My Baddest Copycat

My Baddest Copycat

 

Author               : Nam Hae Rin

Judul                 : The Baddest Copycat

Tag                    : Kris/Wu Yi Fan, Oh Sehun EXO, Special Girl and others.

Genre                : Brothership, Hurt

Rating               : T

Length               : Oneshoot

 

Catatan Author :

Terinspirasi dari EXO’s Showtime episode 9 saat Kris dan Sehun malas-malasan untuk pemanasan sebelum latihan T_T. Sekarang author juga udah buka blog sendiri loh /yeay/, yang mau ngunjungin bisa langsung ke [https://openthenotes.wordpress.com/]. Selamat membaca dan jangan lupa beri komentar dan saran.

 

Summary :

“Noona, aku akan membawanya padamu hari ini”, ujarnya lirih.

 

***

 

Siang itu kota Seoul disirami teriknya mentari yang bekerja untuk musim panas, terbukti bahwa panasnya kota itu dapat membuat siapapun berdahaga dengan setelan suhu pendingin ruangan setiap rumah yang menunjukkan angka 12 derajat celcius. Mentari boleh terik dan orang-orang boleh saja bermalas-malasan di rumah tetapi tidak untuk keenam namja yang sedang duduk di tengah lapangan basket yang tidak luput dari sapuan terik mentari.

 

Bisa kita lihat dengan jelas, keenam namja disana adalah anggota tim basket Universitas Dongguk yang bersiap untuk kejuaran musim panas. Ada Choi Minho, namja tinggi dengan mata besar yang sangat ahli dalam merebut bola, ia tampak sibuk memutar-mutar bola orange itu sambil memerhatikan teman-temannya yang tampak melemah, “Aku tidak menyangka kalian mudah sekali menyerah dengan musim panas”, celotehannya hanya dibawa angin.

 

Ada juga Kim Jongin, namja dengan kulit tannya yang menundukkan kepalanya, mungkin ia takut wajahnya semakin tan atau apa, sambil pura-pura tidak mendengar.

 

Di pinggir lapangan tampak dua orang namja yang sibuk dengan bekal makan siang mereka, Huang Zi Tao dan Kim Minseok, yah dua orang ini mungkin tampak bukan seperti pemain basket, tapi jangan sampai kalian menyesal dengan pikiran kalian itu.

 

“Bukan menyerah Minho yah, kami benar-benar lapar, apalagi ini musim panas, perut kami lebih cepat mencerna makanan”, ujar Minseok menjawab celotehan Minho dengan mulut penuh makanan.

 

“Lihatlah, kapten kita saja juga sudah tidak mampu berdiri lagi”, Tao menunjuk ke arah bawah ring basket.

 

Di bawah ring basket tampak namja dengan telinga seperti peri rumah sedang sibuk memijat punggung seorang namja tinggi menjulang yang memejamkan matanya dengan dingin, bayangkan saja sekarang sedang musim panas, tapi namja itu tetap kelihatan dingin. Oh ya, mereka adalah Park Chanyeol dan Kris Wu sang kapten basket.

 

“Apa yang bisa lakukan hyung, kita tidak bisa melawan musim panas bukan? Kita harus lebih sering latihan, tapi dengan waktu latihan lebih singkat agar tidak memforsir tenaga kita”, ujar Chanyeol yang masih sibuk memijat punggung Kris.

 

Kris hanya terdiam, timnya tau ia benar-benar frustasi sekarang, bayangkan saja mereka baru berlatih selama 30 menit, tapi stamina mereka sudah hampir habis. Musim panas ini benar-benar seperti penghisap stamina saja.

 

“Baiklah, sebaiknya cukup sampai disini latihan kita. Jika udara membaik aku akan menghubungi kalian”, ujar Kris sambil berdiri dan mengambil tasnya sambil berjalan meninggalkan lapangan.

 

“Hyuuuung!!”, teriak Minseok.

 

“Sudahlah biarkan ia menenangkan diri dulu”, ujar Tao mencubit lengan Minseok.

 

“Selalu saja seperti ini, dia selalu saja mengambil keputusan sendiri, egois!”, pekik Jongin ikut meninggalkan lapangan.

 

Anggota tim yang lain mengendikkan bahu mereka, pertanda tidak banyak hal yang dapat mereka lakukan.

 

Seorang namja dengan wajah bingung menatap Kris dari tepi lapangan basket yang tertutupi oleh pohon ek. ‘Ah jadi mereka teman-temanmu’, ujarnya

 

***

 

Pertandingan basket musim panas tidak berjalan lancar bagi tim basket Universitas Dongguk, mereka kalah telak dengan skor yang memalukan di babak perempatan final. Hal ini menjadi hal yang tidak menyenangkan, Jongin lebih banyak menyalahkan Kris karena ketidakdisiplinannya dalam membimbing tim. Ia keluar dari klub basket, dan parahnya dia keluar disaat klub itu membutuhkan orang-orang untuk melatih anak-anak baru yang akan masuk kedalam tim basket.

 

“Jongin ah, kenapa kau begitu egois. Ayolah, kami membutuhkanmu”, bujuk Minho saat Jongin hendak keluar dari pintu klub basket.

 

“Aku tidak akan bisa ada disini jika namja sok dingin itu tetap ada disini”, Jongin menunjuk Kris dengan dagunya.

 

***

 

Cafetaria tampak sangat ramai hari ini, banyak sekali wajah baru yang tampak belum familiar di pandangan mata. Kai berjalan dalam kerumunan itu, tiba-tiba seseorang menumpahkan segelas buble tea di celana jeansnya. Ia membelalakkan matanya sambil mencari sosok yang menumpahkan minuman -kekanakan- itu di celananya. Ia menemukannya. Ia seorang namja dengan wajah dingin, “Ups”, namja itu bergumam lalu pergi.

 

“Hei apa kau tidak tau sopan santun???”, teriak Jongin melihat kepergian namja itu.

 

“Kenapa aku harus berhadapan dengan orang-orang dingin yang egois hari ini, ya Tuhan!”, Jongin menghela nafasnya berat.

 

“Tunggu dulu, bukankah anak itu terlalu mirip dengan…”

 

Namja itu menyunggingkan senyumnya setelah menjauhi Jongin, ‘kena kau, batinnya’

 

***

 

Tao dan Minseok seperti biasa sibuk dengan bekal makan siang mereka di kursi panjang di samping pintu keluar cafetaria. Tiba-tiba saja seorang namja berjalan mendekati mereka lalu menatap mereka dengan sinis. Minseok membulat matanya melihat ekspresi namja itu, ia kemudian mencubit lengan Tao. Tao ikut melihat ke arah pandangan Minseok, ia terkesiap melihat mata namja itu, namja itu menggelengkan kepala lalu pergi meninggalkan kedua orang yang masih terkesiap.

 

“Bukankah tatapannya mirip dengan seseorang?”, tanya Minseok.

 

“Iya benar. Apakah dia adiknya…”, Tao memalingkan wajahnya ke arah Minseok.

 

Minseok segera berdiri dan menarik tangan Tao untuk keluar dari Cafetaria.

 

Namja itu tau kedua makhluk kelaparan itu mengikutinya, ia tersenyum dengan sinis, ‘Ayo laporkan aku padanya’, batinnya.

 

***

 

Chanyeol sedang sibuk dengan game di smartphonenya saat Minho mengahmpirinya di tangga menuju klub basket.

 

“Hei, apakah Kris sudah berbicara kepadamu?”, tanya Minho.

 

“Belum, ia masih seperti biasa. Pria dingin dari segala musim”, jawab Chanyeol.

 

Chanyeol ditabrak oleh seorang namja sehingga smartphonenya jatuh, “Hei kau tidak punya mata?? Kau menjatuhkan smartphoneku!”, pekiknya pada punggung namja itu.

 

“Kalau begitu maaf”, ujar namja itu sedikit menoleh lalu terus naik menggunakan tangga tempat Chanyeol dan Minho berdiri.

 

“Yaaaa!!!”, pekik Chanyeol.

 

“Hei, kau tidak lihat wajahnya?”, tanya Minho.

 

“Lihat. Menyebalkan”, Chanyeol mengelus smartphone yang baru ia pungut dari lantai.

 

“Bukan itu. Tapi cara dia berbicara dan gaya berpakaiannya, bukankah itu familiar?”, tanya Minho.

 

Chanyeol berpikir kemudian membelalakkan matanya, “Kau benar, dia mirip dengan…”.

 

“Bukankah dia tidak memiliki adik?”, tanya Minho.

 

“Ayo kita ke klub sekarang”, ujar Chanyeol.

 

Namja itu menoleh ke belakang sejenak, ‘Bagus, kalian sudah masuk dalam perangkapku’, batinnya.

 

***

 

Kris masih sibuk dengan puluhan formulir calon anggota klub basket Universitas Dongguk. Ia memeriksa riwayat kesehatan mereka dengan teliti, halaman demi halaman ia baca, ia tampak seperti seorang profesional yang bisa menilai seseorang dari biodatanya.

 

Tiba-tiba Chanyeol dan Minho masuk ke dalam ruangan tanpa menutup pintu, mereka menatap Kris dalam-dalam, Kris hanya menoleh sejenak lalu kembali pada kertas-kertas biodata itu.

 

Namun kemudian konsentrasinya terpecah lagi saat Minseok dan Tao menabrak Chanyeol dari belakang, kedua orang itu bernafas dengan tidak teratur seperti baru saja lari marathon. “Yaaa Kim Minseok!!”, pekik Chanyeol yang tampak kesakitan karena ditubruk oleh tubuh padat Minseok.

 

Keempatnya menatap Kris dengan seksama, mata mereka tidak berpindah sedikitpun.

 

“Apa-apaan ini? Kenapa kalian menatapku seperti itu”, dengan wajah malasnya.

 

“Lihatlah, bukankah ekspresi Kris barusan…”, Minseok menunjuk Kris sambil memalingkan kepalanya kepada Tao.

 

“Kalian juga meilhat anak itu?”, potong Minho.

 

Tao dan Minseok mengangguk dengan antusias.

 

“Apa-apaan ini? Aku sedang sibuk dan kalian ribut di ruangan yang bisa menggemakan suara kalian ini!”, ujar Kris dengan wajah paling datar miliknya.

 

Jongin tiba-tiba masuk ke dalam klub, ia mendapat tatapan mencurigakan dari semua mata.

 

“Kau juga melihat anak itu?”, tanya Minho.

 

Jongin bingung ia tidak mengerti apa maksud Minho, “Aku hanya ingin mengambil tasku, besok aku tidak akan kesini lagi”, ia berpikir sejenak kemudian mengambil tas ranselnya.

 

“Anak itu? Apakah anak berbadan tinggi dan berwajah Kris maksud kalian”, semua mengangguk kecuali Kris yang masih bingung dengan percakapan makhluk yang tak sejenis dengannya itu.

 

“Sepertinya kau akan mendapatkan saingan berat pangeran es”, ujar Jongin sambil menutup pintu klub basket.

 

Kris berusaha tidak medengarkan ucapan Jongin, ia melanjutkan pekerjaannya, sedangkan keempat anggota timnya terus membicarakan tentang entah siapa anak itu. Tiba-tiba matanya terhenti pada kertas biodata seseorang, ‘Oh Sehun?’, batinnya, ‘Aku seperti pernah meilhat wajahnya’, ia berusaha menekan ekspresi penasarannya.

 

***

 

Namja yang sedari tadi membuat masalah dengan anggota tim basket Universitas Dongguk itu tampak sedang sibuk dengan tablet di tangannya.

 

“Noona, aku akan membawanya padamu hari ini”, ujarnya lirih.

 

Ia segera menyimpan tablet itu ketika beberapa calon anggota baru menghampirinya.

 

***

 

Sore itu adalah pertemuan pertama anggota klub basket lama dengan calon anggota baru, para calon anggota baru diminta untuk berbaris dan memperkenalkan dirinya masing-masing di lapangan basket Universitas Dongguk.

 

Mata Minho menyapu setiap wajah-wajah baru di hadapannya dengan tatapan tajam. Matanya terhenti. Sosok itu. ‘Kris jadi-jadi ada disini’, batinnya.

 

“Chanyeol yaaaah!!”, teriaknya melambai-lambaikan tangan pada Chanyeol yang sedang asik menggoda anggota cheerleader baru.

 

“Waaaeee?”, Chanyeol balas berteriak.

 

“Kemari!”, panggil Minho. Chanyeol meninggalkan gadis-gadis yang masih terpesona oleh kharisma cassanovanya.

 

“Lihat, Kris jadi-jadian ada disini”, ia menunjuk namja yang kemarin menjatuhkan smartphone Chanyeol.

 

Kris berjalan memasuki pelataran lapangan basket, semuanya senyap, mata-mata yang tadinya sibuk kini fokus menatap kehadirannya. Minseok dan Tao menutup kotak bekal makan siangnya dan berdiri dengan tegap. Kai yang hadir di lapangan dengan terpaksa juga ikut berdiri menatap Kris yang menuju ke bawah ring basket.

 

Kris berdiri di hadapan barisan anggota baru yang telah berhasil lulus tes akademik sesuai dengan biodata yang mereka lampirkan kemarin, lebih tepatnya ada 15 orang yang lulus dari 150 orang yang melamar. Ia menatap wajah-wajah baru itu satu persatu, “Perkenalkan diri kalian mulai dari barisan paling kanan”, perintahnya dengan wajah datar.

 

Semua mata tertuju pada namja dengan perawakan mungil, berkulit putih dan bermata…benar-benar bulat. Ia terkejut, matanya makin membulat, kemudian menunjuk dirinya sendiri, “Aku?”.

 

“Ehem, a..ak..aku Do Kyungsoo, biasanya dipanggil Dio dan aku pernah menjadi anggota tim basket di sekolah, biasanya orang-orang memanggilku bayangan keenam (eciee udah kayak kuroko /abaikan/)”, kemudian ia membungkuk.

 

“Ia kira ini anime atau apa?”, celoteh Minseok menatap Kyungsoo dengan tatapan tajam.

 

Kris menoleh Minseok sejenak, lalu Minseok tertunduk pertanda bahwa dia mengaku salah. Perkenalan terus berlanjut, sampai akhirnya tiba giliran anak baru diurutan ke 12, lima mata senior menatapnya dengan tajam, kecuali Kris yang belum menyadari siapa namja itu.

 

“Aku Oh Sehun, pernah menjadi anggota basket di International High School Beijing”, ujarnya dengan wajah yang lebih datar dari wajah Kris dan suara yang sombong.

 

Kris yang sedari tadi tidak menoleh pada satu wajah pun, menolehkan wajahnya ke Oh Sehun karena ia merasa mendengarkan suara yang familiar di telinganya. Dia tebelalak sejenak, kemudian kembali mengatur sikap.

 

“Lihat, Kris bahkan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan sosok jadi…maksudku Oh Sehun itu”, ujar Tao pada Minseok yang mengangguk-ngangguk setuju.

 

Jongin sejenak menatap wajah Kris, ‘Kau terkejut bukan, bukan cuma dirimu yang bisa sesombong itu’, batinnya.

 

“Baiklah, sekarang aku akan menguji kemampuan kalian dalam bermain basket. Aku beri kalian waktu 10 menit untuk pemanasan, regangkan otot-otot kalian, karena ini bukan sembarang ujian”, Kris memberi perintah.

 

Oh Sehun -kris jadi-jadian- menggerakkan tubuhnya, semua pergerakannya diamati oleh kelima namja yang ada di lapangan itu, Kris juga memerhatikannya dari sudut lapangan.

 

‘Cara ia berpakaian, ekspresi wajahnya, cara ia menggerakkan tubunya, bahkan cara bicaranya. Ada apa dengan anak itu? Siapa dia sebenarnya?’, batin Kris.

 

***

 

Ujian kemampuan basket dimulai, Kris membagi mereka kedalam 6 tim, dengan 2 orang per tim dimana ada 3 tim yang berisi tiga orang. Oh Sehun dan Do Kyungsoo menjadi tim yang akan Kris uji kemampuannya, ia sengaja melakukan hal ini karena ia ingin mengenal Oh Sehun -tiruannya- lebih dalam.

 

Sehun menunjukkan segala teknik yang ia miliki, Kris terkesiap oleh setiap langkah yang ia buat, caranya menggiring bola, mengoper bola, bahkan cara ia menghindar dan mengambil keputusan sama dengan yang biasanya Kris lakukan saat bermain.

 

Kris tidak begitu memperhatikan Kyungsoo, tapi apa yang ia katakan mengenai bayangan keenam tampaknya benar, dia mampu mengecoh lawan dengan tubuh kecilnya dan merebut bola tanpa siapapun ketahui.

 

Ujian berakhir dengan helaan nafas berat setiap calon anggota baru, mereka masih harus menunggu hasil ujian karena pengumumannya akan ditempel besok di mading depan ruangan klub basket.

 

***

 

Kris menahan bahu Sehun ketika ia akan meninggalkan lapangan basket, “Hei, Oh Sehun, aku ingin berbicara denganmu”, Sehun mengangguk mereka menuju tempat duduk penonton.

 

“Ada apa?”, tanya Sehun tanpa embel-embel sunbae.

 

Kris mengernyitkan dahinya, ‘Benar-benar tidak sopan’, batinnya mendengus.

 

“Siapa kau sebenarnya, kenapa kau…”, Kris tertahan. “Begitu mirip denganmu?”, potong Sehun sambil mengangkat sebelah alisnya. Kris menatapnya dengan tajam.

 

“Ups, ada yang merasa seseorang telah menjadi copycatnya ternyata”, kekeh Sehun dengan nada menyindir.

 

“Hei, bisakah kau bertingkah sedikit lebih sopan Oh Sehun!”, pekik Kris kehilangan kesabarannya.

 

“Tenang tuan muda, kau akan kehilangan wajah dinginmu ketika kau marah”, ujar Sehun dengan wajah mencemooh.

 

“Yaa!!”, Kris berteriak, semua mata tertuju pada keduanya, tapi Kris segera melempar pandangan bahwa mereka tidak apa-apa.

 

“Oke, aku sudah tetangkap basah sekarang. Aku Oh Sehun atau mungkin kau mengenalku dengan nama Sebastian Liu”, ujarnya melirik Kris yang tampak kaget.

 

“Liu…”, Kris bergumam. “Ya, aku anak bungsu keluarga Liu. Karena ayah tiriku seorang bermarga Oh aku pun harus memakai nama Oh Sehun di Korea. Aktingku cukup baik bukan, aku berhasil menarik perhatian teman-temanmu dan tentu saja kau sendiri juga”, ujar Sehun bangga.

 

“Apa alasannya?”, Kris kembali menanyakan.

 

Sehun menundukkan kepalanya, “Kakakku…”.

 

“Ada apa dengannya??”, tanya kris membelalakkan matanya mendengar panggilan ‘kakak’ dari Sehun untuk seseorang.

 

“Dia…ah sebaiknya aku bawa kau ke tempatnya sekarang”, ujar Sehun menuntun Kris ke arah parkiran.

 

***

 

Sekarang Kris hanya diam, ia terus mengikuti Sehun yang membawanya ke sebuah rumah sakit.

 

“Kau sengaja meniru gayaku hanya untuk hal ini? Apakah dia bekerja disini?”, tanya Kris.

 

“Hal ini kau bilang? Oke aku mengaku salah, tapi jujur, sejak kau meninggalkannya dia merubahku untuk menjadi laki-laki yang persis seperti dirimu”, Sehun mengerucutkan bibirnya.

 

Mereka masuk kedalam lift, Sehun menekan nomor 14, yang menunjukkan lantai tujuannya.

 

“Gadis gila, dia bahkan mengirim adik yang diubahnya menjadi aku, setelah menolakku”, ujar Kris dalam gumamannya.

 

“Kau akan menyesal dengan ucapanmu”, Sehun menundukkan kepalanya. Kris hanya menatap Sehun dengan sinis.

 

***

 

Kris terpaku dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Gadis itu, dia adalah gadis yang ia sukai sejak kecil. Gadis itu, gadis yang telah membuatnya tidak ingin jatuh cinta pada siapapun. Ia membeku menatap tubuh mungil gadis itu, gadis itu terbaring lemah dengan segala peralatan medis yang menopang kehidupannya.

 

Di papan laporan hasil kesehatan yang tergantung di tempata tidur gadis itu tertulis, ‘Amber Josephine Liu’.

 

“Kau tau kenapa ia menolakmu?”, tanya Sehun, Kris hanya diam masih menatap Amber.

 

“Ia merasa tidak pantas. Ia telah menyukaimu sejak kalian remaja, ia juga berencana mengungkapkan perasaanya padamu sebelum ia tahu kalau dia tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi”, Sehun memulai ceritanya, kris masih diam sambil menatap peralatan penopang kehidupan Amber.

 

“Meningitis. Amber menganggap kau begitu sempurna dengan segala sikap dan penampilanmu, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk tetap mencintaimu. Ia menolakmu dengan alasan bodoh bahwa ia tidak suka laki-laki yang dingin, benar saja, ia bahkan mengubahku menjadi laki-laki yang dingin”, ujar Sehun sedikit terisak.

 

“Jangan salahkan dia lagi hyung, dia mencintaimu”, Sehun mengakhiri kata-katanya.

 

***

 

Dua bulan kemudian…

 

“Kau belum menyatakan cintamu padanya?”, tanya Kris pada Sehun dalam perjalanan mereka ke suatu tempat istimewa.

 

“Sudah, dia menolakku”, Sehun mengerucutkan bibirnya.

 

“Kau tidak tanya kenapa?”, Kris bertanyalagi sambil memarkirkan mobilnya di pelataran parkir.

 

Sehun hanya diam kemudian keluar dari mobil dan berjalan menjauhi Kris, Kris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Mereka sampai di sebuah taman kecil dalam lokasi pemakaman, ada sebuah pusara dengan tanda nama ‘Amber Josephine Liu’. Keduanya menunduk sejenak, kemudian menatap pusara itu lagi.

 

“Kau ingin menyesal dan melihat gadis itu berada disana”, menunjuk pusara Amber.

 

Sehun mendelik, “Dia tidak sakit, hyung”.

 

“Walaupun”, ujar Kris singkat. Sehun mengerutkan dahinya seperti berpikir.

 

“Lihat Amber, kau benar-benar membuatnya menjadi pria bodoh sepertiku”, Kris mendengus pada pusara Amber.

 

“Baiklah,baiklah, aku akan menemui gadis itu lagi besok”, ujar Sehun mengalah.

 

Kris tersenyum mendengar perkataan Sehun, ia kemudian mengacak-acak rambut Sehun.

 

“Dia copycat terburukku Amber”, ujarnya tersenyum pada foto di pusara Amber.

 

 

(END)

5 thoughts on “My Baddest Copycat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s