We Are Friend CHAPT 2

 

Tittle: We Are Friend

Author: BPI

Length: part

Genre: Friendship

Main cast: All member EXO

 

 

Sehun – Jongin

 

 

“Eomma! Kau tahu di mana jangah?”

 

Jongin tetap saja berteriak walaupun eommanya sudah berulang kali mengatakan tak tahu. Pria berkulit tan itu tak menghiraukan panggilan eommanya untuk membantu wanita paruh baya itu memasak saat ia membuka pagar dengan paksa dan memanggil Jangah ke penjuru kompleks perumahan . Jangah adalah salah satu dari anaknya (anak anjingnya) yang telah ia rawat dari dulu. Langkahnya berhenti saat melihat jangah di pelukan seseorang.

 

“Sehun” Panggil Jongin dengan senyuman tiga jari sekaligus melambaikan tanganya senang.

 

Sehun menghentikan langkahnya beberapa meter dari Jongin yang menatapnya dengan senyuman hangat. Ia menunggu sampai pria yang hanya menggunakan kaos rumah dan celana pendek itu mendekatinya dan menatap Jangah layaknya pacar yang di ambil Sehun.

 

“Jangah” Jongin buru-buru merebut Jangah yang hanya menggonggong lemah karena luka di kakinya.

 

“Omo apa yang terjadi padamu?” Tanya Jongin dengan mata bulat, jemarinya pelan-pelan mengusap plester yang melingkar manis di kaki kecil anjing coklat itu.

 

“Dia tertabrak sepeda” Jawab Sehun seadanya seperti biasa. Sehun diam-diam melihat apa yang Jongin lakukan. Sepertinya pria berkulit tan itu sudah pantas menjadi ayah, lihat saja cara ia menimang Jangah dengan kasih sayangnya.

 

“Mwo?” Tanyanya dengan mata bulat yang membuat Sehun memutar bola matanya malas.

 

Sebenarnya Sehun ingin sekali tertawa melihat wajah bodoh jongin yang sangat ketakutan. Ini seperti beberapa tahun lalu. Saat mereka masih bersama. Saat mereka masih bersahabat.

 

 

 

Sehun – Jongin (6 tahun)

 

 

“Jongin… ayo kita mengambil serangga di belakang bukit sekolah” Ajak seorang anak kecil dengan rambut jamur hitamnya yang melambai lambai saat ia melompat-lompat bersemangat mengacungkan jaring serangganya.

 

“Kajja” anak yang lain pun tak kalah semangat mengikuti sahabatnya itu.

 

Kedua anak yang sangat terlihat berbeda. Yang satu berkulit putih yang satu agak gelap. Jalan bersama dengan jaring mereka masing masing. Sesekali mereka berdiam untuk mendengar suara serangga.

 

“Sehun lihat aku mendapatkan serangga ini” Teriak Jongin kecil senang, memperlihatkan hasil tangkapan nya ke depan wajah Sehun yang semangat untuk melihatnya. Tapi setelah mengetahui apa yang menggeliat di antara jari telunjuk dan jempol Jongin, Sehun hanya mengerutkan dahinya. Serangga? Itu kan…

 

Setelah itu jongin harus rela tangan nya bengkak dan gatal. Walaupun sudah di bawa ke dokter. Jongin kecil masih terasa tersiksa akibat rasa gatal yang menyerang tangannya. Ia tak henti hentinya menggaruk telapak tangan hingga ia puas, membuat Sehun yang berada di sampingnya menghembuskan nafas panjang dan memberitahu sahabatnya itu.

 

“Jongin jangan mencari serangga lagi”

 

“Wae?” Tanya Jongin yang masih asyik menggaruk telapak tangannya. Ia bahkan tak menghiraukan Sehun yang kini membantunya menggaruk daerah gatal tersebut.

 

“Karena… itu akan membuatmu bengkak”

 

“Mwo?” Jongin melongo tak percaya

 

Sehun tertawa melihat wajah jongin yang percaya begitu saja. Sehun mengatakan kalau serangga tadi adalah ulet bulu dan tak boleh di sentuh. Dan Jongin mempelajari itu dari Sehun. Jangan menyentuh ulet bulu.

 

 

Sehun- Jongin (10 tahun)

 

 

Jongin hanya bisa menangis melihat Sehun menangis di dekapan para ahjumma yang Jongin tak tahu siapa. Eommanya bilang kalau eomma appa Sehun pergi meninggalkan Sehun ke surga dan ia harus menemani Sehun agar ia tak sedih.

 

Jongin bersumpah kala itu tak akan membuat sehun menangis. Ia selalu berada di samping pria itu 24 jam, bahkan ia rela tak pulang untuk menemani Sehun saat ia menangis sendiri di kamar gelapnya. Orang tua Sehun memang telah tiada, tapi mereka meninggalkan harta kekayaan yang bahkan mungkin tak akan habis sampai Sehun meninggal nanti.

 

Saat ia melihat wajah tenang Sehun tertidur karena terlalu letih menangis, ia berjanji tak akan membuat pria di hadapannya itu menangis karenanya. Tapi semua itu ia langgar 2 tahun kemudian

 

Sehun – Jongin (12 tahun)

 

 

“Pergi…” Bentak Sehun menatap dingin ke arah Jongin yang memandangnya bingung.

 

“Sehun wae? Apakah aku salah?” Jelas Jongin, ia benar-benar bingung apa yang merasuki sahabatnya ini. tadi sebelum kado yang ia buka Sehun baik-baik saja, tapi kini Sehun menatapnya tajam. Tak pernah Jongin melihat Sehun sebengis ini.

 

“Nde. Kau salah Kim jongin dan aku membencimu” Ucap Sehun penuh penekanan, ia sudah menahan sesak di dadanya. Lalu meninggalkan Jongin yang hanya diam menatap punggung pria yang tumbuh bersamanya selama ini.

 

Sehun menitikkan air matanya. Dan itu membuat jongin sesak. Ia hanya ingin membuat sehun terkejut dengan apa yang ia buat. Ia tahu Sehun pasti sangat merindukan orang tuanya. Dan ia hanya ingin membuat sahabatnya itu teriak saking senangnya apa yang telah ia buat.

 

Jongin menatap bingkai poto yang ia buat sendiri di dalamnya terdapat poto anak albino dengan senyum cerah di tengah tengah orang tuanya. Memang sulit untuk mendapatkan poto nyonya dan tuan Oh, dan begitu sulit mengedit Sehun di tengah-tengah mereka. editan itu memang tidak sempurna. Terdapat beberapa keganjalan di gambar yang ia edit, tapi ia kira Sehun tak akan menangis karena poto ini terlalu jelek.

 

Sewaktu ulang tahun ke 11 jongin bertanya apa yang sehun inginkan. Ia ingin orang tuanya. Dan jongin memberikan potonya. Bahkan Jongin mengeditnya penuh ketelitian.

 

Jongin mempelajari bagaimana rasanya kehilangan dan jongin tak mau itu terjadi. Ia tak mau Sehun pergi, setelah itu ia berlari menyusul Sehun yang sudah menghilang dari penglihatannya. Ia memohon dan menangis bersama di tepi jalanan sepi, mengulas segala apa yang ia rasakan. Begitu sakitnya melihat sahabatnya terpuruk.

 

 

Sehun – Jongin (15 tahun)

 

“Kau lihat dia sangat cantik?” Jongin mengangkat kedua alis matanya menggoda Sehun yang hanya diam tak menghiraukan. Jongin harus menyikut pria yang asik dengan bukunya itu untuk menatap apa yang ia tatap.

 

Sehun hanya mendelik malas ke sebuah poto yang di ambil jongin diam-diam. Ia tahu Jongin dengan seluruh kemampuan manjanya membuat eommanya membelikannya kamera dan menjadikan seorang siswi objeknya. Dari semua hasil yang ia lihatkan pada Sehun, hanya gadis berambut sebahu dan berkulit pucat itu yang ada di jepretannya.

 

“Ah Unje?” Tanya Sehun sedikit antusias, sebenarnya bukan karena gadis ini adalah orang yang di sukai Jongin. Melainkan ia mengenal gadis ini, sangat mengenalnya.

 

Jongin mengangguk mengiyakan. Dan ia menceritakan semuanya. Bagaimana ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan bagaimana jantung fikiran dan tubuhnya tak normal bila bertemu dengan wanita itu.

 

Tapi ia tak tahu bahwa….

 

“Kita putus? Sehun.. apa salahku?” Tanya seorang gadis di hadapan Sehun. Air matanya tiba-tiba meleleh begitu saja. Rasanya sangat sesak, bukahkan mereka baru saja berkencan beberapa bulan yang lalu dan tanpa alasan Sehun memutuskan hubungan yang masih hangat tersebut.

 

“Ani” Jawab Sehun seadanya, tak mampu membuat gadis di hadapannya tambah sakit akibat perkataannya.

 

Sebenarnya ini sakit tapi sehun tetap memasang wajah dinginnya. Jongin sudah banyak membantunya. Dan ia berniat membalasnya.

 

“Kita putus unje”

 

Sehun meninggalkan unje yang langsung menangis begitu ia meninggalkannya. Dan tanpa siapapun tahu, Sehun pun merasakan rasa sakit sesak tersebut.

 

Jongin memang berpacaran dengan gadis itu tapi tak terlalu lama. Saat malam natal jongin membawa sehun ke namsan tower membuat pria berkulit pucat itu bingung di buatnya. Bukankah menghabisi malam natal dengan kekasih lebih menyenangkan.

 

“Aku sudah putus dengannya…” Kata Jongin saat Sehun secara sengaja mempertanyakan apa yang ia lakukan. Jongin menyecap kopinya dan memandang langit yang telah menuruni butiran putih salju ke Seoul malam ini.

 

“Aku tahu ia sangat mencintaimu sehun. Apakah kau akan melepaskannya karena sahabat mu mencintainya. Sebagai lelaki kau tak boleh pengecut”

 

Sehun tersentak mendengar perkataan gamblang Jongin. Pengecut? Ia tahu Jongin hanya bercanda tapi kenapa itu semua membuat dadanya sakit. Selama ini memang Sehun selalu menjadi nomor dua di bandingkan dengan Jongin yang selalu nomor satu. Jongin selalu menjadi juara kelas, itu karena Sehun tak mau Jongin datang padanya dan mengumpat tak suka saat eommanya selalu membandingkan dirinya dengan Sehun.

 

Ia mengalah, bukan kalah. Tapi orang yang membuatnya melakukan semua ini malah berfirkir dia kalah. Membuat seluruh pengorbanan yang ia perbuat percuma saja, fikir Sehun.

Jongin tersenyum melihat raut wajah Sehun yang langsung terdiam akibat perkataannya. Ia lalu merangkul sahabatnya itu, dan mengatakan ia hanya bercanda. Pada awalnya Sehun tetap tak bisa menerima, tapi bukan Jongin namanya bila senyuman Sehun tak tercipta karenanya. Malam itu mereka menghabiskan natal bersama sama. Sama seperti malam natal yang lalu.

 

Dan akhirnya….

 

Jongin mempelajari bagaimana rasanya berbagi walaupun rasanya sesak.

 

 

Sehun – Jongin (17 tahun)

 

 

Tak tahu apa yang terjadi. Dulu mereka adalah teman tapi kini adalah lawan. Mereka seperti jaring dengan tangkainya yang selalu melengkapi satu sama lain. Mereka sama sama pandai dalam menari, tapi semua tahu jonginlah rajanya dan sehunlah pangerannya.

 

Tapi sehun tetap tak mau mengalah bukankah jongin bilang bahwa lelaki itu tak boleh pengecut. Walaupun perkataan itu hanya sebuah bualan semata yang di lontarkan Kim Jongin beberapa tahun lalu. Semua itu membekas di hati dingin Sehun. Menjadinya ingin merasakan tempat seorang Jongin, tempat no 1.

 

Semenjak itu mereka menjadi rival. Rival yang sebenarnya.

 

 

Sehun – Jongin sekarang

 

 

Jongin memutar kan gelas yang ada di hadapannya. Ia menengok ke arah cofee latte yang ia pesan. Sudah habis tapi sehun belum keluar juga dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe yang berada di pinggir jalan kota Seoul. Cukup ramai orang yang berlalu walaupun cuaca semakin dingin di malam hari.

 

Ia tersenyum saat jangah menggonggong di dadanya. Ia menaruh jangah di balik mantelnya. Setelah pertemuan singkatnya dengan Sehun sore tadi, ia dengan paksa menraktir sahabat kecilnya itu untuk minum coffe bersama, walaupun ia tahu Sehun akan memilih bubble tea di bandingkan Coffe latte yang ia pesan.

 

“Lama sekali? ” oceh Jongin saat Sehun datang dan duduk kembali di hadapannya. Sehun hanya terdiam tak membalas ucapan Jongin. Ya sudah menghabiskan waktu satu jam bersama, Sehun hanya mengeluarkan suara deheman saat Jongin bertanya apakah ia memesan coffe yang sama sepertinya.

 

“Kajja kita pulang. Salju akan turun sepertinya” Ucap Jongin, ia berdiri dan menaruh beberapa lembar uang dan membenarkan posisi Jangah di balik mantel nya.

 

Sehun mengikuti jongin yang asik dengan jangah. Ia menoleh sebentar ke arah sehun yang hanya memandang lurus ke depan. Pria itu bagaikan mayat hidup. Lihat saja kulit pucat yang mendominasi tubuhnya, dan kaos hitam panjang dan celana bahan panjang. Dan jangan lupakan tatapan datar dan rahang tegas yang menampilkan sosok vampir cool di serial twilight.

 

” Menjauhlah dari Yifan dan Tao” Kata Jongin, ia menghela nafas panjang. Akhirnya ia dapat mengatakan itu pada sahabatnya ini.

 

Sehun berhenti manatap jongin yang menatapnya serius. Mereka saling tatap dalam diam. Rasanya Jongin ingin sekali memukul wajah datar Sehun, yang saat kecil wajah itu selalu merengut bingung dengan ocehan Jongin atau hanya tertawa melihat tingkah laku pria tan itu.

 

“Kau bukan mereka sehun? Kau anak baik-baik” ujar Jongin meyakinkan sahabatnya dan Sehun hanya menganggapnya angin lalu

 

Sehun terus melangkah membuat kesabaran jongin habis dan menahan tubuh pria yang kini lebih darinya beberapa senci untuk menghadapnya. Jongin mendecak kesal, lalu menaruh tangannya di pingganga, layaknya ahjumma yang akan memarahi anak kecil yang berisik di malam hari.

 

“Kau inginkan itu? Piala itu? Aku akan memberikannya padamu…” Teriaknya tak tertahan, Jongin mengeluarkan nafas berat setelah ia menjadi sorotan para pejalan kaki. Ia bahkan tak mengiraukan Jangah menggong gong takut padanya. Jongin bukan tipe orang yang sentimental seperti sekarang. Jongin yang ceria bahkan tak pernah membentak lalat sama sekali.

 

Pejalan kaki berbisik bisik menatap mereka. Sehun mendelik kesal ke arah pejalan kaki dan melepaskan lengan Jongin yang menahannya sedari tadi. Menatap kedua mata hitam yang menuntutnya, Sehun hanya mendelik tak suka.

 

“Wae? Apa mereka membuatmu terkenal jadi kau tak bisa pergi dari mereka? Sehun… suho saja berani kenapa kau?”

 

“Aku tak mau” Jawan Sehun sedatar mungkin, masih menampilkan facepalmnya.

 

“WAE?” Teriak Jongin, ia sudah sangat emosi. Bila kini Tao atau Yifan melihatnya, pasti kedua orang itu tak akan mengganggu Kyungsoo kembali.

 

“Karena aku tak mau”

 

Sehun meninggalkan Jongin yang mematung lalu meninju udara di hadapannya. Ia tak menghiraukan orang-orang menunjuknya, bahkan mengatai nya orang gila ia tak peduli. Yang ia pedulikan sikap sahabatnya yang berubah 180 derajat dari semula.

 

 

=We Are Friends?=

 

At Class

 

 

“Kim jongin. Perlukah aku memukulnya hingga babak belur?”

 

Sehun mendelik ke arah suara. Tao sangat kesal karena jongin lebih terlihat cool di bandingkan dirinya. Sedikit lucu memang Tao menjadikan wajah Jongin yang sedang tertawa menjadi bidikan panahny. Tapi sayang semua bidikannya tak bisa mengenai wajah ceria itu.

 

“Ku rasa dia hanya memakai topeng. Pasti ia seperti si cerewet Baekhyun atau seaneh Kyungsoo” Gerutu Tao kembali, masih asik membidik wajah Jongin dan akhirnya ia mengenai rambut hitamnya.

 

Kini chanyeol lah yang mendengus pelan. Ia benar-benar harus bersabar bila mereka sedang berkumpul seperti ini. Tao akan menjelek-jeleki siapa saja, menganggap dirinya yang paling sempurna. Lalu merencanakan pembullyan selanjutnya.

 

Suara pintu membuat mereka menengok dan menatap Yifan yang baru saja datang. Ia langsung melempar buku di lantai ke papan tulis usang yang ada di kelas. Menciptakan suara bising yang amat keras, tapi ke 3 orang yang sedari tadi di sana hanya diam tak ada yang memprotes.

 

“Tao… bisakah kita menghabisi 2 orang sekaligus?” Tanya Yifan dingin penuh penekanan. Tao yang memang sedang bersemangat menghabisi orang langsung melompat dari duduk di meja dan menghampiri Yifan dengan mata mengkilat.

 

Chanyeol menelan ludah. Ia berharap bukanlah Baekhyun. Jangan baekhyun. Bila mereka akan melakukan pembullyan kembali ke hyung tirinya itu. Mau tak mau. Suka tak suka. Ia harus melawan kedua orang ini, atau bahkan ia akan mati di tangan kedua sahabat ini.

 

“Siapa?” Tanya Sehun, ia masih menampilkan wajah facepalm nya. Duduk di pojok ruangan menatap ke arah jendela di mana seorang wanita dan pria duduk di bawah bangku taman.

 

“Luhan dan… Kai”

 

Sehun membelalakan matanya. Kai. Langsung memutar wajahnya ke arah Yifan yang sedang di semangati Tao. Ya itu nama panggung Jongin. Tapi apa salahnya ia. Sehun ingin sekali menvampakkan wajah kucing Tao yang terlihat sangat senang karena Yifan akan menghabisi Jongin. Seakan Jongin memang harus cepan di musnahkan.

 

“Wae?.. ahh apa salah mereka?” Tanya Sehun dengan nada sedikit meninggi. Wajahnya pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selama ini, Jongin tak berbuat salah pada mereka. Jongin memang tak senunduk anak murid lain. Tapi setidaknya ia bukan Baekhyun yang tak takut mengomentari mereka, dan bukan Kyungsoo yang berani menolak keinginan mereka.

 

Yifan dan Tao menatap Sehun yang bertanya pada mereka. Mereka tahu siapa Jongin bagi Sehun, dan selama ini mereka ingin sekali melihat kedua yang katanya dulu sahabat ini bertarung satu sama lain. Bukankah Sehun lelah menjadi nomor 2? Bila ia mengalahkan Jongin. Ia akan menjadi nomor satu, dan ia bisa mencatatnya bahwa ia dapat mengalahkan seorang Kim Jongin.

 

“Kau ingin ikut?”

 

 

=We Are Friends?=

 

Lapangan

 

Mata Jongin tetap memohon ke Luhan yang masih saja meregangkan tubuhnya di rumput tanah lapangan sepak bola. Sudah kesekian kalinya bagi Jongin meminta sahabat barunya itu untuk menghentikan eskul yang sebenarnya memang hobby nya. Luhan baru saja melakukan operasi pada tulang paha kirinya yang patah beberapa tahun lalu. Dan kini setelah sembuh dengan seenaknya ia melakukan aktivitasnya kembali menjadi pesepak bola sekolah.

 

Luhan hanya tersenyum kecil saat Jongin akhirnya mengeluarkan nafas berat yang panjang dan duduk di atas rumput tanah yang sejak tadi ia injak. Ia mencabut asal rumput itu dan melemparnya asal kemanapun sesukanya.

 

“Hei Jongin, kau tahu harus berapa kali operasi agar tulangku bisa sekuat ini? aku menantinya 3 tahun lamanya. Dan kini saat aku di perbolehkan bermain bola, kau melarangku? Bukan kah itu jahat?”

 

Jongin merengutkan alisnya bingung dengan sikap sahabat barunya yang sebenarnya beberapa tahun lebih tua darinya. Luhan memang 2 tahun di atasnya. Ia harus rela tinggal kelas karena operasi dan berbagai pengobatan yang ia lakukan untuk sembuh. Walaupun begitu wajah baby face nya membantunya untu tetap muda.

 

“Tapi bila kau cidera lagi bagaimana?”

 

Luhan hanya tersenyum dan memandang beberapa murid sepak bola yang sudah cukup ia kenal.

 

“Kau lihat ada Xiumin dan Baekhyun yang akan menjagaku kini”

 

“Tapi kau tak tahu, begitu banyak anak yang ingin mencelakaimu”

 

Jongin tak tahu siapa sebenarnya Luhan yang kini ada di sampingnya. Ia tahu Luhan adalah seseorang di kursi roda 3 bulan yang lalu yang ia temui. Ia tahu Luhan adalah murid pindahan yang langsung menjadi murid idaman para wanita karena senyum manisnya. Ia tahu bahwa Yifan dan Tao sangat tidak menyukai Luhan, karena sudah 10 kali ia mendengar Yifan dan Tao mempersulit Luhan, termasuk membuatnya cidera beberapa minggu lalu.

 

“Dan kau juga tak tahu, begitu banyak yang akan menjagaku”

 

Luhan menepuk sebentar pundak Jongin, sebelum melesat ke arah para pemain yang sudah berkumpul untuk berlatih.

 

Di kejauhan terlihat Sehun yang tersenyum tipis, ia tahu bahwa Jongin adalah sahabat terbaik yang pernah di miliki siapapun. Jongin yang selalu melakukan apapun demi sahabatnya, bahkan mempertaruhkan nyawanya. Walaupun begitu, ia tak bisa membawa Jongin ke dalam lingkaran persahabatannya lagi.

 

“Sedang apa ?”

 

Sehun membulatkan matanya terkejut, lalu dengan cepat mengubah raut wajah menjadi dingin kembali. Ia menatap Chanyeol yang tersenyum lebar layaknya idiot.

 

“Aku..” Sehun mendesah khawatir karena ia bisa melihat Chanyeol tersenyum makin lebar melihat kegugupannya.

 

“Aku juga memperhatikan Baekhyun, sudahlah Sehun. Aku tahu kau mengkhawatirkannya”

 

Sehun menatap Chanyeol yang mengangguk semangat. Setelah semuanya, mungkin hanya Chanyeol lah orang yang dapat mengerti perasaan nya kini.

 

“Kau tau bagaimana cara eommaku memaafkan ku? Dengan janjiku” Chanyeol menghela nafas pangjang sebelum menghembuskannya.

 

“aku berjanji akan menjaga Baekhyun hyung, apapun yang terjadi, walaupun nantinya aku akan melawan Yifan dan Tao dan…” Chanyeol menatap tajam ke arah Sehun “kau sekaligus. Aku akan melawan kalian..”

 

Sehun bergidik sebentar sebelum dirinya membuka suara. Ia urungkan niatnya untuk mengejek kata tulus Chanyeol. Ia tahu bahwa salah satu alasan Chanyeol di sini, di pihak Yifan dan Tao adalah untuk melindungi Baekhyun.

 

Sejak pertama masuk SMA, Baekhyun sudah membuat Tao geram dengan sikap acuh Baekhyun yang tak takut dengan seorang anak yayasan Yifan. Padahal semua murid pun tahu siapa Yifan dan Tao, yang sudah sangat terkenal dengan kesadisan mereka.

 

“Kau tak punya mata?”

 

Sehun dan Chanyeol menengok ke arah sumber suara, dimana Kyungsoo sudah

tersungkur dan di hadapannya ada tiga orang yang menatapnya jengah. Ya. Semenjak kejadian 3 bulan yang lalu, dimana dirinya menjadi bulan-bulanan Yifan dan Tao, semua murid pun melakukan hal yang sama.

 

Chanyeol menatap Sehun meminta bantuan, tapi Sehun dengan acuh malah meninggalkannya.

 

“Hei.. kau mau pergi kemana setelah menabrakku?”

 

Chanyeol menggeram diam di tempatnya saat melihat Kyungsoo terpojok di dinding. Tak ada yang berniat membantunya, seorang siswa yang jalan pun malah berjalan santai menunduk tak berani.

 

“Bila aku Baekhyun, mungkin aku sudah kesana dan menolongnya, tapi..” Chanyeol

berdebat dalam hatinya. Ia mengeluarkan keringat dingin. Kenapa rasanya begitu takut untuk membela seorang pria di hadapannya.

 

“Yak apa yang kalian lakukan?”

 

“Baekhyun” ucap Chanyeol dalam hati

 

Benar saja, Baekhyun dengan handuk di leher mendekati Kyungsoo yang sudah terpojok. Di belakangnya Jongin sudah siap untuk melawan mereka. Ia sudah sering melawan banyak anak melebihi ini sebelumnya.

 

“Lepaskan Kyungsoo, atau tidak-“

 

“Kalian mengancam mereka?”

 

Tidak hanya Chanyeol yang membelalakan matanya menatap Tao yang di ikuti Sehun mendekati mereka. ia tak melihat Yifan atau dayang-dayang yang lain mengikuti mereka.

 

“Bagaimana kalau kita duel?”

 

“Aku tak sedang ingin bercanda “ Ucap Jongin sinis, ia tersenyum meledek menatap Tao yang masih menampangkan wajah lugu andalannya.

 

“Beatle dance, 1 lawan 1. Kalau kami menang, aku tak akan mengusik hidup Do Kyungsoo kembali, tapi kalau kalah…” Tao menyeringai, menggantungkan ucapannya

 

“Kalian semua harus menjadi pengikutku”

 

“Jangan mimpi” Baekhyun mendekati Tao dengan wajah tak kalah kesal. Ia menggertak giginya. Sampai kapan pria wajah kucing ini mengganggu hidupnya.

 

“Aku tak tahu kalau kalian takut”

 

“KAMI TAK TAKUT”

 

Semua murid menatap mereka takut-takut. Suho menghentikan kakinya, lalu menatap ke arah beberapa anak yang sudah dalam masa genting. Ia melangkah untuk maju, tapi berhenti saat Jongin berkata akan melakukannya.

 

“Kau tahu, aku adalah King dan dia hanya seorang prince”

 

Sehun membelalakkan matanya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar seorang Kim Jongin, sahabat kecilnya meremehkannya. Tao tertawa mengejek menatap wajah sinis Jongin yang bahkan tak menampilkan penyesalan setelah mengatakan itu.

 

“Bagaimana kalau kita duet, aku dan Sehun dan kau dengan Luhan”

 

Jongin merengutkan alisnya bingung. Kenapa mereka membawa Luhan dalam masalah ini. dance? Apakah pria itu bisa? Bahkan kakinya saja tak kuat untuk berlatih lama-lama bermain bola.

 

“Bagaimana?”

 

“Terserah kau”

 

Tao lalu mengangguk. Sepertinya ia benar-benar akan menang, dan mendapatkan kepuasan untuk membuat seorang Baekhyun dan Jongin menjadi budaknya.

 

 

=We Are Friends?=

 

At Class

 

 

“Apa kau gila? Tao dan Sehun memang sudah terkenal sebagai patner dalam dance. Bagaimana kau dan Luhan menjalin itu semua?”

 

Bukan hanya Baekhyun dan Kyungsoo yang bingung menatap Suho yang kini berbicara di hadapan mereka. setelah bel pulang berbunyi, Suho menjegat mereka dan membuat mereka harus berlama-lama di kelas yang sudah kosong ini.

 

“Tao memiliki martial art dalam dance nya, dan Sehun memiliki penghayatan, kharisma, dan hentakan yang kuat”

 

“Kai memiliki begitu banyak kharisma di bandingkan Sehun, ia pun bisa jazz dan ballet yang tak mereka miliki. Apa masalahmu?” Kyungsoo terlihat sudah sangat jengah, karena ia sudah telat pergi less vocal.

 

“Aku hanya takut ini jebakan” Ucap Suho benar-benar dengar suara rendah , mata angel nya menatap ke 3 orang yang malah menatapnya kesal.

 

“Dan kau juga?” Ucap Baekhyun tiba-tiba mengintimidasi Suho yang berdiri di hadapan mereka.

 

Suho menganga tak percaya melihat Baekhyun menatap nya jengah. Ia berdiri dan melipat tangan di dadanya. Menunjukkan wajah sombong yang selalu ia tunjukkan pada Tao.

 

“Kau? Apa yang kau inginkan huh? Kau berubah menjadi baik dan membantu kami bila mereka akan menyerang? Bukankah kau juga jebakan?” Ucap Baekhyun dengan nada tinggi matanya mengintimidasi mata Suho yang terperangah menatapnya.

 

“Kau menganggapku seperti itu selama ini?” Suho tersenyum sedih, ia menelan ludah pahit berulang kali. “Aku hanya mencoba baik, karena… hanya ini hal yang baik yang bisa aku lakukan”

 

Jongin menatap punggung Suho yang pergi begitu saja setelah mengucapkan kata itu. Ia menengok saat Baekhyun menghela nafas panjang dan mencemooh Suho yang sama saja seperti Chanyeol. Mencoba untuk menjadi pahlawan kesiangan.

 

 

=We Are Friends?=

 

 

Luhan melambaikan tangannya saat memasuki ruangan yang terlihat seperti studio photo. Semua dinding di hiasi poto-poto dari masa lalu hingga sekarang. Dan jepretan kamera menganggetkannya. Luhan tersenyum ramah saat melihat wajah Xiumin mengangguk menikmati hasil jepretannya.

 

“Kau masih menggeluti dunia photografer ternyata” Ucap Luhan membanting tubuhnya di sofa empuk di tengah ruangan tersebut.

 

“Ini duniaku sejak kecil heheh, dan kau kini harus menjadi modelku kembali” Ucap Xiumin, mengambil gambar Luhan kembali. Tapi kini pria berambut coklat madu itu menutup lensa kamera Xiumin, membuat pria itu mempoutkan bibirnya lucu.

 

“Berapa usiamu Xiumin? Kau masih terlihat seperti 5 tahun yang lalu” Gelak tawa Luhan memenuhi ruangan kecil itu.

 

“Jangan melakukan ini di sekolah, reputasiku sebagai ketua osis akan hancur” Xiumin menampar tangan Luhan yang hendak mencubit pipinya kembali.

 

“Oh tetua kami menjadi orang benar saat ini”

 

Xiumin menengok ke arah Luhan yang tertawa dengan ledekan nya sendiri, tapi berbeda dengan nya yang menatap sahabatnya itu dengan pandangan sedih. Sepertinya ia sangat merindukan saat saat seperti ini, saling membully dan tertawa. Tapi jangan lupa saat itu mereka masih ber enam tidak hanya berdua seperti ini.

 

Suara pintu terbuka membuat tawa Luhan berhenti dan menengok ke arah pintu. Begitu pula dengan Xiumin yang menengok dan langsung tersenyum ramah.

 

“Kau datang? Masuk-“

 

Belum selesai Xiumin menyelesaikan kalimatnya, pria dengan senyuman unik itu terlihat sangat ketakutan dan pergi begitu saja tanpa mendengar teriakan Luhan yang menatapnya bingung.

 

“Chen!”

 

 

 

TBC

5 thoughts on “We Are Friend CHAPT 2

  1. kyuRiani18 berkata:

    Waaahh daebak…battle dance ??? Apa luhan tau klo dia d libatkan dgn dlm taruhan itu..luhan dah bs dance gak yaa..kira2 siapa yg menang ???
    D tunggu next chapternya ya thor..jgn llama2 hehehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s