Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 8

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 8

Author : BaoziNam

Main Cast :

            -Cindy Chou (OC)

            -Tao as Zitao

            -D.O as Kyungsoo

            -Luhan as Luhan

            -Kris as Kris

            -Park Chanyeol as Chanyeol

Additional Cast :

            -Luna f(x)

            -Jessica SNSD

            -Sandara 2NE1

            -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic saya. No plagiat! Thanks ^^

 

****

            “Uhuk! Uhuk! Air! Tolong airku!” pinta Jessica, mendesak Luna untuk mengambilkan airnya. Luna langsung mengambilnya dan memberikan air itu pada Jessica dengan pandangan prihatin. Jessica langsung meneguk minumnya buru-buru sampai setengah botol.

            “Kenapa kau sekaget itu, huh?” protes Cindy kesal, melihat kedua temannya bersikap aneh setelah dia menceritakan tentang dia yang pergi ‘mengungsi’ kerumah Kris karena toilet dirumahnya harus diperbaiki. Yah, itu memang bohong. Tidak mungkin, kan, dia bilang kalau tunangannya baru saja pulang dan mencarinya?

            “Kau pasti sudah GILA!” Jessica berujar.

            “Yeah, aku memang sudah gila,” aku Cindy sambil memutar kedua bola matanya jengah.

            “Kenapa kau tidak mengungsi dirumah Zitao? Dia, kan, sahabatmu.” Kini Luna yang berkomentar.

            “Ibunya ada dirumah. Aku takut.” Cindy bergidik saat pikirannya mulai melayang menuju wajah ibu Zitao.

            “Kenapa?” tanya Luna penasaran, sambil mencondongkan badannya ke depan.

            “Ibunya galak. Walaupun ibu Zitao sudah mengenalku sejak aku masih kecil, dia tidak pernah menganggapku spesial dibanding yang lain. Semua gadis sama. Penggoda pria. Begitu katanya,” racau Cindy kesal, menyenderkan punggungnya di kursi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Padahal aku sudah bilang pada ibu Zitao kalau anaknya bukanlah tipeku.”

            “Kalau begitu keadaannya, aku tidak jadi kerumah Zitao deh,” ucap Luna tiba-tiba, sambil memamerkan mimik wajah sedih.

            “Kenapa kau ingin kerumahnya?” selidik Cindy curiga. Tapi, Luna tidak menjawab dan terjadi keheningan yang tidak diduga.

            “Dia menyukainya.” Jessica berujar tiba-tiba, membuat Luna terkejut lalu menutup mulut Jessica (terlambat). Cindy tentu saja terperangah.

            “Akhirnya Zitao punya penggemar,” komentar Cindy datar, sambil bertepuk tangan tanpa apresiasi. Luna langsung menendang kaki Cindy dengan kencang.

            “Kau sebaiknya memberitahu Zitao sebelum pria itu menyukai orang lain dan mengabaikan anak ini,” ucap Jessica serius, sambil menunjuk Luna dengan telunjuknya. Luna gelagapan, wajahnya bersemu merah tidak karuan.

            “HENTIKAN!”

****

            Pria itu, pria yang sedang duduk sendirian di tepi kantin, sedang menatap kosong pemandangan di depannya lewat kaca jendela. Posisi duduknya seperti seorang model. Kaki disilangkan, menampakkan kakinya yang panjang; tangan di atas meja dan di sebelahnya lagi diatas lipatan kakinya; dan secangkir kopi yang masih panas melengkapi pemandangan indah ini.

            Gadis-gadis yang melihatnya langsung berdecak kagum atau berteriak kesenangan karena bisa berpapasan dengan pria itu, Kris Wu. Tak jarang para pria yang lainnya juga melayangkan kekaguman untuknya. Kris tampak tidak peduli dengan apapun—yang malah membuat pemandangan ini makin bagus dan memabukkan.

            Mata itu beralih pandang menuju gelas kopinya yang masih menyembulkan asap-asap tipis. Dan kemudian ke kaca jendela lagi. tatapannya memang kosong, tapi otaknya sedang sibuk mendengarkan semua ocehan orang-orang itu.

            ‘Ah! Itu dia Kris Wu! Ya Tuhan, dia sangat tampan.’ Bisik seorang gadis kepada temannya saat memasuki kantin.

            ‘Siapa dia? Keren sekali!’ pekik dalam hati seorang gadis saat melewati Kris.

            ‘Wow, kakinya panjang sekali. Aku iri,’ decak seorang gadis pendek yang sedang berjalan menuju pintu keluar kantin.

            ‘Terima kasih, semua penggemarku.’ Kini suara hati Kris yang berbicara dengan bangganya. Untuk mengekspresikannya, dia sengaja melakukan gerakan menyisir sebelah rambutnya dengan jari-jari tangannya yang panjang. Sekali lagi, Kris mendengar suara hati yang lebih kencang dari semua orang yang melihat perilakunya ini.

            “Kau sedang memikat semua orang dengan gayamu?” Suara seseorang membuat Kris terkejut dan reflek menoleh ke sumber suara itu. Seorang pria yang sedang membawa baki makanan, berdiri di sampingnya dan menatapnya datar. Dia menarik kursi di depan Kris, menempatkan bakinya di atas meja dan duduk di kursi tadi. “Pasti kau mendengarnya lagi,” ucapnya kemudian.

            “Sst! Jangan keras-keras, Yixing!” pekik Kris tertahan. Pria itu menatapnya sekilas kemudian mengambil makanannya dan memakannya.

            “Apa kau sudah memperbaiki absenmu?” tanya Yixing tiba-tiba.

            “Tidak tahu,” jawab Kris acuh.

            “Apa kau pikir dengan nilai A+ sudah memperbaiki absen? Sekalipun guru kau sogok dengan pesonamu mereka tidak akan mengubah keputusan mereka untuk mengeluarkanmu. Skorsing mungkin bisa saja. Tapi, kau sudah mendapatkannya lima kali, jadi tidak mungkin mereka memberinya lagi,” ucap Yixing panjang lebar, ada emosi di setiap kata-katanya. Yixing menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat kedua tangannya di dada. “Aku tidak tahu sepenting apa dirimu bagi kampus ini. Kau harus masuk terus, Kris!”

            Kris tidak juga mendongak untuk menatap Yixing. Pria itu terus berbicara dalam hatinya, karena itu satu-satunya media komunikasi yang tidak bisa Kris tolak untuk tidak menjawabnya. Perkataan Yixing yang sangat menuntut jawaban, membuat Kris mendongak kemudian menatapnya kesal. Pria di depannya tetap memberikan sebuah tatapan tajam, agar Kris segera membuka mulutnya.

            “Kau menyebalkan, Yixing!” pekik Kris tertahan.

            “Aku tidak akan begini kalau kau tidak memulainya, Kris.” Yixing menjawab dengan nada dingin. Tiba-tiba, bel berbunyi nyaring dan panjang, menandakan waktu makan siang sudah habis.

            “Aku harus masuk kelas berikutnya. Sampai jumpa.” Kris pun bangkit dari kursinya dengan tergesa-gesa.

            “Hei! Sejak kapan kau mau masuk kelas, huh?”

            “Sejak kau mengomel tadi,” kilah Kris, sebelum dia berlari meninggalkan kantin dan Yixing.

****

            Cindy terus menatap pintu ruang siaran dengan ragu. Tangannya terus terkepal gemetar di samping kiri-kanan badannya. Ada perasaan takut saat nanti ia melihat kedua seniornya lagi. Mereka memang tidak mengatakan akan mencari pengganti, atau mencaci Cindy atas kecerobohannya waktu itu.

            Cindy juga sebenarnya tidak mau ke ruang siaran ini lagi. Dia malu. Dan takut kalau-kalau kedua seniornya itu memarahinya atau bahkan tidak menganggapnya lagi. Tapi, Cindy terlanjur sudah menyukai klub itu. Sudah dua tahun dia menjalani pekerjaan ini. Mulai dari membangun klub yang hanya beranggotakan tiga orang, mencari ciri khas, sampai mencapai puncak popularitas seperti ini. Tidak mudah baginya untuk pergi begitu saja.

            Gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh gagang pintu itu dan hendak membuka pintu. Jantungnya makin berdetak kencang. Bahkan untuk meneguk lidahnya sendiri sangat sulit sekarang. Di otaknya berputar macam-macam kemungkinan cacian yang akan ia terima. Tiba-tiba, Luhan datang dan meneriaki nama Cindy.

            “Cindy!” panggilnya, membuat gadis itu terkejut dan menoleh kepadanya. Gadis itu menatap Luhan yang berlari ke arahnya dengan tatapan kaku. “Kau kenapa?” tanya Luhan setelah ia berhenti di depannya, mendapati wajah Cindy memucat.

            “Tidak ada,” jawab Cindy cepat. “Kau kenapa kesini? Ruang siaran, kan, terpencil. Tidak banyak yang tahu kalau ada ruangan ini di kampus.”

            “Aku tadi berkeliling dan menemukanmu berdiri disini,” jawabnya.

            “Benarkah?” gumam Cindy pelan.

            “Apa yang kau lakukan disini? Mau siaran?” tanya Luhan penasaran.

            “Tidak. Hanya ingin menyapa kembali senior-senior,” jawab Cindy ragu.

            “Tapi, tampaknya kau ada masalah dengan senior-senior.”

            “Tidak! Tidak ada!” tolak Cindy cepat. “Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Cindy kemudian dengan suara pelan.

            “Aku hanya membaca ekspresimu.”

            Tiba-tiba pintu ruang siaran terbuka dan muncul kepala Sandara dari dalam yang terkejut melihat dua makhluk yang sejak tadi berdebat di depan ruangannya. Kemudian terdengar suara Jiyoung yang terheran-heran kenapa Sandara berdiri di ambang pintu. Sekarang kedua sosok sunbae yang di cari Cindy muncul di hadapannya dengan wajah yang sama terkejutnya.

            “Euhm… Annyeonghaseyo,” sapa Cindy kaku, sambil melambai pelan telapak tangan kanannya.

            “Annyeong,” balas Sandara cepat. Wajahnya seolah-olah menunjukan tidak ada masalah yang mereka alami. “Hari ini bukan hari siaran. Kenapa kau datang kesini?”

          “Aku hanya memastikan kalau aku memang masih diterima di klub ini atau sudah dipecat karena kejadian itu,” jawab Cindy ragu-ragu.

            “Ya. Kami berdua tidak pernah berpikir untuk memecatmu. Apalagi karena hal itu. setelah lama kami berunding, kami berdua sepakat untuk memaklumi masalah itu. Kau itu manusia. Tidak mungkin kau tidak melakukan kesalahan,” jawab Sandara tegas.

            “Iya, itu benar. Lagipula siapa yang akan menggantikanmu. Kami tidak mau melepaskan Ace kami,” ucap Jiyoung nimbrung. Seketika kepala Cindy terangkat.

            “Terima kasih, sunbae,” ucap Cindy terharu.

            “Kau bisa kembali pada saat hari siaran nanti,” kata Sandara, menepuk pundakku lalu pergi meninggalkan ruangan siaran.

            “Siapa kau?” Pertanyaan Jiyoung yang tiba-tiba membuat Cindy dan Luhan terperanjat.

            “Siapa? Aku?” tanya Luhan balik, sambil menunjuk dirinya dengan telunjuk.

            “Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang berada disini yang tidak aku kenal,” jawab Jiyoung ketus.

            “Namaku Xi Luhan. Sunbae bisa memanggilku Luhan.”

            “Kau yang namanya Luhan. Hmm..” gumam Jiyoung, sambil memandangi Luhan dari atas sampai bawah kaki. Matanya lalu beralih kepada Cindy. “Hati-hati dengannya.” Lalu masuk kembali ke dalam ruang siaran.

            “Apa maksudnya?” gumam Cindy heran.

****

            “Terima kasih sudah mengantarku, Luhan,” ucap Cindy setelah keluar dari dalam mobil Luhan.

            “Kau tinggal dirumah ini?”

            “I—iya,” jawab Cindy ragu. “Aku masuk dulu. Dah..” Cindy membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. luhan masih berada disana. Saat ia mendengar jawaban Cindy ada keraguan yang ia dapat. Tampaknya Cindy berbohong padanya. Luhan jadi semakin penasaran dan berniat untuk mencari kebenarannya.

            Tiba-tiba, bayangan di benaknya hancur saat mendengar suara berisik pintu dari belakang mobilnya. Dari suara pintu disebelah rumah yang dimasuki Cindy tadi. Keluar seorang pria tinggi berjas hitam (Chanyeol) yang akan masuk ke dalam mobil. Luhan terus memperhatikan mobil hitam itu bergerak mundur sampai keluar dari perumahan ini dan melesat hilang.

            “Banyak orang kaya disini,” gumam Luhan sambil berdecak kagum.

****

            Pintu tertutup beriringan dengan bunyi klik. Cindy meletakan sepatu ketsnya di rak kemudian memakai sendal rumah yang disediakan Kris. Gadis itu pikir Kris akan berada dirumah sebelum dirinya datang. Tapi, rumahnya masih gelap. Cindy pun menyalakan lampu rumah tumpangannya. Tiba-tiba ia berteriak kaget melihat sosok Kris tergeletak di atas sofa dengan selimut putih menyelimutinya.

            “Astaga! Kris!”

            Kris mengerang dan terbangun perlahan saat mendengar Cindy memekik. Pria itu mendongak, kemudian menjatuhkan kepalanya lagi setelah melihat Cindy di ambang pintu.

            “Kau? Sejak kapan kau pulang?” tanya Cindy bingung.

            “Aku tidak pergi ke kampus,” jawab Kris pelan—lebih mirip menggumam.

            “Kenapa?” tanya Cindy penasaran sambil berjalan mendekat ke sofa Kris.

            “Jangan ganggu aku!” geram Kris kesal lalu tidur membelakangi Cindy.

            Cindy mengomel dalam hati sebelum ia beranjak dari sofa menuju dapur. Kris menghiraukan omelan Cindy yang menyebalkan itu dan memilih untuk tidur lagi. Tapi, tampaknya susah bagi Kris untuk tidur. Cindy tambah ‘berisik’ di telinganya. Suara dentingan gelas, suara pintu rak dibuka, suara langkah kaki yang pelan, dan juga suara senandung riang Cindy di dalam hati.

            Sebenarnya, Cindy tidak mengeluarkan suara apapun kecuali suara pip panjang dari lubang ceret tempatnya memasak air. Ia bahkan melakukannya dengan sangat cepat tapi tidak bersuara. Tapi, itu membuat Kris sebal dan menggeram.

            “Kau bisa diam tidak?!” pekik Kris tiba-tiba. Membuat Cindy terkejut bukan main.

            “A—ap—apa?” Cindy tergagap.

            Kris menghela napas berat dan menggeram kesal. Tanpa mengatakan alasan, Kris menyingkap selimutnya dan pergi menuju kamarnya. Yang membuat Cindy tambah bingung saat Kris membanting pintu. Sungguh ia tidak mengerti kenapa.

            “Kris?” panggilnya setengah berteriak setengah takut. “Kau kenapa? Kau marah padaku? Apa kau mimpi buruk? Ya! Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau aku berisik. Ya!”

            Cindy seperti orang gila. Berbicara sendiri, menyesal sendiri.

            Sementara itu…

            “Kau seharusnya pergi, Cindy.”

****

            Paginya, Kris bangun dengan kantung mata yang besar dan hitam. Tampaknya dia akan pergi ke kampus, tidak seperti biasanya. Tanpa diperintah Kris pun duduk di kursi makannya, memperhatikan gerak-gerik Cindy yang sedang memasak. Gadis itu hampir saja melempar piringnya saking terkejutnya melihat Kris sudah bangun. Kris tidak mengindahkan kekesalan Cindy kepadanya.

            “Berhentilah menggeram, Kris. Aku tidak suka.”

            “Memangnya kau siapa mengomentari aktivitasku?”

            “Cih.” Cindy pun meletakan piring Kris dengan kesal. Secepat mungkin Kris melahap sarapan seadanya yang disediakan untuknya.

            “Maaf untuk kemarin,” ucap Cindy pelan.

            “Huh?” Kris mendongak bingung.

            “Tidak. Habiskan saja makanmu.”

            “Kau mau kemana?” tanya Kris saat melihat Cindy bangkit dari kursinya. Padahal sarapannya belum habis.

            “Kampus. Aku duluan,” jawab Cindy sambil mengangkat bahu acuh.

            “Tapi kau belum menghabiskan makananmu.”

            “Aku tidak lapar, Kris. Ambil saja kalau kau mau. Dibuang juga boleh. Suka-suka kau lah,” balas Cindy jengah.

            Cindy buru-buru memakai sepatunya dan jaket kulitnya. Baru saja Kris menghampirinya, gadis itu sudah membuka pintu dan keluar begitu saja. terlintas di pikiran Kris percakapan tadi malam. Kris tidak sengaja ‘menguping’ percakapan Cindy dengan Luhan di telpon. Begitu asik dan menggelikan. Apalagi saat mereka melontarkan gombalan kuno. Membuat Kris tidur di balkon kamarnya (dan untungnya dia tidak bisa mendengar lagi).

            Setelah menutup pintu luar rumahnya, Kris mengira Cindy sudah pergi. Ternyata gadis itu masih ada dan itu cukup membuat Kris terkejut. Gadis itu bersandar pada mobilnya dengan tangan terlipat, ekspresinya terlihat kesal dan bertambah kesal saat melihat Kris sudah berada di hadapannya. Cindy menyerukan kata tangkap kepada Kris. Kris yang otaknya terkadang lemot hanya melongo kemudian terkejut saat Cindy melemparkan sesuatu padanya. Itu kunci mobil Kris.

            “Kenapa ini ada padamu?” tanya Kris curiga.

            “Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku tidak ada maksud untuk mengambil mobilmu. Hari ini aku pergi bersamamu,” jawab Cindy ketus.

            “Pakai mobilmu sendiri!” tolak Kris tidak kalah ketus.

            “YA!”

            “Huh?”

            Cindy menatap Kris penuh arti. Telinga Kris menangkap kata-kata hati Cindy yang terus memohon padanya. Awalnya Kris hanya menatap datar kepadanya, tapi lama-kelamaan Cindy semakin mendesaknya yang membuat Kris jengah dan akhirnya menyerah.

            “Oke, oke. Kau boleh ikut sampai mobilmu selesai diperbaiki. Cepat masuk!” suruh Kris kesal.

            Cindy terkejut. “Aku tidak bilang kalau mobilku dibengkel kan? Kau tahu darimana?” tanya Cindy bingung. “Kau membaca pikiranku?” selidik Cindy.

            “Diam atau aku tinggal,” ancam Kris dingin.

            Karena tidak mendapat jawaban, Cindy akhirnya menurut. Dengan kesal ia masuk ke mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar. Kris langsung mendelik padanya.

            “YA! Kalau pintuku rusak kau mau menggantinya, huh?” bentak Kris. Cindy tidak mengindahkan ucapan Kris dan dengan entengnya memakai earphone-nya dan menyalakan musik keras-keras, sebagai bentuk kekesalannya pada Kris. Pria disebelahnya mencibirnya kesal. Mereka pun pergi meninggalkan komplek.

****

            Saat makan siang….

            “Kau berpacaran dengan Kris Wu?” tanya Jessica tiba-tiba, membuat Cindy tersedak. Luna buru-buru memberikan air minumnya ke Cindy. Setelah ia tenang kembali, Cindy langsung membantah.

            “Tidak mungkin!”

            “Apanya yang tidak mungkin? Aku lihat kalian turun dari mobil yang sama tadi pagi,” kata Jessica tidak mau kalah.

            “Bukan berarti mereka pacaran, kan?” tanya Luna tiba-tiba. “Kalau itu bukan Kris gimana?”

            “Iya! Kalau itu bukan Kris gimana?” Cindy mengulang perkataan Luna yang menurutnya bisa menutupi ‘kecerobohannya’ tadi pagi.

            “Kau bisa saja salah liat, Jess,” kata Luna lagi mantap.

            “Tidak mungkin! Itu pasti Kris Wu!” Luna tetap pada argumennya.

            “Kalau pria itu ayahnya Cindy gimana?” Luna semakin meninggikan suaranya. Mereka ini kenapa sih? Heran!

            Cindy memilih untuk menghiraukan argumen mereka yang semakin lama semakin tidak jelas. Perhatian Cindy mengarah ke alun-alun kampus yang ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang. Banyak mahasiswa yang dulu pernah Cindy buat terkenal karena wawancara di radionya. Dari yang dulunya nerd, jadi bad karena banyak yang mengenalnya dan menjadi temannya. Dan sampai sekarang mereka masih terkenal. Perlahan senyum mengembang di pipi Cindy. Kenangan indah itu berputar lagi di otaknya dan membuat Cindy merindukan masa-masa kejayaanya dulu.

           Alun-alun itu menjadi ramai dan riuh karena tiba-tiba sebuah mobil sport memarkirkan mobilnya sembarangan. Semua mahasiswa yang lewat disana langsung beralih jalur ke arah kerumunan sambil mencari informasi tentang hal ini. Cindy juga penasaran dibuatnya. Ia beralih ke kedua sahabatnya yang masih bertengkar.

            “YA!” teriak Cindy kesal karena panggilannya sejak tadi tidak didengarkan sama sekali oleh mereka. Mereka berdua langsung menoleh kepada Cindy dengan mulut menganga karena omongan mereka terputus tiba-tiba. “Kau tidak penasaran dengan yang disana?” tanya Cindy sambil mendelikan matanya ke alun-alun kampus.

            “Hei, ada apa itu?” tanya Jessica langsung.

            “Aku tidak tahu. Ayo kita kesana,” ajak Luna, lalu menarik tangan Cindy yang ada di meja.

            Mereka bertiga beranjak dari kursi taman dengan Jessica memimpin dan Luna yang menarik tangan Cindy. Mata Cindy terus menatap mobil yang pintunya terbuka itu. Namun langkahnya berhenti setelah melihat siapa sosok yang keluar dari dalam mobil itu, membuat Luna tertarik kebelakang karenanya.

            “Wae?” tanya Luna.

            “Ada yang harus aku kerjakan di perpustakaan. Sampai ketemu di kel—“

            “Cindy!” teriak seseorang dari kerumunan itu.

            Mati aku!

            Cindy mengenal suara itu. Pekikan itu, panggilan itu. gadis itu berpikir untuk lari namun suara itu kembali memanggilnya.

            “Cindy!” panggil orang itu. dalam hati, Cindy mengutuk dirinya yang bodoh karena berpikir untuk pergi bersama temannya ke sana.

            “Ya, Cindy. Dia kesini!” teriak Luna tertahan, sambil menyikut perut Cindy.

            “Cindy,” panggil dia lagi, tapi suaranya berubah lembut dan terdengar senang. Cindy perlahan berbalik ke arah pria itu. Dengan berat hati gadis itu mendongak kepadanya. Aduh, senyumnya itu… Senyum yang selama ini ia rindukan.

            “Yeol..” panggil Cindy lirih, membuat pria didepannya tersenyum lebar yang membentuk senyum konyol seperti biasa. Sedetik kemudian Cindy memukul kepala Chanyeol dengan keras. Sontak semua orang yang menontonnya terkejut, tak terkecuali Luna yang berada di samping Cindy.

            “Kau. Ikut aku!” perintah Cindy marah, kemudian menarik lengan jas hitam Chanyeol menjauh dari kerumunan itu menuju taman belakang kampus yang sepi. Menurut Cindy itu tempat yang bagus untuk menghajar si bodoh Chanyeol.

            “Kau! Kau! Kau! Kau!” ucap Cindy marah sambil memukul lengan Chanyeol dengan ponselnya. Chanyeol berusaha menghindar dengan menutupi lengannya dengan sebelah tangannya. Beberapa menit berlalu dan pukulan itu berhenti. Chanyeol bisa bernapas lega gadisnya bisa berhenti memukul.

            “Kenapa berhenti?” tanya Chanyeol dengan tatapan polosnya. Pertanyaan itu semakin menambah amarah Cindy dan kembali memukulnya lebih keras.

            “YA! Berhenti!” pekik Chanyeol gelagapan.

            “Dasar bodoh! Terima ini!”

            “YA! YA! Sudah!” teriak Chanyeol kesal lalu menangkap kedua tangan Cindy yang sejak tadi memukulnya dan menggenggamnya erat.

            “Lepaskan.” Cindy kini menatap Chanyeol kesal.

            “Tidak sebelum kau bilang kenapa kau memukulku,” jawab Chanyeol tegas.

            “Seharusnya kau yang berpikir kenapa aku memukulmu.”

            “Huh?” tanya Chanyeol bingung.

            “Kenapa kau kesini? Kenapa kau kembali? Kenapa kau mengikutiku? Apa tidak cukup aku menjadi tunanganmu?” Cindy memberondonginya dengan segala pertanyaan. Hal-hal yang selama ini selalu berkelebat di otaknya dan ingin sekali ia tanyakan.

            Chanyeol hanya menatapnya dengan tatapan polosnya—entah polos atau bodoh. Setelah lama hening, akhirnya Chanyeol menjawab semua pertanyaan Cindy dengan sebuah senyuman manisnya. Kemudian Chanyeol menaruh tangannya di atas puncak kepala Cindy dan mengelusnya. Perlakuan ini membuat Cindy tersentak kaget dan membulatkan matanya. Gadis itu mendongak kepadanya, menutup sebelah matanya karena telapak tangan itu sekarang menyentuh pelipisnya.

            “Sekarang aku menyadari kalau kau memang manis, Chou.” Pujian Chanyeol membuat Cindy memerah.

            “YA! Berhenti bermain-main, Park Chanyeol! Aku serius,” pekik Cindy kesal.

            “Hahaha. Kau memang lucu, Chou,” ucap Chanyeol sambil menahan tawanya.

            “Enyah kau!” marah Cindy sambil menepis tangan Chanyeol yang berada di kepalanya, kemudian meninggalkan Chanyeol disana. Menyadari Cindy pergi, Chanyeol langsung menghentikan tawanya.

            “Aku kesini bukan ingin membahas masalah ikatan keluargaku dengan keluargamu. Aku kesini karena aku rindu padamu. Rasa itu sudah berubah setelah satu tahun kita bersama dulu. Dan sekarang aku ingin berada di dekatmu dan melindungimu, Chou,” ucap Chanyeol, membuat Cindy berhenti dan memutar kepalanya ke belakang. Menatap Chanyeol datar, sementara pria itu tersenyum manis kepadanya.

            “Aku pasti membayar seluruh hutang itu. Kau tidak perlu khawatir aku tidak membayarnya. Dan dengan itu aku bisa bebas darimu, Park Chanyeol,” jawab Cindy dingin. Ia kembali melangkah lebar-lebar, meninggalkan Chanyeol sendirian disana sambil menatap punggung gadisnya yang menjauh.

            “Huh, dia masih mengingatnya,” gumam Chanyeol tertawa, namun nadanya terdengar sangat kecewa.

            Tanpa disadari oleh mereka berdua, sejak tadi ada dua sosok yang mendengarkan pembicaraan mereka tanpa sengaja. Satu orang di atas pohon dan satunya lagi ada di balik dinding sebuah gudang yang tak jauh dari tempat mereka berdua bercakap tadi.

            Kris yang berada di atas pohon merasa terganggu tidurnya. Mau tak mau pembicaraan itu masuk ke dalam telinganya. Ekspresinya yang dingin memang tidak menunjukan reaksi apapun, namun hatinya terus berdetak setelah mendengar kalau Cindy sudah bertunangan. Entah kenapa ada perasaan sakit disana.

            “Tidak seharusnya aku mendengarnya kalau jadinya begini,” gumam Kris pelan lalu menutup matanya dengan lengannya yang bebas—yang satunya menjadi bantal kepalanya.

            Di lain pihak, Luhan terkejut bukan main. Karena percakapan itu ia terus berada di sana. Luhan penasaran, ada hubungan apa Cindy dengan pria yang bernama Chanyeol itu. sampai pada akhirnya Luhan mendengarkan terus dan mengetahui kalau Cindy juga punya hutang kepada pria itu.

            “Apa ada hubungannya Cindy dengan hutang itu?” gumam Luhan bingung.

            Hati mereka berdua menjadi gusar dan penasaran dan rasa suka itu timbul dari hati mereka masing-masing dan entah kapan dan siapa yang akan tumbuh subur terlebih dulu.

****

            Dosen Kim Joonmyeon akhirnya mengakhiri pelajarannya. Cindy pun merenggangkan seluruh ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk di kursinya, setelah itu ia merapikan bukunya ke dalam tas. Hari ini ia beruntung tidak ada tugas yang diberikan kepadanya jadi ia bisa pulang lebih awal kerumah. Tumpangan, lebih tepatnya.

            Baru saja Cindy akan beranjak dari kursinya, Chanyeol masuk ke dalam kelasnya dan menghampirinya.

            “Aku pikir kau sudah pulang,” gumam Cindy pelan.

            “Ayo kita pulang bersama,” ajak Chanyeol disertai senyuman khasnya yang terkesan konyol.

            “Tidak,” tolak Cindy cepat. Chanyeol terkejut.

            “Kenapa?” tanya Chanyeol bingung.

            “Karena dia akan pulang bersamaku,” ucap seseorang tiba-tiba. Cindy dan Chanyeol serentak menoleh ke sumber suara yang ternyata Kris. Pria dingin itu melangkah mendekati Cindy. Dia menatap Cindy kemudian kepada Chanyeol yang menatapnya bingung.

            “Aku ada tugas yang harus dikerjakan bersamanya malam ini. Bisa aku meminjamnya sebentar?” pinta Kris datar.

            “Tidak bisa. Aku yang lebih dulu mengajaknya pergi, kenapa kau tiba-tiba malah datang kesini, huh?” tanya Chanyeol menggebu-gebu. Cindy menganggap itu tidak masuk akal dan kekanak-kanakan.

            Astaga, Chanyeol.

           “Tapi aku ada tugas yang harus dikerjakan bersamanya. Kau tidak mendengarkan aku, ya?” tanya Kris jengah.

            Cindy jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa untuk situasi ini. Cindy menjadi kewalahan saat mereka berdua mulai adu mulut tentang siapa yang berhak pulang bersamanya. Tiba-tiba Cindy melihat Luhan sedang berjalan melewati kelasnya dan seketika ia mendapat ide.

            “Luhan!” panggil Cindy sekeras mungkin. orang yang dipanggilnya berhenti tiba-tiba dan menoleh ke kaca jendela—menuju Cindy.

            “Kau memanggil siapa?” tanya Chanyeol protes.

            “Aku memanggil Luhan. Aku baru ingat kalau aku ada janji dengannya. Maaf, tuan-tuan. Aku harus pergi. Kalian bisa melanjutkan pertengkaran kalian disini,” pamit Cindy buru-buru sambil bangkit dari kursinya dan berlari menuju Luhan.

            “Ya! Cindy! Kau mau kemana, huh?” tanya Chanyeol sedikit berteriak.

            “Aku ada janji kencan dengannya. Annyeong, Yeol!” pamit Cindy lagi riang, membuat Chanyeol terkejut setengah mati, sementara itu Kris terperangah hebat. Kencan katanya?!

            Tidak kalah dengan orang dalam, orang luar juga kaget. Apalagi saat Cindy mulai melingkarkan tangannya di lengan Luhan dan menariknya paksa.

            “YA! CINDY CHOU! MATI KAU SETELAH INI!” ancam Chanyeol marah lalu menendang meja di dekatnya. Kris menoleh kepadanya dengan tatapan dingin dan mendecih.

            “Kau tampak menyedihkan, kawan. Aku pikir kau memang benar-benar tunangannya.” Chanyeol mendelik kesal dan membantah.

            “Siapa yang kau sebut kawan? Aku bahkan tidak mengenal kau. Dan darimana kau tahu kalau Cindy tunanganku?”

            “Itu tidak penting ditanyakan. Yang harus kau pertanyakan kenapa kau mau tunanganmu pergi berkencan dengan orang lain padahal kau ada disini?” tanya Kris datar.

            Seketika Chanyeol terdiam. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena pria itu sudah tahu jawaban pasti atas pertanyaan itu. Namun, ia tidak mungkin bercerita kepada orang yang baru saja ia temui.

            Cindy tidak menganggapku ada, kawan.

****

            “YA!” Luhan tiba-tiba melepaskan pegangan Cindy pada lengannya.

            Kampus sudah sangat jauh dari tempat mereka sekarang ini. Tapi, Cindy tetap menggenggam lengannya erat. Gadis itu berbalik setelah menghembuskan napasnya kasar. Ia menatap Luhan penuh arti.

            “Kenapa kau begini?” tanya Luhan bingung juga kesal.

            “Terima kasih,” gumam Cindy tiba-tiba, membuat Luhan terhenyak.

            “Untuk?” tanya Luhan menuntut.

            JEPRET!

            Suara itu mengalihkan perhatian Luhan dan Cindy. Seseorang yang diduga paparazzi memamerkan kameranya sebagai tanda dia sudah mendapatkan sesuatu yang ia cari. Skandal. Dan itu tidak menguntungkan untuk seorang artis seperti Cindy. Dengan senyum jahatnya ia menatap Cindy yang gemetaran dan tidak bergerak, begitu juga Luhan yang sama syoknya. Pria itu tiba-tiba melompat dari semak-semak dan berlari sekencang ia mungkin, sehingga tidak ada satupun yang bisa mengejarnya.

            Celaka!

****

 

*To Be Continued…. (Thanks yang udah mau baca dan silahkan berkomentar dan bersaran ^^)

2 thoughts on “Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s