Reflection (Chapter 6)

Reflection poster

Title                 : Reflection (Chapter 6)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol

Genre              : Family, Brothership , Fantasy, School life

Rating             : General

Length             : Chaptered

Disclaimer       : All cast belong to God, parents and SMEnt.

Summary         :“Apa kau sekarang mulai tertarik padanya? Bukankah dulu kau membencinya?”

 

.

Sebelumnya     : Chapter 1 , Chapter 2 , Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5

Yoona menghela nafas panjang, merasa bodoh karena pikirannya semakin bebal. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Bukan waktunya kini memikirkan mimpi. Ia memiliki Yunho yang harus di prioritaskan. Suaminya itu belum sadar, bahkan kesehatannya semakin menurun tiap harinya. Dan itu bukanlah sesuatu yang bagus baik untuk Yoona maupun untuk putranya, Luhan.

.

-xoxo-

.

Yoona mengusap pelan puncak kepala Luhan. Membuat anak itu menggeliat di tempatnya. Luhan yang merasa terusik diperlakukan seperti itu menggumam dengan mata masih terpejam erat.

“Sebentar lagi, eomma. Masih ngantuk.”

Wanita itu tersenyum kecil. Masih memperhatikan Luhan yang kini ganti bergelung dengan selimutnya. Ia tahu, Luhan pasti sangat lelah. Menjalani pendidikan dan pekerjaan sekaligus membuat putranya tak punya waktu istirahat. Hampir setiap hari Luhan pulang tengah malam dari perusahaan, belum lagi tugas sekolahnya kadang telah menunggu dan membuatnya sama sekali tidak bisa tidur tenang.

“Kau mau makan sesuatu? eomma akan keluar membeli sarapan.” ujarnya lembut.

Luhan menggeleng, tanpa repot-repot membuka matanya.

“Arraseo, tidurlah lagi. Manfaatkan akhir pekanmu ini.” sambung Yoona sambil beranjak. Ia keluar dari ruang rawat suaminya. Meninggalkan mereka berdua sejenak.

Sepeninggal Yoona, Luhan tak lantas melanjutkan tidurnya. Ia terduduk, menghembuskan nafas pelan sambil menerawang. Sebenarnya ia tak bisa tidur. Ia merasa tak nyaman karena ini hari libur. Dan artinya ia tak bisa bertemu dengan Oh Sehun.

“Kenapa aku jadi memikirkan Sehun terus-terusan?” gumamnya pada diri sendiri. Ia melihat sekeliling kamar. Hanya ada ayahnya dan segala peralatan medis yang membantu sang ayah agar tetap hidup. Miris, ia masih merasa sangat bersalah pada lelaki paruh baya itu yang hingga kini tak sadarkan diri. Luhan ingat, gara-gara ia ingin sekali menemui Sehun, ayahnya menjadi celaka. Menjadi koma seperti ini.

Luhan beranjak, mendekati ayahnya dan duduk di kursi terdekat dengan brankar. Ia meraih tangan Yunho, menggenggamnya erat dan menempelkan pada pipinya. Persis seperti yang biasa Yunho lakukan, mengusap pipi Luhan pelan.

“Appa, kapan kau bangun? Aku sudah mulai memasuki perusahaan. Cepat sadar, appa. Ayo kita lakukan pekerjaan bersama-sama. Kita pasti akan menjadi partner yang sangat hebat!” Ucapnya semangat. Seolah ia sedang membujuk lelaki yang tak sadarkan diri itu agar cepat membuka mata.

Sedetik kemudian, butiran kristal bening mengalir dari pelupuk matanya. Luhan sedih, ia lelah, namun ia harus tetap bertahan demi semuanya. Demi orang tuanya, demi perusahaannya, dan demi Sehun.

Entah, seakan ia telah terjerat sebuah tali kokoh yang mengikatnya dengan sosok Sehun. Kehangatan yang menyelimuti hatinya ketika bersama anak itu, Luhan takut jika ia tak bisa lagi merasakannya. Sehun seperti morfin, dan Luhan telah kecanduan racunnya.

.

-xoxo-

.

“Tidak ikut? Kau yakin?” untuk kesekian kali Chanyeol menanyakan hal yang sama pada sahabatnya, dan untuk kesekian kali pula Sehun menggeleng.

“Baiklah, aku tahu kau pasti ingin bermanja-manja dengan ahjumma.”

“Ssshh! Sudahlah, jika mau pergi ya pergi saja.” sahut Sehun. Ia benci jika diolok-olok seperti itu. Ia bukan anak manja, ia hanya ingin menemani ibunya yang jauh-jauh datang dari kampung. Apakah itu berlebihan?

Oh ahjumma seperti telah mengetahui isi kepala Sehun, ia mendekati putranya, lalu berbicara dengan lembut. “Pergilah bersama Kris dan Chanyeol, sayang. Eomma tidak apa-apa jika harus tinggal.”

“Tidak eomma, aku tidak ingin pergi.” tandasnya sekali lagi.

“Ya sudah.” akhirnya Chanyeol mengalah. Ia berjalan menuju garasi dimana Kris sedang menyiapkan mobilnya, bersiap untuk menghabiskan akhir pekan, mengeliligi kota Seoul dan bersenang-senang.

“Sehun.”

“Apa lagi, hyung? aku bilang aku tidak mau ikut, ish!” Sehun membentak kesal, apa Chanyeol tuli? bahkan ia sudah menolak berkali-kali.

“Apa sih! aku hanya ingin tahu, apa kau mau ikut menjenguk ayah Luhan nanti malam?”

.

-xoxo-

.

“Apa kau mau ikut menjenguk ayah Luhan nanti malam?”

Pertanyaan Chanyeol masih terngiang-ngiang di kepalanya sejak sahabatnya itu pergi. Ia tak menjawab, masih menimbang-nimbang ajakan Chanyeol. Apa dia harus ikut menjenguk?

Menjenguk ayah Luhan berarti sama saja mengunjungi keluarga kandung yang telah membuangnya. Di satu sisi, Sehun ingin sekali menemui mereka. Melihat dari dekat bagaimana keadaan keluarga kandungnya yang selama ini hanya dapat ia amati dari jauh. Namun di sisi lain, ia tak siap. Ia takut, lebih tepatnya. Takut akan semakin membenci Luhan jika melihat kebahagiaan mereka. Takut perasaan dengki itu kembali membekukan hatinya yang perlahan mulai mencair oleh ketulusan saudara kandungnya.

“Sudah saatnya kau bertemu dengan mereka.” suara lembut itu membuyarkan lamunan Sehun. Ia menoleh, menatap lurus mata wanita yang telah membesarkannya. Teduh, ibunya selalu memiliki tatapan sejuk yang sanggup menenangkan hatinya.

“Pergilah, nak.” ucap ibunya kembali.

Sehun menggigit bibir bawah. Matanya berkaca-kaca, namun sekuat tenaga ia menahan agar air mata itu tidak jatuh. Ia rapuh jika menyangkut masalah keluarga kandungnya. Dan ia tidak mau ibunya tahu kelemahan terbesarnya itu.

“Bagaimana jika aku tak sanggup, eomma?”

“Anak eomma sudah besar. Anak eomma pasti sanggup menghadapinya.”

Sehun menggeleng, berpaling ke arah samping karena air matanya kini benar-benar lolos. Oh ahjumma menangkupkan kedua tangannya pada pipi Sehun. Mengusap sungai kecil yang terbentuk di sana. “Cepat atau lambat mereka akan tahu. Jangan ragu. Mereka tidak bersalah, mereka hanya tak tahu kebenarannya.”

.

-xoxo-

.

Langkah kaki mereka menggema di koridor rumah sakit. Dengan langkah gontai, Sehun mengekor Chanyeol yang berjalan mantap di depannya. Ia tak tahu apakah ini keputusan yang benar. Namun jika ini keputusan yang salah, ia tentu sudah tak memiliki kesempatan untuk mengubahnya. Karena ruangan Jung Yunho –ayah Luhan sudah berada di depan mata.

“Annyeonghaseyo.” Chanyeol membungkukan badan sembari memasuki ruang inap VIP tersebut. Menyapa siapapun yang berada di dalam –yang Sehun prediksi merupakan anggota keluarga kandungnya- dengan nada ramah. Samar-samar ia mendengar suara wanita yang menyambutnya. Ah, apa itu…ibunya?

Beberapa detik berlalu, Sehun hanya berdiri di depan pintu tanpa bergeming sedikitpun. Ia bingung, seperti tak memiliki keberanian untuk masuk bahkan menemui orang-orang yang ada di dalam. Bayangan wanita anggun yang diam-diam ia cari informasinya, serta lelaki yang saat ini sedang terbaring di atas brangkar benar-benar mengusik pikirannya. Apa dia harus menjadi pecundang malam ini? Melarikan diri sebelum Chanyeol menyadari ketidak beradaannya? Atau, ia harus menguatkan hati sekali lagi untuk memasuki ruangan tersebut?

Sehun membuang nafas berat. Ia memutuskan memilih opsi kedua alih-alih harus mendengar omelan Chanyeol nanti malam. Tidak akan. Pikirannya sudah terlalu bebal saat ini, dan bisa meledak kapan saja jika ia memaksakan diri bertengkar dengan sahabat cerewetnya itu .

Sehun meraih gagang pintu, mengambil nafas sejenak sebelum membukanya. “Annyeonghaseyo.” serunya sambil membungkukan badan.

Pemandangan pertama yang tertangkap retinanya adalah sosok lelaki yang berbaring dengan berbagai peralatan medis di seluruh tubuhnya. Persis seperti apa yang ia bayangkan. Melihat itu, entah kenapa hati Sehun mencelos. Ada kepedihan yang ia rasakan menyaksikan ayah kandungnya tergolek tak berdaya seperti ini.

“Appa.” lirihnya dalam hati.

“Sehun!” suara riang itu terdengar di telinga Sehun, memaksa dirinya kembali pada kenyataan. Ia menoleh, mendapati Luhan tengah tersenyum di tempatnya. Sedangkan di sebelahnya, itu…itu adalah…Im Yoona? benarkah itu Im Yoona? ibu kandungnya?

Sekali lagi rasa sesak menyelimuti hatinya. Seakan udara menolak masuk ke dalam paru-parunya. Bahkan ini sudah sangat menyakitkan, sangat menyakitkan dapat melihat ibu kandungnya tanpa bisa mengaku bahwa ia adalah darah dagingnya.

Yoona terpaku di tempatnya, tak berpaling sedikitpun dari sosok Sehun. Anak itu, anak laki-laki itukah yang selama ini mendatangi mimpinya? Tapi, mengapa anak itu berada di sini? Apa Yoona sedang bermimpi lagi?

“K..kau?” tercekat, Yoona kesulitan mengeja ucapannya.

“Sudah ku duga eomma akan terkejut. Bagaimana eomma? apa kami sangat mirip?” tanya Luhan sambil merangkul Sehun, ia terkikik geli.

Yoona masih memperhatikan keduanya. Terpaku, syarafnya seolah berhenti bekerja ketika ia mendapati kemiripan –ah bukan, kesamaan struktur wajah keduanya. Nafasnya tiba-tiba sesak ketika ia yakin bahwa anak itu adalah anak yang selalu mendatanginya lewat mimpi. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa Luhan mengenalnya?

Yoona menelan ludah sejenak. “S-siapa dia, Luhan?” tanya wanita itu kemudian.

“Ini Sehun, eomma. Dia teman sekolahku. Sehun, ini eomma.” Luhan yang berada di antara mereka mencoba mengenalkan keduanya.

Eomma? apa kata ‘eomma’ yang Luhan ucapkan tadi merujuk pada eomma mereka berdua? apa Luhan mencoba memberi tahu Sehun bahwa di depannya ini adalah eomma mereka, bukan hanya eomma Luhan?

Sehun pasti sudah berhayal sangat tinggi sekarang. Tentu saja Luhan tak mungkin berfikir demikian. Tentu saja maksud kata ‘eomma’ adalah eomma Luhan saja. Bukan eomma Sehun juga. Ck! sadarlah Oh Sehun!

Sehun merasakan tangan Yoona menyentuh pipinya. Wanita itu berkaca-kaca. Ia memperhatikan Sehun dengan sangat seksama. Tunggu— Im Yoona berkaca-kaca? tapi mengapa? apa wanita itu sudah tahu kebenarannya? Apa wanita itu menyadari bahwa dia -Sehun- adalah anak kandungnya?

Banyak yang mengatakan bahwa insting seorang ibu sangat kuat. Dan demi Tuhan saat ini Sehun sedang berharap jika insting Yoona bekerja dengan baik agar ia tak perlu repot-repot menjelaskan yang sebenarnya. Ia ingin Yoona mengetahui dengan sendirinya. Apa itu berlebihan?

“Eomma..kenapa menangis?”

.

-xoxo-

.

Suasana canggung itu sedikit demi sedikit berangsur mencair. Chanyeol, dengan banyolan khasnya membuat Luhan dan keluarganya tak henti-hentinya tertawa. Tak terkecuali Sehun, walau tak dipungkiri rasa tidak nyaman masih mendominasi, ia mulai terbiasa karena Yoona dan Luhan memperlakukannya dengan baik. Sehun tahu, Yoona masih saja mencuri pandang padanya. Ia bahkan beberapa kali mendapati mata itu bertatapan langsung dengan matanya. Namun sebisa mungkin ia bersikap biasa pada ibu kandungnya itu. Sehun teman Luhan. Ya, peran itulah yang sedang ia jalankan saat ini. Dan ia harus berusaha ekstra menahan gejolak hatinya yang kian menggebu-gebu.

“Kau beruntung sekali, Luhan. Benar-benar beruntung.” Chanyeol mengomentari cerita-cerita Luhan tentang kehidupannya selama ini.

“Aku memang beruntung. Tapi itu sebelum aku masuk perusahaan.” sambar Luhan. Kemudian anak itu mengaduh karena Yoona dengan sigap memukul kepalanya.

“Ya, Jung Luhan! Jadi kau bilang hidupmu suram sejak masuk perusahaan? Durhaka sekali kau!”

“Aissh, eomma! Aku hanya bercanda. Bercanda eomma.” gerutunya. Mungkin jika saat ini hanya ada mereka berdua, Luhan sudah melakukan hal-hal jahil dengan telekinesisnya untuk menggoda ibunya. Tapi ia tak mungkin melakukannya di depan Chanyeol. Apalagi Sehun, sahabat barunya.

Chanyeol terbahak melihat tingkah ibu dan anak yang ternyata sangat dekat ini. Tak disangka, Im Yoona yang terkenal keanggunannya memiliki selera humor jika bersama putranya.

“Kau seharusnya bangga bisa menjadi penerus appa-mu.” celetuk Sehun. Untuk pertama kali ia membuka suara, dan ucapannya berhasil menarik perhatian seluruh penghuni ruangan.

“Maksudmu?”

“Yeah, tak semua orang seberuntung dirimu bukan?”

Termasuk aku..

“Dengarkan kata Sehun, kau itu beruntung, Jung Luhan.” Yoona menimpali.

Luhan kemudian mendesah. “Ya ya ya, aku tahu eomma. Dan haruskah aku mengganti namaku menjadi Luhan-Si-Anak-Beruntung? Sepertinya semua orang menganggapku beruntung saat ini.” candanya lagi.

“Ya! Jung Luhan!!!”

.

-xoxo-

.

Gemerisik dalam ruang inap VIP berhasil mengusik pendengaran sang empunya. Gelak tawa anak-anak, suara seorang perempuan, Yunho yakin bahwa dirinya kini mulai tersadar dari tidur panjangnya. Gelap, lelaki itu masih berusaha membuka mata dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Tubuhnya seakan lumpuh tak dapat di gerakan sedikitpun, bahkan untuk bernafas, ia rasa ia tak mampu melakukannya tanpa bantuan tabung oksigen yang terpasang di hidungnya.

Untuk kesekian kali, ia berharap bahwa seseorang menyadari keadaannya yang mulai pulih. Namun sekeras apapun ia berusaha, tetap saja ia tak bisa menunjukan tanda-tandanya. Ia harus puas dengan hanya mendengarkan percakapan mereka. Setidaknya keluarganya tak larut dalam kesedihan, setidaknya keluarganya masih bisa tersenyum seperti ini. Begitulah persepsi Yunho. Ia sedikit lega bisa mendengar suara Luhan yang menggoda istrinya. Dan juga, omelan istrinya yang masih saja belum berubah. Yunho terharu. Entah sudah berapa lama ia meninggalkan mereka seperti ini. Ia tak ingin mengingatnya. Saat ini, ia hanya ingin kembali pada mereka seperti sedia kala.

.

-xoxo-

.

“Terimakasih Chanyeol, Sehun. Terimakasih sudah berkunjung kemari.” Yoona tersenyum tulus pada mereka. Keduanya membalas dengan membungkukan badan sebelum pergi meninggalkan ruangan Yunho.

Ini sudah hampir pukul sebelas. Sudah saatnya mereka kembali. Kris akan menggantung mereka hidup-hidup jika mereka belum juga kembali sampai larut malam.

“Kami akan datang kembali lain waktu.” ucap Chanyeol.

“Seharusnya kau tidak berkata demikian. Itu sama saja kau berharap appa-ku tak pulih-pulih, tahu.”

“Ah, tidak-tidak.” Chanyeol mengibaskan tangan. “Bukan begitu maksudku. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk appa-mu. Agar suatu saat aku bisa mengunjungi rumahmu, bukan rumah sakit ini. Benar kan, Sehun?” tambahnya menyenggol lengan Sehun.

Sehun yang sedari tadi sedang memperhatikan Yunho tersentak kaget. “Y-ya. Itu benar. Kami juga ingin berbincang dengan appa-mu.” Jawabnya gugup. Yoona yang memperhatikan gerak gerik anak itu sedikit merasa janggal. Ada apa dengan anak ini?

“Baiklah. Kita pamit. Annyeong.” Chanyeol kembali membungkuk, disusul dengan Sehun melakukan hal yang sama. Kemudian dua bersahabat itu berbalik untuk segera meninggalkan rumah sakit ini.

“Aku akan mengantar mereka sampai luar, eomma. Masuklah, temani appa.”

“Baiklah. Hati-hati kalian.”

“Nde.”

.

-xoxo-

.

“Sekali lagi terimakasih, kalian memang sahabatku.”

“Apa kau selalu bersikap kaku seperti ini di depan sahabat-sahabatmu, Jung Luhan?” canda Sehun.

Luhan mengeryit. Tak mengerti apa maksud Sehun barusan.

“Itu karena dia memiliki sopan santun. Tidak sepertimu, Oh Sehun! Kajja, jangan menggoda Luhan terus. Dia butuh istirahat.”

“Ah, padahal aku masih ingin melihat muka polosnya.”

“Apa kau sekarang mulai tertarik padanya? Bukankah dulu kau membencinya?”

“Ya! Aku tidak membencinya.” sahut Sehun. Ia melirik sekilas pada Luhan. Takut terjadi kesalah pahaman lagi.

“Aku tahu. Kau tidak membenciku.” seolah tahu isi kepala Sehun, Luhan tersenyum kecil.

Luhan mengantarkan mereka sampai jalan raya. Karena sudah hampir tengah malam, tidak mungkin mereka mengandalkan bus yang biasanya menjadi kendaraan umum favorit. Mereka mencoba menghadang taksi yang lewat. Namun sepertinya jam-jam seperti ini supir taksi sudah memilih tidur alih-alih berkeliaran mencari penumpang.

“Sepertinya kami akan menunggu di seberang jalan. Kau kembali saja ke kamar appa-mu. Aku tak apa-apa bersama Sehun.”

“Kalian yakin tak mau ku tunggui?”

“Ck! kau pikir kami anak kecil?” Sehun menyahut.

“Baiklah, hati-hati.”

Luhan kemudian berbalik meninggalkan mereka. Tak sampai beberapa langkah, telinganya menangkap suara jeritan disusul dengan klakson nyaring khas kendaraan bermuatan berat.

“SEHUUUN AWAAASSS….!!!!”

Seketika ia berbalik mendengar teriakan Chanyeol. Matanya menangkap sosok Sehun di tengah jalan dengan truk besar yang melaju kencang ke arahnya.

Brraakkk!!!!

Hantaman keras itu cukup memekakan telinga siapapun yang mendengarnya. Luhan memejamkan mata, begitu juga Chanyeol yang berada di seberang. Bahkan tubuh Chanyeol mulai bergetar mendengar suara tabrakan di depannya. Demi tuhan, itu Sehun.

Luhan mulai membuka matanya dan melihat sekeliling. Pemandangan pertama yang ia tangkap adalah seonggok truk container yang telah berguling ke arah samping, dengan darah segar mengalir di bawahnya. Jantungnya berpacu kencang melihat itu semua.

Sehun, ia mencari sosok Sehun yang sampai saat ini tak ia temukan. Ia berlari menghampiri ‘bangkai’ truk yang mulai ramai dikelilingi warga sekitar. Matanya terus menelusuri tubuh yang tergencet badan truk. Hatinya mencelos.

“Ya Tuhan.” gumamnya nyaris tercekat.

Ia bahkan sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya ketika jasad itu di bawa. Air matanya lolos bercucuran. Seolah memberi tanda bahwa hatinya kini ikut remuk bersama jasad itu.

Luhan terduduk. Tangannya memegangi kedua kakinya yang ia lipat. Ia terisak seorang diri. Merutuki kelalaiannya membiarkan Sehun menyeberang seperti itu. Isakannya kian terdengar memilukan ketika Chanyeol menghampiri. Memeluk tubuh Luhan dengan air mata yang sama derasnya.

“Se..hu..n Y..yeol.” ucapnya terbata. Ia merasakan dekapan Chanyeol semakin erat. Seolah sahabatnya itu tengah memberi tahu bahwa ia juga sama terpukulnya dengan Luhan.

Mereka bangkit dengan saling berangkulan. Saling menguatkan satu sama lain atas kenyataan yang baru saja mereka terima. Chanyeol terus menepuk pundak Luhan yang terlihat sangat terpukul. Hingga membuatnya harus berjalan dengan langkah terseok seperti ini.

“Beritahu aku, Chanyeol. Beri tahu aku jika semua ini adalah mimpi.”

.

.

-TBC-

Iklan

27 thoughts on “Reflection (Chapter 6)

  1. ramon berkata:

    he? kecelakaan? O.O
    sehun kamu kan punya kekuatan kenapa tidak digunakan haaaa kan jadi ketabrak T0T)/
    eonni! sejujurnya aku agak lupa sama part kmrn tp pas baca depannya dr part kemaren aku udah inget lagi hehe~
    tenang eonni, aku gak akan komplain eonni lama updatenya *soalnya aku juga gitu hehe._.)v
    ditunggu chap selanjutnya eonni! jjang^^

  2. ajeng sarwendah berkata:

    Hah,Sehun kecelakaan ? Kenapa ngga pake kekuatannya aja ? Aku kira Sehun nanti reflek pake kekuatannya :D. Pokoknya di tunggu kelanjutannya #fighting !!!

  3. Bintang Ananda berkata:

    yaaa!! authornimmm!!! sehun nya knp? kegencet truk? ASTAGA!! DAEBAK!! jgn dongg;: kan sehun punya kekuatan anginnnnnnnnnnn knp kegencet truk.ih?? jeballlll authornim:”

  4. amelia berkata:

    sehun ketabrak mobil?
    apa mimpinya yang di terima yoona itu kayak pertanda gitu ??
    yaampun.. ngk tega dehkan jadinya…
    nextnya di tunggu deh thor..

  5. Nuraya berkata:

    Tidaaaaaaaakkk~~
    Sehun tidak boleh meninggal, nanti luhan akan sedih terus 😥
    ini tidak nyata kan eon? Pasti yg kegencet truk itu bukan sehun, iya kan?

    Next eon penasaran bangeut~
    #Fighting! 😀

  6. junia angel.58 berkata:

    Sehun bneran ke tabrak??? itu bneran Sehun yg ke gencet truk aku msih blum percya masih syok :O
    klu ea apkah dri sni akan ktauan klu Sehun saudra kandung Luhan??
    lnjut thor di tunggu next chapnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s