunggu di sini kau akan kelelahan.” Luhan menawarkan.

“Tapi apa tidak merepotkanmu? Lagi pula kau nanti sore akan latihan sepak bola bersama Jongin kan?” tanya Yoora.

“Ani, kajja ke mobilku.” Luhan menggandeng tangan Yoora.

“Gomawo Luhan-shi.” Yoora tersenyum sumringah.

Luhan mengantar Yoora pulang ke rumahnya. Setelah sampai di depan rumah Yoora, Luhan tidak membuka pintu mobilnya tapi langsung memandang Yoora lekat.

“Yoora-shi. Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya Luhan.

“Kau mau bertanya apa?” Yoora memandang Luhan.

“Sudah berapa lama kau berpacaran dengan Jongin?” ucap Luhan.

“kenapa kau bertanya seperti itu?” Yoora memandang Luhan bingung.

“Aniyo, aku hanya penasaran.” Luhan memalingkan wajahnya.

“Aku berpacaran dengannya sudah hampir lima bulan.” Yoora menjawab pertanyaan Luhan.

“Apa kau sangat mencintainya?” Luhan bertanya lagi.

“Aku mencintainya.” Jawab Yoora singkat.

“Jika ada namja lain yang mencintaimu apa kau mau berhenti mencintai Jongin dan kau mau mencintai namja lain itu?” Luhan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

TBC

Iklan

One thought on “Between Us (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s