Missing You

missing-you

Title                 : Klise (Sekuel : 1.Missing You)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : EXO Baekhyun , BTS Jin , Shin Nayeon (OC)

Genre              : Romance, Brothership , School life

Rating             : General

Length             : Oneshoot

Disclaimer       : EXO milik SM Ent, BTS milik BigHit Ent, alur dan cerita milik author

Summary         : “Jika kau memang tak bisa melupakannya, aku tak keberatan. Tapi tolong, bisakah kau berhenti memikirkannya barang sejenak jika sedang bersamaku?”

Special Poster by Sifi@Fanficsoosi94

.

.

Hembus angin bertiup dengan kencangnya. Menciptakan suara gemerisik yang cukup mengganggu siapapun yang mendengarnya. Tak terkecuali Baekhyun. Pemuda berisik yang hanya bisa diam saat sedang tidur itu terpaksa menggeliat. Terbangun dari mimpi indahnya bersamaan dengan umpatan yang ia tujukan pada angin sialan yang mengusiknya. Baekhyun melirik sejenak jendela kamarnya. Oh, itu badai. Pantas saja. Bulan Agustus sudah hampir habis, itu tandanya ia harus bersiap menghadapi hari-hari melelahkan karena dinginnya badai topan akan menghantam negaranya. Setidaknya sampai September mendatang.

“Huh.” Baekhyun membuang nafas malas. Satu-satunya yang membuatnya semangat adalah irama musik yang berdengung di otaknya. Ia ingin ke kampus, mempelajari bidang favoritnya itu serta berkumpul dengan sahabat-sahabat satu band-nya.

Dret..dret..dret..

Ia menghentikan langkah menuju kamar mandi. Menoleh pada benda persegi yang bergetar di atas nakas. Sepertinya ada pesan masuk.

From : Handsome Jin

Apa kau sudah bangun, Baek?

Aku merindukanmu!

Baekhyun tersenyum simpul selesai membaca isi pesan sahabatnya.

Kim Seokjin. Ah, sudah sangat lama setelah kepindahannya ke Jepang. Sepertinya ia juga merindukan pemuda narsis itu. Lihat, bahkan Baekhyun tak pernah mengganti nama sahabatnya yang ditulis sendiri dengan percaya diri di handphone miliknya. Handsome Jin. Apa maksudnya? Ia rasa ia lebih tampan dari pemuda pengecut itu.

Ia mulai menggerakan jari-jarinya. Menulis pesan balasan untuk Jin. Dengan kikikan rendah, ia memencet tombol send setelah selesai mengetik.

To : Handsome Jin

Sepertinya kau tak bisa jauh dariku

Apa kau begitu mencintaiku?

Cepat kembali

Ayo bermain basket lagi!

Baekhyun meletakan kembali handphonenya di atas nakas. Ia harus segera bersiap. Jika diteruskan, seharian penuh pun tak akan cukup untuk berkirim pesan dengan sahabat lamanya itu. Baekhyun memang merindukan Jin. Sangat merindukannya. Ia ingat, dirinya seperti orang yang baru saja putus cinta ketika sahabatnya memutuskan ikut orang tuanya pindah ke Jepang selepas lulus SMA.

Oh, jangan berfikir Baekhyun bukan pemuda normal. Ia masih menyukai perempuan, pastinya. Hanya saja, Seokjin sudah menjadi sahabatnya sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka bertetangga, selalu menghabiskan waktu bersama. Dan tiba-tiba saja mereka harus berpisah karena kepindahan Jin ke Jepang. Sungguh, saat itu Baekhyun seperti mayat hidup yang tidak lagi memiliki semangat menjalani hari-harinya.

Namun perlahan ia sadar bahwa persahabatan tak diukur dari seberapa dekat jarak di antara mereka. Persahabatan adalah dimana mereka masih saling percaya walaupun jarak tak bisa dihindari. Dan Baekhyun percaya, Jin akan selalu menjadi sahabat begitupun sebaliknya. Walaupun berjauhan, mereka masih sering berkomunikasi dan bertukar cerita lewat telepon.

.

.

Baekhyun memarkirkan mobilnya di pelataran kampus. Masih sepi. Sepertinya ia kelewat semangat memulai hari ini. Di saat orang lain sibuk menghindari badai yang semakin mengamuk, ia dengan santai masuk gedung jurusan musik dengan girangnya.

Bukan karena ia baru saja mendapat pesan dari Kim Seokjin yang tampan itu. Baekhyun sungguh masih terlalu normal jika untuk berbunga-bunga di pagi yang dingin ini. Hanya saja, ia sedang mempunyai rencana khusus bersama sahabat-sahabat kampusnya.

“Hallo, sudah berkumpul ternyata.” sapanya ketika memasuki studio kecil tempat mereka berlatih.

“Kau terlambat tujuh menit dua puluh lima detik, hyung-nim.” celetuk seseorang yang memegang gitar.

“Yang benar saja. Baru segitu kau sebut terlambat?” sambar Baekhyun tak terima. Ia mengecutkan bibir sambil menghampiri pemuda itu.

“Kau seperti tidak mengenalnya saja. Suga bahkan datang sepuluh menit lebih awal dari waktu yang ditentukan.” Chanyeol menimpali. Pemuda jangkung itu sibuk memutar-mutar stik drum yang berada di tangannya.

“Benar, dan sialnya aku harus ikut datang sepagi itu karena aku memboncengnya!” tambah Sehun yang mengambil alih sebagai basist.

“Ya! harusnya kau berterimakasih padaku, anak kecil!”

“Bilang apa? tinggimu bahkan hanya sebahuku, Min Suga!”

“Kau hanya beruntung memiliki tubuh tinggi. Dan jangan menyolot seperti itu. Kau masih juniorku!”

“Diam kalian! ini waktunya kita berlatih. Bukan bertengkar seperti ini.” Chanyeol yang mendadak pusing mendengar ocehan kedua juniornya membentak kesal. Sehun adalah anggota termuda di band mereka. Tetapi sifat evilnya benar-benar sudah berada di tingkat akut. Dan jangan salahkan Suga jika ia ikut sewot. Ia merupakan member paling sensitif dengan kesabaran dibawah rata-rata.

“Ayo kita mulai.” Baekhyun mengambil alih microfon dan mulai melakukan testing suara. Sebagai vokalis, ia merupakan center yang tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun.

.

.

“Aish, mati aku!” gadis itu mengumpat ketika menyadari makalah yang semalam ia buat ternyata tertinggal di rumah. Jam kuliah sudah hampir dimulai, ia tentu tak memiliki cukup waktu untuk mengambilnya.

Dengan langkah gontai, ia kembali merapikan barang-barangnya lalu beranjak dari kelas. Ia berniat membolos. Melewatkan pertemuan dengan dosen killer yang sudah pasti akan mengusirnya jika ketahuan tak membawa tugas. Dari pada dikeluarkan dengan tidak hormat, gadis itu memilih keluar sendiri sebelum jam kuliah dimulai.

“Shin Nayeon!” teriak seseorang dari arah belakang. Ia yang merasa namanya disebut berbalik untuk melihat sang pemilik suara.

“Hm, kau memnggilku?” tanya Nayeon. Orang yang ternyata adalah Sehun itu mengangguk. Berjalan menghampiri mantan teman sekelasnya dulu.

“Apa kau tidak ada kuliah?” tanya Sehun

“Huh? Sejak kapan kau peduli padaku?” celetuk Nayeon sarkatis. Gadis itu tidak sedang mengalami amnesia hingga membuatnya tak ingat bagaimana kelakuan Sehun pada masa SMA-nya. Pemuda itu –bersama Jongin- tak pernah absen menggodanya setelah ia dicampakan oleh Kim Seokjin. Bahkan ketika Nayeon sudah hampir menangis, Sehun dengan tanpa dosa menertawakan dirinya. Sungguh hal itu cukup untuk membuatnya menyimpan dendam pada lelaki bermarga Oh itu.

“Siapa bilang aku peduli padamu? Aku…hanya bertanya.” elak Sehun. Pemuda itu kemudian berlalu. Meninggalkan Nayeon yang terpaksa memutar bola matanya.

“Pemuda aneh!”

.

.

“Kau beruntung, hyung. Nayeon sudah berada di kampus dan ia tak sedang mengikuti kuliah.” Sehun mengabarkan berita baik yang sudah pasti disambut dengan antusias oleh Baekhyun.

“Benarkah? Lalu di mana dia sekarang?”

“Sepertinya perpustakaan.” jawabnya asal.

“Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang. Aku akan menyiapkan semuanya. Kau bawa dia kemari. Oke?” cerocos Baekhyun kemudian.

Sehun mendengus kesal “Kau pikir dia mau ikut denganku? Kau lupa betapa bencinya Nayeon padaku?” tandasnya seolah mengingatkan Baekhyun.

“Kalau begitu biar aku yang mengajaknya kemari.” usul Chanyeol sambil beranjak.

“Jangan!”

“Eh? kenapa?” Chanyeol terpaksa menghentikan langkah mendengar jeritan sahabatnya.

“Kau pasti akan menggodanya di tengah jalan! Suga, maukah kau membantuku?”

“Aku?” Suga mendongak, menatap Baekhyun yang balik menatapnya penuh harap.

“Baiklah.” ucapannya itu disusul hembusan nafas lega dari Baekhyun.

.

.

Shin Nayeon. Dimana gadis itu sebenarnya? Tadi Sehun berkata bahwa Nayeon berada di perpustakaan. Ia bahkan sudah tiga kali memutari rak-rak buku itu dan tidak mendapatinya dimana-mana. Sejenak otaknya berasumsi negatif. Apa setan kecil itu kembali mengerjainya?

Suga berjalan pelan-pelan. Tangannya ia tenggelamkan pada saku jeans yang dikenakannya. Sekali lagi, pemuda berkulit pucat itu hendak memutari ruangan besar ini.

“Hhh…” ia menghembuskan nafas. Pemandangan di pojok ruangan itu membuatnya bergeleng-geleng heran. Di sana, ia melihat gadis yang dicarinya sedang duduk bersila. Tenggelam bersama buku-buku tebal yang bertumpuk di sekitarnya.

“Apa kau selalu menghabiskan waktu seperti ini, Shin Nayeon?” Suga berkacak pinggang. Menyandarkan tubuhnya pada rak buku di sampingnya. Gadis itu menoleh. Menatap Suga dengan tatapan –apa-maksudmu-barusan?

“Selain kutu buku, apa kau juga bisu?” sambungnya ketika tak mendapat respon selain tatapan aneh gadis itu. Nayeon semakin melotot. Kemudian mengarahkan telunjuknya dengan kasar pada sebuah papan besar yang terpampang di dinding ruangan.

-Dilarang Ngobrol-

Dua kata itu sudah cukup untuk membuat Suga meringis dalam hati. Ia lupa jika ini adalah perpustakaan. Sudah pasti ia tak boleh berbicara. Apalagi dengan suara sedikit tinggi seperti barusan. Pemuda itu kemudian berinisiatif menghampiri Nayeon, meraih tangannya dan menyeret paksa hingga tubuh kecil Nayeon tertarik seiring langkah besar-besarnya.

Untuk sesaat, Nayeon hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh pemuda yang ia tahu sahabat Baekhyun. Namun entah sejak kapan tiba-tiba hatinya mencelos. Ia seperti merasakan de javu. Sepertinya ia pernah diperlakukan seperti ini. Sepertinya….

“Kim Seokjin.” lirihnya hampir tak terdengar. Suga menoleh, terkejut ketika mendapati mata gadis itu berkaca-kaca.

“Eh? Kau kenapa?”

Buru-buru ia melepaskan genggamannya pada pergelangan Nayeon. Sedikit gusar. Apa dia terlalu berlebihan memperlakukannya?

“Hei, Shin Nayeon. Apa aku menyakitimu? Aku…aku tidak bermaksud seperti itu. Aku minta maaf.” ucapnya hati-hati. Ia tak mau menjadi penyebab jatuhnya air mata Nayeon. Atau lebih tepatnya, ia tak mau Baekhyun menghajarnya karena berani melukai gadisnya.

“Gwenchana, Oppa.” balas Nayeon sembari mengusap matanya sendiri. “Tapi ada apa kau membawaku kemari?”

“Ah, itu. Baekhyun hyung mencarimu. Dia menunggumu di studio.”

“Mm, benarkah? biasanya dia akan datang sendiri menemuiku. Baiklah, aku akan kesana setelah mengambil barang-barangku di perpustakaan. Tadi kau tak memberiku kesempatan untuk membawanya.”

Suga tersenyum kikuk. Merasa bersalah pada gadis di hadapannya. “Arraseo. Pergilah.”

Kemudian gadis itu berbalik setelah mengangguk kecil padanya.

Suga tak lantas melanjutkan langkahnya menuju studio musik. Ia masih berdiri di sana, memandang punggung Nayeon yang semakin menjauh.

“Kim Seokjin? siapa Kim Seokjin?” tanya Suga entah pada siapa.

.

.

“Apa aku harus memakai standmic ini? Atau aku pasang mic yang ini saja?” Baekhyun masih menimbang-nimbang sambil memegang dua microfon yang berbeda. Ia terlihat ragu, belum memutuskan hal sepele itu.

“Hyung, Suga hyung sudah kembali. Kajja, kita mulai sekarang.”

“Tunggu dulu, Sehun. Ini bagaimana? Aku harus pakai mic yang mana?” Baekhyun terlihat panik ketika Suga memasuki ruangan. Ia pikir, Nayeon akan masuk bersamanya.

“Apa hyung? Ish, kau belum memasang mic-mu?” tanya Sehun setengah tak percaya. “Tentu saja kau harus memakai mic yang ini. Kau harus membebaskan tanganmu dari mic. Sini, aku bantu memasang!”

Chanyeol hanya bergeleng di tempatnya. Sudah pasti, Baekhyun akan menjadi idiot jika itu berhubungan dengan gadis bernama Shin Nayeon. Ia memang baru mengenal Baekhyun sejak masuk bangku universitas. Tetapi sejak itulah ia tahu bahwa Baekhyun sangat menggilai gadis yang berada dua tingkat di bawah mereka. Nayeon si kutu buku berparas cantik.

“Mana Nayeon-nya?” tanya Chanyeol ketika ia menyadari kehadiran Suga yang seorang diri. Pemuda itu meraih gitarnya, memposisikan diri sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol. “Dia segera datang.”

Baekhyun telah selesai memasang microfonnya ketika handphone yang tergeletak di meja bergetar-getar. Memberi tahu panggilan masuk untuknya.

Handsome Jin

Senyum itu tak mampu ia sembunyikan ketika membaca nama yang muncul di layar. Dengan cekatan, ia menyambar benda itu untuk mengangkat panggilannya.

“Seokjin!!!” teriaknya nyaring. Membuat seisi ruangan menoleh seketika. Siapa yang menghubungi Baekhyun? heboh sekali!

Baekhyun mendengar suara kekehan dari seberang. Sudah pasti Jin sedang menertawakan kehebohannya.

“Ya! jangan tertawa. Aku merindukanmu, bodoh!”

“Aku juga. Aku sangat merindukanmu, pendek!”

“Haha, kapan kau kembali? Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, Jin. Sungguh.”

“Jangan merengek seperti itu. Aku jadi merasa sedang berbicara dengan pacarku yang kesepian di Korea.” goda Jin masih terkekeh.

“Sialan!” Baekhyun mengumpat. Kemudian ikut tertawa rendah.

“Baek, kau ingat ini hari apa?” tiba-tiba Jin berbicara dengan nada serius, membuat Baekhyun menghentikan tawanya. “Eh? ini hari kamis. Memangnya kenapa?”

“Ah, ternyata otakmu masih bekerja. Haha.” Jin kembali tertawa. Namun terdengar cukup hambar di telinga Baekhyun.

“Apa maksudmu?” tanyanya bersungut-sungut. Beberapa saat kemudian ia melirik sekitar. “Sepertinya kita tak bisa berbincang lama-lama, Jin. Aku ada kuliah.”

“Benarkah? Ugh, sayang sekali.”

“Ya, aku akan menelponmu nanti malam. Annyeong!”

Ia kemudian memutus panggilan tanpa menunggu jawaban di seberang. Menggembungkan pipi sambil memandangi layar handphone-nya. Jika Seokjin mengira Baekhyun lupa tentang hari ini, Jin salah besar. Baekhyun bahkan tahu persis mengapa sahabatnya itu bertanya tentang hari ini padanya. Ia hanya berpura-pura bodoh untuk menghindari topik itu.

“Siapa yang menelponmu, hyung? Sepertinya kau bahagia sekali.” Sehun tak dapat menahan rasa penasarannya. Ia memandang Baekhyun penuh selidik.

Baekhyun menoleh, tersenyum lagi sebelum menjawab. “Sahabatku, Seokjin.”

“Maksudmu Kim Seokjin?” Suga ikut bertanya.

“Ya. Kim Seokjin. Tapi bagaimana kau tahu?”

Suga menggeleng pelan. Memberi tahu Baekhyun bahwa ia sendiri hanya asal menebak. Pemilik senyum semanis gula itu lalu sibuk dengan senar gitarnya. Menunduk sambil memetik satu persatu senar untuk menciptakan melodi yang diinginkan. Dalam otak Suga, ia memikirkan sesuatu.

Kim Seokjin

Apa orang yang dimaksud Baekhyun adalah orang yang sama dengan orang yang Nayeon sebut tadi? Apakah Seokjin yang itu? Jika iya, ada apa dengan keduanya?

Suga tentu tak lantas menyelidiki asumsi-asumsi tidak pentingnya. Itu bukan urusannya. Dan sangat tidak sopan jika ia ikut mencampuri. Lagipula, Nayeon sudah datang. Gadis itu membuka pintu studio kecil ini dengan wajah penuh selidik. Dengan aba-aba Baekhyun, mereka memainkan lagu yang sudah sejak beberapa hari dipersiapkan.

Naega nungama gidohan i sungani
Geudae ein mameul anajulge cheoncheonhi

Oneuri hanbeonui chance na naeditneun cheot georeum

Yaksok halge jal halgeoya
Gidaemankeum na yeoksi haengbokhage


Uri dul manui kkum geu cheot georeum

Nae nuni wae iri ,nunbusyeo hage dwae
Simjangi wae iri, michin deut ttwige hae
Sum gappa ojiman, naegen neomu sojunghae itjima

Maen cheoeum ne kkum, ne mal, geu nunmulboda jinhan
Tto cheongugui nektaboda dalkomhaetdeon
Yes, you are my baby baby baby, baby baby baby

(EXO-K : Baby)

Usai memainkan lagu dengan alunan pelan itu , Baekhyun lanjut menyanyikan sebuah lagu yang biasa dinyanyikan pada acara ulang tahun. Ya, ia menyanyikannya karena hari ini Nayeon genap berusia sembilan belas tahun. Gadis itu membekap mulut ketika Baekhyun menghampiri sembari menyodorkan kue ulang tahun. Lengkap dengan lilin angka sembilan belas yang telah menyala.

Baekhyun mengangguk sembari tersenyum manis. Memberi kesempatan pada Nayeon meniup lilinnya. Sebelum gadis itu melakukannya, Chanyeol buru-buru berseru sambil mendekat.

“Make a wish, Nayeon-ah. Pejamkan mata dan ucapkan harapanmu.” titahnya semangat. Yang lain hanya mengangguk sebagai persetujuan atas ucapan Chanyeol.

Nayeon menutup mata. Mengatupkan kedua tangannya seolah ia sedang berdoa. Entah apa yang gadis itu pinta. Baekhyun tak pernah tahu. Tetapi diam-diam, Baekhyun yang masih menyangga kue tart coklat itu juga ikut berdoa. Menyebutkan harapannya dalam hati.

Buka hatimu, Shin Nayeon. Biarkan aku menjadi satu-satunya yang berada di dalamnya..

Tak sampai tiga detik setelah Baekhyun mengucapkan kalimatnya, ia melihat lilin itu padam. Disusul dengan tepuk tangan seluruh anggota band-nya yang menyoraki Nayeon.

“Yeeaah…let’s party, baby!”

.

.

Nayeon memutar-mutar mangkuk es krim yang berada di atas meja. Matanya tak lepas dari sosok di depannya yang sedang melahap makanan yang sama.

Baekhyun –yang terlihat asyik menikmati es krim strawberry-nya sepertinya tak tahu jika sedang diperhatikan. Hingga Nayeon bersuara, ia baru mendongak.

“Terimakasih.”

Baekhyun memandang Nayeon sesaat, raut mukanya tak tertebak. “untuk?”

“Untuk mempedulikanku.”

Ia tersenyum mendengar jawaban Nayeon. “Apa kau suka?”

“Mm.” Nayeon mengangguk, membuat sudut bibir Baekhyun kembali terangkat.

“Tetaplah seperti ini. Tetaplah menjadi Nayeon yang ceria. Aku tak suka melihatmu bersedih.”

Nayeon tertenggun ketika tangan Baekhyun menggenggam miliknya. Manik itu menatapnya dalam. Seolah sedang menyelami iris coklat miliknya. Nayeon tahu apa yang Baekhyun katakan. Kalimat itu bukan sekedar permintaan belaka. Tetapi lebih kepada permohonannya untuk melupakan seseorang. Seseorang yang selama ini membuatnya terpuruk dalam kesedihan.

Sejak satu tahun terakhir, hubungan mereka kian berkembang. Tapi baik Nayeon maupun Baekhyun menyadari, bahwa mereka berdiri berseberangan. Mereka berdiri dibatasi oleh sesuatu yang rasanya tak sanggup untuk ditembus. Baekhyun bersahabat dengan Seokjin, dan Nayeon pernah mencintai sahabat Baekhyun itu. Hubungan yang pelik ini akhirnya hanya bisa jalan di tempat tanpa bisa menemui titik yang mereka inginkan.

Tanpa disadari, sudut bibir Nayeon terangkat. Ia tersenyum kecut. Miris memang, saat perlahan hatinya telah mengubur nama Seokjin, ia menemukan sosok pengganti yang nyatanya tak bisa menggantikan posisi pemuda itu.

“Hei.” Baekhyun menjentikan jari persis di depan mukanya.

“Hm?”

“Memikirkannya?”

Nayeon menggigit bibir bawah, menggeleng pelan sambil mengibaskan tangan. “Tidak. Aku sudah tidak terlalu memikirkannya.”

“Bohong.”

“Sungguh.” ucapnya penuh penekanan. Baekhyun hanya membuang nafas pelan. Nayeon tak bisa membohonginya.

“Jika kau memang tak bisa melupakannya, aku tak keberatan. Tapi tolong, bisakah kau berhenti memikirkannya barang sejenak jika sedang bersamaku?”

Ia kembali tertenggun. Menahan perasaan yang berkecamuk atas ucapan Baekhyun. Pemuda itu selalu membuatnya dilema. Dan kini, sekali lagi ia merasa bersalah karena harus menempatkan Baekhyun pada posisi kedua.

“Siapa sebenarnya yang ulang tahun hari ini? Kenapa oppa banyak sekali meminta padaku. huh?”

Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. Mencubit cuping hidung gadis di depannya itu. Ia menyadari suasana sudah kelewat canggung. Jika diteruskan, bisa bertaruh keadaan seperti ini akan mengingatkan Nayeon pada sosok Seokjin kembali. Tidak, Baehyun tidak akan membiarkan itu terjadi.

Maafkan aku

Entah ia lontarkan pada siapa kata maaf itu. Setelahnya, Baekhyun kembali menggenggam tangan Nayeon. Meremasnya seolah ingin menyalurkan segala perasaannya pada gadis itu.

“Nayeon-ah.”

“Mm?” Nayeon mendongak menatap Baekhyun.

“Jika saat ini aku meminta, apakah hatimu siap menerimaku?”

“….”

Diam. Baekhyun sudah tahu Nayeon akan diam, namun kali ini ia berusaha mempertahankan pertanyaan yang tak perah terjawab itu.

“Aku tahu kau mendengarku, Shin Nayeon.”

“Ya.” lirihnya.

Baekhyun menghembuskan nafas berat. “Jadi jika kau mendengar, kenapa kau tak menjawabnya?”

“Aku baru saja menjawabnya, Byun Baekhyun.”

.

.

.

-FIN-

Hei adek-adek gue (sok akrab) indahtentiana, pandakkuma27, Clarissa Tiara keluar nih lanjutan BaekJinYeon-nya, wkwk

Mian bagian Jin-nya sedikit, karena disini cuma menceritakan pelikya hubungan Nayeon-Baekhyun selepas kepergian Jin. Mungkin besok sekuel kedua, mereka bertiga bakal ketemu dan tambah pelik lagi *plak* haha

2 thoughts on “Missing You

  1. indahtentiana berkata:

    Aaaaaaaa !!!!! Aku dimention laagiiiiiii !!! Vihuuuuy . Aku sempet lupa sebenernya sama yg sebelumnya , tapi setelah mengingat2 akhirmya inget juga . Aku suka eonnnnnn !!!! . EXO ft. BTS . Hoho , adegan terakhir itu …… Aduuuuuh gimana ya …. Susah jelasinnya ….. Sweet banget eonni !!!! . Sumpah ! . Sequelnya bikin gimana waktu jin balik dari jepang tapi jangan bikin BaekYeon (?) pisah . Jebaaaaal . Okedeh eonn , ini udah kepanjangan . Jangan2 eonni pusing lagi baca commentku . Wkwk . Akhirkata , sequelnya aku tunggu eoooooonnnn !!!!! Fighting !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s