Dorm (Chapter 3)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 3)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Hari ini hari selasa. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Keadaan kamar nomor 24 masih sepi. Tapi, itu keadaan lima menit yang lalu. Sekarang sudah muncul sosok Minseok sedang berjalan linglung dengan tangan memegang cangkir putih berisi kopi panas. Ia sesekali menggaruk belakang kepalanya yang terasa gatal. Matanya sangat bengkak. Kalau Chanyeol melihat keadaannya sekarang pasti pria jangkung itu akan tertawa terpingkal-pingkal. Minseok harus membenarkan penampilannya. Minseok menaruh gelasnya di atas meja rendah kemudian berlari menuju kamar mandi. Keheningan melanda lagi setelah suara debaman pintu kamar mandi.

            Dari dalam kamar berpintu coklat kayu Luhan terbangun pertama kali. Sepertinya ia terbangun karena suara debaman pintu di suatu tempat (ini ulah Minseok). Luhan menyibakkan selimutnya hingga ke ujung kasurnya. Sepatu tidurnya ia kenakan dengan malas. Matanya masih belum bisa terbuka dengan lebar. Efek petualangan kemarin membuatnya nyenyak tidur. Ketakutan bisa membawanya ke alam mimpi yang lebih dalam dan tanpa sadar hari sudah berganti. Luhan merenggangkan badannya sambil menguap lebar. Ia memutar kepalanya ke belakang—tepat ke kasur atas. Sehun masih terlelap disana, dan Luhan tidak berani mengganggunya. Luhan pun memutuskan untuk meninggalkan kamar tanpa menimbulkan suara pintu. dengan sangat berhati-hati Luhan menutup kembali pintunya. Saat ia berbalik, Luhan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat ia bertemu dengan Minseok yang sedang berdiri tak jauh darinya. Luhan pun teriak sekuat-kuatnya. Sampai-sampai Minseok melebarkan matanya dan hampir menjatuhkan gelas minumannya.

            “YA! Kau mengagetkanku!” pekik Luhan marah. Pria itu pun memukul kepala Minseok dengan kepalan tangannya.

            “Kau menghalangi jalanku, bodoh! Siapa juga yang mau mengagetkanmu?” desis Minseok kesal, lalu berjalan pergi masuk ke kamar berpintu biru langit. Luhan melayangkan kepalan tangannya ke udara sebagai rasa kekesalannya kepada Minseok. Tak berapa lama semenjak kejadian tadi, Chanyeol dan Baekhyun keluar bersamaan dari dalam kamar berpintu hijau muda disamping kamar berpintu biru langit. Mereka berdua sudah berseragam lengkap dan membopong tas punggung. Chanyeol juga mengapit bola basket di siku tangan kirinya.

            “Kami mau latihan basket di sekolah. Kami pergi dulu,” pamit Chanyeol. Baekhyun hanya mengekori kemana Chanyeol pergi, kemudian mereka berdua menghilang bersamaan dengan suara debaman pintu. Luhan kembali disuguhkan pemandangan luar biasa dari seseorang yang lain lagi, yaitu Suho. Dia keluar dari kamar berpintu biru muda memakai jas tidur berwarna hitam. Rambut coklatnya sedikit kusut, namun tidak membuat penampilan perfect Suho hilang. Ada perasaan takjub dan iri dalam diri Luhan saat melihat Suho. Ia tidak bisa menjadi manly seperti Suho. Apapun yang dia pakai tetap ‘cantik’ dimata sahabat-sahabatnya. Merasa ditatap Suho mengerutkan keningnya lalu bertanya.

            “Apa?”

            “Tidak ada.” Luhan pun pergi ke dapur meninggalkan Suho. Suho mengabaikan apa yang dikatakan Luhan tadi, kemudian menyalakan televisi. Tanpa disadari Suho, Sehun keluar dari kamar berpintu coklat kayu. Dengan piyamanya, ia berjalan linglung menuju dapur, tempat dimana ia selalu merengek kepada Luhan untuk dibuatkan sarapan.

            “Oh? Kau sudah bangun, Sehunnnie? Apa kau lapar?” tanya Luhan dengan nada lembut, sambil memasukkan margarin ke dalam penggorengan.

            “Eung,” jawab Sehun lirih, lalu terjatuh di atas lipatan kedua tangannya—dan tertidur.

            Suara desis margarin dan telur yang menyatu di penggorengan mengganti keheningan di kamar nomor 24 ini. Suho dan Minseok sudah di kursi makan mereka masing-masing. Minseok pun membangunkan Sehun dengan cara menendang-nendang kursinya.

            “Kemana pasangan BaekYeol?” tanya Suho.

            “Mereka sudah pergi ke sekolah untuk latihan basket,” jawab Luhan sambil menaruh tiga piring untuk masing-masing orang.

            “Mereka bukan berlatih,” ucap Minseok sambil memasukkan potongan telur ke dalam mulutnya. “Chanyeol akan mengejeknya setiap pergerakan Baekhyun di lapangan,” lanjut Minseok. Semuanya mengangguk setuju. Itu sudah jelas.

****

            Sekarang kita beralih ke lapangan sekolah yang tak jauh dari gedung asrama. Sekolah masih sangat sepi. Hanya ada dua remaja laki-laki yang sedang berlatih basket. Chanyeol mengajarkan beberapa tekhnik kepada Baekhyun. Setelah itu, Baekhyun mencobanya dengan bertanding dengan Chanyeol. Pria jangkung itu memberi kesempatan Baekhyun menggiring bola menuju ring dengan cara membiarkan Baekhyun lolos. Tapi, itu percuma. Baekhyun tidak bisa melempar bola ke dalam ring dan selalu mengenai ujung ring. Berkali-kali gagal membuat Chanyeol yang melihatnya menjadi geram. Ia sudah tak mau memberikan kelolosan untuk Baekhyun. Ia merebut bola itu dari Baekhyun dan menggiringnya menuju ring dan mencetak poin dalam sekali coba. Baekhyun yang tertinggal di belakang, bertumpu pada lututnya sambil mengatur napasnya. Keringat sudah membanjiri di pelipisnya. Di kemejanya sudah tercipta bercak-bercak keringat. Chanyeol menghampiri Baekhyun sambil mengapit bola basket di lengan kirinya.

            “Sepertinya kita harus mengakhirinya. Sudah siang. Pasti kelas sudah ramai. Ayo, kita ke kantin beli Bubble Tea,” ajak Chanyeol lalu berjalan pergi menuju bangku penonton—tempat tasnya dan tas Baekhyun diletakkan. Baekhyun kembali menegakkan badannya dan berjalan santai menuju tasnya juga.

            “Tunggu dulu. Aku masih capek. Bahkan untuk berjalan aku tidak sanggup,” erang Baekhyun sambil membuka tutup botol minumnya. Baekhyun menegak setengah isi botolnya dalam sekejap, dan tersedak kemudian. Chanyeol menggelengkan kepalanya lalu menepuk kencang punggung Baekhyun.

            “YA!” kesal Baekhyun sambil menepis tangan Chanyeol dari punggungnya. Chanyeol terkekeh. Mengerjai temannya ini sangat menyenangkan untuk Chanyeol, tapi tidak untuk Baekhyun. Melihat tawa Chanyeol yang menggelegar saat berhasil mengerjai dirinya, membuat Baekhyun ingin menendang atau memukul Chanyeol sekeras mungkin. Ia pernah melakukannya tapi, itu tidak membuat Chanyeol jera. Hanya satu orang yang bisa membuat pria jangkung itu diam. Yaitu Kyungsoo. Hanya dengan melototinya saja, Chanyeol akan tunduk seperti anak anjing. Dan Baekhyun sangat bahagia melihatnya. Bukan rahasia lagi kalau Chanyeol suka sekali menjahili siapa pun.

            Setelah Baekhyun selesai menenangkan dirinya, ia dan Chanyeol pergi meninggalkan lapangan. Baru saja pasangan BaekYeol memasuki gedung sekolah para siswi kelas satu sampai kelas tiga langsung berkumpul di depan kelasnya saat mendengar dari temannya kalau mereka datang. Tak sedikit yang terpukau dengan pesona mereka berdua. BaekYeol tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memberikan fan service kepada mereka semua dengan cara tersenyum dan memberi ucapan selamat pagi dengan sopan. Terdengar teriakan memanggil nama mereka berdua. Ini terlihat seperti parade atau pawai. Perempuan itu tidak bisa dilawan. Sampai seorang siswa sedang berjalan berlawanan arah menuju BaekYeol. Secepat mungkin seorang siswi mendorong siswa itu menjauh hingga masuk ke dalam kelas lain. Tentu saja BaekYeol melihatnya. Namun mereka memilih untuk diam agar tidak terjadi kekecewaan terhadap mereka berdua. Sampai pada kelas kumpulan siswi itu masih mengikuti mereka dan hendak ikut masuk ke dalam, tapi, Chanyeol menghentikannya.

            “Terima kasih kalian sudah menemani kami menuju kelas. Apa kalian tidak sebaiknya kembali ke kelas masing-masing?” tanya Chanyeol selembut mungkin, sambil menyunggingkan senyumnya.

            “Baiklah, kami akan kembali. Tapi, bolehkah kami kembali menemani sunbae[1] besok?” pinta siswi kelas satu bernama Park Hyun Ri.

            “Tentu saja. Byun dan aku akan sangat senang kalau kalian mau bersama kami terus. Kalau begitu, kembalilah ke kelas kalian,” suruh Chanyeol ramah. Seketika siswi-siswi itu pergi meninggalkan kelas Chanyeol. Barulah Chanyeol menuju kursinya setelah ia menutup pintu kelasnya. Tas hitamnya ia letakkan di atas meja, kemudian duduk di kursi di sebelah Baekhyun.

            “Byun dan aku akan sangat senang kalau kalian mau bersama kami terus. Cih. Menggelikan,” sindir Kyungsoo di depan bukunya—yang ditujukan untuk Chanyeol.

            “Apa kau bilang?” tanya Chanyeol sinis sambil menyipitkan matanya ke arah Kyungsoo yang duduk di samping kanannya.

            “Dia bilang kau menggelikan, Yeol,” ujar Baekhyun yang duduk di sampingnya (Baekhyun menjadi teman sebangku Chanyeol di kelas).

            “Terima kasih sudah mendengarkannya untukku,” ucap Chanyeol sambil tersenyum manis kepada Baekhyun—yang menatapnya lebih menggelikan daripada ekspresi Kyungsoo tadi.

            Kebiasaan Baekhyun setiap pagi adalah mengabsen semua teman-temannya lewat matanya. Semua datang, pikirnya. Tapi, ia mendapati bangku kosong di depan—teman sebangku Suho. Ia penasaran siapa yang tidak datang pagi ini. Baekhyun pun menendang bangku Sehun yang berada di depannya. Terlihat Sehun sangat terkejut. Sehun menoleh dengan cepat. Baekhyun terkejut saat mendapati Sehun menatapnya sangat tajam seperti ingin membunuhnya sekarang juga.

            “Siapa yang duduk bersebelah dengan Suho?” tanya Baekhyun, sambil tersenyum kikuk.

            “Apa pedulimu? Kenapa kau tidak tanya kepada Yeol yang ada disampingmu? Kau mengganggu tidurku tahu!” omel Sehun kesal, sambil menunjuk Chanyeol yang tengah terbingung-bingung karena dirinya ditunjuk.

            “Sia-sia saja bertanya padanya. Yeol tidak pernah mengingat siapapun yang ada di kelasnya,” jawab Baekhyun dengan nada malas.

            “Kau seharusnya meminta peta lokasi tempat duduk kepada Suho. Kau benar-benar menyusahkan,” ucap Sehun kesal, lalu menoleh ke belakang punggungnya, menuju kursi Suho dan teman sebangkunya. Setelah ia tahu siapa yang dimaksud Baekhyun, ia kembali menatap Baekhyun dan memberitahu siapa yang ada disana.

            “Itu Jongdae. Kalau kau tanya kenapa dia tidak datang, aku bukan ibunya,” ucap Sehun ketus, lalu kembali ke posisi dia sebelum di ganggu Baekhyun. Dan mencoba tidur kembali.

           “Cih, bertanya kepada orang cadel memang susah,” gumam Baekhyun, dilengkapi dengan cacian didalamnya. “Kyungsoo-ya[2]. Kau melihat Jongdae pagi ini?” tanya Baekhyun (Kyungsoo satu kamar dengan Jongdae di asrama).

            Kyungsoo menggeleng cepat, dan kembali membaca bukunya dalam hening. Oh oke, ini memang cara yang bagus menghindari pertanyaan selanjutnya. Teman-temannya tidak ada yang bisa membantu Baekhyun. Teman macam apa ini!, pikir Baekhyun geram. Tinggal satu cara lagi, bukan, satu-satunya cara. Ia harus mendapatkan jawabannya agar rasa penasarannya hilang. Ia tidak suka dibuat penasaran. Baekhyun pun menelusuri setiap nama di phonebook di ponselnya. Setelah menemukan orang yang ia cari, layar ponselnya ia tempelkan di telinga kirinya. Tepat setelah deringan pertama, seseorang menerimanya dan mengucapkan ‘halo’ diseberang.

            “YA, Jongin-ah[3]. Kau tahu kemana Jongdae menghilang? Dia tidak ada di kelasnya pagi ini,” lapor Baekhyun cepat.

            “Jongdae? Kurasa… dia pergi kerumah orangtuanya. Kenapa?”

            “Tidak. Aku hanya ingin tahu. kemarin dia juga tidak datang ke kamarku.”

            “Kenapa kau tidak menghubungi Jongdae langsung? Memangnya aku ini pacarnya?”

            “YA! Kau jangan mengikuti Sehun! Kututup!”

            Baekhyun mendengus kesal di depan layar ponselnya. “Apa dengan bertanya aku menganggap kalian ibu atau pacarnya?” gumam Baekhyun kesal.

****

Sebuah mobil bermodel atap terbuka berwarna hitam masuk ke sebuah halaman rumah mewah. Mobil pun berhenti di depan pintu rumah itu. Seorang pria berpakaian seragam sekolah keluar dari dalam mobil itu yang langsung dihampiri oleh seorang butler. Pria itu memberikan kunci mobil pada butler itu tanpa memperhatikan butler itu berdiri dimana. Ia berjalan menuju rumah mewah itu dengan cepat. Wajahnya tampak sangat dingin dan tak bersahabat. Beberapa butler lainnya langsung berlari menuju pintu besar dan membukakan untuknya. Kehadirannya disambut baik oleh semua maid disana. Tapi, dia tidak menyapa mereka semua dengan baik dan membuat semua maid merasa bingung dan kikuk. Pria itu menghentikan jalannya di samping seorang maid yang sedang menunduk takut.

            “Dimana Nyonya?” tanyanya dingin.

            “Ah.. itu.. Nyonya.. dia ada di ruang teh bersama dengan beberapa kliennya,” jawab maid itu gagap.

            Pria itu menghembuskan napasnya kesal. Ia kembali berjalan menuju ruang teh. Biasanya, ia akan ditahan agar tidak mengganggu pertemuan klien ibunya. Tapi, setelah semua melihat ekspresinya yang tidak bersahabat, tidak satupun yang berani menahannya seperti biasa. Dia, sama sekali tidak senang bisa bebas pergi sesuai kehendaknya dan tidak ditahan. Ini masalah lain. Ini harus segera dibicarakan kepada ibunya. Pria itu pun berhenti di depan pintu kayu yang sangat besar. Di otaknya sudah terbayang wajah ibunya yang mulai sekarang ia benci. Entah kenapa dia ingin sekali marah kepada ibunya itu. Atau ia tidak harus menyebut ‘ibu’ lagi?

            Pintu pun terbuka beriringan dengan suara keras yang tercipta. Beberapa orang pria setengah baya dan seorang wanita yaitu ibunya, langsung menoleh ke asal keributan. Mereka semua terkejut. Bahkan ibunya yang awalnya ingin menyantap teh hijaunya, mengurungkan niatnya dan meletakkan gelas itu di piring kecil. Pria itu masih berdiri disana, menatap ibunya dengan tajam. Seorang pria paruh baya tampaknya tak nyaman akan keributan ini. Dia beberapa kali menghembuskan napas dan membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak pernah turun dari hidungnya yang lancip. Ibunya menghela napas sedikit kesal karena kelancangan anak bungsunya ini.

            “Jongdae-ya, kau tidak lihat ibu sedang apa?” tanya ibunya lembut—tapi terdengar suara amarah dari sana. Pria yang dipanggil Jongdae itu, tidak mengindahkan perkataan ibunya. Ia tetap pada posisinya dan masih memandang ibunya tajam. Jongdae kini menatap beberapa pria paruh baya yang juga sedang menatapnya risih.

            “Anda sudah selesai? Saya punya urusan dengan ibu saya,” ucap Jongdae tajam.

            “Ini lebih penting daripada urusanmu, Jongdae,” ucap ibunya selembut mungkin.

            “Apa perusahaan sangat penting dibandingkan perasaan seseorang tentang perceraian orang tuanya?” sindir Jongdae secara gamblang. “Cih. Bisa-bisanya mencari uang disaat seperti ini,” gumam Jongdae pelan. Ia kembali menatap ibunya yang masih menatapnya tajam. “Temui aku di halaman. Oh iya, kalau ibu berniat pergi, aku sudah meminta semua bodyguard untuk menutup semua pintu keluar. Jadi, jangan coba-coba keluar. Permisi.” Jongdae pun berpamitan dengan sopan lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa menutup pintu.

            “Ah, anak itu sudah dewasa rupanya,” gumam seorang pria, yang mendapatkan keluhan dari ibu Jongdae.

****

            Nyonya Lee—ibu Jongdae—melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, tempat kesukaan Jongdae saat ia kecil. Nyonya Lee melihat punggung Jongdae yang berdiri sangat jauh darinya. Ia merasa sedih melihat anaknya. Nyonya Lee sadar apa yang ia perbuat. Keputusannya bercerai dengan suaminya bukan untuk menarik Jongdae untuk pulang kerumah. Hanya berpikir, ini akan lebih baik bila berpisah lebih cepat.

            Nyonya Lee menghampiri Jongdae setelah lama bergelut dalam pikiran dan hatinya. Jongdae pun menoleh karena ketukan hak sepatu ibunya yang berjalan mendekatinya. Ibunya tidak menampakkan wajah marah seperti di ruang teh tadi. Ini lebih teduh… dan sedih. Jongdae sempat merasa kasihan dengan ekspresi ibunya, tapi amarahnya mengalahkan semuanya. Dia ingin menangis sekarang sebelum ibunya mengatakan semuanya. Tapi, dia laki-laki. Dia tidak bisa menangis tersedu-sedu seperti perempuan. Memangnya siapa yang mengajarkan Jongdae menangis? Ayahnya saja tidak pernah mengijinkannya untuk merasa dikasihani oleh siapapun, walaupun ia ingin sekali.

           “Jongdae-ya,” panggil ibunya lembut. Jongdae tidak menegakkan kepalanya, seperti apa yang ia lakukan dulu. Pria itu lebih memilih menatap sesuatu di bawahnya. “Kau baik-baik saja?” tanya ibunya, mencoba menyentuh pipi Jongdae dan mengelusnya sekali. Namun, Jongdae menjauhkan kepalanya dari tangan ibunya. Ibunya pun perlahan memundurkan tangannya.

            “Ibu tahu kau sangat marah pada ibu. Tapi, Jongdae-ya. Ibu melakukan ini bukan untuk menarikmu untuk pulang kerumah. Ibu hanya—“

            “Aku tidak pernah menyangka ibu akan mengambil tindakan seperti itu. Apa yang salah diantara kalian berdua?” desak Jongdae. Sedikit demi sedikit air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya. Ibunya mendesah pelan. Ia tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan semacam ini dari anaknya.

            “Kami merasa sudah tidak cocok satu sama lain. Ayah dan ibu terlalu sibuk dengan urusan kami masing-masing. Kami sangat egois. Setiap bertemu pasti ada yang dipermasalahkan. Dan ibu memutuskan ini semua. Tolong mengerti ini, Jongdae,” ucap Nyonya Lee berusaha untuk santai.

            “Huh? ‘Tolong mengerti ini’? Aku bahkan tidak bisa menerima ini semua dan semuanya membingungkan. Apa susahnya melakukan apa yang dilakukan pasangan untuk melepas rindu?”

            “Kau tidak mengerti ini, Jongdae. Ini tidak semudah yang kau bayangkan.”

            “Aku memang tidak mengerti apa yang disebut cinta yang sesungguhnya. Yang aku tahu hanya cinta yang membosankan dari kalian berdua. Memang susah melihat kalian berdua akrab saat bertemu. Itu alasanku kabur dari rumah!” Dada Jongdae naik turun menahan amarah. Jantungnya berdetak dua kali lipat dari sebelumnya. Napasnya memburu dan menyesakkan. Ia tidak pernah semarah ini dalam hidupnya.

            “Jongdae-ya. Ibu minta maaf. Ibu tidak tahu kau akan seperti ini. Maafkan ibu,” pinta Nyonya Lee dengan nada bersalah.

            “Konyol. Memangnya siapa yang tidak sedih kalau orang tuanya bercerai?!” teriak Jongdae geram. Ibunya sangat terkejut. Belum pernah Jongdae berteriak pada ibunya. Hati Nyonya Lee semakin kalut dan sedih. Ia sangat menyesal berpikir untuk bercerai bila pada akhirnya Jongdae akan semarah ini.

            Jongdae pun pergi meninggalkan ibunya dengan langkah cepat. Ia tidak memperdulikan ibunya yang berbalik untuk kembali membujuk dirinya. Melihat hal itu, Nyonya Lee berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengganggu Jongdae kembali. Seperti apa yang selama ini ia lakukan. Menyuruh Jongdae pulang atau menjemputnya di bandara. Nyonya Lee sangat menyesal dengan perbuatannya. Tapi, bagaimana lagi. Itu tidak bisa ditarik. Pihak kedua tidak ingin membatalkannya. Sebenarnya, Nyonya Lee ingin sekali memberitahu yang sebenarnya kepada Jongdae. Semuanya.

 

****

TBC…. (Komentarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

[1] Senior

[2] Kata akhiran di nama yang akhirannya berhuruf vokal. Nonformal

[3] Kata akhiran di nama yang akhirannya berhuruf konsonan. Nonformal

7 thoughts on “Dorm (Chapter 3)

  1. lidya berkata:

    nice di tunggu chapter selanjutnya autor~nim, oiya kenapa chap 1,2 cuma ada cerita tentang room nya luhan xiumim suho sehun baekyeol aja, apa ada cerita tentang room nya kaisoo chen lay kris tao semoga ada karna disini mulai ada cerita tentang chen~ good job ^^b

  2. Dyah berkata:

    Iya nih aku jg pengen tau cerita dri roomnya Kai Jongdae Kyungsoo Kris Lay Tao.
    Aku jg kecewa krna Kai disini tidak seroom dg HunHan.
    Apalagi bagian Kai dikit bnget. My bias is Kai.
    Lebih tepatnya KaiHunHan my favorite.
    Tp aku jg suka konfliknya Jongdae disini.

  3. fafa sasazaki berkata:

    Wow, konflik hdupnya jongdae berat nian, smp kabur segala.

    Huahaha,, tu si baekie rempong amat jd org, smp nyusahin bnyk org. Koplak dh pokok’a klo disandingin ma yeol.
    Baekyeol is the best dah, my paporit kopel.

  4. khairunnisasa berkata:

    wooww.. ffnya keren bangt. sya suka baca ff koreadansaya karena ffnya sngt menarik dan tdk membosankan.. hebat untuk semua authornya.. jgn bosan” yh nulisnya..

  5. lilin Andriani berkata:

    woow…woow…keren ceritanya, lanjut trus ya.

    Oh ya Chen knp ya? Masalah apa yg membuat kedua ortu _ny m emutuskan bercerai ??
    Penasaran nih🙂

    semangat !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s