Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 10

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 10

Author : BaoziNam

Main Cast :

-Cindy Chou (OC)

-Tao as Zitao

-D.O as Kyungsoo

-Luhan as Luhan

-Kris as Kris

-Park Chanyeol as Chanyeol

Additional Cast :

-Luna f(x)

-Jessica SNSD

-Sandara 2NE1

-Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic saya. No plagiat! Thanks ^^

****

Hari-hari Cindy masih terasa hambar dan menyakitkan. Tatapan membunuh dan jijik dari para siswi membuatnya terlihat menyedihkan. Berita itu sudah selesai. Kesalah pahaman itu sudah tidak ada. Juga sudah dikatakan kalau Cindy tidak ada niat untuk menggoda setiap laki-laki di kampusnya, seperti apa yang ditulis di media online saat itu. Dia bisa sedikit bernapas karena hanya mahasiswi saja yang memusuhinya. Sedangkan mahasiswa hanya berusaha tidak peduli atau menghindar bila perlu. Begitulah hari-hari Cindy yang semakin menyedihkan.

Gadis itu lebih sering menyendiri di perpustakaan yang sepi atau di taman belakang sekolah yang sejuk. Kebanyakan ia berdiam diri disana sambil menyegarkan pikirannya. Dia muali suka datang lebih pagi dan juga keluar lebih lama. Biasanya dia pulang jam tiga atau empat sore. Namun sekarang ia baru keluar dari kampus jam enam sore. Kebiasaanya menunggui kampus sepi menjadi kesenangan tersendiri baginya. Entah kenapa dia suka aja. Tidak ada alasan. Mungkin dia menghindar.

Seperti dikatakan diatas tadi, Cindy baru saja keluar jam enam lewat empat menit. Seharusnya dia keluar jam empat tadi. Gadis itu terlalu malas untuk pulang.

“Hei, aku menunggumu.” Ucapan seseorang yang begitu dingin mengembalikan Cindy ke dunianya yang ‘menyenangkan’. Kepalanya terangkat lalu menunduk sedikit, mendapati seseorang duduk di kemudi mobil. Kris Wu?

“Masuklah,” ucapnya lagi masih dengan suaranya yang dingin.

“Kau yakin?” tanya Cindy asal.

“Hah? Masuk sajalah. Aku tidak mau ada paparazzi lagi yang memotretmu sedang berbicara dengan mobil asing.” Ucapan Kris yang terdengar Kris membuat hati Cindy sedikit tergelitik yang mau tak mau harus menyunggingkan senyum senang kepadanya. Pria itu secara tidak langsung mengungkapkan perhatiannya pada Cindy, namun dengan caranya yang aneh itu.

Beberapa menit tersenyum dalam kesenangannya, Cindy akhirnya membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Kris. Pria itu menekan tombol pengunci otomatis lalu menyuruh Cindy menaikan kaca jendela sampai tertutup benar.

“Kau tidak melakukan apa-apa kepadaku, kan? Aku curiga.” Kris menoleh padanya dengan alis yang saling bertaut, lalu menyentil dahi Cindy sekuat tenaga.

“Jangan konyol. Aku tidak tertarik padamu.” Kris menjawab dengan suara yang datar.

Cindy terus memegangi dahinya sambil sesekali mengusap-ngusap kasar untuk menghilangkan nyerinya. Entah kenapa saat Kris mengatakan kata terakhir itu, ada sedikit rasa sakit di hatinya. Sedikit sih, tapi itu membuatnya heran. Ada apa ini?

Mobil melaju normal di jalanan Seoul. Sudah setengah jam Kris membawa Cindy tapi tidak tampak pria itu akan menghentikan mobilnya. Senja sudah lewat, berganti dengan cahaya bulan yang sangat terang.

Suasana ini mengingatkan Cindy saat dia bersama ibu dan ayahnya di Cina. Saat hari pertama bulan pertama pasti dihabiskan untuk berkemah di atas gunung lalu melakukan apapun disana. Bernyanyi, membakar daging, membuat cemilan, bercerita hantu, dan lain sebagainya. Cindy sangat senang saat itu. Namun dia tidak bisa menikmatinya lagi. Dia jauh dari ayah dan ibunya.

Ayah… ibu…

Kris melirik Cindy melalui ujung matanya, setelah Cindy bergumam dalam hatinya. Dia merasa harus mencari topik bagus sekarang.

“Bulannya bagus ya.” Kris berucap pelan, membuat Cindy sedikit tersentak. Dia kembali memposisikan dirinya dengan menyandar di kursi mobil dan menghembus napas pelan.

“Tentu saja,” jawab Cindy yang semakin pelan saat diakhir kata.

“Kau ingin berkemah?” Pertanyaan Kris yang tiba-tiba membuat Cindy langsung menoleh padanya dan menatapnya tidak percaya. Kris juga ikut menoleh namun hanya sekilas.

“Kau ingin berkemah atau tidak?” ulang Kris saat dirasa gadis itu tidak menjawab sama sekali.

“Kenapa tiba-tiba?” tanya Cindy ragu-ragu.

“Aku.. hanya berpikir kalau bulan purnama bagusnya berkemah walaupun hanya satu malam.” Kris mengangkat bahunya.

“Call!” pekik Cindy tiba-tiba, senang. gadis itu tersenyum lebar kepada Kris yang menatapnya sebentar dengan bingung namun setelah itu membalas senyumannya juga sebelum akhirnya ia berbelok ke arah jalan menuju gunung.

Terbesit satu kata di dalam hati Kris yang membuatnya merutuk karena saat mengatakan itu dia selalu mengingat senyum Cindy tadi.

Cantik.

****

Angin dingin sangat menusuk malam ini. walaupun api unggun sudah dinyalakan, tetap saja Cindy merasa kedinginan. Kedua tangannya menggenggam erat ujung selimut yang sudah membalut tubuhnya. Pria di depannya, Kris, sedang serius membuatkan dua gelas susu coklat untuk dirinya dan Cindy.

Pria itu memberikan gelasnya kepada Cindy. Tapi, sepertinya gadis itu tidak bisa mengambilnya. Tangannya enggan untuk keluar dari persembunyian.

“Kenapa?” tanya Kris bingung.

“Aku tidak bisa mengeluarkan tanganku. Dia sudah hangat didalam,” jawab Cindy polos. Kris memutar kedua bola matanya, merasa jawaban Cindy ngaco.

Kris berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Cindy. Awalnya Cindy tidak tahu dan kaget saat Kris berjongkok di hadapannya. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Kris. Sepersekian detik, Cindy bisa merasakan kalau jantungnya berhenti berdetak dan wajahnya memerah.

Kris menaruh sedotan di dalam gelas coklat panas Cindy. Sedotan itu ia dekatkan ke bibir Cindy, seperti menyuruhnya untuk meminumnya melalui pipa plastik kecil itu. Perlahan bibirnya menyedot isinya. Tenggorokannya hangat sekarang. Bersamaan dengan pipinya yang memanas. Sekarang suhu tubuhnya menjadi hangat. Merasa cukup, Cindy melepaskan bibirnya dari ujung sedotan.

Kris menaruh gelas itu di atas meja lipat berukuran kecil. Posisinya tetap tidak berubah. tetap berjongkok di depan Cindy. Mata tajam Kris menatapnya dalam tanpa ekspresi. Cindy juga menatapnya, namun kebingungan terpampang jelas di matanya.

Dingin.

Beberapa menit berlalu dan mereka masih dalam posisi itu. helaan napas pelan Kris akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Itu tepat saat Cindy mengatakan sesuatu di dalam hatinya. Waktunya terlalu tepat, kan?

“Kau ingin selimut lagi? Tampaknya kau kedinginan.” Kris berdiri dengan mata yang masih menatapnya, tanpa ekspresi. Cindy mengangguk pelan. “Bagaimana kalau kau masuk ke dalam tenda saja?” saran Kris.

“Tidak. aku masih mau melihat bulan,” tolak Cindy halus.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengambilkan selimut lagi.”

Kris masuk ke dalam tenda dan mengambil selimut lainnya dari dalam. Pria itu melingkarkan selimut itu ke leher Cindy. Ia juga memakaikan topi rajut ke kepala Cindy. Gadis itu sangat terkejut saat mendapat perlakuan macam itu dari Kris. Dia tidak terbiasa dengan ini.

Dulu dia menganggap Kris adalah musuhnya karena pertemuan itu. Dia berusaha untuk menjauhinya. Namun, keadaan tidak berpihak padanya. Rumahnya bersebelahan dengan Kris. Pria itu juga mau memberinya tumpangan sementara. Dan sekarang dia tiba-tiba mengajak Cindy berkemah. Sampai ke perlakuan Kris yang kelewat romantis malam ini.

Chanyeol juga pernah melakukan itu padanya. Dia menganggap itu biasa karena Chanyeol adalah tunangannya. Tapi ini. Kris bukan siapa-siapanya. Cindy tidak bisa menganggap ini biasa.

Setelah Kris selesai melakukan ‘tugasnya’, dia langsung duduk di kursinya, menyesap coklat panasnya yang hampir dingin. Cindy menatap pria itu sambil bertanya dalam hati.

Ada apa dengannya hari ini? Berbeda sekali. Tidak mungkin dia menyukaiku. Dia bahkan pernah bilang kalau aku bukan tipe kesukaannya. Ah! Berpikir apa aku ini?! Ingat, Cindy. Kau masih terikat dengan Chanyeol.

Cindy merutuki dirinya sendiri. Kris melirik ke arahnya. Pria itu mendengar semua ucapan hati Cindy tadi. Sangat jelas. Kris malah berpikir dengan kata-kata terakhir Cindy. Tidak bolehkah dia menyukai Cindy walaupun dia masih terikat dengan pria lain? Seketika Kris merasa sedih.

“Pria yang sering bersamamu itu siapa?” tanya Kris tiba-tiba.

“Oe! Maksudmu Chanyeol?” tanya Cindy balik.

“Aku tidak tahu namanya. Pokoknya dia tinggi, sering memakai topi dan pernah datang ke kampusmu.” Kris sebenarnya tahu siapa orangnya dan namanya. Tapi, dia tidak tahu alasan apa yang harus diberikan kepada Cindy nantinya bila gadis itu curiga. Itu gawat!

“Namanya Park Chanyeol. Pria bodoh yang suka mengikutiku kemanapun.” Cindy mengerucutkan bibirnya, kesal.

Imut, pikir Kris.

“Tampaknya kau sudah lama mengenal pria itu.” Kris berpura-pura antusias dan itu malah memancing Cindy untuk bercerita lebih panjang dan lebih bersemangat.

“Tidak terlalu lama, sih. Hanya dua tahun saja.”

“Menurutmu dia seperti apa?” tanya Kris sambil menopang dagunya.

“Seperti yang aku bilang tadi. Bodoh dan penguntil. Dia juga suka kegirangan kalau aku menyebutnya tampan atau semacamnya. Dia juga ceroboh. Tidak pandai melakukan apapun. Sangat menyusahkan dan manja.” Sambil berbicara Cindy menghitung satu persatu jarinya dan menyebutkan karakteristik Chanyeol pada Kris.

“Kau pernah tinggal dengannya?” tanya Kris sambil memandang Cindy penasaran.

“Kau tahu darimana?” Cindy terkejut.

“Dari ceritamu. Tampaknya kau sudah pernah tinggal dengannya,” jawab Kris enteng.

“Eum.. Jujur aja, aku pernah tinggal dengannya selama setahun sebelum dia pergi ke Prancis.” Terlihat Cindy sangat ragu untuk membicarakannya. Rahasia terbesar yang tidak boleh ia bocorkan pada siapapun.

“Selama itu kau tinggal dengannya, pernah kau tidur dengannya?” tanya Kris dengan nada menggoda.

“YA! AKU TIDAK SEPERTI ITU!” pekik Cindy kesal.

“Hei, aku kan hanya bertanya, Nona.” Kris berkata dengan nada usilnya. Rasanya senang sekali menjahili Cindy. Mudah ditebak. “Memangnya kau punya hubungan apa dengannya?” tanya Kris berlanjut.

Cindy tidak menjawab. Matanya mengarah ke arah rumput di bawah kursinya. Entah dia tidak tahu kenapa harus menatap rumput itu. Hanya saja, itu caranya untuk menghindari tatapan Kris yang terlihat seperti menginterogasinya.

“Pacarnya?” Cindy menggeleng cepat.

“Kakaknya?” Cindy melotot tajam kepadanya.

“Adiknya?” Sekali lagi, gadis itu melotot kepadanya.

“Istrinya?” Cindy menghela napas berat. Konyol, menurutnya.

“Atau tunangannya?” Kris sengaja memberi jeda di antara kedua kata itu, dengan suara seperti menggoda gadis itu. Cindy sama sekali tidak menjawab. Tapi, tampaknya Kris tidak butuh jawaban. Dari dalam hatinya, Cindy sudah mengatakan yang sebenarnya.

“Benar. Kau tunangannya.” Kris cepat-cepat mengambil keputusan dan mengatakannya dengan nada senang.

“Bu—bukan! Itu tidak benar,” ucap Cindy semakin pelan di akhir katanya.

Kris memajukan sedikit kepalanya, menatapi Cindy dengan menyipitkan matanya. Akting. Agar terlihat seperti orang yang benar-benar pensaran.

“Benarkah?” tanya Kris masih dengan nada seperti menggoda.

“Bisa kita berhenti untuk membicarakan ini?” protes Cindy.

“Bisa kita memulai untuk membuka semua rahasia?” usul Kris sambil menaikan kedua alisnya. Cindy terdiam. Dia tampak berpikir sebentar.

“Maksudmu, kalau aku buka rahasiaku, kau juga akan membuka rahasiamu?”

“Tentu saja. Adil, kan?”

Cindy terdiam lagi. Dia harus berpikir kali ini. Memperkirakan keuntungan dan kerugiannya.

Apa aku bisa mempercayainya?

“Aku akan mengatakan rahasiku lebih dulu. Jadi, kau bisa mempercayaiku,” ucap Kris lagi. Cindy tertegun. Pria ini seperti habis membaca pikirannya. Hatinya dengan perkataan Kris berkesinambungan. Aneh…

“Oke, kau bisa mengatakannya duluan.” Cindy melepaskan selimut di lehernya. Dia menopang dagunya dan meletakan tangannya di lengan kursi lipat. Merasa gadis itu sudah siap, Kris menghela napasnya dan bersiap untuk berbicara.

“Aku punya sesuatu yang ‘wah’!” ucap Kris sambil merentangkan tangannya dan berkata dengan nada yang sangat antusias. Gadis di depannya tidak merespon dan hanya menatapnya bingung. Melihat hal ini, Kris memilih membuka semuanya sekali lagi.

“Aku bisa membaca pikiran.”

Cindy tertegun. Gadis itu seakan membeku di tempatnya. Tidak ada respon apapun. Satu kalimat yang menggemparkan. Berlebihan sih. Tapi, memang benar adanya.

Jadi, daritadi dia..

“Iya. Aku membaca pikiranmu,” ucap Kris tiba-tiba, membuat Cindy terkejut.

“Kau—kau sedang tidak bercanda, kan?” Cindy mengangkat sebelah alisnya.

“Yeah.. Kau bisa membuktikannya lagi.” Kris salah tingkah.

“Oke. Coba dengar.” Cindy menegakan badannya dan menatap Kris tajam.

Aku ingin sekali menenggelamkanmu ke danau itu bila kau mengatakan ucapanku ini.

Kris menelan ludahnya, cemas.

“Jadi apa yang aku katakan?”

Kris mencoba menghindar dari tatapan Cindy yang sedikit menantangnya. Secara tidak langsung, dia sudah menyuruh Kris untuk berbohong dan menganggap ini lelucon. Dia berkata, “aku tidak dengar.”

“Jangan bohong! Kupingmu merah, tau!” Kris langsung memegang kupingnya. “Kupingmu akan memerah kalau kau berbohong, Kris.”

“Kau—kau tau darimana?”

“Haha, sangat mudah mencari informasi dari wartawan gelap.” Cindy tertawa bangga akan keahliannya dalam membuntuti orang. “Cepat katakan!” tuntutnya.

“Shireo! Aku tidak mau dilempar ke danau!” pekik Kris manja.

“Kau mendengarnya,” gumam Cindy lirih.

“Aku mendengarnya, Nona.” Kris berpura-pura menatap langit sambil menghindari pandangannya dari Cindy yang semakin tajam padanya. “Sekarang katakan apa rahasiamu? Aku janji akan menyimpannya.”

“Ah! sudah malam. Aku ingin tidur. Matikan apinya lalu tidur. Aku masuk duluan.” Cindy mengangkat selimutnya lalu berbalik menuju tendanya secepat kilat, sebelum Kris dapat menangkap tangannya. Terlihat kalau Cindy tidak mau membicarakannya.

Setelah mematikan api dan menarik resleting tenda, Kris mematikan lampu senternya. Mereka berdua memang tidur dalam satu tenda. Namun, Kris sengaja memberi penghalang di tengah-tengah sebagai batas dengan ransel-ransel dan selimut. Kris bisa melihat punggung Cindy dari tempatnya, juga bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

Cindy belum tidur. Dia sedang berpikir. Tentang ibunya, ayahnya, rumahnya, China, kariernya, juga masalah hutangnya dengan keluarga Chanyeol. Keluarga itu baik, sangat baik malah, sampai-sampai membiarkan Cindy memilih waktunya untuk melunasi hutang itu.

Kenapa Chanyeol bisa bertunangan dengan Cindy?

Karena, orang tuanya tau kalau anaknya menyukai Cindy sejak mereka masih bocah. Awalnya, Cindy marah dan sedih karena dirinya yang menjadi jaminan hutang. Bila, Cindy mau bertunangan sampai menikah dengan anaknya hutang lunas. Chanyeol juga menentang akan hal ini. terlintas kembali bagaimana Chanyeol marah kepada orang tuanya dan pria itu juga meminta maaf dengan sepenuh hati dan merasa sangat bersalah.

Air matanya menetes tanpa diperintah. Masa-masanya yang pilu membuatnya ingin menangis kembali seperti saat dia mendengar berita itu. Di seberang sana, Kris juga dapat merasakan kesedihan Cindy walaupun gadis itu sama sekali tidak memberitahunya.

Pria itu memutarkan badannya sampai menghadap ke penghalang.

“Kau sudah tidur?” tanyanya lirih.

Cindy langsung mengusap air matanya pelan, dan tidak menjawab sama sekali agar Kris mengira dia sudah tidur.

“Aku tidak bisa tidur,” ucap Kris. Cindy lalu menutup kedua matanya dan berharap segera tidur. Tapi, suara Kris tidak mendukung kegiatan favoritnya itu.

“Saat itu, ada kebakaran di daerah tempatku tinggal. Rumah itu hanya berjarak lima rumah dari rumahku. Paginya aku merasakan sesuatu yang aneh. Bibirku bergerak sendiri untuk mengatakan dengan panik kalau rumah itu akan terbakar…”

Cindy pun membuka matanya.

“…Keluargaku sama sekali tidak percaya padaku dan adikku mengatakan aku gila dan tertawa. Satu jam kemudian rumah itu memang terbakar. Aku terkejut, begitu juga keluargaku yang mulai percaya padaku namun ungkapan ‘gila’ sering mereka katakan padaku. Hal itu sering dimanfaatkan ayahku untuk judi. Saat yang ketiga kalinya, aku gagal memberi tahu nomornya pada ayahku dan beliau marah besar. Dia memukulku dan hampir menghancurkan tanganku. Ibuku tidak membantuku karena ayahku pasti juga akan memukulnya kalau beliau membantuku.”

“Lalu?” Suara Cindy yang tiba-tiba membuat Kris terdiam. Dan entah kenapa.. ada detak jantung disaat mendengar suara itu. “Lalu apa?” ulang Cindy lagi.

“Saat aku berhasil memukul hidungnya, aku segera berlari dari rumah sambil memegang tanganku yang mati rasa. Ayahku tidak mengejarku. Setelah kejadian itu, aku tidak berani kembali kerumah. Aku berjalan sampai ke ibukota selama tiga hari. Aku tidak peduli dengan kakiku yang berdarah juga wajahku yang lebam.”

“Apa tidak ada yang mengasihinimu?” tanya Cindy prihatin.

“Ada. Tapi, aku menolaknya sampai aku menemukan seorang janda tua di ibukota. Beliau memberiku makan dan merawatku sampai aku sembuh. Dia sama lembutnya seperti ibuku. Serindu apapun aku dengan ibuku, aku tetap tidak ada niat untuk menemuinya.”

“Kenapa begitu, Kris?” Cindy memutar tubuhnya, menghadap penghalang.

“Tidak tahu. Mungkin aku sakit hati padanya.” Kris mengangkat bahunya.

“Karena ibumu tidak bisa meredam kemarahan ayahmu?” tebak Cindy.

“Mungkin.”

Cindy terdiam. Speechless. Di satu sisi Cindy setuju dengan pemikiran Kris. Tapi di sisi lain Cindy menolak tindakannya. Seburuk apapun orang tua dia tidak boleh menjauhinya apalagi membencinya. Mungkin, jauh di lubuk hati ibu Kris beliau pasti ingin membantu Kris melarikan diri atau meredam kemarahan suaminya yang menjadi pada saat itu. Tapi, Cindy tidak tau yang sebenarnya terjadi pada keluarganya jadi Cindy memilih diam dan untuk sementara menyetujui pemikiran Kris itu. Dia hanya butuh waktu, pikir Cindy.

Pagi menjelang. Subuh jam enam mereka sudah mengemasi barang-barang mereka dan memasukannya ke mobil. Selama di perjalanan, Cindy terus memperhatikan Kris yang menyetir dalam diam. Mungkin menurut Kris ini adalah cara mendekatkan diri setelah menceritakan semuanya tadi malam. Tapi, entahlah rasanya menjadi begitu hambar sekarang.

Kau hanya butuh waktu untuk menerima ini semua, Kris. Aku berharap kau bisa menemui keluargamu yang mungkin sekarang ini sedang merindukanmu.

Cindy berharap ucapannya ini didengar jelas oleh Kris disampingnya.

****

To Be Continued….

Terima kasih udah mau baca dan meluangkan waktu untuk berkomentar. Aku nggak tau kalian bosan atau nggak soalnya aku selalu membuat fanfic chapter panjang-panjang banget. di MS sampai 10 halaman. Aku hanya menulis sampai pada akhir ceritanya aja.

Aku belum bisa nentuin kapan selesai ini fanfic. Aku lagi berharap ini fanfic sampai chapter 15 aja. Sorry lama postnya. Dan gomawo udah baca^^

2 thoughts on “Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s