Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 3

Judul    : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 3

Author : BaoziNam

Main Cast :

                -Cindy Chou (OC)

                -Tao as Zitao

                -D.O as Kyungsoo

                -Luhan as Luhan

                -Kris as Kris

Additional Cast :

                -Luna f(x)

                -Jessica SNSD

                -Sandara 2NE1

                -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre   : Friendship, Mystery, Romance, School Life, Friendship.

Rating  : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otakku. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic Nam. No plagiat! Thanks ^^

 

****

Cindy POV

                Aku tidak bisa berhenti menangis sejak hari kejadian itu. Tanganku terus menggenggam tangan Zitao dengan erat. Berita tentang kecelakaan Zitao ditambah dengan komanya membuatku syok. Ada banyak perasaan bersalah pada diriku terhadap teman kecilku ini. pertanyaan-pertanyaan yang membuatku semakin terpojok terus melayang-layang di otak, seolah menuntutku untuk menjawab semuanya. Kenapa aku harus menyuruhnya membeli makanan? Kenapa aku harus menelponnya saat itu? Kenapa aku menyulitkannya demi kesenanganku sendiri? Kenapa aku terus egois kepada orang lain?

                Pertanyaan semacam itulah yang semakin membuatku bingung dan merasa sangat bersalah. Banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi pada diri Zitao setelah ia sadar koma nanti, atau lebih buruk lagi dari kata ‘sadar’. Dokter tidak memberikan sedikit petunjuk untukku agar aku lega dan tenang.

                Wajah Zitao yang sedang tertidur lelap disana, terlihat kalau lukanya sangat parah. Banyak goresan dan luka disana-sini yang selama ini selalu dihindari Zitao terjadi pada tubuhnya. Tangan besar itu selalu aku genggam, berharap jari-jarinya bergerak suatu saat dan memberiku sedikit harapan untuk kesembuhannya.

                Sudah satu hari penuh aku berada di kamar ini. Dan sudah satu hari penuh juga aku melupakan segalanya. Ini bukan keterlaluan atau berlebihan. Aku hanya khawatir. Aku tidak peduli kuliah, makan, mandi dan latihan akting seperti biasanya. Zitao lebih penting dibanding apapun sekarang ini. Aku ingin saat dia membuka mata untuk yang pertama kali, diriku lah yang berada di sampingnya. Aku akan mengatakan semua kesalahanku dan penyesalanku kepadanya.

                “Maafkan aku, Zitao.” Kubenamkan kepalaku di atas tumpukan tanganku dan tangannya. Menutup sejenak mataku bukanlah hal yang buruk. Beberapa menit aku menutup mata, akhirnya aku benar-benar tertidur.

****

                Aku pun terbangun dari lelapku yang panjang. Kutegakkan badanku perlahan dan melepaskan tanganku sebentar untuk meregangkan otot-otot tangan yang kaku. Kuusap mataku sampai benar-benar jelas penglihatanku. Jam dinding berwarna putih dan bulat (tidak berkelas dan membosankan!) menunjukan pukul lima sore lewat lima puluh enam menit. Mataku kembali menerawang semua titik di ruangan ini. Dari jendela yang menayangkan langit orange lewat kacanya sampai pada seseorang yang sedang duduk diam di sofa hitam di bawah jam dinding tadi. Siapa itu?! Kyungsoo?

                “Kau? Sejak kapan?” tanyaku padanya, lalu mengusap kembali mata kiriku.

                “Tiga jam yang lalu.”

                “Dan kau tidak membangunkanku?”

                “Untuk apa? Lagipula ini rumah sakit. Tidak ada yang bisa kau suguhkan seperti dirumah.”

                “Ya, kau benar. Aku juga tidak ada niat untuk memberimu minum.” Kataku ketus, yang dibalas dengan tatapan sengit dari Kyungsoo. Aku pun mengacuhkannya dan beralih ke Zitao.

                Suasana hening kembali. Tanpa ada suara percakapan diantara kami. Aku dan Kyungsoo memang mengenal satu sama lain karena dulu rumahku dan rumahnya berhadapan dan kami juga bersekolah di tempat yang sama. Orang tuaku akrab dengan orang tuanya. Berbeda dengan kita berdua yang berlagak tidak kenal. Kyungsoo orang yang susah di dekati. Apalagi dengan sifatnya yang aneh dan pendiam itu.

                “Hei,” panggilku pelan. Aku beralih menatapnya yang sekarang juga menatapku dengan matanya yang besar itu. “Jangan melihatku seperti itu!”

                “Apa salahku?” tanyanya bingung.

                “Dengarkan aku tanpa menatapku. Matamu membuatku takut.” Berkat laranganku, Kyungsoo tidak menatapku lagi dan beralih ke ponsel hitam di tangannya. Aku lega dia mau mendengarkanku.

                “Kau.. tahu dari siapa Zitao kecelakaan?”

                “Dari Klub Informasi Komunikasi yang memasang berita Zitao di mading. Aku datang kesini setelah jam kuliah habis.”

                “Perhatian sekali kau. Ada hubungan apa kau dengan Zitao?” Pertanyaanku mulai menjurus ke kecurigaan terhadap sosok Kyungsoo yang dikenal tidak punya banyak teman dekat di kampus. Sekarang ia datang kesini karena Zitao kecelakaan. Sejauh ini hanya dia yang datang menjenguk. Apa dia seperhatian itu?

                “Aku dan Zitao bersahabat. Apa dia tidak pernah bercerita padamu?” Pernyataan Kyungsoo membuatku terperangah hebat. Tidak mungkin. “Bukannya kau teman baiknya?” Pertanyaan kali ini membuatku terpojok. Aku mulai mempertanyakan hubungan persahabatanku dengan Zitao. Kusadari banyak sekali rahasia yang disembunyikan lelaki ini dariku. Aku hanya mengenalnya diluar, tidak sampai ke dalam.

                “Aku rasa banyak hal yang ia sembunyikan darimu.” Sekali lagi, Kyungsoo membuka mulutnya dan mengeluarkan suatu jawaban pasti dari semua pertanyaanku untuk Zitao.

****

                Setelah percakapan yang mengejutkan itu, Kyungsoo mengajakku keluar dan berbicara diluar. Menurutnya, berbicara disana kemungkinan Zitao akan mendengarnya. Dia punya suatu firasat tentang orang yang sedang koma. Walaupun dia tidak bergerak, pasti salah satu inderanya masih bisa bergerak dan menangkap sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Firasat yang bagus, menurutku.

                Disinilah kami, duduk bersebelah di kursi tunggu dekat kamar Zitao, dengan gelas kertas berisi kopi di tangan masing-masing. Beberapa saat berlalu kami masih tenggelam dalam keheningan yang misterius. Sampai pada akhirnya, Kyungsoo menoleh kepadaku, kemudian kembali menatap gelas kopinya.

                “Jadi, apa saja yang harus kuberitahu tentang Zitao padamu? Berapa banyak yang kau tahu tentang Zitao?” tanyanya.

                “Tidak sebanyak yang kau tahu tentangnya. Aku kira aku adalah orang yang sangat mengerti Zitao. Makanan kesukaannya, hobinya, kebiasaannya, olahraga kesukaannya dan juga hal yang ia takuti aku tahu semua itu. Aku sudah bersamanya sejak kecil. Dia selalu menceritakan apapun kepadaku, begitu juga aku. Tapi, sepertinya banyak hal yang ia hilangkan dari kejadian yang dialaminya itu. Seperti iklan di internet. Terlihat bagus di gambar, tapi jelek setelah didapatkan.”

                “Ya, kau benar. Begitulah Zitao. Dia tipe orang pencemas. Menurutnya, lebih baik orang lain mendapat cerita yang baik daripada harus mendapat kenyataan yang buruk.” Setelah itu, Kyungsoo mendekatkan pinggir gelasnya ke mulutnya, lalu meneguk isinya. “Tidak sulit bagiku untuk mencari kebenaran lain dari dirinya. Dia tidak akan sungkan untuk memberitahumu hal yang tak terduga dari dirinya. Seperti, dia mencoba ikut lomba pemotretan majalah fashion pria dan memenangkan posisi kedua. Aku yakin kau tidak tahu itu.” Muncul seringaian sekilas yang misterius dari bibir Kyungsoo.

                Tidak bisa aku tutupi wajahku yang terkejut saat Kyungsoo menyebutkan fakta yang lainnya lagi. Kyungsoo pun juga sudah menemukan wajahku yang terkejut itu. untuk beberapa saat aku mencoba menetralkan wajahku dengan kopi hangat itu lalu berkata lagi. “Apalagi yang kau tahu tentangnya? Mencoba berenang di Sungai Han saat musim dingin? Menyatakan cinta dengan cara gila di atas Namsan Tower?”

                Kyungsoo menolehkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan yang lembut, juga senyum ringan dari bibirnya. “Ya, semuanya benar.”

****

                Aku kembali duduk di kursi samping tempat tidur Zitao. Kyungsoo pun sudah pulang kerumahnya dua jam yang lalu. Memikirkan semua perkataan Kyungsoo tadi membuat diriku makin bersalah. Tangan Zitao makin kugenggam erat sambil menatap Zitao sendu.

                “Maafkan aku, Zitao. Aku bukan sahabat yang baik,” ucapku lirih. Tidak ada jawaban apapun dari Zitao. Tentu saja. Dia sedang koma. Bodohnya aku malah mengharapkan dia menjawabku sekarang. Kubenamkan wajahku di atas tumpukan tanganku dan tangannya, dan kembali mencoba tidur seperti lima jam yang lalu.

                Tiba-tiba, jari telunjuk Zitao bergerak lemah di bawah telapak tanganku. Reflek aku terbangun lalu menegakan kepalaku. Mataku menatap ke arah jemarinya, mendapati jari tengahnya yang bergerak pelan sekarang. Sontak aku terkejut. Gerakan tangannya melemah dan akhirnya tidak bergerak lagi. aku segera berlari keluar dari ruangan dan bergegas mencari dokter jaga untuk memeriksa Zitao sekarang juga. Pergerakan tadi memberiku sedikit harapan akan kesadaran Zitao nanti.

                Seorang dokter akhirnya memeriksa keadaan Zitao sambil mengecek kebenaran yang kuberikan kepadanya tadi. Dokter itu melepaskan tetoskopnya lalu berbalik menghadapku yang sedang memandangnya penuh harap. Dokter yang ber-name-tag Kim Suho itu tersenyum lembut kepadaku lalu berkata dengan suaranya yang tak kalah lembutnya dengan senyumnya.

                “Keadaannya berangsur membaik. Sebentar lagi dia akan sadar dari komanya. Kau jangan khawatir, Nona.” Kemudian dia menepuk sekali pundakku dengan pelan, seolah memberiku sedikit kekuatan untukku.

                “Terima kasih atas bantuamu, dokter. Terima kasih banyak!” Lalu aku membungkuk hormat padanya, yang dibalas olehnya dengan senyuman lagi. Kemudian Dokter Kim Suho melangkah melewatiku menuju pintu. Setelah kepergian dokter Kim Suho, aku kembali duduk di kursi lalu menggenggam tangan Zitao dengan penuh harap. Senyum kini mengembang di bibirku. Aku sangat bahagia Zitao akan sadar sebentar lagi. Sangat bahagia, hampir menangis karenanya.

                “Akhirnya kau akan bangun, Zitao. Aku sangat senang kau akan sadar. Aku pun bisa menyingkirkan semua kemungkinan buruk yang selama ini ada di otakku. Terima kasih, Zitao. Terima kasih, Tuhan.”

****

 

Name POV

                Pukul tujuh lewat dua puluh satu menit, Zitao mulai menggerakan jari-jari tangannya pelan-pelan. Kelopak matanya perlahan membuka, kemudian mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya. Hal yang pertama kali yang dapat ditangkap oleh matanya adalah putih. Butuh waktu lama untuknya mencerna apa yang sekarang ia alami. Berada dimana ia? Apa yang terjadi padanya?

                Zitao hendak menggerakan kedua tangannya, namun tangan kirinya tidak bisa ia gerakkan. Ada sesuatu yang menghimpit tangannya. Ternyata ada seseorang ditangannya, yaitu Cindy. Ia terdiam sejenak sambil memandangi gadis itu, kemudian senyumnya mengembang beriringan dengan tubuhnya yang kembali tertidur di kasurnya. Sebenarnya, ia bisa saja menyingkirkan tangannya dari kepala Cindy kalau ia mau. Seperti apa yang selalu ia lakukan kalau Cindy sering tertidur di pundaknya. Tapi, hari ini berbeda. Ada perasaan senang di hatinya. Senang karena pada saat ia bisa membuka mata kembali, Cindy lah orang yang berada di sampingnya. Bukan ibunya, juga bukan neneknya, tapi Cindy. Gadis yang selama ini selalu ada saat dirinya membutuhkan. Gadis yang selalu ada untuk membantunya. Gadis yang baik dan pengertian. Dalam keheningan yang berharga, Zitao menggerakan tangannya untuk mengusap kepala Cindy dengan lembut.

                “Zitao, maafkan aku. Maafkan aku…” Igauan Cindy yang terdengar lirih, membuat Zitao terkikik geli.

                “Aku sudah memaafkanmu, Chou. Terima kasih untuk kepedulianmu.” Sekali lagi, Zitao mengusap kepala Cindy. Gadis itu kembali mengigaukan sesuatu yang aneh di mulutnya.

                Zitao tidak menganggap Cindy sebagai seorang wanita, tapi adik kandung. Selama ia bersama dengan Cindy, ia tidak pernah menemukan sifat wanitanya. Hanya manja dan egoisme yang selalu ditunjukkan untuk Zitao. Lelaki itu memang pernah mengharapkan lebih dari sebuah hubungan ‘teman lama’. Seperti hubungan sepasang kekasih. Namun, ia seperti mengencani adik kandungnya sendiri. Zitao, lebih menyayangi Cindy daripada dirinya sendiri. Makanya ia mau saja disuruh pergi membeli makanan (padahal dia takut pergi keluar malam sendirian).

                Angan-angan tentang dirinya dan Cindy dulu tiba-tiba menghilang karena pergerakan Cindy yang terlalu tiba-tiba. Tampaknya gadis itu akan bangun. Matanya yang sipit setelah tidur itu, seketika melebar melihat Zitao sudah terduduk di kasurnya sendiri. Dalam keadaan sehat, tidak koma seperti sebelumnya. Tangan mungil Cindy bergerak untuk mengecek keadaan Zitao dengan memegang pipi, mencubit lengan, memukul kepala.

                “Kau akhirnya sadar, Zitao. Aku merindukanmu.” Tiba-tiba Cindy menarik leher Zitao dan memeluknya erat. Zitao pasti terkejut, dan beberapa detik kemudian tangannya bergerak untuk membalas pelukan Cindy.

                “Aku juga merindukanmu, Chou.” Terdapat ketulusan plus senyum hangat dari Zitao untuk sahabatnya ini.

                “Maafkan aku.” Ucapan lirih Cindy membuat Zitao mengerutkan keningnya, bingung.

                “Untuk apa?”

                “Kecelakaanmu. Ini kesalahanku.”

                “Tidak. kau tidak salah. Ini kecerobohanku. Tolong jangan buat dirimu menyedihkan seperti ini. aku tidak suka.”

                “Tapi, aku yang—“

                “Chou..” potong Zitao dengan suara seramnya.

                “Oke, aku tidak akan mengungkitnya kembali. Tapi, peringatkan aku untuk membayarnya kemudian. Minta apapun dan aku akan membelikannya untukmu. Janji?”

                “Janji.”

****

                “Aku kenyang!” pekik Zitao tiba-tiba saat Cindy hendak memasukan satu sendok makanan ke mulut Zitao.

                “Kau! Jangan rewel dan makan saja apa yang aku berikan! Kau belum makan sejak dua hari yang lalu, kau tahu?” Kemudian Cindy kembali menyodorkan sesendok penuh nasi ke mulut Zitao, namun ia menjauhkan kepalanya sejauh mungkin.

                “Tidak mau! Aku tidak suka baunya!”

                “Apa yang bisa kau baui dari nasi putih, huh? Tutup matamu dan makan ini! aku tidak mau menghabiskan makananmu hari ini!”

                “Tidak mau! Aku tidak suka nasi putih! Aku mau daging!” Egoisme Zitao membuat Cindy kesal setengah mati. Apa sesulit ini menjaga orang sakit? Dia lebih mirip anak bayi di tempat penitipan anak daripada seorang pasien.

                “Terserah kau lah! Aku mau keluar sebentar. Aku harus melihat mangkuk itu habis saat aku kembali, atau aku akan melemparmu dari kamar ini kalau kau tidak melakukannya. Ingat itu?” Cindy pun keluar setelah menyelesaikan ancamannya. Memang di depan Cindy, Zitao terlihat sangat patuh dan ketakutan. Tapi, setelah Cindy keluar Zitao langsung mencibirnya dengan kekanak-kanakan.

                “Memang aku anak kecil apa? huh! Habiskan sendiri kalau kau memang ingin,” cibir Zitao kesal sambil menatap mangkuk nasi di depannya dengan pandangan kesal. Ia harus menghabiskan nasinya atau Cindy akan melemparnya (sebenarnya Zitao tidak percaya gadis itu akan melakukannya, tapi itu cukup menakutkan untuk dikatakan).

                Sebuah pemikiran licik terlintas di otaknya. Zitao segera mengangkat mangkuk porselen itu sambil turun dari kasurnya. Langkahnya bergerak menuju kamar mandi lalu menuju kloset. Kemudian ia miringkan sedikit demi sedikit sampai isi di dalam mangkuk berjatuhan ke dalam kloset. Lalu ia tekan tombol penyiram. Perlahan makanannya hilang tersapu air penyiram kloset. Mangkuknya sengaja tidak ia cuci dengan air agar tidak menimbulkan kecurigaan Cindy nanti. Zitao pun kembali ke kasurnya dengan senyum kemenangan dan mulai berpura-pura sudah memakan semuanya dan kenyang.

                Ternyata Cindy tidak lama pergi keluar. Setengah jam setelah aksi ‘penyelamatan diri’ Zitao, gadis itu pun datang ke kamarnya dengan membawa banyak buah-buahan, tas besar, dan boneka.

                “Kau bawa apa, Chou?”

                “Beberapa baju dan perlengkapan mandimu. Juga aku membelikanmu jeruk kesukaanmu. Aku akan mengupaskan untukmu nanti,” jawabnya sambil menaruh tas hitam besar itu di pojok ruangan.

                “Lalu boneka itu?”

                “Oh, ini. Pengganti bantal tidurku. Kata dokter, kau bisa keluar rumah sakit lusa. Jadi, aku harus menemanimu sehari lagi disini. Karena kau sudah sehat aku bisa tidur nyenyak nanti malam dengan boneka ini sebagai bantalnya. Aku juga bawa selimut tebal dari rumahmu,” jawab Cindy lagi panjang lebar sambil menaruh bonekanya serta selimut tebal di atas sofa hitam.

                “Aku bisa tidur sendirian, Chou. Tidak usah ditemani. Lagipula besok kau kuliah.”

                “Omong kosong,” ujar Cindy sambil memutar kedua matanya kesal, kemudian ia mencoba berbaring di sofa. Baru saja ia mau membaringkan tubuhnya disana, ia sudah bangkit lagi saat melihat mangkuk porselen yang berada di atas nakas.

                Mengetahui Cindy sudah mengarah pada mangkuknya, Zitao berpura-pura tidak tahu apa-apa. Cindy menatap Zitao curiga kemudian beralih pada mangkuk yang sudah kosong itu. Zitao tetap mempertahankan ekspresinya yang datar dan bingung yang dibuat-buat.

                “Benar kau yang menghabiskan ini?” tanya Cindy cutiga.

                “Tentu saja aku menghabiskannya kalau kau mengancamku begitu,” jawab Zitao ngambek.

                “Baguslah,” puji Cindy setengah hati. Zitao pun menunjukan wajah senangnya kepada Cindy (tentu saja itu hanya pura-pura).

                Sejak awal Cindy sudah mencium bau kelicikan dari Zitao. Dia tidak percaya Zitao bisa dengan mudahnya termakan ancaman yang sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh Cindy. Bocah itu pasti sudah melakukan sesuatu pada makan malamnya. Walaupun wajahnya mengatakan kalau ia sudah makan, tapi, perutnya tidak bisa dibohongi.

                Diam-diam Cindy pergi mencari ‘petunjuk’ selagi Zitao tidur. Pertama, dia mendekati jendela kamar. Lalu membungkuk dan melongok ke rumput-rumput di bawahnya. Karena tidak menemukan ‘petunjuk’, Cindy pun beralih ke tempat sampah yang berada di pojok kamar, dan tidak mendapatkan apa-apa.

                Anak itu pasti sudah berpikir lebih jauh untuk melakukan itu. Pasti ada di salah satu tempat…

                Kepalanya berputar ke belakang, melirik sebentar ke Zitao yang damai tidur di kasurnya. Cindy memutuskan untuk kembali mencari. Pikirannya tertuju pada toilet kamar ini. Toilet adalah tempat yang bagus untuk membuang makanan, karena kau bisa menyiram habis semuanya dan seketika menghapus jejak perbuatan licikmu. Perlahan gadis itu menutup pintu toilet. Baru saja ia ingin mengecek setiap inci toilet ini, dia sudah mendapatkan sesuatu yang menempel pada sepatu hitamnya. Berwarna putih, lembut, dan terlihat seperti butiran nasi yang dihaluskan oleh Cindy untuk makan malam Zitao. Petunjuk pertama itu memudahkan Cindy untuk petunjuk kedua dan berakhir dengan jawaban yang diinginkan Cindy.

                Matanya menangkap butiran nasi yang serupa di sekitar kloset dan juga di wastafel. Tampaknya Zitao tidak menyiramnya dengan baik. Tindakan terakhir, Cindy menekan tombol penyiram, dan hilanglah semua butiran nasi itu.

                “Zitao! Kau memang ingin dilempar keluar jendela, huh?!” teriak Cindy geram. Sementara itu, Zitao sudah tidak berada di dalam kamar semenjak ia tahu Cindy sudah masuk ke dalam toilet.

****

 

Cindy POV

                Seminggu sudah berlalu. Zitao juga sudah kembali kerumahnya. Dan aku juga sudah kembali kerumah. Tentang dapurku yang meledak, itu tidak benar. Aku hanya berdalih agar Zitao mau membiarkan aku makan makanan yang ada di kulkasnya. Tapi, pada akhirnya aku harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan di restoran atau di lapak jajanan kaki lima. Yah, kalian pasti tahu itu. Aku tidak mau mengingat kejadian seminggu yang lalu. Lagipula Zitao tidak menganggap kecelakaan itu adalah salahku. Dia juga sudah memaafkanku.

                Aku kembali ke kehidupanku yang ‘menyenangkan’. Kuliah dan menggosip. Luna dan Jessica sudah menjadi teman karibku. Kami bertiga menyadari kalau kami punya banyak kesamaan dalam segala bidang. Setiap makan siang kita selalu satu meja kemudian memulai untuk membicarakan hal-hal baru yang terjadi di televisi.

                Siang ini sama seperti siang-siang yang lalu. Aku, Jessica dan Luna sedang berbicara tentang artis yang sudah menikah dan beberapa kontroversi lama yang pernah menimpa orang yang bersangkutan. Setelah semua dibicarakan, kami bertiga kembali menyelesaikan makan siang kami. luna yang berada di depanku, buru-buru menghabiskan jusnya. Sepertinya ada yang ingin ia katakan pada kami berdua.

                “Ayo kencan buta!” pekik Luna semangat. Sontak kami berdua terkejut dan menatap Luna dengan tatapan tidak percaya. Astaga!

                “Huh?” Jessica mengerutkan keningnya bingung.

                “Kencan buta. Sabtu~”

                “Tidak. Aku tidak bisa kencan buta. Bagaimana kalau orangnya tidak keren atau culun atau aneh?” tolakku cepat, lalu melipat kedua tanganku di depan dada dan menatap Luna tajam.

                “Kalian tidak usah khawatir. Krystal sudah berpengalaman dalam kencan buta. Dia sudah sering kencan buta dan dia tidak pernah dapat pria jelek. Kau tahu bintang baseball di kampus kita, Shin Ae? Dia pernah berkencan dengan Krystal!”

                “Hah? Serius? Shin Ae yang itukan? Wow,” decak Jessica kagum.

                “Aku iri,” ucapku pelan dan mendapat anggukan setuju dari Jessica yang sama irinya denganku.

                “Bagaimana? Kalian ikut?” tanya Luna sekali lagi.

                “Demi Shin Ae, aku ikut!” jawab Jessica semangat.

                “Aku juga!”

****

Sabtu sore….

                Angin sore yang dingin sedang asik menusukkan hawanya pada kulitku. Aku sudah memakai jaket tebal dan syal. Demi hari ini aku mencoba untuk memadukan rok hitam kesukaanku dengan legging senada. Biasanya aku tidak akan mau memakai rok di musim dingin ini. Demi hari ini. Kencan buta! Demi bertemu dengan pria yang setara dengan Shin Ae! Oh Tuhan.. Memikirkannya saja sudah membuatku deg-degan.

                Bis kota yang sejak tadi aku tunggu pun berhenti di halte. Aku dan beberapa penumpang lainnya segera menaiki tangga bis. Aku pun memilih kursi di bagian tengah bis. Luna meminta diriku dan Jessica untuk bertemu di depan sebuah cafe di kota Seoul. Aku sudah tidak sabar melihat siapa pria yang akan aku temui nanti. Ganteng kah? Pintar kah? Kaya kah?

                Memikirkannya saja membuatku malu!

                Bis ini berhenti di sebuah halte berikutnya. Bukan di halte ini pemberhentianku. Masih ada dua halte lagi yang harus aku lalui untuk ke Seoul. Kulirik jam tanganku, mengecek waktu yang kupunya dan betapa leganya aku masih punya waktu empat puluh lima menit lagi.

                Ada beberapa penumpang yang menambah jumlah penumpang bis ini. dan salah satunya ada yang menarik perhatianku. Lelaki berkulit putih, berambut coklat, bermata besar, dan tinggi. Berjaket tebal berwarna coklat dan modis. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak terlalu memperhatikannya. Dirinya begitu mencolok dan menawan.

                “Permisi.” Suara yang tegas dan canggung itu sudah mencuri perhatianku, membuatku mau tak mau harus menoleh padanya dan mendongak sedikit. “Boleh aku duduk disini?”

                “Oh! Te..tentu saja. Silahkan.” Pertanyaan yang konyol tadi itu membuatku salah tingkah. Aku rasa masih banyak bangku kosong di bis ini. Tapi, kenapa harus disini?

                “Anda mau ke Seoul?” tanyanya tiba-tiba, masih dengan rasa canggungnya.

                “Apa?” reflek aku menoleh padanya yang tiba-tiba menggunakan bahasa Cina.

                “Oh, maafkan aku. Aku baru saja pindah ke Korea satu tahun yang lalu dan aku belum bisa menggunakan bahasa Korea dengan baik. Maafkan aku.”

                “Tidak apa-apa, Tuan. Aku juga berasal dari Cina. Tapi, aku sudah lima tahun disini.” Aneh. Lama-lama berbicara padanya aku malah merasa ada kenyamanan pada dirinya. Apa karena dia orang Cina? Atau hal lain?

                “Wah! Senang bertemu denganmu! Aku Xi Luhan. Senang berkenalan denganmu.” Dia yang bernama Xi Luhan langsung mengulurkan tangannya kepadaku. Dengan ragu, aku sambut tangan itu.

                “Aku Cindy Chou. Senang berkenalan denganmu.”

 

****

To Be Continued…

*Silahkan komentar dan sarannya.

One thought on “Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s