FF : GROWL Chap. 11

Growl

Tittle              : Growl

Author            : Ohmija

Cast                : EXO and Park Yoora

Genre              : Action, Friendship, Family, Romance

Suasana tetap hening. Sudah sejak tadi Dongbin menunggu lawan yang berani menerima tantangan pembalapnya, namun tak ada satupun yang mendatanginya. Mereka pikir melawan Sehun sama saja dengan cari mati dan membuat mereka kehilangan mobil secara sia-sia.

Ditempatnya, Kai sudah tidak tahan lagi dengan situasi seperti ini. Dia sangat jengah, bahkan muak melihat wajah Sehun yang selalu memasang ekspresi dingin pada siapapun. Menurutnya, dia terlalu congkak.

“Aku muak sekali melihat wajahnya. Bisakah kita pergi, Jjong?” Kai bangkit dari tidurnya pada kap depan mobil Chen.

Chen tidak menyahut sama sekali. Dia terdiam untuk beberap saat. Mata tajamnya terus menatap kearah Sehun. Dia tau pasti ada sesuatu yang menyebabkan pria itu melakukan ini semua. Walupun tidak mengenalnya, Chen tau jika Sehun bukanlah tipe pria yang akan melakukan hal gila seperti ini, apalagi hingga mengorbankan kakinya sendiri.

Dia memang suka mencari masalah dan suka mengikuti balapan liar seperti ini. Tapi, seperti yang diketahui selama ini, dia sangat jarang bertaruh dengan uang. Dia melakukan balapan hanya untuk kesenangannya dan kebanggannya karena bisa mengalahkan orang lain. Hanya demi harga diri. Tapi, kenapa tiba-tiba dia melakukan hal seperti ini?

“Jjong, ayo..” Kai berseru lagi. Kini sudah bergegas menuju mobilnya sendiri. Namun ucapan Chen selanjutnya membuat langkah pria itu seketika terhenti dan dia menoleh ke belakang kembali dengan mata terbelalak lebar.

“Aku akan menerima tantangannya.”

“HAH?!”

Chen mengangguk sembari menatap lurus Kai, “Aku akan menerima tantangannya.”serunya lagi. “Aku akan bertanding.”

“Hey, kau sudah gila ya?!” Kai mencekal lengan Chen dengan sedikit dorongan. “Jika kau kalah, maka mobil ini akan jadi miliknya!”

“Kalau begitu, aku harus menang.”tegas Chen datar. Kemudian berjalan ke depan dan menghampiri tempat Dongbin dan Sehun berada.

Dibelakangnya, Kai masih berusaha menghentikan sahabatnya itu dengan memanggil-manggil namanya.

“Jongdae! Kim Jongdae!”

Namun tidak ada sahutan apapun. Bahkan Chen tidak menoleh sama sekali ke belakang. Bukankah baru saja dia mengatakan jika Sehun sudah berhasil mengalahkannya kemarin? Bagaimana jika hal itu terjadi lagi? Chen akan kehilangan satu-satunya harta berharganya.

Terpaksa, Kai mendekati lingkaran orang-orang yang sedang berkerumun, membuat Chanyeol dan Tao bisa melihat sosoknya dengan jelas lalu terkejut karena mendapati pria berkulit cokelat itu ada di tempat seperti ini.

Mata mereka saling bertabrakan namun Kai sama sekali tidak memperdulikannya. Ia membuang pandangan setelah itu, lalu mengalihkannya pada Chen yang sudah berada didepan Dongbin. Jantungnya berdebar-debar tak karuan.

“Aku akan menerima tantangannya.”seru Chen datar.

Di tempat duduknya, Sehun melirik lewat atas matanya tanpa menggerakkan kepalanya sedikitpun. Mata itu… seperti mata elang yang akan menyambar apapun yang lewat di depannya.

Dongbin tersenyum licik karena akhirnya dia mendapatkan sebuah lawan untuk Sehun. Ia berdiri dihadapan Chen sambil bertepuk tangan, “Hebat…”katanya dengan nada meremehkan. “Ternyata kau masih punya nyali setelah dikalahkan olehnya kemarin.”

“Aku akan menang malam ini.”

“Bagaimana jika kau kalah?”balas Dongbin cepat.

“Kau bisa mendapatkan mobilku.”

“Astaga. Dia memang brengsek.” Kai bergumam pelan dari pinggir lapangan.

Sehun berdiri, menatap Chen sesaat tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada lawan yang akan dihadapinya itu. Keadaan menjadi tegang, begitu juga yang dirasakan oleh Tao dan Chanyeol. Kedua orang itu benar-benar berharap pertandingan ini bisa selesai secepatnya dan Sehun akan baik-baik saja. Jika Chen menang, itu artinya riwayat Sehun akan tamat.

Tangan Chanyeol mengepal di samping tubuh. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia harus berjalan kesana dan menghentikan Sehun sekarang juga. Chen adalah lawan yang kuat. Bisa mengalahkannya dalam pertandingan kemarin adalah sebuah keberuntungan untuk Sehun. Lagipula karena Chanyeol sudah mempersiapkan mobilnya sebaik mungkin. Kali ini dia akan memakai mobil Dongbin, bagaimana jika mobil itu ternyata tidak sebaik yang diperkirakan?

“Sehun!” Chanyeol mencekal lengan Sehun dan menariknya mundur dua langkah. “Aku mengerti jika kau ingin menyelamatkan omoni, tapi tidak begini caranya!”bentaknya lumayan keras membuat Chen mampu mendengar percakapan mereka. Matanya melebar kaget.

“Kau pikir ini hanya lelucon, hah? Apa kau pikir kakimu hanyalah sebuah lelucon?! Jika kau kalah maka mereka akan memotong kakimu!”

“Maka aku tidak boleh kalah.”balas Sehun menatap Chanyeol dengan sorot teduh.

Chanyeol menghembuskan napas keras. “Aku tau kau adalah seorang pembalap hebat tapi bagaimana dengan mobilnya? Seorang pembalap tidak akan bisa menjadi pembalap yang baik jika dia mengendarai mobil yang tidak sesuai!”suaranya masih meninggi. “Selama ini,aku adalah orang yang selalu merakitkan mobil untukmu! Aku tau bagaimana mobil sesuai seleramu! Harusnya kau mengajakku mengobrol tentang ini!”

“Apa aku punya waktu untuk melakukannya, hah?!” Sehun ikut meninggi. “Apa kau pikir aku mempunyai waktu bahkan untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan?! Yang bisa aku lakukan hanya ini!”

Pria tinggi itu menghusap matanya yang berair dengan lengan baju. Hatinya terlalu sakit untuk ini, pertahanannya memudar bahkan ketika dia hanya memikirkan apa akibat yang akan terjadi jika dia tidak mendapatkan uang sebelum besok pagi.

Melanjutkan ucapannya, suaranya merendah, “tidak perduli aku kalah atau menang. Setelah ini masih memiliki kaki atau tidak. Yang terpenting adalah nyawa oema. Aku harus menyelamatkannya, Chanyeol. Aku tidak akan membiarkannya pergi meninggalkanku seperti yang dilakukan ibuku terhadapku. Dia adalah satu-satunya yang aku miliki sekarang. Jadi, jangan tahan aku lagi…”

Sehun berbalik dengan tubuh yang tidak setegap biasanya. Punggung itu sedikit membungkuk. Chanyeol bisa melihatnya dengan jelas beban yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu. Dia menyerah, tidak menahan kekeras kepalaan Sehun lagi.

Dia juga berada dalam keadaan yang sulit. Antara sahabat dan seseorang yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Ingin membantu namun dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu. Nyatanya, dia hanya bisa berdoa agar Sehun dan ibu Luhan baik-baik saja setelah ini.

Masuk ke dalam mobil Dongbin, Sehun menyadari jika perasaannya tidaklah seperti biasa. Dia sangat kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Memaksa dirinya untuk fokus dalam pertandingan ini, dia harus sekuat tenaga melakukannya.

Menjajarkan mobilnya dengan mobil yang di tumpangi Sehun. Chen menoleh kearah pria berwajah dingin itu dan menyadari kekacauan yang sedang melandanya. Dia memang berbeda malam ini. Bekas-bekas air mata yang trtinggal di sudut matanya juga terlihat walaupun samar.

Tadi, dia sempat mendengar jika dia harus melakukan pertandingan gila ini untuk menyelamatkan seseorang. Siapa? Ibunya?

Suara erangan mobil sudah terdengar bersahut-sahutan. Kai, Chanyeol dan Tao berdiri dipinggir lapangan sambil menunggu detik-detik mendebarkan yang akan berlangsung sebentar lagi. Sehun atau Chen? Yang jelas, yang kalah akan mendapat kerugian besar setelah ini. Itu sudah pasti.

Seorang wanita berdiri didepan mobil Chen dan Sehun. Saat kain yang dipegangnya ia lepaskan dan jatuh menyentuh jalan aspal. Detik berikutnya, mobil Sehun dan Chen langsung melaju kencang. Meninggalkan asap yang mengepul di belakang.

Sorakan riuh menemani pertandingan itu, karena bagi mereka ini adalah pertandingan paling seru selama ini. Baru kali ini pertandingan berlangsung menggunakan mobil, bukan uang. Juga salah satunya yang akan mengorbankan kakinya jika dia kalah. Yah, memang baru kali ini.

***___***

Kyungsoo meninggalkan Luhan yang tengah tertidur di kursi tunggu, menghampiri Yoora yang ijin dari tugas jaganya untuk menemani Luhan dan menunggu ibunya. Pria mungil itu memang belum lama mengenal keluarga ini dan dia belum mengerti apapun.

Hanya saja, setelah ia melihat bagaimana sikap Sehun saat melihat Luhan bersedih, pandangannya terhadap biang onar itu jadi berubah. Dulu, dia pikir, Sehun hanyalah seseorang yang selalu mencari masalah dan membuat nama sekolah menjadi buruk. Tak jarang wajahnya memar-memar karena dia berkelahi dan tak jarang juga dia mendapat hukuman dari guru karena hal itu.

Dia tidak pernah memakai baju seragamnya dengan baik bahkan pernah memakai riped jeans sebagai pengganti celananya. Rambutnya jarang disisir dengan rapi, dia biarkan terlihat seperti bed hair –yang mana menurut pendapat seluruh wanita di sekolah terlihat sangat seksi- Dia juga jarang memakai blazer dan selalu tertidur diatap sekolah saat pelajaran menyebalkan.

Dimatanya dulu, Sehun hanyalah sekedar pembuat onar walaupun Sehun tidak pernah mengganggunya.

Namun kini, semua itu berubah saat dia mengenal sosok pria itu. Dibalik sikapnya yang selalu berbuat seenaknya, sebenarnya dia adalah pria yang tulus dan sangat menghargai persahabatan juga keluarga. Dia tidak pernah meninggalkan sahabatnya sedikitpun dan akan berdiri paling depan untuk melindunginya.

“Noona.” Kyungsoo memanggil Yoora yang terus menatap ke dalam ruangan lewat jendela kaca.

Yoora menoleh, lantas memaksa dirinya tersenyum saat dia menatap Kyungsoo, “ada apa?”

“Jika kau lelah, kau bisa beristirahat. Kau selalu berdiri disini sejak tadi dan tidak pernah duduk. Kakimu akan menjadi sakit.”

“Aku ingin melihat keadaan oema.”balasnya dengan suara pelan.

“Kau tidak bisa melihatnya dari sini. Percuma. Lebih baik kau duduk atau pergi tidur. Aku akan menjaganya.”

“Tidak Kyungsoo.” Yoora menggeleng lagi. “Selain itu, aku harus menunggu adik-adikku kembali. Mereka sedang mencari jalan keluar untuk masalah ini.”

“Apa mereka akan baik-baik saja, noona?”

“Aku harap begitu.”

“Noona,”seru Kyungsoo lagi. “Aku tidak tau apakah ini waktu yang tepat atau tidak. Tapi bisakah aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu selama ini? Terima kasih karena telah mengijinkanku tinggal di rumahmu dan menjadi bagian dari kalian. Dan… bisakah selamanya akan tetap begini?”

Pria mungil itu mengangkat wajahnya, menatap Yoora dengan tatapan memohon.

“Aku merasa sangat nyaman dengan keluarga ini. Selama ini, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Aku selalu tinggal sendiri. Jadi, bisakah kau mengijinkanku untuk tinggal selamanya?”pintanya. “Aku bisa memasak dan aku bisa membersihkan rumah jika kau mau. Aku juga akan belajar tentang otomotif sehingga aku bisa membantu Chanyeol untuk membenarkan mobil-mobil dan mencari uang. Aku bisa melakukannya dan—“

Yoora memeluk Kyungsoo tiba-tiba. Mendekap pria mungil itu dalam pelukannya dan menangis di pundaknya. Dia benar-benar menangis sejadi-jadinya. Kyungsoo ragu untuk membalas pelukan itu sehingga dia hanya menepuk-nepuk punggung belakang Yoora dan membiarkannya.

Dia tau wanita ini sangat bersedih dengan masalah ini. Dia tau itu.

“Asalkan noona mengijinkanku, aku juga bisa menjadi sandaran untuk kalian saat kalian bersedih.”

***___***

Sehun menyadari jika mobil yang sedang di kendarainya memang berbeda. Seperti kata Chanyeol, mobil itu sama sekali tidak sebagus yang terlihat. Dia juga belum bisa bersahabat dan mendapatkan celah terbaik dari mobil itu.

“Brengsek!” Sehun memukul setirnya kesal saat Chen berhasil mendahuluinya.

Saat melewatinya, Chen dapat menyadari jika terjadi keanehan dari mobil Sehun. Dia tidak selaju biasanya, tidak secepat dan selincah seperti biasa yang dia lakukan. Dibelakang, ia terlihat kaku dengan mobil Dongbin yang sepertinya tidak bisa bersahabat dengannya.

“Bodoh, seharusnya aku gembira, kam?”seru Jongdae pada dirinya sendiri.

Entah mengapa, Jongdae ikut merasakan hal aneh yang tiba-tiba saja merasuki dirinya. Tiba-tiba obrolan Chanyeol dan Sehun tadi terlintas di kepalanya dan kata yang paling dia ingat adalah kata ‘ibu’ . Apa sesuatu memang sedang terjadi pada ibu Sehun?

Chen terus memikirkannya hingga dia sendiri tidak sadar jika dia telah menurunkan kecepatannya. Disisi lain, kenangan saat orang tuanya meninggal ikut merasuki pikirannya. Dia ingat dengan jelas saat orang tuanya pada akhirnya menyerah untuk berjuang atas penyakit yang mereka derita. Juga masih mampu mengingat bagaimana wajah damai ibu dan ayahnya saat mereka menutup mata.

Seketika hatinya terasa sesak, dia ingin kembali namun tidak bisa kembali. Mengingat bagaimana usaha kerasnya membahagiakan mereka untuk sekedar mendapat sebuah pengakuan. Namun yang dia dapat hanyalah kenyataan jika orang tuanya hanya selalu memikirkan Suho, yang bahkan tidak pernah kembali.

Chen merasa benci, namun tidak bisa membenci. Dia berada dalam kebimbangan hatinya.

Garis finish sudah semakin dekat dan Sehun berhasil memimpin kembali. Saat melewati mobil Chen, dia tau jika pria itu tiba-tiba berhenti di belakangnya. Dia menoleh ke belakang beberapa saat, detik berikutnya tidak memperdulikan hal itu lagi. Yang jelas, dia harus menang.

Chanyeol langsung berdiri saat ia melihat mobil Dongbin terlihat dari kejauhan, begitu juga Tao yang langsung melompat dari kap depan mobil Chanyeol. Keduanya menghembuskan napas lega, lantas bersorak senang begitu Sehun berhasil melewati garis finish.

“Terima kasih, Tuhan!”seru Tao.

Para penonton pendukung Sehun ikut bersorak senang dan langsung mengerumuni mobil itu begitu ia terhenti. Sedangkan Kai dan para penonton yang mendukung Chen seketika mengumpat tidak karuan.

“brengsek!”maki Kai kesal.

“Sehun, aku benar-benar bersyukur pada Tuhan. Terima kasih.” Chanyeol langsung memeluk sahabatnya itu begitu ia keluar dari mobil.

Sehun hanya tersenyum singkat menyambut sorakan penonton yang mengelu-elukan namanya dan pelukan Chanyeol. Dia menoleh ke belakang dan menyadari sesuatu jika Chen sengaja untuk menurunkan kecepatannya tadi.

Diantara semuanya, termasuk yang senang karena menang taruhan antara Sehun dan Chen, Dongbin adalah orang yang paling bahagia atas hal ini. Ini pertama kalinya dia merasa telah menang dari seseorang, walaupun lewat Sehun. Dia menang dan dia akan mendapatkan mobil Chen.

“Aku tau kau pasti menang! Aku tau itu!”soraknya menepuk pundak Sehun.

“Berikan aku tiga juta dan kau akan mendapatkan mobil Chen setelah ini.” Sehun mengatakan hal itu tanpa tersenyum sambil mengembalikan kunci mobil Dongbin.

Dongbin memanggil salah satu anak buahnya dan mengisyaratkan untuk mengambilkan tasnya di belakang. Setelah itu, memberikan uang pada Sehun sebanyak tiga juta won secara kontan.

“Ini upahmu. Aku akan menunggu kedatangan si pengecut itu.” Dongbin tersenyum penuh kemenangan.

Sehun tidak perduli. Begitu dia berbalik, dia melihat Kai berdiri di hadapannya dengan mata yang membara. Sehun terkejut. Mengikuti arah pandangan Sehun, Chanyeol membisikkan sesuatu pada sahabatnya itu.

“Sepertinya dia adalah teman Chen. Aku juga terkejut kenapa dia bisa berada disini.”

Sehun hanya menatap Chanyeol sesaat lalu melanjutkan langkahnya mendekati mobil.

Tak lama, mobil Chen muncul. Begitu dia keluar dari mobil, Sehun sama sekali tidak melihat ekspresi kesalnya yang seharusnya dia tunjukkan. Dia hanya terdiam dengan wajah datar, bahkan disaat Kai mengguncang tubuhnya dan berteriak di depan wajahnya.

“Kau bodoh, Jongdae! Kau bodoh!”bentaknya, “Kau sudah tidak mempunyai apapun sekarang! Sudah ku bilang untuk tidak mengikuti pertandingan itu!”

Dongbin bertepuk tangan senang, dia maju dua langkah kearah tempat berdiri Chen. “Sampai kapanpun, kau tidak akan bisa mengalahkan Sehun, pecundang.” Lalu disambut dengan teriakan-teriakan dari yang lain.

Sehun terdiam. Kembali mengingat jika tadi Chen sengaja menurunkan kecepatannya. Dia sangat yakin akan hal itu.

“Sehun, ayo pulang. Urusan kita sudah selesai.” Tao menarik lengan Sehun dan mendorong tubuhnya untuk masuk kedalam mobil. Sehun menurutinya, lantas menduduki kursi disamping kemudi. Kali ini, Chanyeol yang akan menyetir.

Saat mobil mereka sudah hampir bergerak, tiba-tiba suara sirine polisi terdengar. Seketika semua orang yang ada di lapangan berhamburan kesana kemari termasuk Dongbin yang langsung mencengkram kerah baju Chen.

“Mana kunci mobilmu?! Cepat serahkan padaku!”

“Jangan membentak sahabatku, brengsek!” Kai mendorong tubuh Dongbin kasar.

“Aku tidak punya masalah denganmu! Mengerti?!”

Kai menepis jari telunjuk Dongbin yang menunjuk-nunjuk wajahnya dengan kasar, “Singkirkan jarimu! Aku tidak suka seseorang menunjuk wajahku!”

Melihat itu, Chanyeol bergumam dari dalam mobil, “Astaga… mereka akan berkelahi.”

“Biarkan saja mereka, Chanyeol! Cepat kabur! Mereka semakin dekat!”desak Tao.

Chanyeol mengangguk, lalu menginjak pedal gas dan mengarahkan mobilnya.

“Bawa uangnya dan tunggu aku di rumah sakit.” Tiba-tiba Sehun membuka pintu mobil dan melompat keluar, ia berguling di jalan aspal lalu cepat-cepat berdiri sebelum tubuhnya di tabrak oleh mobil-mobil yang sedang melarikan diri.

“Ya! Oh Sehun!”

Sehun berlari menghampiri Chen yang hanya diam di tempatnya dan Kai yang masih bertengkar dengan Dongbin.

“Sehun,bagus kau kembali. Cepat ambil mobilnya!”perintah Dongbin.

Sehun menatap Chen sesaat, lalu mengalihkan pandangannya pada Dongbin, “Aku tidak suka seseorang memerintahku dengan seenaknya.”desisnya dingin.

“Hah?!”

“Aku akan mengganti uangmu nanti. Anggap saja aku berhutang.”

 

BUG

 

Sehun memukul wajah Dongbin tiba-tiba dan menendang tubuhnya kuat hingga ia tersungkur ke belakang.

“Lari!”

Lalu mendorong tubuh Kai menyuruhnya untuk lari dan menarik lengan Chen, mendorong tubuhnya masuk kedalam mobilnya. Sehun duduk di kursi kemudi, memutar kunci dan menginjak pedal gas mengikuti mobil Kai yang sudah lebih dulu menghilang.

Suara sirine mobil polisi terdengar semakin dekat dan dia harus melarikan diri secepat mungkin. Menyadari jika Sehun sedang duduk di sebelahnya, Chen terkejut.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Jika kau mendengar suara sirine, harusnya kau melarikan diri! Apa kau bodoh?!”balas Sehun setengah membentak.

Pria tinggi itu terus melajukan mobil Chen, mengikuti mobil Kai yang ada didepannya. Suara sirine polisi masih terdengar namun kini samar-samar. Sehun membelokkan setirnya ke dalam sebuah jalan kecil parkiran gedung apartement karena melihat Kai melakukannya. Mereka menuju parkiran diatas gedung untuk bersembunyi dari kejaran polisi.

“Ini semua karena kau!” Kai langsung memberikan Sehun sebuah tinjuan di wajahnya begitu ia keluar dari mobil. Sehun termundur, menghusap sudut bibirnya. “Kau menyebabkan sahabatku kalah dan hampir saja kehilangan mobilnya! Kau juga menyebabkan kita dikejar oleh polisi!”

“Aku tidak punya urusan denganmu. Aku pulang.”balas Sehun datar.

Kai semakin geram, dia menarik lengan Sehun dan memutar tubuhnya paksa. Berikutnya kembali memberikan dua tinjuan di wajah Sehun hingga pria itu tersungkur.

“Kai!” Chen menahan tubuh Kai saat ia hampir saja menginjak tubuh Sehun. “Dia menyelamatkan kita!”

“MENYELAMATKAN KATAMU?! DIA MEMBUATMU HAMPIR KEHILANGAN MOBILMU!”bentak Kai tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Ia menghembuskan napas keras. “Kau pikir kau akan bekerja sebagai apa jika kehilangan ini?! Kau lupa? Ini adalah satu-satunya pengalih kesedihanmu dari kematian kedua orang tuamu! Kau pernah menggunakan ini untuk membeli obat mereka! Kau lupa?!”

Mata Sehun sontak melebar mendengar ucapan Kai, “orang tuamu…?”

“Jika tadi dia benar-benar kehilangan mobilnya! Aku pasti benar-benar akan membunuhmu. Oh Sehun!” Kai mendorong tubuh Sehun kasar namun segera di tahan oleh Chen.

Ada rasa bersalah di hati Sehun saat dia menatap wajah Chen. Begitu ia mendengar sebuah kenyataan jika Chen menjadikan mobilnya dan profesinya sebagai pembalap liar sebagai cara untuk mencari uang untuk kedua orang tuanya. Lalu apa bedanya dengan dia? Jika tadi dia benar-benar kehilangan mobilnya, dia sendiri akan merutuki dirinya karena telah tega melakukan itu. Yah, dia sangat bodoh.

Sehun buru-buru mengubah keterpakuannya dan bersikap senormal mungkin, “Aku pulang.”serunya singkat lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.

***___***

Sehun berlari secepat mungkin di lorong panjang rumah sakit menuju ruang ICU. Melihat sosok yang mereka tunggu muncul, Chanyeol dan yang lain seketika berdiri dan menghampirinya.

“Bagaimana oema? Dokter sudah melakukan sesuatu, kan?”tanyanya panik.

“Kau pikir siapa dirimu, hah?” Luhan menyambutnya dengan sebuah dorongan keras di tubuh Sehun hingga ia termundur beberapa langkah. “Lagi-lagi kau mengorbankan dirimu! Lagi-lagi kau membahayakan tubuhmu sendiri!”

Sehun tergugu, “Luhan… aku…” Ia melirik kearah Chanyeol dan Tao. “Kalian mengatakannya?”

“Kami juga khawatir atas apa yang kau lakukan tadi, Sehun.”jelas Tao pelan.

“Sebenarnya begini, aku sama sekali tidak bermaksud mengingkari janjiku. Tapi—“

“Terima kasih.”Luhan langsung memeluk tubuh Sehun sambil menangis. “Terima kasih, Oh Sehun.”

***___***

Keesokan paginya, hanya Tao, Chanyeol dan Kyungsoo yang pergi ke sekolah. Sedangkan Yoora kembali ke rumah untuk mengemas beberapa selimut. Luhan tetap menunggui ibunya dan Sehun memilih untuk tidak memunculkan wajahnya sementara waktu dimanapun. Kejadian kemarin membuatnya sedikit was-was. Yang dia tipu adalah anak dari seorang pejabat Seoul, Dongbin pasti tidak akan memaafkannya.

“Bagaimana jika dia menangkapmu? Itu termasuk tindak kriminal, kan?” Luhan menatap pria itu ragu.

Sehun menghembuskan napas panjang lalu tersenyum, “aku sudah bilang jika aku akan melunasinya secepat mungkin.”

“Tapi tetap saja, kau—“

“Jangan khawatir.” Dia menepuk pundak Luhan. “Aku tidak akan tertangkap.”serunya yakin. “Aku akan membeli makanan. Tunggu disini.”

Sehun berdiri dari duduknya, meninggalkan Luhan yang hanya diam di tempat. Selain lapar, dia juga mengantuk karena sejak semalam tidak tidur. Dia pikir,dia akan membeli segelas kopi juga. Masih ada sedikit uang di kantung bajunya.

Sehun berjalan meninggalkan rumah sakit menuju kedai-kedai yang sudah buka dan menjual makanan murah. Dia dan Luhan sama-sama menyukai ddokbukkie, jadi dia akan membeli itu untuk mereka.

“Ahjumma, bisa berikan aku dua porsi ddokbukkie?”serunya ramah sambil membungkuk sopan.

“Baik. Tunggu sebentar.”

Sehun mengangguk lalu membalik tubuhnya menghadap jalan raya. Detik berikutnya, matanya melebar karena dia melihat Chen sudah berdiri dibelakangnya. Keningnya berkerut menatap pria mungil itu.

“Apa?”tanyanya.

Chen hanya diam. Dia maju beberapa langkah berdiri dihadapan Sehun.

“Akhirnya aku menemukanmu.”

Kening Sehun semakin berkerut, “apa maumu?”

“Oh Sehun…”seru Chen pelan. “Terima kasih.”

Sehun terperangah hebat, “Hah?!”

TBC

 

 

 

 

 

 

Iklan

38 thoughts on “FF : GROWL Chap. 11

  1. osehn berkata:

    aduh sehuun bikin gemes sumpah. Bawaannya pengn meluk deh hahaha. Ff ini bagus bgt ceritanya thor. Ff ini yg paling aku tunggu. Ditunggu chap selanjutnya ya 🙂

  2. osehn_oktaviams berkata:

    huaaa rasanya penge melluk sehun , sehun di ff ini bikin gemesin deh . ko tbc siiiih padahal masih seruu. kurang panjang kayanya hahaha next thor 🙂

  3. byun_baekgu berkata:

    .OMO!!!! chen bertrima kasih #bersorak_utk_sehun yeahhh chen sudah,tnggal geng.ny kai?? mudah”an ajh kai cpet sadar n jdi baik kesehun 😉 🙂 #nextchapter I am always wait chap slanjut.ny

  4. infinitygurls berkata:

    waahhh terimakasihhh,,,,(?) sebenarnya apa yang di katakan chen omo omo…. ,,,, gak sabar nunggu nextnya nihh,,,, author ini paling bisa aja buat para readers penasaran kalau udah tbc,,, dan aku buka blog ini pagi pagi pas mau liat liat di blog ku… eehh tiba tiba muncul di layar laptopku ff ini yaudah langsung klik aja wkwwkk nggak pake pikir panjang lagiii :3

  5. Ks127Cy berkata:

    ciyahahaha….

    chen klah chen klah#ye ye ye ye
    dia bilang makasih lgi
    kai tuh-_-“…#gue pithes bru tau rsa lu

    aduh mlah ngromed…
    bagus thor~
    next ne^^

  6. nina berkata:

    aaa chen baik iia
    untung chen denger chanyeol sm sehun ngobrol soal eomma luhan
    sebenernya mereka baik, tp ego nya besar. tempramennya juga tinggi
    semoga jadi temen iia mereka hyaahh :3

  7. krystal berkata:

    huweee… mewek nih thor… T__T sehun hebat ya, mau berkorban demi sahabatnya. lha trus tu si chen ngapain berterimakasih? apakah mreka akan rukun..?? huaaaaa… di tunggu chapter selanjutnya thor… >O<)/

  8. ajeng sarwendah berkata:

    Chen berterimakasih sama Sehun ? Ah,semoga mereka bisa jadi temen. Sehun keren berkorban demi eomma Luhan :). Chap selanjutnya jangan lama-lama ya ? 🙂 😀

  9. Nuraya berkata:

    Aku gk bisa berkata apa2 eon, semua ff’nya selalu jadi favoritku >.<
    pokoknya daebak deh:-D
    tulisannya itu loh berbeda dgn author yg lain, aku cinta kamu ohmija :-*

    lanjooootttt~
    Fighting :-*

  10. Raaaaaa berkata:

    HUAAAAAAAAAA….
    gak tau kenapa setiap aku baca ff karyanya mija bawaannya geregetan mulu, sumveeeh!!!
    aku akan selalu menunggu next chapternya. cepet di lanjur thor..
    ff house tree juga jangan lupa karena itu juga ff yang sangat aku fovoritin. teman teman yang lain juga pasti menunggu ff itu.
    daaan peehlisss jangan ngaret thooor *buing buing ala thehun*

  11. elsasndra berkata:

    Ahhh lanjut thor lanjut >< gereget ini. Friendship sama familynya kerasa banget dan hidup hunhan ahahaha, moment mereka lumayan bnyk di sini

  12. laychen berkata:

    Yesss tambah 1 orng lg di grub sehun yeyeye aku aku terharu deh sampai nitikin air mata 😭 entahlah rasa nya sakit kalau harus mengorbakan apapun demi mencari uang yg jumblah nya gk sedikit

  13. Niza berkata:

    ya ampun sumpahhh yahhh aku bca chapter ini ampe nangis gk, nyangka ama kesetiakawanan mreka kai setia ama chen. sehun setia ama luhan… smoga mreka semua nnti.y bsa brsahabat…
    next, hwaiting!!!!!

  14. deyana13 berkata:

    author,demi apa,aku terharu banget baca ff kamu ini ;'(
    antimainstream ceritanya…
    Di ff ini,aku dapet pelajaran berharga banget tentang perahabatan yang sejati dan tulus…
    Sumpah,terharu banget banget!!! Keren ide ceritanya!

    Karakter sehun disini juga,dewasa banget,baik banget,solider banget…

    Aku suka banget sama FF ini! Ini FF persahabatan pertama yang jadi favorite aku! Atau kata lainnya,aku fans tulisan kamu…. Hihihihi… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s