Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 2

Judul    : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 2

Author : BaoziNam

Main Cast :

                -Cindy Chou (OC)

                -Tao as Zitao

                -D.O as Kyungsoo

                -Luhan as Luhan

                -Kris as Kris

Additional Cast :

                -Luna f(x)

                -Jessica SNSD

                -Sandara 2NE1

                -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre   : Friendship, Mystery, Romance, School Life, Friendship.

Rating  : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otakku. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic Nam. No plagiat! Thanks ^^

****

Next Day….

                Hentakan boot hitam semata kaki mengawali langkahku menuju garasi. Semua pintu sudah terkunci—kecuali pintu kamar mandi. Sekarang aku sedang bersiap-siap menuju kampus. Namun sepertinya aku tidak bisa menggunakan mobil hitam kesayanganku hari ini. tampaknya aku lupa untuk mengisi bensinnya kemarin. Padahal aku sudah menempelkan sticky note di dekat kemudi dan melupakannya begitu saja. Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Tiga puluh tujuh menit lagi kelas pagi dimulai dan itu pelajaran ekonomi. Seandainya, aku punya kekuatan telekinesis…

                “Halo, Zitao! Kau dimana? Apa kau menghadiri kelas pagi? Bisa kau kerumahku? Mobilku kehabisan bensin dan aku ada kelas pagi. Sudah tiga menit berlalu aku berdiri di sini dan tinggal tiga puluh empat menit lewat empat de—Apa kau tidak ada kelas pagi?!” Terdengar dari seberang Zitao mengatakan apapun yang ingin ia katakan sejak tadi, dan empat menit terlewati. “Apa kau tidak bisa pergi menjemputku sekarang? Aku akan membayarnya nanti. Oh, oke.” Sambungan telepon terputus setelahnya.

                Zitao sepertinya sangat lelah. Terdengar dari suaranya di telepon tadi. Tak ada cara lain selain mencari taksi atau apapun yang bisa aku tumpangi. Di sebelah rumahku ada mobil hitam yang keluar dari garasinya dan hendak berjalan keluar komplek perumahan ini. Aku akan mencoba padanya. Aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi sebagai tetangga menumpang adalah hal baik untuk pendekatan sebagai sesama tetangga. kuulurkan tanganku dan mobil itu pun berhenti. Jemariku bergerak mengetuk kaca pintu mobilnya dan perlahan kaca itu turun. Ada seorang pria berkacamata (tanpa lensa) yang sepertinya seumuran denganku. Aku tersenyum padanya, tapi dia membalas dengan tatapan datar dan bingung.

                “Hai, aku Cindy Chou. Rumahku tepat di belakangku ini dan itu artinya kita bertetangga.” Dia menumpu semua tangannya di atas kemudi, menunggu diriku yang kikuk selesai untuk bicara. “Aku berencana ke kampus, tapi mobilku kehabisan bensin. Tiga puluh menit lagi kelas pagi akan dimulai dan aku harus mengikutinya. Boleh aku menumpang dimobilmu?” Dia terdiam, menegakkan kembali badannya dan berkata, “masuklah.”

                Aku langsung mengucapkan terima kasih padanya langsung dua kali. Kakiku langsung melangkah menuju kursi belakang, dan mobil itu kembali berjalan. Selama di perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali. Dia sibuk dengan jalanan, dan aku sibuk dengan buku ekonomi. Entah karena dia peduli penumpangnya sedang belajar, atau bisa jadi dia memang begitu. Tapi, dia tidak pernah melirik ke kaca spion dalam. Bisa dipastikan ia tipe orang yang tidak peduli dengan lingkungannya. Apa semua orang di dunia ini suka hidup sendiri-sendiri? Pria yang tidak kukenal ini sepertinya tahu tujuan penumpangnya akan kemana. Dia bahkan tidak bertanya dimana kampusku. Dilihat dari pemandangan jalanannya, benar ini akan ke kampus. Dia tidak akan menculikku, dan juga tidak akan menjualku. Syukurlah..

                “Berhentilah mengoceh sendiri.”

                “Apa kau bilang?” Reflek aku mennoleh karena ucapannya yang tiba-tiba.

                “Kau berisik sekali. Aku tidak bisa konsentrasi menyetir karena kau terus mengoceh yang tidak-tidak tentangku akan menculik atau menjualmu,” jawabnya dengan sinis.

                “Oke, aku diam.” Cindy menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tunggu! “Kau bisa membaca pikiran?”

                “Aku tidak mengharapkan pertanyaan semacam itu. Diamlah atau aku turunkan disini.”

                “Oke, aku diam!” Dan sekarang mulutku sedang menyumpah-serapah di dalam hati untuk lelaki menyebalkan di depanku.

****

                “Thanks, sudah mengantarku, tetanggaku.” Setelah senyuman perpisahan dilontarkan, aku bergegas menuju area kampus. Tapi, sepertinya dia masih menatap diriku dari dalam mobilnya. Beberapa menit kemudian terdengar suara deru mobilnya, menandakan ia sudah pergi.

                Akhirnya aku sampai di depan pintu kelasnya yang ramai. Dari kaca pintu bisa terlihat kalau dosen ekonomi yang galak belum datang. Tangannya bergerak memutar hendel pintu kelas tanpa menimbulkan suara. Seperti biasa, tak ada yang menyambutku. Ada beberapa yang menyadari, tapi mereka tidak peduli. Aku berjalan santai menuju kursi belakang—tempat yang baik untuk menyisihkan diri. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Tatapan tak suka dari orang-orang. Bahkan aku tidak punya teman perempuan. Di dunia artis aku juga tidak akrab dengan artis wanita. Entahlah.

                Lamunan sedihku terhenti saat ponsel di dalam tas bergetar hebat. Zitao memanggilku. Aku mengambil headset semntara getaran ponselnya sedang menuntutnya. Zitao pun menyapanya di seberang. Aku mengeraskan volume suara ponsel agar suara Zitao terdengar. Kelas ini terlalu berisik. Aku berpikir akan meninggalkan kelas sementara, namun aku tidak tahu kapan dosen galak itu akan muncul. Beberapa kali telingaku tidak mendengar apa yang dikatakan Zitao di telepon. Kepalaku hanya menjawab dengan berdehem atau kata ‘oke’ dan ‘ya’. Beberapa kali aku mendengar ada suara samar-sama seorang wanita yang juga sedang berbicara.

                “Kau membawa pacarmu kerumah?” tanyaku cepat sebelum Zitao kembali mengoceh.

                “Pacar?” tanya Zitao balik. Ia terdiam beberapa saat, dan kembali berbicara. “Itu ibuku. Beliau baru datang dari Cina. Sekarang ibuku sedang berbicara dengan nenekku,” jawab Zitao di seberang.

                Tiba-tiba dosen tiba. Jemariku langsung memutus sambungan telepon saat Zitao hendak berbicara lagi. Kesian Zitao…

****

                Aku tiba dirumah pukul lima sore. Aku sempat berkeliling kota di bus. Bukan karena ingin, aku jarang bepergian dengan bus. Aku tidak hapal dengan rute perjalanan bus. Tidak heran akhirnya aku tersesat di jalan. Tadi aku berhenti di halte bersama seorang nenek yang memiliki arah pulang yang sama denganku. Dan aku pun tersadar kalau jarak halte dan kompleks perumahan berjarak tiga kilometer. Aku tidak mungkin naik taksi lagi setelah uang saku bulananku habis karena ongkos’ jalan-jalan’ menjadi sangat mahal. Tentu saja sekarang aku sangat lelah.

                “Aku harap beratku berkurang setidaknya tiga kilogram,” gumamku sambil menjatuhkan diri di atas sofa pink lembut di ruang tamu.

                Kemanapun mata memandang, aku bisa melihat dapur kesukaanku yang serba putih. Pintu kamar tamu di depan, dan di sebelah ruangan itu ada tangga spiral menuju kamar dan ruang pribadinya. Di belakang kepalaku ada pintu transparan yang mengarah ke perkarangan. Rumahku ini tidak memiliki banyak ruangan yang dibatasi dinding. Dapur, ruang makan, ruang tamu dan ruang santai menjadi satu ruangan. Aku tidak pernah memakai dapurnya (tapi aku menyukainya). Aku lebih sering meng-order junk food. Ibu tidak pernah mengajarkan anak gadisnya ini memasak karena ibu sibuk. Bahkan tidak pernah dirumah sekalipun. Yang aku tahu, ibu pasti kembali sebulan sekali di malam hari saat anaknya terlelap. Karena hal itu, aku mencari kesenanganku sendiri dengan memenuhi hasrat seniku.

                Aku berpikir untuk memasak sesuatu untuk makan malam. Kalau tidak salah, aku bisa membuat beberapa cemilan mudah yang dulu pernah diajarkan pengasuhku dirumah. Aku tidak tahu kau masih menguasainya atau tidak, yang penting aku harus mencobanya sekarang. Kemudian aku membuka pintu kulkas dan menemukan banyak sekali kantong bening berisi tumbuhan hijau dan makanan fermentasi.

                “Seingatku, tak ada sayuran di dalamnya.” Aku kembali menutup pintu kulkas dengan kakiku, sementara perhatianku teralihkan ke depan layar ponsel. Setelah menemukan nama seseorang di dalam kontak, kutempelkan ke telinga kiriku lalu menunggu jawaban dari seberang. Tepat deringan ketiga, dia mengangkatnya dengan suara lenguhan keras yang menyebalkan.

                “Kau di apartemen?” tanyaku langsung tanpa memperhatikan suara erangannya.

                “Wae?!”

                “Dapurku meledak dan aku tidak bisa menanganinya sehingga rumahku harus diperbaiki. Bisa aku tinggal malam ini saja di sana?” Sedikit berbohong dan suara desakan akan membuat dia luluh. Tidak ada jawaban disana. Kujauhkan sedikit ponselku untuk mengecek kalau-kalau si penerima sudah mematikan sambungan. Tapi, masih tersambung. Beberapa detik aku menunggu, terdengar suara berisik dari sana sebelum si penerima mendengus kesal.

                “Tidak lebih dari setengah jam.”

                “Oke!” seruku senang lalu mematikan sambungan ponsel. Aku pun berlari menuju kamar untuk mengambil tas besarku dan beberapa perlengkapan semalam untuk dimasukkan kedalamnya. Setelah semuanya lengkap, aku kembali menuruni tangga dan secepat kilat menyambar kunci mobil di atas meja makan. Setelah mengunci semua pintu dan mematikan lampu, aku segera masuk ke dalam mobil di garasi dan menyalakan mesinnya dengan tergesa.

****

                Di lain tempat, tepatnya di sebuah kamar nomor 34 di Sky Apartment, Zitao sedang melangkah lemas keluar kamarnya dengan mata masih tertutup rapat. Biasanya setelah tidur dia akan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu ke dapur untuk minum air dingin. Selagi minum, matanya melirik ke arah jam dinding yang berada di atas TV Flat-nya. Sudah jam setengah sebelas lewat tiga puluh tujuh menit, dan dirinya harus terbangun di waktu seperti itu.

                Tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi beberapa kali, kemudian terhenti setelah Zitao menyerukan kata tak jelas untuk memperingatkan tamunya berhenti memencet bel. Tangan besarnya memutar kenop pintu dan menariknya ke dalam. Matanya mendapati Cindy berada di ambang pintu sambil mengangkat tas besarnya. Zitao memiringkan badannya, “masuklah.”

                Gadis itu melangkah dengan senang melewati Zitao kemudian mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Zitao melewatinya yang sedang berdiri di tengah-tengah rumah, mencari tempat terbaik untuk meletakkan tasnya dan tempat untuknya tidur malam ini. Zitao melirik sedikit ke arah Cindy, lalu mendesah pelan.

                “Kau yang tidur di kasurku malam ini. Biar kau yang tidur disini.” Perkataan Zitao membuyarkan pikiran Cindy yang sekarang menoleh kearahnya dengan alis bertautan satu sama lain.

                “Tidak! Aku lebih nyaman tidur di bawah daripada di kasurmu.” Kemudian ia meletakkan tasnya di belakang sofa. Langkahnya bergerak menuju lemari kasur lipat dan selimut, dan mengambil beberapa selimut dan sebuah kasur dari dalamnya. Zitao hanya memperhatikan dalam diam setiap gerak-geriknya, kemudian menegakkan badannya dan berniat mengatakan sesuatu.

                “Apa kau lapar?”

                Cindy langsung mendongak ke arah Zitao yang memandangnya datar, kemudian dia mengangguk antusias dan tersenyum senang. “Aku mau kue beras pedas hari ini. Toko yang buka 24 jam ada di seberang apartemen.”

                Zitao menghembuskan napas keras, lalu bangkit dari duduknya. Kakinya bergerak menuju pintu apartemennya, memutar kenop pintu dan keluar dari rumahnya tanpa suara. Cindy menoleh ke belakang sebentar menuju pintu, lalu kembali merapikan kasurnya sambil terkekeh pelan.

                Tidak butuh lama Zitao sudah berada di toko yang menjual jajanan pasar yang disebutkan Cindy tadi. kemudian ia memesan satu kue beras pedas ukuran jumbo. Ia memilih beberapa makanan kecil yang juga dijajakan di toko itu dan membayarnya kemudian bersama pesanannya. Setelah ia mendapatkan pesanannya, ia berikan beberapa lembar uang kepada penjualnya. Ia pun pergi meninggalkan toko itu. baru beberapa langkah meninggalkan toko, ponselnya sudah berteriak memanggilnya. Tangannya buru-buru merogoh kantung celananya. Jempolnya menyeret ikon hijau di layar cepat, tanpa melihat siapa yang menelponnya. Zitao kembali melanjutkan perjalanannya dengan ponsel berada di telinganya.

                “Zitao, beri aku kata sandi laptopmu. Aku mau menggunakannya untuk mengerjakan tugasku.”

                “Aku lupa. Tunggu, aku ingat-ingat dulu,” ucap Zitao sedikit panik karena ia melupakan kata sandinya. Langkahnya berhenti tepat di depan zebra cross lalu melirik sebentar ke lampu penanda untuk pejalan kaki yang berwarna hijau. Zitao kembali berjalan menyebrangi zebra cross itu tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi. Fokusnya kembali kepada Cindy yang sedang menunggunya. “Coba tanggal lahirku. Kalau tidak bisa, tanggal lahir ibuku. Atau hari kelulusanku di SMA dulu.”

                “Oke, aku coba.” Terdengar suara Cindy di seberang sedang mengetik. Zitao masih fokus kepada teleponnya dan tidak peduli pada apa yang ada di sekitarnya sekarang. di jalan yang lainnya, lampu penanda sudah lama berganti berwarna merah, menandakan ia tidak boleh berjalan kembali. Namun, Zitao sudah berada di tengah-tengah jalan dan tidak mungkin baginya untuk berhenti disana atau bahkan kembali.

                Suara klakson kendaraan yang memekakkan telinga membuat Zitao akhirnya tersadar untuk memperhatikan sekitarnya. Ia menoleh ke arah kirinya, tepat saat dimana sebuah truk pengangkut pasir sudah berada di depan matanya yang melaju dengan kecepatan penuh. Matanya melebar dan tangannya reflek menyilang di depan wajahnya. Tubuh tingginya terpental 500 meter dari tempat kejadian dengan banyak luka goresan kaca di tubuhnya. Truk tadi menjadi oleng kemudian menabrak lampu jalan, menyebabkan pengemudi tidak sadarkan diri. Ponsel yang masih menyala itu terlepas dari genggaman yang sudah penuh dengan darah itu. Zitao terkapar tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Naasnya, tidak ada satupun orang yang berlalu lalang disana.

                Sementara itu….

                “Zitao, aku tidak mendapatkan sandinya. Bisa kau memberikan clue yang lainnya lagi?” tanya Cindy sambil menyipitkan matanya di layar komputer lalu mengetikkan beberapa angka disana. Tidak terdengar suara apapun disana. Cindy menjauhkan ponsel dari telinganya, Zitao masih tersambung. “Halo? Zitao? Kau bisa mendengarku? Aku akan kesana sekarang.” Cindy akhirnya memutuskan sambungan dengan Zitao tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

                Bisa dipastikan, setengah jam lagi Cindy akan berada di sebuah kamar rumah sakit bersama dengan Zitao yang terbaring koma dengan wajah damainya.

****

To Be Continued…

*Silahkan komentar dan sarannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s