Dorm (Chapter 7)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 7)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Sementara di kamar asrama nomor 24, suasana tampak sangat sibuk dari biasanya. Bahkan ada sosok Kyungsoo di dapur mereka yang sedang memasak kimchi dan Chanyeol membantunya membuat jus buah. Ada Sehun dan Baekhyun di ruang tamu sedang menemani adik Minseok bermain game portable. Sedangkan Suho, dia sengaja dikurung di kamar berpintu biru muda. Tak ada yang tahu kenapa dan orang-orang juga tidak ingin tahu kenapa. Tiba-tiba, ponsel putih Suho yang tergeletak di meja bergetar. Tercantum nama Ketua Asrama di layarnya. Baekhyun segera menyambar ponsel itu dan mematikan ponsel Suho.

            “Akan susah nanti kalau si Ketua Bawel itu tahu tentang Minhee,” gumam Baekhyun.

            “Minhee! Kimchinya sudah siap!” teriak Kyungsoo menggelegar.

            “YA! Pelankan suaramu!” bisik Chanyeol lalu memukul belakang kepala Kyungsoo.

            Sosok anak perempuan kecil berambut hitam legam menghampiri meja makan, diikuti Sehun dan Baekhyun dari belakang. Dengan susah payah anak itu menaiki kursinya, sampai-sampai Sehun harus mengendongnya lalu menempatinya di bangku yang ingin ia capai tadi. Tangan mungil dan gemuk itu meraih sendok di atas meja. Pipi chubby-nya itu membuat orang yang memandanginya menjadi gemas. Dia makan terlalu diam, tidak seperti anak umur 6 tahun kebanyakan. Anak itu tidak sekalipun membuat tempatnya makan kotor atau berceceran. Tanpa ada yang tahu, Kyungsoo sedang bersyukur akan hal ini. tepat pada saat suasana sunyi dan tentram ini, datanglah Minseok dan Luhan. Membuat orang-orang yang sedang mengelilingi anak itu makan, menoleh (tak terkecuali anak itu). Seketika senyum anak itu mengembang sangat lebar saat melihat Minseok ada di hadapannya.

            “Oppa!” teriaknya senang, lalu turun dari kursinya dan berlari menuju oppa-nya. Ia memeluk Minseok dengan sangat erat. Minseok membalas pelukannya, tapi wajahnya tampak tidak senang dan sedikit ada rasa cemas.

            “Minhee-ya. Kau kenapa kesini? Siapa yang mengantarmu?” tanya Minseok khawatir.

            “Paman Lee yang mengantar Minhee, oppa,” jawab Minhee riang.

            “Kau sudah bilang ke eomma dan noona?” tanya Minseok lagi.

            “Eung… eomma tidak dirumah. Noona pergi kerumah tunangannya. Paman Lee yang memberitahu Minhee,” jawab Minhee. Ada nada sedih saat anak itu berkata. Minseok menghela napasnya sedih. Ia sudah tahu kalau ini akan terjadi. Kakaknya memang sudah lama berencana akan menikah dengan tunangannya, sedangkan ibunya sudah memulai membuka restoran di bagian utara Korea Selatan yang membuat ibunya tidak bisa sering-sering dirumah.

            “Kau pasti kesepian, kan?” tanya Minseok sedih sambil mengelus lembut kepala adiknya.

            “Tentu saja! Oppa tidak dirumah membuatku selalu main sendirian,” adunya kesal. “Oh! Oppa cantik!” pekiknya tiba-tiba. Wajahnya berubah menjadi senang kembali saat melihat Luhan yang berdiri tegak di belakang Minseok. Luhan melambaikan tangannya dan tersenyum agak dipaksakan. Sementara itu Chanyeol dan Sehun yang mendengarnya sedang menahan tawa mereka. Panggilan ‘oppa cantik’ yang selalu dibilang Minhee membuatnya risih.

           Minseok menggandeng tangan Minhee menuju kamar berpintu biru langit. Namun, pintu itu tidak bisa dibuka. Seingatnya, Minseok tidak pernah mengunci kamarnya karena ia tahu ada Suho yang tidur satu kamar dengannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara pukulan di pintu. Minseok mendengar suara Suho meminta dibukakan pintu oleh Baekhyun. Minseok tidak mengerti kenapa Suho dikurung di kamar. Ia mencari sosok Baekhyun dan menemukan pria itu disamping Kyungsoo.

            “Kunciku mana?” tanya Minseok datar. Tak ada yang menjawab sama sekali. Chanyeol, Baekhyun dan Sehun berpura-pura mencari kesibukan dengan melakukan apapun yang berada di dekatnya. Beda dengan Kyungsoo yang menatapnya datar tanpa dosa. “Cepat berikan kuncinya! Minhee ingin tidur,” ucap Minseok sambil menoleh sekilas ke adik kecilnya.

            “Oppa, Minhee tadi lihat paman Baekon menaruhnya di bawah sofa itu,” ucap Minhee sambil menunjuk ke sofa putih.

            “HAHA! BAEKON DIA BILANG? HAHAHA!!” Tiba-tiba Chanyeol tertawa keras, membuat Baekhyun yang berada di sebelahnya reflek memukul kepalanya dengan keras. Akhirnya Chanyeol terdiam. Suaranya hampir membuat gendang telinga Kyungsoo pecah. Makhluk tinggi itu harus diakui Baekhyun sangat menyusahkan dan menyebalkan.

            Tanpa disadari, Minseok sudah menemukan kuncinya. Tak butuh waktu lama membuka pintu itu. Minseok menarik hendel pintu dan terkejut mendapati Suho tiba-tiba menyambar keluar dari kamar. Pasangan BaekYeol dan Sehun terkejut bukan main. Mereka bertiga langsung melarikan diri menuju pintu keluar dan berdesakan disana. Terdengar suara teriakan Suho di lorong memanggil Sehun dan BaekYeol dengan marah.

            “Mereka kenapa sih?” tanya Minseok. Malam ini banyak sekali masalah yang menimpanya.

            “Suho ingin melaporkan Minhee kepada Ketua Asrama. Kau, kan, tahu kalau Suho benci anak kecil?”

            “Jadi mereka mengunci Suho? Kenapa kau diam saja mereka melakukan itu?” tanya Minseok.

            “Aku suka anak kecil.”

            “Oh, oke.. gagasan yang bagus.” Minseok pun menarik Minhee masuk ke dalam kamarnya. Kyungsoo mengikutinya sampai di ambang pintu kamar. Ia meminta izin pulang ke kamarnya kembali dan mendapat anggukan dari Minseok.

            Minhee, adik satu-satunya itu memang nekat. Dia tidak takut pergi kemanapun yang ia mau. Dia juga tidak pernah meminta izin kepada siapapun dirumah. Dia beranggapan kalau Paman Lee—supir pribadi Minhee—yang akan memberitahu kemana ia pergi kepada kakaknya atau ibunya. Rumah besar keluarga Kim semakin lama semakin tidak berpenghuni. Semenjak Minseok bersekolah asrama, dia sering mendapat telepon dari Minhee kalau ia sendirian dan kesepian.

            “Minhee-ya.”

            “Iya, oppa?”

            “Kau sedih oppa jauh darimu?” Minhee mengangguk mantap. “Kau ingin bermain dengan oppa?” Sekali lagi Minhee mengangguk. “Kau rindu tidur bersama oppa?” Minhee terus mengangguk. “Kau juga tidak suka oppa sekolah jauh dari Minhee?”

            Minhee tiba-tiba terdiam. Tak ada jawaban anggukan atau gelengan dari kepala Minhee. Anak itu hanya menunduk, seperti mencari sebuah jawaban yang pasti dan tidak mengecewakan oppa-nya. Minseok tersenyum lemah lalu mengelus kepala Minhee dengan sayang.

            “Aku bukannya tidak suka oppa jauh dari Minhee. Apalagi ada orang yang menyayangi oppa disini. Seperti oppa cantik tadi. Minhee memang kesepian dirumah. Minhee ingin oppa dirumah. Kapan oppa pulang?” terdapat nada sedih di setiap kata Minhee. Saat meminta pun suaranya menandakan ia sangat kesepian. Minseok menghela napas pelan.

            “Oppa tidak tahu. oppa akan berusaha untuk pulang. Nah, Minhee sekarang tidur. Oke? Oppa akan membacakan cerita padamu,” ucap Minseok sambil menyelimuti Minhee sampai ke batas lehernya. “Pada suatu hari…” Minseok pun mulai membacakan dongeng untuk Minhee, sementara si pendengar terus menatap Minseok lekat-lekat dan mendengarkannya dengan seksama. Mendongeng untuk Minhee sebelum tidur adalah kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Bila Minseok lupa melakukannya, Minhee pasti menagihnya. Walaupun Minseok sudah mengatakan kepada Luhan kalau adiknya ini sangat cerewet dan manja, ia tetap menyayanginya. Seberapa kesal Minseok akan kelakukan Minhee, pria itu tidak pernah memarahi Minhee. Kim Minhee, adalah satu-satunya perempuan yang disayangnya, bukan ibunya dan juga bukan kakaknya.

            Setelah mendongeng untuk Minhee, akhirnya anak itu tertidur pulas dikasur Minseok. Pria itu merapatkan kembali selimut Minhee sebelum ia keluar dari kamarnya. Minseok pun mematikan lampu kamar dan menutup pintu setelah itu. Ternyata Luhan masih ada di luar kamarnya. Ia sedang menonton acara komedi malam di TV sambil makan daging yang tadi dibungkus Minseok. Menyadari ada seseorang yang dibelakangnya, Luhan pun berbalik. Ia sedikit terkejut mendapati Minseok di depan pintu kamarnya.

            “Oh? Kau belum tidur?”

            “Kau sendiri kenapa masih disini?” tanya Minseok, lalu duduk di sebelah Luhan.

            “Aku tiba-tiba lapar lagi,” jawab Luhan sambil meraih sumpit besi di sebelahnya. “Makanlah. Kau tadi belum makan apapun, kan?” tanya Luhan sambil menyodorkan sumpit itu.

            “Baiklah,” jawab Minseok, lalu mengambil sumpit itu dari tangan Luhan, kemudian menyumpitkan sepotong kecil daging bakar di kotak makanan.

            “Aku kaget melihat Minhee benar-benar datang,” ucap Luhan di sela-sela kegiatannya mengolesi daging dengan saus, lalu memakannya.

            “Dia memang suka semaunya sendiri. Dan dia selalu saja membuatku kerepotan. Apalagi noona akan menikah, pasti Minhee akan kesepian dirumah sendirian.”

            “Kau tidak berencana akan pindah sekolah, kan?”

            “Tentu saja tidak! Aku sudah nyaman disini. Tapi, aku khawatir dengan Minhee. Apa sebaiknya aku keluar dari asrama saja?”

            “Jangan! Kalau kau tak ada, aku akan kerepotan mengurus Sehun dan BaekYeol,” jawab Luhan dengan nada lesu.

            “Kau bisa meminta Suho membantumu,” ucap Minseok.

            “Aku tidak yakin,” gumam Luhan lirih, lalu memasukkan sepotong daging ke mulutnya. “Kau sepertinya benar-benar akan pergi dari asrama. Aku harap kau tidak melakukannya. Kalau kau mau, Minhee bisa tinggal dirumahku. Laoyi pasti senang ada teman yang seumurannya dirumah. Zanzue tidak bisa menjaga Laoyi dengan benar. Dia lebih senang pergi keluar daripada melakukan apa yang seharusnya kakak laki-laki lakukan untuknya. Pikirkan lagi tawaranku. Jangan khawatir. Laoyi tidak makan orang.”

            “Aku tidak yakin Minhee akan senang disana. Dia susah beradaptasi dan bertemu dengan orang baru. Aku tidak yakin dia tidak akan menangis. Apa Laoyi bisa menangani adikku?” tanya Minseok sedikit khawatir.

            “Aku yakin bisa. Laoyi sangat pandai mencari teman. Tenang saja. Bawa adikmu kerumahku besok.”

****

Paginya, Minseok sudah berada di samping kasur adiknya, menunggui adik kecilnya itu bangun dari mimpi kuda poninya. Menurut Minhee, kuda poni melambangkan keindahan dan dia selalu mengatakan kalau semalam ia mimpi kuda poni. Entah darimana cantiknya kuda poni bagi Minseok. Yang Minseok tahu, kuda poni itu suka makan rumput dan meringkik.

            Setelah satu jam menunggu, akhirnya Minhee mengerang dan terbangun. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali, kemudian tersenyum lebar saat mendapati kakaknya sudah berada di depannya. Minseok membalas senyum adiknya dan menganggap itu sebagai salam selamat pagi. Minhee bangun lalu melingkarkan tangan gemuknya di leher kakaknya. Minseok pun tahu apa yang diinginkan Minhee dan Minseok harus memenuhinya. Minseok menggendong tubuh Minhee dan membawanya keluar kamar. Rambutnya sangat berantakan dan matanya menjadi sangat besar setelah tidur. Chanyeol sangat beruntung dapat melihat Minhee untuk pertama kalinya. Saking beruntungnya, pria tinggi itu mencubit kedua pipi Minhee dengan gemas. Sedangkan yang dicubit masih tidak mengerti kenapa Chanyeol melakukan itu padanya. Sosok Luhan yang keluar dari kamar dengan piyama hitamnya membuat Minhee senang.

            “Oppa cantik!” panggil Minhee riang. Merasa dipanggil, Luhan menoleh ke arah Minhee.

            “Pagi, Minhee. Apa tidurmu nyenyak?”

            “Tentu saja, oppa. Minhee semalam mimpi kuda poni,” jawab Minhee girang. Luhan dan Chanyeol yang mendengar jawaban Minhee menjadi bingung. Menyadari kebingungan ini, Minseok tertawa renyah lalu menjelaskan semuanya.

            “Mimpi indah, maksudnya. Bagi Minhee kuda poni adalah lambang kebahagiaan.”

            “Oh, aku mengerti.”

            Setelah mengangguk, Luhan langsung pergi menuju kamar mandi untuk berbenah diri atau langsung mandi, mungkin. Chanyeol kembali menyubiti pipi Minhee yang mendapat amarah dari Minhee.

            “Ya! Dia kesakitan, Yeol. Lakukan itu kepada Bill sana!” ucap Minseok kesal sambil menjauhkan Minhee darinya. Bill itu anjing peliharaan Chanyeol.

            “Bill tidak punya pipi,” bantah Chanyeol.

            “Oppa, Minhee mau makan,” pinta Minhee pelan.

            “Kau mau apa? Bagaimana kalau kita makan sayur? Oppa sudah lama tidak membuat wanita brokoli dan paman wortel untuk Minhee.”

            “Oke!”

            Dunia serasa hanya milik Minhee dan Minseok saja sekarang. Chanyeol yang sedari tadi berada di samping mereka, hanya menonton dan akhirnya terlupakan begitu saja. Chanyeol yang tidak tahu apa-apa, jadi salah tingkah. Pria tinggi itu secara acak melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan, seperti menonton acara pagi di TV. Chanyeol yang malang.

            Minhee yang manis sekarang sudah berada di kursinya sambil menunggu kakaknya membuat makanan. Tangan-tangan mungilnya sedang asik memainkan sendok besi dengan cara memukulkannya ke meja. Di balik punggungnya, Minseok sedang tersenyum senang melihat adiknya bertingkah seperti itu. Minseok sangat kangen dengan apa yang ia Minhee lakukan di atas meja setiap pagi. Suasana rumah terasa seperti sudah kembali, membuat Minseok tambah kangen. Dia yang akan sangat sibuk menyiapkan sarapan untuk Minhee, mengikat rambutnya dan mengantarnya ke sekolah. Tidak peduli betapa rewelnya Minhee di mobil karena ikatannya jelek dan segala macam. Sekarang ia menyesal memilih sekolah yang jauh dari rumah hanya karena ingin menghindari Minhee.

            “Selamat makan!” gumam Minhee senang, lalu menyendok penuh nasi dan memasukkan ke mulutnya.

            “Minhee, hari ini kita pergi ke rumah oppa cantik, yuk?” ajak Minseok dengan nada riang agar Minhee tertarik.

            “Untuk apa?” tanya Minhee bingung.

            “Begini, oppa cantik punya adik yang seumuran dengan Minhee. Namanya Xi Laoyi. Adiknya itu sudah lama ingin punya teman yang seperti Minhee. Karena dia juga tinggal sendiri dirumah. Jadi, oppa-nya ingin Minhee menemani Laoyi disana.”

            “Apa Minhee harus memanggilnya eonni?”

            “Tidak, tidak. Kalian seumuran. Minhee boleh menggunakan banmal padanya,” jawab Minseok. Minhee tampaknya sedang memikirkan tawaran Minseok.

            “Oke, Minhee akan pergi kerumah oppa cantik itu,” ucap Minhee mantap. Minseok pun melebarkan senyumannya sambil mengelus kepala adiknya pelan, lalu melepaskannya kembali.

            Minseok berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sosok Luhan yang baru saja selesai mandi. Minseok mengatakan semua yang katakan kepada Minhee tentang Laoyi. Luhan yang mendengarnya senang karena Minhee menyetujuinya. Tapi, ada satu hal yang terlupakan oleh Minseok. Dia tidak bertanya pada Minhee apa anak itu ingin tinggal bersama Laoyi atau tidak. Yang adiknya tahu mereka hanya akan mengunjungi rumah Luhan dan menemani Laoyi bermain seharian. Tidak ada kata menginap dan tinggal bersama yang ditangkap Minhee tadi. Astaga! Apa Minhee tidak apa-apa?

            Tepat pukul dua siang lewat lima belas menit mobil Luhan berhenti di tempat parkir rumahnya yang besar. Minhee yang duduk dibelakang langsung membuka sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil dengan sangat antusias. Minseok dan Luhan keluar setelah itu. mata Minhee selalu terpaku pada semua dekorasi taman Luhan yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia menarik tangan Minseok untuk menunduk padanya lalu memberitahu kepada kakaknya kalau bunga-bunga disana cantik dan indah. Minseok ikut tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakan adiknya. Minhee sampai tak sadar kalau ‘oppa cantik’ sudah masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Minseok dan Minhee berdua. Tak lama kemudian Luhan keluar kembali bersama adik perempuannya yang bernama Xi Laoyi. Anak yang lucu dengan mata besar seperti kakaknya, memiliki rambut agak merah, dan lebih tinggi daripada Minhee. Wajahnya terus memberikan senyum senang, apalagi saat ia mendapati sosok Minhee disana.

            “Minhee, temanmu datang,” bisik Minseok. Minhee langsung menoleh ke oppa-nya, Luhan dan Xi Laoyi. Minhee memandang Laoyi dengan bingung karena ia terus tersenyum pada Minhee.

            “Minhee, ini Laoyi. Laoyi, ini Minhee,” ucap Luhan.

            “Hai, namaku Kim Min Hee. Senang bertemu denganmu,” sapa Minhee canggung lalu membungkuk sopan.

            “Hai, aku Xi Laoyi. Senang berkenalan denganmu. Mau bermain denganku?” ajak Laoyi akhirnya.

            “Ah, aku tak yakin,” gumam Minhee lirih. Namun, Laoyi sudah menarik tangan gemuk Minhee dan menyeretnya menuju rumahnya, meninggalkan Luhan dan Minseok yang terus memperhatikan mereka.

            “Biarkan mereka bermain sampai Minhee menemukan sisi nyaman Laoyi. Anak kecil pasti cepat bergaul kalau sudah bermain bersama,” ucap Luhan sambil tersenyum kecil pada Minseok.

            “Ah, aku tak yakin. Tapi, aku sangat mengharapkan itu terjadi,” kata Minseok agak sedikit ragu.

            Minhee dan Laoyi memang bermain, tapi tampaknya Minhee belum bisa seperti Laoyi yang tenang-tenang saja menghadapi Minhee. Anak itu tidak terlihat canggung sama sekali, bahkan ia seperti sudah sering bermain dengan Minhee. Terlihat dari sikap Laoyi yang sangat cerewet. Semua yang ada dipikirannya ia keluarkan. Minhee lebih banyak diam dan sesekali menanggapi perkataan Laoyi dengan anggukan ragu. Minseok yang memperhatikan sikap Minhee dari meja makan hanya bisa berekspresi sedih dan khawatir Laoyi akan bosan padanya. Luhan yang berada di seberangnya mendapati arah pandangan Minseok yang tertuju pada Minhee. Luhan menghembuskan napasnya panjang lalu menusuk roti bakar Minseok dengan keras sampai menimbulkan suara dentingan kencang, membuat Minseok terkejut dan reflek menoleh kepada Luhan.

            “Aku cuma khawatir, Luhan. Khawatir,” ulang Minseok, lalu menjauhkan garpu Luhan dari camilannya. Kemudian memakan potongan kecil rotinya yang sudah ia potong tadi. matanya tidak bisa pergi dari sosok Minhee yang sedang bermain. Walaupun Luhan sering mengganggunya tapi Minseok tetap menuju ke arah Minhee. Sekali lagi, Luhan menusuk roti Minseok lebih keras dan menimbulkan Minseok dan kedua anak yang sedang bermain menoleh. Luhan menatap Minseok tajam.

            “Kalau kau tetap begitu, aku akan menusuk matamu setelah ini,” ancam Luhan dingin.

            “Aku akan memutuskan tanganmu kalau kau tetap melakukannya,” ancam Minseok balik.

            “Oppa, apa kau baik-baik saja?” tanya Laoyi bingung.

           “Ya, aku baik-baik saja,” jawab Luhan dengan nada senang. Sangat berbeda saat ia mengancam Minseok tadi. “Kau mau roti?”

            “Nanti. Aku mau bercerita tentang peri kepada Minhee.”

            “Apa itu menyenangkan, Laoyi?” tanya Luhan sedikit mengejek.

            “Berisik!” teriak Laoyi kesal. Luhan pun terkikik. Tiba-tiba Minhee tertawa kecil saat melihat Laoyi kesal. Tak disangka, Laoyi terkejut melihat reaksi Minhee.

            “Oh? Kau tertawa?” tanya Laoyi tak percaya.

            “Ya! Apanya? Aku tidak tertawa! Aku hanya tersenyum,” bantah Minhee cepat, berusaha mendatarkan kembali wajahnya.

            “Ya! Kau tadi ketawa! Aku melihatnya! Kau tidak akan diampuni kalau berbohong!”

            “Apa kau mengancamku sekarang?”

            Dan begitu seterusnya sampai mereka akhirnya tertawa bersama-sama dan menjadi akrab. Minhee tidak canggung lagi. Minhee pun tidak segan untuk memukul Laoyi yang terus mengejek tentang pipinya yang sangat besar. Akhirnya Minseok tidak khawatir lagi. Toh, Laoyi bisa membuat Minhee nyaman.

            Kebahagiaan ini berakhir saat Minseok memberitahu Minhee kalau ia harus pulang. Minhee tentu saja sedih. Ia baru saja akrab dengan Laoyi dan sekarang ia harus pergi. Laoyi juga begitu. Ia meminta Minseok untuk tidak membawa Minhee pergi dan membiarkan Minhee menginap dirumahnya. Tentu saja itu tidak bisa. Besok hari senin. Minhee harus pergi ke sekolah, begitu juga dengan Laoyi. Tidak mungkin membiarkan Minhee tinggal sekarang. dengan berat hati Laoyi mengucapkan selamat tinggal pada Minhee yang akan masuk mobil. Saat mobil Luhan akan meninggalkan rumahnya, Minhee terus menoleh ke belakang melihat Laoyi yang terus berdiri tegak dengan raut muka cemberut di wajahnya. Barulah Minhee merubah posisinya menjadi bersandar pada kursinya.

            “Laoyi tidak takut dirumah sendirian, oppa?” tanya Minhee kepada Luhan.

            “Tenang saja. Ada Zanzue oppa dirumah dan seorang penjaga anak. Ah, ibunya Laoyi akan pulang sebentar lagi jadi Laoyi tidak akan kesepian,” jawab Luhan sambil tersenyum untuk meyakinkan Minhee. Minhee kembali menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap jalanan malam yang terang dan ramai. Seandainya aku bisa menginap disana, pikir Minhee. Tiba-tiba Minhee mendapat ide.

            “Oppa, Minhee mau tinggal dirumah Laoyi,” mohon Minhee riang. Minseok yang sedang bermain dengan ponselnya tiba-tiba terkejut dan menoleh kepada adiknya.

            “Apa?”

            “Minhee bilang, Minhee mau tinggal dirumah Laoyi,” ulang Minhee dengan penuh penekanan pada setiap katanya agar kakaknya tidak bertanya lagi.

            “Oppa sebenarnya senang Minhee bilang begitu. Tapi, oppa tidak yakin ibu dan kakak mau mengijinkanmu.”

            “Aku tidak mau tahu! Oppa harus bicara dengan ibu dan kakak! Pokoknya aku mau bersama Laoyi!” ucap Minhee, memaksa kakaknya untuk berbuat sesuatu. “Lagipula, ibu dan kakak tidak akan sering dirumah,” kata Minhee sepelan mungkin—lebih mirip gumaman daripada perkataan.

            Paginya, Minhee sudah tak ada di kamarnya. Saat subuh tadi Minhee sudah dijemput—lebih mirip diculik—oleh Paman Kim. Dalam keadaan sedang tidur, ia digendong keluar asrama menuju mobilnya dan dibawa pulang. Di kepala Minseok masih terbayang-bayang perkataan Minhee di mobil Luhan. Dia sebegitu inginnya tinggal dengan Laoyi. Padahal mereka baru saja bertemu. Minseok tidak melarang Minhee dirumah Laoyi, malah ia bersyukur akhirnya Minhee punya teman yang bisa diajak berbagi dan bercerita. Selama ini teman Minhee hanya Minseok seorang. Kakaknya lebih sering menghabiskan waktu dengan tunangannya dan jarang ada dirumah. Tapi, bagaimana meyakinkan ibu dan kakaknya? Minseok tidak yakin keluarganya itu mau memberi Minhee izin.

 

****

TBC… (Kometarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

5 thoughts on “Dorm (Chapter 7)

  1. Kai's fan berkata:

    yaah Minhee tinggal dirumah Laoyi aja.kasian kalo ditinggal terus:(.cerita nya ada sedih nya ada seneng nya juga.padahal baru aja ortu nya Jongdse cerai sekarang adiknya Minseok ditinggal sendirian.

    next nya aku tunggu ya thor nim~

  2. fafa sasazaki berkata:

    Gemes bgt nie ma minhee, penasaran gmn lucunya tu bocah. Cba dikasih pict’a minhee ma laoyi, author-nim..
    Next chap psti usaha minseok ngebujuk ibu ma kakaknya ya,
    next chap’a lg cerita kmr 30 dong, please.
    #puppy eyes.
    Oh y, momen baekyeol’a dbnyakin lg y.. Aq hardshipper’a mrk soalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s