Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 4

 

Judul    : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 4

Author : BaoziNam

Main Cast :

                -Cindy Chou (OC)

                -Tao as Zitao

                -D.O as Kyungsoo

                -Luhan as Luhan

                -Kris as Kris

Additional Cast :

                -Luna f(x)

                -Jessica SNSD

                -Sandara 2NE1

                -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre   : Friendship, Mystery, Romance, School Life, Friendship.

Rating  : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otakku. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic Nam. No plagiat! Thanks ^^

 

****

Setelah dua halte terlewati, akhirnya bisku berhenti di halte ketiga. Aku turun bersama pria bernama Xi Luhan tadi. Aku pikir dia akan berjalan berlawan arah denganku. Tapi, nyatanya sekarang ia seperti penguntit.

                “Permisi!” ucapku tiba-tiba sambil berbalik padanya. Luhan yang sejak tadi asik memperhatikan sekitar kini berhenti tiba-tiba di depanku dengan terkejut. Matanya melebar memandangku yang juga memandangnya dengan tajam. Kebingungan tampak jelas di matanya. “Kau penguntit?”

                “Tentu saja tidak! Kenapa kau berpikiran begitu?” Wajahnya berubah mengkerut dan tajam setelah aku bertanya tentang sesuatu yang sensitif untuknya.

                “Kau mengikutiku terus. Aku ini artis. Tidak mungkin tidak ada orang yang mau tahu tentang kehidupan seorang artis. Betulkan?”

                Wajah tajamnya berubah datar, kemudian ia menghembuskan napasnya pelan. “Aku hanya ingin pergi ke tempat janji dengan temanku. Mungkin kebetulan arah kita sama. Kudengar Cafe Pritz lewat jalan ini.”

                “Cafe Pritz?! Aku juga mau kesana!” ucapku terkejut. “Ehm, bagaimana kalau kita pergi bersama?” ajakku ragu.

                Terdengar suara tawa pelan dari Luhan. Oh, malu aku sudah menyebutnya penguntit tadi. “Ide bagus.”

                “Maafkan aku,” ucapku pelan. Duh, malunya aku. Kupertaruhkan harga diriku mengatakan kata maaf padanya.

                “Tidak apa-apa. Aku tidak marah padamu. Aku mengerti kau bertindak hati-hati. Kau artis.” Kata-katanya yang menghibur benar-benar menenangkan. Untunglah dia tidak marah padaku.

                Aku dan Luhan berjalan beriringan menuju cafe. Aku tidak canggung berbicara padanya. Dia orang yang baik dan mudah bergaul. Wawasannya juga luas. Benar-benar menyenangkan berbicara padanya. Aku juga tidak segan menceritakan hal pribadiku padanya. Itu karena dia bukan seorang wartawan, paparazzi atau semacamnya. Dia mengakuinya di awal percapakan kami. Intinya, dia orang yang baik. Sifat itu sudah mewakili segalanya, bukan?

                “Kau menunggu temanmu dimana?” tanyaku tiba-tiba saat kami sudah sampai di depan cafe Pritz.

                “Disini saja. kau?”

                “Aku akan ke dalam. Aku tinggal kau disini tidak apa-apa?”

                “Masuklah. Aku tidak apa-apa. Oh iya ini. Hubungi aku kapanpun, oke?” Tangannya mengulurkan secarik kertas biru dengan beberapa angka di dalamnya. Itu nomor ponselnya, dan dia memberikannya padaku. Aku tidak menyangka ada orang yang dengan mudahnya memberikan nomor pribadinya pada orang yang baru saja bertemu satu jam yang lalu. Sebenarnya, dia orang macam apa?

                Kertas itu aku masukkan ke dalam kantung kecil di pouch ponselku. Setelah itu aku masuk ke dalam cafe, menemui kedua temanku yang sudah menunggu di dalam. Kudapatkan Luna, Jessica dan seorang gadis duduk di meja panjang untuk delapan orang yang terletak agak di pojok cafe. Luna melambaikan tangannya dengan senyum mengembang di wajahnya. Aku balas lambaiannya, kemudian melangkah mendekat ke meja mereka.

                “Kau tepat waktu, Chou,” ucap Luna setelah aku duduk di kursi di sebelahnya. Kuletakkan tas kecilku di pangkuan dan ponsel di atas meja.

                “Kau mau pesan apa?” tanya Jessica sambil melipat kedua tangannya di atas meja.

                “Choco Waffle dan satu Strawberry Bar.”

                Sementara Jessica sedang mencatatkan pesananku pada pelayan cafe, Luna menyikut pinggangku lalu menunjuk Krystal yang berada di depannya. Luna mengisyaratkan aku untuk segera berkenalan dengan ‘Ratu Kencan Buta’ agar aku bisa lancar kencan buta hari ini. Kuberanikan diriku memanggil namanya.

                “Aku Cindy Chou. Salam kenal,” ucapku canggung lalu mengulurkan tangan kepadanya. Dia langsung membalasnya dan tersenyum padaku.

                “Aku Jung Krystal. Aku yang akan memandu kalian dalam kencan buta hari ini. Jadi, jangan canggung kepadaku.” Lalu kami berdua melepaskan jabatan perkenalan kami yang singkat. “Aku akan membantumu mendapatkan pria seperti Shin Ae,” ucapnya lagi, dan berhasil membuatku tersipu dan tersenyum kesenangan.

                “Berapa lama lagi kita harus menunggu pria-pria itu datang? Aku mulai kesemutan,” erang Jessica sebal.

                Pesananku akhirnya datang ke hadapanku. Luna dan yang lainnya sedang berbicara tentang tempat kencan buta mereka hari ini. Salah satu ada yang menyebutkan akan ke karaoke. Sepertinya itu tempat yang bagus untuk mendekatkan diri lebih jauh pada pasangan kencan butaku nanti. Pasti mengasyikkan.

                Sosok Luhan masih berdiri di dekat pintu masuk. Ia sesekali melirik ponselnya dan jam tangan. Matanya terus mencari seseorang yang ia tunggu sejak lima belas menit tadi. Aku penasaran siapa yang ia tunggu.

                “Aku sudah memberitahu Changmin untuk datang ke cafe ini. Mungkin lima menit lagi mereka datang,” jawab Krystal setelah melihat jam di ponselnya. “Ah! Itu mereka!”

                Seketika pandangan kami tertuju pada telunjuk Krystal yang mengarah ke pintu cafe. Ada empat pria yang sedang berjalan ke arah kami. Wajah tampan, tinggi, dan senyum tampan. Benar-benar impianku!

                Wait! Luhan?

                “Apa kalian menunggu lama?” tanya salah satu dari mereka yang berdiri paling depan.

                “Tentu saja! Aku pikir kau melanggar janji,” rajuk Krystal manja. Pria itu tersenyum lebar pada Krystal lalu duduk di sebelahnya, dan diikuti oleh teman-temannya. Luhan tiba-tiba menampakan rasa terkejutnya saat bertemu pandang denganku yang juga menatapnya demikian. Matanya seolah berkata kenapa-kau-disini. Luhan mengambil tempat duduk agak menjauh dari teman-temannya. Entah kenapa jantungku malah berdegup makin kencang dan tak berani menatap Luhan.

                “Perkenalkan ini teman-temanku,” ucap Krystal lalu menatap kami bertiga bergantian.

                “Hai, girls. Aku Shim Changmin.” Dia memperkenalkan diri sambil tersenyum kepada kami bertiga. Luna tampaknya sangat antusias saat pria tinggi itu mulai membuka mulutnya kembali. Begitu juga dengan Jessica. Berbeda denganku yang sudah kehilangan sense akan acara kencan buta ini. “Yang ini namanya Myungsoo,” ucap Changmin lagi sambil menepuk sekilas punggung Myungsoo. “Sebelahnya Yonghwa dan yang terakhir Luhan.” Nama terakhir itu membuatku tegang dan tanpa sadar aku tersenyum kikuk kepada Changmin dan Luhan.

                “Kini giliranku memperkenalkan gadis-gadis ini pada kalian.” Kemudian Krystal membenarkan posisi duduknya yang tadi miring menghadap Changmin. Dia berdehem lalu menatap kami bertiga secara bergantian, mulai dari Jessica. “Dia Jessica yang berambut ikal.” Terlihat Jessica melambaikan tangannya kepada keempat pria itu, tapi tampaknya ia hanya terfokus pada Myungsoo.

                “Di sebelahnya ada Luna dan yang terakhir Cindy.” Aku pun menyapa mereka dengan tersenyum agak ragu dan malu-malu. Changmin yang menyadari keraguanku, berucap. “kau tidak usah canggung, Cindy. Mari kita nikmati sabtu ini sampai malam.”

                “Oh, oke. Baiklah.”

                Percakapan ini berlanjut dengan hal-hal pribadi masing-masing. Hampir semua orang sudah mulai membaur satu sama lain. Ada canda dan tawa, dan ejekan ringan yang selalu dilontarkan Yonghwa (tampaknya dia mood maker disini). Aku banyak diam dibandingkan ketiga temanku. Mataku terus bergerak ke arah orang yang sedang berbicara, sesekali tersenyum geli dan tertawa. Aku dan Luhan tidak berbeda jauh. Mungkin karena Luhan adalah orang Cina jadi dia belum mengerti bahasa Korea dengan baik. Luhan tidak menyadari kecanggungan yang dia sebabkan kepadaku tanpa dia sadari. Duh, kemana keakrabanku padanya dua jam yang lalu?

                “Cindy,” panggil Changmin tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunanku kemudian mendongak untuk menatapnya. “Semenjak kita bertemu tadi, sepertinya aku pernah melihat wajahmu. Apa kau artis?”

                Dari pertanyaan Changmin, dia seperti sedang membantuku mencairkan rasa canggung dan malu-malu sejak awal tadi. Aku merasa sedikit nyaman. Aku bisa tersenyum lepas sekarang. “Bisa dibilang begitu.”

                “Bidang apa yang kau ambil? Penyanyi? Aktris? Model? Presenter?”

                “Semuanya.” Terdengar decak kagum dari Yonghwa dan Changmin. Luhan juga tampaknya mulai tertarik dengan karierku. “Karierku bermula dari model majalah dan sekarang sedang berusaha menjadi seorang model profesional. Aku pernah menjadi pengisi suara kartun dan menyanyi beberapa lagi soundtrack drama yang aku bintangi. Aku juga pernah menjadi presenter di acara musik. Bisa dibilang, aku hanya artis yang bermain dibelakang. Lagipula namaku juga tidak terlalu terkenal.”

                “Aku bisa membuatmu terkenal,” ucap Myungsoo tiba-tiba, dengan suara khasnya yang dingin dan tatapan datarnya. Aku menatapnya dengan tatapan yang sama datarnya seperti dirinya. Dia mengajakku atau apa? Tampak tidak ikhlas.

                “Benarkah?” tanyaku tidak percaya.

                “Kau bisa mempercayakan kariermu padanya, Cindy. Dia seorang CEO di agensi entertainment terkenal. Myungsoo ini lebih banyak ‘menerbitkan’ aktor dan aktris daripada penyanyi,” ucap Changmin, penuh dengan keyakinan di matanya. Aku kembali menatap Myungsoo yang sedang menungguku untuk percaya padanya.

                “Baiklah. Aku bisa memikirkannya dulu. Apa kau punya kartu nama?” Myungsoo langsung mengeluarkan dompetnya lalu menarik secarik kertas kecil dan memberikannya padaku.

                “Aku menunggumu setiap saat. Aku juga sedang mencari seorang pemeran wanita muda sebagai peran ketiga yang berperan penting dalam dramaku kali ini. Semoga kau tertarik dengan tawaranku.”

                Setelah itu, aku melirik kartu nama itu dan membaca namanya di kartu nama itu sekilas. Dia memang benar seorang CEO. Mujur sekali diriku bisa mendapatkan kenalan seorang CEO lewat kencan buta. Mataku melirik ke Krystal yang sedang berbincang kembali dengan Changmin. Gadis ini memang hebat mencari yang keren. Jjang!

                Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, dan itu waktunya untuk kami berdelapan untuk pergi menuju tempat karaoke. Sebelum kami semua pergi dari cafe, Changmin cekatan pergi ke kasir dan membayar semua pesanan kami. aku dan Luna bergurau kepadanya dan mengatakan, “seharusnya aku memesan banyak makanan”, dan Changmin hanya tertawa mendengarnya.

                Di tempat karaoke, Changmin menyewa dua jam karaoke. Dan dia juga yang membayar tempat itu beserta makanan yang ia pesan untuk kami. Bilik karaoke nomor 3 yang dipesan Changmin berubah menjadi ‘tempat konser’ yang riuh dan menyenagkan. Disini sudah mulai ada kedekatan antara Luna dengan Changmin (mereka menjadi pasangan duet sekarang), Jessica dengan Myungsoo, dan Krystal yang tak jelas dengan siapa. Dia dekat dengan Yonghwa, tapi disisi lain juga meladeni Luhan. Aku hanya memandang mereka bertiga dalam diam sambil meminum jus alpukat kesukaanku. Aku dan Luhan memang duduk bersebelahan, tapi Luhan lebih nyaman bersama Krystal. Entah kenapa, ada rasa cemburu pada Krystal.

                Perbincangan itu terhenti karena Changmin mengajak Krystal untuk bernyanyi bersamanya, membiarkan Luna beristirahat sejenak. Aku berusaha untuk mengikuti suasana menyenangkan ini dan melupakan kecanggunganku. Walau tak bisa dipungkiri kalau aku benar-benar berdebar sekarang ini. Tiba-tiba ponselku bergetar di dalam tas. Tanganku buru-buru mengambil ponsel itu, mendapati ada nama ‘Zitao’.

                ‘Apa kau jadi pergi kencan buta?’

                ‘Iya. Aku harus mencari seseorang yang menyenangkan selain kau. Tidak mungkin selamanya aku bersamamu, kan?’

                ‘Ya, kau benar. Apa kau sudah mendapatkan orangnya?’

                ‘Aku tidak yakin sudah. Dia begitu dekat, tapi aku merasa dia menghindariku. Aku harus bagaimana sekarang?’

                ‘Hmm…’

                Pesan terakhir Zitao yang menyebalkan. Tidak ada getar lagi. Sudah tujuh menit terlewati dan Zitao tidak muncul juga. Hembusan napas kesalku yang terdengar keras di telinga orang sebelahku, membuat perhatiannya terpangkas dan dia reflek menoleh padaku.

                “Ada apa?” tanya Luhan sedikit berbisik di telingaku. Suaranya yang pelan di telingaku sejenak membuatku lupa bernapas sebentar. Dia.. begitu dekat sekarang. Luhan, menjauhlah dariku.

                “Ah, bukan apa-apa. Apa kau menikmati hari ini?”

                “Lumayan. Aku benar-benar terhibur. Bagaimana dengan kau?” Dia menoleh sambil tersenyum padaku. Dia suka sekali tersenyum sepertinya. Aku tidak bisa membedakan dia sedang menggodaku atau sedang bersikap baik. Perlakuan yang beda tipis, sama-sama menyenangkan hati orang yang dihadapinya.

                Mulutku hendak menjawab pertanyaan Luhan ketika ponselku kembali bergetar dan layarnya menampilkan nama ‘Zitao’. Kubuka pesan itu dan membacanya cepat.

                ‘Utarakan perasaanmu. Itu lebih baik. Tapi, aku tidak yakin dia akan lebih menjauhimu atau malah memperbaiki kesalahannya. Good luck!’

Pesan singkat yang cukup membantu namun membutuhkan harga diri dan rasa percaya diri yang tinggi. Dengan kata lain, aku harus menjual satu harga diriku lagi kepadanya. Sempat terlintas dipikiranku untuk menolak saran itu dan memaki Zitao. Tapi, ada baiknya kau mengikuti keinginannya hari ini. Aku tidak sepenuhnya percaya padanya, karena dia orang yang licik dan pembohong. Aku akan benar-benar memakinya kalau sarannya salah.

                “Kenapa kau menghindariku hari ini?” Pertanyaanku yang blak-blakan membuat Luhan berpaling ke arahku lalu menatapku terkejut.

                “Apa maksudmu?” tanya Luhan lalu mengerutkan keningnya, bingung.

                “Kau tampak menghindar dariku. Kau bahkan tidak ingin bertatapan denganku walau itu tidak sengaja. Apa kau membenciku?” Perlahan suaraku semakin berat. Rasanya aku ingin menangis. Tunggu! Kenapa aku ingin menangis?

                “Kau menangis?” tanya Luhan terkejut sambil mendekatkan wajahnya untuk melihat apa aku benar-benar menangis.

                “Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaanku sekarang!” bantahku kesal sambil menghindarkan wajahku dari wajahnya. Luhan bergerak menjauh dariku dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Tatapannya masih terpaku padaku, dengan tampang cemas yang sulit diartikan.

                “Aku tidak membencimu. Aku malah menyukaimu. Aku hanya kaget kalau kita berdua akan bertemu lebih sering, seperti ini.”

                “Jadi kau tidak mau bertemu denganku terus-menerus?” tanyaku dengan suara parau. Luhan sama sekali tidak menjawab. Atmosfer macam apa ini? Kami berdua benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Padahal kita berdua baru saja bertemu. Cinta pada pandangan pertama itu memang ada, tapi aku tidak mempercayainya.

                “Kenapa kau diam? Aku benar, kan? Aku lebih baik pergi sekarang saja.”

                “Tidak! Aku bukannya menghindarimu. Sungguh.” Tangannya langsung menarik lenganku, membuatku jatuh terduduk di sofa kembali.

                “Lalu?” tanyaku cepat.

                “Aku hanya canggung. Itu saja. Jujur, aku ingin mengenalmu lebih jauh. Dan…” Luhan menoleh padaku dan menatapku serius. “..berbincang akrab seperti di bis tadi.”

                Entah kenapa atmosfer kami berdua menjadi sangat canggung. Sampai pada akhir waktu karaoke habis, tetap saja tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Aku dan Luhan berjalan beriringan di belakang para ‘pasangan’. Ketiga temanku sudah mendapatkan jodoh mereka masing-masing. Bukan pasangan yang sebenarnya sih. Hanya menjadi dekat satu sama lain.

                ‘Aku kecewa. Tampaknya hanya aku yang tidak berkembang disini.’

                Aku menoleh kepada Luhan yang berjalan disampingku dengan kepala menunduk. Tanpa disadarinya, mataku menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa. Aku menyesal tidak dekat dengan Changmin, Myungsoo atau Yonghwa. Kesadaranku memukul diriku yang bodoh. Pengharapan yang terlalu membuatku putus asa. Luhan bukan pria yang berani dan dewasa. Bodohnya aku tidak menyadari hal itu.

                “Kau tinggal dimana?” tanya Luhan menginterupsi pikiranku yang kacau. Suaranya terdengar jelas di seluruh bis yang kosong. Kini hanya ada kami berdua dan dua orang bapak-bapak yang tampaknya baru saja pulang dari tempat bekerjanya. Keenam orang yang lainnya sudah berhenti di halte kedua secara bersamaan. Meninggalkan kami berdua menuju halte ketiga.

                “Aku tinggal di komplek perumahan dekat halte. Kau dimana?”

                “Di apartemen kecil dekat halte. Kita sampai.” Bis berhenti sesuai dengan apa yang ia katakan tadi. Luhan memasukkan beberapa koin ke dalam kotak pembayaran untuk dua orang. “Aku sudah membayarnya untukmu. Kau tidak usah khawatir.”

                “Ah, terima kasih banyak,” balasku pelan, lalu memasukkan kembali dompet putihku ke dalam tas.

                Aku dan Luhan berjalan dalam diam kembali. Tidak jauh dari halte tadi, Luhan berhenti tepat di gang kecil kemudian berbalik menghadapku. “Aku tinggal masuk ke dalam gang ini.” Luhan berkata lalu menolehkan kepalanya ke arah gang kecil dan sempit.

                “Gang kecil seperti ini?” tanyaku heran.

                “Ini hanya jalan pintas. Jalan lainnya masih jauh dan aku tak yakin pintu utama masih terbuka saat ini. Ingin berkunjung?” tawarnya sambil mengangkat bahunya.

                “Lain kali saja. Besok ada kelas pagi dan aku harus tidur cepat hari ini,” tolakku halus. Dia tersenyum kemudian mengeluarkan sebelah tangannya dari kantung jaket. Entah kenapa nafasku kembali tercekat seperti sebelumnya, saat dia mulai menggerakan telapak tangannya dengan halus di atas puncak kepalaku. Kepalaku sedikit tertunduk, sedikit menguntungkan untukku bisa menyembunyikan wajah merahku.

                “Pulanglah. Hari sudah mulai dingin,” ujar Luhan lembut, kemudian menjauhkan tangannya dari kepalaku. Aku sedikit mendongak, dan bertemu pandang dengan matanya yang bulat. “Jangan takut. Aku akan melihatmu berjalan dari sini.” Luhan menunjuk jalan menuju rumahku dengan dagunya lalu kembali menatapku yang tadi juga mengikuti arah pandangnya.

                “Oke, aku pulang. Aku akan menghubungimu begitu aku sampai dirumah.” Tanganku mengerat di tali tas tanganku, merasa sedikit takut untuk berjalan sendiri menuju rumah. Aku belum pernah pulang malam seperti ini. Pasti ada Zitao yang menemaniku. Tapi, kali ini tidak. Kakiku bergerak dua langkah sebelum aku berbalik kembali

                Luhan masih berdiri di sana. Begitu ia melihatku yang berbalik menghadapnya, Luhan mengulaskan senyum lebarnya. Seakan memberiku perintah untuk berbalik kembali dan berjalan. Matanya juga berbicara kalau dirinya tidak akan pergi sebelum aku menghilang di belokan nanti.

                Dengan kepercayaan yang diberikan Luhan untukku, aku kembali berbalik dan berjalan pelan, meninggalkan Luhan yang semakin lama semakin jauh dariku. Hingga akhirnya aku berbelok dan aku masih melihatnya berdiri dengan tenang disana. Aku senang dia masih menungguiku hilang dari hadapannya. Setidaknya, dia sudah menunjukkan rasa pedulinya padaku. Aku tidak tahu kalau kencan buta itu sangat menyenangkan.

****

                “Bagaimana dengan kencan buta kemarin? Sepertinya mengasyikkan. Kau sampai tidak membalas pesanku,” cerca Zitao ngambek, kemudian menusukan garpunya dengan kasar di atas makan siangnya.

                “Yah, lumayan. Pria yang aku bilang padamu, menjadi begitu perhatian karena aku mengatakan apa yang ingin aku katakan. Terima kasih sarannya.” Aku tersenyum padanya dengan tulus, kemudian kembali meminum jus tomat lewat sedotan.

                “Aku yakin kau sudah menjual harga dirimu padanya. Untung saja dia tidak menolaknya,” ujar Zitao blak-blakan. Hampir saja aku tersedak karena perkataannya. Uh, terkadang bocah ini tahu dimana titik kelemahanku.

                “Ya. Kau tahu siapa pria itu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil mengangkat telunjukku dan menunjuk orang yang kumaksud. Zitao menoleh ke arah orang yang aku tunjuk, lalu membenarkan kembali posisi duduknya.

                “Oh, dia. Mahasiswa semester lima jurusan Music and Art Performing. Kenapa?” Zitao bertanya setelah memasukan daging potong ke dalam mulutnya, lalu menumpu dagunya dengan punggung tangannya sambil menatapku datar.

                “Tidak ada. Dia cuma tetangga sebelahku.”

                “Orang yang mengantarmu ke kampus?”

                “Iya.”

                “Aku dengar dia tidak pernah bergaul dengan siapapun. Hidupnya sebatang kara. Tidak ada yang tahu siapa dan dimana orang tuanya. Sekaya apa dia, dan dimana dia tinggal.”

                “Berarti aku orang pertama yang tahu dimana dia tinggal. Bukan, begitu?” tebakku terkesan.

                “Kau orang kedua. Orang pertamanya adalah dirinya sendiri yang mengetahui dirinya tinggal dimana.”

                “Konyol.”

                Mataku menangkap sosok tinggi itu lagi. Pria yang berjalan dalam diam dan menatap lurus jalannya. Dia tidak tertarik pada semua gadis yang sedang membicarakannya dengan bahagia dan penasaran. Para gadis juga tidak segan meluangkan jalannya untuk pria itu melangkah. Perhatianku terputus sampai dia keluar dari kantin ini. Aku menoleh ke Zitao yang asik menyampurkan nasi merahnya dengan telur dadar yang sudah ia potong kecil-kecil. Dia mengangkat kepalanya saat aku memanggil namanya.

                “Kau tahu namanya?”

                “Tentu. Siapa yang tidak tahu dia.” Zitao memasukkan nasi merah itu ke dalam mulutnya dan berkata dengan mulut penuh makanan. “Namanya Kris Wu. Berasal dari Cina, dan juga dari kampung yang sama denganmu.”

****

                Pria yang bernama Kris Wu itu seharian ini sudah memenuhi kepalaku. Tidak bisa disangka aku begitu tertarik dengan dirinya yang penuh misteri dan teka-teki. Aku juga perempuan, perilakuku juga sama seperti semua gadis yang meliriknya dengan senang. Aku merasa kalau diriku adalah gadis yang paling beruntung diantara semua gadis di kampus. Aku sudah pernah bertatap muka dengannya, pergi bersamanya, juga berbincang—walaupun dia tidak menimbulkan rasa nyaman padaku. Aku bisa saja menyombongkan hal itu pada kedua temanku. Namun, rasanya sama sekali berbeda. Mungkin dulu aku tidak mengenalnya dan tidak tahu betapa terkenalnya ia, jadi aku tidak bisa merasa gugup di sampingnya saat itu. Dengan terpaksa aku menganggapnya hanya sebuah kecelakaan ringan yang tidak berarti apa-apa.

                Langkahku berhenti di depan pintu radio kampus. Setiap kamis, aku menjadi penyiar radio setelah jam kuliahku selesai. Bersama dengan dua orang seniorku, kami bertiga menjalani radio kampus ini. Waktu siarnya saat break time di sore hari. Konsep radio kami adalah tentang remaja dan idola kampus. Kami bisa saja membuat seseorang yang tidak terkenal menjadi superstar dalam sehari.

                Senior Sandara adalah orang yang sangat ramah. Dia selalu menyapa setiap orang dengan senyumannya. Terlebih juga padaku. Dia orang yang pertama kali menyadari aku sudah datang. Dia menoleh lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum padaku.

                “Sore, sunbae!” sapaku sambil menarik bangku di sampingnya.

                “Kau sudah membaca pertanyaanmu hari ini?” tanyanya sambil mengambil kumpulan kertas yang sudah di jilid dari pinggir meja.

                “Sudah. Apa ada yang berubah?” tanyaku penasaran, lalu menerima jilidan itu dari Sandara.

                “Bukan perubahan. Hanya ada beberapa tambahan. Kau harus menghapal yang satu itu dan menanyakannya di pertengahan interview. Aku yakin para pendengar akan tertarik dengan topik yang satu itu.” Selagi mendengarkan Sandara berbicara, kubuka lembaran demi lembaran di jilidan. “Pandai-pandailah berbicara padanya. Dia sangat pendiam dan sensitif. Kau harus berhati-hati dengan pertanyaan yang satu itu.”

                “Oke, sunbae. Aku akan memperhatikannya. Tapi, bisakah aku menghilangkan pertanyaan itu bila keadaannya memburuk nanti?”

                “Kau boleh mengganti pertanyaan dengan yang lain, tapi tidak keluar dari inti pertanyaan yang awal. Kau mengerti?” tuntu Sandara sunbae.

                “Oh, oke. Baiklah, sunbae.”

                “Oh, kau sudah datang?” Suara Jiyoung sunbae tiba-tiba membuatku dan Sandara sunbae menoleh. Dia baru keluar dari toilet.

                “Hmm.”

                “Kau sudah tahu siapa guest-nya?” tanya Jiyoung sunbae menatapku dengan sebelah alis yang terangkat, menampilkan smirk-nya yang mencurigakan.

                “Kenapa memangnya?” tanyaku, sambil berusaha menyembunyikan rasa penasaranku saat ia berbicara tentang guest dengan tatapan seperti itu.

                “Aku hanya khawatir kau tidak bisa menangani degup jantungmu nanti. Kau pasti terkejut,” jawab Jiyoung sunbae semangat.

                “Konyol.”

                Pikiranku tenggelam pada dua puluh pertanyaan beserta kemungkinan jawabannya. Aku berusaha memahami semuanya di dalam otakku. Pertanyaannya adalah pertanyaan tentang hal-hal pribadi. Tamunya hari ini adalah seorang pria. Di beberapa pertanyaan ada yang mengandung kata-kata memuji untuk tamu itu. Hal yang biasa Sandara sunbae lakukan untuk mencairkan suasana sekaligus membuat si tamu merasa nyaman dengan interview-nya.

                ‘Oke, aku sudah mengerti’.

                Setelah menutup jilidan itu, kulirik jam tanganku yang menunjukan waktu tinggal lima belas menit lagi sebelum jam siaran dimulai. Jiyoung dan Sandara sunbae sudah sibuk dengan segala macam peralatan dan keperluan untuk siaran nanti. Karena itu bukan tugasku, jadi aku hanya harus fokus pada tugasku. Tiba-tiba, pintu masuk terbuka. Reflek aku menoleh ke belakang.

                “Selamat datang!” sapaku riang. Namun, keriangan itu berubah langsung setelah aku melihat siapa yang datang ke ruang siaran ini. “Kau! Ada apa?” tanyaku ragu, sambil membuang pandangan ke tempat lain. Tanpa aku sadari, Jiyoung sedang menyeringai senang karena kemenangannya.

                “Aku datang karena diminta sebagai tamu,” jawabnya datar.

                “Oh, kau tamunya, toh. Si..silahkan duduk.” Aku kembali membenarkan posisi dudukku, sementara pria itu berjalan menghampiri sebuah kursi yang letaknya sangat jauh dariku. Dia menghindar.

                “Ehm! Nanti aku yang akan mewawancaraimu, jadi perlu kita mengenalkan diri masing-masing. Aku Cindy Chou. Kau?” Tanganku terulur menujunya, walaupun aku tahu dia tidak akan membalasku karena jarak kursi kami yang begitu jauh. Dia melirik sekilas tanganku, kemudian menghembuskan napasnya pelan.

                “Aku Kris Wu,” jawabnya datar, lalu menoleh dan menatapku sama datarnya dengan ucapannya tadi. “Seharusnya kau tahu siapa namaku, kan? Mana ada orang yang mengundang tidak tahu siapa yang diundang?” sindirnya sinis. Mendengar perkataannya yang sangat menyayat, aku menyesal telah mengulurkan tanganku padanya. Dengan cepat aku tarik kembali tanganku dan menatap acuh ke arahnya.

                “Maaf, sepertinya seniorku lupa mencantumkan nama anda. Setidaknya aku sudah menanyakan namamu, bukan? Aku tidak mau dianggap kampungan oleh pendengarku nanti,” ujarku yang sama sinisnya dengan si Kris Wu itu. Dia berlagak tidak mendengarkan ocehanku. Cih, sok cool!

                Tiga menit berlalu hanya untuk meributkan hal yang tidak penting. Gara-gara dia, moodku hancur. Dia harus aku beri pelajaran. Bagaimanapun caranya. Dia sudah memandangku remeh. Aku tidak bisa begitu saja menerimanya. Dia sudah memancingku untuk membuka kembali .kamus balas dendam’ yang aku simpan selama ini. Banyak hal-hal yang bisa aku lakukan untuk mempermalukannya. Tidak ada kata profesionalitas di dalam ‘kamus balas dendamku’. Hati-hati, Kris Wu. Kau mati nanti!

 

****

To Be Continued…              

*Silahkan komentar dan sarannya. Thanks sudah baca ^^

Oh ya, di fanfic Dorm (fanfic aku juga) di chap 4 ada yang komentar kenapa Minseok yang khawatir padahal Baekhyun yang pertama khawatir. Gini lho, Baekhyun itu orangnya perhatian apalagi sama sahabatnya. Pasti dia nyariin. Nah, Baekhyun ini kan sekamar sama Minseok pasti dia cerita Jongdae menghilang. Tentu si Minseok sms Jongdae. Kenapa Minseok yang akhirnya kawatir? Karena Minseok yang pertama tahu Jongdae meninggalkan grup, dan nggak bisa dihubungi. Ngerti kah maksudnya? Pokoknya gitu deh (hahaha. Apasih-_-). Makasih udah baca ya😀

One thought on “Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s