Reflection (Chapter 7)

Reflection poster

Title                 : Reflection (Chapter 7)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol

Genre              : Family, Brothership , Fantasy, School life

Rating             : General

Length             : Chaptered

Disclaimer       : All cast belong to God, parents and SMEnt.

Summary         : “Inikah usahamu untuk menguras aset keluarga Jung, Im Yoona?”

.

.

.

Sebelumnya     : Chapter 1 , Chapter 2 , Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6

Mereka bangkit dengan saling berangkulan. Saling menguatkan satu sama lain atas kenyataan yang baru saja mereka terima. Chanyeol terus menepuk pundak Luhan yang terlihat sangat terpukul. Hingga membuatnya harus berjalan dengan langkah terseok seperti ini.

“Beritahu aku, Chanyeol. Beri tahu aku jika semua ini adalah mimpi.”

.

-xoxo-

.

Ketiga anak itu berjalan beriringan keluar dari rumah sakit. Memutuskan untuk mencari taksi karena tak mungkin ia menunggu bus pada jam-jam seperti ini.

“Sepertinya kami akan menunggu di seberang jalan. Kau kembali saja ke kamar appa-mu. Aku tak apa-apa bersama Sehun.” ucap Chanyeol.

Luhan mengerucutkan bibir “Kalian yakin tak mau ku tunggui?”

“Ck! kau pikir kami anak kecil?” Sehun menyahut.

“Baiklah, hati-hati.”

Chanyeol kemudian berjalan menyebrangi jalan raya. Meninggalkan Sehun yang masih berdiri mengamati punggung Luhan. Sadar dirinya telah tertinggal, Sehun buru-buru mengekor langkah Chanyeol yang telah mendahuluinya.

Baru beberapa langkah menyebrang, Sehun merasakan silau dari cahaya lampu dari samping kiri. Sehun menoleh, sebuah truk berkecepatan tinggi melaju ke arahnya. Seketika tubuhnya membeku. Apa yang harus dilakukan? Berlari? tak ada waktu. Dalam hitungan detik tubuhnya menggigil. Ia memejamkan mata namun suara klakson bergema menambah sensasi menegangkan pada dirinya. Refleks tangan Sehun terangkat.

Braaaakkkk!!!!

Sehun merasakan dorongan cukup keras pada tubuhnya. Ia terpental. Jatuh dengan debuman cukup keras yang membuatnya meringis kesakitan. Matanya berkunang-kunang. Sekuat tenaga ia mempertahankan kesadarannya untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mendudukn diri. Bersandar pada tembok di belakangnya untuk menopang beban tubuhnya. Lalu, ia mengedarkan pandangan. Ia bergidik melihat truk container terguling di tengah jalan. Dengan darah segar mengucur di bawahnya. Ia yakin seseorang di dalam sana tak selamat. Mengingat kondisi truk itu yang menggenaskan. Kemudian ia membalikan tangan kanannya. Mengamati dengan intens. Tangan ini. Tangan inilah penyebab gulingnya container tersebut.

Sehun merasakan energi dalam tubuhnya bekerja menghasilkan angin kencang yang menghalangi truk itu menabrak dirinya. Sangat kencang hingga tubuh Sehun sendiri ikut terpental dibuatnya. Diam-diam ia bersyukur atas kekuatan yang selama ini ia sembunyikan itu.

“Arrgghhhh…” Sehun mengerang ketika dirasakan pusing mendera kepalanya. Menyakitkan. Sekali lagi ia bertahan ketika dilihatnya Luhan dan Chanyeol berjalan berangkulan mengikuti jasad seseorang yang baru saja dibawa.

Kenapa dengan mereka? Apa yang mereka tangisi? Mungkinkah mereka pikir…?

“Lu…han..” Sekuat tenaga ia menyebut nama itu. Namun yang keluar hanya suara bisikan. Tak lebih. Sehun sudah tak kuat lagi. Sakit di kepalanya tak dapat ia tahan. Dengan gerakan pelan. Ia mengibaskan tangan kanannya. Lalu pingsan.

.

-xoxo-

.

“Tenang, Luhan. Jangan menangis.” Chanyeol masih merangkul pundak Luhan. Menenangkan anak itu yang terus saja menangis memanggil nama Sehun. Chanyeol tahu hati Luhan sangat lembut. Sudah pasti anak itu lebih tergoncang darinya.

Ia sendiri sedih. Mengetahui keadaan Sehun seperti itu sudah tentu membuatnya tak banyak berharap. Lalu, bagaimana ia nanti akan menjelaskan pada Oh ahjumma? Bagaimana cara mengatakan hal menyakitkan ini? Apalagi jika Sehun tak selamat. Apa yang harus ia lakukan?

Ditengah kecamuk pikirannya. Ia merasakan hembusan angin. Cukup kencang hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Luhan berhenti melangkah, yang membuatnya juga ikut berhenti. Ia memandang teman sekelasnya itu berhenti menangis. Menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari sesuatu.

“Luhan?” panggil Chanyeol pelan. Namun anak itu tak menghiraukan.

“Luhan kau kenapa?”

“…….”

“Jung Luhan?!”

Luhan tersentak mendengar seruan Chanyeol. Ia menoleh. “Aku rasa kita melewatkan sesuatu, Yeol.”

“Maksudmu? Luhan, apa kau baik-baik saja? Kurasa kau terlalu terpukul hingga memikirkan yang tidak-tidak.”

Luhan tak menghiraukan kecurigaan sahabatnya. Ia hanya merasa ada yang salah. Angin itu, sepertinya Luhan sangat familiar dengan angin itu. Memang sepertinya tak masuk akal. Tapi hatinya tak mungkin salah. Sehun…dimana Sehun???

“Sehuuun.” Luhan mulai berlari kesana kemari. Memanggil nama Sehun dengan kalap. Air matanya jatuh berderai. Namun ia tak punya waktu untuk sekedar menghapusnya. Ia harus menemukan Sehun. Ia harus menyelamatkan Sehun. Sehun membutuhkannya.

Luhan semakin terisak ketika tak kunjung menemukan yang dicari. Dibelakangnya, Chanyeol hanya bisa mengikuti dengan pandangan bingung. Ia tak mengerti. Luhan kenapa? Bukankah sudah jelas Sehun ada di dalam rumah sakit itu?

“Bantu aku mencari Sehun, Yeol. Jebal!” teriaknya pada Chanyeol.

“Tenang, Luhan. Sehun sudah dibawa kedalam!”

“Tidak! dia bukan Sehun. Aku yakin Sehun masih disini. Demi Tuhan aku bisa merasakannya. Sehuuuuun, kau dimana?” Luhan berteriak setengah frustasi. Matanya tak pernah diam. Menyisir tiap sudut tempat itu.

“Ayo masuk, kau pasti lelah. Kita harus melihat keadaan Sehun juga. Ayo.” Chanyeol berusaha membujuk Luhan. Namun serta merta ditepis oleh anak itu.

“Pergilah jika kau tak mempercayaiku. Pergi! Aku akan mencari Sehun sendiri!!”

Luhan berteriak-teriak kalap. Pikirannya hanya tertuju pada Sehun. Dan betapa kesalnya ia ketika Chanyeol tak percaya padanya. Bahkan mungkin menganggapnya gila.

“Luhan, apa yang terjadi? kau kenapa, nak?” seruan Yoona memecahkan ketegangan diantara mereka. Luhan menoleh, mendapati ibunya keluar dengan raut muka bingung.

“Eomma.”

“Kau kenapa? Dimana Sehun?”

.

-xoxo-

.

Yoona mengelus pelan puncak kepala Luhan. Menyalurkan ketenangan pada putra tunggalnya itu. Luhan yang tertidur di pangkuannya tak memberikan reaksi apapun. Terlalu lelah hingga hanya mampu memejamkan mata. Tanpa benar-benar terlelap.

Pikirannya terus berkecamuk tak menentu. Bayangan tentang ringseknya container itu masih melekat. Ditambah dengan jasad seseorang yang tergencet hingga nyaris hancur. Luhan terus meyakinkan diri bahwa itu bukan Sehun. Itu bukan anak yang memiliki visual mirip dirinya. Ia terus berdoa hingga hasil otopsi keluar.

Keheningan itu terus berlanjut. Bahkan hingga nyaris pagi. Chanyeol dengan lingkaran hitam di sekitar mata benar-benar tak dapat terlelap. Setia menunggu hasil otopsi dalam diam. Ia belum menghubungi Oh ahjumma ataupun Kris. Lebih tepatnya, ia tak berani menghubungi mereka dan mengatakan kebenarannya. Ia terlalu takut. Ia tak ingin mempercayai kenyataan yang baru saja dialami sahabat terbaiknya.

Chanyeol mendongak ketika dirasa seseorang membuka pintu. Lelaki berjas hitam dengan atribut formal yang lain. Ia tak mengenalinya. Tetapi jika di liha-lihat, orang itu mungkin salah satu staff perusahaan Jung ataupun pengawal keluarga. Entahlah, otaknya terlalu lelah untuk menebak-nebak hal sepele seperti itu.

Chanyeol tak bergeming walau orang itu menunduk padanya. Menyapanya karena memang posisi Chanyeol paling dekat dengan pintu. Ia mengikuti gerak-gerik orang itu dengan sudut matanya. Tanpa benar-benar peduli. Orang itu menghampiri Yoona. Sekali lagi menyapa hormat dengan menundukan kepala dalam-dalam. Lalu, Chanyeol melihat ia membisikan sesuatu. Memberi tahu suatu hal penting sepertinya. Dan lagi-lagi Chanyeol ingin sekali bersikap tak peduli jika saja ia tak melihat raut terkejut pada wajah Yoona yang sangat kentara.

“Apa kau yakin?” samar-samar ia mendengar suara Yoona yang lebih menyerupai bisikan.

Orang itu mengangguk. Menampilkan wajah seserius mungkin.

Yoona menggigit bibir. “Aku tidak tahu akan secepat ini. Bagaimana bisa eomma kembali dengan tiba-tiba? Suamiku belum sadar, sekretaris Lee. Apa yang harus aku katakan jika eomma tahu hal ini?” bisiknya lemah.

Orang yang dipanggil sekretaris Lee terlihat memikirkan sesuatu. Kemudian mendesah. “Maafkan aku, Nyonya. Nyonya besar tak mengatakan apapun tentang kepulangannya. Tahu-tahu beliau sudah berada di Korea. Kita tak mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan segalanya.”

“Lalu dimana eomma sekarang?”

“Beliau sudah berada di rumah. Beliau juga menanyakan keberadaan Tuan Muda Luhan.”

“Baiklah, aku segera pulang.”

.

-xoxo-

.

Luhan sempat merasa kebingungan ketika ia tak mendapati sosok Yoona saat terbangun. Ia mengucek mata, mengedarkan pandangan sambil sesekali menguap lebar. Matanya masih terasa berat tetapi sinar matahari terus mengusiknya hingga mau tak mau ia terbangun.

“Kau tak tidur, Yeol?” ucapnya untuk pertama kali. Ia memandang teman sekelasnya yang bermuka sendu.

“Mm.” Chanyeol mengangguk. Terlihat tak bertenaga dengan lingkaran hitam di sekitar mata. Sedetik kemudian ia teringat sesuatu.

“Bagaimana hasil otopsinya? Sehun. Itu bukan Sehun kan?” Luhan bertanya heboh sambil mendekati Chanyeol.

“Bagaimana aku bisa tahu? aku tak diijinkan melihat hasilnya. Setidaknya harus ada orang dewasa yang menemaniku.”

“Bukankah ada eomma?” Luhan berkerut bingung. “Dimana eomma-ku?”

“Eomoni pulang bersama sekretaris perusahaan Jung.”

“Mwo? tapi kenapa tiba-tiba sekali?”

“Aku tak tahu. Sepertinya mereka membicarakan seseorang. Mungkin, err..nenekmu?”

.

LUHAN POV

“Aku tak tahu. Sepertinya mereka membicarakan seseorang. Mungkin, err..nenekmu?”

DEG!!!

Ucapan Chanyeol sukses membuat mataku melebar.

Nenek? Apa nenek yang Chanyeol maksud adalah orang tua yang selalu memukuli eomma dulu? Orang tua yang tak pernah berhenti memarahi eomma ketika appa tak ada? Oh, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa orang itu kembali? Bahkan jika boleh jujur, aku telah lama melupakan orang itu. Menganggapnya sudah mati ketimbang mengakuinya sebagai nenekku. Tidak akan.

Jika kalian bertanya siapa orang yang paling ku benci di dunia ini, jika kalian ingin mengetahui siapa orang yang paling tak ingin ku temui di dunia ini, dialah orangnya. Wanita tua yang seharusnya ku panggil dengan sebutan ‘halmeoni’. Sungguh, bukan aku bermaksud durhaka mengatakan hal ini. Tetapi sikap orang tua itulah yang membuatku seperti ini.

Halmeoni adalah Nyonya besar keluarga Jung. Yah, dia pemilik semua aset Jung corp yang saat ini ku pegang. Ia memiliki segalanya. Kehidupannya mungkin sempurna sejak ia dilahirkan. Hal itulah yang membuat Halmeoni menggilai kesempurnaan. Hingga tak bisa mentolerir kesalahan sedikitpun.

Bagaimana Halmeoni bisa pergi dari kehidupan kami adalah suatu hal yang tak terduga bagiku. Sepeninggal Haraboji, Halmeoni mengalami tekanan mental hebat sehingga menjadikan jiwanya terganggu. Halmeoni ‘sakit’, dan terpaksa dirawat di luar negeri untuk keperluan pemulihan. Terus terang aku sangat bersyukur dengan keputusan Appa itu. Bukan berniat menyingkirkan nenekku sendiri, tetapi melihat Eomma dianiaya setiap hari lama-lama membuatku gila. Apalagi, Halmeoni selalu bersikap seolah tak terjadi apa-apa jika di depan Appa. Sungguh itu memuakkan.

“Lu?” seruan Chanyeol membuyarkan lamunan panjangku. Aku menoleh.

“Kau tak mau pulang juga? aku dengar nenekmu mencarimu.” sambungnya. Buru-buru ku gelengkan kepala sebagai tanda penolakan.

“Tidak. Aku akan tetap disini. Aku masih harus menemukan Sehun, Yeol.”

“Sehun sudah…”

“Jaga ucapanmu, Park Chanyeol!” tanpa pikir panjang aku membentaknya. Tak ingin mendengar lanjutan kalimat itu. Chanyeol tersentak, terlihat jelas ia kaget dengan suara tinggiku. Oh, maafkan aku. Aku sendiri tak tahu kenapa bisa berubah sekasar ini.

“Jangan bicara seperti itu lagi. Kita belum tahu apakah itu Sehun atau bukan.” ucapku lagi, memperbaiki kalimat sebelumnya.

Chanyeol mengangguk. Menggosok wajah dengan kedua tangannya. Anak itu terlihat sangat frustasi. Sama sepertiku. Bahkan mungkin ia merasakan kekalutan yang lebih mengingat Sehun adalah sahabat baiknya.

Aku baru saja menepuk pundak Chanyeol ketika pintu ruangan terbuka. Sudah pukul delapan. Mungkin suster penjaga akan memeriksa keadaan Appa.

“Luhan.” itu suara eomma. Ah, aku salah.

“Eomma sudah kembali?” sambutku senang. “Tapi dimana or—“ ucapanku terhenti ketika seseorang yang lain masuk. Seorang wanita tua dengan tampilan glamour yang menjadi ciri khasnya. Rambut putihnya tertutup cat berwarna hitam. Serta kacamata yang bertengger di wajahnya. Yah, kalian pasti tahu siapa dia.

“Beri salam pada Halmeoni, sayang.” Eomma berkata lagi ketika aku tak merespon apapun atas kedatangannya. Aku menunduk. Menunjukan sikap hormatku pada wanita tua itu.

Orang itu sama sekali tak menatapku. Ia menatap ke arah lain dimana Appa terbaring tak berdaya. Perlahan, kakinya melangkah menghampiri tubuh koma Appa.

“Inikah usahamu untuk menguras aset keluarga Jung, Im Yoona?”

Sarkatisme orang itu tak berubah. Masih sama seperti dulu. Dan demi Tuhan, aku sama sekali tidak heran akan pemikiran buruknya terhadap Eomma. Aku sudah bisa menebak.

“Kami melakukan yang terbaik untuk pengobataannya. Aku mencintainya eomma. Aku tak memiliki niat sedikitpun untuk menyingkirkannya.” Eomma membalas tenang.

“Pembual. Kau pikir aku percaya? Dan jelaskan padaku, bagaimana bisa Luhan masuk perusahaan? Kau bodoh atau apa? Luhan masih terlalu muda. Belum saatnya dia terjun dalam dunia bisnis!”

“Aku mampu, Halmeoni.” potongku cepat. Yah, sebelum orang itu ‘menikmati’ acara memojokkan Eomma.

Halmeoni menoleh. “Jangan membantah, Lu. Halmeoni tidak bermaksud melarangmu memasuki perusahaan. Kau satu-satunya pewaris keluarga Jung. Kau berhak memiliki seluruh aset. Tapi bukan sekarang. Bukan ini waktunya.”

“Lantas apa yang harus kami lakukan? katakan, Halmeoni! Bukankah Halmeoni sendiri yang bilang aku satu-satunya pewaris keluarga Jung? Itu berarti memang aku yang harus bertanggung jawab atas masalah ini.” balasku kesal.

“Apa yang ibumu ajarkan padamu, Jung Luhan? Kau berani membentakku? Dimana sopan santunmu?!”

“Eomma, jangan salahkan Luhan. Maafkan aku Eomma.” Halmeoni menepis ketika Eomma meraih tangannya. Darahku mendidih.

“Eomma!” seruku menginterupsi. “Eomma tidak salah! Eomma tidak perlu meminta maaf seperti itu!”

“Lantas maksudmu Halmeoni yang salah, Luhan? begitu?”

“Bukan begitu, Halmeoni. Bisakah kita tidak berdebat disini? Kasihan Appa. dan—“

Plaaaakk!!!

Aku merasakan pipi kananku memanas. Tak sempat menghindar dari tamparan Halmeoni. Sungguh, ini pertama kalinya Halmeoni bersikap seperti itu padaku. Dan ini membuatku marah dan ingin menangis dalam waktu bersamaan.

“Luhan.” Eomma memelukku setelah tamparan itu. Aku tak sanggup merespon. Bahkan untuk berfikir saja terasa sangat sulit. Aku membiarkan air mata mengalir dari pelupukku. Membentuk sungai pada pipiku yang terasa perih. Halmeoni masih terpaku. Kami bertatapan dalam jeda waktu yang cukup lama.

“Aku membencimu, Halmeoni. Aku benar-benar membencimu!!!”

.

-xoxo-

.

Aku berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit. Mencoba menenangkan perasaanku yang kian berkecamuk. Halmeoni menamparku. Hah, ini adalah suatu legenda. Jika saja Appa tahu, jika saja orang-orang luar tahu, pasti berita ini akan cepat tersebar dan membuat orang tua itu malu sendiri. Sayangnya, tak ada yang melihat, kecuali Eomma dan…Chanyeol.

Yah, aku hampir saja melupakan temanku itu jika saja Chanyeol tak mengikutiku selepas keluar kamar inap Appa. Chanyeol hanya bungkam, mungkin tak enak hati untuk bertanya padaku. Dan aku sendiri sama sekali tak berniat untuk bercerita. Cukup orang tua itu saja yang membuatku pusing. Aku tak mau menambah masalah baru.

Langkahku terhenti ketika samar-samar kulihat seseorang berjalan dari arah berlawanan. Ah, itu Yixing. Rasanya lama sekali tak bertemu anak itu.

“Hei, Zhang Yixing!!” Chanyeol adalah orang pertama yang menyambutnya. Sepertinya ia merasa lega mempunyai objek untuk memecah keheningan panjang ini.

“Chanyeol? Sedang apa kau disini?” Yixing menjawab heran.

“Aku…mengunjungi Luhan.”

Kulihat raut menyelidik di wajah dinginnya. “Kau baik-baik saja? Kudengar nenekmu pulang.” pertanyaan itu tentu ditujukkan padaku. Aku hanya mengangguk pelan. “Pipimu merah.” sambungnya lagi.

“Gwenchana. Jangan pedulikan pipiku. Ngomong-ngomong ada apa? Kau datang sendirian?”

“Tidak, aku bersama Appa. Kau tahu, Luhan? Baru saja aku menemukan Sehun tak sadarkan diri di seberang jalan. Dia sedang dibawa ke ruang perawatan.”

Sontak mataku melebar.

“SEHUN??” pekikku dan Chanyeol bersamaan.

.

.

.

-TBC-

41 thoughts on “Reflection (Chapter 7)

  1. junia angel.58 berkata:

    akhirnya Memeng bkan sehun yg ketabrak syukurlah kmu slamat hun🙂
    neneknya HunHan jhat bnget ea ska nganiyaya ibunya Luhan -_- mna brusan pke acra nampar sgla ckckck
    lnjut thor di tunggu next chapnya

  2. osehn berkata:

    wah wah kenapa tbc. Kurang panjang kayanya hihihihi. Lanjut kaka author,, ceritanya makin seruuuu. Bikin kpengen baca ulang trus hihi

  3. Risha berkata:

    Aaaaaa.. mengapa tiba-tiba tbc -___- akhirnya ini ff dilanjutkannnn. Makin seru dah, aku suka aku sukaa/? next chapter ditunggu ya thor ‘-‘)b

  4. Thehun berkata:

    Huft, akhirnya ada kejelasan tentang nasib sehun😀 qraint sehun bakal d temuin org lain, hilang ingatan dan bla bla…
    .
    .
    Next thor, ini ff lama bgt updatenya

  5. vitriie berkata:

    Next tHor …
    Nenekny hunhan aja yg kecelakaan ikhlas kok.. hihihi
    pengen bngt blz tamparannya nenek tuu..

    Syukur dech bkn sehun yg kecelakaan..dan trus yg d tangani ama dokter tuu berarti sopir truk tuu donk.. tambah penasaran aja niie …

    D tunggu next chapternya??
    Ea thor moo tny kelanjutan ff autumn 17 ama the house tree 2 – tigabelas kapan tuu udh hmpir 3 bln blm ad.. uft

  6. Puti Hilma berkata:

    Huaa seru!!! Akhirnya dilanjutin jga…
    Halmoni luhan kejam bgt! Jengkel bgt ngeliatnya -_-
    TBC nya kok kerasa cepet bgt ya? Saking seru nya baca
    Ditunggu next chapternya ya thorr.. Keep writing!

  7. Clarissa Tiara berkata:

    OMG Eooonnnn Ajie gile busett eoonn nih ff top dahhh
    Halmonie sadar dirilah kau sudah tua #waks jangan kau kejam2 kek gitu nanti nambah tua loh
    Eoonn panjanginnn lagiiii dongg
    Keep writing y eon :*

  8. Chanchan_Hwang berkata:

    yehet sehun hidup
    kekuatannya hebat haha
    jujur kesel sama nenek tua itu -_-
    kan kasihan eomma luhan sama luhan, apa sih maunya dia?!
    ffnya daebak
    author, aku tunggu lanjutannya~~~
    apalagi nanti waktu semua tau kalau sehun berasal dari keluarga jung.

  9. alissaaptr berkata:

    wah thorr buruan gua kepo kelanjutannya! TwT tadinya sih gua gakmau baca ini ff krn udh ampe chapter 7. Tp ternyata seru>< halmeoninya luhan kapan mati , thor? Cepetan dibikin mati,nyusul harabeojinya kkkk #plak cepetan next chapternya ditunggu yo!

  10. Iys berkata:

    TBC ??
    Syukurlah bukan sehun yg tertindih truk:), iiihhh.. neneknya luhan nyebelin banget sih😦 .oh ya maaf ya qu gak koman di chap sebelum2nya dan baru komen di chap ini. ditunggu yah kelanjutannya

  11. ajeng sarwendah berkata:

    Eonni, kapan ff ini di lanjut ?
    Udah nunggu lama kelanjutannya —
    Udah penasaran banget nih 😔
    Pokoknya aku tunggu terus kelanjutan ff nya 😉

  12. silz berkata:

    Kapan nih ff di lanjutkann.. huaaa sdh nunggu lama tp ga muncul” yg chap 8 😢
    penasaran banget .-. Hah..😧😧
    padahal bangus banget .-. 😊
    lanjut thorr.. hehehe

    • Lh7Puppy berkata:

      Kakk… knp g update” ? .-. Sdh lama nunggunya
      Sayang kak klo g d lanjuti ffnya bagus banget looo … plisss lanjuti donkkk 😭 sdh 1 thn loh kak.. ffnya nggantung lg 😢😢 penasaran >.<

  13. Shofalina Han berkata:

    annyeong author..
    pembaca baru di efef ini..
    kapan efef ini dilanjut??
    ga sabar nunggu kelanjutannya..
    bahkan penasaran banget sama kelanjutannya..
    author yang baik hati dan tidak sombong, lanjut yah ceritanya?
    aku suka sama efef ini..
    dan banyak juga yang nunggu kelanjutan efef ini..
    jadi jangan lama dilanjutnya..
    ga maksa sih.. soalnya cuma pembaca gratis..
    hehehe

  14. ajengaryaa berkata:

    Author ko ff ini ngga dilanjut lagi?
    Ceritanya bagus banget ko,sayang kalo ngga di lanjut…
    Pokoknya aku tunggu kelanjutan ff ini…
    Bahkan udah hampir 1 tahun ff ini blm ada lanjutan 😢

    Pokoknya ditunggu kelanjutannya…

  15. Lh7Puppy berkata:

    Kakk… knp g update” ? .-. Sdh lama nunggunya
    Sayang kak klo g d lanjuti ffnya bagus banget looo … plisss lanjuti donkkk 😭 sdh 1 thn loh kak.. ffnya nggantung lg 😢😢 penasaran >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s