Dorm (Chapter 6)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 6)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Dua hari berlalu begitu cepat. Tahu-tahu sudah waktunya sidang. Lee In Joong tampak sangat resah di dalam sebuah ruangan kosong yang berisikan sebuah sofa hitam di bawah jendela dan meja kayu kecil di sampingnya. Tak henti-hentinya ia menggigit ibu jari tangan kanannya dan bolak-balik tak menentu. Ia resah kalau-kalau Jongdae tidak datang dalam sidang ini. Dia sangat mengharapkan anaknya datang, tapi itu tidak membuat hatinya merasa lapang. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Dia bukan ingin menunjukkan proses sidangnya di depan anak semata wayangnya. Namun dia ingin Jongdae mengerti kalau perceraian itu bukan berarti tak bertemu selama-lamanya. Ya, walaupun itu tak mungkin bagi Jongdae untuk mengerti. Karena dirinya lah dan Kim Jong Chul—suaminya—yang menciptakan suasana mencekam saat mereka dirumah. Tak heran kalau Jongdae akan pergi meninggalkan rumah. Jongdae sudah beranggapan dirinya tak dibutuhkan. Ada dan tak ada sama saja.

            Tiba-tiba, Kim Jong Chul masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya tidak seresah Lee In Joong. Dia tampak sangat datar dan tenang. Ini membuat Lee In Joong curiga.

            “Aku tidak menyangka kau akan begitu tenang,” ucap Lee In Joong.

            “Apa yang harus ditakutkan? Ini bukan eksekusi mati,” balas Kim Jong Chul, lalu duduk di atas sofa.

            “Kau tidak takut bagaimana reaksi Jongdae nanti?” tanya Lee In Joong lagi.

            “Bukankah dia tidak menganggap kita tak ada? Kita yang melakukan ini kenapa harus gugup akan ini? Dia akan melupakan kita secepatnya. Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku sebenarnya sangat sedih, tapi akan lebih sedih lagi kalau aku masih mempertahankan hubungan ini. Aku tidak bisa membayangkan wajah takut Jongdae saat melihat kita bertengkar. Tenang saja. Aku akan memberikan hak asuh Jongdae kepadamu,” ujar Kim Jong Chul tenang.

            “Dia tidak akan bersamaku walau aku mendapatkan hak asuh untuknya,” kata Lee In Joong sedih.

            Kim Jong Chul berdiri dan mendekati Lee In Joong. Ia meletakkan tangannya di bahu kanan istrinya, dan menepuk-nepuk perlahan. Ia tersenyum hangat. Sedetik bagi Lee In Joong untuk merasa terpana dan terkejut melihat sikap Kim Jong Chul hari ini. Suaminya ini tidak pernah tersenyum padanya semenjak melahirkan Jongdae. Senyum hangat dan tulus itu hanya diberikan untuk Jongdae seorang. Sikapnya akan berubah bila sudah berdua saja dengan Lee In Joong. Dia, ingin menangis sekarang. pikirannya akan perceraian hilang. Hanya dengan senyuman dari suaminya sudah membuatnya merelakan apapun yang akan terjadi pada persidangan nanti.

            “Aku sangat mencintaimu, Lee In Joong. Dan aku juga menyayangi anakku, Kim Jong Dae. Maaf kalau selama ini sikapku sangat kasar padamu,” ucap Kim Jong Chul tertunduk.

            “Semua sudah terlambat. Aku mau kita berpisah saja,” balas Lee In Joong juga tertunduk menahan tangis.

            “Ya. Lebih baik begitu,” ucap Kim Jong Chul pasrah.

            Persidangan pun dimulai. Lee In Joong menyempatkan diri untuk mencari Jongdae di antara para saksi di ruangan sidang. Ada satu kursi kosong yang membuat hati Lee In Joong semakin sedih. Tak ada Jongdae disana. Jongdae tidak menghadiri sidang seperti yang diharapkan oleh Lee In Joong.

            Aku siap menerima ini. Maafkan ibu, Nak.

****

            “Ya. Kau tidak menghadiri sidang itu?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

            “Nanti. Pasti memakan waktu lama disana. Aku tidak suka menunggu,” jawab Jongdae acuh.

            “Tapi, pergi kesana memakan waktu satu jam. Kau yakin kau bisa menemui orang tuamu dengan waktu selama itu?” tanya Chanyeol resah sambil melihat jam tangannya.

            “Sebentar lagi. aku akan pergi setelah menghabiskan ini,” jawab Jongdae sambil melahap roti selainya. Chanyeol memutar kedua bola matanya. Temannya ini memang agak aneh. Oke, Chanyeol akan membiarkan dia berbuat semaunya sekarang.

            Lima menit untuk Jongdae menghabiskan rotinya. Ia pun berlari meninggalkan atap dengan langkah santai. Untung saja Chanyeol tidak mengikutinya. Manusia tinggi itu sudah terlelap di bangku kayu panjang di atap. Selama Jongdae memakan rotinya, Chanyeol sudah terkapar di bangku dengan posisi mengenaskan (kalian bisa membayangkan posisi seperti apa itu). Jongdae meninggalkan sekolah tanpa beban apapun. Ia tidak takut dimarahi oleh penjaga sekolah karena keluar dari sekolah pada jam pelajaran.

            Akhirnya Jongdae sampai di gedung Mahkamah Agung dengan selamat. Berada di mobil selama satu setengah jam membuat badannya pegal. Ditambah lagi ada macet di perjalanan tadi. Jongdae pun masuk ke dalam gedung itu. berjalan sendirian di gedung yang sepi ini membuat Jongdae takut.

            “Kenapa orang-orang suka sekali dengan gedung besar yang tak berpenghuni seperti ini?” tanya Jongdae dalam hati.

            Tiba-tiba langkah Jongdae terhenti di sebuah ruangan berpintu coklat yang bertuliskan ‘Ruang Sidang’ diatasnya. Jongdae yakin ini adalah ruang sidang yang dimaksud ibunya. Jongdae perlahan membuka pintu itu dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun. Matanya menyapu setiap sudut ruangan beserta dengan orang-orang yang berada di dalamnya. Ia bisa menemukan kakak sepupunya, adik sepupunya, nenek, kakek, paman dan bibinya berada disana. Tak terkecuali ibu dan ayahnya. Jongdae tidak terlalu mengerti apa saja yang dilakukan oleh para jaksa menyidang ibu dan ayahnya. Dia tidak berniat untuk masuk. Lebih baik melihat dan mendengar dari luar. Sepertinya sidang sudah berakhir dengan diputuskannya siapa yang akan memiliki hak asuh Jongdae. Pria itu tampaknya sudah puas dengan apa yang ia dengar. Oke, ini saatnya untuk pergi sebelum orang lain mendapatkannya. Tapi, terlambat untuk Jongdae. Dia ditemukan oleh ibunya saat Jongdae akan mulai melangkah.

            “Jongdae-ya?” panggil ibunya lirih. Jongdae terpaku ditempatnya. Ia tidak siap melihat wajah ibunya. “Jongdae-ya?” panggil ibunya sekali lagi. Jongdae menghela napasnya dan berbalik, menatap ibunya dengan wajah datar.

            “Ada apa?” tanya Jongdae dingin.

            “Ah.. itu.. ibu sangat senang kau datang. Ibu.. ingin bicara padamu,” pinta ibu Jongdae dengan nada memohon.

            “Oke. Aku juga datang kesini karena ada yang mau aku sampaikan kepada ibu,” ucap Jongdae datar. Kini bukan hanya matanya yang menghadap ibunya, dia sudah membenarkan posisinya untuk berbicara kepada ibunya. Ibunya menatap lemah kepada Jongdae. Walaupun wanita itu tahu kalau dia berhak mengurus Jongdae, bukan berarti Jongdae akan pulang kerumah. Kim Jongdae, masih terasa sangat jauh dari genggamannya.

            “Aku senang perceraian itu punya aturan hak asuh anak. Dan, aku senang ibu yang memilikinya. Akan sangat senang kalau kalian berdua yang mengasuhku. Tapi, itu terlambat, bukan?” Jongdae mendesah lemas. “Tolong jangan hubungi aku lagi.”

           Seketika Nyonya Lee melebarkan matanya. Air matanya akan keluar sekarang kalau ia tidak bisa menahannya. Tangannya bergetar hebat. Sapu tangan kotak-kotak biru tua ditangannya diremas makin kuat.

            “Jongdae-ya..” panggil Nyonya Lee dengan suara bergetar, sambil melangkah pelan menuju anaknya. Namun, Jongdae mundur seiring pergerakan ibunya, membuat Nyonya Lee berhenti. Bahkan anaknya tidak ingin ibunya mendekat.

            “Tolong jangan hubungi aku untuk menjemput ibu di bandara atau menyuruhku pulang. Tenang saja. Aku masih menganggap ibu sebagai ibuku. Aku akan pulang kerumah. Tapi, aku tidak yakin apa aku tidak menangis disana,” ucap Jongdae dengan tawa sedihnya. Nyonya Lee semakin sedih melihat Jongdae. Setetes air mata mengalir melewati pipinya.

            “Jongdae-ya… Kau bisa memintaku untuk pindah rumah ke luar negeri agar kau tidak melihatku lagi. Ibu akan menuruti itu. Tapi.. ibu tidak bisa kalau tidak menghubungimu. Ibu… pasti akan sangat merindukanmu, Jongdae-ya,” ucap ibunya semakin lirih dan bergetar.

            “Kalau ibu merindukanku, KENAPA IBU TIDAK MEMBAWAKU??!” nada Jongdae semakin keras.

            Dada Jongdae naik turun setelah mengatakan itu. Amarahnya memuncak, membuat air mata Jongdae tertahan di pelupuk mata. Awalnya dia memang ingin marah. Tapi, setelah mendengar ibunya ‘akan sangat merindukannya’, itu yang tidak bisa diterima Jongdae.

            “Sebesar apapun ibu merindukanku, ibu tidak pernah memintaku untuk ikut bersamamu. Sebanyak apapun ibu memberiku hadiah, aku tidak pernah berpikir itu sebagai tanda sayang ibu. Aku tidak bisa tumbuh dewasa. Aku masih ingin dimanja. Diberikan hadiah oleh orang tuanya saat ulang tahun, membuka kotak hadiah dan makan hidangan Natal bersama, dan pergi memancing saat musim dingin bersama ayah. Itu semua mimpiku yang sangat kekanak-kanakan. Aku tidak pernah meminta ibu untuk membelikanku pakaian atau jam mahal dari luar negeri. Aku hanya butuh kau, bu.”

            Jongdae pun tertunduk sangat dalam. Matanya berair. Rasanya ia ingin menangis sekarang. terlalu banyak yang ia alami bersama ibunya. Nyonya Lee terdiam. Eratan tangan di sapu tangannya mengendur. Ia hanya bisa memandang Jongdae yang berjarak dua meter darinya. Ia sadar dengan memberi Jongdae hadiah dan segala macam kekayaan tidak membuat anak itu bahagia. Ia tahu kalau Jongdae bukan anak yang suka meminta macam-macam. Jongdae juga tidak pernah mengeluh tentang sesuatu yang ia berikan. Anak itu hanya mengangguk dan tersenyum. Nyonya Lee akhirnya tersadar apa yang selama ini ia perbuat, sama sekali tidak membuat Jongdae berpikir ia adalah anak kandungnya. Kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang. Begitu juga dengan Jongdae. Apapun yang ditawarkan ibunya, malah membuat Jongdae berpikir ibunya ingin menyingkirkannya dari hidupnya.

            “Baiklah. Ibu tidak akan pernah menghubungimu lagi. Tapi, izinkan ibu untuk bertemu denganmu saat hari ulang tahunmu dan hari Natal. Setelah itu, ibu tidak akan mengusik kehidupanmu. Kalau kau perlu sesuatu, ibu selalu ada untukmu, Jongdae-ya. Kalaupun kau tidak menganggapku lagi, ibu akan menerimanya,” ujar Nyonya Lee dengan senyuman hangatnya. Nyonya Lee mengangkat kepalanya yang tadi sempat tertunduk. Dia tatap lekat-lekat wajah Jongdae sampai ia tidak ingin menghilangkan wajah manis itu dari otaknya. Ini bisa saja menjadi hari terakhirnya melihat Jongdae seumur hidupnya.

            “Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu. Kalau kita bertemu kembali, ibu tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Ibu bersumpah akan melakukan apapun untukmu. Ibu akan terus memberimu semangat dibelakangmu. Ibu menyayangimu, Jongdae-ya. Ibu menyayangimu,” ucap Nyonya Lee lembut. Terdapat kehangatan disetiap katanya. Namun, tak bisa dipungkiri kalau itu adalah kata-kata pasrah dari dia untuk Jongdae.

            “Selamat tinggal, Jongdae-ya…”

****

Bel berbunyi lebih cepat dari biasanya. Hal ini sangat membuat semua siswa-siswi tersenyum bahagia. Mereka akhirnya bisa pulang cepat dan segera istirahat dirumah. Di kelas 11-5 tempat Minseok, Luhan, Suho, Sehun, Chanyeol, Baekhyun dan Kyungsoo belajar. Mereka meninggalkan kelas dengan ceria. Terutama Chanyeol dan Luhan yang selalu menanti hari ini akan pulang lebih awal. Mereka berdua sudah merencanakan akan pergi ke tempat arcade dan bermain sepuasnya disana. Begitu juga dengan Suho dan Kyungsoo yang sudah berencana akan pergi ke perpustakaan untuk belajar bersama. Sehun dan Baekhyun berencana mengunjungi kamar nomor 30 (kamar asrama Tao dan Jongin). Lain dengan Minseok. Kali ini dia tidak berencana pergi dengan siapa-siapa. Dia sudah bilang pada Luhan kalau dia ingin sendiri sekarang. Dan, disinilah dia di atap gedung sekolahnya. Berdiri di dekat pagar pembatas atap sambil menggenggam kaleng soda. Angin semilir menerbangkan helaian rambutnya secara halus. Blazernya terus bergerak ke belakang karena angin. Tak ada orang selain Minseok di atap. Tapi, sepertinya ada orang lain lagi yang baru menginjakkan kakinya di atap ini. suara dentuman pintu menuju tangga, membuat Minseok menoleh ke sumber suara. Ia mendapati sosok Jongdae sedang berjalan ke arahnya dengan tangan di masing-masing saku blazernya.

            “Kenapa kau sendirian, hyung?” tanya Jongdae basa-basi.

            “Kenapa ya? Aku juga tidak tahu kenapa,” jawab Minseok sambil tersenyum kecil. “Kau mau?” tawar Minseok sambil menyodorkan kaleng soda lainnya kepada Jongdae.

            “Thanks,” ucap Jongdae setelah mengambil kaleng soda itu. Jongdae membuka penutup kalengnya kemudian meminum isinya sampai bersisa setengah.

            “Kau pergi ke pengadilan itu?” tanya Minseok.

            “Tentu saja,” jawab Jongdae, menyunggingkan senyum miringnya.

            “Siapa yang mendapat hak asuhmu?”

            “Ibuku.”

            “Jadi, apa yang kau katakan kepada ayahmu? Atau aku harus memanggilnya Tuan Kim?” canda Minseok.

            “Aku tidak bertemu dengannya tadi. Sepertinya ayah menghindariku. Aku melihat ibu dan ayah keluar bersama, namun ayah seperti tidak melihatku. Padahal ibu berteriak memanggil namaku,” jawab Jongdae sambil tertawa mendengus. Jongdae menolehkan kepalanya untuk menatap Minseok yang sudah menatapnya dari tadi. “Aku iri padamu, hyung. Walaupun orang tuamu sudah bercerai, tapi ayahmu masih peduli. Aku iri,” ujar Jongdae lagi.

            Minseok tampak berpikir sejenak apa maksud ‘peduli’ yang dibilang Jongdae. Tiba-tiba mata Minseok melebar. “Aku tidak tahu kalau kau melihat ayahku datang saat acara kelulusan SMP!”

            Jongdae tertawa mendengus. Ia memain-mainkan kaleng sodanya, lalu berkata, “terakhir kali orang tuaku datang saat acara kelulusan SD. Huh, menyedihkan.”

            Minseok tersenyum kecil lalu menepuk pundak Jongdae pelan. “Jangan sedih. Aku selalu ada untukmu, Jongdae. Aku akan memberikanmu buket bunga saat acara kelulusanmu nanti,” hibur Minseok. Jongdae tersenyum lebar mendengar ucapan Minseok yang menurutnya terdengar sangat romantis.

            “Terima kasih, hyung,” ucap Jongdae tulus. Minseok mengangguk, lalu menjauhkan tangannya dari pundak Jongdae. Agar tidak ada lagi kesedihan di hati Jongdae, Minseok mengalihkan pembicaraan dengan sesuatu yang ringan. Seperti membicarakan rencana pergi makan malam bersama di luar. Minseok tahu kalau makanan bisa membuat Jongdae bersemangat.

****

20:00 KST…

            Dulu, Minseok pernah berjanji kepada Luhan untuk pergi menonton bioskop bersamanya. Sekarang baru terwujud janji itu. Satu jam yang lalu, mereka berada di dalam bioskop dan sekarang mereka berada di luar bioskop. Film zombie yang disukai Luhan (karena menurutnya zombie membuatnya terlihat manly) baru saja mereka tonton. Karena ini hari sabtu, para murid di Seoul High School bisa bebas keluar malam sampai batas jam sepuluh malam. Karena hari ini juga lah Minseok bisa mengajak Luhan menonton bioskop. Setelah seminggu menghabiskan waktu untuk belajar, inilah saatnya mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.

            Luhan yang sangat suka makan, menarik paksa Minseok untuk makan di sebuah cafe dekat sekolah mereka. Luhan yang memilihkan makanan yang akan mereka makan. Tapi, tampaknya Luhan ingin membuat Minseok tambah gemuk. Dilihat dari makanannya, semua berbahan karbohidarat dan lemak tinggi. Luhan begitu bahagia saat menyantapnya, tapi tidak untuk Minseok. Pria chubby itu lebih memilih memakan acarnya saja.

            “Kenapa acarnya saja yang kau makan?” tanya Luhan sambil mengunyah makanannya. “Kau takut gemuk?” tanya Luhan kembali.

            “Kenapa kau bertanya?” tanya Minseok balik dengan sinis. Setelah semua acarnya habis, Minseok menaruh sumpitnya disamping piring. Untung saja ada pelayan yang lewat di sekitar mereka. Minseok memanggil pelayan tersebut.

            “Tolong makanan ini di masukkan ke dalam kotak makanan untuk dibawa pulang,” pinta Minseok yang mendapat anggukan dari pelayan tersebut. Selagi pelayan itu mengangkat semua piringnya, Minseok mendapat pesan dari pesan grupnya. Dari Chanyeol.

            ‘Hyung, cepatlah pulang! Minhee ada disini.’

            “Oh! Minhee ada di asrama!” pekik Luhan tiba-tiba saat melihat ponselnya. Sepertinya ia mendapat pesan itu juga.

            “Sebaiknya kau cepat menyelesaikan makananmu. Ada yang tak beres kalau Minhee datang menemuiku.”

 

****

TBC… (Komentarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

2 thoughts on “Dorm (Chapter 6)

  1. fafa sasazaki berkata:

    Omo, aq ikut nangis wktu jongdae ktmu ibunya d persidangan.

    Suka momen xiuchen yg d atap sekolah.

    Minhee syp y.. Adeknya minseok kah?

    Keep writing baozinam-ssi,
    Meluncur k next chap.
    Lalalalala~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s