Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 7

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 7

Author : BaoziNam

Main Cast :

            -Cindy Chou (OC)

            -Tao as Zitao

            -D.O as Kyungsoo

            -Luhan as Luhan

            -Kris as Kris

            -Park Chanyeol as Chanyeol

Additional Cast :

            -Luna f(x)

            -Jessica SNSD

            -Sandara 2NE1

            -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic saya. No plagiat! Thanks ^^

 

****

            Hari-hari Cindy sedikit menjadi lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Mungkin karena ada Luhan sekarang. Gadis itu jadi tidak peduli lagi dengan semua pandangan semua gadis di kampus. Bisa terlihat kalau mereka semakin membencinya karena Cindy selalu dekat dengan orang terkenal dan tampan. Dia memberitahu ini kepada Luhan, dan pria itu hanya tertawa geli mendengarnya.

            “Itu konyol,” komentarnya setelah tawanya berhenti.

            “Mereka hanya iri padaku. Terkadang wanita itu bisa kekanak-kanakan,” ucapnya percaya diri.

            Luhan pun memiringkan kepalanya. Menatap orang di sebelahnya yang sedang membaca buku yang ia letakkan di paha. Angin-angin semilir menerpa helain rambut halusnya yang pendek. “Kau terlalu susah untuk dikalahkan oleh mereka.”

            “Jangan membuatku besar kepala, Tuan Luhan. Aku sedang dalam masa perbaikan sifat. Ayahku menyarankan untuk memperbaiki sifat, karena penampilan tidak akan berarti kalau sifat tidak baik,” ucap Cindy serius sambil menatapnya. Sedetik kemudian ke buku lagi.

            Mendengar kata ayah, Luhan bangkit dari tidurnya lalu menatap Cindy bingung. “Ayah? Kau bilang kau sebatang kara disini.”

            “Dia hanya seorang pria paruh-baya yang kupanggil ayah. Dia Dosen Kim Junmyeon. Sosoknya yang hangat membuatku nyaman dengannya,” ucapnya tersanjung.

            Luhan terdiam, menatap hamparan rumput hijau dibawah kakinya dalam bisu. Tatapannya menerawang jauh ke tempat lain, mencari sesuatu untuk ditanyakan. Beberapa saat terdiam, dia kembali menatap gadis itu dengan penasaran.

            “Kenapa kau sebatang kara disini?”

            “Karierku yang memaksaku untuk tinggal sendiri. Ibuku lebih memilih pindah ke tanah kelahiran untuk kariernya, dan aku disini untuk karierku.”

            “Kenapa kau bekerja? Kau masih sekolah, bukan?”

            “Karena akulah kepala keluarga sekarang ini.” Suaranya perlahan memelan. Matanya tidak lagi di buku, melainkan ke arah lain menuju pikirannya yang dalam dan menyedihkan.

            Luhan sadar akan perubahan suara Cindy. Pria itu sekarang merutuki dirinya yang sudah bertanya sesuka hatinya. Walaupun tidak apa-apa, tetap saja dia merasa bersalah sekarang. Luhan memilih bungkam sekarang, daripada bertambah buruk jadinya. Luhan sekali lagi melirik Cindy yang tidak merubah ekspresinya sejak tadi.

            “Ehm.. eung… kau mau eskrim?” tawar Luhan gugup, kemudian menyunggingkan senyum canggung saat mendapatkan alasan yang tepat. Cindy mengangguk lalu menoleh padanya sekilas. Hati Luhan berubah lega akan jawaban Cindy itu. “Aku akan membelikanmu eskrim Choco Hazelnut. Tunggu aku! Aku akan kembali.”

            Luhan buru-buru bangkit, berlari menuju kedai eskrim yang kecil di seberang. Mata Cindy mengikuti kemana Luhan pergi sampai dia berhenti disana. Dia berpikir sejenak sambil menatap punggung Luhan yang tegap itu. Ada sesuatu yang aneh saat bersama dengan Luhan. Terkadang ada sesuatu yang muncul di benaknya yang menyuruh dirinya untuk pergi menjauh dari Luhan. Tapi, Cindy menolak. Sosok Luhan sudah melekat dan terlanjur duduk nyaman di hatinya. Apa yang bisa ia lakukan lagi kalau sudah begitu?

            Tanpa Cindy sadari, Luhan sudah berdiri di sampingnya, menghalangi sinar matahari, sambil memegang eskrim kesukannya di tangan kirinya. Cindy mendongak, sedikit menyipit, terlihat Luhan berdiri dengan senyum disana dengan eskrim disodorkan. Tangannya meraih es itu dan memindahkan itu ke tangannya. Luhan pun kembali duduk di sebelahnya, dan menikmati esnya dengan senang.

            “Terima kasih,” ucap Cindy pelan.

            “Apa?” tanya Luhan bingung. Tampaknya Luhan tidak dengar.

            “Tidak ada.

            Tiba-tiba ponsel Cindy berdering. Tangannya langsung beralih ke ranselnya, mencari ponselnya yang menurutnya tersimpan disana. Tapi, tidak ditemukan sama sekali. Luhan menoleh padanya yang sibuk mencari sesuatu di dalam ranselnya dengan terburu-buru. Mengetahui kalau ponselnya berdering, Luhan juga ikut mencari. Tampaknya Luhan lebih tahu dimana ponsel Cindy. Benda putih itu tergeletak di samping kaki Cindy, yang sama sekali tidak diketahui oleh pemiliknya.

            “Kau meletakannya disini,” tegur Luhan sambil menoel bahu Cindy, membuat perhatian gadis itu ke arahnya kemudian ke arah matanya yang menunduk. Cindy langsung tersenyum mengakui kecerobohannya saat melihat ponselnya disana. Cindy langsung menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga kirinya.

            “Ye?” jawabnya pelan. Seketika matanya membulat kaget, membuat Luhan semakin penasaran. “Dimana dia sekarang? Depan rumahku?!” Karena teriakannya, Luhan malah ikutan kaget. Cindy memutuskan untuk memelankan suaranya. “Apa dia gila?”

            Luhan bisa mendengar bisikan pelan yang beruntun dari balik ponsel Cindy. Perubahan ekspresi Cindy yang serius dan tegang membuat Luhan makin penasaran. Sampai Cindy mematikan sambungan telpon itu, mimiknya tidak berubah. dia seakan tenggelam ke dalam pikirannya yang berubah kacau. Perlahan dan ragu, Luhan mengangkat sebelah tangannya dan menepuk pundak itu pelan, membuyarkan pemikiran Cindy yang langsung gelagapan.

            “Apa ada sesuatu?” tanya Luhan hati-hati, tangannya masih di pundak gadis itu. Cindy terdiam, kemudian mengangguk perlahan.

            “Aku harus pergi sekarang!” pamit Cindy tiba-tiba, menatap Luhan sekilas kemudian membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Luhan cepat-cepat menahan tangannya yang hendak pergi.

            “Aku antar.”

            “Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri, Luhan.” Cindy ingin menyingkirkan genggaman Luhan dari lengannya, tapi Luhan malah mengeratkan genggaman itu.

            “Aku serius. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Kini Luhan tampak sangat serius. Tatapannya seakan mengunci rapat tatapan Cindy yang tampak terus menghindar. Cindy hanya memberikan tatapan sedih untuk Luhan, membuat pria itu perlahan mengendurkan pegangannya. Sekali lagi Cindy mencoba melepas pegangan itu dan berhasil.

            “Aku tidak bisa memberitahumu. Maaf. Kuhubungi kau nanti.” Cindy segera berlalu dari Luhan setelah kata pamit yang terdengar sangat lirih itu. Luhan terus memandangi punggung Cindy yang berlari menuju mobilnya dan segera pergi dari tempatnya.

            ‘Apa aku harus mengikutinya?’

****

 

Cindy POV

            Tubuhnya membeku saat melihat ada sepasang sepatu pantofel di depan pintu rumahnya. kuncinya bergetar di dalam genggamannya. Berharap ia akan sampai lebih dulu daripada orang itu pupus dengan cepat. ‘Orang’ yang tidak pernah ia harapkan lagi, malah datang ke dalam kehidupannya.

            Dengan ragu, Cindy memutar kenop pintunya, mendorongnya kebelakang. Matanya langsung menangkap sosok punggung pria tegap yang sedang berdiri di dekat rak bukunya.

            Dia pun berpikir untuk mengendap-endap ke dapur, mengambil pisau dapur, kemudian menghunuskan pisau itu tepat di punggung lelaki itu—atau dimana sajalah. Tapi, pria itu menyadari keberadaan Cindy yang sudah ada di pintu.

            Dia berbalik, tersenyum manis padanya yang menatapnya bengong. Buku di genggaman pria itu kembali ia letakkan di raknya kemudian menghampiri Cindy dengan langkahnya yang besar. Ia pun berhenti tepat saat Cindy mundur selangkah menjauhinya. Agak kaget memang, tapi pria itu bisa mengubah kembali ekspresinya itu ke semula.

            “Sudah lama tidak berjumpa. Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga begitu?” tanya pria itu lembut.

            “Cih, jangan harap! Aku akan sangat bersyukur pesawatmu meledak saat menuju kesini dan kau mati tenggelam di laut Pasifik.” Ucapan Cindy yang ketus, sama sekali tidak merobohkan senyum lebar itu dari bibirnya.

            “Sambutan yang manis sekali. Sangat berbeda dari tahun kemarin. Tapi, aku lebih suka sambutan yang dulu daripada sekarang,” komentarnya, yang tak kalah lembut dari sebelumnya.

            “Aku tak peduli. Berita kematianmu sangat menarik bagiku daripada berita kedatanganmu.”

            “Kenapa? Apa aku pernah membuat salah kepadamu?” tanyanya, sambil memeriksa tubuhnya, kalau-kalau ada yang aneh.

            “Cih. Kau memang tidak pernah berubah. Sadarlah, Park Chanyeol! Aku tidak menyukaimu! Aku juga bukan tunanganmu! Lihat ini!” Cindy pun menunjukan jarinya yang kosong. “Bahkan tidak ada cincin disini!”

            “Kau menjualnya?” tanya Chanyeol santai, setelah menghembuskan napas beratnya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.

            “Aku tidak butuh uangmu, Park Chanyeol. Aku membuangnya.”

            “Yeah, kau memang kejam, Cindy. Aku tidak menyangka kau begitu. Aku selalu mengingatmu, kapanpun. Aku juga buru-buru menyelesaikan pekerjaanku demi kesini untuk melihatmu lagi,” kata Chanyeol sedih.

            “Begitukah? Jangan berlebihan, Park Chanyeol,” balas Cindy sinis.

            Chanyeol perlahan mendekati Cindy. Baru satu langkah, Cindy langsung menjauhkan dirinya tiga langkah ke belakang. Chanyeol menyeringai seram kepada Cindy yang kini menatapnya curiga dan was-was. Chanyeol melangkah lagi, dan Cindy berjalan menyamping ke kiri tiga langkah. Chanyeol terus mendekatinya pelan-pelan. Pria tinggi itu tidak ragu mendekati Cindy yang semakin memperbanyak langkahnya menjadi tujuh kali setiap satu langkah besar Chanyeol.

            ‘Sial!’ umpat Cindy kesal saat ia mendapati langkahnya terhenti tiba-tiba karena tubuhnya membentur rak buku. Belum sempat Cindy melewati rak buku itu, Chanyeol sudah menghadangnya dengan kedua tangannya menempel di dinding, mengunci Cindy yang terpaku menatap Chanyeol dengan gugup sekaligus kesal. Chanyeol tersenyum menyeringai seram, membuat Cindy gemetaran.

            “Kau ingin kemana lagi, Cindy?” tanya Chanyeol pelan. Chanyeol mendekatkan dirinya satu langkah dengan Cindy, hingga gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.

            “Lepaskan aku, atau kupatahkan pinggangmu,” ancam Cindy seram.

            “Silahkan,” balas Chanyeol enteng. Tapi, Cindy tidak melakukannya sama sekali. Dia ragu. Chanyeol tahu apa kelemahan Cindy dan menggunakannya sekarang. “Kenapa? Kau takut?” tantang Chanyeol.

            “Apa maumu, Park Chanyeol? Mengganti cincinmu? Atau membuat kejujuran palsu kalau aku merindukanmu?”

            Oh, plis. Yang terakhir benar-benar ide yang buruk untuk Cindy pikirkan.

            “Tidak. Kau sudah cukup menderita dengan kariermu yang semakin redup, dan sekarang kau mau mengganti cincin murah itu. Aku pengertian, bukan?”

            “Kau banyak bicara, Park Chanyeol! Cepat katakan!” desak Cindy tak sabaran.

            “Menikahlah denganku, Cindy.”

            “Apa?!”

****

 

            Gara-gara semalam, Cindy tidak bisa tidur. Kantung matanya melebar dan menghitam. Membuat Cindy tampak menyedihkan—dan menguntungkan untuk para antifansnya karena mereka dapat sesuatu untuk diejek. Pikirannya tidak berada di pelajaran kampus, tapi ada pada tawaran Chanyeol semalam. Konyol memang! Tapi, Chanyeol tidak bercanda seperti biasanya. Entah apa lagi yang pria tinggi itu pikirkan.

            “Kau kenapa, Chou? Begadang lagi semalam?” tanya Zitao khawatir saat mereka makan siang bersama.

            “Bukan, Chanyeol kembali lagi,” jawab Cindy pelan.

            “Apa?! Kenapa tiba-tiba?!” pekik Zitao tiba-tiba. Dia bahkan sampai terlonjak dari kursinya saking kagetnya.

            “Ah, aku tidak tahu. Hidupku hancur lagi karena dia.” Cindy mendengus pasrah, kemudian meminum jus jeruknya.

            “Lalu? Apa yang dia bilang tentang cincin yang kau buang itu?” tanya Zitao penasaran.

            “Dia bilang hal-hal yang konyol dan tidak masuk akal. Oh, aku merinding mengingatnya.” Cindy pun mengendikan bahunya kesal.

            “Orang seperti dia pasti tidak akan meminta cincin itu kembali.” Komentar Zitao memang benar.

            “Aku benar-benar frustasi sekarang!” erang Cindy marah. Tangan pria di sebelahnya itu tergerak untuk menenangkan Cindy lewat elusan di punggungnya. Cindy menoleh padanya, menatap Zitao yang tersenyum hangat untuknya. Cindy kembali mengeluarkan unek-uneknya kepada sahabatnya ini. Semuanya.

            “Sekarang dia tinggal dirumahku. Selama seminggu ini aku akan terus melihatnya setiap detik. Mendengar suaranya yang konyol, melihatnya bertingkah bodoh, dan rayuannya yang memuakan. Bahkan tadi pagi dia minta dibuatkan sarapan calon istri! Gila!” Tangannya memukul-mukul lengan besar Zitao setelah ia menamatkan unek-uneknya.

            “Kau bisa tinggal dirumahku selama seminggu ini. Aku akan berusaha mengasingkanmu darinya,” tawar Zitao cepat, membuat Cindy berhenti memukulnya.

            “Tidak. Dia pasti tau kalau aku di rumahmu.”

            “Kalau begitu dirumah pria Cina itu—atau dia bukan pria.” Tawaran Zitao terdengar setengah mengejek saat menyebut sosok Luhan yang ia tahu sedang dekat denganku. Cindy menoleh padanya, mendelik padanya. Mendapat respon jelek, Zitao jadi salah tingkah kemudian melanjutkan tawaran keduanya. “Atau Kris—“

            “Tidak! Kau gila, Zitao!” bantah Cindy ketus. “Setelah aku dipermalukan begitu, kau lalu menyuruhku mengemis padanya. Kenapa aku harus, huh?”

            “Jangan berlebihan, Chou. Aku tidak separah itu. Kalau kau tidak mau, kau bisa dirumah Kyungsoo atau… tidak sama sekali.”

            “Darimana kau tau aku dekat dengan Kyungsoo?” selidik Cindy curiga.

            “Hei, Cindy! Aku tahu segalanya tentangmu. Aku bahkan tahu bagaimana saat kau mengalami cinta pertamamu—“

            Cindy langsung menutup mulut Zitao dengan kedua tangannya.

            “Aku akan menuruti tawaranmu kalau kau diam.” Cindy mengancam Zitao, dan pria itu mengangguk perlahan dengan mulut masih dalam posisi terbuka namun tidak bisa berbicara sedikitpun karena tangan Cindy masih dimulutnya.

            Cindy akhirnya menjauhkan tangannya dari mulut Zitao, mengelap keduanya di kaos Zitao. Pria disampingnya buru-buru menghabiskan makan siangnya yang baru dimakan tiga suap, sementara Cindy sedang bergulat dengan pikirannya yang kacau. Kyungsoo? Atau Kris Wu? Pikirnya galau.

****

            Malamnya Cindy bisa bernapas lega dan merasa beruntung karena Chanyeol tidak berada di rumah, melainkan di rumahnya sendiri. Dia mengiriminya pesan kalau dia akan mengunjungi orang tuanya setelah kedatangannya di tanah kelahirannya dan akan pulang larut. Gadis itu memanfaatkan kesempatan ini untuk mengemasi barang-barangnya dan segera pergi dari rumahnya untuk sementara waktu. Tidak banyak yang ia bawa, tapi yang terpenting ponsel dan dompet yang berisi uang, ATM dan surat-surat berharga sudah terbawa.

            Namun, malam yang menurutnya menguntungkan itu tidak selamanya menguntungkan. Disaat dia bisa keluar dari rumah, tapi mobilnya seperti tidak memperbolehkannya pergi. Hari sudah semakin malam dan semakin berbahaya untuknya. Chanyeol bisa kapan saja pulang dan dia pasti ketahuan akan kabur.

            ‘Tidak ada pilihan lain.’ Batin Cindy semakin menciut saat ia memutuskan untuk mengangkat kembali kopernya dan membawanya pergi meninggalkan mobilnya.

            Ia merasa harus menjual kembali harga dirinya, hanya untuk hari ini saja. Dia akan melakukan apapun, bahkan sampai mengemis. Walaupun dia rasa itu sangat memalukan. Tapi, hanya orang ini yang bisa membantunya. Dan sekarang ia sudah berada di depan pintu rumah orang itu. Rumah besar yang berada di sebelahnya. Kris Wu.

            Ting! Tong!

            Pemiliknya pun keluar, menampakan wajah datarnya. Namun menjadi sangat datar saat ia menundukan kepalanya dan menatap Cindy dengan tatapan memohon.

           “Eh, tunggu!” ucap Cindy tiba-tiba sambil menahan pintu rumah saat Kris hendak menutup kembali pintunya.

            “Apa?” tanyanya ketus.

            “Mari kita bicara sebagai sesama tetangga. Dan tetangga pasti akan menyambut ramah dan menolong tetangga lainnya bila ia meminta tolong—“

            “Cepatlah! Aku mau tidur,” rengek Kris, memotong ucapan Cindy.

            “Kau mau membantuku?” tanya Cindy sambil memamerkan senyum manjanya.

            “Tidak,” tolak Kris dingin, kemudian menutup pintu. tapi, Cindy berhasil mencegahnya lagi dan membuka pintu itu lebar-lebar dan menahannya dengan sebelah kakinya. Kris mendenguss kesal, berkacak pinggang dengan jengah. “Kau mau apa? Tidak puas kau dengan kejadian waktu itu? Sekarang kau—“

            Belum sempat Kris melanjutkan unek-uneknya, Cindy sudah mendorongnya dengan kasar menuju rumah kemudian menutup pintu rumah Kris dengan kencang. Kris sampai jatuh tertidur di atas rumput-rumput rumahnya. Cindy masih disana, menempelkan telinganya di pintu seperti menguping.

            “Apa yang kau—“

            “Shhhttt!” Interupsi cindy tiba-tiba, sambil meletakan telunjuknya di depan bibirnya. Kris mau tak mau ikut diam, dan mendengarkan apa yang menjadi target pendengaran gadis di depannya ini. terdengar suara berat Chanyeol di luar. Kris mengerutkan keningnya ketika suara itu memanggil nama Cindy berkali-kali. Sebenarnya apa hubungan Cindy dengan pria itu?

            “Cepat temukan Cindy di seluruh penjuru Korea. Cek juga tanggal penerbangan terakhirnya ke luar negeri. Juga datangi rumah Zitao. Kalau kau bertemu dengannya, seret dia dan bawa pulang!”

          Kris semakin bingung dan curiga. Ia melirik Cindy, mendapati gadis itu menegang dan khawatir. Ada apa ini?

            Suara bantingan pintu rumah Cindy terdengar beberapa saat keheningan diluar. Cindy masih menempelkan telinganya disana, padahal suara diluar sudah tidak ada. Kris bangkit, membersihkan celananya dari debu. Ia menghampiri Cindy yang sedang gelisah.

            “Siapa tadi?” tanya Kris, membuat Cindy terkejut. Untuk beberapa saat Cindy hanya menatap manik mata berwarna hitam milik Kris sebelum ia bisa menjawab pertanyaan Kris.

            “Tunanganku.” Jawaban singkat dari gadis itu membuat Kris terkejut sekaligus tak percaya.

            “Kau—kau sudah bertunangan?!” pekik Kris tertahan. Matanya membulat. “Bagaimana bisa?” desak Kris.

            “Ceritanya panjang. Aku juga tidak tahu harus percaya denganmu kalau aku menceritakan semuanya.” Cindy pun jatuh terduduk dan menangis tertahan. Kris menatapnya iba. Entah kenapa ia tidak bisa membenci gadis ini untuk sekarang ini. Ada rasa simpati saat melihat gadis itu menangis tanpa sandiwara. Kris pun berjongkok di hadapan gadis itu.

            “Apa yang harus aku lakukan untuk menolongmu? Sebagai tetangga?” tanya Kris pelan-pelan. Dia harus menjaga ucapannya agar gadis ini tidak terisak lebih keras.

            “Ijinkan aku tinggal disini selama seminggu. Tidak, satu hari saja sudah cukup,” jawab Cindy sesunggukan.

            Kris tampak berpikir keras. ia sebenarnya berat untuk mengatakan ‘ya’. Tapi Cindy harus ia tolong. Apalagi tadi dia mendengar tunangannya mencari dia. Cindy bahkan menangis karena pasangannya mencarinya. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya yang membuat Cindy enggan kembali.

            Dengan berat hati, Kris mengatakan ‘ya’ dengan pelan dan pasrah. Cindy mendongak, menatapnya tak percaya kemudian tersenyum bahagia. Cepat-cepat Cindy mengusap kedua matanya yang penuh air mata.

            “Terima kasih,” ucap Cindy dalam bahasa Cina. Kris pun tersenyum tipis, lalu mengajak Cindy masuk ke dalam rumahnya.

            Gadis itu memang senang Kris membolehkannya untuk tinggal sementara. Tapi, kesenangan itu tidak berlangsung. Cindy malah berpikir kalau Kris akan membawakan kopernya masuk, tapi ternyata tidak. Ia bahkan membiarkan Cindy melakukan apapun sesuka hatinya. Tapi, dengan syarat gadis itu tidak boleh masuk ke dalam kamarnya atau ke dalam ruangan berpintu abu-abu yang terletak di ujung rumah tepat di samping kamarnya.

            “Ingat! Kau tidak boleh ke ruangan itu. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh kesana. Mengerti?” pinta Kris tegas.

            “Maksudnya apa ‘apapun yang terjadi’? Dasar aneh,” ejek Cindy ketus, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju.

           Pria itu tampak tidak mempedulikan Cindy yang sudah berada di rumahnya—bahkan menggunakan toiletnya. Ia pergi melangkah menuju kamarnya, masuk ke dalamnya dan mengunci pintu. Pria itu memilih menyelimuti dirinya dan tidur, daripada ‘menjamu tamu barunya’. Dia memang pria dingin.

           Tepat saat itu Cindy sudah selesai berganti baju dengan piyama. Ia menoleh ke atas, menuju pintu kamar Kris, dan mencibirnya saat menemukan pria itu sudah tak bersuara di atas sana. Cindy juga mengeluarkan beberapa umpatan kekesalannya untuk pria itu selama ia menggelar kasurnya di lantai ruang tamu.

            ‘Pria aneh! Tidak berperikemanusiaan! Aku pasti sudah gila meminta bantuan padanya. Pembohong gila!’

            “Menyusahkan.” Omel Kris pelan lalu memiringkan tubuhnya ke samping sambil menarik selimutnya sampai ke dagunya.

****

 

*To Be Continued….

Note: Semakin rumit atau semakin bingung sama ceritanya? Maaf kalo keduanya bener. Aku hanya berusaha membuat cerita ini seru. Sebenernya ngasih banyak cast itu sulit. Tapi, karena terlanjur udah bikin, jadi aku pasang aja dan aku harus nyari situasi apa yang menyangkut mereka. Contohnya Kyungsoo sama Zitao. Ada yang udah kegambar apa yang ‘dipunya’ Kris disini? 😀 Ada lagi yang harus diperhatikan disini. Saat Luhan mau ngikutin si Cindy itu akhirnya Luhan nggak jadi ngikutin. Ngerti nggak? ._. pokoknya gitu deh (hahaha. Apasih-_-) Intinya, jangan lupa komentar ya! Thanks udah baca ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s