Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 6

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 6

Author : BaoziNam

Main Cast :

            -Cindy Chou (OC)

            -Tao as Zitao

            -D.O as Kyungsoo

            -Luhan as Luhan

            -Kris as Kris

Additional Cast :

            -Luna f(x)

            -Jessica SNSD

            -Sandara 2NE1

            -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic saya. No plagiat! Thanks ^^

 

****

Tepat pukul tujuh pagi aku sudah berada di kelas, sendirian. Jam tujuh bukan jam masuk kelas. Aku juga tidak tahu kenapa aku ingin sekali pergi ke kampus pagi-pagi. Sekarang aku hanya berada di pojok kelas—di tempat dudukku yang setia—sambil memandangi lapangan kampus yang membosankan. Penuh dengan warna hijau yang kaku, dan membosankan. Beberapa mahasiswa pria datang satu-persatu. Tidak ada yang menarik perhatianku sama sekali. Kebanyakan yang datang sepagi ini adalah kumpulan nerd. Sama sekali tidak menarik, pikirku. Tiba-tiba, aku menangkap sosok tinggi yang baru saja melewati pagar kampus. Dandanan yang tidak mencolok dan sederhana, namun membuatnya tampak keren dilihat dari segi manapun. Tidak salah lagi itu Luhan. Ya, Luhan.

            ‘Kenapa dia ada disini?’ pikirku bingung. ‘Universitas yang ia maksud itu universitas yang ini? Benarkah?’

            Sosok itu berjalan lurus memasuki gedung kampus. Aku terus memperhatikannya sampai ia menghilang dari pandanganku. Otakku menyuruh untuk menemuinya di tangga dan berpura-pura akan ke kantin hanya untuk sekedar menyapanya sejenak. Tapi, tubuhku tidak ingin. Sudah banyak siswa perempuan yang datang dan berkeliaran di koridor, membuatku sedikit minder dan enggan untuk keluar. Sebenarnya, ini juga bukan ide yang baik untuk pergi ke kampus karena kesehatanku memburuk sejak pagi. Lagipula, tidak akan ada yang peduli aku sekolah atau tidak.

            Aku kembali menarik sebelah kakiku yang sudah keluar dari meja, berniat untuk pergi dari kelas. Kepalaku kembali bertumpu pada telapak tangan kananku, memalingkan wajah dari pintu dengan rambutku, dan memaksakan diri melihat pemandangan pagi yang menyegarkan. Aku bisa mendengar beberapa langkah kaki yang masuk melalui pintu depan dan belakang kelas. Lama kelamaan kelas mulai ramai dengan suara riuh cerita beberapa mahasiswa dengan temannya. Dalam hati aku bersyukur tidak ada suara langkah cepat—seperti menghindar—saat melihatku, atau bisa dibilang tak ada yang melihatku disini.

            “Woah! Siapa dia?” Tiba-tiba terdengar suara kagum dari seorang perempuan di depanku.

            “Lihat! Dia menuju kesini!”

            Aku sandarkan punggungku di kursi setelah merapikan poni panjangku dan memakai tudung jaket. Kulihat semua mahasiswi di kelasku mulai merapikan diri mereka agar terlihat cantik di mata seseorang yang menarik perhatikan mereka sekarang. aku tidak bisa melihat siapa yang datang dan siapa yang mereka cari karena poniku yang menutup sebelah mata kananku. Daripada aku terlihat oleh orang lain, lebih baik aku menyembunyikan wajahku kembali dan berusaha acuh pada orang itu.

            Teriakan mulai terdengar di kelasku. Mahasiswi disini menyapanya dengan nada yang sengaja mereka buat manis sambil tersenyum imut. Pria itu membalas senyum mereka dan membungkuk sopan padanya. Tapi, teriakan itu berubah menjadi sayup-sayup bisikan menusuk yang ditujukan untukku. Aku bingung, dan terus bertanya kenapa.

            “Oh? Luhan-ssi?” Suara berat dari seseorang yang terkejut membuatku juga ikut terkejut dan menoleh ke arahnya. Itu tadi suara seorang.. Perempuan? Laki-laki?

            “Kapan kau datang?” tanyanya lagi, kemudian memeluk Luhan layaknya seorang laki-laki.

            “Seminggu yang lalu,” jawabnya cepat, sambil tersenyum senang.

            “Kenapa kau tidak langsung masuk kampus?”

            “Aku harus mengurusi apartemenku. Yang sekarang ini lebih besar dan lebih repot daripada yang lama. Kau harus kesana nanti.”

            “Tentu saja!” jawabnya semangat. Matanya langsung beralih melirikku yang menatap mereka berdua dengan bingung. Dia ganti menunjukku dengan telunjuknya. “Kau mengenalnya?”

            “Iya, dia gadis yang aku temui saat kencan buta sabtu kemarin,” jawab Luhan blak-blakan. Aku kembali mendengar sayup-sayup suara orang berbisik negatif tentangku, tapi tampaknya ada juga yang mulai cemburu padaku. Cemburu lebih baik daripada disebut wanita murahan—seperti yang mereka bisikkan sekarang.

            “Kau DJ C, kan? Yang sudah menuduh Kris Wu dan membuatnya malu?” tebaknya blak-blakan. Oh, tidak! habislah aku!

            “Kau ingin menghinaku? Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa,” ucapku sedih. Dia tidak menunjukkan ekspresi yang berarti untukku.

            “Aku tidak seperti wanita yang lainnya. Aku bukanlah penggosip dan juga bukan orang yang mudah terpengaruh seperti mereka yang sekarang membisikkan dirimu,” jawab Amber sengaja melantangkan suaranya. Membuat orang yang tadi berbisik menjadi diam menunduk malu. Amber pun tersenyum padaku.

            “Lihat, kan? Aku membelamu.” Ucapannya yang tulus mengundang senyum haru di wajahku. Dia sangat hebat dan berani.

            “Aku ingin sepertimu, Amber-ssi!” pintaku dengan mantap.

            “Ah, terima kasih. Mudah saja untuk membuatmu berani,” ungkapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. “Ah, ini temanku saat di Amerika. Namanya Xi Luhan. Kalian pasti sudah saling kenal saat kencan buta.”

            “Iya, aku sudah mengenalnya. Bahkan aku bertemu dengannya tiba-tiba di dalam bus menuju cafe tempat kami berkencan.”

            “Wah, bagus itu! Apa kalian sudah ditakdirkan untuk bertemu?”

            Tanpa aku sadari, pipiku bersemu merah mendengar ucapan Amber yang blak-blakan itu.

****

            Saat makan siang bersama Luna, pikiranku sama sekali tidak bisa fokus. Selalu kata-kata Amber tadi pagi yang melayang di otakku. Aku tahu dia hanya bercanda. Luhan juga bilang kalau Amber orangnya suka mengatakan apa yang ia pikirkan sekarang, tanpa menyimpannya atau memikirkannya dulu. kedatangan Luhan ke kampusku sudah membuatku penasaran, dan sekarang di tambah perilaku Luhan yang terlalu baik dan perhatian padaku. Memang semenjak kami berdua bertemu, dia sudah menunjukkan perhatiannya padaku—dan kepada yang lainnya. Tapi, aku merasa ada yang lain dari dirinya. Apa ya?

            “Kau sakit, Cindy?” tanya Luna tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunanku. Luna memandangku penasaran, kemudian memegang dahiku dengan telapak tangannya yang bebas dari sumpit. “Kau agak panas. Apa kau ingin minum obat?” tanya Luna lagi sedikit cemas. Aku hanya menggeleng lemah kemudian menunduk menatap bekalku.

            Luna beralih ke tasnya kemudian mencari sesuatu di dalam kantong kecil di balik tasnya. Barang yang ada ditangannya itu ia berikan padaku yang ternyata sebuah plastik kecil berisi obat-obatan berukuran sama.

            “Aku rasa kau sebentar lagi akan demam. Itu obat demam. Minumlah kalau kau benar-benar demam nanti. Tapi, aku berharap kau tidak terserang penyakit itu.” Luna berkata dengan lembut sambil sesekali melirik plastik kecil ditanganku kemudian menatapku lagi.

            “Gomawo. Kau memang temanku yang baik,” ucapku pelan sambil tersenyum kepadanya. Luna membalas senyumanku sambil mengangguk sekali. Ia pun kembali mengaduk nasinya dengan kimchi dan memakannya.

            “Hei, guys! Kalian lama menunggu, huh?”

            Kami berdua sontak menoleh ke belakang, mendapati Jessica sudah berdiri di antara kami berdua sambil membawa kotak bekalnya yang cute—hewan-hewan laut bermata besar. Gadis itu kemudian melangkahi kursi panjang dan duduk di sana setelah kedua kakinya berhasil melangkahinya.

            “Tampaknya kau tidak marah lagi padaku,” ucapku senang. Jessica langsung menoleh kilat—membuat rambut tebalnya menyapu wajahku—dan menatapku tajam.

            “Luna yang menyuruhku!”

            “Jadi kau datang kesini karena suruhanku?” protes Luna kaget.

            “Hei, mengertilah. Aku tidak punya teman selain kalian berdua. Masalah aku sudah memaafkanmu atau belum, itu urusanku.”

            Dibalik ucapan ketus Jessica, aku bisa mengartikan kalau Jessica sedang memberiku maaf dengan cara lain, yang menurutnya tidak menjual harga dirinya padaku. Soal dia tidak punya teman lain, kalian tidak akan pernah percaya seorang Jessica tidak punya banyak teman. Gadis populer ini orangnya memang dingin, tapi kalau sudah di dekati dia sangat ramah dan murah hati. Tapi, egonya sangat tinggi terhadap orang lain.

            “Aku dengar Luhan masuk ke kampus ini. Dia juga bertemu denganmu pagi ini. Bahkan dia masuk ke jurusan yang sama denganmu dan duduk di sebelahmu!” Laporan Jessica menimbulkan rona merah di pipiku. Jantungku jadi berdetak sangat kencang tidak karuan. Hanya dengan nama Luhan aku sudah deg-degan.

            “Kau tau darimana?” tanyaku pelan tanpa mengalihkan pandangan dari kotak bekalku.

            “Amber.”

            Sial!

            “Gadis tomboy itu? Kenapa dia memberitahumu?” tanya Luna bingung.

            “Dia saudaraku,” jawab Jessica sambil meraih kotak jus jeruknya lalu menusukkan sedotannya di lubangnya. “Saudara jauh. Aku saja baru tau kalau dia saudaraku.”

            Luna kemudian mengangguk—tanda mengerti. Sumpitnya bergerak meraih acarnya kemudian menyuapkan ke mulutnya sendiri. tangan yang memegang sumpit itu sekarang menumpu dagunya yang bergerak mengunyah. Matanya tampak menerawang jauh ke dalam pikirannya, seperti ada yang ingin di tanyakan kepada kedua temannya. Setelah menyuap nasi ke mulutnya lagi, kini dia menatap Jessica dan diriku bergantian.

            “Cindy, kau masih akrab dengan Dosen Kim (Kim Junmyeon)?” tanyanya, membuatku mendongak dan menatapnya.

            “Ya, kenapa memangnya?” tanyaku.

            “Tidak ada. Aku hanya khawatir istrinya cemburu,” jawab Luna pelan, lalu mengaduk nasinya.

            “Dosen Lee? Bukankah mereka sudah bercerai?”

            “Apa?!” tiba-tiba mereka berdua memekik kaget, membuatku membelalakan mata ikut kaget.

           “Kalian tidak tahu? Astaga.” Aku pun mendesah kecewa pada mereka berdua lalu melanjutkan ucapanku lagi. “Aku rasa cuma kalian yang ketinggalan berita. Dosen Kim sudah bercerai dengan wanita itu satu bulan yang lalu. Tidak mungkin mereka berdua tidak memberitahu anak didiknya. Siapa sih yang tidak tahan di kaitkan terus dengan orang yang sudah berpisah dengan kita? Dia pasti mengatakan itu dan membantahnya.”

            “Kau bercanda?” tanya Jessica datar, masih dengan keterkejutannya. Sontak aku menoleh padanya dan menatap Jessica dengan alis terangkat sebelah, seakan berkata ‘maksudmu?’. Kemudian Jessica menoleh kepadaku dengan eskpresi aneh.

            “Dosen Kim tidak pernah bilang kalau dia sudah bercerai.”

            “Kemarin aku lihat mereka berdua dinner di VIP’s.”

            “Hei, hei. Hubungan itu tidak perlu diumbar-umbar. Lagipula Dosen Kim hanya dekat padaku. Pasti dia akan menceritakan semuanya.”

            Mau tak mau, mereka berdua harus mengangguk percaya.

            Tapi, benarkah Dosen Kim sudah bercerai?

****

Luhan POV

            Sosok Luhan terlihat sedang membantu seorang wanita paruh baya di perpustakaan kampus. Sosoknya itu beberapa kali bolak-balik sambil mengangkat buku-buku berat dan membawanya menuju wanita itu yang sedang merapikan buku di rak paling atas menggunakan tangga. Yang dibawanya adalah tumpukan terakhir, dan ia lega karena itu yang terakhir. Peluh sudah membasahi dahi dan baju kaosnya. Setelah memberikan buku terakhir, Luhan segera menghapus keringatnya dengan lengan bajunya.

            Wanita tadi turun dari tangga kemudian membenarkan kacamata besarnya, sebelum menghadap Luhan dan menepuk pundak muridnya itu.

            “Terima kasih, Luhan. Aku tidak tahu akan bagaimana kalau tidak ada kau tadi.”

            “Ah, itu bukan apa-apa, Saem. Aku senang bisa membantumu,” ucap Luhan malu-malu.

            “Kau ingin cake? Atau segelas teh sebelum pulang?” Jempolnya menunjuk ke arah meja besar di sudut. Luhan mengangguk antusias kemudian mengikuti wanita itu dari belakang. Luhan pun duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Suasana perpustakaan sangatlah sepi. Hanya terdengar suaranya, suara detik jam, dan juga suara dentingan gelas dan piring dari wanita pengurus perpustakaan—wanita yang ia tolong tadi. Tak beberapa lama kemudian, dia datang membawa baki berisi piring kecil dengan kuenya dan gelas-gelas teh panas.

            “Hari ini aku ulang tahun. Ada beberapa anak yang memberiku kue ini. Karena terlalu besar untukku, jadi aku membaginya denganmu.” Dia berucap senang sambil menaruh bagian Luhan di depannya.

            “Wah, selamat untuk ulang tahunmu!” seru Luhan. “Tapi, aku tidak punya hadiah untukmu,” lanjutnya sedih.

            “Tidak apa-apa. Kau sudah bersamaku disini sudah menjadi hadiah untukku.” Kemudian mereka berdua tertawa lepas.

            “Tampaknya kau sedang dekat dengan seseorang? Siapa, ya, namanya? Cindy Chou?” Wanita itu kemudian melahap kuenya sambil menatap Luhan penasaran. Luhan pun tersenyum setelah meletakan gelas tehnya.

            “Gosip itu cepat sekali menyebar, ya?” gumam Luhan kagum.

            “Kau menyukainya?” selidiknya, sambil menunjuk Luhan dengan garpu kecil ditangannya.

            “Ah, aku tidak yakin. Dia hanya menarik dan misterius. Kudengar dia baru saja mendapat masalah,” ucap Luhan mengalihkan pembicaraan. Wanita didepannya mendesah lemas lalu mengambil gelas tehnya dan membiarkannya menggantung di depan bibirnya.

            “Iya. Dia sudah membuat Kris Wu tersinggung di acara radio kampus. Semua gadis disini seketika menjadi antifans-nya.” Wanita itu lalu meminum tehnya setelah berbicara.

            “Kris Wu? Apa dia sepenting itu?” tanya Luhan heran.

            “Dia satu-satunya siswa yang mendapat nilai sempurna di setiap pelajaran. Tidak ada yang tidak ada di dirinya. Tampan, tinggi, ramah, dan juga rendah hati. Semuanya ada padanya.”

            “Anda berbicara sebagai seorang fans atau sebagai seorang guru?” selidik Luhan curiga.

            “Sebagai guru tentunya. Aku tidak melebih-lebihkan dirinya dan yang kusebutkan benar apa adanya.” Wanita itu lagi-lagi melahap kuenya setelah berbicara.

            “Bukankah dia punya catatan absen melibihi batas?”

            “Betul, terakhir kali dia menghilang dari sekolah satu bulan tanpa kabar. Dan dia muncul juga tiba-tiba. Saat ujian dadakan dia mendapat nilai sempurna. Bukankah itu aneh?” Wanita itu mengerutkan keningnya pada pertanyaannya sendiri.

            “Dia bisa saja mengambil kursus diluar, kan? Itu tidak aneh,” bantah Luhan.

            “Kalau begitu, untuk apa dia ikut pelajaran formal? Dia pasti mampu membiayai home schooling untuk dirinya.”

            Percakapan ini terasa sangat membingungkan. Perkataan terakhir wanita dihadapannya ini membuat Luhan terenyuh. Benar, dia bisa saja melakukan itu. Luhan juga tahu kalau Kris Wu adalah orang kaya. Walaupun Luhan tidak punya hubungan apa-apa dengan pria Cina itu, informasi hari ini banyak membantu dirinya untuk mengetahui sosok Kris Wu.

            Informasi ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain, yang mengincar Kris Wu. Satu-persatu Luhan mulai menulisnya di memori otaknya.

****

            Sebuah rumah kecil yang terletak di belakang reruntuhan sebuah pabrik masih menampakkan cahaya lampu terang. Rumah yang tidak punya sekat ruangan ini (kecuali kamar mandi) hanya diisi oleh beberapa benda. Kasur yang bersentuhan langsung dengan lantai; sofa lusuh berwarna biru tua; TV kecil diatas rak kecil dengan CD Player di rak dibawahnya; meja makan kayu dengan tiga kursi; lemari pendingin, satu counter, dan kompor; rak buku yang sangat besar; dan sebuah laptop merah di letakkan di atas meja belajar di sebelah kasur. Kamar mandi berada di ujung dekat dapur.

            Pemilik rumah ini sedang fokus dengan laptopnya. Banyak kertas-kertas bertebaran di sekitarnya dan dibawah kursinya. Tempat sampahnya juga sudah penuh dengan remukan kertas dan plastik-plastik makanan. Jemari panjangnya menari-nari di keyboard dan matanya sesekali-kali menengok ke layar untuk melihat hasilnya. Pria berkacamata itu kemudian menaruh kepalan tangannya di depan bibirnya, berpikir sejenak. Lalu ia mengambil secarik kertas di sebelahnya, mengamati sebuah gambar di kertas itu. tangannya mengambil secarik lagi dari tumpukan yang lainnya, menyamakan dengan gambar sebelumnya.

            Fokusnya terputus ketika suara ponselnya berdering nyaring. Matanya menyapu ke segala penjuru meja, tapi tak kunjung ditemukan ponselnya itu. Tangannya menyingkirkan semua kertas yang bertebaran dan mendapati ponselnya itu berada di sana. Layarnya menyala terang ditambah dengan nama si pemanggil. ‘Orang 1’ itulah nama kontak yang sedang menunggu Luhan untuk menjawab panggilannya. Dengan sekali tekan, Luhan langsung menempelkan ponsel itu di telinganya.

            “Yeoboseyo?”

            “…”

            “Aku sudah mendapatkannya.”

            “…”

            “Hanya mendekati beberapa guru tegas yang pelit di kampus.” Kakinya berjalan pelan-pelan ke mejanya, menyandarkan pinggulnya di ujung meja.

            “…”

            “Gadis itu? Aku sudah mendapatkan beberapa informasi dari orang sekitar. Tapi, aku agak kecewa dengan penjelasan mereka. Jadi, aku lebih memilih mendekatinya.” Terlihat senyum seringai yang muncul saat Luhan berbicara.

            “…”

            “Kau memang pandai menebak. Aku pastikan aku akan menyelesaikannya bulan ini. Kau hanya harus melakukan kewajibanmu untuk membayar hakku. Kau tidak akan kubuat kecewa. Tenang saja.” Luhan mengambil pulpennya, menimang-nimang. Matanya beralih ke papan tulis kecil di depannya—diantara jendela dan rak buku—yang ditempel dua foto, wanita dan pria.

            “…”

            “Iya, iya. Aku mengerti. Aku akan membawanya padamu. Tunggulah. Aku akan membiarkannya hidup sebelum bertemu denganmu.” Pulpen tadi Luhan lempar ke foto pria itu, dan tepat tertancap di kepalanya. Luhan mendengus senang, menarik tubuhnya dari meja kemudian berjalan pelan menuju kursinya lagi.

            “…”

            “Ya, ya, ya.” Ponsel itu Luhan lempar ke atas tumpukan lagi setelah si pemanggil memutuskan dengan paksa dan cepat. Pria itu menghempaskan badannya ke kursi sambil menghembuskan napas berat. Tubuhnya ia tarik tegak dengan sikut bertumpu di meja. Matanya menatap serius foto kecil pria yang ia tusuk tadi, berpikir-pikir apa lagi yang bisa ia tulis dalam laporannya. Isinya adalah fakta-fakta dan hal-hal yang penting. Entah untuk apa, tapi ada yang tidak beres yang akan terjadi pada kedua target itu.

****

 

*To Be Continued…

Note: Plis, jangan terlalu memusingkan peran Amber dan dosen Junmyeon dan juga wanita yang bersama Luhan di perpus. Mereka hanya sebagai cameo dan nggak akan berpengaruh pada cerita selanjutnya. Juga nggak akan masuk ke main cast ataupun additional-nya. Aku tetap pada cast yang udah dicantumkan kok^^. Oh ya, Zitao akan tenggelam perannya di cerita selanjutnya (maaf). Makasih udah mau baca dan berkomentar!!! ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s