Dorm (Chapter 10)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 9)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

****

Tidak terasa hari-hari Minseok sebagai pelajar sudah dilalui dengan banyak situasi dan reaksi yang diberikan. semua masalahnya yang dulu sangat menyulitkan untuknya sudah berhasil diselesaikan. Kejadian Minhee sudah diatasi dengan persetujuan ibunya untuk membiarkan gadis kecil itu bersama Laoyi dirumah Luhan, sementara ibunya pergi ke wilayah lainnya yang jauh dari rumah dan entah kapan akan pulang.

Ada duka juga ada suka. Suka saat melihat upacara pernikahan kakaknya Mi Soo yang sangat mengharukan. Suaminya begitu tampan dan tinggi. Minseok sempat cemburu saat melihat pria itu. Dia pikir hanya dia pria yang mampu menaklukan hati kakaknya, tapi ternyata ada orang lain. Mi Soo noona sudah bisa memberikan kata cinta dan sayangnya kepada orang lain, selain dirinya.

Tapi, ada dukanya. Hari ini bertepatan dengan hari perceraian kedua orang tuanya yang entah sudah keberapa. Dan entah sudak keberapa Minseok berusaha memulai mencari ayahnya yang menghilang. Pria yang sangat ia kagumi itu memang tidak mengatakan akan putus kontak dengan ‘keluarga lamanya’. Tapi, bukankah menghilang sama saja putus kontak?

Itu yang sering Minseok pikirkan bila sedang menyendiri. Memikirkan bagaimana caranya untuk melacak keberadaan ayahnya. Melacak nomor ponsel, rekening bank dan telpon, juga yang paling ilegal yaitu melacak nomor polisi di mobilnya. Tapi semuanya tidak berarti apa-apa. Minseok hampir putus asa karena itu. Dia baru mengalami fase hampir putus asa menuju keputus-asaan dan dia mensyukuri hal itu.

Disinilah ia, duduk termenung di sudut perpustakaan ditemani beberapa buku asing yang terbuka tanpa tujuan jelas. Matanya terus menatap langit melalui jendela di sampingnya. Baru saja ia termenung, perpustakaan tiba-tiba ramai dengan suara para sahabatnya yang troll.

Aku menyesal mengenal mereka, pikir Minseok sambil mengurut keningnya yang tiba-tiba pusing.

Chanyeol dan Jongdae langsung merangkul Minseok dan menghimpitnya sampai tidak bisa bergerak. Yang lainnya mengambil tempat duduk.

“Ya. Ya. Lepas!” titah Minseok dingin.

“Kau kenapa?” tanya Luhan lembut.

“Sakit kepala.”

“Kok bisa?”

“Karena mereka berdua.”

“Oh. Mereka memang begitu. Seharusnya kau membawa obatmu kalau bertemu dengan para troll ini,” saran Baekhyun sok bijak.

“Aku juga pusing karenamu, Byun,” aku Minseok dan tiba-tiba pusingnya bertambah. Baekhyun terdiam.

“Kami serius. Sebenarnya kau ada apa, huh?” tanya Suho, tiba-tiba dia jadi serius—dan peduli.

“Aku sedang mencari cara untuk menemukan ayahku,” jawab Minseok lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kenapa kau harus mencarinya? Apa dia masih ada hutang keluarga?” Pertanyaan Chanyeol yang ‘kelewatan’ mau tidak mau Kyungsoo harus memukulnya sekuat tenaga.

“Bocah ini. Ya, Byun! Sudah aku bilang untuk tidak membawa Chanyeol bersamamu,” ucap Kyungsoo mendelik pada Baekhyun.

“Ya. Aku tidak membawanya. Dia yang mengekori.”

“Keluargaku tidak punya hutang, Yeol. Hanya saja aku merindukannya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya sejak beliau mengganti nomor ponsel dan merahasiakan alamatnya,” jawab Minseok lalu menutup matanya.

“Kau tidak lacak nomor polisinya? Atau tujuan bus dan taksi yang dipakai?” tanya Luhan.

“Aku tidak tahu caranya.”

“Aku tahu. berikan tanggal lahir dan nama lengkap ayahmu. Aku akan mencoba melacaknya,” ucap Suho.

“Benarkah? Ya. Ambilkan note dan pulpenku disana.” Minseok menunjuk alat tulis kepada Chanyeol. Setelah alat itu ada ditangannya, Minseok langsung menuliskan apapun yang diperlukan Suho untuk melacak ayahnya. Ia menyobek kertas itu dan memberikannya pada Suho.

Suho langsung melacaknya lewat ponselnya. Karena penasaran, Minseok menyuruh Jongdae bergeser dan Minseok duduk di sebelah Suho. Pelacakan itu memakan banyak waktu sampai satu jam. Banyak sekali yang ditanya dan yang harus diisi. Ini bukan ilegal, jadi wajar banyak yang ditanya.

“Ah! ketemu!” pekik Suho tiba-tiba. Perhatian teman-temannya langsung tertuju pada Suho yang tersenyum lebar bersama Minseok. Mereka langsung mengerubungi kedua temannya.

“Tidak terlalu jauh. Kita bisa kesana minggu depan,” ucap Suho.

“Apanya yang tidak jauh? Itu hampir meninggalkan Korea, Suho!” protes Baekhyun. Kyungsoo langsung menjitak kepala Baekhyun.

“YA! Demi Minseok! Sekalian jalan-jalan. Setelah Ujian Negara kita bisa pergi.”

Akhirnya mereka semua setuju akan pergi ke pulan terpencil itu. Pulau itu sangat kecil dan hampir tidak dijelaskan dalam peta. Mungkin itu penyebabnya kenapa saat menemukan ayahnya memakan waktu yang sangat lama. Yang menjadi pertanyaan Minseok, kenapa ayahnya mengasingkan dirinya dari siapapun?

****

Malamnya Minseok sudah berkutat dengan buku-buku soal ujian, juga laptop yang standby jika nantinya ia ingin mencari materi. Sudah dua puluh tiga soal yang ia kerjakan. Minseok pun memutuskan untuk istirahat sebentar. Ia melirik ke jam, yang menunjukan pukul sebelas lewat sebelas menit. Kemudian melirik Suho, yang juga sibuk belajar.

Minseok kembali menatapi kumpulan soalnya yang tersisa. Dia ingin sekali ujiannya segera berakhir dan pergi bertemu ayahnya. Tapi, ini kewajibannya sebagai pelajaran. Mau tak mau dia harus melakukannya. Apalagi dia sekarang di tingkat akhir. Berjuang untuk mempertahankan beasiswanya.

“Kau tidak tidur?” Tiba-tiba suara Luhan membuyarkan perhatian Minseok dan Suho. Terlihat Luhan yang membawa bantal gulingnya, masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu.

“Aku sedang belajar. Kau kenapa tidak tidur?” Minseok kembali memusatkan perhatiannya pada buku soalnya, begitu juga Suho.

“Tidak tahu. hanya tidak bisa tidur,” jawab Luhan sekenanya, kemudian berbaring di kasur Minseok dan memainkan ponselnya.

“Kau sudah menghubungi Laoyi dan Minhee?” tanya Minseok.

“Sudah. Mereka baik-baik saja. Kudengar mereka berdua baru saja membeli anak anjing jenis poodle kemarin dan mengirimkan gambarnya padaku. Ingin lihat?”

“Nanti.”

Suasana hening kembali. Mereka bertiga tenggelam pada kegiatan masing-masing. Sampai pada akhirnya Suho mengemas buku-bukunya ke dalam tas dan menaruhnya ke atas lemari.

“Kau sudah mau tidur?” tanya Minseok, tetap fokus.

“Belum. Aku ingin main game sebentar.” Suho berucap sambil membuka sebuah permainan di laptopnya.

“Tapi, sekarang sudah lewat jam dua belas. Apalagi besok ada rapat OSIS.”

“Tenang saja. Aku hanya main sebentar. Kalau kau sudah selesai, beritahu aku.”

Minseok menatap Luhan yang membalasnya dengan mengendikan bahunya.

“Apa kau masih lama?” tanya Luhan.

“Wae?”

“Kakakmu mengirim ini untukmu. Ya, itu memang milikmu.” Luhan menaruh kotak coklat di hadapan Minseok. Pria itu menoleh.

“Apa ini?” tanya Minseok bingung.

“Bukalah saat aku sudah pergi dan saat Suho sudah tidur. Mi Soo noona menyuruhku kau yang membuka dan melihatnya sendirian. Selamat malam.” Luhan menepuk bahu Minseok pelan kemudian pergi meninggalkannya yang sedang menatapi kotak itu dengan penasaran.

Sekarang waktu menunjukan pukul dua pagi. Suho sudah tidur dan kamarnya sudah gelap. Tapi, Minseok belum tidur. Ia terus mencari kesempatan untuk membuka kotak itu, tanpa Suho yang bisa melihatnya. Minseok akhirnya bangun, menyalakan senter ponselnya lalu menarik kotak coklat itu ke pangkuannya. Minseok membuka penutupnya, dan mendapati barang-barangnya saat masih kecil tertata rapi di dalamnya. Ada album foto disana. Album lama yang berisi foto-foto saat mereka masih berlima. Dengan ayahnya. Juga beberapa mainannya yang lama. Membuatnya mengingat semua kenangannya bersama keluarganya yang utuh.

Dengan cahaya remang-remang, Minseok menangis tertahan sambil menatapi gambar dirinya yang dipeluk ayahnya dengan bahagia.

****

To Be Continued…

*Sorry di chap ini nggak panjang kayak biasanya. Sorry juga karena terlalu lama ngepost. Terima kasih atas komentar kalian. sorry nggak bisa dibalas, nggak ngerti caranyaT,T. Silahkan komentarnya dan makasih udah baca^^

9 thoughts on “Dorm (Chapter 10)

  1. xiubabyCHO berkata:

    ehhh… ige mwoya..
    prasaan baru bca udh TBC ??????
    chap selanjutnya jangan lama” ya thor dan jngan pendek lagi 😀
    karyamu slalu aku tunggu< keep writing 😀

  2. Iys berkata:

    waaahh.. don’t cry minseok oppa 😉 .baru tiduran soalnya bacanya aku kira bakal lama tapi malah udah tbc?
    next chapter aku tunggu, keep writing!!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s