Precious Metals (Chapter 4 : Affair)

project

Title                 : Precious Metals (Chapter 4 : Affair)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 : EXO OT12

Genre              : Action, Brothership, Thriller, Adventure

Rating             : PG-13

Length             : Chaptered

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt.

Summary         : Jalan pikiran Kris selalu bisa membuat orang lain terperangah, tak terkecuali untuk Baekhyun. Bagaimana bisa ia menjadi manusia tak berperasaan seperti ini? Oh, mungkin Tuhan menciptakannya tanpa sesuatu yang disebut hati!

Chapter 1 , Chapter 2, Chapter 3

.

-Precious Metals-

(Affair)

.

(Previous…) “Terimakasih.” ucap gadis itu tulus.

Chanyeol tersenyum lebar. “Sama-sama. Ah, kau benar-benar gadis lembut.”

Kai buru-buru menarik kekasihnya pergi sebelum polisi genit itu benar-benar menerkamnya.

“Polisi menjijikan!” umpat keduanya ketika berhasil keluar gedung.

.

-Precious Metals-

.

Mereka berdua memasuki mobil sport merah mengkilap yang terparkir sedikit jauh dari gedung kepolisian. Kai mengambil alih kemudi, lalu melirik sekilas pada jok sampingnya. Sebenarnya, ia sudah ingin sekali tertawa terbahak-bahak sekarang, namun ia tahan sekuat tenaga agar nyawanya tetap selamat.

Gadis itu menurunkan resleting dress yang ia kenakan. Tanpa ragu menanggalkan pakaiannya bahkan ketika Kai sedang mengamatinya dengan intens. Dengan tubuh mulus berbalut celana pendek ketat yang tersisa, ia kemudian menyambar kaos dan celana jeans yang berada di kursi belakang.

“Kau akan tetap mengenakan wig-mu?” sindir Kai. Sekali lagi menahan tawa.

“Oh, shit!” umpatnya sambil membuang rambut palsu yang sedari tadi menggelitik kepalanya.

“Kupikir kau tak akan datang.”

“Jangan terlalu berbesar kepala. Aku datang bukan untukmu. Aku datang karena nasibku sendiri yang terancam!”

“Benarkah? tapi kau bisa saja lepas tangan jika kau mau.” sahutnya kembali. Ia sebenarnya tahu. Luhan, salah satu pemimpinnya peduli kepada anak buahnya. Tetapi lelaki cantik tersebut selalu bersembunyi di balik keangkuhannya. Dingin dan sadis, sangat jauh dari kesan wajahnya yang teduh menenangkan.

“Bagaimana bisa aku lepas tangan jika Monocerus terancam!”

“Lebih tepatnya aku yang terancam.”

“Diam, Kai! apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku hampir berhasil membunuh anak buah Draconisius sebelum kepala polisi muda itu menembakku.”

“Draconisius? Oh Sehun?”

“Ck! Jika itu Oh Sehun aku sudah benar-benar membunuhnya apapun yang terjadi.”

“Lalu?”

“Baekhyun, Byun Baekhyun. Peretas jaringan yang pernah melumpuhkan pergerakanmu beberapa tahun yang lalu.”

“Benarkah itu Baekhyun? Bukankah dulu kau bilang Oh Sehun?”

“Kenapa kau suka sekali menyebut nama itu? Sehun, Oh Sehun. Apa kau benar-benar menyukainya? huh?”

Luhan mendengus. Mengalihkan pandangan lurus ke depan. “Aku hanya penasaran siapa anak itu sebenarnya.” balasnya. Ya, Luhan memang sama sekali belum pernah bertemu dengan anak buah Kris yang konon paling tangguh itu. Namanya sudah tidak asing lagi, bahkan sudah sangat ditakuti. Namun ia sama sekali tak tahu yang mana lelaki bernama Oh Sehun itu.

“Dia…sepertimu, mungkin.” sahut Kai lagi. Ia menerawang.

“Fakta bahwa Oh Sehun merupakan seorang mafia kaki tangan Draconisius benar-benar sulit dipercaya. Ketika aku melihatnya, aku seperti melihatmu.” tambahnya kemudian.

Luhan mengeryit, sepertinya tidak terima jika ia disama-samakan. Apalagi dengan musuh bebuyutannya. “Aku?”

“Ya. Maksudku, kalian berdua sama-sama tidak cocok menjadi mafia kelas kakap. Wajah tampan, pembawaan yang menenangkan. Kalian seharusnya menjadi bagian dari pewaris konglomerat yang hidup bahagia daripada terjun di dunia gelap seperti ini.” papar Kai jujur.

Luhan tertawa mendengus, “Lalu, bagaimana denganmu?”

“Aku? Apalagi yang bisa ku lakukan ketika orang tuaku sendiri mati di tangan Kris Wu? Sepertinya ini jalan paling baik yang ku miliki.”

Kai lalu mendengar Luhan yang bergumam, seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Balas dendam. Hmm, kenapa sulit sekali menghancurkan naga itu padahal ribuan orang menaruh dendam padanya. Kris Wu, seberapa banyak nyawa yang kau punya?”

.

-Precious Metals-

.

“Apa kau akan menunggu hingga radar detektor itu kembali aktif?” Suara berat dan penuh penekanan itu terdengar jelas di telinga Sehun. Ia yang sedang rebahan di ruangan pribadinya terduduk. Masih memegang revolver yang sedari tadi diamatinya.

“Apa kau pikir aku akan menyia-nyiakan kesempatan menguji senjataku ini? Tidak Bos. Semua berjalan mulus tanpa gangguan sedikitpun.” jawabnya sembari memamerkan senyum liciknya.

Kris tertenggun, sebenarnya ia tak mengharapkan Sehun bergerak secepat itu. Namun tak dipungkiri, dalam hati ia tersenyum melihat kesigapan anak buahnya. Ia masih memperhatikan senyum miring Sehun sebelum berdecak, seolah muak. “Buang raut muka menjijikan itu, Oh Sehun!”

“Hahahaha…” Bukannya takut, remaja tampan itu malah terbahak mendengar bentakan bosnya. Ia tahu, Kris hanya bercanda, menutupi kepuasan hatinya dengan topeng yang sudah sangat Sehun hafal.

“Rilekslah sebentar, kau akan terlihat tua jika serius seperti itu.” sambungnya ketika berhenti tertawa.

“Haruskah?”

“Yeah, bahkan aku sudah mulai melihat keriput di bagian matamu. Apa kau tak sadar?”

“KAU MAU MATI??!!!”

.

-Precious Metals-

.

Kris meninggalkan Sehun yang telah berhasil mengoloknya. Lihat? anak yang ia besarkan sedari kecil tumbuh menjadi sangat kurang ajar. Dasar tak tahu diri!

Kris melewati ruang kaca. Tempat ia biasa menerima ‘tamu’ yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Tamu-tamu yang datang dengan sendirinya maupun terpaksa karena membutuhkan campur tangannya. Ia kemudian berhenti, mendekatkan wajah pada salah satu kaca yang dapat sedikit memantulkan bayangan dirinya. Benarkah yang dikatakan Sehun? Apa dirinya sudah mulai berkeriput?

Asyik memperhatikan struktur wajah yang tidak banyak mengalami perubahan –setidaknya itu menurutnya- Kris tak sadar seseorang sedang mengamatinya dengan alis bertaut.

“Engh..apa yang sedang kau lakukan, Bos?”

Kris terkejut, hampir melompat dari tempatnya jika saja ia tak mengingat statusnya saat ini. Ia menoleh ke belakang, memasang muka datar pada Baekhyun. “Kau sendiri? apa yang sedang kau lakukan di situ?” Kris malah balik bertanya.

“Aku hanya…mau menemui Sehun.” sahutnya.

“Kalau begitu pergilah! kenapa harus berdiam seperti itu?” balas Kris sedikit sebal.

Baekhyun hanya mengangguk, takut jika pemimpinnya itu murka. Ia buru-buru pergi ke tempat tujuan utamanya. Baru beberapa langkah, Kris kembali memanggilnya.

“Baekhyun!”

“Ya?” spontan ia memutar tubuh menghadap Kris kembali.

“Bersiaplah, ikut aku ke Prancis malam ini.”

“Hah?” Baekhyun terperangah”

“Aku tahu kau mendengar.”

“Ba..baik.” jawabnya sedikit tergagap. Ia sebenarnya bingung. Prancis? Apa ada pekerjaan berat hingga bosnya mau repot-repot keluar dari Dragon Manor?

.

-Precious Metals-

.

Malam itu, seperti yang Kris janjikan, ia membawa salah satu dari ketiga anak buah andalannya keluar dari Manor. Sebuah moment yang langka, karena biasanya dia hanya akan mengurus segala sesuatu di markas sendiri. Tanpa mau meninggalkan sarang naga yang telah menjadi area kekuasaannya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Baekhyun duduk patuh di dalam pesawat. Merasa canggung karena ini pertama kali baginya duduk berdampingan dengan pemimpinnya, tanpa ada Sehun maupun Tao yang setidaknya bisa membuatnya rileks.

Ia melirik sekilas ke arah samping, Kris terlihat begitu tenang. Mengenakan jas hitam dan kacamata senada, lelaki itu benar-benar memancarkan kharisma yang sangat kuat. Bahkan Baekhyun masih merasa kecil walau ia juga sudah berdandan serapih mungkin. Yah, setidaknya ia harus memperhatikan penampilannya mengingat Kris Wu memiliki selera fashion yang tinggi. Sedikit tidak cocok untuk ukuran seorang mafia.

“Pelajari ini.” Kris menyodorkan handphone miliknya dengan santai. Setelah itu ia memejamkan mata, siap untuk tidur.

Baekhyun mengeryit, membaca dengan teliti apa yang Kris tunjukan padanya. Di situ, terdapat laporan tentang import barang ke dalam negeri dan dijabarkan dengan sangat detail. Berkali-kali mata Baekhyun menari-nari memperhatikan layar 5inchi itu sebelum akhirnya ia mengerti.

“Oh.” celetuknya kemudiaan.

Ia paham ketika menemukan berbagai sandi yang menjurus pada perdagangan paling terlarang di negerinya. Ya, itu bukan import biasa seperti produk-produk kebutuhan masyarakat Korea Selatan, namun merupakan import gelap yang hanya diketahui oleh beberapa pihak bersangkutan –atau sebut saja sebagai penyelundupan. Ia menggeleng takjub. Baru kali ini mengetahui penyelundupan narkotika sebesar ini. Matanya lalu terpaku pada tanggal yang tertera pada bagian bawah laporan. Ia terkejut. Tanggal itu, tanggal yang sama ketika ia dan kedua rekannya menjarah hasil selundupan Monocerus.

Sekali lagi Baekhyun menggulirkan jarinya untuk meneliti barisan kalimat yang tersusun di layar handphone milik Kris. Membaca ulang laporan itu seolah ada sesuatu yang salah. Iya, sepertinya memang ada yang salah karena setahu Baekhyun yang mereka rampas kemarin adalah emas-emas batangan, bukan narkoba dengan nilai yang sangat fantastis seperti ini.

“Benarkah ini penyelundupan milik Monocerus, Bos?” tanya Baekhyun hati-hati.

Kris menjawab dengan gumaman rendah, tanpa membuka mata. “Hmm.”

Ia membuka mulut, lalu mengatupkan kembali seolah ragu dengan apa yang akan ia tanyakan selanjutnya. Masih terdiam mengamati benda di tangannya, Baekhyun tak sadar Kris telah duduk tegap di tempatnya.

“Kau bingung?” tanya pemimpin Draconisius itu.

Baekhyun belum menjawab, ia masih berusaha memahami sesuatu yang ganjil tersebut. Berkali-kali ia memiringkan kepala seolah hal itu bisa membantu melancarkan jalan pikirannya.

“Jika ini bagian dari penyelundupan Monocerus, lalu di mana keberadaannya sekarang? Apa emas-emas itu hanya pengalih perhatian?”

“Kau pikir untuk apa kita jauh-jauh meninggalkan Manor?” sahut Kris ambigu.

Baekhyun terperangah. Ia benar-benar tak habis pikir pemimpinnya akan bertindak seperti itu. Jika saat ini perkiraan Baekhyun tidak salah, berarti mereka sedang dalam bahaya—ah bukan, orang-orang di dalam Dragon Manor sedang dalam bahaya. Kris mengajaknya keluar Manor untuk mengurus selundupan narkoba yang sebenarnya, sekaligus menyelamatkan diri dari serangan Monocerus. Sehun telah meletakan alat pelacak pada markas Monocerus, dan cepat atau lambat kubu unicorn itu akan menyadari kelicikan kelompoknya. Disitulah kepolisian akan menganggap bahwa emas-emas yang hilang berada pada mereka. Sedangkan mereka yang sadar sedang dijebak sudah pasti akan menyerang balik pada Draconisius. Ah, ini benar-benar rumit. Tapi entah kenapa otak Baekhyun dapat mencernanya dengan baik. Apa ini alasan Kris mengajaknya keluar? Karena ia dapat memikirkan segala sesuatu dengan mudah? Sedangkan yang lain….

“Kupikir kau menyayangi Sehun. Mengapa kau menjadikannya umpan?” pertanyaan itu tak dapat Baekhyun tahan.

Kris tersenyum mendengus. Memperbaiki letak kacamatanya dengan jari telunjuk. “Kasih sayang.” ucapnya menerawang.

“Kau tahu, kasih sayang adalah boomerang, Baekhyun. Aku tak akan memberikannya pada Sehun jika itu hanya akan melemahkannya. Tidakah kau tahu berapa banyak nyawa melayang hanya untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi? Aku tak ingin menggali titik lemah Draconisius. Maka dari itu, aku tak pernah mengajarkan kasih sayang pada kalian!”

Baekhyun tertenggun mendengar ucapan Kris. Ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari mulut pemimpinnya. Filosofi berbeda tentang kasih sayang, Kris menyatakan dengan gamblang seolah itu sudah benar-benar tertancap di hatinya. Baekhyun tahu siapa Kris, tapi ia tidak menyangka jika lelaki jangkung itu benar-benar tak memiliki hati sedikitpun. Bahkan untuk Sehun, anak yang diasuhnya sejak masih bayi.

Baekhyun kini hanya berharap jika kepolisian dapat melumpuhkan seluruh sendi Monocerus. Dengan begitu, setidaknya Sehun dan Tao, dua sahabatnya akan baik-baik saja. Namun sepertinya keinginan itu terlalu berlebihan mengingat kubu itu cukup tangguh untuk bisa dikalahkan.

“Kau berfikir aku jahat?” tanya Kris telak.

Baekhyun tak menyahut, hanya memandang Kris tepat pada bola matanya.

“Jangan khawatir, Sehun tidak selemah itu. Aku hanya memberinya pelajaran karena kelak dia akan menjadi pemimpin Draconisius yang sesungguhnya.”

.

-Precious Metals-

.

Baekhyun masih mengalami jetlag beberapa jam setelah pesawat mendarat. Dan perasaan mual itu bertambah beberapa kali lipat ketika Kris membawanya menuju sebuah bangunan tua. Gedung dengan desain khas eropa yang telah lama terbengkalai. Retakan tembok terlihat di sana-sini menambah kesan horror yang ditimbulkan. Melihat itu semua seketika Baekhyun mengingat markas yang ia tinggalkan. Bangunan itu memiliki detail yang sama dengan Dragon Manor, hanya saja, tempat tinggalnya yang berada di Korea jauh lebih layak huni daripada tempat ini.

“Ugh.” Baekhyun mengeryit ketika debu-debu beterbangan memasuki hidungnya. Pengap, dalam hati ia mengutuk Kris yang membawanya jauh-jauh ke Perancis hanya untuk menyambangi tempat seperti ini. Apa Kris tak punya tempat lain? Setidaknya lelaki itu bisa menyewa hotel berbintang kan?

Setelah melewati lorong-lorong yang ia pikir tak berujung, Kris berhenti pada satu-satunya ruangan tertutup yang ada –karena ruangan lain memang tak memiliki pintu. Ia tak mau repot-repot mengetuk pintu dan langsung membukanya. Memberi akses pada Baekhyun untuk melihat isi ruangan yang terkesan misterius itu.

Baekhyun terperangah, memandang takjub pada serangkaian alat yang ada di ruangan yang ia pikir sebuah gudang. Di dindingnya terpasang layar dengan ukuran ekstra besar. Sedangkan di meja besinya terdapat tombol-tombol rumit dan bergulung-gulung kabel.

Kris tersenyum miring. Sudah tentu ia tahu Baekhyun akan menyukainya. Pemuda itu adalah penggila teknologi. Dan teknologi yang berada di depannya kini bukan main-main. Peralatan lengkap yang ia sediakan khusus untuk anak buah yang dengan setia mengikutinya selama ini.

Baekhyun menyentuh deretan tombol-tombol di depannya. Masih dengan mulut sedikit terbuka, ia tak mampu mengalihkan pandangan dari ‘makanan’ favoritnya itu.

“Disinilah kau akan bekerja. Setidaknya untuk beberapa minggu kedepan.” ujar Kris.

Baekhyun memandang heran pada pemimpinnya, seolah hendak mengatakan sesuatu. Namun pertanyaan itu ia telan bulat-bulat ketika seseorang datang menghampiri mereka.

“Mr.Wu.” lelaki pirang bermata biru itu kemudian membisikan sesuatu. Disusul dengan gumaman rendah dari mulut Kris.

“Tinggalah disini. Aku harus menyelesaikan urusanku dengannya.” perintah Kris tiba-tiba. Baekhyun tentu bingung. Kris tak memberikan tugas apapun lalu akan meninggalkannya seorang diri? Oh, yang benar saja!

.

-Precious Metals-

.

Suho mengetuk-ngetukan pena pada meja kerjanya. Matanya tak luput dari layar monitor yang menampilkan susunan strategi yang telah ia rancang. Suho memang membebaskan Kim Kai, namun ia tak semudah itu percaya jika Kai tidak bersalah. Dalam pikirannya, ia menduga-duga siapa sebenarnya lelaki angkuh itu.

Suho mengulurkan tangan, meraih gagang telepon yang berada di sudut mejanya. Dengan cekatan ia memencet kombinasi angka yang menghubungkannya pada seseorang.

“Hallo, Mr.Kim” sapa suara dari seberang.

“Ya ini aku. Aku butuh bantuanmu Tuan Lee.” jawab Suho tanpa basa-basi.

Sepertinya, lelaki mermarga Lee itu sudah mengetahui kesulitan Suho. Dengan nada santai, ia membalas ucapannya.“Dengan senang hati.Bisa kau katakan detailnya?”

“Akan kukirim email malam ini juga. Aku butuh informasi secepatnya.”

“Baiklah.”

Suho menghembuskan nafas lega. Untuk sejenak, ia hanya akan duduk manis menunggu informasi dari lelaki yang baru saja ia hubungi. Jika Suho membutuhkan seorang mata-mata, lelaki bermarga Lee itulah yang akan ia hubungi. Jika Suho membutuhkan tenaga ahli di luar kepolisian, lelaki itulah orang yang tepat untuk ditemukan. Suho telah lama bekerjasama dengan Tuan Lee. Dan orang itu sama sekali tak pernah mengecewakan. Cara kerjanya rapi. Suho menyukainya.

.

-xoxo-

.

“Apa kau tak bosan berpangku tangan memandangi monitor, Yeol?” D.O tak kuasa menahan pertanyaan itu pada rekan kerjanya.

Chanyeol mendongak. “Maksudmu? Aku tak berpangku tangan. Jari-jariku bekerja, jika kau tak lihat.”

“Yeah, maksudku hanya mengawasi sistem jaringan seperti itu. Bukankah membosankan?”

“Itu memang akan membosankan jika mengurusi sistem jaringan tanpa tahu teknologi.”

“Apa kau sedang menyindirku?”

“Ah, maaf jika kau merasa.”

D.O memutar bola mata. Sebenarnya, ia sendiri yang sedang bosan. Semenjak ia membebaskan tawanan bernama Kim Kai, ia tak lagi memiliki pekerjaan yang berarti. Kasus-kasus yang masuk hanyalah kasus biasa seperti pencurian atau tuntutan-tuntutan perdata yang sama sekali bukan urusannya. Semua kasus itu dapat diselesaikan dengan mudah oleh bawahannya. Dan sungguh, D.O membutuhkan pekerjaan baru sebelum hidupnya berakhir dengan mati bosan di ruang kerja.

“Wanita yang membebaskan Kim Kai, boleh aku meminta datanya?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Untuk apa? Kau berniat mengencaninya?”

“Mm.”

“Hah?”

“Kenapa?”

“Sinting.”

“Hei, aku hanya mencoba jujur padamu. Kenapa kau mengataiku sinting?”

“Karena kau memang polisi sinting yang pernah kutemui, Park Chanyeol.”

“Terserah katamu. Tolong berikan datanya padaku.”

“Bukankah Suho yang memiliki data wanita penjamin itu? Dia yang bertanggung jawab atas itu bukan?”

“Ah, benar. Jadi sia-sia aku membiarkanmu mengataiku sinting. Ya! Do Kyungsoo, sekali lagi kau mengataiku seperti itu kubunuh kau!”

D.O hanya melongo memandang lelaki ajaib yang baru saja meninggalkan ruangan mereka. Kenapa ada makhluk seperti itu? Kenapa bisa orang idiot menjadi polisi. Oh, astaga!

.

-xoxo-

.

“Seorang pemuda sudah bisa dikatakan lelaki sejati jika ia sudah berani mengencani para gadis.”

Sehun mendengus mendengar ucapan Tao. “Teori dari mana itu?” balasnya sarkatis.

“Teori baru Huang ZiTao!” jawabnya membusungkan dada.

“Lalu, bagaimana denganmu?”

“Aku? apa selama ini kau buta? kau tak lihat berapa banyak gadis bertekuk lutut di hadapanku?”

“Maksudku, bagaimana denganmu yang setiap hari mempermainkan para gadis? Apa masih layak disebut lelaki sejati?”

“Hei, aku tidak mempermainkannya. Jangan salahkan aku jika mereka tak dapat menolak pesonaku!” sahut Tao tak tahu diri.

“Pesona pantatmu!”

daaarr!!

Sehun melepaskan peluru pada sebuah papan setelah menyelesaikan makiannya.

Whoaa, tembakanmu semakin akurat saja!” decak Tao dari belakang. Sehun tersenyum miring.

“Yeah, karena aku lebih suka menembak musuh, bukan gadis-gadis.” jawabnya enteng. Tao mendelik sengit.

“Kau seharusnya mulai melirik gadis-gadis di luar sana, Sehun. Mereka…menyenangkan.” ucapnya menyeringai. Sehun menggeleng. Entah, ia bukannya tak tertarik pada gadis-gadis seperti yang Tao pikir. Namun ia merasa hidupnya bukan untuk itu. Sehun hidup untuk tujuan yang lain.

“Ngomong-ngomong tentang gadis, kau tahu? kau masih kalah pesona dengan Baekhyun.”

“Siapa bilang?” Tao meninggi, tentu saja ia tak terima.

“Nyatanya aku sering mendapatimu berkencan dengan gadis-gadis yang telah Baekhyun campakan. Menjijikan sekali.” balasnya telak. Sehun terkikik kecil setelahnya. Membuat Tao semakin geram pada sahabat menyebalkannya itu.

“Sialan!”

.

-xoxo-

.

“Luhan berpura-pura menjadi gadismu?” Chen masih saja tak percaya ketika Kai menceritakan kejadian di kepolisian malam lalu. Ia bersama Xiumin tak henti-hentinya tertawa mendengar pengakuan Kai yang dinilai cukup menggelikan ini. Mereka tahu, Luhan bukan orang sembarangan, bahkan ia memiliki gengsi yang sangat tinggi.

“Jadi, apa yang membuatnya rela melakukan itu semua?” tanya Chen lagi.

“Alat pelacak itu. Luhan bertanggung jawab pada Lay tentang pelacak yang ia pasang pada van milik Draconisius. Ingat waktu Luhan memergoki anak buah Kris Wu sedang mengintai Mansion?”

“Ah, pantas saja. Tapi menurutku Lay keterlaluan. Dia bahkan tak mau ambil pusing waktu kau tertangkap oleh kepolisian.” sambung Xiumin.

Kai mengangguk. “Yeah, aku sudah menduga. Lay itu brengsek.”

“Dan kau idiot yang tunduk pada si brengsek.”

“Bwahahaha” Mereka tertawa lepas. Seolah semua hanya bualan belaka. Ya, mereka tak sedang ingin bersusah-susah menjadi anggota Monocerus. Mereka sedang menghibur diri dan meninggalkan title kuda bertanduk yang menjadi identitasnya. Tenggelam di dalam hingar bingar pub malam yang membuat melayang.

Mereka sudah setengah sadar ketika mata Kai menangkap sosok berdiri di depannya. Dengan berkacak pinggang, ia menggelengkan kepala melihat Kai yang tengah bersandar di sebuah sofa di pojok pub tersebut.

“Oh, hai.” sapa Kai dengan gaya khas orang mabuk.

“Ternyata kau di sini.” balasnya.

“Ya, aku di sini. Aku sedang bersenang-senang di sini, Taemin. Haha aku sedang bersenang-senang.” jawab Kai merentangkan tangan.

“Jangan minum terlalu banyak, Jongin. Kau sudah mabuk!” lelaki yang dipanggil Taemin itu merebut botol anggur yang berada di tangan Kai. Lalu meletakannya pada meja di depan mereka.

“Apa yang membawamu kesini? Kau mencariku? huh?”

“Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu. Tapi sepertinya aku datang di saat yang salah.”

“Apa itu? Katakan saja sekarang.”

“Tidak sampai kau benar-benar dalam keadaan sadar.”

“Aku sadar. Sungguh. Aku bahkan mengenalimu. Kau Lee Taemin, sahabat kecilku.”

“Ya, namun sepertinya aku yang mulai tak mengenalimu. Kau berubah. Kau bukan lagi Jongin yang ku kenal!”

Kai bungkam mendengar penuturan sahabat baiknya itu. Ya, ia memang telah banyak berubah. Dan ia tak bisa menyangkal ucapan Taemin tersebut.

“Maukah kau menginap barang semalam di apartemenku?” tawar Taemin.

Kai menautkan kedua alisnya. “Apa kau sedang mengajakku berkencan?”

“Ck! yang benar saja! ayo cepat. Waktuku tidak banyak.” balasnya menarik tubuh sahabatnya.

 

 

to be continue…

17 thoughts on “Precious Metals (Chapter 4 : Affair)

  1. Rosepixylalala... berkata:

    kayanya yang buat kris jadi kaya gk punya hati itu, pasti ada hubungannya sama kasih sayang yg dia ceritakan sama baekhyun, mungkin orang yg ia sayang mati untuk melndunginya?..
    chanyeol kocak bgt jadi polisi..
    jangan2 sehun sama luhan ada hubungan..
    yg lucu pas kris bercermin memperhtikan wajahnya apa ada kerutan apa gk, dan baekhyun mmergokinya, pasti salting tuh seharusnya,,
    dan kalimat “pesona bokngmu’ itu yg diucap sehun buat tao, cukup -_-
    ditunggu lanjutannya🙂..

  2. indahtentiana berkata:

    Hohooooo . Eonniiiii . Akhornya diapdet jugaaaa. . Sumpah chapter ini seru abiiiiisssas . Haha suka sama penggambaran baekhyun disini . So perfecto . Wkwkwk . Apalagi waktu dibilang tae kencan sama cewek yg udah prnah dicampakin sma baekhyun . Haha . Ngenes abisss . Wkwkwk . Next aku tunggu pake bangeeeewet.

  3. Clarissa Tiara berkata:

    Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”………………..
    Edannnnn ini kereeen Abis eoonnnn , suka gilaaa kalo baca epep iniiiiii
    Pokoknyaaa lanjut terus eon pantang mundurea#apaini?
    Keep writing eoon , loveee youuu

  4. rani novia berkata:

    tambah seru aja ..ada taemin juga ..tapi apa yang dimaksud tuan Lee oleh suho adalah Lee taemin ???
    jadi makin penasaran sama cerita selanjutnya ..

  5. Nuraya berkata:

    Uwaaahhh~
    ada taemin jga, bener kan tu cewek adalah luhan dan sangking cantiknya sampe chanyeol suka sma luhan kekeke :v
    Makin seru dan bikin penasaran😀

    next~ dan jgn lama2 ya😉
    Fighting!!

  6. kyunghyun11 berkata:

    Yaaaakkk, bener. Itu Luhan hahahaa😀 aduh, ff nya makin seru. Aaak suka! Bikin penasaran, ditunggu kelanjutannya eon.

    Fighting!!!

  7. kyunghyun11 berkata:

    O iya eon ketinggalan maaf yaa, kalo aku tiba-tiba muncul. Tapi sebenernya ini aku jelsa. Reader eon yang waktu itu… cuma sekarang ganti jdi kyunghyun11. Jadi eon jangan ngira aku itu orang yang gaje tiba-tiba komentar “..bener. itu Luhan….” karna aku pernah ngomentar yang chap 1,2,3 nya eon.

    Eon sekali lagi, ff nya keren! Keep Writing yaa eon😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s