Dorm (Chapter 5)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 5)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Minseok melangkahkan kakinya satu-persatu di anak tangga menuju atap. Jongdae mengiriminya pesan tadi pagi. Sekarang ia menurutinya dengan mengunjunginya di atap. Minseok menarik pegangan pintu sampai pintunya terbuka lebar untuknya. Ia melepaskan pegangannya seraya keluar dari tangga. Angin kencang seketika menerpa tubuh Minseok, membuat rambutnya berantakan. Atap memang selalu banyak angin. Atap juga tempat yang jarang dikunjungi siswa-siswi (disini dingin!). Minseok akhirnya mendapatkan sosok Jongdae sedang memunggunginya. Minseok menghampirinya dan menempatkan posisinya satu meter dari posisi Jongdae berdiri sekarang.

            “Kau datang, hyung?”

            “Tentu saja.”

            Keheningan lagi. Tak ada yang mau mengisi keheningan abadi ini dengan percakapan. Jongdae lebih banyak menatap apapun di bawah dari atas atap, daripada mengajak Minseok berbicara. Pria yang menemaninya kini juga tidak ingin memulai. Ia tak suka mendesak apapun. Menunggu pasti berujung baik daripada terburu-buru.

            “Kedua orang tuaku bercerai, hyung,” ucap Jongdae tiba-tiba.

            “Aku tahu,” balas Minseok pelan.

            “Lebih baik bagaimana?” tanya Jongdae, sambil menatap seekor kucing yang sedang melompati atap-atap rumah secara bergantian.

            “Maksudmu?” tanya Minseok, mengalihkan pandangannya menuju Jongdae.

            “Kau pasti sudah tahu tentang perceraian itu. Dan tentang sidangnya. Aku diminta untuk menghadirinya. Namun, aku tidak siap untuk melihatnya. Seperti melihat proses kematian kedua orang tuaku.” Jongdae mengalihkan pandangannya menuju Minseok, dan menatapnya sendu. “Aku marah saat mendengar kalau ibuku akan bercerai dengan ayah. Bahkan di otakku kata sekolah menghilang begitu saja. Aku bisa menerobos semua dinding yang diciptakan ibuku. Aku bahkan lancang masuk ke dalam ruang teh. Aku juga berani mengacaukan rapat investasi dengan para investor tua itu. Aku memakinya setelah itu. Aku juga mengatakan alasanku kabur dari rumah. Saat di mobil, aku berharap ini adalah mimpi. Namun, ini terasa sangat nyata. Hah, aku bisa gila, hyung, kalau mengingat ini semua.”

            “Aku mengerti kau sangat kecewa. Perceraian memang sangat menyakitkan bagi kita sebagai anak. Aku juga pernah mengalaminya. Saat aku berumur lima tahun aku sudah ditinggal ayahku. Aku tidak tahu perceraian itu. Apa dia sejenis dengan perpisahan? Aku tidak sedih. Namun, aku menangis saat ayahku bilang kalau ia tidak akan bisa bersamaku lagi untuk selamanya. Ayah juga mengatakan kalau ia tidak bisa menemaniku membuka kado Natal atau membuat boneka salju. Namun, beriringan dengan bergantinya waktu aku bisa menerima itu semua. Aku bisa melakukan apapun yang selama ini ayahku lakukan untukku. Sesungguhnya, perceraian itu adalah suatu bentuk dorongan agar hati kita bisa lebih tegar daripada siapapun. Beriringan dengan mendewasanya diri. Menangislah sepuasmu. Tapi, bangkitlah segera. Aku yakin, kau adalah orang yang kuat, Jongdae.”

            Minseok menepuk-nepuk pundak kanan Jongdae pelan, sambil tersenyum lembut kepadanya. Jongdae menatap pria di depannya penuh arti. Di otaknya semua tentang ibunya menyeruak keluar memenuhi semua rongga di kepalanya. Minseok benar. Perceraian itu, bentuk dari pendewasaan diri. Ia bisa menangis sekarang, namun ia harus tegar besok, lusa dan seterusnya. Jongdae sekarang mengerti kenapa Minseok sangat dihormati di kelompok dan di antara orang-orang yang mengenalnya.

            Jongdae menekuk bibirnya kebawah. Terlihat getaran di bibirnya karena menahan tangis. Air matanya memaksa untuk keluar sekarang juga. Jongdae tidak bisa menahan itu semua lebih lama. Dan memilih menjatuhkan kepalanya di pundak Minseok yang sudah siap menahannya. Di dalam dekapan Minseok, Jongdae menumpahkan semuanya disana—dalam diam. Sementara itu, Minseok menepuk-nepuk punggung Jongdae berkali-kali dengan pelan. Terukir senyum hangat sekaligus sedih di wajah Minseok. Bersamaan dengan itu, muncul bayang-bayang wajah ayahnya di pikirannya.

****

Di sebuah warung kaki lima tempat menjual tteoukbokki terlihat Jongdae dan Minseok di salah satu meja. Ada Jongdae yang semangat melahap beberapa potong tteoukbokki ke dalam mulutnya. Walaupun mulutnya sudah terasa terbakar, Jongdae tetap melahapnya. Minseok yang duduk di depan Jongdae hanya bisa memandangnya tanpa ada niat untuk bergabung dengan Jongdae. Tangannya tetap menggenggam gelas ice cream vanila. Setelah seharian Jongdae menangis, membuatnya kelaparan dan ingin makan tteoukbokki di warung kaki lima langganannya. Minseok tidak khawatir mereka akan pulang malam hari ini. Sebelumnya, Minseok sudah meminta izin—lebih tepatnya berbohong—kepada Ketua Asrama kalau ia akan pergi mengunjungi makam kakeknya dan mengharuskannya keluar kota. Berbohong bukanlah hal yang sulit untuk Minseok. Toh, mereka tidak akan melawan apapun yang dikatakan pria chubby itu. Minseok mendapat ‘hak khusus’ yang dibuat oleh Ketua Asrama. Ajaibnya semua siswa dan siswi di kelas Minseok menyetujuinya (tak terkecuali orang-orang yang bersamanya di kamar nomor 24).

            Jongdae sudah berkali-kali mengerang kesakitan karena bibirnya yang terasa terbakar dan memerah. Minseok tersenyum kecil sambil menuangkan air putih dingin kedalam gelas Jongdae.

            “Terima kasih, hyung,” ucap Jongdae, lalu kembali melahap tiga potong sekaligus.

            “Aku tidak tahu kau punya selera makannya yang baik,” puji Minseok dengan nada datar (lebih kepada ejekan daripada pujian).

            “Aku terima pujianmu, hyung,” balas Jongdae, kemudian terbatuk. Minseok buru-buru menyerahkan gelas minum yang langsung ditegak habis isinya oleh Jongdae. “Aku tidak yakin bisa menghabiskan ini semua. kau tidak mau?” tanya Jongdae sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal habis meneguk air tanpa memberi kesempatan bernapas.

            “Aku sudah kenyang melihat kau begitu bersemangat memakan semuanya, tanpa membagi padaku,” jawab Minseok yang diakhiri dengan nada yang sangat pelan dan menyindir.

            “Aku mendengarnya,” ucap Jongdae tanpa menatap Minseok, lalu melahap empat potong sekaligus dan membuat pipinya sangat besar. “Terima kasih untuk hari ini, hyung,” ucap Jongdae setelah menelan semuanya ke dalam kerongkongannya. “Kau sudah menyelamatkanku dan membuatku melupakan masalahku.”

            “Aku senang kau bisa makan lagi seperti sekarang. Artinya kau sudah benar-benar menerima semuanya.”

            “Tidak ‘benar-benar’. Hanya menerima, tidak seperti yang kau katakan,” sanggah Jongdae lalu menatap Minseok sekilas sebelum melahap potongan terakhir tteoukbokki-nya.

            “Kau akan tahu kehidupan yang sebenarnya seperti apa. Kalau kau beranggapan kalau hidupmu akan terus bahagia bersama kedua orang tuamu, berpikirlah lagi. Perpisahan, pertengkaran, perceraian, dan kematian, akan kau dapatkan dari orang-orang sekitarmu.
Tinggal bagaimana caramu menyikapinya saja. Memangnya siapa yang tidak menangis bila menerima kesusahan? Semua orang akan mengerti. Jangan sungkan untuk menumpahkan semuanya lewat tangisan, Jongdae. Menahan tangis tidak membuatmu tegar. Kau akan semakin terluka bila terus menyimpannya. Menangis juga bentuk emosi lain dari amarah. Kau mengerti itu, kan, Jongdae?”

            Sesaat Jongdae tertegun di tempatnya. Tidak seperti biasanya Minseok mengatakan hal sebijak ini. Dan seperti bukan Minseok kalau mengatakan sesuatu lebih dari satu kalimat. Apa ini suatu keuntungan bagi Minseok untuk berbagi pengalaman hidupnya? Bukan karena Minseok kini punya seseorang yang senasib dengannya. Tapi, karena Minseok seperti melihat dirinya dulu saat mengetahui kalau ayahnya bercerai. Dengan cara ini, dia bisa lebih tegar daripada orang yang berada di depannya sekarang. Walau dengan konsekuensi, Minseok harus membuka luka lama yang harusnya sudah terjahit sempurna disana.

            “Aku mengerti. Terima kasih, hyung. Kau memang pengertian. Aku tak tahu aku akan seperti apa kalau saat itu aku tidak menghubungimu di malam itu.” Senyum tulus terukir di bibir Jongdae. Tanpa diketahui Jongdae, Minseok sedang membalas senyumnya.

****

Tepat pukul sepuluh malam waktu setempat mobil Minseok berada di area parkir rahasia. Minseok sengaja memarkirnya disini agar penjaga asrama tidak terbangun dan mendapati dirinya dan Jongdae masih diluar kawasan asrama. Minseok mematikan mesin mobilnya, sementara Jongdae berusaha melepas sabuk pengamannya. Mereka berdua keluar dari mobil tanpa menimbulkan suara apapun (Minseok sudah memperingatkan Jongdae untuk menjaga suara). Mereka berdua merangkak masuk ke dalam semak-semak berlubang dan kemudian berlari tanpa menimbulkan suara tapak sepatu menuju pintu darurat. Kedua pria itu berusaha untuk tidak bersuara. Jongdae yang ingin bertanya banyak terpaksa mengurungkan niatnya. Akhirnya, mereka berdua sampai di kamar nomor 24 (tanpa menimbulkan suara apapun!). Untuk malam ini, Jongdae akan menginap di kamar ini. Minseok tak mungkin menyuruh Jongdae ke kamarnya sekarang. Sangat berisiko dari penjagaan malam.

            Setelah lampu utama dinyalakan, Jongdae pun berjalan menuju sofa putih panjang lalu merebahkan diri diatasnya. Sementara itu Minseok berjalan ke kamar pintu biru langitnya untuk mengganti seragam. Saat Minseok masuk, ia hampir berteriak saking terkejutnya saat melihat semua penghuni kamar nomor 24 berkumpul disana.

            “Kau kenapa kaget?” tanya Luhan bingung.

            “Apa yang kalian lakukan disini?!” tanya Minseok sinis.

           “Apa benar orang tua Jongdae bercerai?” tanya Chanyeol yang tiba-tiba saja bangkit dari belakang Baekhyun.

            “Suaramu terlalu keras, bodoh!” ucap Baekhyun sambil memukul kaki Chanyeol keras.

            “Kalian memang penggosip,” gumam Minseok. “Ya, itu benar, Yeol.”

            “Heol. Aku tidak menyangka pasangan itu akan bercerai. Aku tidak pernah mendengar tentang mereka bertengkar. Ya, walau menurutku itu tak penting untuk dieskpos,” komentar Sehun kemudian menghela napas lemas.

            “Bagaimana kalau kalian pergi ke kamar kalian? Atau menjamu tamu kita diluar?” tanya Minseok sambil meletakkan ranselnya di atas lemari kecil di pojok kamar. Kemudian membuka blazer abu-abunya. Terdengar Chanyeol dan Baekhyun sedang mendorong-dorong Suho yang berada di depan mereka. Tampak mereka menyuruh Suho untuk keluar dan ‘menyapa’ duluan. Suho tentu saja menolak. Situasi seperti ini Suho tidak yakin bisa menanganinya sendirian. Untungnya Luhan melototi Suho saat mereka bertemu mata. Tanpa perlawanan seperti yang dilakukannya tadi kepada BaekYeol, Suho mau beranjak dari tempatnya. Ia tampak ragu-ragu, terlihat dari langkahnya yang ia ambil. Luhan tampaknya tak sabar. Ia bahkan mau menendang bokong Suho.

            “Oke, oke. Aku cepat!” ucap Suho sambil berbisik dan dengan penuh penekanan di setiap katanya. Suho berdiri di depan pintu dengan tangannya menggenggam hendel pintu. Dengan berat hati, ia menarik hendelnya dan membukanya lebar-lebar. Dari belakang terlihat kepala Jongdae plus dengan rambut merahnya. Setelah menegak ludahnya sendiri, ia memberanikan diri keluar dari kamar dan menghampiri Jongdae. Sadar ada seseorang yang akan mendekatinya Jongdae memutar kepalanya menuju keberadaan orang tersebut. Disana, berdiri tegak—sedikit menekuk tengkuknya—seorang Suho yang kini tersenyum kepadanya, sedikit segan. Mengetahui ada kecanggungan disini, Jongdae pun tersenyum agak memaksakan untuk tulus.

            “Kau sudah pulang?” tanya Suho berbasa-basi.

            “Kau seperti ibuku, hyung. Jangan lakukan itu,” ejek Jongdae sambil tertawa. Oh, ibu?

            “Hai, Jongdae.” Sosok Baekhyun muncul dari dalam kamar sambil menyapa Jongdae dengan kikuk.

            “Hai, Byun,” sapa Jongdae sambil tersenyum. Jongdae tidak seperti mendapat masalah, pikir Baekhyun.

            “Kau… tidak apa-apa?” tanya Baekhyun curiga.

            “Memangnya aku kenapa?” tanya Jongdae balik.

            “Apa benar orang tuamu ber—Ouw!” pekik Chanyeol sambil memegangi perutnya yang kesakitan habis disikut oleh Baekhyun. Melihat reaksi yang tidak biasa dari mereka, Jongdae lalu tersenyum. Ia tahu kemana arah pertanyaan Chanyeol yang terputus tadi.

            “Ya, itu benar, Yeol. Aku sendiri sekarang. Tidak benar-benar sendiri sih, maksudku, aku masih bisa ikut salah satu dari mereka. Sebenarnya, ada dan tidak ada sama saja. Yah, kau tahu seperti apa aku selama empat tahun ini?” Terlihat senyum memaksakan dari bibir Jongdae.

            “Aku kasihan padamu, Jongdae. Oh Tuhan, aku ingin menangis. Boleh aku memelukmu?” pinta Chanyeol lalu merentangkan kedua tangannya lebar.

            “Kau ingin mati?” maki Jongdae kesal. Chanyeol pun menurunkan tangannya.

            “Jadi, bagaimana selanjutnya? Kau ingin menghadiri persidangan itu?” tanya Suho serius.

            “Ya. Permainan harus diselesaikan sampai akhir. Cerita tidak akan seru bila tak ada ending. Aku ingin menyelesaikan semuanya, Suho,” jawab Jongdae.

 

****

TBC…. (Komentarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

4 thoughts on “Dorm (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s