Klise

klise-1

Title                 : Klise

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : EXO Baekhyun , BTS Jin , Shin Nayeon (OC)

Genre              : Romance, Brothership , School life

Rating             : General

Length             : Oneshoot

Disclaimer       : EXO milik SM Ent, BTS milik BigHit Ent, alur dan cerita milik author

Summary         : Aku yang menyerah di tengah jalan, tanpa berhenti mengagumimu

Menjauhlah sayang, jangan biarkan sinarmu meredup di sampingku

Special poster by ImJustAGIRLS

.

.

(Beberapa adegan terinspirasi dari lagu Moonlight milik EXO, dan MV Boy In Luv milik BTS)

.

.

Sebagai seorang remaja, percayakah kau pada kekuatan cinta pertama?

Shin Nayeon, mahasiswa semester dua di universitas ternama di kota Seoul adalah salah satu gadis yang tidak pernah percaya dengan kekuatan cinta pertama. Alih-alih menyimpan kenangan tentang cinta pertamanya, ia memilih lupa dan berharap tak pernah lagi mengingat dia yang pertama kali meluluhkan hatinya.

Adalah Kim Seokjin, kapten basket dimana ia menempuh sekolah menengah atas. Pemuda tampan yang banyak digandrungi teman-teman semasa sekolahnya. Pemuda itulah yang pertama kali mengetuk hatinya, meluluhkan hingga meleburkannya menjadi tak berbentuk.

Nayeon ingat, hari dimana ia pertama kali bertemu Kim Seokjin. Hari rabu ketika ia hendak memasuki laboratorium yang berada di seberang lapangan basket. Sebuah kecelakaan kecil mengantarkannya pada sosok yang tak pernah Nayeon lupakan seumur hidupnya.

.

Flashback

Buugh!!!

“Akh..” Nayeon menjerit kecil ketika sebuah benda keras mendarat mulus di kepalanya. Pening, ia merasa matanya berkunang-kunang setelah menerima lemparan bola yang tak sempat diantisipasi.

“Maaf.” seorang pemuda berlari menghampirinya. Nayeon mengerjap-erjapkan mata sejenak. Lalu mengangguk pelan tanpa berkata-kata.

Tampan

Batin Nayeon menjerit. Namun lidahnya seolah kaku hingga ia tak mampu mengutarakannya.

“Gwenchana?” pemuda itu mengibas-ibaskan tangan di depannya. Nayeon tersentak, seolah jiwanya ditarik dengan paksa menuju realita.

“Ah, nee.” jawabnya tergugup.

Pemuda itu mengamati Nayeon lekat, hingga membuatnya salah tingkah. Dengan sedikit gerakan isyarat, Nayeon baru menyadari bahwa pemuda itu menunggunya menyerahkan bola yang berada di genggamannya. Bukan sedang mengamatinya. Shin Nayeon pabbo!!

Sedikit meringis, ia menyodorkan benda bulat di tangannya. Pemuda itu menerimanya lantas berlari kecil menghampiri teamnya yang sudah menunggu di tengah lapang. Meninggalkan Nayeon yang masih mematung di tempatnya.

Kim Seokjin

Entah apa yang membuatnya seperti ini. Namun wajah Seokjin benar-benar tak bisa ia lupakan semenjak kejadian hari rabu lalu. Nayeon mulai mencari tahu segala sesuatu tentang pemuda yang berada dua tingkat di atasnya itu. Bukan hal yang sulit, karena memang Seokjin merupakan murid populer yang selalu menjadi perbincangan teman-teman di sekolahnya, terutama para gadis.

Terbuai dalam sinar yang menyilaukan, kau mampu membuatku terbang..

Nayeon tak jauh berbeda dengan sasaeng fans yang menghabiskan setiap waktu istirahatnya untuk mengikuti Seokjin. Matanya tak pernah lepas dari pemuda tampan itu. Alih-alih mendekatinya, Nayeon hanya berani memandangnya dari jauh. Dan mulai saat itu, ia sadar ia telah jatuh terlalu jauh dalam dunianya. Dunia khayalannya bersama Kim Seokjin.

“Jika kau masih saja menguntit seperti itu aku tak segan-segan memberi tahu Jin sunbae!” hardik Hyora suatu hari. Gadis yang sudah menjadi sahabat Nayeon sejak masuk sekolah ini benar-benar kesal. Ia tak habis pikir bagaimana sahabatnya tahan menguntit seniornya hingga separah itu.

Nayeon hanya mendesah, tak berniat menyahut cemoohan yang sudah sangat sering ia dengar.

“Kenapa kau tak berusaha mendekatinya, -maksudku, berkenalan dengannya?” ujar Hyora kembali.

Nayeon mengerucutkan bibirnya. Bukan karena ia takut Jin tak merespon dirinya, tapi ia terlalu malu mendekati Jin yang jelas-jelas sudah tahu jika Nayeon menyukainya. Ya, Jin sudah tahu jika Nayeon sangat sangat sangat menyukainya. Oh, jika kau berada di posisi Nayeon, apakah kau masih punya nyali untuk mendekati lelaki bermarga Kim itu?

Tidak!

Begitu juga dengan Nayeon sendiri. Ia dilema dengan keadaannya saat ini. Salahkan dirinya yang terlalu heboh jika ia melihat sosok Seokjin hingga membuat seluruh sekolah mengetahui perasaannya. Dan jangan salahkan teman-temannya jika berita itu sampai di telinga Seokjin sendiri. Oh, betapa malunya Nayeon sekarang.

Perasaan dilema itu bertambah dua kali lipat ketika ia tak bisa membaca reaksi Seokjin saat tahu berita itu. Seokjin seorang pendiam. Terlalu pendiam hingga ia seakan tak pernah memiliki ekspresi apapun kecuali jika ia sedang berkutat dengan bola basketnya. Dan itu membuatnya benar-benar frustasi. Hingga suatu saat…

“Jin-ah, apa kau benar-benar tak melirik gadis itu?” suara Baekhyun seketika membuat Nayeon yang sedang menjalankan rutinitasnya (menguntit Seokjin) menegang. Berbulan-bulan ia menjadi secret admirer, baru kali ini namanya di sebut dalam percakapan mereka.

“Gadis yang mana maksudmu?” Jin hanya bergumam sambil mengaduk ramen-nya.

Baekhyun berdecak, “Ck! Lagakmu seperti memiliki banyak gadis yang mengerubungimu.”

Jin tersenyum kecil mendengar nada bicara Baekhyun yang terkesan iri. Ia hanya mengangkat bahu, kemudian menjejalkan ramen ke dalam mulutnya.

“Jika kau tak tertarik dengannya, bolehkah aku mendekatinya?”

“Uhhukk!!”

Seokjin tersendak mendengar ucapan sahabatnya itu. Melotot, ia memandang Baekhyun dengan tatapan mengerikan.

Dan detik itu pula, Nayeon seakan dapat membaca pikiran Seokjin yang selama ini tak ia ketahui. Seokjin marah, Seokjin tak rela jika Baekhyun mendekatinya. Dan itu artinya, Seokjin menyukainya. Yah, itulah persepsi Nayeon saat ini. Terlalu bahagia dengan kenyataan yang ia terima. Nayeon beranjak dari tempat persembunyiannya. Ia berlari menuju kelasnya sebelum perasaan ini membuatnya mati sesak.

Perangaimu yang memabukan, kau membuatku sulit berkata-kata

Jika kau berada di tempat yang jauh, benarkah aku mampu meraihmu?

.

.

Sudah seminggu setelah Nayeon mendengar perbincangan Jin dan Baekhyun, dan seminggu itu pula ia tak lagi menjadi penguntit. Dalam euforianya mengetahui perasaan Seokjin, terselip sebuah ketakutan di dalamnya. Seokjin membalas cintanya, namun hal itu membuat perasaannya memudar. Perlahan tapi pasti, ia mulai mundur teratur.

Aku yang menyerah di tengah jalan, tanpa berhenti mengagumimu

Menjauhlah sayang, jangan biarkan sinarmu meredup di sampingku

“Nayeon-ah, itu..itu…” Hyora menepuk-nepuk pundak Nayeon ketika mereka sedang berjalan menuju laboratorium. Ya, ini hari rabu. Hari dimana kelasnya memiliki jadwal praktikum. Sudah tentu ia tahu apa yang hendak dikatakan sahabatnya.

“Itu Seokjin sunbae, Nayeon-ah!”

Benarkan?

“Ya, Shin Nayeon kau tak mendengarku??”

“Hyora-ya, berhenti bertingkah bodoh seperti itu. Kau memalukan.” ucap Nayeon tanpa minat.

Ia kemudian berlalu meninggalkan Hyora yang terbengong-bengong.

Kau dalam pandanganku layaknya sebuah lukisan

Dan mulai memudar disetiap akhir tatapanku

.

Nayeon’s POV

Aku hampir mati bosan di ruang praktikum. Karena guru Lee yang mengampu mata pelajaran ini tidak masuk, kami diharuskan melakukan praktikum secara mandiri. Dan itu sama sekali bukan ide bagus karena mayoritas teman-teman sekelasku lebih suka bermain, bergosip, atau melakukan apapun yang menyenangkan alih-alih mengerjakan tugas yang sangat memusingkan.

Buukk

Sebuah benda keras –yang kucurigai adalah sepatu- mendarat mulus di puncak kepalaku. Aku menoleh, mencari tahu ‘tersangka’ yang dengan berani menistakan kepalaku seperti ini. Dengan geram, kulirik satu persatu sekeliling hingga mataku mendarat pada sepasang troublemaker yang sedang terkikik di pojok ruangan.

“Ya! Oh Sehun, Kim Jongin! Kau mati hari ini!” teriakku sambil menyingsingkan jas laboratorium yang kupakai.

Demi Tuhan, mereka adalah duo berisik yang selalu berulah tanpa memandang keadaan. Dan jangan salahkan aku jika saat ini mereka mengaduh karena kepalan tanganku mendarat mulus di kepala mereka. Rasakan kalian!

“Whoa,,tak hanya cantik, tapi kau juga gadis pemberani!” celetuk seseorang dari seberang pintu. Dan betapa aku ingin mengubur diri melihat Byun Baekhyun sedang berkacak pinggang di sana, dengan Kim Seokjin menutup mulut di belakangnya. Seperti….menahan tawa?

Seketika semuanya hening. Benar-benar hening hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri ketika dua senior itu memasuki ruangan ini. Hyora mendekat, membisikan ssuatu di telinga kananku.

“Sepertinya mereka mencarimu.”

Aku mengerjap-erjapkan mata mendengar ucapannya. Lalu memandang sahabatku itu dengan raut muka yang mengisyaratkan kalimat ‘apa kau bercanda?’

Namun sepertinya aku harus menelan bulat-bulat kalimat tersebut. Karena memang benar mereka menghampiriku. Byun Baekhyun berhenti persis di depanku, menatapku dengan senyum miring yang sama sekali tak ku mengerti. Dengan rasa penasaran yang masih memuncak, kurasakan tangannya meraih pergelangan tanganku, lalu menarik dengan paksa hingga aku hampir terjungkal ke depan.

“Ugh!” aku tak berhenti mengaduh ketika tubuh tinggi itu terus menyeretku ke luar ruangan. Membawaku ke tempat lain yang kujamin tak ada orang lain selain kami. Kesadaranku mulai kembali dan seketika itu juga mataku membulat. Benar-benar membulat heboh karena aku baru menyadari tangan yang menyeretku bukan milik Baekhyun.

Ya, aku bisa berkata demikian karena Byun Baekhyun sendiri berjalan di belakangku. Seakan berjaga-jaga agar aku tak kabur dari cengkraman sahabatnya. Dan saat itu juga, aku bersumpah jika setelah ini jantungku tak akan mampu lagi bekerja dengan normal. Oke, ini berlebihan. Tapi aku tidak bohong jika saat ini perasaanku benar-benar campur aduk tak karuan.

Aku hanya menatap nanar kedua tangan yang saling bertautan. Benarkah itu tanganku? maksudku, benarkah Seokjin yang menggenggam tanganku? Siapapun tolong jangan bangunkan aku jika ini memang mimpi!

Dirimu yang selalu ku puja

Sadarkah kau membawa rasa yang disebut cinta?

Sibuk berkecamuk dengan pikiranku sendiri, aku tak menyadari jika mereka berhenti melangkah. Tubuhku menubruknya yang berada tepat di depanku.

“Apa kau benar-benar semangat saat ini?” Baekhyun menahan tawa. Aku tahu itu kalimat sindiran. Dan aku tak berniat menjawabnya. Kemudian pemuda bermata kecil itu memasuki ruangan dengan lagak slow motion yang memuakan. Ia duduk di salah satu bangku deretan depan. Aku masih tak bergeming, berdiri tepat di belakang Seokjin yang sedari tadi mengamati sahabatnya.

“Jin-ah..” panggil Baekhyun.

Seakan tahu apa yang harus ia lakukan, Seokjin menyenggol tubuhku. Lalu mempersilahkan aku masuk ruangan itu dengan lagak seperti pelayan pada tuannya.

Aku bingung, tentu saja!

Apa maksudnya?

Apa yang mereka lakukan?

Apa mereka sedang melakukan transaksi dengan aku sebagai objeknya?

Apa Seokjin sedang menyerahkan aku pada lelaki bermarga Byun itu?

“A-apa?” aku bertanya bodoh. Berani kujamin saat ini wajahku tak ubahnya gadis tolol ber IQ rendah.

“Masuklah, aku akan menunggu di luar.”

Tanpa menunggu jawaban, ia mendorong pelan tubuhku dan menutup pintu dari luar.

Kini hanya ada kami berdua. Aku dan Byun Baekhyun yang sedari tadi menatap tepat ke arahku. Risih, tentu saja aku tidak suka diperhatikan seperti itu. Apalagi oleh senior yang berada dua tingkat di atasku. Baekhyun beranjak dari kursinya, lalu mengeluarkan setangkai bunga berwarna merah yang terselip di sakunya. Dengan langkah pelan, ia mendekatiku sembari menyodorkan mawar di genggamannya.

Terperangah, aku mulai memahami situasi yang saat ini sedang ku hadapi. Aku mengerti apa yang saat ini mereka lakukan. Aku..aku benar benar mengerti.

Sekali lagi aku melirik daun pintu yang berada tepat dibelakangku. Dadaku sesak, kurasakan air mata mulai menggenang namun sekuat tenaga aku menahan agar tak menangis di depan Baekhyun. Apa-apaan ini?

“Shin Nayeon, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku.”

Kalimat itu akhirnya ku dengar. Sebuah kalimat yang selalu ku dambakan akan terlontar dari mulut Seokjin, benar-benar ku dengar hari ini. Namun kalian tahu sendiri. Bukan Seokjin yang mengatakannya. Bukan Seokjin yang memintaku menjadi kekasihnya tetapi sahabat Seokjin sendiri. Dan ini terlalu klise.

Sebuah tempat yang tidak akan bisa kusentuh

Sebuah tempat yang tidak bisa aku tempati

Sebuah refleksi yang ternyata bukan dia

“Hiks..”

Tak ada jawaban, aku tak mungkin sanggup menjawab permintaan yang jelas-jelas tak akan mampu kupenuhi.

Aku mencintai Seokjin, Baekhyun. Aku mencintai sahabatmu! Kau tahu itu namun kenapa kau membuatku tampak seperti idiot!

Dan hingga saat itu, aku bersumpah tak ingin lagi berurusan dengan mereka. Byun Baekhyun dan Kim Seokjin, dua pemuda brengsek yang berhasil merenggut kebahagiaanku pada masa-masa SMA. Dua bersahabat yang dengan kompaknya menorehkan luka hingga aku tak pernah lagi merasakan jatuh cinta. Karena kedua-duanya hanya datang untuk sementara, kemudian menghilang bagai hembus angin lalu.

Inilah kisah sedihku tentang cinta yang tak terpenuhi

Semakin mendekat, semakin kuat sakit yang kurasakan

Flashback End

Author’s POV

Nayeon tersentak ketika sebuah tangan menepuk bahunya. Menyadarkan lamunan tentang masalalu yang telah lama tak ia kenang. Bohong jika Nayeon lupa tentang kisahnya dengan dua bersahabat itu. Nayeon tak pernah lupa, ia hanya berusaha melupakan untuk menutup rasa sakitnya pada pemuda bernama Kim Seokjin. Namun bagaimana ia bisa lupa? Takdir eolah mempermainkannya dengan mempertemukan kembali dirinya dengan Byun Baekhyun.

Ya, Nayeon tak habis pikir bagaimana bisa mereka berdua bertemu lagi di perguruan tinggi. Baekhyun merupakan mahasiswa seni semester enam sedangkan dirinya baru menginjak semester dua. Di jurusan yang berbeda tentu saja. Dan kini pemuda bermata sipit itu tengah menghampiri Nayeon dengan cengiran yang membuat bibirnya membentuk persegi sempurna.

“Apa pekerjaanmu selesai?” tanya Baekhyun sambil memposisikan diri di samping Nayeon.

Nayeon mengangguk kecil. “Mm.”

“Bagus, kajja makan siang bersama!” ucap Baekhyun riang. Ia ikut membantu Nayeon merapikan buku-bukunya.

“Aku bisa merapikan sendiri, sunbaenim.”

“Ya! sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu. Oppa, kau lebih cocok memanggilku oppa!”

Nayeon mencibir mendengar gerutuan Baekhyun. Pemuda itu memang selalu sewot jika ia tak memanggilnya ‘oppa’, namun hal itu malah membuatnya betah menggoda hingga Baekhyun selalu marah-marah sendiri.

“Kajja sunbaenim! Hari ini jatahmu mentraktirku kan?”

“Aisshh! Oppa, Nayeon-ah. Oppa.”

“Ck, arraseo oppa. Kau cerewet sekali.” sambar Nayeon sambil beranjak.

Baekhyun tersenyum kecil, tiba-tiba ingin mmbalas dendam. “Kau juga cantik sekali.”

“Mwoo?? Ya, tak ada hubungannya, Tuan Byun!”

“Hahaha.”

.

.

-END-

Hahaha,, ini apa? ini absurd, ini gajelas! Maaf jika aku dengan percaya diri mengirimkan fanfic kaya gini. Aku hanya sedang galau karena kehabisan ide untuk melanjutkan reflection dan Precious Metal. Jadilah ini fanfic sebagai pelampiasanku. Bukan aku nggak mau lanjut nulis kelanjutan dua fanfic itu. Aku lanjutin kok, itu pasti. Tapi mohon untuk bersabar karena aku benar-benar belum dapet inspirasi untuk melanjutkannnya. Sekali lagi maaf dan makasih udah baca fanfic abal ini /bow/

14 thoughts on “Klise

  1. indahtentiana berkata:

    eonniiii !!!! ige mwoya ? endingnya baek sama nayeon ? kenapa gak sama aku ajasih ? huh ! eonni nyebelin ! hohoh , suka deh kalo jin sama baek dibuat sahabatan . xixixi . aku juga mau menyampaikan , miahhae eonni , aku belum siap buat baca ff eoni yg reflection . maincastnya bukan baekhyuuuu , oke ini emang klise dan egois . tapi mau gimana lagi ? tapi aku udah baca precious metals kok . suka bangeeeet . *aku lupa udah comment atau belum -_- . ini ff simple banget tapi gimana gitu yak . wkwkwk . ditunggu ff yang lain eonni . oh iya , eonni sudah add aku kah ?

    • JungRiYoung berkata:

      hahaa, engga tau ini aku kenapa nulis ff kaya gini. Mungkin ini bentuk euforiaku menemukan pengganti (?) baekhyun di hatiku. (baek : gue pecat jadi istri lu!) lagi suka-sukanya sama eomma BTS itu..wkwk
      udah, udah kapan hari aku add n spertinya belum di confirm :3

  2. ParkJudit berkata:

    Ohhh, jadi gitu. Baek jd nya sama Nayeon.
    Oke deh, Jin nya buat aku ya? Kekeke~
    Pas baca flashback nya itu, ada ngefly ada juga nyesek nya :3
    Keren deh thor, di tunggu karya selanjutnya ;;)

  3. ParkJudit berkata:

    Dan saya pernah di posisi Nayeon, pas dia jadi penguntit.
    Gua heboh sendiri kalo ada dia, sampe satu sekolah tau, dan dia jg tau :3
    Tp, dia nya malah liat aku rendah :3 eksoh piks, jng ingatkan aku itu lagi :3

    • JungRiYoung berkata:

      jinjja? pukpuk ParkJudit😀
      Btw km line brapa si? slalu ada di tiap ffku tapi aku belum kenal coba (ini sok akrab) ckck

  4. fafa sasazaki berkata:

    Nyesek ma sikap seokjin,,
    aq pnh d posisi nayeon yg nguntit tu,tp g smp yg kejadian ma baekie.
    Eh,pdhl cow yg q taksir g trmsuk cow populer,tp y gtu, gaya’a jd dingin kalo ma aq.
    Lhah,kq aq malah curhat y..

    Dae to the bak, daebak author-nim..
    (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s