Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 1

Judul    : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 1

Author : BaoziNam

Main Cast :

                -Cindy Chou (OC)

                -Tao as Zitao

                -D.O as Kyungsoo

                -Luhan as Luhan

                -Kris as Kris

Additional Cast :

                -Luna f(x)

                -Jessica SNSD

                -Sandara 2NE1

                -Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre   : Friendship, Mystery, Romance, School Life, Friendship.

Rating  : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otakku. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Tolong komentar dan saran setelah readers setelah membaca fanfic Nam. No plagiat! Thanks ^^

 

****

                Hai. Namaku Cindy Chou. Nama yang terdengar tidak asing lagi bagi siapapun. Pasti ada banyak orang yang memakai nama ini di dunia. Tapi, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Ya, walaupun teman-temanku selalu bilang untuk mengubah nama atau memakai nama samaran agar aku mudah dicari di mesin pencarian. Kenapa begitu? Aku seorang model majalah dan juga aktris. Peranku tidak banyak. Aku hanya sering sebagai pemain pendukung dan belum pernah mendapat peran utama. Aku menyukainya karena tidak mengganggu hidupku dan waktuku.

                Aku bukan tipe orang pekerja keras untuk mendapatkan apa yang kumau. Aku adalah orang yang bebas. Aku suka traveling. Kalau tidak ada tawaran bermain film atau drama, aku biasanya sudah sibuk packing untuk pergi ke suatu kota atau negara. Aku juga suka bercerita. Aku adalah tipe orang yang suka menceritakan apa yang sudah aku alami kepada teman dekatku. Tapi, aku lebih suka membaginya kepada sebuah buku. Kurasa akan lebih baik kalau hanya buku itu yang mengetahui hari-hariku. Kau tahu? Aku tidak ingin menciptakan skandal dari perbincanganku dengan orang lain. Bisa saja mereka membocorkan rahasiaku karena dia tersinggung. Siapa yang tahu, bukan?

                Ini kulakukan semenjak aku mulai memasuki dunia modeling. Aku tidak cantik, tapi wajahku masih bisa menjual dan menghasilkan uang banyak. Aku tidak operasi seperti apa yang dilakukan orang banyak sekarang ini. Kecantikan yang sebenarnya tidak didapat dari ruang operasi. Karena itu, aku rutin mengkonsumsi makanan dan suplemen yang dapat menyehatkan tubuhku serta menjaga kecantikanku.

                Aku selalu menceritakan bagaimana sulitnya aku menjalani diet ketat selama sebulan sebelum Fashion Show digelar. Aku tidak makan kapas seperti apa yang dicontohkan oleh teman satu agensiku. Aku juga tidak makan sekali sehari atau bahkan tidak makan sama sekali. Aku hanya makan buah, susu, dan sedikit karbohidrat di menu makanku. Aku juga berolahraga. Aku adalah seorang maniak ayam. Karena jadwal itulah aku tidak bisa memuaskan ‘nafsu ayamku’ bila aku ingin. Berkat managerku, aku bisa memesan ayam secara diam-diam melalui ponselnya. Biasanya, penata mode-ku akan keheranan melihat diriku sedikit gendut dari biasanya. Aku hanya bisa menjawab:

                “Aku tidak buang air besar pagi ini.”

Ini memang konyol. Tapi, alasan itu masih bisa diterima olehnya dan kemudian ia memberiku beberapa baju yang agak besar untuk menutupi perutku yang katanya sedikit membesar.

****

Di awal bulan Juni ini, aku tidak mendapat tawaran pemotretan atau drama sekalipun. Oke, no problem. Aku bisa mengisi kekosongan dengan melakukan aktivitas lain.

                Pagi ini aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan menyusuri kota kelahiranku ini. Sudah lama aku tidak melihat-lihat kota yang semakin lama semakin sepi ini. Aku suka yang sepi. Pikiranku jadi tenang tanpa ada kebisingan dimana-mana. Beda dengan ibukota negaraku yang semakin lama semakin padat dan menyesakkan. Oh, aku bersyukur aku tidak dilahirkan disana. Temanku sering mengatakan kepadaku utuk segera melanjutkan pekerjaan modelku di ibukota. Dia juga bilang, aku tidak akan pernah kaya kalau selalu berjalan ditempat. Dia sangat takut aku mati sengsara nantinya.

                Aku berhenti tepat di depan sungai di pinggir kota ini. Kubersihkan tanah yang berada di sekitarku untuk kududuki. Aku pun duduk dengan kaki terlentang. Aku termenung sebentar dan kemudian mendapat suatu ide untuk menuliskan sesuatu di buku catatanku. Kubuka buku bersampul ungu lalu membolak-balikkan kertas-kertasnya yang hampir penuh dengan tulisan-tulisan bertanggal. Pas sekali tinggal selembar yang tersisa. Aku harus mampir ke toko buku saat pulang nanti. aku mulai menorehkan tanggal di kiri atas kertas.

                1 Juni 2014

                Awal bulan Juni memang indah. Aku bisa menikmati angin segar di awal bulan yang kusuka ini. Walaupun sedikit dingin. Aku bersyukur ibuku tidak menelpon akhir-akhir ini. Dia hanya akan membuat kepalaku pusing dengan ocehannya tentang karirku yang itu-itu saja. Dia ingin melihatku ada di majalah wanita yang terkenal. Atau ibu ingin melihatku satu menit di televisi sebagai bintang iklan. Memangnya wajahku bisa berada di CeCi Magazine atau di iklan minuman seperti Coca Cola? Hah, aku tidak yakin…

                Sepertinya aku harus menelponnya sekali-kali untuk menyakinkannya kalau aku tidak ada minat untuk itu. Kuharap ia mau mengerti.

                Tanganku berhenti tiba-tiba. Menelpon ibu membuat diriku sadar kalau aku merindukannya. Aku hanya menghubunginya saat aku akan bekerja. Aku tidak pernah menanyakan bagaimana kesehatannya akhir-akhir ini, apa yang ia makan dan apa yang sedang ia kerjakan. Inilah resikonya kalau jauh dari orang tua. Kita akan melupakan hal sepele yang sebenarnya sangat penting untuk diketahui.

                “Ah, aku merindukannya.”

****

                Aku lupa kalau aku ada jadwal kuliah sore. Aku harus mengejar ketertinggalanku sekarang. Terima kasih modeling. Karena kau, aku harus belajar lebih giat untuk mendapatkan poin setidaknya B+ dalam setiap mata pelajaran. Dan aku tidak menyukainya!

                “Selamat sore, Cindy. Sudah lama aku tidak melihatmu.” Sapaan yang sangat khas. Aku berbalik dan mendapati dia sedang berdiri dengan senyum manisnya.

                “Selamat sore, Zitao. Terima kasih sudah mau menjadi orang pertama yang menyapaku sore ini,” balasku sambil tersenyum manis kearahnya.

                “Sama-sama, Cindy.” Kemudian ia berlari kecil sampai disampingku. “Kudengar kau mendapat poin A di pelajaran Bahasa.”

                “Haha, itu mudah mendapatkannya bagi seorang aktris,” ucapku sombong.

                “Tapi, kau mendapat C di ekonomi. Bukankah ayahmu seorang Presdir? Kenapa kau tidak belajar saja padanya?” tanya Zitao bingung.

                “Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi aku tidak bisa mendiskusikan apapun tentang ekonomi.” Terdengar gumaman Zitao yang menunjukkan kalau ia mengerti.

                “Kau ingin berkunjung malam ini? Aku berencana akan membakar Hanwoo malam ini,” ajakku padanya.

                “Boleh saja. Hei! Kau punya jadwal besok!”

                Oh, aku menyesal menceritakan semua jadwalku di tahun ini kepadanya.

                “Kau tahu? Besok jadwalku sangat padat. Aku harus berisi untuk besok agar aku tidak tampak menyedihkan di kamera nanti,” ucapku sambil tersenyum senang kepadanya.

                “Oke oke kita makan malam ini,” balas Zitao menyerah. Aku tersenyum menang.

                “Jangan lupa birnya ya?”

                “Tidak!”

                Penolakannya benar-benar cepat. Oh Zitao! Tanpa bir acara makan kita tidak meriah.

****

21.00 KST

                Aku mulai memanggang daging di halaman belakang rumahku. Sementara Zitao dan temannya—aku tidak mengenalnya, tapi sepertinya dia salah satu classmate yang tidak kukenal—sedang memotong daging menjadi bagian-bagian kecil. Zitao mengajak classmate-nya kerumahku dan hanya tiga orang yang aku kenal—termasuk Zitao. Yang sedang duduk dengan memegang gelas kertas adalah Kyungsoo. Pria kecil yang hanya berbicara lewat matanya. Dan satu lagi Leo. Pria jangkung yang sedang mengobrol dengan teman perempuannya di meja paling ujung dekat lampu taman. Dan Zitao, sahabatku yang sudah aku jelaskan tadi. Zitao mengajak lima orang perempuan dan tujuh orang laki-laki. Dia kira ini pesta apa?

                “Zitao, sini!” panggilku kepadanya. Dia mengangkat piring Hanwoo dan membawanya kepadaku. Aku menerimanya sambil terus membolak-balikkan daging. “Kita bukan pesta, Zitao. Tapi kenapa kau mengajak setengah dari classmate kita?” Aku berbisik tapi tatapan mataku masih tertuju pada dagingnya.

                “Aku tidak mau menghabiskan 3kg Hanwoo bersamamu seperti tahun lalu. Aku harus dilarikan ke rumah sakit gara-gara itu. Kau pasti membeli banyak daging seperti tahun lalu juga, jadi aku harus membagi ini kepada orang lain juga,” jawab Zitao sambil tersenyum.

                “Aku jadi tidak bisa minum bir hari ini gara-gara mereka,” kesalku pada Zitao.

                Zitao tidak mengindahkan omonganku, malah menaruh beberapa potong lagi ke atas panggangan. Dia memang hebat berpura-pura tidak mendengar. Aku menganggapnya itu sebagai balasan dari omonganku.

                Kuangkat daging-daging yang sudah berubah warna menjadi coklat ke atas piring kertas, dan memberikannya kepada Zitao. Pria itu membawanya ke atas meja piknik, yang langsung diserbu oleh teman-temannya yang lain. Aku menoleh sekilas ke arah kerumunan orang-orang yang sedang berebut untuk mencoba daging yang baru saja kubakar. Yang menarik perhatianku adalah Kyungsoo. Pria kecil itu mengambil daging tanpa mengeluarkan suara apapun, dan mengomentarinya juga tanpa suara. Teman disebelahnya seakan mengerti apa respon yang diberikan Kyungsoo melewati matanya. Pria itu mengembangkan senyumnya kemudian mengangguk, kembali mengambil sepotong daging dengan sumpitnya. Dia benar-benar misterius.

                “Kau makanlah. Biar aku yang menyelesaikan ini,” ucap Zitao tiba-tiba sambil merebut penjepit makanan dari tanganku.

                “Thank you,” balasku padanya sambil menepuk pelan punggungnya, kemudian berlari menuju meja besar. Aku pun mengambil tempat duduk di sebelah perempuan berambut coklat pendek yang sedang chatting lewat SNS.

                “Apa kalian menikmatinya?” tanyaku menginterupsi kegaduhan ini. Mereka semua menoleh kepadaku dan tersenyum senang sebagai balasannya. Leo yang sudah bergabung, mengacungkan ibu jari kanannya kepadaku, kemudian memakan daging di garpunya kembali.

                Aku mengambil garpu yang sudah disediakan dan mengambil sepotong kecil daging di piring terdekat kemudian melahapnya sedikit-sedikit. Ah, ini sangat enak…. bila ditambah dengan soju atau bir akan lebih enak lagi. Tapi, si Panda itu sengaja tidak membelinya saat menuju kesini. Sial!

                Seorang perempuan yang berjarak satu orang dari kananku, mencolekku kemudian mendekatkan dirinya kepadaku. Sementara perempuan yang sedang chatting tadi sedikit memundurkan dirinya. Dia mengucapkan namanya kepadaku sambil tersenyum manis kepadaku. Matanya yang coklat membuatku iri, juga rambut bergelombang hitamnya yang sangat menawan. Selagi dia menggerakkan bibirnya, rambutnya bergoyang mendekati sebagian wajahnya dan hampir menutupi bagian itu dan seperti kebiasaan, dia menyelipkan rambutnya ke telinganya dan akan kembali bergerak seperti semula ketika ia berbicara kembali.

                Aku memintanya berhenti sejenak untuk mengambil sesuatu untuknya. Dia sangat antusias saat mendengar aku mau memberinya sesuatu. Aku masuk ke dalam rumah menuju kamar tidurku. Kubuka laci kecil di atas meja rias putihku dan mengambil penjepit rambut yang besar. Aku kembali ke halaman belakang dan memposisikan diriku di tempatku semula. Kuberikan barang yang baru saja aku ambil. Dia bingung. Astaga! Dia cukup lemot ternyata!

                “Mendekat!” perintahku pelan—hampir berbisik—kepadanya. Dia mendekatkan dirinya dan membuat gadis yang masih saja chatting (Aku harap matanya tidak akan lepas dari sarangnya karena terlalu serius) menjauh lagi, bahkan memundurkan kursinya sedikit. Aku tarik rambutnya menjauh dari wajahnya lalu memasangkan penjepit rambut itu disana.

                “Apa pandanganmu sudah lebih luas sekarang?” tanyaku sambil tersenyum.

                “Terima kasih,” jawabnya tersipu. Oh Tuhan, dia makin manis dengan penjepit itu. Reflek aku ikut tersenyum juga karenanya.

                Perempuan yang mengatakan kalau namanya adalah Jessica Jung, kembali mengoceh apa yang akan ia katakan sejak awal tapi terputus karena aku harus membuatnya nyaman berbicara padaku tanpa harus menyingkirkan rambutnya dari matanya. Dia mengatakan bagaimana ia selalu mengikuti perkembangan fashion terutama kalau modelnya adalah aku. Aku sedikit bangga karena dia sangat mengidolakanku dan sangat menyukai apa yang selalu aku pakai disetiap majalah fashion. Dia sangat ingin sekali bertemu denganku dan ingin menanyai apapun tentang fashion yang bagus di bulan ini. Tapi, karena jadwalku yang padat aku jadi tidak bisa pergi ke universitas sejam sekalipun. Aku sangat menyayangkan itu dan berjanji padanya akan menelponnya kalau aku ada waktu. Jadi, aku meminta nomor ponselnya. Dia bahagia, sangat bahagia!

                “Maafkan aku karena aku tidak mengenalmu. Padahal kita satu kelas dan aku tidak menyadarinya. Aku orang yang tidak pandai bergaul dengan orang baru. Kau tahu lelaki itu?” Aku menunjuk orang yang sedang makan dagingnya sambil mendengarkan temannya berbicara dengan orang disampingnya. “Dia Kyungsoo. Aku sudah bersamanya sejak sekolah menengah.”

                “Benarkah?! Wah, aku iri.”

                Perempuan yang terus chatting-an itu, langsung mengalihkan kegiatannya saat mendengar nama Kyungsoo disebut-sebut.

                “Banyak mahasiswi yang ingin mengenalnya, bahkan selalu bermimpi kalau ia dan Kyungsoo sudah bersama sejak lahir. Konyol memang.” Itu memang konyol. Aku yang menyukai Kim Soo Hyun tidak pernah berpikir demikian.

                “Apa dia sangat spesial?”

                “Tentu saja! Dia pria dingin dan misterius. Dia tidak pernah berbicara kepada siapapun selain orang yang sudah dikenalnya sejak lama. Dia populer, tapi tidak menyadarinya,” ucap Jessica sambil terus memperhatikan Kyungsoo.

                “Hei! Kalau kau sudah mengenalnya, kenapa kau seakan-akan tidak begitu?” tanya Luna sambil menaikkan sebelah alisnya dan menatapku cukup lama. Aku menoleh kepada Kyungsoo dan memandanginya.

                “Kalian kan tahu aku tidak mudah bergaul dengan siapapun, termasuk yang sudah aku kenal sejak lama?” Aku terus memandangi Kyungsoo yang mengambil kembali dagingnya (sepertinya dia sangat suka Hanwoo).

                Kyungsoo merasa ia diperhatikan dari arah kirinya dan menoleh ke arah yang ia rasa itu. Kunyahannya terhenti saat melihatku masih setia memandanginya. Aku tersenyum untuk menggodanya agar ia mau membalas senyumanku (kumohon!). Ia terus terpaku di arah tatapannya tanpa bersuara. Namun, ia kembali mengunyah pelan dan menoleh ke arah lainnya. Aku terkejut!

                “Bagaimana bisa ia tidak goyah di tempatnya?!”

                Kyungsoo mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata disana. Dan tanpa suara, ia mengembalikan ponsel itu di saku jaketnya dan kembali makan. Tak beberapa lama kemudian, ponselku bergetar. Kyungsoo? Jadi dia menulis pesan untukku?

                ‘Apa kau berusaha menggodaku? Kau tampak aneh dari sini.’ (Kyungsoo)

                ‘Aku kira kau meminta nomorku hanya sebagai koleksi. Apa ini salam perkenalan di hari pertama kau mengirim sms kepadaku?’ (Cindy)

                ‘Diam kau.’ (Kyungsoo)

                Aku tidak menyangka ia masih menyimpan nomorku semenjak lima tahun yang lalu ia memintanya padaku karena ia berpikir ia harus punya semua nomor teman sekelasnya. Aku memberinya karena aku juga berpikir, akan baik kalau aku mengenal semua teman sekelasku. Tapi, sepertinya sia-sia. Aku tidak pernah menghubungi mereka semenjak aku mendapat banyak tawaran di perfilm-an. Dan terakhir kali, yang aku tahu mereka mengganti nomor mereka atau sudah tidak mengenaliku. Sekeras apapun aku mengatakan kalau aku adalah teman sekelasnya dulu, mereka tidak akan ingat.

                Aku bersyukur Kyungsoo masih menyimpannya, ya walaupun pria kecil itu tidak pernah menghubungiku sekalipun—kecuali hari ini. Aku pernah mengecek nomor-nomor siapa saja yang aku simpan disana dan kapan terakhir kali aku menghubungi orang-orang itu. Tidak sesering yang bisa diduga karena nomor yang aku simpan adalah orang yang seprofesi denganku yang notabene akan sangat sibuk dengan segala job-job panggilan. Kalau aku bertemu dengan mereka, aku akan sangat menyesal tidak menghubungi mereka dan mencari tahu topik apa yang mereka suka. Pernah ada seorang aktris yang seumuranku bertanya kenapa aku meminta nomornya kalau tidak pernah memanggilnya untuk sekedar menanyakan kabar. Aku sibuk. Ya, aku sibuk. Tapi, mereka akan mengatakan kalau mereka lebih sibuk dibanding pemain figuran (itu penghinaan).

 

                Hari sudah semakin malam dan menakutkan. Halaman rumahku sudah kosong, menyisakan aku dan Zitao disana. Zitao menawarkan diri untuk membantuku sebelum ia pulang. Aku membawa semua piring kotor kedalam rumah menuju dapur untuk kubersihkan. Sementara Zitao memungut setiap sampah yang berserakan di bawah meja kedalam plastik sampah.

                “Aku akan membakar ini!” pamit Zitao.

                “Cepat kembali!” jawabku padanya, lalu kembali menyabuni piring selanjutnya. Tiba-tiba telepon rumahku berdering. Aku lalu membasuh tanganku, lalu berjalan menuju ruang tamu—tempat telepon rumah kupasang. Kuangkat gagangnya lalu menempelkan ke telinga kiri.

                “Halo? Dengan siapa ini?”

                “Oh, Produser! Ada apa?” (aku kira Kyungsoo yang menelepon).

                “Huh? Pembatalan?” pekikku tiba-tiba.

                “Oh, oke. Saya mengerti. Lagipula, Hara sudah lama ingin peran itu tapi dia marah kepada saya karena saya mengambil perannya. Saya juga ingin melanjutkan kuliah yang tertunda. Tidak apa-apa.”

                “Terima kasih karena Anda sudah memberikan peran ini kepada saya sebelumnya. Haha. Tidak apa-apa. Tolong tawarkan beberapa peran lagi untuk saya nanti.”

                Aku kembali menaruh gagang itu ditempatnya tanpa nyawa. Oke, aku akan menerima ini untuk ketiga kalinya (yang pertama dan kedua ditolak untuk pemotretan majalah remaja). Aku sebenarnya kurang apa ya? Aku masih muda, berusia 18 tahun. Wajahku masih imut dan baby-face milikku belum ternodai apapun. Aku akan menuntut agensi itu kalau ia menolakku yang keempat kalinya.

                “Kenapa?” Zitao mengagetkanku untuk yang kedua kalinya secara tiba-tiba (yang pertama saat pertama kali bertemu di kampus).

                “Kau!” pekikku sambil mengangkat kepalan tangan kananku kepadanya. Dengan cepat ia menghindar dengan menutup kepala dengan lengan-lengannya. Aku kembali menurunkan tanganku. “Tidak ada apa-apa. Hanya pemberitahuan tagihan telepon,” jawabku bohong sambil mengalihkan pandangan ke arah lain secara acak. Aku tidak harus memberi-tahunya tentang pekerjaanku, karena dia bukan ayahku ataupun ibuku.

                Agar terhindar dari segala macam pertanyaan Zitao, aku memilih untuk berjalan menuju dapur kembali dan memutuskan untuk mencuci piring yang masih penuh sabun. Kuputar keran air dan kembali membasuh piring-piring dengan air. Zitao berjalan meninggalkan tempatnya semenjak tiga detik yang lalu, menuju halaman belakang. Sepertinya ia akan menyapu halaman.                Pikiranku kembali bergejolak akan perkataan sutradara di telpon. Walaupun dia tidak mengatakan yang sebenarnya kenapa peranku dibatalkan, tapi dari nada suaranya seperti ia sudah lama ingin mengatakan ini, tapi dia tidak tahu pasti kapan harus dikatakan. Tentu saja aku kecewa. Selain diperlakukan tidak adil, aku juga merasa sakit hati. Aku tidak tahu harus berekpresi sekarang ini. Entah sedih karena dicampakkan, entah senang karena aku bisa bebas, entah putus asa. Hembusan napas pendek keluar begitu saja dari mulutku sembari menaruh piring terakhir di rak peach di samping wastafel. Berbarengan dengan itu Zitao masuk ke dalam sambil menarik ujung bajunya yang tersingkap, kemudian berhenti karena ucapanku.

                “Aku ditolak.”

 

To Be Continued…

*Sorry, di chapter 1, belum ada konfliknya, terus juga belum ada tokoh-tokoh yang disebutkan muncul semuanya. Aku janji di chapter berikutnya ada muncul konfliknya. Thanks udah mau baca~

One thought on “Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 1

  1. kyuRiani18 berkata:

    Blm ngerti apa hubungan nya judul ff sama isi cerita, mungkin karna masih chspter 1 jd blm nyambung (mohon maaf yaa authornim)..tp next chapter nya aq tunggu,,keep writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s