Precious Metals (Chapter 5 : New Rival)

project

Title                 : Precious Metals (Chapter 5 : New Rival)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 : EXO OT12

Genre              : Action, Brothership, Thriller, Adventure

Rating             : PG-13

Length             : Chaptered

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt.

Summary         : Pertemuan dengan Lee Taemin membuat emosi Kai tak terkendali. Hal itu memicu pertengkaran demi pertengkarang dengan pemimpin Monocerus, Luhan. Namun, ketika Luhan semakin muak dengan sikap anak buahnya itu, ia menemukan sesorang yang mencuri perhatiannya. Siapa?

Chapter 1 , Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4

.

-Precious Metals-

(New Rival)

.

(Previous…)Kai bungkam mendengar penuturan sahabat baiknya itu. Ya, ia memang telah banyak berubah. Dan ia tak bisa menyangkal ucapan Taemin tersebut.

“Maukah kau menginap barang semalam di apartemenku?” tawar Taemin.

Kai menautkan kedua alisnya. “Apa kau sedang mengajakku berkencan?”

“Ck! yang benar saja! ayo cepat. Waktuku tidak banyak.” balasnya menarik tubuh sahabatnya.

.

-Precious Metals-

.

Balkon apartemen menjadi tempat merenung bagi Taemin. Tak terkecuali pagi ini. Jarum jam masih menunjukan pukul enam. Namun matanya sudah enggan untuk terpejam. Untuk sekali, ia menoleh pada tubuh tinggi yang masih tergolek di ranjangnya. Jongin masih terlelap. Kadar alkohol yang ia tenggak tentu memberikan efek tersendiri. Mungkin bisa tiga sampai lima jam lagi sebelum sahabatnya itu benar-benar bangun dan sadar.

Diam-diam Taemin merasa prihatin. Melihat sahabat baiknya terjun ke dunia hitam sudah tentu meresahkan hatinya. Wajah polosnya telah berubah. Bahkan Taemin hampir tak mengenali sosok Jongin yang sekarang.

Taemin meraih benda kecil di sakunya. Memencet layar sentuh itu untuk menghubungi seseorang. Tak butuh menunggu lama, seseorang itu menjawab panggilannya.

“Hallo, Tuan Lee. Kau menemukannya?” suara dari seberang terdengar antusias. Taemin bergeming, melirik sesaat Jongin yang masih terbaring.

“Sepertinya aku membutuhkan waktu tambahan untuk menyelidiki orang yang bernama Kim Kai itu, Mr.Kim. Bisakah anda bersabar?”

“Mm, baiklah. Aku akan sedikit bersabar untuk informasi darimu.”

“Terimakasih. Aku sedang berusaha.”

Klik

Taemin menghembuskan nafas pelan. Sebagai seorang mata-mata profesional, tentu tidak susah baginya untuk mengumpulkan informasi dan menyerahkannya pada kepala kepolisian yang sudah sangat mempercayainya. Namun akan berbeda jika target yang diminta adalah Kim Kai. Pemuda seumuran yang bernama asli Kim Jongin adalah sahabatnya. Teman masa kecil yang dulu selalu melindunginya. Berdiri di depannya ketika ada anak lain yang mengganggunya. Sudah tentu Taemin harus berfikir seribu kali untuk menyerahkan Jongin-nya itu pada kepolisian. Tidak, Taemin tak sampai hati melakukannya.

Pikiran Taemin masih melayang ketika seseorang menjatuhkan diri di kursi sebelahnya.

“Oh, kau bangun?” sapa Taemin lembut.

Seperti biasa, Jongin hanya mengangguk sambil sesekali menguap. Tubuhnya ditekuk di kursi hingga menyerupai gulungan agar tetap hangat.

“Kupikir kau akan tidur hingga lima jam kedepan.”

“Aku tidak sepertimu yang memiliki banyak waktu luang, Taemin. Hidupku terlalu sibuk jika untuk tidur-tiduran seperti itu.”

“Ah, aku lupa. Kau memiliki banyak pekerjaan untuk mengotori tanganmu.”

“Jangan menyindirku seperti itu! Aku bosan.”

Taemin mendengus mendengar gerutuan Jongin. Satu yang tidak berubah, sahabatnya itu masih saja tak suka dinasehati. Ia bahkan langsung menggerutu sambil menutup mata.

“Ngomong-ngomong, sejak kapan kau tinggal di apartemen mewah seperti ini? Kau banyak uang sekarang?” Jongin membuka mata, menatap lurus pada Taemin.

“Mm..” jawab Taemin mengangguk. “Jika dulu kau bilang aku selalu membuang-buang waktu karena sering menguntit seseorang yang kusuka, sekarang justru keahlianku itu yang menjadikanku kaya.”

Jongin menaikan alis. Masih menatap Taemin dengan raut bingung. “Aku bekerja sebagai detektif swasta, Kim Jongin.”

Seketika mata Jongin melebar, ia berdiri, mencerkam kerah baju Taemin kasar hingga lelaki yang tak lebih tinggi darinya itu terbangun. “Apa maksudmu, Lee Taemin?? Kau membawaku kemari untuk menjebakku? Kau bekerjasama dengan kepolisian?” desis Jongin marah.

“Tunggu dulu, Jongin..uhukk..Yak! le..paskan.”

“KAU BRENGSEK! KAU BRENGSEK, LEE TAEMIN! KAU BUKAN SAHABATKU!!”

Jongin menghempaskan tubuh Taemin kasar. Lalu ia meraih jaket kulit miliknya, meninggalkan pemilik apartemen ini yang masih tersenggal di tempatnya.

.

-Precious Metals-

.

“Ya, hitam! kau sedang apa?” Sehun berdiri di ambang pintu, berkacak pinggang sambil meneriaki seseorang yang berada di dalam ruangan.

“Bisakah kau lebih manusiawi memanggilku, Oh Sehun? Aku tidak hitam!”

“Ck!” Sehun melangkah memasuki kamar milik Tao, menghampiri lelaki yang sedang tengkurap sambil asyik memainkan handphone-nya. “Kau memang tidak hitam, hanya saja….”

“Hanya apa? berhenti menggodaku. Memuakan, kau tahu!” gerutu Tao yang dibalas dengan tawa rendah Sehun.

“Diam Sehun! Jangan tertawa! Baekhyun menelponku.” lanjutnya.

“Hallo..” sapa suara dari seberang.

“Hai Byun! Bagaimana perjalananmu? Apa menyenangkan?” sambar Sehun. Tao hanya mencibir melihat ulah sahabatnya itu.

“Kau pikir aku sedang berlibur, eoh?” balas Baekhyun sewot. Membuat kedua orang yang berada di dalam Manor terkekeh pelan.

“Apa kalian baik-baik saja?”

“Uh? apa maksudmu? tentu saja kita baik-baik saja. Bahkan lebih baik tanpamu. Haha..”

“Berhenti bergurau Zi Tao! Aku tahu kau senang jika aku tak ada. Kau bebas menggoda gadis-gadisku.”

“Ya! aku tak menggoda gadis-gadismu, bodoh! Mereka yang terpesona olehku.”

“Bohong. Tao bahkan baru saja berkencan dengan bekas pacarmu, Byun.”

“Tutup mulutmu, Oh Sehun!”

“Hahahaha.” Sehun tertawa sambil mengusap kepalanya yang sukses mendapat pukulan dari Tao. Baekhyun hanya mendesah pelan di seberang. Sudah tak heran dengan tingkah dua temannya itu.

“Ngomong-ngomong, ada apa? Apa pekerjaanmu terlalu berat hingga kau menelpon kami?”

“Dia hanya menelponku, Sehun. Tidak menelponmu.”

“Sama saja, bodoh!”

“Aku bahkan tidak memiliki pekerjaan di sini. Kris meninggalkanku dalam ruangan berisi peralatan teknologi terbarunya. Tapi aku tak bisa melakukan apapun karena dia tak memerintahkanku bergerak.”

“Hahaha, percuma sekali. Lebih baik kau pulang ke Korea. Kita bisa bersenang-senang di sini.”

“Jangan senang dulu, Tao. Kalian harus berhati-hati.”

“Eh? Apa maksudmu?” Tao dan Sehun saling melemparkan pandangan bingung.

“……”

“Baekhyun?”

“……”

“Ya! Byun Baekhyun, kau masih di sana??!” Seru Sehun gemas.

“Ya..ya..aku mendengar kalian.”

“Ck! Jawab aku bodoh! Jangan membuat kami khawatir!”

“Tidak. Hanya saja kalian harus lebih berhati-hati. Terutama kau, Zi Tao.”

“Aku? kenapa harus aku?”

“Karena kau ceroboh, tentu saja! Setidaknya jangan melakukan hal-hal yang membahayakan. Dengarkan apa kata Sehun.”

“Huh? Kenapa aku harus mendengarkannya? Aku bahkan lebih tua darinya!”

“Ya, aku tahu. Tapi jangan lupakan bahwa aku lebih tua darimu, Huang Zi Tao! Jadi, jangan membantahku!”

Klik

Tao mengumpat karena Baekhyun memutuskan panggilan sepihak. Di sampingnya, Sehun terkekeh-kekeh melihat kegusaran sahabatnya.

“Apa? Kau mau membanggakan diri karena Baekhyun selalu saja membelamu? hah?” Tao semakin kesal karena Sehun meliriknya sambil tertawa.

“Hei, kenapa kau marah padaku? Aku bahkan tidak ikut campur pembicaraan kalian. Baekhyun tentu tahu siapa yang lebih handal di antara kita. “ balas Sehun tak terima.

“Terserah kau saja!”

.

-Precious Metals-

.

Luhan berjalan mengelilingi ruangannya dengan gusar. Giginya gemeretak, jari-jari tangannya bertautan. Terasa kaku dan ingin segera melampiaskan kekesalannya pada siapa saja.

“Dimana orang itu, Jongdae?” desisnya rendah. Lelaki yang dipanggil Jongdae itu hanya menunduk. Sesekali melirik pada lelaki pendek di sampingnya yang sama-sama masih bungkam.

“Minseok!” kini giliran Luhan memanggil lelaki di sebelah Jongdae.

Mereka tak bergeming, masih mempertahankan kebisuan yang sedari tadi menyelimuti keduanya. Hal itu tentu memicu kemarahan lain bagi Luhan.

“APA KALIAN TULI?? ATAU LIDAH KALIAN TAK BERFUNGSI, HAH??” Bentak Luhan kesal. Sungguh, jika ia sedang memegang revolver, bisa dipastikan kepala keduanya telah tertembus peluru. Atau jika ia sedang memegang belati kesayangannya, tentu Luhan tak segan-segan memutus urat nadi mereka hingga tak ada lagi darah yang mengalir.

Luhan sedang marah. Dan membiarkannya seperti ini bukan ide yang bagus. Namun apa yang bisa kedua anak buahnya itu lakukan? Satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kemarahan pemimpin Monocerus itu tak ada di tempat. Dia menghilang. Dan kedua anak buah yang tak beruntung itu harus menanggung kesalahannya. Kim Kai harus membayar mahal atas ini!

Kreek

Pintu ruangan terbuka. Menampilkan visual yang sedari tadi menjadi biang masalah ini. Kai berjalan sambil menyampirkan jaket kulit hitam di bahunya. Melenggang melewati mereka yang sedang bersitegang tanpa minat.

“Dari mana kau? hah?” seru Luhan.

Kai berhenti. Berbalik menatap pemimpinnya.

“Apa kau berganti peran, Luhan? Apa kau sekarang mempedulikanku seperti ibuku?” balas Kai sarkatis. Lelaki itu masih diselimuti rasa kesal pada sabahat kecilnya, Lee Taemin. Dan sekarang, Luhan membentak-bentak tanpa sebab yang jelas.

“Brengsek! Jaga mulut busukmu, Jongin!”

“Kenapa? Kenapa kau selalu berlebihan seperti itu?! Aku muak, Luhan! Aku butuh istirahat!”

Buugh!!

Bukan tangan Luhan yang mendarat mulus pada wajah Kai. Namun tangan lain. Tangan yang lebih kekar bahkan untuk ukuran Kai sekalipun.

“Matilah jika kau bosan hidup.” desisnya sarat kebencian.

Kai mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Tak berniat memandang orang yang telah melukainya. Kai diam. Hanya membuang muka setelah berdiri tegap kembali.

“Aku membutuhkanmu, Chen.” lelaki itu beralih pada anak buahnya yang lain. Chen mengangguk. Menyanggupi permintaannya.

“Kau pergi sekarang, Lay?”

Lelaki yang dipanggil Lay mengangguk pelan. Menepuk pundak Luhan sebelum beranjak.

“Mereka harus membayar mahal atas semua ini. Aku berani bersumpah, ini ulah mereka.”

“Ya. Aku percaya. Berhati-hatilah.”

“Mm. Bereskan sisanya. Aku tahu kau mampu.”

“Tentu.”

.

-Precious Metals-

.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” Kai tak bisa menahan rasa penasarannya ketika mendengar percakapan dua pemimpinnya tadi. Ia menuntut penjelasan. Tentu saja pada Xiumin, satu-satunya rekan yang tersisa.

“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang terjadi denganmu? kenapa kau menghilang begitu saja?” balas Xiumin sebal.

Kai mendengus pelan. “Ya, aku minta maaf. Aku bermalam di tempat sahabatku.”

“Lalu?”

“Lalu apanya? Lalu aku kembali dan Lay memukulku, kau tahu sendiri!”

Xiumin terkekeh mendengar jawaban Kai. Ia mencomot gelas vodka, meneguknya hingga tak tersisa. “Pernah kau bertanya-tanya mengapa kubu Draconisius menjarah hasil selundupan kita waktu itu?” tanyanya.

Kai menoleh, memandang heran Xiumin. “Karena mereka memang licik. Mereka hanya ingin mengambil keuntungan tanpa harus bersusah payah. Mereka brengsek!”

Xiumin mendengus. “Lebih dari itu, Kai.”

“Maksudmu?”

“Mereka tahu rencana lain Lay dan Luhan. Mereka tahu selundupan sebenarnya bukan emas-emas itu. Mereka tahu kita memiliki pasokan narkoba yang sedang dalam proses penarikan ke Korea. Mereka tahu itu semua. Kau paham?”

“Hah?”

“Ya. Dan mereka telah mengibarkan bendera perang sejak awal. Mereka lebih dari sekedar licik!”

“Brengsek! Kris Wu benar-benar brengsek! Dia tak pernah becus mengurusi pekerjaannya. Dia hanya bisa merusuh urusan orang lain!”

“Itulah kehebatan Kris Wu.”

“Hebat katamu? dia bahkan hanya mampu menjarah, Minseok!”

“Jika dengan menjarah saja dia bisa mendapatkan untung, ditambah pergerakannya tak terbaca oleh kepolisian, untuk apa dia bersusah-susah mencari ‘lahan’ seperti Lay dan Luhan?”

“Maksudmu?”

Lagi-lagi Xiumin mendesah. “Cepat atau lambat kepolisian akan tahu kejahatan kita. Sedangkan hasil kejahatan kita sendiri malah dinikmati oleh Kris Wu. Kita hanya menjadi kambing hitam, Kai. Kita telah dibodohi kubu naga itu!”

Kai terkesiap. Baru menyadari keadaan ini. Xiumin benar. Ternyata Kris Wu lebih cerdas dari yang ia duga. “Kau benar. Kris Wu, astaga!”

“Kau pikir kenapa Luhan marah-marah padamu? hah? Kita sedang dalam keadaan terancam. Dan kau asyik berkeliaran bersama siapa itu.”

“Sahabatku.” ralat Kai. Seketika pikirannya melayang pada sosok Taemin. Apakah karena masalah ini Taemin mencarinya? Apa karena polisi tengah menyelidikinya? Tidak, tidak. Ia belum sepenuhnya yakin bahwa Taemin akan berbuat itu padanya. Dalam hati ia masih mempercayai sosok Taemin yang selalu ada untuknya.

.

-Precious Metals-

.

“Belum ada kabar, Ketua?”

“Belum.”

“Kaki tanganmu itu, si Tuan Lee, dia belum memberi kabar?”

“Belum.”

“Sungguh belum?”

“Mm.”

“Sedikitpun?”

“Ya! Park Chanyeol! Bagaimana bisa kau bicara seperti itu pada atasanmu, eoh?” D.O menyambar pertanyaan-pertanyaan Chanyeol. Ia gemas, mendengar koleganya bicara tidak sopan pada atasannya membuatnya ingin menyumpal mulut polisi itu. Untung saja Suho memiliki kesabaran ekstra. Tak bisa ia bayangkan jika sifat Suho menyerupai Chanyeol. Tentulah kantor ini akan menjadi neraka baginya.

“Tidak biasanya Tuan Lee seperti ini. Dia meminta waktu tambahan. Padahal sebelumnya ia hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari untuk menemukan target.”

“Apa Kim Kai bukan orang sembarangan?” tanya D.O

Suho mengangguk. “Aku rasa begitu. Aku telah mencurigainya sejak awal.”

“Lalu jika kau mencurigainya kenapa kau melepaskan orang yang jelas-jelas sudah ada dalam genggaman kita?” timpal Chanyeol. Ia bingung. Tak mengerti arah pergerakan atasannya.

“Jika dengan membuang ikan teri kau bisa mendapat ikan salmon, apa yang akan kau lakukan?” tanya Suho.

“Tentu saja membuang teri.”

“Nah, itu yang sedang ku lakukan.”

“Maksudmu?”

“Maksud Suho, dia sedang menjadikan Kim Kai umpan untuk penyelidikan kita selanjutnya, Park Chanyeol!”

Chanyeol ganti memandang D.O, “Benarkah?”

“Mm.”

“Jadi, Suho. Sebenarnya siapa itu Kim Kai? Apa dia orang berbahaya? Ah, kenapa membingungkan sekali.”

“Entahlah. Tapi aku rasa dia ada hubungannya dengan organisasi Draconisius.”

“Benar. Aku juga merasa demikian. Bahkan aku tak sepenuhnya percaya jika ia hanyalah korban kejahatan Draconisius. Aku rasa, dia lebih seperti saingan bisnisnya.” D.O ikut menyuarakan pemikirannya.

“Ternyata pemikiran kita sama, Do Kyungsoo.” timpal Suho.

“Benarkah kau berfikir demikian?” tanya Chanyeol heran. Sepertinya hanya dia yang tidak memiliki asumsi sendiri.

Suho mengangguk. “Karena hanya itu kemungkinan terbesarnya.”

.

-Precious Metals-

.

“Aku hanya memintamu berhati-hati. Cepat atau lambat polisi akan mengetahui identitasmu, Kai.”

“Tidak. Tidak semudah itu, Luhan. Aku bukan orang baru dalam menghadapi masalah seperti ini. Jadi berhenti mengkhawatirkanku seperti itu!”

“Aku tidak mengkhawatirkanmu!” Luhan menaikan nada suaranya. “Aku yang mengambil alih kekuasaan Monocerus selama Lay tak ada. Aku bekerja sendiri saat ini. Bisakah kau sedikit patuh dan tidak menyusahkanku terus-menerus?”

“Oh, jadi aku itu menyusahkan bagimu?” sengit Kai.

Luhan mendelik, “Kau masih bertanya? Bahkan semuanya sudah jelas! Kau tak lebih dari sekedar pembuat masalah!”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau bahkan sudah mengeluh hanya beberapa menit setelah Lay pergi. Kau..kau tak pantas memimpinku!”

“Lantas apa maumu sekarang, hah?! Katakan, Kim Jongin! Aku muak dengan sikap pembangkangmu!” sambarnya. Luhan geram. Tak lagi bisa mengendalikan kesabarannya menghadapi Kai. Lelaki berkulit gelap itu pergi, mengabaikannya yang masih tersenggal menahan emosi.

“Apa yang terjadi, Luhan?” tanya Xiumin menghampiri.

“Jangan bicara padaku!”

.

-Precious Metals-

.

Termenung dalam ruangannya, kekesalan Luhan tak kunjung reda pada salah satu anak buahnya. Ia mendesah, menghembuskan nafas berat sambil sesekali memejamkan mata. Sudah pukul satu. Dan dia masih saja tak bisa menstabilkan perasaannya.

“Brengsek!” Lelaki itu beranjak dari sofa empuk yang sedari tadi ditidurinya. Ia keluar. Melangkahkan kaki meninggalkan Mansion.

Luhan menghirup udara malam dalam-dalam. Rasanya sudah sangat lama ia tak merilekskan tubuh seperti ini. Dalam beberapa bulan terakhir, hidupnya seperti robot tempur yang berkelana kesana kemari demi menjaga eksistensi Monocerus. Luhan mendudukan diri di pembatas jembatan. Kakinya dibiarkan mengantung di udara. Kepalanya tertutup hoodie supreme yang menghalau dinginnya angin malam. Ia membuka kaleng soda yang tergenggam di tangan. Meneguk isinya sedikit demi sedikit, seolah ingin menikmati suasana hening lingkungan itu. Nyaman, tak ada yang lebih menenangkan baginya selain kesunyian seperti ini.

Sekitar lima belas menit ia duduk terdiam. Menikmati genangan air sungai yang memantulkan cahaya rembulan. Jiwanya yang sedang melayang seketika seperti ditarik kembali menuju kenyataan ketika samar-samar terdengar langkah kaki mendekat. Lebih tepatnya, seseorang berlari ke arahnya.

Ramai sekali. Luhan dapat mendengar puluhan kaki berlari yang disusul dengan suara teriakan dan segala umpatan. Ia mengedarkan pandangan, mencari tahu sumber suara. Matanya menangkap siluet seseorang menuju ke arahnya. Berlari cukup kencang seolah ada yang sedang mengejar di belakang. Oh, benar saja. Memang ada seseorang yang mengejar. Bahkan bukan hanya seseorang. Hampir lima belas orang berpakaian hitam mengejar orang itu. Tertinggal di belakang sambil meneriakinya. Luhan menyimpulkan bahwa orang tersebut telah mencuri sesuatu dan kepergok masa. Ya, sepertinya memang begitu.

Luhan hanya mengamati pemandangan di depannya. Masih duduk tak bergeming di tempatnya. Dalam hati, ia memuji kegigihan sang pencuri –setidaknya menurut asumsinya- itu yang terus saja berlari tanpa henti. Membuat para pengejarnya semakin tertinggal. Diam-diam ia tertawa kecil. Jalan itu, Luhan tahu persis jalan yang ditempuh oleh sang pencuri itu adalah jalan buntu. Seberapapun pencuri itu berlari, ia pasti akan tertangkap. Kecuali jika pencuri itu berbelok dan melompati sungai ini. Sayangnya, lebar sungai tak kurang dari dua puluh meter. Siapapun pasti akan tercebur dan mati terseret arus derasnya jika memaksakan diri untuk melompat.

“Kasihan sekali” batin Luhan.

Ia semakin lekat mengamati orang yang sepertinya mulai menyadari kesialannya itu. Penasaran dengan nasib sang pencuri itu. Apa ia akan mati di keroyok massa? Atau orang itu akan berbalik dan menghadapi satu persatu pengejarnya? Luhan bertaruh opsi pertamalah yang akan menjadi akhir opera sabun yang sedang dinikmatinya itu.

“Ah, padahal pencuri itu masih muda. Sayang sekali hidupnya harus berakhir seperti itu.”

BYUUURRRR!!!!!

Butuh beberapa detik bagi Luhan untuk mengendalikan keterkejutannya. Pencuri itu, pencuri itu memilih opsi kedua alih-alih berbalik arah. Menceburkan diri ke dalam dinginnya air sungai. Ditambah arus yang bukan main ini terlihat begitu mengerikan. Luhan bergidik, membayangkan tubuh itu hancur tertabrak bebatuan yang sudah pasti sangat menyakitkan. Di seberang, para pengejarnya berkumpul di samping pembatas dengan raut muka yang hampir sama. Mereka juga terkejut, tak menyangka targetnya akan bunuh diri sesadis itu. Satu per satu dari mereka pergi meninggalkan tempat dengan langkah gontai. Mereka gagal mendapat mangsa.

uhukk…uhukk…uhukk

Luhan mencondongkan tubuh ke arah sungai ketika mendengar sebuah suara. Suara batuk seseorang dari sana. Matanya melebar. Pencuri itu belum mati. Pencuri itu hidup. Tubuhnya bergelayutan di pinggir sungai dengan kepala menyembul ke permukaan. Luhan melompat dari tempatnya. Menghampiri orang itu.

Ia berjongkok, mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh tubuh basah di depannya. Orang itu duduk di samping Luhan. Memeluk lututnya yang di tekuk di depan dada. Ia menggigil, Luhan tahu itu. Tanpa sadar, ia membuka hoodie dan menyerahkannya pada tubuh yang sedang kedinginan.

“Pakai ini. Tubuhmu basah.”

Orang itu mendongak, menatap Luhan tepat pada matanya. Seolah sedang memastikan bahwa Luhan adalah orang baik. Luhan tersenyum, memakai topeng yang membuatnya seperti remaja polos. Dan seperti orang-orang yang lain, pemuda di depannya akan dengan mudah mempercayainya. Ya, karena itu adalah keahliannya.

“Terimakasih.”

Tanpa basa-basi orang itu menanggalkan kaos basahnya. Mengganti dengan hoodie milik Luhan yang sepertinya sedikit kekecilan. Ia menaikan tudungnya, persis seperti Luhan ketika mengenakan hoodie tersebut.

“Sepertinya kau bermasalah dengan orang-orang tadi.” celetuk Luhan. Orang itu mendesah. Menyelonjorkan kaki dengan sempurna ke arah depan.

“Memang.”

“Dan kulihat sepertinya kau juga pembuat onar.”

Orang itu tersenyum kecil. “Ya. Dan kau adalah peramal.”

Luhan mengedikan bahu. Ikut menyelonjorkan kaki seperti yang orang itu lakukan.

“Apa masalahmu dengan mereka?” tanyanya.

Orang itu tak menjawab. Masih menatap lurus hamparan sungai yang sempat menenggelamkannya.

“Baiklah, aku tak memaksamu bercerita.”

“Apa itu kata-kata jebakan? Sepertinya kau sangat ingin tahu masalahku.”

Luhan tersenyum kecil mendengar jawaban itu. “Ternyata kau cerdas.”

“Hei, apa tampangku seperti orang bodoh? Jangan menghina, Tuan!”

“Haha, tidak-tidak.” elak Luhan mengibas-ibaskan tangan. “Bukan begitu maksudku.”

“Lalu?”

“Aku baru saja melihatmu melakukan tindakan konyol dengan menceburkan diri ke dalam sungai. Apa berlebihan jika aku meragukan otakmu itu?”

Orang itu mencibir. “Lantas apa yang harus aku lakukan jika terjebak situasi seperti itu? Aku tak sebodoh itu untuk menghadapi mereka semua. Aku cukup tahu diri.”

“Ah, begitu. Jadi kau lebih memilih mati terseret arus?”

“Tentu saja! Lebih baik mati terseret arus daripada mati ditangan bandit-bandit itu. Menjijikan!”

“Kau cukup punya harga diri ternyata. Boleh ku tahu namamu?”

Butuh lima detik bagi orang itu untuk menjawab. “Young Dal. Namaku Kim Young Dal.”

“Hmm, Kim Young Dal. Apa kau benar-benar tak punya pekerjaan lain selain mencuri?”

“Uh? Apa maksudmu? Aku memang pengangguran. Tapi aku bukan pencuri!”

Luhan mengangguk-angguk. “Jika kau butuh pekerjaan, datanglah padaku. Sepertinya pekerjaan menantang adalah yang paling cocok untukmu.”

Orang itu tertawa mendengus. “Lalu kau akan memasukanku ke dalam kandang Monocerus? Yang benar saja, Luhan!” batinnya.

.

.

.

to be countinue…

15 thoughts on “Precious Metals (Chapter 5 : New Rival)

  1. Rosepixylalala... berkata:

    kaget aku di akhir itu.. kok dia tau luhan?
    dia siapa? dan dia sampe dikejar2 bandit trus nyebur sungai , apa itu cuma rekayasa buat nemuin luhan biar gk curiga?..
    penasarann,, ditunggu kelanjutannya🙂

  2. kyunghyun11 berkata:

    Aaaaa.. eonni siapa itu? Siapa Kim Young Dal?Kok bisa tau itu Luhan? Aihhh bikin penasaran aja. Next eon.. ditunggu.
    Keep Writing!! ^^

  3. Nuraya berkata:

    Terkejut sama part terakhir😮
    kim young dal, aku tau itu pasti sehun~
    Sehun, jangan macam2 ya sama luhanku😛

    next thor, penasaran bingitz~~😉

  4. Raaaaaa berkata:

    DAEEEEBAAKKKK!!!
    Semakin buat penasaran, sumveh! itu pasti sehun kan thor??? aaaaaaa yaakin itu pasti sehun.
    daripada penasaran gini mending cepetan di lanjut. ff ‘ REFLACTION’ juga jangan lupa thor..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s