Dorm (Chapter 9)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 9)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

****

Hari minggu pun tiba. Namun, ini tidak berarti apa-apa untuk Minhee. Dia tidak bisa kemana-mana. Kerjanya hanya bermain boneka seharian dikamarnya. Ibunya tidak mengijinkan Minhee keluar setelah ia tahu kalau Minhee pernah pergi sendirian ke asrama sekolah Minseok. Dalam hati, ia kesal dengan kakaknya yang mengadu tentang itu.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk tiga kali. Membuat Minhee terkesiap di kasurnya.

“Minhee-ya! Ini oppa. Kau di dalam?”

Minhee menjadi senang karena kakanya datang, namun kembali cemberut saat mengingat Minseok mengadu kepada ibunya.

“Minhee tidak ada!” jawab Minhee datar.

“Haha, jadi siapa yang menjawab didalam sana? Ayo, kita jalan-jalan dengan oppa cantik dan Laoyi.”

“Hah? Laoyi? Tunggu sebentar oppa! Aku mandi dulu!” ucap Minhee dari dalam kamar. Minseok pun tersenyum, lalu berbalik meninggalkan pintu kamar Minhee menuju Luhan dan Laoyi yang berada di ruang tamu.

“Minhee sedang mandi. Mungkin sebentar lagi turun. Laoyi mau ke kamar Minhee?” tanya Minseok sambil menatap Laoyi.

“Tidak. Aku akan menunggunya disini,” jawab Laoyi lembut. Minseok pun mengangguk.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara sepatu Minhee yang sedang menuruni tangga. Minhee sudah sangat cantik dengan dress pink muda selutut dan sepatu hitam pekat. Minhee juga membiarkan rambutnya terurai. Menurutnya ia sangat cantik kalau rambutnya tidak diikat.

Oppa! Aku sudah siap! Oh? Laoyi!” pekik Minhee senang saat mendapati Laoyi sedang duduk di sebelah Luhan. Laoyi bangkit dari duduknya dan menghampiri Minhee dengan senyum senang mengembang di bibirnya, begitu juga dengan Minhee. Mereka mengaitkan tangan mereka satu sama lain dan meloncat-loncat kegirangan. Minseok dan Luhan reflek ikut tersenyum. Luhan menoleh kepada Minseok.

Noona tidak perlu berpikir terlalu lama jika melihat mereka seperti ini,” ucap Luhan percaya diri.

“Aku yakin itu. Noona tidak pernah melawan apa kata hatinya. Aku yakin dia setuju.”

Luhan dan Minseok sedang dalam permbicaraan ringan tentang hari-hari mereka di sekolah dan asrama kepada noona Minseok. Yang mendengarkan sangat terhibur dengan cerita mereka dengan sesekali tertawa ataupun mengangguk. Tak jauh dari mereka, Laoyi dan Minhee sedang bermain di tempat bermain anak di cafe tempat mereka sekarang. Kakaknya mengangkat gelas kopinya sambil memperhatikan kedua bocah itu dengan asiknya bermain dan bercanda. Kakaknya juga menemukan sifat Minhee yang tak pernah berubah, suka memukul. Kim Mi Soo (noona Minseok) kembali menaruh cangkirnya lalu menatap Minseok dan Luhan bergantian.

“Aku sudah melihat semuanya. Kalian memang tidak berbohong. Aku akan membicarakan ini pada ibu,” ucapnya sambil tersenyum lembut.

“Aku hanya berpikir cara yang terbaik untuk Minhee. Dia akan kesepian bila tidak bertemu denganku. Kau, kan, tahu jarak rumah dengan restoran ibu sangat jauh?” ucap Minseok lalu menoleh kepada Minhee.

“Aku tahu. Cuma kau yang dirindukan Minhee,” gumam Mi Soo lalu kembali meminum kopinya. Minseok tersenyum senang.

“Laoyi! Kesini sebentar,” panggil Luhan sambil mengibas-ngibaskan tangannya kepada dua orang anak disana. Laoyi pun berjalan mendekati kakaknya, bersama Minhee dibelakangnya.

“Apa oppa?” tanya Laoyi sambil menatap oppa-nya bingung.

“Sapa dulu kakak Minseok oppa.”

“Oh? Annyeonghaseyo, eonni. Xi Laoyi imnida,” ucap Laoyi canggung sambil membungkuk hormat. Mi Soo tersenyum, matanya terus menatap Laoyi yang kini juga menatapnya bingung. Kemudian ia melirik jam tangannya dan mendapati dirinya sedang dikejar waktu. Mi Soo meraih tas tangan dan ponselnya lalu beranjak dari kursinya.

“Aku masih harus membuat beberapa pakaian untuk peragaan busana bulan depan. Jadi, aku harus pergi sekarang. Minseok, jaga adikmu baik-baik. Minhee, dengarkan apa yang kakakmu katakan. Aku duluan,” pamit Mi Soo lalu membungkuk sedikit, kemudian berjalan pergi meninggalkan cafe. Minhee dan Laoyi akhirnya menempatkan diri mereka di tempat duduk di sebelah oppa mereka.

“Minhee, kakakmu cantik ya? Coba kalau aku punya kakak perempuan cantik seperti kakakmu. Bukan mendapat kakak laki-laki cantik seperti ini,” sindir Laoyi sambil mendelik kesal kepada Luhan, yang mendapat jitakan darinya. “YA!”

“Sudah sore. Ayo, kita pulang,” ajak Minseok kepada Luhan dan mendapat anggukan dari Luhan. Minhee dan Laoyi terdengar mengerang sedih harus berpisah kembali. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Mereka berharap mereka bisa bersama-sama lagi. Minseok dan Luhan juga berpikiran yang sama. Semoga…

****

Hari berikutnya, Minseok tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Seperti mendengar celotehan konyol Chanyeol saat makan siang di kantin, melihat Kyungsoo menaklukan Chanyeol, mendengar Suho berkata bijak dan tak ada yang mendengarkannya, dan belajar di kelas yang sangat ramai. Terlalu biasa untuk hari-hari Minseok. Dia, yang tidak pernah melirik perempuan manapun membuat hidupnya begitu biasa dan membosankan. Berbeda dengan Luhan dan Baekhyun yang selalu mendapat janji bertemu atau mendapat surat cinta penuh gombalan di loker. Minseok tipe orang yang tidak pernah memandang siapapun secara istimewa (kecuali noona-nya dan Minhee). Kalaupun dia suka pada orang itu, dia hanya akan memandangnya dari jauh.

Hari ini hari valentine. Hari dimana pria akan mendapat coklat dari cewek. Kelas Minseok yang rata-rata berisi murid perempuan sudah memberikan coklatnya kepada teman Minseok, yaitu Baekhyun dan Luhan. Sebenarnya semua pria dikelas dapat coklat, tapi tidak sebanyak mereka berdua. Minseok juga mendapatkannya. Baguslah, ia tidak terlalu kecewa pada hari ini. Minseok mengalihkan pandangannya pada setumpuk hadiah berbungkus kado cantik di atas mejanya. Tangannya meraih satu kotak panjang berpita lalu membukanya perlahan. Isinya coklat. Minseok membuka bungkus coklat itu lalu memakannya.

“Kau sepertinya ingin sekali coklat itu. Sampai-sampai tak sabar untuk membukanya,” ucap Kyungsoo yang di duduk sebelah Minseok.

“Aku lapar,” bantah Minseok sambil terus memakan coklatnya, tanpa mengalihkan matanya ke buku sastra-nya. Kemudian Minseok beralih kembali pada tumpukan hadiah di ujung mejanya. “Ambillah kalau kau mau.”

“Tidak. Aku sudah punya banyak.”

“Kyungsoo-ya, mau kau ikut denganku ke perpustakaan setelah sekolah? Aku ingin kau membantuku mengerjakan tugas matematikaku,” pinta Sun Kyu dengan mata yang sangat memohon. Kyungsoo menatap Sun Kyu datar lalu melirik Minseok yang sedang terkekeh geli melihatnya sedang diajak kencan oleh Sun Kyu. Entah Kyungsoo tahu itu ajakan kencan atau bukan, yang penting Sun Kyu bisa bersama Kyungsoo di hari kasih sayang ini, pikir Minseok sambil menahan tawanya.

“Oke. Tunggu aku jam satu nanti,” balas Kyungsoo dingin lalu kembali membaca bukunya.

“Thanks, Kyungsoo,” ucap Sun Kyu dengan mata berbinar-binar, lalu pergi meninggalkan Kyungsoo. Pria pendek itu menoleh sedikit ke arah Minseok yang sedang menahan tawanya.

“Itu tidak lucu,” ucap Kyungsoo datar dan dingin.

Ya! Dia menyukaimu, Kyungsoo. Kau tahu itu kan?” goda Minseok sambil menaik-naikan alisnya genit. Namun, tak ada jawaban darinya. Pasti Kyungsoo sedang membenarkan jantungnya yang berdegup kencang. Terlihat dari posisi duduk Kyungsoo yang mulai tak nyaman. Pria kecil itu membuat Minseok terkekeh pelan. Ia menoleh ke arah Luhan yang sedang berbicara dengan tiga gadis di depannya dengan senyuman manisnya. Minseok tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan karena jarak kursinya dan Luhan lumayan jauh. Yang pasti para gadis itu sedang menggoda Luhan. Dia yakin bukan Luhan yang memulainya. Luhan bukan seperti itu. Minseok lagi-lagi mengalihkan tatapannya ke arah lain dan kali ini ke jam tangan hitamnya. Lima belas menit lagi kelas berakhir. Hari selasa memang selalu membuatnya senang karena jadwal pelajarannya sedikit dan dia bisa pulang siang, tidak sore seperti biasanya.

Akhirnya bel berbunyi. Minseok yang sejak pelajaran terakhir tidak mengeluarkan buku satupun, langsung mengenakan tasnya dan bangkit dari kursinya. Baru selangkah ia sudah dipanggil Chanyeol. Minseok pun menoleh kearahnya.

“Apa kau tidak ke klubmu, hyung?” tanya Chanyeol sambil menghampiri Minseok, lalu berjalan beriringan menuju pintu kelas.

“Aku sudah keluar,” jawab Minseok datar sambil menatap langkah kakinya.

“Kenapa? Bukannya kau diperlukan di klub sepak bola?” tanya Chanyeol bingung. Minseok salah satu pemain inti di klub sepak bola sekolah bersama dengan Luhan. Mendengar Minseok keluar membuat Chanyeol menyayangkan perbuatan Minseok.

“Mereka menemukan pemain penggantiku. Dia hoobae-ku, namanya Jin Young. Aku sudah diberitahu tiga bulan yang lalu oleh pelatih kalau aku akan digantikan karena sebentar lagi aku akan naik kelas tiga. Klub itu tidak memperbolehkan anak kelas tiga ikut lagi,” cerita Minseok dengan nada sedikit kecewa.

“Kalau begitu denganku saja di klub basket!” seru Chanyeol semangat. Minseok pun menoleh lalu tersenyum kecil dan mendengus.

“Maaf, aku tidak tertarik. Aku harus mulai belajar kembali untuk menaikkan nilaiku.”

“Kau pintar, hyung! Apa yang kau khawatirkan?”

“Tidak, Chanyeol. Aku harus mengejar kembali nilai-nilaiku yang menurun.”

Pada akhirnya Chanyeol mengangguk setuju. Mereka berdua pun berpisah di depan gerbang sekolah. Chanyeol membelok ke arah asrama sekolah, sedangkan Minseok berbelok ke arah yang sebaliknya. Minseok sudah memberitahu Chanyeol kalau ia akan pergi berjalan-jalan dulu sampai malam untuk menghabiskan hari valentine-nya sendirian.

Di tengah perjalanannya yang menyenangkan (menurutnya), ponselnya bergetar di saku jaketnya. Ia menarik ponsel itu keluar dan mendapati nama Kim Mi Soo di layarnya. Ia menggeser ikon hijau di layarnya lalu menempelkan di telinga kirinya. Terdengar suara noonanya di seberang yang menyapanya dengan hangat, seperti biasa. Tentu saja Minseok menyapa balik dengan hangat. Mereka pun melanjutkan pembicaraan dengan sesuatu yang ringan dan lucu, seperti Minseok menggoda kakaknya akan memberikannya coklat valentine. Minseok pun berpikir pergi menuju rumahnya dan menpercepat langkahnya.

“Apa noona akan pergi? Mendengar suara noona sekarang seperti untuk yang terakhir kalinya,” ucap Minseok sedih.

“Tidak, noona tidak akan pergi. Noona hanya merindukan suaramu. Sudah lama tidak bicara panjang padamu,” jawab noonanya lembut.

“Aku juga.”

Dan Minseok kembali bercerita tentang hidup barunya di asrama (hal yang selalu menarik bagi Minseok untuk diceritakan). Setelah satu jam berbincang dengan kakaknya, Minseok lalu mengakhirinya dan kembali memasukan ponsel ke dalam saku jaketnya. Tinggal berbelok ke kanan dan dia akan sampai di rumahnya. langkahnya terhenti tepat di depan pagar rumahnya yang super tinggi dan besar yang dikelilingi dengan tembok beton yang sama tingginya. Minseok mendekati layar kecil yang disebelahnya ada tombol kecil. Telunjuknya menekan tombol itu beberapa kali sampai ada yang menyahut.

“Ini Minseok, Kim Min Seok. Tolong bukakan pagarnya,” pinta Minseok sambil menatap layar kecil itu. Tak lama kemudian terdengar suara ‘klik’ dari pagarnya, menandakan kunci sudah terbuka. Minseok berjalan ke arah pagar lalu mendorongnya dengan kedua telapak tangannya. Minseok melangkah cepat menuju rumahnya, sementara pagar rumahnya bergerak perlahan lalu menimbulkan suara ‘klik’.

Minseok berjalan santai menuju lantai dua. Menuju kamar adiknya yang berhiaskan segala macam stiker lucu di pintunya. Minseok tersenyum kecil saat menyentuh hendel pintu dengan gantungan bertuliskan ‘Oppa, Saranghae’. Ia ingat saat Minhee memberikan gantungan itu saat hari ulang tahunnya. Tapi, Minseok malah menggantungkannya di pintu Minhee.

“Minhee-ya~ Oppa datang~” senandung Minseok riang sambil melongokkan kepalanya ke dalam. Terlihat Minhee sedang duduk di kursi belajarnya langsung menoleh ke sumber suara. Matanya langsung membulat dan wajahnya berseri-seri.

Oppa!” teriak Minhee senang lalu berlari ke pelukan Minseok. Minhee memeluk Minseok sangat erat seperti sudah lama tidak bertemu. Minseok menyukai ini.

Minseok membuatkan beberapa potong pancake untuk Minhee karena katanya adiknya itu belum makan apapun sejak siang. Sementara Minseok memasak, Minhee bersenandung di kursinya sambil menggenggam garpunya. Tak lama, piring pancake sudah berada di depan Minhee. Minseok menempatkan dirinya berhadapan dengan Minhee, lalu mengamati adiknya yang sedang makan sambil tersenyum.

“Oh, iya. Oppa tidak berkencan? Hari ini valentine. Setidaknya ada yang mengajak oppa keluar untuk berkencan.”

Minseok mendengus lalu terkekeh.

“Tidak ada yang mengajak oppa. Lagipula oppa tidak suka berkencan. Oppa lebih suka menghabiskan waktu bersama Minhee daripada dengan gadis lain,” jawab Minseok sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya lalu tersenyum lembut kepada Minhee.

Ya. Oppa sudah tua. Seharusnya oppa membawa pacar saat menemuiku,” protes Minhee.

“Apa kau ibu sekarang? Kenapa aku harus menemuimu dengan pacarku? Kau belajar darimana?” tanya Minseok sambil mendengus kesal.

“Mi Soo noona saja sering membawa namjachingu-nya kerumah,” jawab Minhee ngotot, lalu kembali melahap pancake-nya. Minseok tertawa pelan. Tangannya mengarah ke puncak kepala Minhee dan mengelusnya pelan.

Oppa tidak ingin membagi perhatian kepada gadis lain selain Minhee. Kau lebih berharga daripada seorang pacar. Oppa menyayangimu, Minhee-ya,” ucap Minseok pelan.

“Minhee juga menyayangi oppa,” balas Minhee dengan nada manja. Minseok hanya tersenyum senang mendengarnya.

****

“Ya. Apa noona mengatakan sesuatu? Seperti izin untuk Minhee?” tanya Luhan kepada Minseok di sela-sela makan siang di jam istirahatnya. Minseok menoleh sebentar untuk mencerna pertanyaan Luhan, kemudian kembali menghadap makan siangnya.

“Tidak ada.” Minseok kembali melahap ramennya sekali, lalu tiba-tiba menoleh kembali kepada Luhan. “Noona akan menikah dua hari lagi di Gereja Kota dan dia memintaku untuk mengundang kau dan yang lainnya ke acara pernikahannya. Kuharap kau mau pergi.”

“Tentu saja aku mau!” ucap Luhan ngotot, kemudian tersenyum lebar saat Minseok juga tersenyum padanya karena Luhan langsung menerima undangannya. Mereka berdua kembali memakan makan siangnya dalam diam. Tapi, keheningan itu tidak berlangsung lama. Chanyeol dan Jongdae datang dan bergabung di meja mereka berdua sambil meletakkan nampan makanan di atas meja. Luhan terheran-heran melihat Jongdae tersenyum sangat lebar (tidak biasanya dia seperti itu).

“Kau kenapa?” Luhan menatapnya heran. Jongdae segera mengangkat kepalanya ke arah Luhan lalu tersenyum kembali, menjadi lebih lebar dibandingkan awal tadi.

“Dia baru saja ditembak oleh Bomi.” Malah Chanyeol yang menjawab Luhan, bukan pelakunya. Membuat Jongdae memukul lengan Chanyeol dengan keras.

“Bomi? Yang mana?” Luhan makin bingung dengan nama Bomi. Sepertinya asing untuk telinganya.

“Siswi kelas 2-7 klub tataboga. Yang tahun lalu menang kompetisi memasak antar sekolah,” kata Minseok sambil mengaduk lagi ramennya, lalu melahapnya.

“Ah! Dia?! Wah, daebak[1]!” Luhan sangat takjub sekarang. Gadis yang pintar memasak dan cantik itu bisa jatuh hati kepada Jongdae. Yah, temannya itu tidak bisa dibilang jelek, dia berbakat dan wajahnya juga tampan. Tingginya rata-rata. Tak heran kalau Bomi menyukainya. Tapi, bukankah Bomi terkenal gampang jatuh cinta kepada siapapun?

“Kau harus pintar-pintar membuatnya senang kalau kau tidak mau dia jatuh cinta dengan yang lain.” Luhan menatap Jongdae serius. Senyum Jongdae hilang dan digantikan dengan anggukan. “Kau sudah tahu Bomi seperti apa, kan?” Jongdae kembali mengangguk. “Bagus.”

“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan sesenang kau kalau ditembak olehnya.” Chanyeol kini menimpali dan berkata sambil menunjuk-nunjuk Jongdae dengan sumpitnya.

“Kenapa? Kau iri?” Jongdae menjadi sedikit tersinggung karena perkataan Chanyeol. Dia tidak mengerti kalau Jongdae sudah lama menyukai Bomi, dan tidak ada yang tahu karena Jongdae sangat malu membicarakannya kepada siapapun tentang kehidupan percintaannya.

“Bukan begitu. Aku hanya tidak suka pacaran dengan orang yang tidak fokus pada pacarnya sendiri kemudian melirik yang lain.” Luhan dan Minseok mengangguk setuju saat Chanyeol berbicara seperti itu.

“Tapi, tidak ada salahnya kau mencoba dengan Bomi. Kelihatannya kau cocok dengannya.” Perkataan Minseok membuat Jongdae sumringah lagi. Senyumnya tidak pernah hilang sampai jam istirahat berakhir. Itulah yang namanya jatuh cinta. Kau tidak akan pernah berhenti memikirkan orang yang kau cinta. Kau akan sering tersenyum, bahkan bisa sampai tertawa sendirian saat mengingat apapun yang pernah kalian lakukan bersama. Walaupun Jongdae dan Bomi belum mengenal satu sama lain secara pribadi, hanya mengenal lewat prestasi mereka disekolah.

Ya, ya, ya! Kau ini! Berhentilah tersenyum. Aku tidak mau kau dianggap gila oleh yang lainnya.” Suho mendengus kesal setelah memukul punggung Jongdae kencang. Membuat Jongdae mengangkat tangannya hendak membalas Suho. “Kau begini hanya kepada Bomi. Kepada gadis-gadis yang juga menyukaimu kau tidak sesenang ini.” Suho kembali berbicara dengan kesal.

“Ini berbeda. Kau tidak mengerti bagaimana pera—maksudku, kekagumanku padanya.” Jongdae hampir saja membocorkan perasaannya yang sebenarnya pada Suho. Ia takut akan diejek kalau selama ini dia memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan sebelum Bomi menyatakan perasaannya pada Jongdae. Dia akan terlihat menyedihkan karena tidak bisa jujur dan berani. Terlihat Suho sedang mencerna perkataan Jongdae yang sempat terputus tadi. Membuatnya curiga adalah hal yang tak menyenangkan untuk Suho. Pria itu menatap Jongdae dengan mata menyipit, ditambah ekspresi yang seperti sedang mengintograsi pelaku kejahatan.

“Benarkah?”

“Te—tentu saja! Memangnya apa yang harus kusembunyikan?” Harus diakui kalau Jongdae tidak suka gagasan terakhirnya. Itu malah membuatnya makin terpojok. Lama Suho memandang Jongdae, mencari sebuah kebenaran yang tersembunyi lewat matanya. Akhirnya Suho menyerah dengan menghela napas panjang.

Geurae[2]. Aku percaya padamu.” Suho membuka buku pelajarannya sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan, mengacuhkan Jongdae yang sedang bernapas lega karena Suho tidak menanyainya lagi. Jongdae juga ikut membuka bukunya dan membaca sebuah materi secara acak dari sana. Baru akan membaca Jongdae seperti mengingat sesuatu, yang menyangkut Suho. Pria itu memutar badannya sampai menghadap Suho yang kini sedang serius belajar.

“Ah! Aku ingat! Ada nomor tidak dikenal menelponmu tadi. Karena kau sedang dikamar mandi, aku mengangkatnya dan ada suara perempuan disana. Mungkinkah—“

“Kau!” Suho memekik kesal sebelum Jongdae kembali melanjutkan perkataanya. Membuat Jongdae terkekeh pelan lalu kembali meninggalkan tatapan Suho yang sedang menatapnya tajam. Dengan ini, Jongdae bisa bernapas lega. Kalau dirinya sudah dipojokkan, orang yang memojokkannya harus lebih dipojokkan lagi. Salah satu prinsip Jongdae yang menguntungkan.

Ya. Noona Minseok hyung mengundang kita ke acara pernikahannya dua hari lagi,” ujar Sehun tiba-tiba kepada Jongdae dan Suho yang duduk di depannya.

“Dua hari lagi? Kebetulan itu hari sabtu. Kita bisa keluar dari asrama, kan?”

“Kau juga bisa mengajak Bomi kesana.” Jongdae langsung memukul belakang kepala Suho sampai kepala pria itu hampir mengenai mejanya. Perbuatan Jongdae yang begitu kasar langsung dibalas Suho dengan menendang kaki Jongdae dibawah meja. Begitu terus sampai Sehun jengah melihat mereka berdua dan memilih menarik dirinya lalu memutar badannya ke belakang—menghadap meja Chanyeol dan Baekhyun.

“Apa kalian berencana ke acara pernikahan noona Minseok hyung?” tanya Sehun semangat.

“Tentu saja. Aku sudah mengenal keluarga Minseok hyung termasuk Mi Soo noona sejak sekolah dasar dan dia begitu baik padaku. Tidak ada alasan aku tidak pergi ke acara pernikahannya,” jawab Baekhyun sambil tersenyum. Sehun mengangguk setuju lalu beralih kepada Chanyeol dan menatapnya seakan berkata “kau bagaimana?”.

“Aku tidak tahu. tapi, aku ingin.” Jawaban Chanyeol yang berbelit-belit membuat Sehun kesal.

“Bilang saja kau pergi, bodoh! Kau suka sekali menyulitkan dirimu sendiri.” Sehun berkata dengan kesal kemudian diikuti dengan kata serapah di dalam hati. Temannya ini memang menyulitkan!

Sehun menoleh kepada Kyungsoo. Pria itu segera menyadari kalau ia sedang ditatap Sehun dengan mengalihkan pandangannya dari buku tugasnya. Hari itu guru matematika tidak masuk dan wali kelas mereka memberikan beberapa soal yang harus dikerjakan. Sepertinya hanya Kyungsoo yang peduli dengan soal-soal rumit dan menyebalkan itu. Luhan yang biasanya rajin bahkan tidak mengerjakan sama sekali. Dia hanya beberapa kali menengok soalnya lalu kembali bersandar pada kursinya.

“Apa?” tanya Kyungsoo dingin. “Aku tahu kau mau bertanya aku ke acara pernikahan noona Minseok atau tidak. Jawabannya, aku pergi. Puas? Jangan ganggu aku lagi.”

“Ya! Aku bahkan belum membuka mulutku!” racau Sehun kesal. Namun, Kyungsoo seperti tidak mendengarnya dan terus mengerjakan soalnya tanpa merasa terganggu.

“Minseok hyung, katakan pada Mi Soo noona kalau kami akan pergi ke acaranya.”

“Oke!”

****

TBC….

Thanks udah mau baca dan silahkan berkomentar dan memberikan saran^^

4 thoughts on “Dorm (Chapter 9)

  1. xiubabyCHO berkata:

    aaa aku slalu suka sama ff yg ada disini… hwaighting.. jangan lama” lanjutannya

    dan miseok oppa, jangan gitulah kau juga perlu wanita dalam hidupmu bukan cuma meinhee doang heheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s