Dorm (Chapter 4)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 4)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Mobil hitam sport yang dikendari Jongdae melaju sangat kencang. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Otaknya penuh dengan kekecewaan terhadap ibunya. Semua kenangan bersama ibunya yang terputar di otaknya ia anggap adalah sebuah kenangan mengerikan. Tawa dan senyum Nyonya Lee semakin membuatnya sedih. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Tak ada tempatnya untuk pulang lagi. Tak ada tempatnya untuk mengadu. Dirinya yang akan menanggung semuanya sendiri. Tangan Jongdae mengeras di kemudi mobil. Telinganya seketika tuli untuk mendengar apapun, termasuk bunyi klakson orang lain yang memprotes akan perbuatannya yang ugal-ugalan. Ia tak tentu arah. Hidupnya kacau sekarang. Ia pun memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Seperti apa yang diucapkan otaknya tadi, ia tidak punya tempat pulang. Ia tak mungkin kembali ke asrama dengan keadaan seperti ini. Jongdae tidak mau membuat semua temannya khawatir. Lebih baik menyembunyikannya sampai ini selesai. Menyedihkan. Ia harus mengalaminya sendiri, dan mengatasinya sendiri.

            Tiba-tiba ponselnya berdering sekali. Matanya langsung menuju jok di sampingnya—tempat dimana ia meletakkan ponsel. Ada pesan grup. Ia mendapati Minseok sebagai pengirimnya. Setelah membaca pesan singkat yang bertanya dimana dirinya sekarang, Jongdae tidak berniat membalasnya. Ibu jarinya mengarah ke tulisan ‘option’ dan memilih kata ‘leave grup’. Seketika pesan Minseok tadi terhapus. Jongdae kembali melemparkan ponsel itu di tempatnya semula. Ia pun menempelkan kepalanya di kemudi lalu memejamkan kedua matanya. Entah kenapa ia pusing sekali. Jongdae akhirnya memutuskan tidur selama yang ia mau, dan akan kembali bila ia bangun nantinya.

****

            Di tempat lain, Minseok sedang kebingungan. Tiba-tiba saja pesan yang ia kirim untuk Jongdae melalui pesan grup menghilang. Bukan hanya itu. Jongdae tidak ada dalam daftar orang di grup. Ada yang aneh sekarang. Jongdae menghilang sejak pagi. Dia juga meninggalkan grup. Tak ada kabar seperti ini membuat Minseok cemas. Akhirnya Minseok memutuskan untuk mengirim pesan ke pesan grup tadi.

Minseok           : “Jongdae baru saja meninggalkan grup.”

Luhan              : “Tidak mungkin!”

Chanyeol         : “Benar Jongdae pergi! Dia kenapa???”

Baekhyun        : “Aku tidak tahu kenapa. Sepertinya dia keasyikan bermesraan dengan ibunya di               rumah”

Suho                : “YA!”

Baekhyun        : “Mianhae.”

Chanyeol         : “Besok hari sekolah dan Jongdae bukan tipe orang yang suka membolos.                                        Berarti ada sesuatu yang tak beres terjadi padanya. Aku khawatir.”

Luhan             : “Kau benar. Dia tidak pernah meninggalkan asrama sesering ini. Apa Jongdae                              pernah menceritakan sesuatu padamu, Suho?”

Suho                : “Tidak. Dia tidak berbicara padaku akhir-akhir ini.”

Tulisan terakhir Suho semakin membuat Minseok cemas. Tidak biasanya Jongdae tidak cerewet untuk membicarakan apapun yang ia alami.

Minseok           : “Aku akan mencoba berbicara padanya.”

            Minseok mewujudkan perkataanya dengan menelpon Jongdae. Cukup lama Minseok menunggu Jongdae menjawab tapi tak kunjung ada respon. Akhirnya Minseok memutuskan sambungannya dan mencoba lagi. Namun suara operator memberitahunya kalau nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.

            “Anak itu kenapa sih? Bahkan ia mematikan ponselnya!” gumam Minseok kesal. Tiba-tiba Luhan muncul dengan pakaian seragamnya. Seperti biasa ia selalu terlambat pulang ke kamar asramanya. Minseok mengamati Luhan dari atas sampai bawah, lalu berkata, “kau membantu Sehun lagi?”

            “Uhm… Tidak sepenuhnya membantu,” jawab Luhan sambil tersenyum kikuk. Minseok mendesah lemas mendengarnya. “Kau sudah tahu dimana Jongdae?”

            “Susah untuk melacaknya kalau ponselnya mati,” desah Minseok.

            “Lacak saja dengan plat nomor mobilnya.”

            “Itu illegal, Luhan.” Minseok menghela napas dengan keras. “Aku akan terus mencoba menelponnya lagi.”

            Minseok kembali menempelkan layarnya di telinga kirinya, menunggu sampai terdengar suara operator memaksanya menutup panggilannya. Luhan pun meninggalkan Minseok sendirian di ruang tamu menuju kamar berpintu coklat kayunya. Dia bertindak tidak peduli sekarang, walaupun ia sangat khawatir sekarang. Memang tidak membantu, tapi setidaknya dia tidak menambah kecemasan Minseok. Lebih baik dia diam. Setelah mengganti seragamnya dengan piyama Luhan pun merebahkan dirinya di kasur bawahnya. Tangannya menarik selimut putihnya sampai menutupi dadanya. Jemari tangannya mengapit satu sama lain di atas selimut. Jujur saja, ia lelah. Tapi, otaknya tidak bisa berhenti memikirkan Jongdae. Apa dia sudah makan, apa dia baik-baik saja, dan pergi kemana dia. Kepalanya bergerak beriringan ke arah mana matanya menuju—ke pintu kamar. Samar-samar suara kekesalan Minseok dari luar. Luhan pun memiringkan badannya menghadap dinding, membiarkan suara itu dan pergi tidur.

            Minseok sudah berganti tempat selama sepuluh menit terakhir. Selama ia mencoba menelpon Jongdae kakinya tak bisa diam. Sesekali ia melompat-lompat kecil di tempat, atau berjalan beberapa langkah. Tangan kanannya masih setia untuk bertolak pinggang. Untuk kesekian kalinya Minseok menelpon pria itu. Akhirnya ia berhenti. Tubuhnya sengaja ia hempaskan ke sofa putih. Tidak ada gunanya lagi menelpon Jongdae. Toh, dia tidak akan menjawabnya. Namun, ponsel Minseok bergetar, membuat Minseok tersentak. Ia sangat terkejut mendapati nama Jongdae di layar ponselnya sedang menunggu Minseok untuk mengangkatnya.

            “Kau dimana?” tanya Minseok langsung.

            “Hyung…” Suara Jongdae di seberang sangat pelan dan memilukan.

            “Wae? Apa yang terjadi padamu? Kau dimana sekarang?” desak Minseok.

            “Hyung…. Kau bisa kesini?”

            “Tentu! Tunggu aku disana! Aku akan kesana segera!” ucap Minseok tergesa-gesa. Minseok pun memutuskan panggilan itu dan segera bangkit dari posisinya. Tangannya mengambil kunci mobil dan jaket hitamnya. Dentuman suara pintu asramanya terdengar nyaring di penjuru kamar. Ia tak peduli beberapa orang penghuni asrama yang masih diluar menatapnya heran. Jaket hitam itu ia kenakan sambil berlari menuju pintu darurat. Kemudian ia menelpon seseorang di sela-sela hentakan kakinya di anak tangga.

            “Suho-ya, aku sudah menemukan Jongdae dan aku sedang menuju kesana. Kemungkinan aku akan pulang sangat larut. Tolong kau katakan kepada Ketua Asrama aku pergi mengunjungi nenekku. Oh iya, katakan juga kepada Jongin kalau Jongdae tidak bisa pulang karena ia harus mengantar ibunya ke bandara besok pagi. Aku mempercayaimu. Kututup!” (Minseok tidak memberinya kesempatan untuk bertanya sedetik pun).

            Dengan melewati semak-semak berlubang di dekat tempat sampah, Minseok bisa menerobos keluar menuju tempat parkir rahasianya. Tempat ini sangat dibutuhkan kalau ia sedang terdesak. Seperti hari ini. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil. Jalan keluar tempat ini mengitari asrama dan sekolah jadi, tak ada kemungkinan ia akan ketahuan. GPS di ponselnya sedang melacak keberadaan Jongdae. Setelah mendapatkan tempatnya, Minseok pun mengatur GPS mobilnya. Ternyata sangat jauh. Bahkan ia hampir meninggalkan kota tempat sekolahnya berada. Jalanannya juga melewati jalan tol. Makin lama semakin sepi jalanan yang Minseok lalui. Minseok mengecek GPSnya sekali lagi. Posisinya tidak terlalu jauh dengan Jongdae berada, GPS di ponselnya yang menunjukkannya. Dia mengedarkan semua pandangannya kesegala penjuru. Di tengah kabut dingin, Minseok mendapati sebuah mobil sport di pinggir jalan. Itu pasti mobil Jongdae! Minseok pun menepikan mobilnya lalu turun dari mobilnya. Di dalam mobil terlihat Jongdae seperti sedang tidur. Kepalanya bertumpu di kemudi mobil.

            “Jongdae-ya. Ireona,” ucap Minseok sambil menggoyangkan badan Jongdae pelan. Tak ada respon. Minseok pun mengencangkan goyangannya, membuat Jongdae terkulai lemas. Terlihat bibir Jongdae yang memutih dan Jongdae yang sudah tak sadarkan diri. Minseok segera membuka pintu mobil Jongdae dan menggendongnya keluar mobil menuju mobilnya. Minseok menidurkan Jongdae di jok belakangnya. Kemudian menyelimuti tubuh Jongdae dengan jaket hitamnya. Minseok mengambil semua barang Jongdae dimobil dan membawanya. Ia akan menelpon pengerek mobil besok pagi.

****

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat tiga belas menit. Sesosok pria sedang tertidur lelap di atas kasurnya dengan damai. Itu Jongdae. Tepat di menit kelima belas, ia terbangun. Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah kayu panjang diatasnya dengan beberapa papan menahannya. Dan hal kedua yang ia lihat, ia berada di kamar seseorang dan beberapa orang pria sedang menatapnya. Ada Minseok, Luhan dan Suho disana. Suho pun mendesak untuk berbicara.

            “Syukurlah kau sudah bangun. Aku sangat khawatir saat Minseok membawamu kesini. Kau pingsan di dalam mobilmu karena kedinginan,” ucap Suho cemas.

            “Aku pingsan?” gumam Jongdae lirih. “Ah, tadi malam.”

            “Kenapa kau tidak menutup atapnya? Kau bahkan tahu kalau hari ini sangat dingin,” omel Minseok.

            “Aku tidak berpikir sampai kesana,” jawab Jongdae lirih, sambil berusaha duduk di kasurnya.

            “Kami sangat mencemaskanmu, Jongdae-ya. Minseok sampai berkali-kali menelponmu,” ucap Luhan lirih.

            “Terima kasih sudah mau menjemputku, hyung,” ucap Jongdae sambil tersenyum kecil.

            “Apa kau sedang membunuh dirimu secara perlahan?! Kenapa kau begitu bodoh membiarkan atap mobilmu terbuka?! Kau juga meninggalkan grup dan mematikan ponsel! Kau sebenarnya kenapa? Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau diam, hah? YA! Jongdae-ya!” maki Suho marah. Suho bisa saja memukul Jongdae sekarang juga kalau Luhan tidak menahan tubuhnya. Luhan pun mengucapkan sesuatu kepada Suho agar dia tenang dan mengendalikan amarahnya.

            “Luhan, tolong bawa Suho keluar sekarang,” perintah Minseok pelan. Luhan mengangguk lalu menyeret lengan Suho keluar kamar, meninggalkan Minseok dan Jongdae berdua di dalam kamar. Dirasa hanya mereka berdua di kamar ini, Minseok kembali mengalihkan pandangannya kepada sosok Jongdae yang tengah menatap kosong tangannya yang sedang memilin-milin selimut. Minseok menghela napas sebelum memulai pembicaraannya.

            “Aku tidak akan memaksamu untuk berbicara. Tapi, aku hanya akan bertanya padamu sekali ini saja. Sebaiknya kau menceritakan ini kepadaku, atau orang yang kau percayai, yang bisa menyelesaikan masalahmu,” ucap Minseok serius. Jongdae akhirnya mau menatap Minseok. “Apa yang terjadi padamu kemarin?” tanya Minseok akhirnya.

            Jongdae diam. Cukup lama ia terdiam. Tatapannya tidak lagi untuk Minseok. Matanya menerawang jauh menuju lapisan memorinya yang paling dalam. Matanya kini bergerak-gerak kemanapun, dan tertutup kemudian.

            “Maaf, hyung. Kepalaku sedang sakit. Bisa kita teruskan nanti?” Jongdae pun merosot ke kasurnya kembali dengan posisi tangan kanan di keningnya.

            “Oh, baiklah. Kau bisa menceritakannya nanti. Sebaiknya aku pergi.” Minseok akhirnya berdiri dari kursi kayunya dan pergi meninggalkan Jongdae tanpa menimbulkan suara apapun. Saat berbalik, Minseok terkejut mendapati Luhan dan Suho menguping.

            “Apa yang dia katakan?” bisik Suho sangat pelan.

            Sebagai jawabannya, pria chubby itu hanya mengangkat bahunya acuh. Luhan akhirnya menjauhkan dirinya dari hadapan Minseok. Ia pikir ia bisa mendapatkan sesuatu, namun Minseok menjawab tak ada. Kedua pria ‘penguping’ tadi sedikit kecewa.

            “Biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ada saatnya Jongdae akan berbicara kepada orang yang ia percaya bisa menyelesaikan masalahnya.”

****

            “Kalian sudah dengar tentang perceraian Lee In Joong dengan suaminya Kim Jong Chul?”

            “Aku tahu! Kudengar sidangnya dua hari lagi!”

            “Bagaimana dengan anak tunggalnya? Dia akan ikut siapa?”

            “Aku tak tahu pasti. Kalau aku berada di posisinya, aku akan sangat sedih.”

            “Tentu saja! Dia sendirian sekarang. Aku ingin bertemu dan memberinya semangat.”

            “Aku juga.”

Ocehan semua orang di kelas Minseok memenuhi setiap sudut. Mulut mereka tidak bisa berhenti membicarakan kedua pasangan yang sebentar lagi akan bercerai. Minseok akhirnya menyadari apa masalah Jongdae. Perceraian. Tak ada yang tahu siapa anak Lee In Joong dan Kim Jong Chul sebenarnya. Jongdae pun tidak pernah membicarakan tentang orang tuanya. Dia hanya pernah ketahuan oleh kelompok kami kalau dia adalah anak tunggal dari pengusaha kaya raya di negara ini. Siapapun yang mencoba mengorek informasi tentang orang tua Jongdae, jangan harap dia akan membuka mulut. Jongdae bahkan tidak punya satupun foto orang tuanya di ponsel. Sekarang semua jelas. Minseok merasa sangat prihatin dengan Jongdae sekarang. Ia tidak berani untuk bertanya apapun lagi. Tapi, untungnya Minseok tidak mendesaknya untuk berkata banyak kemarin. Namun, apapun kebaikannya kemarin, tak membuat sedihnya berkurang. Untuk ketiga kalinya, Jongdae tidak hadir di kelasnya.

            “Hyung, temui aku di atap sepulang sekolah nanti.” –Jongdae.

 

****

TBC… (Komentarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

Iklan

4 thoughts on “Dorm (Chapter 4)

  1. kyuRiani18 berkata:

    Di chapter sblumnya baekhyun yg khawatir dengan jongdae kok tiba2 minsoek yg sngat khawatir dgn jongdae..trus bakhyun di mana ??? Teman skamar jongdae kan jongin kok teman skamarnya tdk ikut mengkhawatirkan jongdae ???
    Maaf ya authornim klo aq bnyak tnya…keep writing.

  2. fafa sasazaki berkata:

    Aq setuju sm kyuRian, itu teman2 seasrama jongdae kok gda yg cemas buat nyari jongdae, ky’a jongdae lbh dket ma ank asrama lain (asrama’a minseok).
    Trus wktu suho marah2 tu rasanya kok aneh y,ky bkan dy aja. Sprti’a sifat’a suho ma minseok ketuker deh.

    Keep writing baozinam-ssi, sori y g mksd utk bkin down lho. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s