Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 9

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 9

Author : BaoziNam

Main Cast :

            -Cindy Chou (OC)

            -Tao as Zitao

            -D.O as Kyungsoo

            -Luhan as Luhan

            -Kris as Kris

            -Park Chanyeol as Chanyeol

Additional Cast :

            -Luna f(x)

            -Jessica SNSD

            -Sandara 2NE1

            -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic saya. No plagiat! Thanks ^^

 

****

            Esoknya, Cindy kembali mendapat ‘pesan cinta yang mengharukan’ dari semua mahasiswi yang dulu pernah menghinanya saat kejadian Kris di radio. Tapi, sekarang bukan hanya mahasiswi, semua orang pengguna internet (terutama netizen) sudah mengirimkan komentar-komentar di suatu situs blog terkenal yang selalu membahas tentang artisnya terutama skandal.

            Ini tidak bisa dilalui begitu saja oleh Cindy. Gadis itu menjadi sangat terpuruk karena skandal itu. Bukan hanya pekerjaannya yang hancur, harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya. Karena hal itu, dia tidak pergi ke kampus dan memilih tidur dirumah (bukan rumah Kris).

            Chanyeol tentu saja khawatir padanya dan memilih untuk tidak pergi ke kantor hanya untuk menemani tunangannya. Chanyeol bisa saja masuk ke dalam kamar Cindy, tapi pria itu tahu batas-batas yang harus dia perhatikan. Chanyeol ingin menghampiri gadis itu dan menemaninya. Tapi, Cindy tidak merespon apapun setiap kali pria itu mengetuk pintu. Mungkin dia butuh ketenangan, pikir Chanyeol.

            Sementara itu, di dalam kamar Cindy sedang terlelap di dalam balutan selimutnya yang sampai menutupi seluruh tubuhnya. Tidak bergerak sama sekali semenjak dua jam yang lalu ia memulai tidur. Ponselnya terus menyala, menandakan ada panggilan masuk untuknya. Setelah beberapa lama tidak diangkat, panggilan itu mati dengan sendirinya, dan menampilkan layar dengan angka 489 pesan belum dibaca dan 56 panggilan tidak terjawab. Cindy sudah memecahkan rekornya untuk hari ini. beberapa menit kemudian datang lagi panggilan yang ke-57 untuknya.

            “Cindy, sudah waktunya makan siang. Bisa kau bangun sekarang?” Chanyeol sudah berdiri di depan pintu dengan nampan makanan. Tapi, tidak ada respon berarti dari Cindy. Chanyeol menghela napas kecewa. “Aku akan menaruh makanannya di depan pintu. Kau harus memakannya, oke?” Lalu chanyeol pergi setelah meletakan makanan di depan pintu.

            “Aku sudah bangun, Yeol.” Cindy mengeluh di kasurnya. Gadis itu lalu duduk di atas kasurnya dengan mata masih tertutup rapat. Kepalanya pusing tidak tertahankan karena terlalu lama tidur. Sekarang ia mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya itu, ia ketikan beberapa pass untuk membuka kunci. Matanya langsung membulat saat melihat banyaknya pesan yang ia terima dan panggilan yang tidak terjawab selama dia tidur. Terlebih dahulu ia mengecek daftar panggilan.

            Kebanyakan didominasi nama managernya. Setiap menit wanita itu menelponnya. Mungkin dia syok mengetahui artisnya mendapat skandal. Begitu juga dengan Cindy sendiri. Diantara daftar yang menjemukan itu, ada nama Zitao yang memanggilnya tiga kali, Luna lima kali dan Jessica enam kali. Setelah itu managernya. Cindy kembali kaget mendapati nama “Pria Cina yang menyebalkan” di daftarnya. Nama yang diberikan Cindy untuk Kris. Pria itu menelponnya lebih banyak dan lebih sering dari teman-temannya. Cindy malah merasa aneh kenapa pria itu menelponnya.

            “Sekarang dia peduli, nih?” tanya Cindy dengan ekspresi aneh, lalu kembali melihat daftar. Saat dia melihat nama Luhan yang menelponnya, senyumnya mengembang lebar. Entah kenapa dia jadi senang hanya karena nama Luhan. Padahal hanya beberapa kali saja Luhan menelpon.

            Tok! Tok! Tok!

            “Cindy, kau sudah bangun?” tanya Chanyeol pelan.

            “Hmm.”

            “Boleh aku masuk?” tanya Chanyeol sekali lagi.

            “Masuklah,” jawab Cindy sekenanya. Lalu terdengar bunyi klik bersamaan dengan Chanyeol yang masuk ke dalam kamarnya kemudian menutupnya lagi. Kini Chanyeol berada di kamar Cindy. Pria itu bingung harus melakukan apa. mendekati Cindy? Atau menatapnya begini?

            Menyadari Chanyeol tidak kunjung bergerak dari pintu, Cindy berkata tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya. “Kemarilah,” perintah Cindy.

            Dengan canggung, Chanyeol mendekati Cindy dan dengan bodohnya ia berhenti dan mematung di samping Cindy, tanpa ada keinginan untuk lebih mendekat.

            “Kau ini kenapa? Kemana keberanianmu saat pertama kali kita bertemu? Bukankah kau mendekatiku tanpa canggung dan memintaku untuk menikah denganmu? Kemana jarak dua senti kita waktu itu?” tuntut Cindy, membuat Chanyeol tambah canggung dan mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Dasar bodoh,” ejek Cindy.

            “Hei! Ini situasinya berbeda dengan kemarin. Kau tidak mengerti,” bantah Chanyeol dengan suara yang semakin mengecil.

            “Apa yang tidak aku mengerti tentangmu, huh? Sudah cukup aku mengerti kau selama satu tahun. Memangnya apa yang tidak aku ketahui? Bodoh dan aneh,” ejek Cindy makin menjadi-jadi.

            “Ya! Aku tidak seperti itu!” pekik Chanyeol marah.

            “Ya! Kau membunuh telingaku, bodoh!” Cindy lebih marah kepada Chanyeol.

            “Maaf,” ucap Chanyeol kalut. Mendengar itu, Cindy terkekeh pelan lalu berdiri untuk memukul kepala Chanyeol pelan, membuat Chanyeol bersemu merah dibuatnya.

            “Ya! Kau memerah,” ucap Cindy terkejut kemudian tersenyum menyeringai.

            “Tidak! aku hanya kepanasan,” bantah Chanyeol yang menurut Cindy tidak beralasan itu malah membuat Cindy gemas.

            “Duduklah. Temani aku hari ini,” ucap Cindy lembut sambil menepuk-nepuk kasur untuk duduk di sampingnya. Chanyeol pun merangkak dan duduk di samping Cindy dengan penuh kecanggungan dan kegugupan.

            Cindy tetap acuh dengan kehadiran Chanyeol. Yang diherankan Chanyeol, kenapa gadis disebelahnya ini tidak merasa canggung saat berada di dekat laki-laki, seperti apa yang dirasakan Chanyeol sekarang ini.

            Apa Cindy tidak menyukainya?

            “Kau.. sedang apa?” tanya Chanyeol gugup.

            “Apa kau gugup, Yeol? Hahaha.. tidak seperti dirimu,” komentar Cindy saat melihat pria itu gugup setengah mati. “Aku hanya mengecek pesan-pesan. Aku dapat 489 pesan dari nomor-nomor yang tidak dikenal,” jawab Cindy kemudian.

            “Dari haters-mu itu? Darimana mereka dapat nomormu?” tanya Chanyeol sambil mendekatkan kepalanya lebih dekat untuk melihat layar ponsel Cindy.

            “Tidak tahu. Tapi, aku yakin ini dari mahasiswi yang dulu pernah menghinaku. Entah kenapa mereka jadi sangat menggelikan,” ucap Cindy dengan nada ynag semakin mengecil.

            “Hapus saja,” ucap Chanyeol mantap. “Kalau mereka masih mengirim sms, matikan saja ponselmu. Daripada rusak,” sambung Chanyeol lagi. Cindy menoleh.

            “Tumben sekali kau bisa memberikan saran,” ucap Cindy datar. Namun terdengar seperti ejekan bagi Chanyeol, membuat pria itu kesal setengah mati.

            “Ya!” teiak Chanyeol kesal sambil memukul belakang kepala Cindy dengan kepalan tangannya yang besar, membuat gadis itu hampir tersungkur ke depan.

            “Kau! Berani sekali kau memukulku!” marah Cindy sambil memegangi kepalanya yang semakin berdenyut.

            Gadis itu memukul kepala Chanyeol lebih keras sampai menimbulkan bunyi pletak yang sangat menyakitkan. Chanyeol tidak mau kalah. dia malah mengambil bantal yang berada di dekatnya dan memukul dengan itu tepat di depan muka Cindy. Terjadilah perang ketidaksukaan antara mereka berdua, dengan bantal sebagai senjatanya.

            Peperangan yang awalnya menakutkan dan menyakitkan, berubah menjadi kesenangan dan tawa disetiap pukulan. Perang itu berakhir dengan kedua orang yang terjatuh di kasur karena capek. Satu menit kemudian mereka tertawa bersama sambil menatap satu sama lain.

            “Ini menyenangkan,” gumam Cindy tertawa.

            “Tentu saja,” balas Chanyeol sambil tersenyum ke arah Cindy.

            Selang beberapa menit mereka berdua terdiam lagi. hanya terdengar suara deru napas yang memburu dari Cindy dan Chanyeol. Tanpa disadari pemiliknya, senyum lebar yang manis terukir begitu saja di bibir Chanyeol.

            “Apa kau sudah melupakan kejadian hari ini?” tanya Chanyeol. Tiba-tiba, Cindy terbelalak lalu duduk di kursi. Tangannya terkepal lagi dan memukul perut Chanyeol keras.

            “YA! Kau jahat, Yeol! Padahal aku sudah melupakannya,” jawab Cindy sedih.

            “Maaf,” sesal Chanyeol kemudian.

            Cindy menoleh, mendapati Chanyeol yang menyesal. Ia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut coklat itu dengan halus.

            “Tidak apa-apa. Teirma kasih sudah menghiburku,” ucap Cindy lembut. Chanyeol kembali terperangah, menunduk malu dan kembali bersemu merah.

            “Ah, itu bukan masalah,” gumam Chanyeol pelan, namun Cindy masih bisa mendengarnya, membuat Cindy tersenyum lembut karena tingkah Chanyeol yang lucu.

            Kau memang baik, Yeol. Terima kasih.

****

            Sampai malam hari datang, gadis itu tidak keluar dari kamarnya. Lampu kamarnya tidak dinyalakan. Hanya cahaya bulan yang menembus kaca sebagai penerangan. Rambutnya acak-acakan, kaos tipis yang kusut, juga keadaan kamar yang berantakan. Gadis itu seperti kehilangan nyawanya. Dia tidak ingin melakukan apapun selain membaca pesan-pesan dan komentar-komentar di internet. Ponselnya tidak berhenti berkedip karena pesan masuk. Resikonya pasti ponselnya akan rusak. Namun, dia harus tetap menyalakannya untuk berjaga-jaga bila Luhan atau Kris atau siapapun menelponnya. Dia butuh seseorang untuk mendengarkan curhatnya.

            Tiba-tiba ponselnya bergetar hebat, menandakan ada telpon untuknya.

            “Kyungsoo?” gumam Cindy dengan kening berkerut. Jempolnya menyeret ikon hijau di layar lalu menempelkannya di telinga.

            “Yeoboseyo?” sapa Cindy cepat.

            “Sepertinya kau tidak baik-baik saja,” ucap Kyungsoo di seberang dengan suara datar.

            “Memang tidak. Terima kasih sudah memperhatikanku.”

            “Apa kau kesepian?”

            “Tidak juga. Tadi ada yang datang menemaniku dirumah, tapi sekarang dia pergi.”

            “Baguslah. Kalau begitu telponku tidak penting lagi, kan.”

            “YA! Bukan begitu!”

            “Lalu?”

            “Duh, Kyungsoo. Jangan buat aku tambah pusing. Cukup kau katakan apa tujuanmu menelpon.”

            “Hanya ingin buang gratisan. Tadi aku dapat gratis nelpon, jadi aku menelponmu. Hanya kau yang aku kenal di kontak.”

            “Cih, alasan.” Gadis itu mulai terkikik dengan alasan Kyungsoo yang aneh. Hanya dia? Berarti dia tidak mengenal ibunya gitu?

            Percakapan menjadi hening. Cindy menjauhkan ponselnya, menatap layar yang hidup kembali dan mendapati telpon masih tersambung.

            “Ya! Kyungsoo-ya! Kau masih hidup kan?!” panggil Cindy sekuat tenaga.

            “Sembarangan! Yaiyalah, bodoh.”

            “Kalau begitu bicaralah. Aneh rasanya kalau kau tidak berbicara. Keluarkan keahlian berbicaramu itu.”

            “Keahlianku bukan bicara.”

            “Lalu?”

            “Akan aku tunjukan di kampus nanti. kau pasti tercengang dengan keahlianku itu.”

            “Cih. Percaya diri sekali kau. tapi, aku tidak bisa pergi ke kampus besok. Aku harus meredakan skandal itu dulu baru aku bisa kesana.”

            “Ah, aku lupa kalau kau sedang dimusuhi banyak orang. Kalau begitu, kau datang saja kerumahku.”

            “Kau yakin dengan ajakan itu?”

            “Kenapa memangnya?”

            “Dasar bodoh! Aku bisa kena skandal lagi!”

            “Tidak akan. Pinjam saja mobil pacarmu.”

            “Pacar?”

            “Iya, yang menemuimu kemarin, menyapamu dengan ramah dan berakhir dengan pertemuan di taman belakang kampus.”

            “YA! Kau melihatnya, huh?”

            “Bukan hanya aku. Semua orang juga tahu kau menarik pria tinggi itu ke belakang taman. Kau tahu? Luhan dan Kris ada disana. Sepertinya mereka berdua mendengar percakapan kalian.”

            “Apa?!”

            “YA! Kau tidak perlu berteriak! Memangnya apa yang kau bicarakan dengannya?”

            “Ah.. ehm.. tidak ada. Kau tidak perlu tahu.”

            Tut..tut..tut..

            Sambungan terputus.

            “Apa-apaan ini?!”

            Percakapan itu berakhir dengan gratisan Kyungsoo yang habis sehabis-habisnya. Cindy menunggu untuk panggilan selanjutnya, namun Kyungsoo sama sekali tidak menelponnya lagi sampai jam sembilan malam. Dengan malas, Cindy beranggapan kalau Kyungsoo tidak punya saldo lagi untuk menelpon.

            Saat gadis itu akan menarik selimutnya, ponselnya kembali bergetar. Cindy dengan sigap mengangkat panggilan itu tanpa tahu siapa yang menelponnya. Si penelpon itu bertanya tentang keadaannya. Hanya dengan suara lemah itu, Cindy tahu kalau itu adalah manajernya. Setelah lama mereka berbicara tentang kehidupan lama mereka yang tidak sibuk, akhirnya pembicaraan itu mengarah kepada sebuah kegiatan wawancara langsung dengan semua wartawan dan disepakati akan dilakukan besok pagi di gedung agensi tepatnya diruang pers. Akhirnya, secercah harapan mulai terbit untuknya.

            Semoga besok berjalan dengan baik.

****

            Pagi-pagi sekali Cindy sudah bersiap-siap. Dia bahkan bangun lebih awal dua jam dari rencana yang sudah disepakati. Tapi, tampaknya dua jam itu tidak cukup untuknya. Untuk mempersiapkan semua kemungkinan pertanyaan berserta jawaban yang akan keluar di wawancara nanti terasa seperti ujian dadakan untuknya. Walaupun dia sudah sering merasakan ujian dadakan, tapi ini beda. Ini menyangkut kariernya, dan hidup-matinya.

            Dia hampir di coret dari daftar artis karena skandal ini. Dia hampir masuk ke dalam daftar artis bermasalah karena skandal tidak beralasan ini. Kalau itu sampai terjadi, pasti tidak ada yang mau menerimanya lagi. Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu merinding.

            “Kau pasti bisa, Cindy! Kau pasti bisa!” semangatnya di depan cermin sambil mengepalkan tangannya kencang.

            Tiba-tiba pintu terketuk tiga kali. Pintu pun terbuka, memunculkan sosok Chanyeol disana. Hari ini dia tampak sangat santai. Menggunakan hoodie hitam, celana jeans, dan topi merah hadiah pemberiannya satu tahun yang lalu.

            “Apa?” tanya Chanyeol saat Cindy menatapnya dari atas sampai bawah yang membuatnya risih.

            “Aku pikir kau sudah memberikannya pada Baekhyun,” gumam Cindy setelah berbalik ke kaca cerminnya lagi untuk memperbaiki make-up-nya.

            “Aku tidak akan memberikannya pada siapapun kalau kau yang memberikannya,” ucap Chanyeol cepat.

            Cindy menoleh kepadanya untuk beberapa saat sebelum ia memasukan segala sesuatunya ke dalam tas selempangnya. Reaksi Cindy yang aneh membuat Chanyeol bertanya-tanya dalam hati. Apalagi saat Cindy mendekatinya, memandanginya dengan matanya yang besar, kemudian berjinjit untuk menyamakan tinggi dengan Chanyeol. Pria itu berpikir gadis itu akan menciumnya. Tapi, dugaannya salah. Gadis itu malah mengelus kepalanya dengan lembut dan menepuk kepala itu dua kali. Melihat Chanyeol yang menutup matanya, membuat Cindy menahan tawanya.

            “Apa kau berpikir aku akan menciummu, huh?” tanya Cindy sambil tersenyum menyeringai kepada Chanyeol yang perlahan membuka matanya. Tangan mungil itu bergerak lagi ke dahi pria itu dan dengan cepat menyentil dahi itu sekuat tenaga, dan dengan sekuat tenaga juga kabur dari erangan Chanyeol.

            “YA! Kembali kau!”

            Akhirnya Chanyeol berhasil meraih tangan Cindy yang sejak tadi lolos terus dari kejarannya. Chanyeol pun memukul Cindy berkali-kali dengan kepalan tangannya, sementara Cindy terus mengelak dengan menutupi kepalanya dengan tangannya yang bebas sambil tertawa karena pukulan Chanyeol yang kelewat tak bertenaga.

            “Ya. Geumanhae. Oke, oke aku tidak akan mengejekmu lagi. Haha. Hentikan,” pinta Cindy disela-sela tawanya.

            “Aku akan berhenti sebelum kau memberikan sesuatu untukku.”

            “Oke, oke! Tteukbokgi?”

            “Call!” Chanyeol menyorak dengan antusias sambil memamerkan deretan giginya yang putih.

****

            Wawancara berjalan sangat lancar. Semua pertanyaan yng diajukan dengan mudah dijawab oleh Cindy. Dia tidak henti-hentinya memamerkan senyum khasnya kepada kamera, seolah-olah berkata kalau dirinya tidak terpuruk dengan skandal itu. Senyuman itu juga sebagai tanda kalau skandal itu tidak beralasan dan hanya sebagai lelucon. Diantara puluhan wartawan disana, ada seorang wartawan yang kemarin mengambil gambar untuk skandal itu. Tentu saja Cindy marah, tapi dia harus mengontrol emosinya agar tidak bertambah buruk. Manajernya sudah memberi tahunya kalau wawancara ini adalah langkah pemulihan, bukan memperburuk.

            Selama dua jam Cindy berada diruang pers itu. kepalanya mulai pusing setelah dihujani berbagai pertanyaan yang mendesak dan hampir semuanya tidak masuk akal.

            “Kau tidak apa-apa?” Suara Chanyeol yang khawatir membuatnya mendongak setelah lama menekuk kepalanya.

            “Aku tidak yakin,” jawab Cindy lirih.

            “Kau mau pulang?” tanya Chanyeol sekali lagi.

            “Ide bagus,” jawab Cindy, lalu bangkit dari kursinya sambil menarik tas tangannya dari atas meja rias. “Ayo kita pesan dua potong ayam dan tteukbokgi. Aku lapar.”

            “Call!”

****

            PLAK!

            Tamparan keras mendarat di pipi seorang pria, membuat pipinya memerah dan tampak sangat memprihatinkan. Pria itu hanya bisa meringis, membiarkan bibirnya mulai mengalirkan darah segar. Tangannya terkepal kuat di belakang tubuhnya. Dia ingin membalas tapi dia tidak punya keberanian. Orang di depannya lebih kejam daripada malaikat maut sekalipun. Hidup dan matinya berada di genggaman pria besar di depannya sekarang.

            “Kau bodoh! Sangat bodoh! Gila!” pekik pria itu marah. Kakinya terhentak tidak sabaran. Wajahnya yang garang kembali nampak di hadapannya. Tangannya yang besar dan menakutkan terkait di kiri-kanan pinggangnya. Pria itu menatap dengan tatapan marah.

            “Sudah kubilang untuk tidak terlibat dengannya! Kau hanya perlu mengintainya saja! Aku tidak pernah menyuruhmu untuk berdekatan dengannya! Bodoh!” Amarahnya memuncak seiring berakhirnya perkataannya itu.

            Pria itu menarik kerah kemejanya hanya dengan satu tangannya, dan mengangkatnya setinggi mungkin. Dia hampir tidak bisa bernapas karena cengkeraman itu. Dia yang baru saja membuka matanya kembali, harus memejamkannya lagi untuk menahan sakit.

            “Kau. sekali lagi aku lihat kau bersamanya lagi. Aku benar-benar akan menghabisi keluarga Xiao hari itu juga. Kau mengerti?!”

            Pria besar itu melempar tubuh kecil itu kelantai dengan sekuat tenaga. Punggungnya membentur lantai begitu keras.

            “Kau tidak berguna rupanya. Anak tertua yang tidak ada gunanya. Apa kau tidak sadar dirimu tidak dibutuhkan dalam keluargamu? Ibumu bahkan menjual anaknya sendiri untuk mengeluarkan ayahmu dari penjara.”

            Pria besar itu kembali mencengkeram kerahnya dan mengangkatnya setinggi badannya.

            “Seharusnya kau bersyukur kau bisa keluar dari keluarga itu. Aku dengan senang hati mau merawatmu sampai sekarang ini. Aku bahkan mengganti nama anehmu itu. Xi Luhan. Benarkan itu namamu yang sekarang?” tanyanya sambil tertawa menyeringai. Luhan menolehkan kepalanya, dan sekuat tenaga membuka matanya.

            “Aku sama sekali tidak bersyukur, Tuan. Aku malah berharap Anda membunuh saya sekarang,” ucap Luhan sarkastik. Perkataan Luhan membuat pria besar itu memerah menahan amarah dan sekali lagi tubuh kecil itu terlempar dan menyentuh lantai yang dingin. Parahnya, tangan kirinya yang tadi ia gunakan sebagai penopang tubuh harus patah juga beberapa sendinya yang nyeri.

            “Aku tidak menerima semua ocehan gilamu. Kembali bekerja atau kau akan kubunuh beserta keluarga sialanmu itu!” perintahnya kasar. Luhan menatapnya nanar sebelum ia pergi dengan langkah tergopoh-gopoh menuju pintu keluar. Tangan kirinya tidak bisa ia gunakan sama sekali. Kakinya juga terkilir akibat membentur kaki meja saat dilempar tadi. Itu artinya dia tidak bisa mengemudi. Dengan berat hati, dia pulang menuju rumahnya dengan taksi.

            Seharusnya ia kerumah sakit. Tapi bau rumah sakit menurutnya malah menambah sakitnya. Jadi ia memutuskan untuk pulang kerumahnya dan mengobati semua lukanya sendiri. Ya, sendiri.

            “Tolong ke alamat ini.”

            Mobil pun berjalan cepat, namun dirasa lambat oleh Luhan. Sementara itu pikirannya sedang menjelajahi kenangan masa kecilnya yang bahagia bersama keluarga Xiao, keluarga kecilnya yang penuh kehangatan. Tanpa terasa, air mata mengalir keluar menuju pipinya. Mengingat semua itu, membuatnya takut dan cemas. Semua takdir keluarganya, ada dikedua tangannya.

****

 

To Be Continued….

Note: Fanfic ini panjaaaaaaaaaaaaaang banget jadi jangan bosen nunggu ya. Belum ada kepastian sampai chap berapa tapi kayaknya banyak. Oh, ya bagi yang nunggu fanfic Dorm (emang ada yang nunggu?-_-) be patient ya. Lagi buntu ide sama ceritanya. Aku akan kirim secepatnya deh^^

*Makasih udah baca dan silahkan komen kalo misalnya ada yang janggal atau gimana. Sorry nggak bisa dibalas komennya, aku nggak ngerti caranyaaaa😥

 

5 thoughts on “Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 9

  1. Andina berkata:

    ceritanya bagus aku suka ,,, dan sumpah sekarang aku penasaran banget ama kelanjutannya ,, semakin seru ,, di tunggu Chapter 10nya iya ,, fighting !!!

  2. lidya berkata:

    ceritanya bikin mikir dan penasaran tapi pengen terus baca lagi dan lagi..
    siapa yang suka ff dorm? akuuuuuu aku suka banget ff dorm dan selalu nunggu kelanjutan ff dorm ^^

  3. lidya berkata:

    ceritanya bikin mikir dan penasaran tapi pengen terus baca lagi dan lagi..
    siapa yang suka ff dorm? akuuuuuu aku suka banget ff dorm dan selalu nunggu kelanjutan ff dorm ^^v

  4. Zalza berkata:

    Astaga, siapa yang mukul Luhan ?!?!? apa hubungan orang yg mukul luhan sama cindy ? Ih jahat euw. Next thor. jangan lama” yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s