FF: The Wolf and not The Beauty (part 20)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : Dia sudah pernah menjadi gila, dan dia pikir dia akan menjadi gila sekali lagi,

Kaki panjangnya menyusuri jalanan kecil di sebuah kawasan pinggiran kota Seoul. Pandangannya kosong, tanpa titik fokus. Begitu tenggelam dalam pikirannya tentang kenyataan yang sedang terjadi.

Setelah ini, dia tidak dapat menyembunyikan dirinya yang sebenarnya lagi. Tidak bisa berpura-pura menjadi seorang murid biasa serta adik kecil yang manis. Nyatanya, dia adalah seorang pemimpin yang mungkin kelak akan memimpin klannya untuk menjalankan sumpahnya.

Fokusnya seakan melayang jauh, sangat jauh hingga dia merasakan kakinya seperti melayang dan membawanya tanpa arah. Kini kekhawatirannya ada dua, saudaranya dan identitas.

Bagaimana jika setelah ini mereka memutuskan untuk menjauhinya dan Kai? Bagaimana jika mereka meninggalkan Kai? Dia tidak akan mungkin bisa membiarkan hal itu.

Terus merutuki dirinya, dia pikir dia telah bertindak gegabah dan bodoh tadi. Harusnya, dia memperhatikan sekitar, meredam emosinya sehingga wujud aslinya tidak terlihat di hadapan banyak orang.

Namun, Kai adalah hal yang paling penting di hidupnya saat ini. Melihatnya terluka, bahkan mengerang menahan sakit, membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Amarahnya memuncak, saat itu benar-benar ingin membunuh Leo dan memusnahkannya seperti yang telah dia lakukan pada D.O.

Pria berkulit putih itu menghela napas panjang. Beberapa saat kemudian memutuskan untuk melompat tinggi dan mendarat di sebuah atap rumah. Rumah itu kosong, sepertinya tidak berpenghuni sehingga dia bisa dengan nyaman beristirahat sejenak.

Bukan. Bukan mengistirahatkan tubuhnya. Tapi hati dan pikirannya.

Dia sendiri tidak tau keputusan apa yang akan dia ambil setelah ini. Setelah Kyungsoo mengetahui tentang semua kenyataannya. Dia adalah tuannya. Seseorang yang harus dia jaga. Serta, seseorang yang sudah berhasil membuat sosok D.O tetap hidup.

Kyungsoo mampu mengobati kerinduannya.

Sehun tidur terlentang dengan lipatan kedua lengannya menjadi sanggahan kepalanya. Hamparan bintang-bintang berpadu dengan langit biru tua, menjadi titik pandangannya saat ini.Seingatnya, langit Polandia saat itu juga begini. Indah.

Hanya saja kala itu, dia tidak bisa melihat bintang dengan leluasa karena pohon pinus banyak tumbuh dimana-mana. Namun, rumahnya adalah pilihan yang tepat untuk melakukannya. Tidak jarang, dia menghabiskan malam dengan duduk seorang diri sambil menatap ke angkasa, hanya untuk menatap kerlipan benda-benda kecil yang terhampar diatasnya.

Dia merindukan rumah jeraminya, dia merindukan batu besar yang tertanam di depan rumahnya dan dia anggap sebagai tempat duduk. Dia merindukan lapangan luas, dia merindukan pohon pinus serta kenangan-kenangan masa kecil yang kini kembali teringat di pikirannya.

Masih mampu mengingat dengan jelas bagaimana cengengnya dia dulu. Saat dia di marahi ayahnya dan dia akan berlari mencari D.O untuk meminta perlindungan. Setelah klan Verdun bergabung, dia melibatkan Kris juga.

Saat Kai yang tidak pernah bisa lepas dari kakakknya, D.O. Dan saat D.O yang pernah menendang batang pohon pinus untuk menjahili Kai agar salju yang tertimpun di daunnya jatuh mengenai wajah Kai yang asik tidur di bawahnya.

Ada banyak kenangan. Juga ada banyak orang-orang yang dia rindukan. Sekian lama menjalani hidup, terus terjebak dalam umur 17 tahun untuk waktu yang lama, dia pikir semua itu sulit. Jika dibayangkan,ini seperti mimpi buruk di mana dia merasa jika waktu tidak berjalan melewatinya sehingga dia terus terjebak di situasi yang sama. Tidak berubah. Itu-itu saja.

Jalan satu-satunya untuk bebas adalah kematian. Saat dia mati dan pada akhirnya posisinya sebagai keturunan terakhir akan di pindahkan pada Kai.

Memikirkan itu, jika saja dia cukup egois, dia akan melakukannya. Dia ingin mengakhiri semuanya tanpa takut pada kematian. Namun, sayangnya hatinya tidak mengijinkan untuk melakukan itu. Tidak cukup tega membiarkan saudara sepupunya itu menanggung beban berat dan menghadapinya sendirian.

Anggap saja ini pengorbanan untuk Kai. Bukankah di dunia ini, Kai adalah satu-saatunya saudaranya?

Sehun memejamkan matanya, salah satu lengannya ia letakkan diatas kening. Jika saja bisa, dia sangat ingin tidur. Sangat ingin terlelap dengan nyenyak untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya. Jika saja…dia bisa…

Matanya tertutup namun dia tidak melihat kegelapan. Tiba-tiba saja, berbagai visual menyelinap dan merubah diri menjadi potongan-potongan adegan kecil seperti sebuah film.

Jelas. Dia melihat semuanya. Semua yang terjadi di masa lalunya saat mereka berada di Polandia.

Dia melihat Kai. Disana juga ada D,O. Dan Kris sedang melingkarkan tangannya pada leher dirinya yang terlihat sedikit kecil disamping Kris.

Mereka begitu asik tertawa, bermain-main sebagaimana mereka dulu menghabiskan hari-hari jika tidak latihan atau berburu. Seperti anak-anak yang lain, mereka saling menjahili. Pada akhirnya, berakhir dengan tangisan Sehun yang tidak terima karena telah di intimidasi oleh kakak-kakaknya.

“Sehun… jangan menangis…”

Diingatannya, Sehun melihat dirinya yang lain mendongak saat mendengar suara itu. Seseorang datang, dari sudut pandangnya memunggunginya. Dia hanya bisa melihat dirinya yang menghusap air matanya dan tersenyum lebar setelahnya.

Kening Sehun berkerut, namun matanya masih terpejam. Dia begitu tenggelam dalam ingatannya, mencoba sedikit bergeser sehingga dia bisa melihat wajah seseorang yang sedang berjongkok di depan dirinya.

Siapa dia? Kenapa orang itu dengan mudah membuatnya tersenyum?

 

“Aku akan mengantarmu pulang. Ayo.”

 

Dan ingatan-ingatan lain ikut menyelinap di kepalanya. Dirinya yang dulu berjalan bersama, saling tersenyum dan bergandengan tangan. Siaoa dia? Kenapa wajahnya tidak terlihat?

Perlahan, dia mampu merasakan rasa sesak yang menyelimuti rongga dadanya. Tiba-tiba saja menyulitkan aliran pernapasannya sehingga dengan tiba-tiba ia langsung membuka mata, terduduk dan menguap-nguap untuk mencari oksigen, Terlalu menyakitkan. Bahkan saat dia mencoba untuk melakukannya sekali lagi.

Kepalanya pening.

Sehun memijit-mijit kepalanya sambil meringis menahan sakit. Ini terasa seperti dia pernah mengalami sebuah kejadian yang dia sendiri tidak mengingatnya. Ini tidak seperti dirinya yang biasa jika dia memang benar-benar melupakan kejadian itu. Apa kekuatannya melemah?

 

BRAKK

 

“Brengsek! Kenapa kau mendorongku?!”

Sehun mengalihkan pandangannya ke bawah saat dia mendengar sebuah suara. Detik berikutnya, matanya langsung membulat hebat begitu ia melihat Luhan dan Yixing yang sepertinya… mereka akan bertarung?

***___***

“Namanya D.O Rouler. Dia adalah kakak kandungku dan kami hidup bersama cukup lama.” Kai menerawang ke langit-langit kamar. “Dia bertubuh mungil, bermata bulat dan kulitnya putih bersih. Diingatanku, dia seperti salju.” Ia menarik napas sejenak. “Disaat apapun, dia selalu melindungiku dan Sehun. Terkadang bertengkar dengan orang tua kami jika mereka selalu memarahi kami. Terutama Sehun, ayahnya mendidiknya dengan sangat keras, terutama setelah diumumkannya posisi pemimpin akan di berikan kepada Sehun selanjutnya.”

Kai mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengusir air mata yang mulai terbit.

“Di bandingkan dengan kedua orang tuaku, aku pikir D.O adalah satu-satunya orang yang selalu ada disampingku dan merawatku. Aku begitu bergantung padanya hingga aku selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Dia adalah tipe orang yang mudah disukai serta di hormati oleh penduduk. Sedangkan aku? Aku sedikit berbeda karena aku berkulit gelap. Aku sangat pemalu dan cenderung tidak melakukan banyak sosialisasi. Tapi, D.O selalu bilang, ‘berdirilah di belakangku. Aku akan selalu melindungimu.’ Dan di seumur hidupku, aku rasa aku tidak akan pernah melupakan kalimat itu sampai kapanpun.” Suaranya mulai bergetar, Kai buru-buru menghusap matanya dengan lengan baju.

“Dia bertubuh mungil namun dia memiliki keberanian dan kekuatan yang jauh lebih hebat dariku. Dia benar-benar seorang kakak, yang selalu berdiri paling depan untuk melindungi adik-adiknya. Dia tidak pernah pergi, bahkan saat peperangan itu terjadi.”katanya kembali menerawang. “Dia bahkan masih mengkhawatirkanku saat dia sudah sekarat. Dia mengorbankan dirinya agar peperangan berakhir dan aku tidak di temukan. Dia meminta Kris untuk membawaku pergi dan menyembunyikanku di tempat yang aman.”

“Kai…” Suho mengulurkan tangannya, menghusap punggung Kai. Tidak tega mendengar getaran hebat dibalik suaranya.

“Saat aku membuka mata, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Semuanya terjadi didepanku, begitu jelas. Saat api itu berkobar dan membakar tubuhnya. Aku melihatnya, semua proses sebelum dia meninggal. Aku melihatnya, dan itu membuatku gila.”

Kai tidak bisa menahannya lagi, Ia terisak. Mengeluarkan segala bentuk kesesakan yang ia rasakan selama ini. Alasannya masih sama. Masih tentang betapa sulitnya hidupnya tanpa D.O. Masih tentang kerinduannya akan kasih sayang seorang kakak. Dia lebih dari sekedar berarti.

“Ingatanku menghilang, bukan karena kecelakaan tapi karena ayah Sehun sengaja menghilangkan ingatanku. Setelahnya mengarang cerita-cerita baru dan membuatku berpikir jika aku adalah manusia. Orang tuaku meninggal setelah kecelakaan dan aku hidup seorang diri di Korea. Tapi saat melihatmu, kau seperti magnet yang membuatku untuk mendekat. Aku juga tidak mengerti tapi aku ingin melindungimu. Setiap kali melihatmu, aku merasakan penyesalan yang mendalam. Hatiku benar-benar terasa sakit tanpa alasan. Sekarang, aku menyadarinya. Tidak perduli seberapa keras usaha mereka untuk menghilangkan ingatanku, tanpa ku sadari sosok D.O masih selalu hidup dan aku menemukannya di dalam dirimu.” Kai bergerak, ia menghampiri Kyungsoo dan berlutut di depan pria mungil itu. “Aku tidak tau ini menyangkut sumpah atau tidak. Aku tidak tau. Tapi aku benar-benar tulus. Maafkan aku, jika kau merasa aku hanya memanfaatkanmu sebagai pengganti D.O. Tapi aku benar-benar merindukannya. Setiap kali melihatmu, aku merasa tenang. Aku mereasa jika D.O baik-baik saja. Lebih dari seorang tuan, aku melindungimu sebagai adik yang tidak ingin kehilangan kakaknya lagi. Maafkan aku Kyungsoo… aku mohon maafkan aku.”  

Punggungnya benar-benar membungkuk dan dia tidak berani menatap Kyungsoo. Dia menunduk, menyembunyikan tangisannya. Hanya membiarkan semua orang mendengar isakannya yang terdengar sangat memilukan.

Baekhyun menangis, Mungkin karena dia telah mengenal Kai sangat lama. Tao membuang pandangannya, mungkin karena dia sangat terharu. Sedangkan Chanyeol hanya terdiam, hanya menatap kearah sahabatnya itu tanpa melakukan apapun, mungkin dia bisa merasakan kepedihannya.

“Aku… aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu, Kyungsoo. Aku benar-benar akan melindungimu.”

Diketerdiamannya, beingan air mata juga merembes melalui celah matanya dan mulai membentuk sungai kecil di pipinya. Di keterdiamannya, dia berharap jika semua ini hanya mimpi. Dia ingin semuanya tidak nyata. Dan dia ingin cepat-cepat terbangun dari mimpi ini.

“KAI!” Kris mendobrak pintu kamar hotel Sehun dan langsung terdiam di tempatnya ketika mendapati Suho, Chanyeol, Tao, Baekhyun dan Kyungsoo juga berada di ruangan itu. Terlebih lagi, saat ia melihat Kai yang sedang berlutut sambil menangis. “Kai…” ia berjalan pelan, dengan ekspresi bingung.

“Aku…” lirih Kyungsoo serak. “…sudah lelah menunggu.” Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus kearah Kai yang masih menunduk. “Tidak usah mengatakan kau akan melindungiku karena nyatanya, kau tidak pernah melakukannya.” Kyungsoo menggeleng lemah. “Aku… tidak pernah memintamu untuk melindungiku. Juga tidak berharap kau ada didekatku. Jika aku mengetahui akhirnya akan seperti ini, aku memilih untuk tidak mengenalmu..”

Kai mendongak, menatap Kyungsoo terkejut.

“Aku tidak mau jadi keturunan terakhir. Menjadi murid lemah dan suka di intimidasi, seribu kali lebih baik daripada menjadi keturunan itu. Aku ingin ibuku.”

“Aku akan mencarinya! Aku berjanji akan menemukannya!” Kai mencoba meyakinkan Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng, “kau tidak pernah bisa membuktikannya…”lirihnya. “KAU TIDAK MENEMUKAN IBUKU!”

“Kyungsoo…” Kris menghampiri Kyungsoo, kini dia telah mengetahui semua yang sedang terjadi. “Biar aku—“

“Aku mohon…”potongnya, ia menghusap air matanya. “Bisakah kalian pergi? Bisakah kita berpura-pura saling tidak mengenal dan melupakan semuanya? Tidak perduli aku sedang dalam bahaya atau tidak, bisakah kalian tidak melibatkan diri? Aku sudah tidak ingin menunggu… aku akan mencari ibuku sendiri.”

Kyungsoo berdiri dari duduknya, bergegas meninggalkan ruangan namun Kai langsung menahan lengannya.

“D.O… Aku akan melindungimu!”

“AKU BUKAN D.O!”bentaknya, menepis tangan Kai dan berteriak sekeras mungkin membuat Kai terperangah. Dia juga tidak sadar saat memanggil Kyungsoo dengan nama D.O. “Kali ini dengarkan baik-baik…” ia mendesis. “Namaku Do Kyungsoo dan aku bukan D.O Rouler atau keturunan Solomon. Aku bukan tuanmu dan aku bukan kakakmu! Bisakah kau pergi?!” Kyungsoo menggertakkan giginya, rahangnya mengatup keras. “…Aku… aku sangat membencimu.”

Ada sebuah hantaman keras yang seketika menghantam dada Kai. Benar-benar menyakitkan. Membuatnya nyaris terhuyung mundur jika dia tidak buru-buru menguatkan kakinya untuk sekedar bertahan.

Dia sendiri tidak mengerti. Dan dia sendiri tidak menginginkan akhir menyedihkan seperti ini. Bukan salahnya jika dia menganggap Kyungsoo adalah D.O. Bukan keinginannya saat dia sangat bahagia melihat Kyungsoo.

Dia hanya membutuhkan sebuah obat untuk menyembuhkan rasa sakitnya, untuk mmbuatnya melupakan masa lalu kelam yang ia alami. Dia sudah pernah menjadi gila, dan dia pikir dia akan menjadi gila sekali lagi,

Kali ini bersifat permanen. Kekuatannya telah pergi….

Suho mengejar langkah Kyungsoo dan mencoba menenangkannya. Kris berada di dua pilihan sulit, antara menenangkan Kai atau menjaga Kyungsoo yang bisa saja di serang oleh anak buah Leo. Ia menatap Chanyeol penuh harap, meminta bantuan padanya. Dia pikir, pria itu cukup tangguh untuk menjaga Kyungsoo saat ini, sedangkah Baekhyun harus menjaga Tao yang juga terluka.

Chanyeol mengerti arti tatapan Kris itu. Awalnya dia ragu, walaupun sekuat apapun dia, dia tidak akan pernah menang jika melawan werewolf, contohnya sudah terjadi pada Tao. Namun, dia pikir Kris adalah orang yang jauh lebih mengerti masalah ini daripada dirinya, walaupun dia adalah sahabat sekaligus teman sebangku Kai sekalipun. Dia tidak paham, karena mereka berbeda

Akhirnya, Chanyeol berdiri dari duduknya dan bergegas mengejar Suho dan Kyungsoo. Baekhyun membopong tubuh Tao ke ruangan lain, membiarkan Kris dan Kai berdua di ruangan itu. Mereka butuh waktu.

Setelah Baekhyun dan Tao pergi, Kris menepuk pundak Kai dan mendudukkannya di atas ranjang tidur. Lantas, berjongkok didepannya dan mendongak menatap wajah Kai yang masih basah karena air mata. Sangat jelas terlihat jika pria itu sedang terpukul. Kesedihan terpancar dari wajahnya.

“Maafkan aku karena aku sudah menghilang…”lirih Kris. “Aku pergi ke selatan dan menemukan markas mereka. Aku berusaha menyerang namun mereka berhasil membawa ibu Kyungsoo pergi.”

Kai mengangkat wajahnya, membalas tatapan Kris.

Kris mengangguk, “ibunya masih hidup…”katanya. “Aku yakin mereka tidak akan membunuhnya selama mereka belum mendapatkan Kyungsoo. Aku akan berusaha mencari markas baru mereka hari ini.”

“Kemana mereka pergi?”desis Kai dingin.

“Jika aku benar, maka mereka menuju pesisir kota Mokpo. Semuanya berpencar, namun werewolf yang membawa ibu Kyungsoo menuju kearah itu. Parahnya, aku melihat Chen berada diantara mereka.”

Seketika mata Kai membulat, “Chen?!”

“Yeaah, aku rasa Leo telah merubahnya.”

“Bagaimana dengan Yixing dan Xiumin?”

“Tidak tau. Aku tidak melihat mereka. Namun, mulai saat ini aku rasa kita harus memperhatikan Luhan juga. Jika Leo berhasil mendapatkan Luhan dan mengubahnya, maka riwayat kita akan segera berakhir.”

Tangan Kai mengepal bersamaan dengan rahangnya yang mengatup keras. Giginya menggertak menahan-nahan amarah yang ingin meledak. Dia masih terluka, namun dia masih mampu berdiri.

“Kita cari mereka sekarang!”perintahnya, berdiri dari duduknya.

“Kai!”cegah Kris menahan lengan Kai. “Bukan saat yang tepat.”

“Jangan menunda-nunda sesuatu, Kris. Kita harus mencari ibu Kyungsoo!”

“Tidak akan berhasil jika hanya kita berdua!”tegas Kris menatap Kai lurus-lurus. “Kita adalah jarski dan mereka adalah pemburu. Kita hanya berdua dan mereka bergerombol. Apa kau pikir kita mampu mengalahkan mereka? Aku bahkan hampir mati jika aku tidak segera menghindar tadi!”

“Aku bukan seorang pengecut, Kris! Aku bisa mengalahkan mereka!”

“Ini bukan masalah pengecut atau bukan tapi ini masalah kemampuan kita!” suara Kris tak kalah meninggi. “Setidaknya, kita harus membawa Sehun jika ingin menyerang. Bukan hanya kita berdua! Kita kalah jumlah cukup banyak!”

“Kalau begitu libatkan kami…” Tiba-tiba sebuah suara terdengar membuat Kris dan Kai seketika menoleh. Mendapati Tao sedang tergopoh-gopoh menghampiri mereka, keduanya terkejut. “Walaupun aku tidak mengerti tentang semua ini tapi aku ingin membantu.”

“Tao, semuanya tidak semudah yang kau pikirkan! Kau terluka karena mereka, kan?!”

“Aku terluka karena aku ceroboh, Kai. Jika aku fokus, mungkin aku bisa mengalahkan Leo tadi.”seru Tao bersikeras.

“Kai, kita sudah bersahabat cukup lama kan? Harusnya kau mempercayai kami.”sahut Baekhyun muncul di belakang Tao.

“Ini benar-benar tidak semudah yang kalian bayangkan…” Kai mengacak rambutnya frustasi. “Aku tidak mau kalian terlibat dan kalian terluka. Kita berbeda.”

“Kalau begitu ubah kami.” Chanyeol muncul dari balik pintu kamar, kalimatnya seketika mampu membuat Kai dan Kris terperangah hebat. “Jika kami seperti kalian, kami bisa membantu, kan?”

***____***

Sehun terus memandang Luhan dan Yixing dari bawah matanya. Sepertinya mereka sedang terlibat pertengkaran hebat.

“Jangan mendorongku! Dan jangan cari masalah denganku!” Ia balas mendorong pundak Yixing lalu bergegas pergi.

Yixing mengulurkan tangannya cepat, menahan Luhan dan membalik tubuhnya, “kau harus ikut denganku!”desisnya dingin. “Tuanku membutuhkanmu!”

“Tuan?” Luhan tertawa mendengus. “Tuanmu adalah aku!”bentaknya. “Apa sekarang kau adalah pengkhianat? Kau berteman dengan siapa kali ini? Dia tuanmu? Suruh dia datang padaku sendiri!”

“Kau tetap harus ikut denganku!” Yixing mencekal lengan Luhan keras membuat Luhan seketika marah dan memukul wajah Yixing hingga ia tersungkur ke tanah.

“Jangan memerintahku dan pergi dariku! Dasar brengsek!”umpatnya meninggalkan Yixing tanpa memperdulikannya lagi.

Sehun berdecak sambil geleng-geleng kepala, “dia tidak pernah berubah.”

Baru beberapa detik mengucapkan kalimat itu. Mata Sehun tiba-tiba membulat lebar saat dilihatnya Yixing berdiri. Dia mengeluarkan cakar tajamnya dan matanya berubah menjadi merah.

“Astaga!”

Sehun terperangah bukan main melihat perubahan diri Yixing. Pria itu berjalan di belakang Luhan tanpa suara, tangan kanannya bersiap dengan kuku-kuku tajamnya. Dia bukan manusia. Dia bukan manusia!

Yixing mempercepat langkahnya menuju Luhan, sedangkan seseorang yang sedang diincar itu sama sekali tidak mengetahui bahaya yang sedang mengintainya di belakang. Jika tidak di tolong, Yixing bisa membunuh Luhan.

Sehun berada dalam kebimbangannya. Antara tidak perduli karena dia mengetahui jika Luhan adalah keturunan klan Theiss dan nalurinya yang tiba-tiba ingin melindungi pria itu.

“Brengsek!” Sehun memaki pada dirinya sendiri karena nalurinya begitu mendominasi lalu melompat turun dan menarik tubuh Luhan, menghindari serangan Yixing yang sedang berlari hendak mendaratkan cakarannya di punggung belakang Luhan.

Luhan terkejut, lalu menoleh dan mendapati Sehun sedang berada disampingnya. Sehun bergerak menuju Yixing, menangkis serangannya dan menendang dada pria itu hingga ia tersungkur.

“Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku membunuhmu!”ancam Sehun dengan gigi gemertak.

“Sehun… apa yang… astaga Yixing!” pertanyaan Luhan berubah menjadi sebuah keterkejutan hebat saat dia melihat sosok Yixing.

Mata merah, kulit pucat serta kuku dan taring yang tajam.

“Yixing, apa yang terjadi denganmu?”

“Stop!”cegah Sehun menghentikan langkah Luhan. “jangan mendekatinya!”

“Aku tidak takut denganmu! Aku harus membawa Luhan pada tuanku!”

“Sebaiknya kau cari tuanmu dan obati lukanya. Aku hampir saja membunuhnya tadi.”desis Sehun dingin, mata Yixing melebar. “Jadi sebaiknya kau pergi sebelum aku melakukan hal yang sama padamu.”

Sehun tidak gentar sama sekali. Karena yang sedang di hadapi hanyalah werewolf baru yang bahkan belum bisa mengendalikan hasratnya sendiri.

“Aku akan membunuhmu. Suatu saat nanti…” Ancam Yixing sebelum akhirnya melompat tinggi dan berubah menjadi sekelebat bayangan hitam.

Sehun membiarkannya. Dia sedang tidak berada didalam mood yang baik untuk menyerang, apalagi membunuh. Dia berbalik, menatap Luhan yang sedang berada dalam keterperangahannya. Pria tampan itu mengalihkan pandangannya kearahnya dan menatap Sehun lekat-lekat.

“Sebaiknya kau berada di tempat yang aman sekarang.”seru Sehun bergegas pergi.

“Apa yang terjadi dengan Yixing?”

“Aku tidak tau.” Tanpa menoleh, Sehun mengendikkan bahunya.

Luhan menyusul langkah Sehun dan menahan lengannya, “Jawab pertanyaanku!”

“Aku tidak tau. Dia sahabatmu, kan? Harusnya kau lebih tau.”

Luhan terdiam. Namun matanya terus memperhatikan Sehun lekat-lekat. Dia yakin dia tidak sedang bermimpi tadi. Dia melihat dengan jelas bagaimana wujud Yixing walaupun dia hanya bisa mendengar samar percakapan mereka.

“Pulanglah. Ini sudah malam.”

Sehun berbalik lagi.

“Tunggu!”

“Apa lagi? Aku sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik. Jika kau ingin bertanya tentang Yixing maka–”

“Siapa kau sebenarnya?”

TBC

52 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 20)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s