Dorm (Chapter 2)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 2)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Minseok mematikan sambungan dengan Luhan lalu meletakkan ponselnya ke sofa dengan kesal. Luhan memintanya untuk mengalihkan perhatian Kepala Asrama itu tapi bagaimana caranya? Apa dia harus bilang kalau kamarnya berantakan dan penuh dengan bau keringat habis berolahraga? Dia pasti akan masuk walau sebau apapun kamarnya. Bilang kalau kamarnya baru saja hancur karena ledakan yang dibuat Chanyeol saat memasak? Terlalu parah. Dia pasti diacuhkan Chanyeol selama seminggu. Bilang kalau Suho sedang sakit cacar dan tidak boleh ada yang masuk? Tapi, dia tidak mau Suho dilarikan ke rumah sakit mirip orang kena serangan jantung. Lagipula Suho tidak pandai berakting. Dia bisa mengacaukan segalanya.

            Ah! ini membuatku gila!

            “Minseok!” panggil Suho tiba-tiba. “Luhan dan Sehun sudah tiba?” tanyanya cepat.

            “Tidak.”

            “Bagaimana ini? Aku tidak mau kita mendapat hukuman.”

            Minseok mengaitkan semua jarinya menjadi satu. Matanya menerawang jauh ke sesuatu yang berada di depannya sekarang. Tatapannya kosong tapi tidak sekosong pemikirannya sekarang. Apa yang harus ia lakukan demi menjaga anggota asrama lainnya yang tidak bersalah sama sekali? Ia bersumpah akan membunuh Luhan dan Sehun saat mereka kembali.

            “Kepala Asrama disini!” pekik Chanyeol tiba-tiba. Minseok dan Suho reflek terperanjat kaget kemudian berlari mendekati Chanyeol di pintu. Sekarang Kepala Asrama itu di depan kamar Kim Young Hee—dua blok dari kamar mereka. Minseok semakin panik dan gemetaran.

            “Luhan dan Sehun sudah kembali?” tanya Chanyeol kepada Suho.

            Suho menggeleng lemah. Chanyeol menghembuskan napasnya pasrah setelahnya. Ini masalah rumit. Mereka berdua sangat sial hari ini. Bila mereka tidak datang dua menit lagi, mereka semua bersumpah kalau hari ini adalah hari sial Sehun dan Luhan, dan hari sial mereka juga. Otak mereka sekarang dipenuhi adegan dimana mereka menjalani hukuman selama satu bulan. Seperti menggunting rumput di halaman belakang asrama, membersihkan toilet atau membawa cucian ke laundry. Sebagai tambahannya, mereka akan menerima sebuah predikat sebagai ‘Pembersih Asrama’.

            Mereka menoleh bersama dan menatap satu sama lain bergantian.

            “Aku tidak ingin, hyung,” ungkap Chanyeol sedih.

            “Aku lebih tidak ingin,” bantah Minseok cepat sambil menunjukkan wajah jijiknya kepada Chanyeol. Mereka berdua menatap Suho yang menatap mereka juga dengan perasaan sedih. Mereka jadi sama-sama mengerti apa yang sedang dipikirkan. Tidak perlu menjelaskan apa yang sedang dipikirkan, mereka sudah tahu resikonya.

            Chanyeol menoleh ke sembarang arah. Tanpa direncana, ia mendapati Luhan dan Sehun sudah berada di pintu tangga darurat. Dengan Baekhyun? Kenapa ada Baekhyun disana?

            Mereka bertiga tidak langsung ke lorong menuju kamar asrama mereka, tapi malah berbelok ke arah lain yang membuat ketiga orang yang berada di ujung pintu kamar terlonjak kaget dan membeku disana. Chanyeol hendak memanggil mereka kembali, tapi deheman Kepala Asrama membuat dirinya terdiam dan menunduk dalam penyesalan. Asistennya menyuruh Chanyeol menyingkir dari pintu. Chanyeol sempat ragu untuk menyingkir. Ia malah mendapat dorongan keras dari asisten itu karena menolak pergi. Untung saja Suho berhasil memegang tangannya dari dorongan itu agar tak terjatuh. Oh tidak, tamatlah mereka hari ini. Masalah bertambah sangat runyam karena Baekhyun tak ada di kamar. Ditambah lagi Luhan dan Sehun malah pergi ke arah yang salah, masih memakai seragam, dan Minseok belum memikirkan alasan untuk melawan.

            “Baekhyun pasti sudah gila,” bisik Chanyeol sangat pelan.

            “Aku akan membunuhnya setelah Sehun dan Luhan. Kau harus membantuku,” balas Minseok datar.

            “Pasti, hyung.”

            “Kemana Baekhyun, Sehun dan Luhan?” tanya Kepala Asrama tiba-tiba. Minseok, Suho dan Chanyeol serentak menegakkan kepala mereka dan menatap Kepala Asrama dalam diam. Wanita itu masih menunggu jawaban mereka dengan tatapan dingin dan datar, sambil menghentakkan tongkat kayu pendeknya di telapak tangannya.

Satu menit… lima menit… tujuh menit… sepuluh menit… dua belas menit terlewatkan begitu saja dalam keheningan, sampai Kepala Asrama itu menghentakkan hak sepatunya dan memunggungi mereka, menuju kamar tidur. Ketiga pria yang larut dalam keheningan itu langsung bergerak dan menghentikan langkah anggun si Kepala Asrama.

            “Saya mohon jangan masuk! Baekhyun sedang terkena cacar hebat dan tidak ada yang boleh masuk kedalam agar tidak tertular,” kilah Suho cepat sambil menggenggam lengan Kepala Asrama.

            “Tolong jangan khawatirkan Sehun. Dia terkena diare hebat dan tidak bisa beranjak dari sana semenjak dua jam yang lalu. Anda akan mati kebauan disana.” Chanyeol sudah pandai berbohong rupanya.

            “Luhan sedang me-laundry seragamnya sejak tadi. Saya tidak bisa menghubunginya karena ponselnya tertinggal.” Minseok pun mengacungkan ponsel putih miliknya (dia menggunakannya untuk berbohong) kepada Kepala Asrama.

            “Tidak apa-apa. Aku sudah biasa menangani penyakit seperti Baekhyun, dan itu tidak sepenuhnya menular. Aku akan memberikannya obat setelah melihat keadaannya yang sebenarnya, dan obat untuk Sehun. Bisakah kalian lepaskan saya?” Kepala Asrama itu melawan semua alasan dengan suara yang anggun dan lembut—yang dibuat-buat.

            Mereka tidak bisa melawan sekarang. Pernyataan Minseok akan Kepala Asrama yang tidak bisa dibohongi ternyata benar. Sekarang mereka kalah. Kalah telak. Oke, mereka sudah menerima kenyataan ‘pahit’ yang akan terima hari ini. Selamat tinggal tidur siang, selamat tinggal ramen malam, selamat tinggal horror movie (mereka menyukainya tapi tidak untuk Suho). Mereka menyaksikan bagaimana tangan Kepala Asrama dengan anggunnya membuka pintu kamar tidur dan mendorongnya juga dengan indah dan artistik (astaga!).

 

 

            “Astaga! Byun Baekhyun?! Kau baik-baik saja?” pekik Kepala Asrama tiba-tiba. Ketiga pria itu seketika memandang satu sama lain dengan ekspresi tanda tanya yang mengartikan sesuatu yang sama. Byun Baekhyun ada disini?

            Mereka bertiga serempak berlari ke arah kamar dan betapa terkejutnya mereka melihat seorang Byun Baekhyun berbaring di atas tempat tidur dengan wajah lemah yang dibuat-buat. Sejak kapan dia disana? Seingat mereka Baekhyun tidak ada di kamar. Dia, Luhan dan Sehun pergi berlari ke arah lorong lainnya menuju balkon di atas asrama mereka. Kenapa Baekhyun bisa ada disini tanpa mereka ketahui? Minseok mulai menatap semua sudut kamarnya untuk mencari celah masuk Baekhyun tadi.

            “Kata Byung Hee ada pemeriksaan mendadak. Seharusnya aku membawa ponsel ke laundry agar aku bisa cepat-cepat kembali. Apa Kepala Asrama sudah datang?” suara khas Luhan menambah kebingungan ketiga pria itu. Mereka menatap Luhan dengan ekspresi terkejut. Sementara yang ditatap hanya menatap mereka bergantian dengan wajah tanpa dosa.

            “Sehunnie, apa kau sudah selesai?” tanya Luhan sambil berteriak.

            “Jangan khawatir, hyung!” balas Sehun dari dalam kamar mandi.

            Kepala Asrama mendekat pintu kamar mandi dan bertanya macam-macam tentang keadaan Sehun sekarang. Sementara asistennya memeriksa seluruh isi kamarnya untuk mencari barang-barang yang tak seharusnya ada di kamar seorang remaja. Yah, setiap peraturan asrama selalu melarang menyimpan barang yang tidak diperbolehkan ada di dalam kamar asrama itu.

            Minseok menarik Luhan keluar kamar menuju balkon kamar asrama mereka. Minseok mengunci pintu kaca, memastikan tidak akan ada yang mendengar perbincangan mereka. Lalu Minseok beralih menatap Luhan yang sedang menunggunya memulai bicara.

            “Kenapa kalian bisa ada di kamar tanpa suara?” tanya Minseok menyelidik.

            “Ah, aku sudah menduga kau akan menanyakannya.” Luhan tampak mengalihkan pembicaraan. Tapi Minseok masih menatapnya curiga. “Okay, okay. Aku akan jelaskan semuanya secara rinci,” ucap Luhan kemudian. Ia lalu mengambil posisi duduk sambil bersandar pada pagar balkon.

 

Sepuluh menit yang lalu…

            “Hyung, kita pasti terlambat,” ucap Sehun sambil terengah-engah. Ia pun akhirnya tumbang di anak tangga diikuti Luhan yang duduk di sampingnya. Luhan mengadah ke atas. Pintu lantai tiga masih jauh tapi mereka sudah tidak kuat lagi untuk melangkah lebih jauh.

            “Luhan! Sehun!” sebuah suara mengagetkan kedua pria yang dipanggil itu. Mereka mendapati Baekhyun ada di depan mereka sambil membawa baskom cucian. “Minseok bilang ada pemeriksaan mendadak. Kenapa kalian ada disini?”

            “Kau bisa lihat sendiri, Byun.”

            “Kami terlambat, hyung.” Sehun menjawab.

            “Kalian pergi keluar lagi hari ini? Oh Tuhan, kalian melanggar lagi.” Baekhyun tak habis pikir kenapa kedua orang ini suka sekali melanggar aturan.

            “Aku lapar, hyung,” bela Sehun dengan nada merengek.

            “Terserah kau, Hun. Pokoknya kita harus sampai di kamar tanpa diketahui oleh Kepala Asrama. Ikut aku.”

            “Kemana?” tanya Luhan bingung.

            “Cerewet. Ikut saja! Tak heran kalau kau punya wajah cantik!”

            “Kau! Aku maafkan kau sekarang, Byun. Lain kali aku tidak akan melepaskanmu.” Luhan tidak suka orang-orang menganggapnya cantik daripada tampan. Walaupun ia membanggakan wajahnya ini, tapi ia tak habis pikir kenapa wajahnya sangat cantik melebihi perempuan.

            Baekhyun memimpin di depan mereka. Luhan tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Byun Baekhyun sekarang ini. Yang ada di otaknya sekarang bagaimana caranya ia bisa sampai ke kamarnya dan menghindari hukuman. Luhan benci hukuman.

            Tanpa disadari mereka sudah ada di pintu lantai tiga. Dari sini, Luhan bisa melihat Minseok, Chanyeol dan Suho yang berdiri di depan kamar mereka dengan ekspresi terkejut. Belum sempat Luhan untuk menyadari arti teriakan mereka, Sehun sudah menariknya menjauh dari pintu menuju arah ke lorong lain, bukan ke lorong menuju kamar mereka. Luhan tidak punya kesempatan untuk bertanya ataupun protes akan hal ini. Yang dia tahu sekarang, dia sedang ditarik paksa dan dibawa lari oleh Sehun, mengikuti Baekhyun menuju pintu balkon di atas gedung asrama mereka. Dentuman keras dari pintu yang diciptakan oleh Baekhyun saat mereka sampai disana. Tapi, acara lari-lari mereka belum juga selesai. Baekhyun masih semangat untuk berlari ke arah sudut balkon dan sampai pada akhirnya mereka berhenti. Ada banyak tong-tong besi yang sudah tak berisi lagi. Baekhyun menarik sesuatu dari balik tong-tong besar itu.

            “Aku sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari kalau misalnya ada keadaan mendesak,” ucap Baekhyun sambil membuka tas besarnya. Baekhyun memberikan baju kepada Sehun dan Luhan. “Cepat ganti! Petualangan kita masih panjang.”

            Mereka berdua pun mengganti baju dengan terburu-buru kemudian memasukkan seragam mereka ke dalam tas besar tadi sesuai dengan perintah Baekhyun.

            “Aku yang duluan turun. Kalian susul aku dibelakang,” perintah Baekhyun.

            “Apa? Turun apa? Maksudnya?” Luhan masih tidak mengerti apa maksudnya dengan ‘turun’ dan ‘menyusul dibelakang’ dalam situasi ini. Turun yang dimaksud Baekhyun adalah turun dari sini menggunakan kain panjang yang sudah disambung dan terhubung menuju balkon kamar mereka. Rencana Baekhyun sepertinya akan berhasil. Tapi ini menyeramkan bergelantungan di kain panjang dan berada di ketinggian 70 meter.

            Sehun yang sejak tadi diam menjadi aktif dan cepat tanggap. Ia pun mengikuti perintah Baekhyun untuk mengikutinya dari belakang. Mau tak mau Luhan ikut dalam permainan Baekhyun yang menyeramkan ini. ketinggian ini membuatnya pusing. Masih ada setengah perjalanan lagi. baekhyun dan Sehun sudah berada di balkon kamar mereka. Tapi, Luhan masih bergelantung disana.

            “Jangan khawatirkan aku. Kalian pergilah dulu. Aku akan mencari cara lainnya,” ucap Luhan. Baekhyun dan Sehun mengangguk lalu masuk dengan hati-hati. “Ini tak baik. Aku terjebak di dua hal. Ketakutan dan keterburu-buruan. Terima kasih Byun sudah mengajakku kesini,” gumam Luhan lemas.

            Dengan susah payah Luhan menggerakkan tangannya dan memindahkan tangannya ke tempat lainnya, membuat dirinya bergerak ke depan. Ia juga harus menggoyangkan kakinya agar pergerakannnya lebih mudah. Akhirnya ia sampai di ujung tali dan mengharuskan di melompat seperti apa yang dilakukan Baekhyun dan Sehun tadi. Padahal resikonya tinggi, tapi kenapa mereka tidak takut untuk melompat? Dia harus mencobanya. Ia menginjak pagar balkon kemudian memajukan badannya kedepan. Ia lepas kedua tangannya lalu melompat. Berhasil!

            “Astaga!” pekik Luhan dalam hati saat mendapati Kepala Asrama dan asistennya sudah berada di dalam. Luhan pun menyeret dirinya dan bersandar di dinding kosong untuk bersembunyi. Dia tidak melihat Baekhyun dan Sehun disana. Ia masih menungu sampai semua orang berada di kamar. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Luhan bisa keluar dari persembunyiannya, lalu mulai bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Luhan pun berteriak dan memasuki kamar.

 

Now..

Luhan pun menyelesaikan pidato kilatnya. Tanpa disadari, Luhan sudah berada di ujung balkon lainnya dan baru menyadari setelah Minseok terus memperhatikannya. Ia mungkin merasa ada yang aneh dengan dirinya. Luhan pun menyenderkan sikunya di pagar balkon untuk menutupi malu yang baru saja ia terima dari Minseok, lalu tersenyum kikuk.

            “Selesai,” ucap Luhan sambil tersenyum kaku karena Minseok masih memandanginya tanpa arti.

            “Well, aku mengerti. Aku menyukai jalan ceritanya, tapi tidak dengan ‘jalan-jalannya’,” komentar Minseok.

            “Gomawo, tapi maaf untuk ‘jalan-jalannya’.” Sekarang ia mengerti apa yang dimaksud ‘jalan-jalan oleh Minseok.

            “Sekarang kita harus menyembunyikan ini, sebelum Kepala Asrama menemukannya nanti.”

            “Bagaimana caranya?” tanya Luhan tidak mengerti. Minseok melangkahkan kakinya menuju kain panjang yang terikat itu lalu melepaskannya. “Oke, aku mengerti.”

            “Ayo, kita masuk. Kurasa aku butuh penjelasan lebih lagi tentang kain dan baju didalam tas,” ucap Minseok lalu berjalan meninggalkan Luhan.

            Kepala Asrama dan asistennya sudah pergi dari kamar mereka. Baekhyun dan Sehun sudah berkumpul bersama dengan Suho dan Chanyeol. Menyadari Luhan dan Minseok sudah kembali, Suho menoleh, mengibaskan sebelah tangannya sebagai tanda menyuruh mereka mendekat.

            “Kita selamat, hyung,” lapor Suho dengan senyum khasnya.

            “Aku suka mendengarnya,” balas Minseok tersenyum. “Apa ada yang mereka ambil?”

            “VCD Pororo-ku diambil, hyung,” adu Sehun sedih.

            “Kita bisa membelinya lagi,” hibur Luhan sambil menepuk punggung Sehun lembut.

            “Ada blue film di dalamnya,” ujar Sehun. Seketika semua orang menoleh dan terdiam.

            “Itu masalahmu, Hun,” ujar Minseok datar kemudian berbalik meninggalkan Sehun menuju kamar. Semua orang—selain Luhan—juga meninggalkan Sehun yang masih sedih menuju kamar.

            “Kenapa kau menontonnya, Sehunnie? Itu tidak baik dikonsumsi pada saat umurmu masih kecil. Kau meminjamnya dari siapa?” tanya Luhan lembut. Dia harus memperingatkan Sehun agar tidak menonton hal semacam itu di usinya yang masih sangat belia.

            “Dari Kamjjong.”

            Anak itu memang sesat!

            Luhan harus menahan amarahnya karena si Kamjjong itu sedang berusaha meracuni Sehun secara perlahan. Luhan menghela napasnya keras, kembali menatap Sehun yang sedang berusaha menahan ingusnya yang akan keluar.

            “Apakah pelupamu berasal dari video-video itu?”

            Sehun mengangguk.

            Oh tidak! Blue film memang merusak.

            “Aku akan membicarakan ini dengan Jongin besok. Ayo kita tidur sekarang. Jangan lupa periksa barang-barangmu sebelum tidur, oke?” Sehun mengangguk lalu berjalan lemas menuju kamar, diikuti Luhan dari belakang.

 

****

TBC… (Komentarnya ditunggu dan terima kasih udah mau baca^^)

5 thoughts on “Dorm (Chapter 2)

  1. kyuRiani18 berkata:

    Hahahaaa sehun nakal msh kecil udah nonton film dewasa, kai llebih nakal tp kok kai tdk d tampilkan d ff ini dan exo yg lainnya..luhan syang banget ma sehun..minsoek suka marah2 tp sangat perduli dgn membernya..yaa keep writing authornim.

  2. lilin Andriani berkata:

    keren cerita_nya, ku gk bohong. Bacon pinter bgt udh pny rencana kyak gtu buat si HunHan yang suka terlambat yg psti pnyebabnya dr Sehunnie.
    Hahahahahaa…

    kerreeeennn….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s