Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 5

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 5

Author : BaoziNam

Main Cast :

            -Cindy Chou (OC)

            -Tao as Zitao

            -D.O as Kyungsoo

            -Luhan as Luhan

            -Kris as Kris

Additional Cast :

            -Luna f(x)

            -Jessica SNSD

            -Sandara 2NE1

            -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic saya. No plagiat! Thanks ^^

 

****

“Halo! Selamat sore semuanya! Bertemu lagi dengan penyiar radio paling kece di kampus kita ini. Siapa lagi kalau bukan DJ C! Hari ini aku bersama seorang tamu spesial dan dia adalah seorang pria. Dia adalah orang yang selalu dipuja-puja semua gadis di kampus kita ini. Dunia serasa menghilang bila dia lewat di depan kita. Aku juga seorang gadis, pasti pernah merasakan hal itu dan itu memang benar adanya. Kalian semua pasti tidak akan mau beranjak dari sana sampai acara ini habis. Hahaha.”

            Bisa aku lihat Kris Wu melirikku sebentar dengan sinis dan berkata ini-orang-kenapa dengan matanya.

            “Kuperkenalkan dia adalah Kris Wu, mahasiswa dari jurusan Musik dan Art performing! Selamat sore, Kris Wu,” sapaku hangat—pura-pura—kepada dirinya sambil bertepuk tangan. Dia sepertinya mengerti apa yang dinamakan acara hiburan, tangannya pun bergerak untuk ikut bertepuk tangan dan tersenyum seperti apa yang ia lakukan. “Tolong sapa semua pendengar dengan gayamu, Kris Wu. Aku yakin mereka ingin mendengar suaramu sekarang.”

            “Selamat sore, semuanya. Aku Kris Wu, sangat senang berada disini sekarang bisa menyapa kalian semua.” Suaranya yang tadi sangat dingin dan sinis, terdengar sangat manis saat sudah berada di sini. Sandiwaranya memang hebat.

            “Apa yang membuat seorang Kris Wu ke tempat kami ini?” Pertanyaanku pun dimulai dengan sesuatu yang ringan-ringan dulu. Aku harap dia bisa memberikan jawaban yang bagus atas ini.

            “Saat pertama kali Jiyoung memberikan undangan kepadaku, aku merasa sangat senang bisa menjadi tamu di radio ini. Yang aku tahu, radio ini hanya bisa didatangi orang-orang yang terkenal saja. Aku sangat senang,” jawabnya kemudian tertawa.

            “Tampaknya kau tidak menyadari kalau kau sangat terkenal, terutama dikalangan para gadis. Apa kau tidak bisa merasakannya?”

            “Benarkah? Aku tidak tahu. Darimana kau tahu?”

            “Aku ini kan perempuan. Aku pasti mengerti apa yang mereka pikirkan tentang seorang pria tampan yang lewat di depan mereka.”

            “Ah, kau terlalu memuji.”

            Begitu seterusnya aku dan dia berbincang sampai setengah jam siaran terlewati. Aku melirik sebentar ke arah Sandara. Dia mengangkat papan tulis yang bertuliskan kata “Pertanyaan utama!” dengan huruf besar-besar dan tanda seru yang banyak. Aku buru-buru membalikan kertas di depanku dan membaca sebuah pertanyaan yang sudah aku lingkari dengan pulpen merah.

            Aku terlihat ragu untuk menanyakannya. Aku takut suasana nyaman yang sudah aku bangun sejak awal ini menjadi hancur karena satu pertanyaan. Pertanyaan ini memang sudah banyak ditanyakan oleh semua orang untuk Kris Wu. Mungkin ini akan menyenangkan untuk pendengar, tapi tidak untuk pria ini.

            ‘Demi reputasiku, aku harus melakukannya!’

            “Kris Wu, aku dengar kau tidak pernah berbicara pada siapapun, kecuali kalau kau diminta. Orang-orang yang mengenalmu dari jauh, bilang kepadaku kalau kau bisa membaca pikiran atau semacamnya. Karena tanpa dia bilang kepadamu, kau sudah tahu apa yang akan mereka katakan. Apa betul itu?”

            Kris Wu terlihat terkejut, namun dia berhasil mengontrol wajahnya seperti biasa. Dia berdehem pelan kemudian tertawa kepadaku.

            “Semua orang pasti berpikir begitu. Aku tidak punya hal semacam itu di dalam diriku. Aku hanya bisa membaca wajah dan gerak-gerik mereka saat mereka bertemu denganku, atau berbicara. Membaca pikiran mungkin terdengar agak konyol. Maaf apa yang telah aku katakan terdengar agak kasar, namun aku berbicara kebenarannya.” Suaranya begitu tenang dan damai. Seakan-akan dia sudah sering mendapatkan kritik semacam itu dari orang-orang sekitarnya.

            Aku merasa aku telah dikalahkan olehnya secara telak. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan lagi. Rencana pembalasan dendam untuknya hilang sudah. Aku buru-buru mencari pertanyaan selanjutnya. Ini pertanyaan kedua yang sama utamanya dengan pertanyaan tadi (kurasa yang awal bukan pertanyaan penting).

            “Jadi, intinya kau membantah?”

            “Yep!”

            “Oh, baiklah. Aku juga berpikir itu hal aneh yang dipikirkan orang yang sama sekali belum mengenalmu luar-dalam.”

            ‘Mungkin aku sudah gila sependapat dengannya’.

            “Aku tidak pernah melihatmu bergaul dengan mahasiswa disini. Semua orang juga sependapat denganku. Kau sudah semester lima, tapi sangat sulit mencari info tentangmu dari orang terdekatmu karena kau tidak bergaul dengan mereka. Kau bisa menjelaskan ini?”

            Kris Wu hendak membuka mulutnya. Tapi, aku langsung berbicara kembali karena aku mendapat suatu kebohongan dari matanya. Dia ingin menggunakan keahliannya lagi. Kali ini aku tidak menerima sandiwara picisan di ruang siaran yang suci ini. Aku harus menghentikannya!

            “Kami butuh kepastian dan kejujuranmu sekarang, Kris Wu. Aku tahu kau dari jurusan seni dan kau mengambil perfilman. Sandiwara sudah sering kau pelajari, termasuk mengontrol mimik muka. Kau harus menjawabnya dengan jujur. Kalau kau seperti itu terus, semua orang pasti bisa sepertimu.”

            Kris, Sandara, dan Jiyoung sangat terkejut mendengar perkataanku yang sangat jahat. Tidak berbeda dengan para mahaiswa yang lainnya yang sedang mendengarkan juga. Sudah terdengar keriuhan di luar sana. Sandara sunbae buru-buru membuka kopiannya. Dia memang menulis pertanyaan itu, tapi dia tidak menyuruh hoobae-nya untuk berbicara di luar kendali seperti itu.

            Aku masih menunggu Kris Wu menjawab pertanyaanku. Dia terdiam terus, tanpa ada niat untuk menjawab. Aku tetap menatapnya tajam. Kris akhirnya mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk lalu melipat kedua tangannya di atas meja. Dia beralih menatapku dengan datar.

            “Oke, aku akan menjawabnya. Tanpa ada kebohongan dan sandiwara yang sudah aku lakukan di awal. Tentang aku menjauhi orang-orang, kau sudah berpikir terlalu jauh tentangku. Semua orang mengenalku dan aku pernah berbicara dengan mereka secara pribadi. Bukan berarti aku harus memberitahukan itu padamu, kan? Aku tahu kau dari Klub Siaran yang haus akan informasi dari semua mahasiswa. Kalian dan Klub Jurnalistik tidak berbeda jauh. Karena hal itu, aku tidak ingin berdekatan dengan semua orang. Aku tidak suka orang-orang membicarakan diriku dan menyebarkannya melalui artikel mading dan informasi siaran seperti ini. Bukan salahku untuk menarik diri. Apa itu sudah menjawab semua keingintahuanmu?” Sindirnya diakhir dengan penekanan di kata ‘keingintahuan’.

            Tampaknya aku yang kalah disini.

            “Ya, itu sudah menajawab keingintahuanku. Maaf sudah menyinggung. Sepertinya waktu untuk kami undur diri dari interview yang menyenangkan ini. Terima kasih untuk Kris Wu yang sudah menyempatkan diri ke acara radio kampus kita ini. Dan maaf juga atas kelancanganku sudah menanyakan hal itu. Kau bisa memaafkanku, kan?”

            “Ya, tentu saja. Aku juga berterima kasih pada Klub Siaran yang sudah mengundangku kesini dan menjadi tamu spesial di minggu ini.”

            Kris Wu kembali memakai keahliannya dalam bersandiwara. Bahkan dia tersenyum manis kepadaku dan berkata dengan suaranya yang lembut.

            “Ya. Semoga semua pendengar menikmati acara kami ini. Terima kasih sudah mau mendengarkan kami sampai akhir. Saya, DJ C, mengundurkan diri! Sebagai penutup, kami akan memutarkan lagu Band dari Jurusan Musik. Selamat menikmati dan sampai jumpa lagi!”

            Jiyoung buru-buru menghidupkan sebuah lagu. Aku dan Kris Wu sama-sama bangkit dari kursi. Tanganku bergerak merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, sementara Kris Wu berjalan menghampiri pintu. Kris Wu tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk pergi, lalu berbalik dan berjalan menghampiriku yang hendak bergegas keluar dari ruangan siaran ini. Dia menghentikan langkahnya di depanku sambil menatapku dingin dan datar.

            “Kau pengecut,” ucapnya lirih dan dingin. Mataku langsung menatap matanya yang sejak tadi tidak pernah berubah ekspresi.

            “Apa maksudmu?” tanyaku tersinggung.

            “Menjatuhkan orang lain di depan banyak orang adalah tindakan seorang pengecut,” jawabnya.

            “Bukannya kau juga melakukannya padaku? Kita sudah impas,” balasku enteng.

            “Aku tidak akan seperti itu kalau kau tidak memancingku duluan. Apa kau ini anak-anak?” ejeknya kasar sambil menaikkan sebelah alisnya.

            “Sebenarnya yang tidak tahu diri disini siapa?” tanyaku marah setelah melipat kedua tanganku di dada. “Kau atau aku?”

            “Sunbae! Apa kau mengirimnya untuk bertengkar dengaku?!” teriakku marah. Terlihat Sandara menggeleng cepat.

            “Kau sudah masuk ke dalam lubangmu sendiri, Cindy Chou.” Ucapannya barusan langsug menarik mataku untuk beralih menatapnya.

            “Maksudmu apa?”

            “Aku tahu kau bukan siapa-siapa di kampus ini. Hanya segelintir orang yang tahu kalau kau adalah seorang pekerja di dunia hiburan. Namamu bahkan tidak pernah muncul di mesin pencarian. Karirmu yang buruk menjadi semakin buruk karena hari ini. kau seharusnya menjaga bicaramu. Aku iba denganmu.”

            Kris Wu berbalik dan berjalan meninggalkan aku dengan langkahnya yang besar-besar. Perkataannya membuatku membatu, bahkan aku tidak punya pikiran lagi untuk membalas ucapannya. Kata-katanya berputar-putar dalam otakku seperti sebuah film favorit yang sering aku putar setiap hari minggu. Sandara langsung menghampiriku begitu Kris Wu sudah menutup pintu keluar. tangannya menguncang-guncangkan pundakku sambil menatapku cemas.

            “Kau tidak apa-apa?” tanyanya cepat. “Apa yang dia katakan padamu?” tanyanya lagi.

            “Dia menyuruhku untuk berhati-hati.”

****

            Aku sama sekali tidak menyangka semua perkataannya itu benar. Semenjak hari siaran itu berlalu, hidupku menjadi bertambah buruk dari sebelumnya. Banyak haters yang tercipta di sekelilingku. Aku sangat berterima kasih dengan perkataanku kemarin, sehingga aku benar-benar membenci diriku sekarang. Hidupku menjadi berantakan dan kacau. Hanya karena empat puluh lima menit aku mendapat ‘cinta’ yang begitu sempurna dari orang-orang. Terutama dari para gadis. Mereka jadi punya banyak perhatian kepadaku. Misalnya, lebih dari lima puluh pesan terkirim ke ponselku sampai jam makan siang kampus. Isinya benar-benar mengejekku dengan penuh perhatian.

            ‘Apa kau merasa dirimu sangat cantik dan hebat?’

            ‘Kau berpikir dirimu hebat dalam bersandiwara sehingga membuat semua orang menjadi muak.’

            ‘Aku tahu kau memang gila.’

            ‘Kau tidak bisa memberikan ucapan macam itu padanya. Bukan salahnya kalau dia menjawab dengan sandiwara. Toh, kau juga melakukan hal yang sama pada drama. Kalian sama! Berkacalah sebelum berbicara!’

            ‘Aku sama sekali tidak memperdulikan gaya berpakaianmu yang gila dan aneh. Tapi, sekarang semuanya membuatku ingin memotong rambut keritingmu itu!’

            Oh, aku tidak bisa melanjutkan membaca semuanya. Mataku jadi sakit sekarang. Perintah hapus menjadi pilihan efektif dan selesailah sudah dan mataku selamat.

            Aku kembali melanjutkan makan siang yang ‘damai’ bersama kedua orang sahabatku, setelah aku meletakkan ponsel itu di atas meja. Mereka berdua sempat marah padaku karena tingkahku yang kekanak-kanakan di radio kemarin. Sampai sekarang masih marah, tapi hanya Jessica yang melakukannya. Gadis itu masih bertingkah sinis dan acuh kepadaku. Aku masih tetap menunggunya dan terus memancingnya agar dia kembali berbicara banyak padaku seperti biasanya.

            Luna meraih kotak susuku lalu menyedot isinya dengan sedotan. “Jadi, kau masih jadi penyiar radio disini?” tanya Luna, lalu menopang dagunya dengan telapak tangan kanan.

            “Aku tidak yakin Sandara sunbae masih menahanku disana. Setelah kejadian kemarin, aku yakin dia akan mencari pengganti yang punya sopan santun,” ucapku datar, lalu menghembuskan napas kasar beberapa kali. Aku melirik Jessica yang sedang makan daging asapnya—terasa kecanggungan di setiap gerakan tangannya.

            “Kau juga berpikir begitu, kan?” tanyaku, membuat Jessica terhenyak dan menatapku ragu.

            “Aku tidak tahu,” jawab Jessica seadanya. “Rasanya lebih baik kau daripada yang lain,” lanjutnya lagi, tanpa memandangku seperti tadi. Senyumku perlahan mengembang. Sumpit kayu di tanganku mengarah ke daging asapnya dan mengapitnya.

            “Aku tahu kau akan berkata begitu. Gomawo~” Kemudian aku memasukkan daging tadi ke mulutku. Diam-diam Jessica tersenyum tipis dibalik garpunya. Dia ingin sekali memaafkan Cindy, tapi egonya terlalu tinggi untuk itu.

            “Ah! aku ada janji dengan dosen siang ini. Hampir saja lupa. Aku duluan, ya?” pamitku cepat setelah mengemas semua barangku ke dalam tas. Luna terlihat melambaikan sendoknya kepadaku sambil tersenyum. Jessica juga diam-diam melirik ke arahku yang sudah pergi menjauh.

****

            Suara derap langkah Cindy yang tak bersuara dan wajahnya yang tergesa-gesa, langsung mengalihkan perhatian orang-orang di sekitarnya. Mereka langsung memojokan diri ke dinding, sambil menatapnya sinis. Seharian ini dia sudah banyak mendapat tatapan semacam itu dari sekitarnya, dan ia menjadi terbiasa. Walaupun matanya berlagak tidak melihat, tapi hatinya selalu berteriak dan menangis karena mereka. Hati tidak akan pernah berbohong pada apapun.

            Cindy membuka pintu perpustakaan pelan-pelan. Saat ia melangkah menuju sebuah meja di pojok yang melewati sebuah meja juga, beberapa mahasiswa yang duduk disana langsung bergegas pergi setelah berbisik yang tidak-tidak tentangnya. Kali ini, dia terasa di asingkan oleh sekolah dan membuatnya tidak cemberut untuk hari ini. gadis itu mendekati seorang dosen pria yang duduk membelakanginya. Telapak tangannya menepuk pelan pundak itu dan dosen itu menoleh padanya.

            “Kau sudah datang? Duduklah.” Dosen pria yang bernama Kim Junmyeon itu menyuruh anak didiknya untuk duduk di hadapannya. Cindy menaruh tas dan buku-bukunya di atas meja.

            “Kau sudah siap untuk belajar?” tanyanya.

            “Aku tidak yakin,” ucap Cindy berpura-pura lesu. Junmyeon mengulas senyumnya lalu mengetuk pulpennya di meja.

            “Siap tidak siap, kau harus belajar hari ini. nilaimu sangat buruk untuk pelajaranku.”

            “Aku tahu. Anda tidak usah menyebutkannya lagi,” ucap Cindy malas, lalu membuka buku tulisnya.

            Dosennya mulai mengajarkan pelajaran. Dan Cindy tahu kalau dosennya ini mengajarkan pelajaran yang mendapatkan nilai rendah. Dosen juga sekaligus guru privatnya ini sangat memperhatikan nilai-nilai Cindy akhir-akhir ini. dosen yang terkenal sangat sibuk ini, sempat-sempatnya mau mengajarkan Cindy apapun, sampai nilainya membaik kembali.

            Karena kepribadiannya yang sangat tegas namun lembut, Cindy menganggapnya sebagai ayah keduanya di kampus. Gadis itu juga tidak segan untuk bercerita banyak atau bercanda layaknya seorang anak dan ayah. Lagipula dosennya juga sudah menganggap Cindy sebagai anak angkatnya dariapada anak didik.

            Sudah dua jam mereka berdua berada di dalam perpustakaan yang semakin lama semakin sepi. Saat dosennya itu berhenti mengajarinya, Cindy menoleh ke jam dinding di belakangnya, mendapati waktu sudah jam dua sore lewat enam belas menit. Dia kembali menopang dagunya dan melanjutkan tugas dengan malas. Junmyeon langsung beralih menatapnya saat telinganya mendengar suara mengeluh dari Cindy.

            “Apa kau capek?” tanya Junmnyeon, menginterupsi hening di perpustakaan.

            “Iya, aku capek,” jawba Cindy seadanya. Junmyeon lalu menarik tubuhnya yang bersandar tadi kemudian menumpu tangannya di atas meja.

            “Kalau begitu kita beristirahat,” ucapnya lagi, membuat Cindy langsung menaruh asal pulpennya kemudian menyembunyikan wajahnya diantara lipatan kedua tangannya di atas meja. “Kau tak ingin bercerita?” tanyanya lagi.

            “Apa? tentang apa?” tanyanya balik, masih di posisinya tanpa bergerak sedikitpun.

            “Yah, aku kira kau akan berbicara tentang kejadianmu kemarin. Aku hanya penasaran.” Junmyeon menyandarkan lagi punggungnya dikursi.

            “Apa guru-guru membicarakanku juga?”

            “Tidak. Maksudku, iya. Beberapa guru wanita,” jawab Junmyeon sambil mengendikkan bahunya. Cindy mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang kusut.

            “Apa pria jerapah itu begitu dihormati? Aku benci padanya!” omelku pada diri sendiri. Junmyeon tertawa pelan lalu mendekatkan tubuhnya lagi seperti di awal.

            “Dia hanya tampan dan kaya. Tinggi dan berbakat. Hanya itu.”

            “Apa bedanya denganku? Aku cantik dan kaya. Tinggi dan berbakat. Aku jauh lebih profesional daripada dia.” Junmyeon menatap Cindy sambil tersenyum misterius, membuat Cindy makin bingung dengannya. “Apanya yang lucu?”

            “Pantas saja semua orang tidak menyukaimu. Kau tidak punya kepribadian yang baik. Cantik dan kaya tidak akan berguna kalau kau tidak punya kepribadian. Dia, Kris Wu, dihormati karena dia selalu menjaga mulutnya. Menurutku, dia melakukan itu karena bersandiwara lebih baik. Kata-katanya lebih terdengar alami. Bahkan tak ada yang sadar kalau itu sandiwara. Kau seharusnya tidak melakukan itu, Cindy. Itu seperti bukan dirimu.”

            Kata terakhir akhirnya menyadarkan Cindy dari lamunannya. Amarahnya semakin lama semakin menghilang. Ya, dia rasa itu bukan seperti dirinya. Rasanya seperti ada orang lain yang masuk ke tubuhnya saat bercakap dengan Kris Wu kemarin. Gadis itu tidak tahu kalau ia akan semarah itu padanya. Kenapa juga aku berpikir harus balas dendam padanya?

            “Aku menyesal, ayah,” ucap Cindy lirih.

            “Aku senang kau menyadari kesalahanmu,” balas Junmyeon lembut.

            “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kepercayaan mereka tidak ada lagi untukku. Hidupku seperti di neraka sekarang.” Tubuhnya bergetar kecil dan suaranya mulai memberat. Kepalanya semakin tertunduk seiring air mata yang sedang berusaha keluar dari sangkarnya.

            “Kau harus melakukannya sendiri. Kepercayaan itu. Kau yang harus mengembalikannya. Kau yang membuang, kau juga yang harus mengganti. Kau mengerti maksudku?”

            ‘Kau yang membuang, kau juga yang harus mengganti?’

****

 

Cindy POV

            Malamnya aku tidak bisa tidur. Sudah dua jam aku berada di kasur tidurku, tapi mataku tidak kunjung tertutup. Tanganku terus memainkan ponselku, sementara mataku menatap kosong atap rumahku. Sebenarnya aku ingin menelpon seseorang. Tapi aku ragu. Posisi ini sudah aku pertahankan semenjak dua jam lalu, dan rasanya keram. Aku pun memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan sebentar mengelilingi rumahku. Setelah keluar dari kamar, langkahku berhenti di depan pagar pembatas. Aku duduk di tepinya dan kakiku merayap masuk ke dalam celah besar pagar itu. Kedua tanganku bergelayut malas di besi datarnya, bersama dengan ponselku di genggaman.

            Ibu jariku menekan tombol di samping ponsel cukup lama, sampai ponsel itu bergetar kecil baru aku lepaskan jempolku dari tombol itu. Beberapa menit setelah ponsel itu sudah standby, kubuka phonebook kemudian mencari nama Kyungsoo disana. Kenapa harus Kyungsoo? Bukannya temanku Zitao? Atau Luhan yang bersedia mendengarkan suaraku sampai tengah malam? Kenapa harus Kyungsoo? Pertanyaan semacam itu terus berputar di otakku.

            “Yeoboseyo. Kyungsoo-ya?” sapaku saat terdengar bunyi klik dari seberang.

            “Kenapa?” tanya Kyungsoo datar.

            “Pertanyaan macam apa itu? Memangnya salah aku menelponmu?” protesku kesal sambil mempoutkan bibirku.

            “Tidak, aku merasa itu bukan dirimu,” jawabnya datar dan singkat. Sudah dua kali aku mendengar jawaban yang sama hari ini. Membuatku semakin sadar kalau diriku sudah bukan diriku yang dulu. Tanpa aku sadari aku sudah berubah.

            “Memangnya seberapa jauh kau mengenalku sampai kau merasa kalau ini bukan diriku?” tanyaku pelan, sambil memainkan debu di lantai dengan telunjuk kananku.

            “Jangan pikir karena kita baru saja akrab beberapa hari yang lalu, kita sudah menjadi teman,” protesnya sengit.

            “Cerewet! Memangnya hanya yang sudah berteman saja yang boleh menelpon orang lain?”

            “Oke, oke. Aku kalah. Sekarang bilang padaku apa yang kau inginkan?” ucapnya menyerah, nadanya sudah terdengar malas dan pasrah. Dalam hati aku berteriak ria akhirnya aku bisa mengalahkan pria dingin ini. Situasi sekarang jadi sedikit menyenangkan.

            “Tidak ada yang kuinginkan. Hanya ingin tahu apa kau masih mempercayaiku.”

            Terdengar kedamaian abadi di seberang, membuatku bingung karena Kyungsoo tak kunjung menjawab. Apa perkataanku salah?

            “Apa aku terlihat seperti orang yang suka memberi kepercayaan pada orang lain?” tanyanya ketus. Seketika keningku berkerut sambil menatap aneh pemandangan di depanku, yang pasti tidak ditujukan untuk pemandangan itu, tapi untuk Kyungsoo di seberang.

            “Kenapa kau ketus sekali menjadi pria? Kenapa kau membuat hidupku semakin sulit, sih?” erangku kesal. Aku ingin menangis sekarang. Air mata yang aku tahan sejak pagi sudah mendesak ingin keluar. Kenapa mereka semua jahat padaku?

            “Apa masalahmu sesulit itu?” tanyanya pelan.

            “Tentu saja! Apa aku harus memberitahumu semua yang aku alami hari ini? Aku diteror ratusan sms dari antifans baruku! Tatapan sinis dimana-mana! Lemparan telur dari mereka saat aku pulang dari kampus! Juga ban mobilku yang kempes keempatnya! Dan yang paling parah artikel tentangku di mesin pencarian tentang kejahatanku pada Kris Wu di siaran radio kemarin! Apa kau sama sekali tidak mengerti, huh?!” teriakku kesal.

            Napasku terputus-putus setelahnya dan mukaku berubah merah sampai ke telinga. Bersamaan dengan air mataku yang mengalir bebas di pipiku. Aku kembali berbicara padanya dengan suaraku yang parau dan memberat. Jantungku berdegup sangat kuat karena amarahku yang meluap semakin tinggi.

            “Aku menelponmu bukan ingin memarahimu. Aku.. hanya.. ingin melampiaskan kekesalanku pada seseorang. Kau.. kau sama saja dengan mereka. Aku kecewa..”

            “Kenapa kau tidak menelpon Zitao? Dia, kan, sahabatmu.”

            “Tidak. Sudah terlalu banyak rahasia yang aku katakan padanya. Dia tidak melakukan hal yang sama padaku. Aku sangat menyesal telah membuka diriku secara gampang padanya,” ucapku cepat. Pandanganku mengabur tiba-tiba. Tanganku langsung menghapus penghalang di mataku dengan lengan sweaterku.

            “Apa kau ingin aku kesana?” tanyanya tiba-tiba, membuatku terkejut. Penawaran yang tidak biasa darinya. Tiba-tiba sekali Kyungsoo mau menawarkan dirinya datang kerumahku untuk menghibur diriku.

            “Kau tidak sakit, kan, Kyungsoo? Sekarang malah aku yang merasa kalau itu bukan dirimu,” candaku dengan nada datar.

            “Hei! Aku hanya berusaha untuk menghiburmu!” teriaknya marah.

            “Oke, oke, maafkan aku. Aku hanya bercanda. Penawaranmu benar-benar diluar dugaan. Apa kau benar-benar akan kesini?” godaku.

            “Seriuslah!” protesnya jengah.

            “Tidak usah. Kau mau mendengarkan ceritaku saja sudah cukup bagiku. Gomawo.”

            Kyungsoo kembali diam. Sambunganku tidak mati. Masih ada dan utuh. Tapi, Kyungsoo sama sekali tidak menjawab. Beberapa menit kemudian, suaranya terdengar cepat. “Kau sedang menyatakan cinta padaku, ya?”

            “Jangan konyol. Aku tidak suka pria ketus macam kau!” ucapku, dengan penuh penekanan di kata ‘macam’ dan ‘kau’.

            Begitu seterusnya kami berdua bertukar ejekan—seperti sebuah dialog menyenangkan yang mengundang dosa—sampai tengah malam. Sebelum aku memutuskan panggilan, dia sempat memberiku kata-kata penyemangat, tapi masih seperti sebuah ejekan. Jadi, aku ambil sisi positif dari ucapannya itu, dan aku bisa tidur nyenyak malam ini dengan iringan getaran ponsel tanda pesan masuk. Ketika aku bangun pagi nanti, aku akan menemukan ratusan pesan penuh ‘cinta yang menyenangkan’.

****

 

*To Be Continued…. (Thanks yang udah mau baca!>,<)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s