FF: Ghost Rider (Part 21)

Ghost Rider

Author : Oh Mi Ja

Genre : Horror. Mystery, Comedy, Friendship

cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : Kim Myungsoo (Infinite), Kim Jongdae

Next Chap adalah Chap terakhir yaa^^

Baekhyun berusaha sekuat mungkin untuk tidak menoleh dan menatap Chanyeol. Saat itu, sebenarnya dia sangat ingin mengetahui ekspresinya. Apa dia marah? Dari cara bicaranya, sepertinya begitu. Padahal kenyataannya, semua kalimat yang dia ucapkan hanyalah sebuah candaan.

“Besok lusa adalah persidanganmu, kau sudah siap?” Chanyeol mengalihkan pembicraan.

Kris mengangguk cepat, “Sangat siap.”serunya. “Aku akan menghadapi semuanya dan bebas secepat mungkin. Tenang saja.”

Chanyeol merasa lega mendengar ucapan Kris tersebut, “syukurlah.”

“Asalkan tidak ada yang menangis saat persidangan, aku rasa aku akan baik-baik saja.”ucapnya tersenyum sekilas menatap Yixing.

“Aku tidak akan menangis.”tegas Yixing. “Aku sudah menjadi pria kuat sekarang. Kau pikir, apa gunanya aku menjadi psikolog jika aku tidak bisa menguasai diriku sendiri?”

***___***

Baekhyun tidak tertidur malam itu. Terus berdiri di balkon kamarnya sambil menatap keatas atap. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan hingga saat ini rasa kantuknya belum juga hadir.

Sengaja. Karena, setelah dia terlelap dan bangun keesokan harinya, dia akan melupakan tentang rasa persahabatan ini. Karena, jika dia terlelap dan membuka mata, dia akan melupakan Chanyeol.

Bohong jika dia tidak bersedih atas rencana kepergian sahabatnya itu. Hanya saja, dia pikir kali ini dia ingin menjadi kuat diatas kakinya sendiri. Melatih dirinya untuk tidak selalu bergantung pada Chanyeol yang akan dengan sabar mengingatkannya setiap hari.

Dia ingin bisa mengingat Chanyeol. Mengingat semuanya atas usahanya sendiri. Tanpa melihat buku catatan ataupun pesan dari Chanyeol.

Baekhyun terus menatap keatas atap sambil ternggelam dalam pikirannya. Jika Chanyeol pergi, apa dia bisa melewati hari-harinya? Jika Chanyeol pergi, apa dia masih bisa menjalani hari-hari kosong tanpa ingatan apapun di kepalanya?

Suara-suara hatinya menyuruh dia untuk egois dan menyuruh Chanyeol untuk tetap tinggal. Sekuat tenaga melawan pikiran itu, dia bahagia karena Chanyeol pada akhirnya berhasil meraih impiannya. Dia bangga.

“Impianmu terwujud.”gumamnya seorang diri, matanya tidak lepas dari atap rumahnya. “Kau melakukannya dengan baik, Park Chanyeol.”

Ada getaran hebat dibalik ucapannya saat dia mengatakan hal itu. Berkali-kali mencoba mengingatkan dirinya jika dia harus bahagia atas kemenangan dan keputusan Chanyeol. Egois, dia sadar dirinya egois.

Karena selama ini, dia pikir Chanyeol adalah obat yang selalu bisa memperbaiki penyakitnya. Beberapa kali mampu mengingat kejadian-kejadian jangka pendek yang baru saja terjadi dibelakangnya.

Chanyeol membantunya melakukan hal itu.

“Seharusnya, aku juga bahagia, kan?”

***___***

Baekhyun bangun dengan kepala yang sangat pening pagi harinya. Hanya sempat tidur selama 2 jam sebelum akhirnya harus bergegas menuju universitas. Dia telah melupakan semua yang terjadi kemarin. Hari ini diawali dengan pikiran yang kosong.

Tapi, kenapa sesuatu seperti sedang menjanggal hatinya?

Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang saat dia terbangun. Dia pikir, mungkin kemarin dia tidak tidur cukup banyak sehingga kepalanya terasa pening dan berdampak juga pada hatinya yang terus berdebar-debar. Tapi, apa semua itu memang saling berhubungan?

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat lalu bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan menuju meja belajarnya dan melirik kearah jadwal kuliahnya hari ini. Hanya ada dua mata kuliah dan pelajaran pertama akan dimulai satu jam lagi.

Pria bertubuh mungil itu meraih handuk yang tersampir dan berjalan ke kamar mandi. Sayangnya, suasana hatinya sekarang membuatnya melupakan buku catatannya.

***___***

Yixing memberikan segelas kopi pada Chanyeol yang sejak tadi duduk melamun di teras belakang rumahnya. Semalam, pria itu memang menginap di rumahnya karena enggan pulang ke rumah yang kini ia sewa di sekitar Myeongdong.

Yixing duduk di kursi yang ada disebelah Chanyeol, menyeruput kopinya sendiri lalu ikut memandang ke depan seperti yang sedang dilakukan oleh sahabatnya itu. Dia tidak yakin jika semalam Chanyeol tidur dengan nyenyak karena dia sama sekali tidak mendengar dengkuran Chanyeol yang sangat keras setiap kali dia tidur.

Dia pasti sedang memikirkan sesuatu.

“Kenapa? Apa kau sedang ragu dengan pilihanmu?” Yixing membuka suara membuat Chanyeol langsung bereaksi. Pria tinggi itu menoleh kearahnya dengan mata melebar.

“Apa maksudmu?”

“Ini adalah mimpimu, Chanyeol. Jangan lupa itu.”seru Yixing tanpa menoleh.

“Aku tidak ragu.”

“Wajahmu tidak terlihat begitu.”balas Yixing cepat. “Baekhyun akan baik-baik saja. Kau tau itu.”

Chanyeol menyetujui ucapan Yixing tersebut, “Aku tau, karena itu aku akan pergi.”serunya pelan. “Lagipula dia tidak membutuhkanku lagi.”

Chanyeol beranjak dari duduknya tanpa menyentuh kopi buatan Yixing sedikitpun. Yixing menatapnya hingga ia menghilang didalam rumah. Dia tau sahabatnya itu sedang berbohong. Dia tau jika Chanyeol pasti sangat mengkhawatirkan Baekhyun hari ini. Dia tidak terlihat mengirimi Baekhyun sebuah pesan dan tidak ada tanda-tanda dari pria itu untuk pergi ke rumah Baekhyun seperti biasa. Sepertinya, dia benar-benar ingin pergi meninggalkan Baekhyun.

***___***

Dia mengingat namanya. Dia mengingat jika dia memiliki Amnesia Anterograde. Namun bodohnya, dia melupakan jika dia harus membawa sebuah buku catatan kemanapun. Membaca siapa saja orang-orang yang ia kenal setiap pagi dan membaca catatan kejadian yang terjadi kemarin. Dia lupa. Dia seperti orang asing di tempat yang sangat luas ini.

Pikirannya kosong dan dia merasa takut. Seperti dunia sangat besar dan dia terlalu kecil untuk menghadapinya. Orang-orang disekitarnya lewat berlalu –lalang, mereka seperti orang asing baginya. Saat beberapa dari mereka memanggil namanya, ia terlonjak dan terkejut bukan main. Ia takut, sangat takut. Di pikirannya, dia tidak pernah bisa mempercayai siapapun.

Baekhyun berlari cepat tanpa arah. Dia menuju taman yang ada dibelakang universitas dan bersembunyi disana. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Siapa yang harus dia cari? Siapa yang harus dia percaya? Dia tidak mempunyai apapun di ingatannya. Semuanya kosong.

Pria mungil itu berjongkok dan merapatkan tubuhnya di balik batang pohon besar. Ia mengkerut ketakutan. Tubuhnya gemetar dan dia akan menangis. Ketiadaan memori jangka pendek di ingatannya membuatnya merasakan ketakutan yang hebat.

“Aku mohon. Seseorang tolong aku. Aku mohon.”tangisnya.

Bunyi dering ponsel beserta getarannya pun tidak mampu menjangkau indra kepekaannya. Dia seperti berada dalam dunianya sendiri dan terus tenggelam dalam ketakutan yang besar. Jantungnya berdegup tak karuan dan napasnya terdengar menggebu-gebu, dia masih menangis, masih berharap ada seseorang yang mau menolongnya.

Sementara itu, Jongdae yang sejak tadi berusaha menghubungi Baekhyun, menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Panggilannya tidak pernah dijawab. Apa dia masih tidur?

“Bagaimana?”tanya Kyungsoo, tidak melepaskan pandangannya dari buku yang ia baca.

Jongdae menggeleng, “tidak dijawab. Mungkin dia masih tertidur.”

“Tertidur? Bukankah akhir-akhir ini dia sangat rajin pergi kuliah?”serunya. “Kau sudah memastikannya jika dia sudah membaca buku catatannya?”

“Kenapa harus memastikannya? Chanyeol pasti sudah melakukannya, kan?” Jongdae mengendikkan kedua bahunya. “Sekarang, aku sudah bisa mempercayainya untuk menjaga Baekhyun.”

“Jangan membebani Chanyeol.”balas Kyungsoo, menatap Jongdae lurus. “Dia harus pergi ke Jepang minggu depan. Dia tidak bisa menjaga Baekhyun lagi.”

“Benar juga.” Jongdae menghembuskan napas. “Apa aku harus ke rumahnya? Tapi sebentar lagi kelas akan di mulai.”

“Aku akan menelpon Chanyeol. Mungkin dia sedang berada di rumah Baekhyun sekarang.”

Kyungsoo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, mencari nama Chanyeol lalu menekan tombol call.

Disampingnya, Jongdae sama sekali tidak merasakan khawatir dengan keadaan Baekhyun karena selama ini yang dia lihat, Baekhyun selalu baik-baik saja. Chanyeol selalu mengingatkan dan tidak letih untuk menceritakan semua kejadian lalu berulang-ulang. Dia pikir, mereka benar-benar sepasang sahabat.

“Yixing?” Kening Kyungsoo berkerut setelah ia mendengar suara Yixing yang menjawab panggilannya.

“Kau mencari Chanyeol? Semalam dia menginap di rumahku.”

“Dimana dia? Pergi ke rumah Baekhyun?”

“Tidak. Dia berada di lantai dua. Aku rasa dia sedang tidur karena semalam dia tidak tidur dengan baik.”

Mata Kyungsoo melebar namun ia masih berusaha bersikap tenang, “Dia sudah mengirimkan pesan pada Baekhyun hari ini?”

“Bagaimana?”bisik Jongdae, mendekatkan telinganya pada ponsel Kyungsoo.

“Aku rasa tidak. Kemarin sepertinya Chanyeol tersinggung dengan candaan Baekhyun. Dia memutuskan untuk tidak mengingatkan Baekhyun lagi.”

“HAH?!”jerit Kyungsoo nyaris berteriak didekat Jongdae, Jongdae sontak menjauh. “Kau yakin?!”

Di sebrang panggilan, Yixing merasakan sesuatu yang tidak beres, “Kenapa? Apa ada sesuatu yang sedang terjadi?”

“Baekhyun belum pergi ke universitas hari ini.”jelasnya.

“Kau serius?!” Yixing ikut memekik.

Menyadari jika sesuatu sedang terjadi, Jongdae meraih ponselnya dan kembali menghubungi Baekhyun. Masih tidak ada jawaban sama sekali.

Kekhawatirannya kini muncul. Dimana Baekhyun? Apa dia baik-baik saja? Apa dia melakukan sesuatu yang bodoh?

“Aku… aku akan ke rumahnya sekarang.”

Dia meraih tas ransel dan berlari dengan cepat. Kyungsoo memutus panggilannya, lalu mengecek GPS ponsel Baekhyun melalui ponselnya. Matanya melebar detik berikutnya dan dia langsung menyusul lari Jongdae.

“JONGDAE! JONGDAE! KIM JONGDAE!”teriaknya menuruni tiga-tiga anak tangga sekaligus. “YA, KIM JONGDAE!”

Kyungsoo makin meperlaju larinya karena Jongdae sudah berada lumayan jauh.

“JONGDAE! BAEKHYUN ADA DISINI! JONGDAEEE!”teriaknya lagi dengan suara yang mampu dijangkau oleh telinga Jongdae.

Jongdae seketika menoleh ke belakang. Kyungsoo menghampirinya masih dengan berlari.

“Dia ada disini..” serunya terengah-engah sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Jongdae kemudian membungkukkan tubuh karena kelelahan.

Mata Jongdae melebar detik itu juga, “Taman belakang!”

Jongdae terus berlari namun tiba-tiba sebuah pertanyaan tercetus di kepalanya. Kenapa Chanyeol tiba-tiba memutuskan untuk menghilang? Kenapa dia melakukan ini pada Baekhyun?

Baekhyun memang menyebalkan dan selama ini dia sangat sering membuat Chanyeol marah karena dia selalu tidak menggunakan kepalanya jika sedang bicara. Tapi, kenapa Chanyeol melakukan ini? Walaupun begitu, Baekhyun tetaplah seorang pasien yang kehilangan ingatan jangka pendeknya.

“Asraga, Baekhyun!”

Jongdae menemukan Baekhyun sedang pingsan dibawah batang pohon yang ada di taman belakang universitas. Pria itu memejamkan mata dan tergeletak begitu saja di atas akar-akar pohon yang besar.

“Baekhyun! Baekhyun!”serunya sambil meraih kepala Baekhyun dalam rengkuhannya lalu memukul-mukul pipinya. “Apa yang terjadi?! Ya!”

Dibelakangnya, Kyungsoo tak kalah terkejut saat menemukan Baekhyun tengah pingsan disana. Dia terperangah hebat, nyaris menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.

“Bawa dia ke rumah sakit! Cepat!”jeritnya panik, ikut mengguncang tubuh Baekhyun.

Jongdae tersadar lalu meletakkan kedua lengan Baekhyun di pundaknya dan mulai menggendongnya menuju parkiran. Mereka pergi ke rumah sakit secepat mungkin.

Apa yang terjadi dengan Baekhyun? Apa yang terjadi padanya?

Rasa khawatir itu terus menjadi-jadi hingga Jongdae tidak menyadari berapa kecepatan mobilnya sekarang. Matanya terus tertancap ke depan dan terus melaju di detik-detik perubahan lampu lintas hijau menjadi merah.

Sambil menjaga Baekhyun di belakang, Kyungsoo menghubungi Yixing yang masih berada di rumah untuk segera pergi ke rumah sakit dan menyiapkan suster serta ranjang roda untuk Baekhyun.

Setelah panggilan terputus, Kyungsoo memegangi tubuh Baekhyun juga pinggir jok dengan kuat. Jongdae benar-benar melaju dengan cepat. Dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di rumah sakit.

Beruntungnya, Yixing sudah sampai dan benar-benar menunggu didepan. Jongdae melompat keluar, membantu Kyungsoo membopong tubuh Baekhyun. Beberapa perawat laki-laki juga ikut membantu dan meletakkan tubuh Baekhyun diatas ranjang roda.

Jongdae, Kyungsoo dan Yixing mengiringi ranjang roda Baekhyun dalam kepanikan. Yixing tidak lagi bekerja sebagai dokter umum, melainkan sebagai psikolog di rumah sakit ini. Dia tidak bisa ikut ke dalam dan memeriksa keadaan Baekhyun.

“Ada apa? Apa yang sedang terjadi, hah?!”serunya panik menatap Jongdae dan Kyungsoo bergantian.

“Harusnya kau tanyakan itu pada sahabatmu!”tegas Jongdae penuh penekanan.

Yixing menelan ludah. Seketika terdiam setelah ia mendengar ucapan Jongdae.

“Kenapa? Apa karena Baekhyun sangat menyusahkan sehingga dia memutuskan untuk meninggalkannya? Atau.. apa karena kini dia telah menjadi seseornag yang hebat sehingga dia melupakan Baekhyun?!”cerca Jongdae menatap Yixing tajam.

“Jongdae… tidak begitu…”

“Lalu apa?!”bentaknya. “Aku benar-benar menyesal karena telah mempercayainya untuk menjaga Baekhyun. Harusnya aku tidak mempercayai siapapun!”

“Jongdae, Chanyeol tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Baekhyun sedetikpun.” Yixing mencoba menjelaskan. “Aku pikir ini hanyalah kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Akhir-akhir ini Chanyeol merasa bimbang sehingga dia berada di sisi sensitivnya dan Baekhyun… seperti yang kau tau… dia sangat suka bercanda. Ini hanya salah paham. Bagi Chanyeol, tidak mudah untuk meninggalkan Baekhyun seorang diri.”

Jongdae mengacak rambutnya frustasi bersamaan dengan keluarnya seorang dokter dari dalam ruangan. Semuanya menoleh lantas menghampiri dokter itu.

“Dokter, bagaimana sahabatku?”tanya Jongdae.

“Dia tidak apa-apa.”jelas dokter itu. “Dia tidak terluka.”

“Lalu kenapa dia bisa pingsan?”

“Itulah yang membuatku bingung.”kata dokter itu membetulkan kacamatanya. “Dia baik-baik saja tapi dia pingsan tiba-tiba. Jalan satu-satunya hanya menunggu Baekhyun hingga dia sadar.”

Jongdae menelan ludah pahit, raut wajahnya berubah kaku penuh kekhawatiran.

“Aku akan memindahkannya ke ruangan inap. Kalian bisa menjenguknya disana.”

***___***

Sepasang kelopak mata itu mengerjap. Beberapa kali hingga akhirnya terbuka lebar. Hal pertama kali ditangkapnya adalah langit-langit serta ruangan yang serba putih. Bola matanya bergerak kemana-mana, menelusuri setiap sudut ruangan hingga akhirnya menepi pada wajah seseorang.

“Baekhyun… kau tidak apa-apa?”tanya Jongdae.

Baekhyun terdiam sesaat. Menatap Jongdae dengan kening berkerut, “kau siapa?”

“Jongdae. Kim Jongdae. Aku sahabatmu.”

Baekhyun mengerjap, matanya masih menatap Jongdae bingung. “Sahabatku…”serunya pelan. “…Park Chanyeol.” Ia menggeleng. “Kau bukan Park Chanyeol.”

Detik itu juga, tidak hanya Jongdea, namun Kyungsoo dan Yixing ikut terperangah hebat mendengar ucapan Baekhyun barusan. Dia bilang apa? Park Chanyeol? Kenapa hanya Chanyeol yang dia ingat?

“Baekhyun…” Yixing menelan ludahnya susah payah. “Kau mengingat Park Chanyeol?”

“Kenapa aku harus melupakannya?”balas Baekhyun cepat. “Dia adalah sahabatku.”

Jongdae merasakan pukulan keras tepat menghantam dadanya. Matanya mulai memanas dan rahangnya mengatup kuat. Dia tidak bisa menahannya lagi. Tidak bisa.

Tiba-tiba, ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan. Kyungsoo terkejut, lantas menyusul langkahnya. Dia mengerti bagaimana perasaan Jongdae sekarang.

Kyungsoo mendapati Jongdae sedang duduk seorang diri di kursi yang ada didepan ruangan. Kedua pundaknya berguncang, membuat Kyungsoo mengetahui jika pria itu sedang menangis walaupun sedang memunggunginya.

“Jongdae…”seru Kyungsoo menepuk pundak Jongdae lembut.

Jongdae mendongak dengan sepasang matanya yang sudah memerah. Kyungsoo melihat rembesan air mata sudah membentuk sebuah sungai di pipinya. Ini adalah pertama kalinya Kyungsoo melihat seseorang yang selama ini begitu tegar itu meneteskan air mata.

“Apakah aku tidak ada artinya, Kyungsoo?”suaranya terdengar serak. “Atas semuanya yang telah terjadi, apa aku tidak ada artinya? Saat dia menangis, saat dia bahagia, saat dia kesusahan, saat dia ketakutan, aku selalu ada disampingnya. Bahkan saat dia di hukum karena tidak mengerjakan tugas, aku selalu menemaninya. Apa semua itu tidak ada artinya?”

Jongdae menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pundaknya kembali bergetar. Dia menangis. Sesenggukan.

Ditempatnya, Kyungsoo hanya terdiam sambil terus menatap kearah Jongdae. Mana yang harus dia bela? Chanyeol adalah sahabatnya, tapi Jongdae juga sahabatnya. Tidak ada yang bisa disalahkan atas ingatan Baekhyun yang hanya mengingat Chanyeol saat dia bangun tidur. Tidak ada yang tau alasannya. Atau mungkin kenangannya bersama Chanyeol lebih pekat dan dalam.

Dalam diamnya, Kyungsoo menikmati rintihan Jongdae yang tersedu-sedu. Tangannya tak henti-hentinya menepuk pundak seseorang yang kini telah menjadi sahabatnya itu. Jongdae pasti sedih, dan dia tau itu.

Hanya saja, mulai sekarang… dia tau jika beban Chanyeol tak kalah beratnya. Karena mulai sekarang, Baekhyun sepertinya akan terus bergantung padanya.

***___***

Chanyeol membuka matanya setelah berhasil terlelap dalam tidur yang nyenyak. Kepalanya sedikit pening dan pandangannya masih terasa kabur. Ia melirik kearah jam weker yang ada diatas meja. Jarum pendek sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dia melewatkan jadwal latihan hari ini.

Pria bertubuh tinggi itu beranjak dan bergegas menuju dapur, dia haus.

Berharap setelah bangun tidur perasaannya akan menjadi tenang, dugaannya ternyata salah. Kebimbangan itu masih mengikutinya bahkan disaat dia sudah ingin melepaskan segalanya. Bagaimana keadaan Baekhyun? Apa dia berhasil melewati hari? Apa dia sudah membaca buku catatannya?

“Astaga… apa yang aku pikirkan?”gumam Chanyeol, ia memukul kepalanya sendiri dengan kesal.

Chanyeol meletakkan gelas minumnya diatas meja dapur. Yixing tidak terlihat dimana-mana, dia pikir mungkin pria itu sedang berada di rumah sakit sekarang.

Saat ponselnya berbunyi, ia membaca nama Kim Dong Hwan. Pengacara yang akan menangani kasus Kris besok.

“Yeoboseyo.”serunya setelah menekan tombol answer.

“…..”

“Aku sedang berada di rumah dan Yixing mungkin berada di rumah sakit. Sedang bekerja.”

“…..”

“Oke. Aku rasa aku punya waktu malam ini.”

“…..”

“Baik. Aku akan membawa Yixing nanti.”

“…..”

“Terima kasih.”

Panggilan berakhir. Chanyeol sudah hampir memasukkan ponselnya ke dalam saku celanannya kembali namun tiba-tiba ponselnya kembali bordering.

Ia melirik kearah layar dan mendapati nama Yixing tertera disana.

“Yaa, Yixing?”

“Kau dimana?”balas Yixing disebrang panggilan.

“Di rumah. Aku baru bangun.”

“Bisakah kau ke rumah sakit sekarang?”

“Ah, yeaah. Aku memang akan kesana karena pengacara Kim meminta kita menemuinya untuk membahas kasus Kris besok. Aku akan mandi setelah itu menjemputmu.”

“Chanyeol…”

“Wae?”

Chanyeol mendengar Yixing sedang menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Dari nadanya, sepertinya sesuatu sedang terjadi.

“Yixing?”

“Chanyeol… sepertinya terjadi gangguan pada kepala Baekhyun.”

Detik itu juga, mata Chanyeol sontak membulat lebar. Ia terkejut, “Hah?!”

“Bisakah kau kemari? Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu.”

***___***

Chanyeol bahkan kehilangan kesadarannya saat dia menyambar kunci mobil dan berlari secepat mungkin ke garasi. Dia lupa jika dia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tidak sadar jika saat ini dia hanya memakan kemeja kusut bewarna biru tua dan celana piyama bewarna krem. Belum lagi rambutnya yang terlihat sangat acak dan wajahnya yang sangat berantakan.

Chanyeol mengendarai mobilnya seperti sedang kesetanan. Pikirannya tidak lagi bisa tenang begitu mendengar ucapan Yixing. Baekhyun kenapa? Gangguan apa yang ia maksud?

Begitu sampai di rumah sakit, pria bertubuh tinggi itu langsung melompat keluar dari mobilnya dan berlari secepat mungkin menuju ruangan Yixing. Setengah mendobrak pintu dan membuat Yixing terkejut akan kedatangannya.

Chanyeol menghampiri Yixing dnegan langkah-langkah panjang, lantas mengguncang kedua pundak sahabatnya itu dalam kekhawatiran yang hebat.

“Apa yang terjadi?! Kenapa Baekhyun?!”serunya khawatir.

Yixing mendesah panjang, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Chanyeol… Baekhyun tiba-tiba pingsan di taman belakang universitas.”

Chanyeol seketika terperangah hebat, “APA?!”

“Dia…” Yixing menelan ludahnya susah payah. “…dia mengalami gangguan lain karena kekosongan memory yang ada dikepalanya.”

“Gangguan?”

Yixing mengangguk pelan, “Dia merasakan ketakutan yang hebat karena tidak bisa mengingat siapapun. Dia merasa takut karena dia merasa disekitarnya adalah orang-orang asing.”jelasnya. “Tidak ada kemajuan sama sekali atas penyakitnya. Justru lebih parah karena memory itu sama sekali bersih dan tidak ada yang tertinggal. Tadi, dia pingsan karena merasakan ketakutan yang besar. Dia lupa jika dia harus membaca buku catatannya saat memulai hari.”

Tubuh Chanyeol terhuyung mundur, menabrak dinding yang untuk seketika ia jadikan sebagai penopang atas tubuhnya. Kaki-kakinya ia kuatkan agar tidak meluruh, terus berpijak untuk sekedar mendengar sebuah penjelasan sekali lagi.

Ditempatnya, Yixing menatap sahabatnya itu lurus-lurus. Ada perasaan bersalah yang menggelayuti hatinya namun ini adalah sesuatu yang harus diketahui oleh Chanyeol tentang Baekhyun.

“Saat dia bangun tadi… dia hanya mengingat namamu, Chanyeol…”desah Yixing. “Dia tidak mengingat kami, bahkan Jongdae. Hanya kau…”

Ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Chanyeol namun suaranya berhenti di pangkal tenggorokan. Pita suaranya tercekat membuatnya menelan kembali kata-kata itu. Tangannya mengepal disamping tubuh, mengubah ucapan yang tertahan tadi menjadi beningan air mata yang membentuk sebuah sungai.

“Semua kejadian di masa lalu sepertinya mempunyai ikatan yang erat dengan alam bawah sadarnya. Sehingga dia hanya mengingatmu karena kalian pernah menjalin sebuah ikatan yang tidak wajar.” Yixing maju beberapa langkah,menghampiri Chanyeol. “Aku masih menyelidiki ini adalah penyakit fisik atau mental. Tapi aku rasa dia membutuhkanmu…”

Chanyeol semakin menunduk dan dia semakin menangis deras. Yixing membiarkannya dalam keheningan tanpa niat untuk mengganggunya. Membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan semua kesesakan di depan matanya.

Bagi sebagian orang, ketika mereka sedang bersedih, hal yang lebih baik adalah membiarkannya. Tidak menghibur ataupun mengeluarkan kata-kata yang menenangkan. Terkadang, yang mereka perlukan hanya sebuah tepukan pada pundak mereka dan terus berada disamping mereka dalam diam. Setidaknya, mereka mengetahui jika mereka mempunyai tempat untuk berlabuh jika sudah lelah bertarung.

Yixing menepuk pundak Chanyeol pelan lalu bergumam, “Dia sedang tertidur setelah ku beri obat penenang. Aku ditugaskan untuk mengurusnya sekarang. Tadi, dia histeris karena tidak menemukanmu. Setelah dia sadar, temuilah dia…”katanya. “Dan… temui Jongdae. Aku akan bertemu dengan pengacara Kim sendiri.”

Seolah-olah tidak mendengar apapun, setelah Yixing meninggalkan ruangannya dan membiarkannya seorang diri. Chanyeol berbalik menghadap dinding. Keningnya ia letakkan pada dinding setengah menunduk. Menangis sejadi-jadinya dengan erangan yang mampu dijangkau oleh Yixing yang berdiri di balik pintu ruangannya.

Dia mendengar suara Chanyeol dari luar. Dia mendengar bagaimana besarnya penyesalannya.

Di saat seperti ini, tidak ada jalan lain selain membuat Baekhyun merasa nyaman. Ditengah-tengah kesedihan mereka, tidak ada jalan lain selain menyembuhkan Baekhyun.

Begitu dia menoleh ke kanan, Jongdae sedang berjalan kearahnya juga. Pria itu, sejak tadi yang menangis pilu. Yixing masih menemukan jejak-jejak air mata di wajahnya walaupun dari jauh. Dia tidak lagi sesegar dulu.

Berada dalam satu garis lurus, Yixing hanya menatap Jongdae yang kembali menangis. Dalam jarak yang tercipta diantara mereka, Yixing mengurungkan niatnya untuk tetap berada ditempatnya. Jika ia membiarkan Chanyeol seorang diri, berbeda dengan Jongdae yang ia berikan sebuah pelukan hangat.

Pria ini… dia tau ini adalah yang dia butuhkan. Menjadi yang terlupakan setelah menjalani hampir separuh hidupnya bersama Baekhyun, sejak awal posisi Jongdae adalah yang terdekat. Saat ia tiba-tiba menjadi orang asing di mata Baekhyun, Yixing tau itu bukanlah hal yang mudah.

Saat persahabatan yang mereka anggap sederhana itu, kini berubah rumit. Tidak, semua ikatan persahabatan di seluruh dunia, sebenarnya tidak sesederhana itu….

***___***

Butuh waktu beberapa lama bagi Chanyeol untuk menenangkan dirinya dan berjalan menuju ruangan Baekhyun. Suara derap langkahnya yang pelan kontras dengan suara degupan jantungnya yang memburu cepat. Layu. Tidak ada emosi yang terlihat dimatanya begitu ia memasuki ruangan yang serba putih itu.

Dalam kekacauannya, bersyukur dia tidak menjadi gila seperti yang terlihat dari penampilannya. Ia masih berusaha tenang, di sisa-sisa pasokan tenagannya.

Baekhyun masih tertidur dan dia menjatuhkan diri disamping sahabatnya itu, Matanya tak lepas dari sosok Baekhyun yang menjadi titik fokus pandangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan dia rasa Baaekhyun tidak akan bangun hingga keesokan harinya.

***___***

Pagi harinya, Baekhyun tidak histeris seperti kemarin. Dia terlihat tenang dan menjalani harinya seperti biasa. Hanya saja, dia tidak mampu mengingat alasan kenapa dia bisa berada di rumah sakit.

“Siapa kau?”

Itu adalah kalimat pertamanya begitu ia melihat Chanyeol, seseorang yang ia anggap berpenampilan aneh.

Chanyeol tersenyum di wajah pucatnya, “Park Chanyeol…” Lalu dengan tertatih menghampiri Baekhyun dan memberikannya sebuah buku catatan.

Baekhyun menerima buku catatan itu dengan kening berkerut. Lalu membuka lembar demi lembar.

Namaku adalah Byun Baekhyun. Aku penderita Amnesia Anterograde.

Di beberapa halaman berikutnya, ia menemukan nama Jongdae. Ia mendongak menatap Chanyeol.

“Apa ini tulisanku?”tanyanya tanpa ekspresi

Chanyeol mengangguk, “buku ini milikmu.”

“Apa Kim Jongdae benar-benar sahabatku?”tanyanya lagi. “Kenapa yang aku ingat hanyalah Park Chanyeol?”

Chanyeol mendesah panjang. Menjatuhkan diri ditepi ranjang sambil membalas tatapan Baekhyun.

“Aku ada di halaman 13.”seru Chanyeol serak. “Tapi kau bisa mengetahui kenapa kau hanya mengingatku lewat buku ini.” Pria bertubuh tinggi itu memberikan sebuah buku lain pada Baekhyun. “Aku membuatnya semalaman agar kau bisa membacanya.”

Baekhyun tidak bereaksi, dia masih menatap Chanyeol lurus, “apa kau benar-benar Park Chanyeol?”

“Kenapa kau hanya bisa mengingat namaku tapi tidak mengingat wajahku?” Chanyeol tersenyum kecut, sekuat tenaga menahan air matanya yang mulai menggenang. “Baekhyun… apa kau takut?”

Baekhyun menggeleng pelan.

“Baekhyun… maafkan aku karena aku tidak mengingatkanmu kemarin.” Chanyeol menunduk, menghindari kontak mata. “Maaf karena aku terlalu terbawa emosi sehingga aku melakukan ini dan membuatmu menjadi bingung saat memulai hari.”

“Apa yang sudah terjadi, Park Chanyeol?”

“Saat kau tidak mampu mengingat semua kejadian kemarin saat bersamaku, aku tidak akan memarahimu. Tapi, terima kasih karena kau masih mengingatku. Walaupun hanya sekedar nama.” Chanyeol mengangkat wajahnya, Baekhyun terkejut karena kini dia sudah menangis. “Baekhyun… aku berjanji aku akan selalu memperingatkanmu. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi.”

“Chanyeol…” suara Baekhyun tercekat. “Apa… yang sebenarnya terjadi padaku?”

Chanyeol menggeleng sembari tersenyum bersamaan air matanya, “Kau… selamanya kau akan baik-baik saja. Kau akan selalu bahagia. Aku berjanji akan menjagamu.”

***___***

Antara mimpinya dan persahabatan. Semua itu adalah pilihan yang sulit karena keduanya sama pentingnya. Di dunia ini, dia hanya hidup seorang diri sehingga ia hanya memiliki sahabat didalam hidupnya. Di dunia ini, sejak dulu… dia sangat ingin menjadi seorang pembalap professional yang diakui dunia.

Dia harus memilih dan dia harus mengorbankan salah satu. Baekhyun atau mimpinya. Sekarang, dia sadar dia tidak bisa meninggalkan Baekhyun karena penyakitnya. Mungkin ikatan yang pernah terjalin antara mereka, serta semua kejadian membuat alam bawah sadarnya terikat sehingga dia hanya bisa mengingat nama Chanyeol.

Hanya nama itu. Tidak wajah juga rupanya. Baekhyun hanya mampu mengingat nama itu.

Dari semua memory yang seketika menjadi bersih begitu dia membuka mata, hanya nama Chanyeol yang tertinggal di sana.

“Chanyeol! Chanyeol!” tiba-tiba suara Kyungsoo terdengar, ia berlari menghampiri Chanyeol yang sedang duduk seorang diri di taman rumah sakit. “Baekhyun! Dia histeris!”

Chanyeol yang semula mencoba untuk menenangkan dirinya, menjadi berantakan kembali begitu mendengar ucapan Kyungsoo. Ia langsung berdiri dan berlari menuju kamar Baekhyun. Namja itu meringkuk di kasurnya dan ketakutan melihat Yixing dan beberapa perawat ada didepannya.

Chanyeol langsung memeluk Baekhyun seperti sedang memeluk seorang anak kecil yang sedang menangis. Ia menyuruh Yixing dan perawat pergi dari sana agar Baekhyun tidak takut lagi.

“Baekhyun… hey… Byun Baekhyun… aku disini… jangan takut… aku Park Chanyeol…”

“Chanyeol?” dia mendongak menatap Chanyeol sambil menangis. Chanyeol mengangguk dan Baekhyun langsung memeluk sahabatnya itu erat-erat. “Chanyeol… Chanyeol maafkan aku… aku mohon maafkan aku. Jangan pergi… Chanyeol aku sangat takut. Jangan tinggalkan aku…”

“Tidak. Aku ada disini. Aku tidak pergi.” Chanyeol menepuk-nepuk punggung belakang Baekhyun mencoba untuk menenangkannya.

“Aku tidak tau, Chanyeol. Aku masih mendiskusikan hal ini dengan teman-teman psikiaterku.”jelas Yixing. “Dia memiliki phobia yang tidak wajar sehingga membuatnya histeris saat phobia itu kambuh. Tapi, kami belum menemukan alasannya kenapa dia bisa memiliki sebuah phobia.”

“Kau bilang, dia seperti ini karena ingatannya, kan?”sahut Kyungsoo.

“Phobia adalah sebuah kejadian yang terkait dengan masa lalu yang kelam. Dalam hal ini, ketakutan Baekhyun didasari oleh hilangnya memory jangka pendeknya sehingga dia tidak bisa mengingat apapun. Dia merasa berada di lingkungan asing dan menjadi ketakutan karena itu.”

“Apa dia tidak bisa disembuhkan?”tanya Chanyeol menatap Yixing penuh harap.

“Tidak ada yang tidak mungkin tapi jika boleh jujur, dalam hal ini aku tidak menemukan solusi apapun.”

Dan argumentasi menyakitkan itu terdengar sangat jelas di telinga Jongdae. Amarahnya seketika memuncak, ia menarik kerah baju Cahnyeol dan mengiriminya beberapa pukulan di wajah. Kyungsoo seketika histeris lantas menahan tubuh Jongdae agar tidak menendang Chanyeol yang sudah tersungkur di lantai.

“Ini semua karena kau! Ini semua karena kau! Brengsek!”maki Jongdae, Yixing dan Kyungsoo berusaha menariknya keluar ruangan. “Park Chanyeol, kau brengsek!”

Di tempatnya, Chanyeol hanya terdiam menikmati rasa sakit di hatinya serta rasa sakit di tubuhnya. Seorang diri. Karena, ia menyadari jika ini adalah kesalahannya. Ia tidak menyangka, amarahnya mampu membuat Baekhyun hingga seperti ini.

Diatas segalanya, setelah berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya, dia pikir, Baekhyun jauh lebih berharga dari mimpinya.

Dia menyerah….

TBC

33 thoughts on “FF: Ghost Rider (Part 21)

  1. Fitri MY berkata:

    Sedih banget bacanya
    kasian Baekhyun, Chanyeol, dan Jondae

    tp senang juga (Lho?)
    Kalo masalah masih ada berarti ff ni masih lama tamatnya
    Tadinya dikirain akan berakhir di chapter ini

    pokoknya ditunggu lanjutannya…..

  2. nina berkata:

    sumpah aku kasihan sama jongdae😥
    sahabat yg selama hampir hidupnya sama2 baekhyun trs, gg diinget sama sekali T^T
    tp kasihan juga sm chanyeol yg harus memilih
    apa baekhyun gg bisa disembuhkan?
    chapter depan tamat iia eon ‘3’

  3. winniejjkyu berkata:

    sumpah aq mewek baca chap ini.
    jongdae kasian bngt. dr sekian bnyk orang dia pst terpukul. krn baekhyun ga inget sm sekali tentanya.
    chanyeol penyesalan n mengorbankan impiaanya? dia jg terpuruk.
    baekhyun jg lebih kasihan lg. amnesia, kebingungan n phobia.
    moga aj bisa sembuh.
    ga bs komentar bnyk. ff ini sngt menyentuh, arti persahabatan n pengorbanan. daebakk nich author.
    gomawo kak yg ud bikin ff sebagus n sekeren ini.

  4. inhan99 berkata:

    penjelasan perkara penyakit baekhyun makin rumit tapi semoga mereka kembali bersahabat seperti sedia kala dan tak terjadi kesalah pahaman lagi supaya tak ada yang saling menyalahkan satu sama lain hanya karena hal yang telah di lalui baekhyun dll sebelumnya.

  5. Kai's fan berkata:

    semoga chapter terakhir nya berakhir dengan bahagia alias happy ending🙂 . aku kasian sama Jongdae disini

    next chapter ditunggu ya

  6. anondee berkata:

    chanyeol jangan nyerah dong… thor baekhyunnya sembuhiin!!!!!! next chapter jangan lama lama!! ff daddy’s best friend, aku tungguin yaa, yang lainnya juga sih hehe

  7. Ren berkata:

    Seruu kak, yaah end ya selanjutnya😦 kak bikin ff yg ky gini lg dong kak yg action / fantasy / brothership / angst jg gpp kak seru soalmya. oh iya kak, autumn sm daddy’s best friend kpn update lg kak?

  8. So Eun_Sehun berkata:

    Astaga kenapa bgini thor…kenpa hrus serumit ini jlan cerita pershbtan mereka q jdi ksian n’ sdih liat jongdae yg terlpakn, chanyeol yg lg galau antra mimpix dan baekhyun dan beakhyun yg tampah parah…….aduh..
    Semoga diakhir crita mereka bisa bahagia semua dan semua msalah terselesaikn. Semangat thor…q tunggu endingx.

  9. lidya berkata:

    kenapa semakin mendekati part terakhir malah semakin sedih ㅠㅠ
    aaaaaaaa ga kerasa selalu ngikutin ff ini dari awal sampe tinggal satu part terakhir lagi

  10. LoveBaekie berkata:

    Yahh..baekhyun kenapa?? kan kasian jongdae sama chanyeol dan yang lainnya, pokoknya bikin mewek sumpah😦 .ditunggu yah chapter selanjutnya! semoga happy ending

  11. LoveBaekie berkata:

    Yahh..baekhyun kenapa?? penyakitnya kok jadi rumit?? kan kasian jongdae sama chanyeol dan yang lainnya, pokoknya bikin mewek sumpah😦 .ditunggu yah chapter selanjutnya! semoga happy ending

  12. bacon berkata:

    .😥 mewek bca.ny Huaaaa knpa author bkn ff slalu bkn readers pd nangz ch, , , it ssi my bacon aph nda bza dismbuhkan pnykit.ny? kshan jongdae shbt dari kecil si bacon nda inget aph”?😥 yeolli ug kasihan memlh antra shbt ato mimpi.ny😥 ? next chapter

  13. Risya Yu Ri berkata:

    hua,,serius ini makin bagus aja,, sampe2 aku nangis😥 terharu ;'(
    semoga happy ending deh akhirnya, gak tega liat mereka begitu,, semoga persahabatan mereka bisa kembali dan baekhyun udah bisa mengingat semuanya? *semoga😀 ..

    semoga persahabatanku bisa kayak mereka🙂 *tapi yang bagus2nya?😀

  14. diah nur berkata:

    wowWW… Jln ceritanya makin keren,,, persahabatan mereka makin rumit. aduh kasian jongdae nya ia terlupakan T.T,, thor capat sembuhkn baekhyun lah,,. happy ending ya thor🙂 ,, saya tunggu chapter selanjutnya.. .

  15. phalifa berkata:

    Yakk… keren bgt thor ^^😀
    Kasian bgt liat jongdae😦
    Ikatan batin baek ma yeol kuat bgt😀
    Next part jgn lama2 thor,dah gk sabar nunggu kelanjutannya😀
    Kasian yeol gk bisa meraih mimpinya jadi pembalap😦,demi jagain baek😦

  16. ParkJudit berkata:

    Eon, feel nya dapet bnget, aku sesenggukan bacanya😥
    Gua tau sakit banget rasanya jadi jongdae :””” pasti sakit bgt, di sini pula *belah dada*
    Haaaa, Chanyeol ga jd ke jepang ???
    Ga sabar sama kelanjutanya !!!
    Buruan ya eon😉 :*

  17. Mira berkata:

    thor… entah knp aku bisa sampe tersedat ngebaca ff ini, mungkin terlalu menghayati ff kali ya? aku dapet fellnya banget sampe ikutan sedih ToT
    chanyeol bakal ngalah soal mimpi dia jd pembalap? jangan dong, entar baekhyun sm aku jd sedih /nangis bareng baek/
    baekhyun ingatannya makin tambah parah? /nangis makin menjadi/
    jongdae pasti sakit banget ya :”
    teruskan ff ini sampai selesai /maksa author/
    tiap ada ff baru yg diposting, pasti akan ada air mata readers yg keluar~

  18. Juni Lu berkata:

    baekhyun semakin parah deh, kan sedih jadinya , aplagi yg mampu dia ingat hanya nama chnyeol, sementara jongdae, ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s