I’m Sorry For Loving Him [Chapter 3]

ISFLH3

Author : gladiol

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : General

Cast : Wufan | Min Young | Kim Jong In

Author’s Note : hai semuaaaaa….ada yang masih inget aku?? Hehehe…maafkan aku menghilang begitu lama, ada yang nyariin aku atau nungguin kelanjutan ff ini?? Oke, kayaknya aku yg kepedean ya..haha. kemarin aku hiatus sebentar buat nyelesaiin skripsi dan Alhamdulillah berkat memandangi foto Mas Wufan setiap hari aku jd galau dan setelah skripsi selesai aku langsung nyari inspirasi lagi buat ff ini. Dan seperti inilah hasilnya. Maaf kalau tidak sesuai dengan apa yang reader inginkan ya. Aku sudah berusaha sekeras mungkin buat jadiin ff ini. Oiya, ff ini juga di kirim ke blog fanfiction yang lain (yang tidak perlu disebutkan nama blognya) jadi kalau ada yg nemuin dengan nama author yang sama cukup baca lalu kasih komentar. Tapi kalau nama authornya beda, tolong laporkan. Terima kasih sebelumnya buat yg udah nungguin (padahal gak ada yg nunggu) dan terima kasih buat yg udah baca dan kasih komentar..

Terima kasih banyak…

Selamat Membaca

Min Young POV

Berulang kali kupikirkan perkataan Se Hee siang tadi. Benarkah yang kurasakan saat ini adalah rasa bersaing untuk mendapatkan hati Wufan? Aku benar-benar tidak pernah mempunyai niat untuk menyakiti hati siapapun. Wufan oppa, maupun Yeon Ju eonni. Tak ada sedikit pun rasa ingin merebut hatinya. Aku hanya mencintainya. Ya, aku mencintainya. Tidak peduli apakah dia sudah ada yang memiliki, aku hanya sulit untuk menahan perasaanku namun aku juga masih tahu diri.

Kau tenang saja Yeon Ju eonni, aku tak akan merebut pria yang sudah mengikat tali pertunangan denganmu.

Drrrrrtt drrrrrrrrrtt

Ponselku bergetar dan membuatku terkejut saat membaca nama pengirim pesan. Wufan oppa. Untuk apa ia mengirimiku pesan bila sedang sibuk dengan tunangannya?

‘Min Young, oppa ingin memberitahumu bahwa oppa sudah kembali bertugas. Oppa sudah dalam perjalanan kembali ke markas. Maaf oppa tidak sempat berpamitan kepadamu dan orang tuamu.’

‘Tak apa, oppa. Aku tahu kau pasti sibuk. Selamat bertugas kembali.’ Langsung kubalas pesan darinya.

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Terserah pada takdir yang mempermainkan hatiku.

***

Wufan POV

Keadaan asrama masih sangat sepi karena semua teman dan juniorku belum ada yang sampai di markas. Sambil mengisi waktu aku membereskan kamar dan bajuku yang berantakan. Aku kembali teringat padanya. Wanita bertubuh mungil yang menjemputku di bandara. Ingin aku menemuinya kembali namun waktu tidak mengijinkan. Aku harus segera kembali untuk melaksanakan tugasku sebagai tentara.

Kubersihkan senapan laras panjang yang sudah bertahun-tahun kujadikan pendamping saat aku bertugas. Bagi seorang tentara sepertiku, senapan adalah istri pertama dan perintah komandan adalah yang utama. Buktinya saja cinta bisa kalah dengan surat tugas yang bisa memisahkan hubungan percintaanku menjadi beratus-ratus kilometer jauhnya. Namun aku tidak boleh mengeluh, ini sudah menjadi tanggung jawabku.

“Selamat siang Letnan!” segera kutegakkan badanku dan memberi hormat pada atasanku.

“Ya, selamat siang. Cepat sekali kau kembali ke markas? Kau tidak tega ya meninggalkan aku bertugas sendirian disini?” Canda sang komandan untuk mencairkan suasana yang sempat kubuat tegang tadi.

“Siap, sesuai perintah saya akan kembali pada waktunya.”

“Baguslah kalau begitu. Bagaimana kabar keluargamu? Dan itu dijarimu sudah terpasang cincin. Kau bertunangan?” Tanyanya beruntun.

“Sudah, Letnan. Kabar keluarga saya baik. Dan juga saya bertemu dengan Min Young.” Jelasku.

“Mwo? Min Young? Kau mengenalnya?” Sang Letnan kaget dengan perkataanku. Ia juga mengenal Min Young karena beberapa tahun yang lalu mereka pernah bertemu di camp pelatihan olahraga.

“Ya Letnan. Saya mengenalnya beberapa bulan yang lalu.”

“Ah…bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya.” Tanyanya sambil tersenyum penuh arti.

“Dia baik-baik saja dan kemarin dia juga yang menjemput saya di bandara.”

“Sudah sejauh itukah hubunganmu dengannya? Hey, cincinmu itu, kau bertunangan dengan Min Young?” Tanya laki-laki itu penuh selidik.

“Bukan Letnan.”

“Ah…sudah mengaku saja. Tidak usah malu-malu.” Sambil tertawa dia meninggalkanku yang tersenyum mendengar kata-katanya.

‘Kalau saja aku tidak terlambat bertemu dengan Min Young, pasti namanyalah yang akan kuukir di cincin pertunanganku ini’

 

***

 

Author POV

Setelah lelah mengelilingi kompleks perumahan dengan sepeda putihnya, Min Young istirahat sejenak di taman kecil yang selalu menjadi favoritnya. Menikmati suasana sore ini cukup membuat hatinya tenang setelah melalui apa yang dialaminya kemarin.

Suasana taman sore itu cukup ramai oleh suara anak-anak yang bermain dengan ayah ibunya atau dengan teman sebayanya. Dengan perlahan Min Young membidik senyum anak-anak itu untuk diabadikan menjadi lembaran gambar. Tersenyum karena puas dengan hasil bidikannya membuat Min Young merindukan masa kecilnya yang penuh tawa. Masa kecil yang hanya mengerti kasih sayang dari orang tuanya. Tidak seperti masa sekarang saat ia sudah mengenal apa itu cinta.

Min Young mendengar ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Setelah menggeser tanda berwarna hijau Min Young segera menempelkan benda persegi itu ke telinga kanannya.

Yeobboseyo?”

Yeobboseyo, apa benar ini Hwang Min Young?” Tanya suara berat seorang lelaki di seberang sana.

“Ne, benar. Maaf, anda siapa?” Tanya Min Young penasaran.

“Ini aku, Kim Jong In. Kau mengingatku? Kita pernah bertemu di camp pelatihan tahun lalu.”

Terdiam, ingatan Min Young memutar kembali kenangan tahun lalu. Samar-samar wajah pria manis bernama Jong In pun tergambar kembali diingatannya. Camp pelatihan olahraga yang ia ikuti bersama dengan puluhan tentara dan warga sipil yang terpilih dari seluruh penjuru negeri. Saat itu ia tidak terlalu dekat dengan Kim Jong In dan hanya sesekali menyapa atau sekedar mengobrol. Namun sudah menjadi kebiasaan Min Young untuk menjalin hubungan baik dengan siapapun, walaupun saat di camp mereka tidak terlalu dekat.

“Ah ne, aku ingat oppa. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik. Aku rindu padamu Min Young-ah.” Suara Jong In sedikit bergetar tanda pria itu sedang gugup.

“Aku juga rindu pada kalian oppa, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Andai saja ada acara reuni pasti aku akan datang.”

‘Kalian? Apa maksudnya dengan kalian?’ Batin Jong In cemburu.

“Bagaimana kalau kita berdua saja yang reuni. Reuni di pelaminan misalnya. Kau jadi pengantin wanita dan aku jadi pengantin prianya?” Goda Jong In membuat Min Young tersenyum. Tanpa Min Young ketahui dulunya Jong In adalah seorang bad boy dengan sejuta pesona yang selalu menjadi incaran para wanita. Sampai semua itu hilang saat Jong In memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan kembali dengan profesi sebagai tentara yang tentunya semakin menambah pesona alami yang ada dalam diri pria manis itu.

Mwo? Ya oppa, bisa saja kau ini. Apa tidak ada gombalan yang lain? Oppa, hari sudah sore, aku harus pulang dulu ke rumah.”

“Memangnya kau ada dimana sekarang?”

“Aku sedang di taman. Sudah dulu ya oppa, lain kali kita sambung lagi.”

“Ne, hati-hati di jalan.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut sambungan jarak jauh antara Min Young dan Jong In terputus.

Min Young kembali mengayuh sepedanya sambil tersenyum riang menikmati angin senja dan bias matahari yang beranjak terbenam. Sedangkan Jong In? Pria itu sedang tersenyum sambil memandangi wajah Min Young yang tersimpan dalam ponselnya.

***

Suara dentingan sendok dan piring beradu cukup nyaring menambah suasana hangat ruang makan di kediaman keluarga Hwang. Sesekali sepasang kakak beradik Hwang beradu mulut saling mengejek yang akan berakhir dengan tawa sang ayah. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum menanggapi ocehan kedua anak yang sangat dia cintai.

“Sudah dulu bercandanya. Ayo habiskan makanan kalian dan pergi belajar.” Ucap sang ibu karena jengah dengan tingkah kedua anaknya.

Eomma, apakah eomma lupa kalau aku sedang liburan?” Hwang Min Jae si bungsu dalam keluarga itu menyuarakan protesnya.

Aigoo, eomma lupa. Kalau begitu kemana kau ingin liburan? Apa kau ingin mengunjungi suatu tempat?”

“Ne, aku ingin berlibur dirumah Han ajussi. Bolehkah aku kesana, eomma, appa?” Rengek Min Jae membuat Min Young protes.

“Ya! berhenti merengek, suaramu seperti anak kambing kepalaran.”

Noona, pria setampan aku kau bilang seperti anak kambing?”

“Pria apanya? Kau bahkan masih menangis kalau mendengar suara petir.”

Suara deheman tuan Hwang memisahkan pertikaian kecil kakak beradik itu.

“Baiklah kalau itu yang kau mau. Kau boleh berlibur di rumah Han ajussi asalkan kau tidak merepotkan mereka. Nanti biar appa yang menghubungi Han ajussi.”

“Yeeaaahh akhirnya aku berlibur. Nah noonaku yang galak, silakan berpacaran dengan tugas-tugas kuliahmu itu ya.” Ejek Min Jae yang mau tak mau membuat Min Young cemberut.

Setelah membantu ibunya membereskan dapur dan meja makan Min Young memasuki kamarnya. Bingung ingin berbuat apa. Mendengarkan lagu disaat hujan seperti ini hanya membuatnya teringat pada Wufan. Sambil menyunggingkan senyum manisnya ia duduk dipinggir jendela menikmati hawa dingin yang menguar dari tetesan air hujan bercampur hembusan angin. Helaian rambut yang tak terikat menggelitik kulit pucat Min Young.

‘Hey cantik’

Sebuah pesan yang Min Young baca membuatnya tersenyum. Dari Jong In. Semenjak kemarin sore setelah panggilan pertama itu Jong In terus saja mengirimi Min Young pesan. Seperti tak ada bosannya pria itu membuat gadis mungil ini tersipu.

Sengaja Min Young tak membalas pesan itu. Sekedar menjahili Jong In. Jika tidak dibalas dalam waktu 10 menit saja pria itu pasti akan mengiriminya pesan lagi.

‘Hey, kenapa tidak dibalas? Kau sedang sibuk? Atau sudah tidur?’

Benar saja pikiran Min Young. Tidak sampai 10 menit Jong In sudah mengirimi pesan lagi. Tidak tega mengabaikan pria itu akhirnya Min Young membalasnya.

‘Hai oppa yang tampan dan gagah. Aku tidak sibuk dan belum tidur. Ada apa?’

Suara dentingan singkat menandakan pesan balasan Min Young sudah terkirim. Entah Min Young sadar atau tidak tapi kehadiran Jongin membuatnya lupa akan Wufan. Di setiap pesan dan panggilan yang dilakukan pria itu tidak pernah lupa terselip kalimat godaan yang selalu sukses membuat semburat merah muncul di pipi Min Young.

‘Ah tidak. Hanya merindukanmu. Cantik, kau sudah makan? Jangan terlambat makan nanti kau sakit.’

Rona merah itu kembali muncul. Dengan sigap Min Young membalas pesan itu karena tak ingin mendengar rengekan Jong In kalau ia lama membalas pesannya.

‘Aku sudah makan, oppa. Seharusnya kau itu yang jangan terlambat makan. Kau pasti sibuk latihan perang terus sehingga mengabaikan istirahat.’

‘Tidak, sayang. Aku tidak akan sakit. Sudah malam, sebaiknya kau tidur sekarang.’

Ne, oppa. Kau juga harus tidur. Selamat malam.’

Ne, selamat malam. Chu :-*’

Min Young tertawa geli membaca pesan terakhir dari Jong In. Hatinya bergetar merasakan hangatnya perhatian dari seorang pria yang sudah lama tak ditemuinya itu.

“Apa-apaan kau Jong In oppa. Jangan sampai aku menyukaimu apalagi mencintaimu.” Ucap Min Young sambil menatap langit-langit kamar sebelum memejamkan matanya.

***

“Sepertinya kau terlihat bahagia setelah pulang dari cuti kemarin? Apa ini karena Min Young?” Letnan Joon Myeon menyapa Wufan yang saat itu sedang duduk di pos penjagaan.

Wufan hanya menanggapi dengan senyuman. Walaupun mereka berbeda pangkat namun hubungan antara Wufan dengan Letnan Joon Myeon sangat dekat layaknya sahabat.

“Ya! Jangan hanya tersenyum seperti itu. Lebih baik kau cepat nikahi saja Min Young agar dia tidak direbut orang lain.” Canda Joon Myeon.

“Letnan, saya sudah bertunangan dengan orang lain, bukan dengan Min Young.” Bantah Wufan membuat Joon Myeon membelalakkan matanya, sedikit berlebihan.

“Kenapa tidak kau dekati saja Min Young. Dia gadis yang baik kan? Keluarganya juga sangat ramah.” Jelas Joon Myeon sambil mengenang masa-masa pelatihan yang pernah ia jalani bersama Min Young.

“Ne, dia memang gadis yang baik Letnan, bahkan Min Young pernah menampung salah satu keluarga saya saat akan mendaftar wajib militer. Ayahnya juga ikut membantu dalam proses pendaftaran di kantor dinas personil Angkatan Udara.”

“Ya! Neo jinjja! Kau ini benar-benar ya! Gadis sebaik itu kau manfaatkan untuk menampung keluargamu setelah itu kau meninggalkannya untuk bertunangan dengan gadis lain? Aku baru tahu kalau kau seplayboy ini Wufan-ah.”

“Bukan begitu komandan, saya tidak bermaksud untuk memanfaatkan Min Young.” Wufan panik melihat reaksi komandan pleton yang ada didepannya karena ia cukup tahu kalau atasannya tersebut cukup dekat dengan Min Young layaknya kakak dan adik.

“Ah terserah kau saja. Aku cukup melihat wajahmu saja sudah terbayang seberapa brengseknya dirimu.” Joon Myeon langsung meninggalkan Wufan dengan tawa yang mengejek.

Wufan memikirkan perkataan Joon Myeon yang begitu menusuk hatinya. Selama ini dia tidak pernah sadar besarnya kebaikan Min Young yang begitu tulus. Dan ia juga tidak pernah menyadari bahwa kehadiran Wufan dalam kehidupan Min Young sudah membuat tawa ceria dan binar mata indah gadis itu berubah menjadi raut muram dan selalu menangis setiap malam.

Ne, aku memang brengsek. Tuhan, tolong berikan seorang pria yang memiliki hati yang tulus dan lembut. Hadirkanlah pria itu dalam kehidupan Min Young agar gadis itu merasakan kebahagiannya.” Doa Wufan malam itu bersamaan dengan datangnya barisan pasukan yang memasuki lapangan untuk melakukan apel malam. Beberapa tentara yang tidak tergabung di dalamnya langsung berlarian untuk bergabung dengan barisan, begitu juga dengan Wufan.

***

Oppa!!!”

Ne, ada apa? Kenapa teriak begitu? Sepertinya sedang bahagia?” Seperti biasanya Wufan akan mengobrol dengan Min Young saat ia memiliki waktu luang. Lebih tepatnya saat ia sedang bertengkar dengan Yeon Ju.

Ne, apakah terlalu terlihat jika aku sedang senang?”

Ne, apa yang membuatmu senang? Ceritakan pada oppa.”

“Kemarin ada laki-laki yang menghubungiku oppa. Kami pernah bertemu saat mengikuti pelatihan olahraga tahun lalu. Dia sekarang berdinas di Gyeongju, dia tentara juga sama sepertimu oppa, namun dia beberapa tahun di bawahmu.” Jelas Min Young panjang lebar dengan suara yang ceria dan wajah berseri yang tentunya tidak bisa dilihat secara langsung oleh Wufan karena mereka hanya mengobrol melalui telepon.

“Oh begitu. Oppa kira ada apa.” Terdengar jelas bahwa Wufan tidak semangat mendengar cerita Min Young.

Wae oppa? Kenapa seperti itu? Oppa tidak suka mendengar ceritaku? Kalau tidak suka kita akhiri saja obrolannya.” Ancam Min Young.

“Bukannya seperti itu, Young-ah.”

“Lalu seperti apa? Tadi oppa memintaku untuk bercerita, tapi setelah mendengar ceritaku nada bicara oppa jadi berubah dingin seperti itu.”

‘Young-ah, seberapa besar rasa pekamu? Aku cemburu mendengarmu menceritakan pria lain.’ Batin Wufan mengetahui bagaimana rasanya saat Min Young mulai didekati oleh pria lain.

“Baiklah, maafkan oppa. Jadi, siapa nama pria itu?” Tanya Wufan sekedar menghargai Min Young.

“Namanya Kim Jongin, oppa. Dia pria yang manis, aku tidak sabar bertemu dengannya.” Kata-kata Min Young yang baru saja terucap membuat Wufan semakin terbakar api cemburu.

“Min Young, sudah malam sebaiknya kau tidur.” Nada dingin dari mulut Wufan meluncur begitu saja karena tak ingin lebih lama mendengar tentang pria itu.

“Tapi aku belum selesai bercerita oppa. Kau aneh sekali hari ini.”

“Tidak ada tapi-tapian, sebaiknya kau tidur karena kau besok harus kuliah.”

“Tapi oppa, aku masih ingin mengobrol denganmu. Sebentar saja oppa, jebal.” Rengekan Min Young sukses membuat hati Wufan luluh dan menuruti permintaan adiknya itu.

“Baiklah, ceritakan yang lain, selain pria itu.”

“Dasar angry bird!”

Mwo? Apa kau bilang?” Tidak biasanya Wufan tersinggung mendengar ejekan Min Young. Sebenarnya dia tahu Min Young tidak benar-benar mengejeknya namun setelah mendengar cerita Min Young tentang pria lain membuat Wufan kehilangan mood baiknya.

Oppa, sepertinya kau sedang tidak ingin berbicara denganku ya? Ya sudah, maaf mengganggumu. Selamat malam oppa.”

Seketika itu juga Min Young mematikan sambungan jarak jauhnya dengan Wufan. Sebenarnya gadis itu bisa sedikit merasakan kecemburuan Wufan namun ia tidak mau terlalu peka. Min Young takut jika yang ia kira sebagai rasa cemburu Wufan terhadap Jong In itu salah.

“Selamat malam, oppa.” Ucap Min Young menatap langit-langit kamarnya. Sangat hampa seperti yang dirasakan hatinya saat ini.

Sedangkan pemuda yang berada di seberang sana juga menatap hampa langit-langit kamarnya. Jantungnya berdenyut merasakan sakit saat mengingat suara ceria Min Young yang menyebutkan nama pria lain.

“Young-ah, maafkan kalau oppa egois. Tapi oppa belum siap melihatmu bahagia dengan pria lain.”

TBC

***

Hiks…maafkan diriku ya kalo ceritanya makin kesini makin gak jelas.. aku akan berusaha sekeras mungkin buat bikin cerita yang lebih bagus di chapter selanjutnya. Maafkan juga kalau ada typo. Ditunggu komentarnya ya reader… jangan lupa follow twitterku @gladiol__24. Terima kasih.

One thought on “I’m Sorry For Loving Him [Chapter 3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s