Dorm (Chapter 8)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 8)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

****

            Hari masih sangat pagi untuk seorang siswa berada di sekolah dan Minseok sudah berada di kelasnya yang sepi dan lengang. Ia tidak bisa tidur setelah kejadian ‘penculikan Minhee’ di kamarnya. Sekarang ia sedang bermalas-malasan di kursinya dengan dagu diatas mejanya sambil menatap layar ponselnya. Dia tidak menunggu pesan atau telepon siapa-siapa. Hanya ingin menatapnya saja. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki yang semakin jelas terdengar. Minseok pun menegakkan badannya, menanti seseorang yang sedang melangkah itu. Oh! Ternyata teman sekelasnya. Seorang siswi bernama Lee Sun Kyu, gadis imut berpipi chubby seperti Minseok juga. Dia yang tadi berjalan menunduk sekarang menegakkan kepalanya dan terkejut mendapati Minseok sudah datang.

            “Kau cepat sekali datang,” ucapnya masih terkejut.

            “Kau juga,” balas Minseok sedikit ceria.

            “Aku sudah sering pergi sekolah pagi-pagi sebelum orang lain datang. Kau saja yang tak tahu,” bantah Sun Kyu sambil menaruh tasnya di atas meja.

           Minseok tidak membalasnya lagi. Menurutnya, berdebat dengan perempuan hanya akan membuang energinya. Perempuan, kan, cerewet. Jadi, Minseok memilih menaruh kembali kepalanya diatas meja dan menatap kembali layar ponselnya. Satu persatu teman-temannya berdatangan. Tak ada yang menimbulkan keributan yang memekakan telinga. Masih terasa damai. Namun, ketenangan itu pecah gara-gara satu orang. Orangnya belum sampai tapi suaranya sudah terdengar sampai ke kelas Minseok. Pria itu tahu siapa yang menyebabkan keributan ini. Dan, Minseok benci ini.

            “Aku hampir saja menendangnya kalau dia tidak berada di depanku. Dan sialnya aku tiba-tiba mati karena zombie itu!” Suara itu sangat dikenal Minseok. Manusia itu tidak hanya badannya yang tinggi, suaranya juga tinggi. Akhirnya si pembuat masalah itu muncul di kelasnya.

            “YA! KAU BERISIK, BODOH!” maki Minseok kesal kepada Chanyeol. Dia yang baru saja datang tiba-tiba mendapat makian macam itu langsung terkejut tidak mengerti. Dia bahkan menunjukkan wajah tidak bersalahnya yang membuat Minseok kesal.

            “Kau kenapa, hyung? Itu bukan ucapan selamat pagi, kan?” tanya Chanyeol heran.

            “TAU AH!”

            Chanyeol yang tidak mengerti apa-apa masih merasa heran. Ia pun berjalan menuju bangkunya yang berada di samping Baekhyun yang sedang mengeluarkan buku tulisnya.

            “Hyung hari ini aneh, deh. Masa dia mengatai aku berisik dan bodoh,” gumam Chanyeol bingung. Baekhyun pun memutar kedua bola matanya dengan kesal. Temannya ini memang menyebalkan.

            Kebisingan di kelas akhirnya berakhir beriringan dengan datangnya guru fisika ke kelas. Jam pertama adalah jam fisika. Minseok tak yakin ia tidak tidur pagi ini. Menghitung jumlah kalori dan panasnya suhu peleburan sangat membosankan. Minseok lebih memilih mengerjakan soal matematika tiga puluh soal daripada harus belajar fisika. Sebaliknya, Luhan malah bersemangat dengan pelajaran ini. Semua yang berkaitan dengan menghitung adalah hobi Luhan. Ah, Minseok ingin cepat-cepat keluar untuk makan.

            Minseok tidak pernah menyangka ia akan menjadi seperti ini gara-gara fisika. Gurunya tiba-tiba memberikan ujian mendadak berkaitan dengan materi yang baru saja diterangkan. Soalnya hanya sepuluh, tak sampai satu kertas penuh. Tapi, jawabannya bisa berlembar-lembar. Minseok hanya mendapat sedikit materi yang masuk ke otaknya. Selebihnya ia tidak tahu. Entahlah nilainya akan jadi bagaimana. Yang penting sekarang ia mengisi perutnya dulu. kegiatan makan siangnya menjadi tergganggu karena ibunya menelpon. Mau tak mau Minseok harus menjawabnya.

            “Siapa?” tanya Luhan sambil menolehkan kepalanya kepada Minseok.

            “Ibuku. Tunggu sebentar,” pamit Minseok lalu menekan tombol hijau dilayarnya. “Ne eomma? Oh! Ibu dirumah? Bagaimana dengan noona? Hmm begini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi tidak sekarang. Ya, aku sedang makan siang. Apa ibu dirumah hari ini? Ibu tidak berencana pergi nanti sore, kan? Oh, oke aku akan menelpon setelah pulang sekolah. Oh? Ya, ya.” Minseok pun mematikan sambungan teleponnya. Lalu menyimpan ponsel putihnya kedalam saku blazer. Minseok kembali mengambil sumpitnya dan kembali makan.

            “Apa kau akan memberitahu ibumu kalau Minhee ingin tinggal dirumahku?” tebak Luhan.

            “Hmm. Aku tidak bisa menundanya. Ibuku sangat sibuk dengan restorannya. Aku tidak yakin dia bisa menjawab panggilanku,” ujar Minseok, lalu kembali memasukkan sepotong telur dadar ke mulutnya. “Aku harap ibu dan kakakku mau memberi izinnya kepada Minhee. Kalau bisa, aku akan memberitahu semua kejadian kemarin kepada mereka berdua.” Sementara itu, Luhan mengangguk setuju.

****

            Pukul empat sore lewat tujuh belas menit, Minseok akhirnya keluar dari kelas bersama-sama teman-teman sekelasnya. Seperti biasa Minseok pergi ke atas atap sekolah untuk melakukan sesuatu yang ia suka, seperti tidur di kursi kayu disana atau menelpon ibunya. Dia sudah berjanji dengan ibunya untuk menelpon selepas sekolah. Minseok berpikir hanya dia yang di atap. Ada Jongdae juga disana, sedang tidur sambil mendengarkan musik lewat headset-nya. Ternyata ia disini, pikir Minseok. Bukankah tempat seperti ini bukan tempat yang bagus untuk membolos? Dia bisa kapan saja tertangkap oleh pengawas kelas. Minseok berhenti di samping Jongdae dan memandanginya datar sambil berpikir sesuatu. Tidurnya sangat damai dan tenang. Minseok sempat berpikir tentang dirinya yang ingin menjadi seperti Jongdae saat tidur. Dia sama sekali tidak mendengar suara apapun. Berbeda dengan dirinya yang akan langsung terbangun. Minseok pun berusaha membangunkan Jongdae dengan cara ‘halus’. Ini akan sangat menyenangkan melihatnya kesal, pikir Minseok sambil terkekeh geli. Minseok mengangkat kakinya lalu menendang paha Jongdae beberapa kali sampai Jongdae terbangun.

            “Oh? Sejak kapan kau disini, hyung?” tanya Jongdae sambil memposisikan dirinya untuk duduk di kursi tempat ia tidur tadi. Tangannya langsung bergerak untuk merapikan rambutnya yang berantakan.

            “Baru saja. Kau pasti membolos lagi, kan?”

            “Tidak. Aku ketiduran,” jawab Jongdae berbohong. “Oh? Sudah jam segini. Aku harus pulang. Kau tidak pulang, hyung?” tanya Jongdae sambil menggendong tas punggungnya.

            “Nanti. Aku mau menelpon ibuku dulu,” jawab Minseok sambil mencari nomor ibunya di ponsel.

            “Kenapa kau tidak melakukannya di asrama?”

            “Disini lebih tenang.”

            “Oh, oke. Aku duluan,” pamit Jongdae lalu berbalik meninggalkan Minseok yang terus memandangnya sampai Jongdae menghilang di balik pintu. Minseok menghela napasnya sekali lalu mencari nomor ibunya kembali. Kemudian ia menempelkan layarnya di telinga kiri sambil menunggu ibunya menerima panggilan. Ini tak butuh waktu lama, karena ibunya juga tidak sibuk. Memangnya apa yang ia lakukan bila dirumah?

            “Oh? Eomma! Sedang apa sekarang? Merajut? Memangnya bisa? Oh, iya aku lupa kalau ibu mewarisi keahlian halmeoni[1],” ucap Minseok sambil tertawa. “Oke, kita langsung ke topik permasalahan. Ini tentang Minhee.”

            Minseok bisa mendengar ibunya berhenti merajut saat mendengar nama anak bungsunya disebut.

            “Aku tahu kalau Minhee sangat kesepian semenjak ibu membuka restoran di luar kota dan membuat ibu tidak bisa sering berada di rumah. Dan juga semenjak noona bertunangan dan akan segera menikah. Aku ingin Minhee ada bersamaku, karena hanya aku yang sering punya waktu luang. Tapi, tidak mungkin aku membawa Minhee ke asrama, dan tidak mungkin juga aku keluar dari asrama. Kemarin aku mengajak Minhee kerumah teman sekolahku dan dia bilang kalau dia juga punya adik kecil yang sama kesepiannya dengan Minhee. Aku bersyukur Minhee bisa akrab dengannya, karena sebelumnya Minhee tidak pernah menginginkan untuk mengenal siapapun selain keluarga kita. Dan kemarin juga Minhee mengatakan ingin tinggal bersama adiknya dirumah itu. Jadi, aku harap ibu mau memberikannya izin.” Minseok akhirnya menyelesaikan perkataannya. Namun, tak ada respon dari ibunya. Minseok menjauhkan ponselnya dan mengecek ibunya masih tersambung atau tidak (ternyata masih). “Halo? Eomma?” panggil Minseok kemudian.

            “Tidak. Ibu tidak mengijinkannya.” Terdengar suara ibu Minseok yang bergitu datar dan sepertinya ibunya tidak menyukai gagasan Minhee tentang ingin tinggal dirumah orang lain yang baru saja ia kenal.

            “Kenapa, bu? Apa ibu sudah mempunyai rencana lain untuk Minhee?” tanya Minseok sedikit terkejut dan tidak suka dengan keputusan ibunya.

            “Ya. Ibu berencana ingin membawa Minhee bersama agar ibu tidak khawatir dengannya dan ibu bisa mengawasinya.”

            “Apa Minhee menyetujuinya? Aku tidak yakin Minhee mau,” tanya Minseok lagi. kini muncul rasa tidak senang dari Minseok. Duduknya jadi tidak tenang. “Dia makin tidak punya teman dan kesepian, bu. Hanya aku temannya didunia ini. Noona sama sekali tidak ingin bermain dengannya. Ibu tidak tahu, kan, kalau kemarin Minhee datang ke asramaku sendirian?”

            Sekali lagi, Minseok mendengar ibunya berhenti merajut. Suara dentingan jarum baja yang ditaruh diatas meja kaca terdengar sangat lirih namun masih bisa didengar oleh Minseok. Dia tahu ibunya akan terkejut. Minseok tahu itu, karena ibunya akan meletakkan apapun yang ada ditangannya bila merasa terkejut atau tidak percaya pada apapun yang ia dengar dan lihat.

            “Kalau ibu berpikir aku bercanda, tidak seharusnya ibu berpikir begitu. Ibu, kan, tahu aku tidak pandai membuat lelucon?” Minseok berpikir ia sudah menyudutkan ibunya. Maafkan aku, bu. “Oke, begini saja. Ibu bisa membicarakan ini pada Minhee. Yang aku tahu dari Minhee, terakhir kali ibu berbicara padanya saat noona akan bertunangan. Mungkin ini saat yang tepat untuk kembali berbicara padanya. Oke? Aku tutup.”

            Minseok akhirnya mematikan panggilannya. Kemudian ia taruh ponselnya di sampingnya. Ia menghela napas panjang lalu menyipitkan mata saat angin kencang menerpa tubuhnya. Ia menyadari sesuatu setelah berbicara pada ibunya. Keluarganya perlahan-lahan menjadi orang asing. Kakak tertuanya, Kim Mi Soo, mulai menyibukkan diri dengan acara pernikahannya yang akan dilaksanakan dua minggu lagi, tak jauh berbeda dengan ibunya. Seharusnya, keluarga itu tidak seperti ini. Kehangatan dan rasa nyaman akan namanya keluarga tidak pernah ia rasakan lagi. Terkadang, Minseok merindukan sosok ayahnya yang entah sekarang berada dimana.

****

            Minseok akhirnya tiba di kamar asramanya jam tujuh malam. Berjalan di koridor asrama bukanlah hal yang bagus bagi dirinya yang tidak suka diperhatikan orang-orang. Dia bisa saja lewat pintu darurat karena jarak kamarnya hanya tiga kamar. Namun, kali ini ada yang aneh. Pintu darurat tiba-tiba saja terkunci. Mungkin para Ketua Asrama dan Senior sudah tahu kalau pintu darurat selalu digunakan siswa untuk melarikan diri. Jadi, Minseok terpaksa lewat pintu utama. Minseok beberapa kali mendapat bisikan dan perhatian dari orang yang ia lewati. Rasanya tak nyaman untuk Minseok. Saat ingin membuka pintu asramanya, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam dan munculah Luhan di ambang pintu. Dia sedikit terkejut melihat Minseok.

            “Aku baru saja akan mencarimu,” ucap Luhan masih terkejut.

            “Terima kasih atas perhatianmu.” Minseok pun masuk setelah Luhan memiringkan tubuhnya dan memberinya jalan untuk masuk. Kemudian Luhan menutup pintu dan mengikuti Minseok dari belakang sampai ke dalam kamar.

            “Apa ibumu mengijinkan Minhee?” tanya Luhan tiba-tiba.

            “Tidak sama sekali,” jawab Minseok lemas sambil menaruh tasnya di atas kasur, kemudian membuka satu-persatu bajunya.

            “Kau sudah mengatakan semuanya pada ibumu? Tentang kemarin?” desak Luhan.

            “Sudah,” jawab Minseok lagi, sambil membuka lemari pakaiannya kemudian mengambil sehelai kaos putih dari dalam sana. “Ibuku ingin membawa Minhee bersamanya. Tapi, aku tidak yakin itu hal yang bagus,” ucap Minseok kemudian setelah mengenakan kaosnya.

            “Apa aku harus membawa Laoyi kerumahmu?” gumam Luhan kesal.

            “Hanya ada satu cara lagi. Ibu pasti akan menurut. Kalau yang ini tidak bisa juga, kita bawa Laoyi kerumahku,” kata Minseok sambil memandangi Luhan serius. Luhan pun mengangguk setuju.

            Malamnya, Minseok masih terjaga di tempat tidurnya. Wajahnya diterangi oleh cahaya ponselnya yang menyala. Ia tidak berani menyalakan lampu, takut Suho marah padanya (Suho tidak bisa tidur kalau lampu menyala). Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Minseok berpikir kakaknya pasti sudah pulang dari butik. Jadi, ia memutuskan untuk menelponnya sekarang.

            “Ne, noona? Apa kabarmu? Oh, aku baik-baik saja. Sekolahku juga menyenangkan. Apa kau sedang sibuk? Baguslah kalau tidak. Oh iya, noona ingat dengan Luhan? Ah, iya! Pria cantik itu! Dia—“

            “Ya! Berisik! Pergi keluar sana!” bentak Suho kesal, lalu kembali tidur lagi. Minseok pun pergi meninggalkan kamar dengan segala umpatan tak bersuara. Ia memilih tempat di balkon dan berharap tidak akan ada yang terganggu lagi setelah ini. Lalu minseok kembali menempelkan ponselnya di telinga kirinya.

            “Noona, mianhae. Temanku agar sedikit sensitive akhir-akhir ini. Mungkin dia sedang pubertas atau semacamnya. Oke, kita lanjutkan yang tadi. temanku Luhan punya adik perempuan yang seumuran dengan Minhee. kemarin aku mengajak Minhee kerumah Luhan. Aku kira Minhee tidak akan mau bermain dengan adiknya, Laoyi. Namun, dengan cepat Minhee bisa beradaptasi dengan Laoyi dan mereka menjadi akrab satu sama lain. Ah! Kau sudah mendengarnya dari eomma? Jadi, apa kau menyetujuinya?”

            “Aku sebenarnya setuju. Tapi, ibu tidak mau mendengarkanku. Aku pikir itu bagus untuk Minhee bisa punya teman yang seumuran dengannya, apalagi Minhee langsung akrab dengannya. maaf, noona tidak bisa membuat Minhee senang.”

Mendengar jawaban kakaknya yang positif dan mendukung, wajah Minseok berubah menjadi cerah.

            “Tidak apa-apa, noona. Kalau begitu, noona bisa membantuku? Kapan noona ada waktu?”

****

TBC…. (Komentarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

[1] Nenek.

3 thoughts on “Dorm (Chapter 8)

  1. Hyesung berkata:

    sebelumnya maaf bru komen,,,
    sebenrny aku silent rider salam kenal🙂

    Kenapa ga setuju sih??
    bukanya ngga ada yg ngurus Minhee semuanya sibuk kan kasian kalo dia kesepian msa Minseok harus keluar Asrama hanya untuk nghibur Minhee,,
    ok lah dilanjut tpi jgn lama2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s